19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 19, 2026
in Khas
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih    

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang merdeka. Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidak berhenti pada terbebasnya sebuah wilayah dari penjajahan. Ada bentuk kemerdekaan lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemerdekaan untuk menjaga sumber kehidupan sendiri.

Dari sinilah kegiatan Bibit Merdeka yang diselenggarakan Asosiasi Biodinamik Indonesia (ABI Bali) di Griya Yangloni, Banjar Buruan, Gianyar, memperoleh makna yang lebih dalam. Pameran benih lokal, seed saving, pertukaran benih, pasar produk pertanian lokal, dan edukasi bagi generasi muda bukan sekadar rangkaian kegiatan menjelang 17 Agustus. Semua itu dapat dibaca sebagai sebuah refleksi tentang kedaulatan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan bumi.

Kegiatan tersebut juga tidak lahir dalam ruang kosong. Menurut Ketua Asosiasi Biodinamik Indonesia, dr. Ida Bagus Kesnawa, MM, Bibit Merdeka melibatkan sekitar 17 komunitas yang tergabung dalam ABI Bali. Pertemuan berbagai komunitas ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap tanah, benih, pangan, dan masa depan pertanian mulai menemukan ruang perjumpaannya.

Bagi saya, pengalaman sebelumnya mengikuti Workshop Biodinamik di Griya Yangloni pada Minggu, 21 Juni 2026, membantu memahami mengapa sebuah kegiatan bertajuk Bibit Merdeka memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan bibit. Di tempat yang sama, melalui proses menyentuh tanah, belajar tentang kompos, dan mendengarkan penjelasan para fasilitator, pertanian terasa bukan hanya sebagai urusan produksi, melainkan sebagai cara untuk kembali mendengarkan bumi.

Dari Sebutir Benih Menuju Kemerdekaan

Benih tampak kecil dan sederhana. Namun, di dalam sebutir benih tersimpan sebuah kemungkinan kehidupan. Ia dapat tumbuh menjadi tanaman, menghasilkan pangan, melahirkan benih baru, dan meneruskan kehidupan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pembicaraan tentang benih sesungguhnya tidak pernah hanya berkaitan dengan pertanian.

Dalam semangat seed saving, petani tidak sekadar membeli lalu menanam. Mereka belajar memilih benih, menyimpannya, memperbanyaknya, menanam kembali, dan mewariskan pengetahuan tersebut. Di dalam proses sederhana itu terdapat pengalaman panjang manusia dalam membaca musim, memahami tanah, dan beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup.

Karena itu, gagasan Bibit Merdeka menyentuh pertanyaan yang sangat mendasar: siapa yang menguasai benih, siapa yang menentukan apa yang ditanam petani, dan apakah petani masih memiliki kemampuan untuk menyimpan serta memperbanyak benihnya sendiri? Pertanyaan ini menjadi bagian dari perbincangan yang lebih luas tentang kedaulatan pangan.

Tentu persoalannya tidak sesederhana membagi benih menjadi baik atau buruk. GMO, benih hibrida, benih komersial, dan benih lokal memiliki karakteristik dan konteks masing-masing. Yang lebih mendasar adalah jangan sampai perkembangan teknologi dan sistem ekonomi membuat petani kehilangan seluruh hubungan dan kendali terhadap sumber kehidupannya sendiri.

Di sinilah kemerdekaan memperoleh makna yang konkret. Petani yang masih memiliki kemampuan memilih, menyimpan, menukar, dan menanam kembali benih memiliki ruang kemandirian yang lebih besar. Dari titik inilah lahir sebuah rangkaian gagasan yang sederhana: bibit merdeka, tanah merdeka, petani merdeka, pangan merdeka, manusia merdeka.

Rudolf Steiner dan Pertanian sebagai Organisme Hidup

Untuk memahami kegiatan biodinamik, kita tidak dapat melepaskannya dari pemikiran Rudolf Steiner. Pendekatan biodinamik lahir dari gagasan bahwa pertanian bukan sekadar sebuah pabrik yang menghasilkan komoditas. Sebuah pertanian harus dipandang sebagai organisme hidup, tempat tanah, tanaman, hewan, manusia, air, dan lingkungan berada dalam hubungan yang saling memengaruhi.

Dalam pandangan tersebut, tanah bukan benda mati yang hanya membutuhkan tambahan bahan dari luar agar dapat terus menghasilkan. Tanah adalah rumah bagi kehidupan yang sangat kompleks. Kesuburannya berkaitan dengan mikroorganisme, bahan organik, air, keberagaman tanaman, serta cara manusia memperlakukannya.

Karena itu, praktik kompos, rotasi tanaman, keberagaman hayati, dan integrasi berbagai unsur dalam pertanian memperoleh makna lebih dari sekadar teknik. Semua itu merupakan upaya untuk menjaga kesehatan keseluruhan organisme pertanian. Manusia bukan hanya pengguna tanah, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang juga harus dijaganya.

Steiner juga berbicara mengenai ritme alam dan hubungan pertanian dengan siklus yang lebih luas. Sebagian aspek pemikiran biodinamik ini memang terus menjadi bahan diskusi dan perdebatan dalam dunia sains modern. Namun, terdapat satu pesan mendasar yang tetap relevan: alam bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa batas.

Alam memiliki ritme. Tanah memerlukan pemulihan. Tanaman memiliki siklus. Air memiliki jalannya sendiri. Dan manusia, betapapun modernnya teknologi yang dimiliki, pada akhirnya tetap hidup dari sistem kehidupan yang sama. Kesadaran terhadap keterhubungan inilah yang menjadikan biodinamik lebih tepat dipahami sebagai cara pandang, bukan semata-mata seperangkat metode bertani.

Tanah, Pancamaya Kosha, dan Kesadaran Holistik

Pengalaman pertanian biodinamik juga dapat dibaca melalui perspektif Pancamaya Kosha, lima lapisan keberadaan manusia dalam tradisi Vedanta. Tanah yang sehat berhubungan langsung dengan annamaya kosha, tubuh fisik manusia, karena dari tanahlah tumbuh makanan yang menopang kehidupan.

Namun hubungan itu tidak berhenti pada tubuh fisik. Pangan juga berkaitan dengan pranamaya kosha, lapisan energi vital. Cara manusia memperlakukan tanah dan alam mencerminkan pula keadaan manomaya kosha, dunia pikiran dan perasaan. Sementara kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan dapat dikaitkan dengan tumbuhnya vijnanamaya kosha, lapisan kebijaksanaan.

Pada tingkat yang lebih dalam, manusia kemudian diingatkan bahwa hidup tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Ada dimensi kebahagiaan dan kesadaran yang lebih luas. Dengan demikian, pertanian dapat dipahami sebagai ruang pendidikan holistik, karena ia mempertemukan tubuh, energi, pikiran, kebijaksanaan, dan pengalaman akan keterhubungan kehidupan.

Di sinilah pertanian biodinamik bertemu dengan gagasan kesehatan holistik. Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kesehatan tanah, kualitas pangan, lingkungan, cara berpikir, dan pola hidup. Kita tidak mungkin membicarakan manusia yang sehat sambil mengabaikan tanah yang terus kehilangan kehidupannya.

Hubungan antara manusia dan tanah dapat diibaratkan seperti hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Ketika tubuh hanya dieksploitasi tanpa diberi waktu beristirahat dan memulihkan diri, pada suatu saat ia akan memberikan tanda. Demikian pula bumi. Kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan sesuatu yang berada di luar manusia, karena manusia hidup di dalam sistem yang sama.

Menanam Masa Depan dan Belajar Mendengarkan Bumi

Tantangan terbesar Bali hari ini bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Tantangannya adalah bagaimana membuat pertanian kembali memiliki martabat. Alih fungsi lahan terus menjadi kenyataan. Sawah berubah menjadi vila, hotel, jalan, dan berbagai bangunan komersial karena logika ekonomi jangka pendek sering kali lebih kuat daripada pertimbangan keberlanjutan.

Dalam situasi seperti itu, pertanian membutuhkan cara pandang baru. Pertanian tidak cukup diposisikan hanya sebagai sektor ekonomi dengan nilai jual yang rendah. Ia juga harus dilihat sebagai penjaga budaya, pendidikan, lingkungan, ketahanan pangan, bahkan identitas Bali sendiri.

Di sinilah kegiatan seperti Bibit Merdeka dan gerakan komunitas biodinamik memperoleh relevansinya. Dengan melibatkan sekitar 17 komunitas dalam jaringan ABI Bali, terdapat kemungkinan untuk membangun pertanian sebagai ruang pembelajaran bersama. Pengetahuan tentang benih, tanah, kompos, pangan, dan kehidupan tidak berhenti pada petani, tetapi dapat diteruskan kepada anak-anak dan masyarakat luas.

Konsep edukasi berbasis pertanian, bahkan eduwisata yang berorientasi pada kesadaran ekologis, dapat menjadi salah satu kemungkinan. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat sawah sebagai pemandangan, lalu kembali ke hotel. Mereka dapat belajar menanam, memahami benih, mengenal kompos, dan menyadari bahwa sepiring makanan memiliki perjalanan panjang sebelum sampai di meja.

Tentu semua ini tidak dapat menjadi jawaban tunggal atas persoalan alih fungsi lahan. Gerakan kesadaran harus berjalan bersama dengan kebijakan tata ruang yang tegas, perlindungan terhadap lahan pertanian, insentif ekonomi yang adil, dan keberpihakan nyata kepada petani. Tanpa itu, idealisme ekologis dapat kalah oleh kekuatan pasar.

Namun, setiap perubahan besar selalu memerlukan benih. Dan mungkin, benih pertama yang perlu kita tanam bukan hanya di tanah, melainkan dalam kesadaran.

Kemerdekaan sejati juga dapat dimulai dari sebutir benih. Ketika petani masih mampu memilih, menyimpan, menanam kembali, dan mewariskan benihnya, di sanalah kedaulatan pangan mulai tumbuh. Ketika tanah dirawat sebagai organisme hidup, manusia pun belajar bahwa dirinya bukan penguasa bumi, melainkan bagian darinya.

Pada akhirnya, Bibit Merdeka bukan hanya tentang apa yang akan kita tanam. Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita masih mampu mendengarkan bumi?

Sebab, sebelum kita berusaha menyelamatkan bumi, yang lebih dahulu perlu diselamatkan adalah kesadaran manusia bahwa tanpa bumi yang sehat, tidak ada kehidupan yang dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya. [T]

Tags: alam semestaGianyarHari Kemerdekaan RIlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co