29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 19, 2026
in Khas
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih    

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang merdeka. Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidak berhenti pada terbebasnya sebuah wilayah dari penjajahan. Ada bentuk kemerdekaan lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemerdekaan untuk menjaga sumber kehidupan sendiri.

Dari sinilah kegiatan Bibit Merdeka yang diselenggarakan Asosiasi Biodinamik Indonesia (ABI Bali) di Griya Yangloni, Banjar Buruan, Gianyar, memperoleh makna yang lebih dalam. Pameran benih lokal, seed saving, pertukaran benih, pasar produk pertanian lokal, dan edukasi bagi generasi muda bukan sekadar rangkaian kegiatan menjelang 17 Agustus. Semua itu dapat dibaca sebagai sebuah refleksi tentang kedaulatan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan bumi.

Kegiatan tersebut juga tidak lahir dalam ruang kosong. Menurut Ketua Asosiasi Biodinamik Indonesia, dr. Ida Bagus Kesnawa, MM, Bibit Merdeka melibatkan sekitar 17 komunitas yang tergabung dalam ABI Bali. Pertemuan berbagai komunitas ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap tanah, benih, pangan, dan masa depan pertanian mulai menemukan ruang perjumpaannya.

Bagi saya, pengalaman sebelumnya mengikuti Workshop Biodinamik di Griya Yangloni pada Minggu, 21 Juni 2026, membantu memahami mengapa sebuah kegiatan bertajuk Bibit Merdeka memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan bibit. Di tempat yang sama, melalui proses menyentuh tanah, belajar tentang kompos, dan mendengarkan penjelasan para fasilitator, pertanian terasa bukan hanya sebagai urusan produksi, melainkan sebagai cara untuk kembali mendengarkan bumi.

Dari Sebutir Benih Menuju Kemerdekaan

Benih tampak kecil dan sederhana. Namun, di dalam sebutir benih tersimpan sebuah kemungkinan kehidupan. Ia dapat tumbuh menjadi tanaman, menghasilkan pangan, melahirkan benih baru, dan meneruskan kehidupan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pembicaraan tentang benih sesungguhnya tidak pernah hanya berkaitan dengan pertanian.

Dalam semangat seed saving, petani tidak sekadar membeli lalu menanam. Mereka belajar memilih benih, menyimpannya, memperbanyaknya, menanam kembali, dan mewariskan pengetahuan tersebut. Di dalam proses sederhana itu terdapat pengalaman panjang manusia dalam membaca musim, memahami tanah, dan beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup.

Karena itu, gagasan Bibit Merdeka menyentuh pertanyaan yang sangat mendasar: siapa yang menguasai benih, siapa yang menentukan apa yang ditanam petani, dan apakah petani masih memiliki kemampuan untuk menyimpan serta memperbanyak benihnya sendiri? Pertanyaan ini menjadi bagian dari perbincangan yang lebih luas tentang kedaulatan pangan.

Tentu persoalannya tidak sesederhana membagi benih menjadi baik atau buruk. GMO, benih hibrida, benih komersial, dan benih lokal memiliki karakteristik dan konteks masing-masing. Yang lebih mendasar adalah jangan sampai perkembangan teknologi dan sistem ekonomi membuat petani kehilangan seluruh hubungan dan kendali terhadap sumber kehidupannya sendiri.

Di sinilah kemerdekaan memperoleh makna yang konkret. Petani yang masih memiliki kemampuan memilih, menyimpan, menukar, dan menanam kembali benih memiliki ruang kemandirian yang lebih besar. Dari titik inilah lahir sebuah rangkaian gagasan yang sederhana: bibit merdeka, tanah merdeka, petani merdeka, pangan merdeka, manusia merdeka.

Rudolf Steiner dan Pertanian sebagai Organisme Hidup

Untuk memahami kegiatan biodinamik, kita tidak dapat melepaskannya dari pemikiran Rudolf Steiner. Pendekatan biodinamik lahir dari gagasan bahwa pertanian bukan sekadar sebuah pabrik yang menghasilkan komoditas. Sebuah pertanian harus dipandang sebagai organisme hidup, tempat tanah, tanaman, hewan, manusia, air, dan lingkungan berada dalam hubungan yang saling memengaruhi.

Dalam pandangan tersebut, tanah bukan benda mati yang hanya membutuhkan tambahan bahan dari luar agar dapat terus menghasilkan. Tanah adalah rumah bagi kehidupan yang sangat kompleks. Kesuburannya berkaitan dengan mikroorganisme, bahan organik, air, keberagaman tanaman, serta cara manusia memperlakukannya.

Karena itu, praktik kompos, rotasi tanaman, keberagaman hayati, dan integrasi berbagai unsur dalam pertanian memperoleh makna lebih dari sekadar teknik. Semua itu merupakan upaya untuk menjaga kesehatan keseluruhan organisme pertanian. Manusia bukan hanya pengguna tanah, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang juga harus dijaganya.

Steiner juga berbicara mengenai ritme alam dan hubungan pertanian dengan siklus yang lebih luas. Sebagian aspek pemikiran biodinamik ini memang terus menjadi bahan diskusi dan perdebatan dalam dunia sains modern. Namun, terdapat satu pesan mendasar yang tetap relevan: alam bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa batas.

Alam memiliki ritme. Tanah memerlukan pemulihan. Tanaman memiliki siklus. Air memiliki jalannya sendiri. Dan manusia, betapapun modernnya teknologi yang dimiliki, pada akhirnya tetap hidup dari sistem kehidupan yang sama. Kesadaran terhadap keterhubungan inilah yang menjadikan biodinamik lebih tepat dipahami sebagai cara pandang, bukan semata-mata seperangkat metode bertani.

Tanah, Pancamaya Kosha, dan Kesadaran Holistik

Pengalaman pertanian biodinamik juga dapat dibaca melalui perspektif Pancamaya Kosha, lima lapisan keberadaan manusia dalam tradisi Vedanta. Tanah yang sehat berhubungan langsung dengan annamaya kosha, tubuh fisik manusia, karena dari tanahlah tumbuh makanan yang menopang kehidupan.

Namun hubungan itu tidak berhenti pada tubuh fisik. Pangan juga berkaitan dengan pranamaya kosha, lapisan energi vital. Cara manusia memperlakukan tanah dan alam mencerminkan pula keadaan manomaya kosha, dunia pikiran dan perasaan. Sementara kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan dapat dikaitkan dengan tumbuhnya vijnanamaya kosha, lapisan kebijaksanaan.

Pada tingkat yang lebih dalam, manusia kemudian diingatkan bahwa hidup tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Ada dimensi kebahagiaan dan kesadaran yang lebih luas. Dengan demikian, pertanian dapat dipahami sebagai ruang pendidikan holistik, karena ia mempertemukan tubuh, energi, pikiran, kebijaksanaan, dan pengalaman akan keterhubungan kehidupan.

Di sinilah pertanian biodinamik bertemu dengan gagasan kesehatan holistik. Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kesehatan tanah, kualitas pangan, lingkungan, cara berpikir, dan pola hidup. Kita tidak mungkin membicarakan manusia yang sehat sambil mengabaikan tanah yang terus kehilangan kehidupannya.

Hubungan antara manusia dan tanah dapat diibaratkan seperti hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Ketika tubuh hanya dieksploitasi tanpa diberi waktu beristirahat dan memulihkan diri, pada suatu saat ia akan memberikan tanda. Demikian pula bumi. Kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan sesuatu yang berada di luar manusia, karena manusia hidup di dalam sistem yang sama.

Menanam Masa Depan dan Belajar Mendengarkan Bumi

Tantangan terbesar Bali hari ini bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Tantangannya adalah bagaimana membuat pertanian kembali memiliki martabat. Alih fungsi lahan terus menjadi kenyataan. Sawah berubah menjadi vila, hotel, jalan, dan berbagai bangunan komersial karena logika ekonomi jangka pendek sering kali lebih kuat daripada pertimbangan keberlanjutan.

Dalam situasi seperti itu, pertanian membutuhkan cara pandang baru. Pertanian tidak cukup diposisikan hanya sebagai sektor ekonomi dengan nilai jual yang rendah. Ia juga harus dilihat sebagai penjaga budaya, pendidikan, lingkungan, ketahanan pangan, bahkan identitas Bali sendiri.

Di sinilah kegiatan seperti Bibit Merdeka dan gerakan komunitas biodinamik memperoleh relevansinya. Dengan melibatkan sekitar 17 komunitas dalam jaringan ABI Bali, terdapat kemungkinan untuk membangun pertanian sebagai ruang pembelajaran bersama. Pengetahuan tentang benih, tanah, kompos, pangan, dan kehidupan tidak berhenti pada petani, tetapi dapat diteruskan kepada anak-anak dan masyarakat luas.

Konsep edukasi berbasis pertanian, bahkan eduwisata yang berorientasi pada kesadaran ekologis, dapat menjadi salah satu kemungkinan. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat sawah sebagai pemandangan, lalu kembali ke hotel. Mereka dapat belajar menanam, memahami benih, mengenal kompos, dan menyadari bahwa sepiring makanan memiliki perjalanan panjang sebelum sampai di meja.

Tentu semua ini tidak dapat menjadi jawaban tunggal atas persoalan alih fungsi lahan. Gerakan kesadaran harus berjalan bersama dengan kebijakan tata ruang yang tegas, perlindungan terhadap lahan pertanian, insentif ekonomi yang adil, dan keberpihakan nyata kepada petani. Tanpa itu, idealisme ekologis dapat kalah oleh kekuatan pasar.

Namun, setiap perubahan besar selalu memerlukan benih. Dan mungkin, benih pertama yang perlu kita tanam bukan hanya di tanah, melainkan dalam kesadaran.

Kemerdekaan sejati juga dapat dimulai dari sebutir benih. Ketika petani masih mampu memilih, menyimpan, menanam kembali, dan mewariskan benihnya, di sanalah kedaulatan pangan mulai tumbuh. Ketika tanah dirawat sebagai organisme hidup, manusia pun belajar bahwa dirinya bukan penguasa bumi, melainkan bagian darinya.

Pada akhirnya, Bibit Merdeka bukan hanya tentang apa yang akan kita tanam. Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita masih mampu mendengarkan bumi?

Sebab, sebelum kita berusaha menyelamatkan bumi, yang lebih dahulu perlu diselamatkan adalah kesadaran manusia bahwa tanpa bumi yang sehat, tidak ada kehidupan yang dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya. [T]

Tags: alam semestaGianyarHari Kemerdekaan RIlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

Next Post

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co