8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
August 19, 2026
in Khas
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih    

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang merdeka. Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidak berhenti pada terbebasnya sebuah wilayah dari penjajahan. Ada bentuk kemerdekaan lain yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemerdekaan untuk menjaga sumber kehidupan sendiri.

Dari sinilah kegiatan Bibit Merdeka yang diselenggarakan Asosiasi Biodinamik Indonesia (ABI Bali) di Griya Yangloni, Banjar Buruan, Gianyar, memperoleh makna yang lebih dalam. Pameran benih lokal, seed saving, pertukaran benih, pasar produk pertanian lokal, dan edukasi bagi generasi muda bukan sekadar rangkaian kegiatan menjelang 17 Agustus. Semua itu dapat dibaca sebagai sebuah refleksi tentang kedaulatan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan bumi.

Kegiatan tersebut juga tidak lahir dalam ruang kosong. Menurut Ketua Asosiasi Biodinamik Indonesia, dr. Ida Bagus Kesnawa, MM, Bibit Merdeka melibatkan sekitar 17 komunitas yang tergabung dalam ABI Bali. Pertemuan berbagai komunitas ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap tanah, benih, pangan, dan masa depan pertanian mulai menemukan ruang perjumpaannya.

Bagi saya, pengalaman sebelumnya mengikuti Workshop Biodinamik di Griya Yangloni pada Minggu, 21 Juni 2026, membantu memahami mengapa sebuah kegiatan bertajuk Bibit Merdeka memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan bibit. Di tempat yang sama, melalui proses menyentuh tanah, belajar tentang kompos, dan mendengarkan penjelasan para fasilitator, pertanian terasa bukan hanya sebagai urusan produksi, melainkan sebagai cara untuk kembali mendengarkan bumi.

Dari Sebutir Benih Menuju Kemerdekaan

Benih tampak kecil dan sederhana. Namun, di dalam sebutir benih tersimpan sebuah kemungkinan kehidupan. Ia dapat tumbuh menjadi tanaman, menghasilkan pangan, melahirkan benih baru, dan meneruskan kehidupan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pembicaraan tentang benih sesungguhnya tidak pernah hanya berkaitan dengan pertanian.

Dalam semangat seed saving, petani tidak sekadar membeli lalu menanam. Mereka belajar memilih benih, menyimpannya, memperbanyaknya, menanam kembali, dan mewariskan pengetahuan tersebut. Di dalam proses sederhana itu terdapat pengalaman panjang manusia dalam membaca musim, memahami tanah, dan beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup.

Karena itu, gagasan Bibit Merdeka menyentuh pertanyaan yang sangat mendasar: siapa yang menguasai benih, siapa yang menentukan apa yang ditanam petani, dan apakah petani masih memiliki kemampuan untuk menyimpan serta memperbanyak benihnya sendiri? Pertanyaan ini menjadi bagian dari perbincangan yang lebih luas tentang kedaulatan pangan.

Tentu persoalannya tidak sesederhana membagi benih menjadi baik atau buruk. GMO, benih hibrida, benih komersial, dan benih lokal memiliki karakteristik dan konteks masing-masing. Yang lebih mendasar adalah jangan sampai perkembangan teknologi dan sistem ekonomi membuat petani kehilangan seluruh hubungan dan kendali terhadap sumber kehidupannya sendiri.

Di sinilah kemerdekaan memperoleh makna yang konkret. Petani yang masih memiliki kemampuan memilih, menyimpan, menukar, dan menanam kembali benih memiliki ruang kemandirian yang lebih besar. Dari titik inilah lahir sebuah rangkaian gagasan yang sederhana: bibit merdeka, tanah merdeka, petani merdeka, pangan merdeka, manusia merdeka.

Rudolf Steiner dan Pertanian sebagai Organisme Hidup

Untuk memahami kegiatan biodinamik, kita tidak dapat melepaskannya dari pemikiran Rudolf Steiner. Pendekatan biodinamik lahir dari gagasan bahwa pertanian bukan sekadar sebuah pabrik yang menghasilkan komoditas. Sebuah pertanian harus dipandang sebagai organisme hidup, tempat tanah, tanaman, hewan, manusia, air, dan lingkungan berada dalam hubungan yang saling memengaruhi.

Dalam pandangan tersebut, tanah bukan benda mati yang hanya membutuhkan tambahan bahan dari luar agar dapat terus menghasilkan. Tanah adalah rumah bagi kehidupan yang sangat kompleks. Kesuburannya berkaitan dengan mikroorganisme, bahan organik, air, keberagaman tanaman, serta cara manusia memperlakukannya.

Karena itu, praktik kompos, rotasi tanaman, keberagaman hayati, dan integrasi berbagai unsur dalam pertanian memperoleh makna lebih dari sekadar teknik. Semua itu merupakan upaya untuk menjaga kesehatan keseluruhan organisme pertanian. Manusia bukan hanya pengguna tanah, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang juga harus dijaganya.

Steiner juga berbicara mengenai ritme alam dan hubungan pertanian dengan siklus yang lebih luas. Sebagian aspek pemikiran biodinamik ini memang terus menjadi bahan diskusi dan perdebatan dalam dunia sains modern. Namun, terdapat satu pesan mendasar yang tetap relevan: alam bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa batas.

Alam memiliki ritme. Tanah memerlukan pemulihan. Tanaman memiliki siklus. Air memiliki jalannya sendiri. Dan manusia, betapapun modernnya teknologi yang dimiliki, pada akhirnya tetap hidup dari sistem kehidupan yang sama. Kesadaran terhadap keterhubungan inilah yang menjadikan biodinamik lebih tepat dipahami sebagai cara pandang, bukan semata-mata seperangkat metode bertani.

Tanah, Pancamaya Kosha, dan Kesadaran Holistik

Pengalaman pertanian biodinamik juga dapat dibaca melalui perspektif Pancamaya Kosha, lima lapisan keberadaan manusia dalam tradisi Vedanta. Tanah yang sehat berhubungan langsung dengan annamaya kosha, tubuh fisik manusia, karena dari tanahlah tumbuh makanan yang menopang kehidupan.

Namun hubungan itu tidak berhenti pada tubuh fisik. Pangan juga berkaitan dengan pranamaya kosha, lapisan energi vital. Cara manusia memperlakukan tanah dan alam mencerminkan pula keadaan manomaya kosha, dunia pikiran dan perasaan. Sementara kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan dapat dikaitkan dengan tumbuhnya vijnanamaya kosha, lapisan kebijaksanaan.

Pada tingkat yang lebih dalam, manusia kemudian diingatkan bahwa hidup tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Ada dimensi kebahagiaan dan kesadaran yang lebih luas. Dengan demikian, pertanian dapat dipahami sebagai ruang pendidikan holistik, karena ia mempertemukan tubuh, energi, pikiran, kebijaksanaan, dan pengalaman akan keterhubungan kehidupan.

Di sinilah pertanian biodinamik bertemu dengan gagasan kesehatan holistik. Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kesehatan tanah, kualitas pangan, lingkungan, cara berpikir, dan pola hidup. Kita tidak mungkin membicarakan manusia yang sehat sambil mengabaikan tanah yang terus kehilangan kehidupannya.

Hubungan antara manusia dan tanah dapat diibaratkan seperti hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Ketika tubuh hanya dieksploitasi tanpa diberi waktu beristirahat dan memulihkan diri, pada suatu saat ia akan memberikan tanda. Demikian pula bumi. Kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan sesuatu yang berada di luar manusia, karena manusia hidup di dalam sistem yang sama.

Menanam Masa Depan dan Belajar Mendengarkan Bumi

Tantangan terbesar Bali hari ini bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Tantangannya adalah bagaimana membuat pertanian kembali memiliki martabat. Alih fungsi lahan terus menjadi kenyataan. Sawah berubah menjadi vila, hotel, jalan, dan berbagai bangunan komersial karena logika ekonomi jangka pendek sering kali lebih kuat daripada pertimbangan keberlanjutan.

Dalam situasi seperti itu, pertanian membutuhkan cara pandang baru. Pertanian tidak cukup diposisikan hanya sebagai sektor ekonomi dengan nilai jual yang rendah. Ia juga harus dilihat sebagai penjaga budaya, pendidikan, lingkungan, ketahanan pangan, bahkan identitas Bali sendiri.

Di sinilah kegiatan seperti Bibit Merdeka dan gerakan komunitas biodinamik memperoleh relevansinya. Dengan melibatkan sekitar 17 komunitas dalam jaringan ABI Bali, terdapat kemungkinan untuk membangun pertanian sebagai ruang pembelajaran bersama. Pengetahuan tentang benih, tanah, kompos, pangan, dan kehidupan tidak berhenti pada petani, tetapi dapat diteruskan kepada anak-anak dan masyarakat luas.

Konsep edukasi berbasis pertanian, bahkan eduwisata yang berorientasi pada kesadaran ekologis, dapat menjadi salah satu kemungkinan. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat sawah sebagai pemandangan, lalu kembali ke hotel. Mereka dapat belajar menanam, memahami benih, mengenal kompos, dan menyadari bahwa sepiring makanan memiliki perjalanan panjang sebelum sampai di meja.

Tentu semua ini tidak dapat menjadi jawaban tunggal atas persoalan alih fungsi lahan. Gerakan kesadaran harus berjalan bersama dengan kebijakan tata ruang yang tegas, perlindungan terhadap lahan pertanian, insentif ekonomi yang adil, dan keberpihakan nyata kepada petani. Tanpa itu, idealisme ekologis dapat kalah oleh kekuatan pasar.

Namun, setiap perubahan besar selalu memerlukan benih. Dan mungkin, benih pertama yang perlu kita tanam bukan hanya di tanah, melainkan dalam kesadaran.

Kemerdekaan sejati juga dapat dimulai dari sebutir benih. Ketika petani masih mampu memilih, menyimpan, menanam kembali, dan mewariskan benihnya, di sanalah kedaulatan pangan mulai tumbuh. Ketika tanah dirawat sebagai organisme hidup, manusia pun belajar bahwa dirinya bukan penguasa bumi, melainkan bagian darinya.

Pada akhirnya, Bibit Merdeka bukan hanya tentang apa yang akan kita tanam. Ia juga mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita masih mampu mendengarkan bumi?

Sebab, sebelum kita berusaha menyelamatkan bumi, yang lebih dahulu perlu diselamatkan adalah kesadaran manusia bahwa tanpa bumi yang sehat, tidak ada kehidupan yang dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya. [T]

Tags: alam semestaGianyarHari Kemerdekaan RIlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

Next Post

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails
Next Post
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co