19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Pande Susan by Pande Susan
August 19, 2026
in Esai
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?”

Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Jawaban yakin kita kemudian adalah tiga setengah abad atau 350 tahun, ini bahkan lebih lama dari pembangunan sebuah kompleks candi di Gunung Kawi Tampaksiring.

Paradigma yang menetap ini bukan tanpa penentang, karena dalam salah satu buku yang saya baca karangan G.J. Resink menyebutkan bahwa Belanda hanya menjajah Indonesia selama 40 tahun. Teori tiga setengah abad tentu berpijak dari pendirian VOC tahun 1602 hingga Indonesia merdeka tahun 1945.

Padahal, pada era 1600-an tersebut, tepatnya pada tahun 1618, VOC tak mampu membendung perlawanan dari pasukan gabungan Pangeran Jayakarta dan Kerajaan Inggris, sehingga memaksa Jan Pieterszoon Coen kabur bersama armadanya ke Maluku, meninggalkan sekitar 300 orang personilnya dalam sebuah benteng di sebuah wilayah yang sekarang disebut Kota Jakarta Utara.

Ilustrasi Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda

Sementara itu, Resink dalam bukunya “Bukan 350 Tahun Dijajah” menghitung rentang waktu keberadaan Belanda berdasarkan bukti-bukti hukum dan keberadaan wilayah-wilayah kerajaan, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tunduk kepada Belanda selama rentang waktu tersebut. Termasuk Bali yang baru mengokang senjata secara masif di tahun 1849 lewat Perang Jagaraga, Buleleng.

Tahun 1906 – 1908 di wilayah selatan Bali pun timbul perlawanan lewat Puputan Badung dan Puputan Klungkung. Namun demikian, baik itu 40 tahun atau tiga setengah abad, keberadaan orang-orang Belanda dalam kurun waktu tersebut di Bali pastilah meninggalkan jejak arkeologi, sosiologi, hingga pemahaman yang secara sadar maupun tidak teradaptasi dan berbaur dalam masyarakat.

Perundingan di Tjakranegara | Sumber: Buku G.J. Resink

                                                                                            

Puputan Badung | Sumber: Australian Bali Info for Traveling

                 

Di Bali, terdapat sekitar 150 lebih tinggalan arkeologis yang terkait masa kolonial. Mulai dari puluhan meriam yang tersebar di seluruh wilayah Bali, lalu bangunan-bangunan kerajaan berarsitektur Belanda seperti Taman Ujung di Karangasem. Hotel pertama di Bali pun tak lepas dari pengaruh kolonial, gardu-gardu listrik di beberapa titik Kota Singaraja yang dulu sempat menjadi ibukota Bali adalah hasil dari pembangunan masa kolonial, hingga salah satu sekolah negeri di Bangli merupakan peninggalan kolonial.

Bahkan, sistem subak yang (saat ini masih) menyandang status Warisan Budaya Dunia tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda, paling tidak dari sebuah catatan seorang Kontrolir Pemerintah Hindia-Belanda yang menceritakan tentang perizinan membangun bendungan untuk mengalirkan air hingga pembangunan bendungan di Pejeng, Mambal, Oongan, dan Apuan.

  Meriam di Museum Bali | Dok. Pribadi  

DAM Lawas Pejeng | Dok.Pribadi

         

Balai Kapal di Taman Ujung Sukasada | Dok.Pribadi

 Arca Prajurit di Puri Karangasem | Dok.Pribadi

Gardu Listrik di Singaraja | Dok.Ivan Luttfy

Keberhasilan Belanda menguasai wilayah-wilayah di Indonesia tidak luput dari aspek sosiologi. Dalam beberapa catatan yang masih tertinggal atau sengaja ditinggalkan di Indonesia, banyak peneliti dari Belanda yang datang dan didatangkan untuk mengamati kemudian mencatat bagaimana kehidupan masyarakat di Indonesia pada masa kolonial.

Dr. Roelof Goris, Frederik Albert Liefrinck, hingga Willem Frederik Stutterheim merupakan segelintir peneliti yang datang dan membaur bersama masyarakat Bali. Pendekatan sosiologis ini yang kemudian pelan-pelan membangun pemahaman dalam masyarakat. Catatan-catatan mereka melahirkan buku-buku seperti “Prasasti Bali I dan II”; “Hetgeloof der Balineezen”;”Bijdrage tot de kennis van het eiland Bali”; dan “Oudheden Van Bali”.

Salinan Oudheden Van Bali karya Stutterheim | Dok.Pribadi

Meskipun terlihat seperti catatan lapangan, namun hal yang luput oleh orang-orang Bali saat itu adalah para peneliti ini menjaring informasi agar lebih mudah membuat masyarakat tunduk dengan mempelajari kebiasaan masyarakat lokal secara implisit.

Tidak cukup sampai di sana, untuk menundukkan Bali, pemerintah Belanda menurunkan H.J. Huskus Koopman untuk memahami bagaimana kebiasaan masyarakat dan pemerintahannya kemudian mempengaruhi bangsawan-bangsawan kerajaan untuk berunding agar tunduk pada pemerintahan Hindia Belanda. Hari ini, semua catatan tentang kolonialisme masih disimpan dan dirawat di Gedong Kirtya Singaraja, sebagai bukti bahwa warisan masa-masa kolonial masih menjadi hal penting bagi masyarakat Bali.

Begitu juga dengan Benda, Struktur, Bangunan, dan Situs terkait masa kolonial dilestarikan dengan pengkajian dan perawatan rutin untuk menjaga keberadaan peninggalan masa kolonial tersebut. Sepanjang penjelasan di atas, masa penjajahan Belanda sering menggunakan istilah masa kolonial. Kenapa masa penjajahan Belanda disebut masa kolonial? Apa arti kolonial atau kolonialisme itu sendiri?

Koloni adalah sebuah perkumpulan atau komunitas dalam bahasa latin tetapi dalam bahasa romawi koloni adalah tanah pertanian  atau pemukiman. Kedua bahasa asal kata koloni ini berhubungan dengan keberadaan manusia di satu wilayah, baik secara sukarela maupun terpaksa melalui kolonisasi yang akhirnya berkonotasi pada penjajahan.

Namun, terkait dengan pengertian koloni dalam bahasa Romawi, kedatangan bangsa asing ke wilayah bangsa lain awalnya adalah untuk bermukim dan mencari sumber daya alam untuk bertahan hidup. Konotasi kolonial menjadi negatif karena kolonisasi yang diikuti dengan peperangan, pemaksaan dan perampasan seakan wilayah yang akan mereka duduki adalah tanah kosong.

Indonesia kemudian menjadi salah satu primadona dari ambisi bangsa barat untuk menguasai sumber daya alam dan menghasilkan tanaman-tanaman pertanian monokultur yang memaksa masyarakat lokal menyeragamkan diri hingga akhirnya termarginalkan bagi mereka-mereka yang menolak dan berontak. Tidakkah penjelasan kolonialisme sepertinya relate dengan Indonesia saat ini?

                         

Kolonisasi demi penguasaan sumber daya alam | Sumber: Google

        

Tak cukup kolonisasi paksa dan marginalisasi, masyarakat dalam masa kolonial terjebak dalam hegemoni hierarki. Padahal sesungguhnya hal tersebut merupakan warisan masa kerajaan yang diperkuat status hukumnya pada masa kolonial. Penyebutan Ida Cokorda dan Gusti Ngurah yang awalnya adalah gelar kehormatan dimanfaatkan Belanda untuk memperkuat status mereka di wilayah koloni melalui pendekatan politik dan sosiologis.

Lurah, Camat, Bupati (Regent) pun merupakan jabatan dalam sistem kolonialisme untuk mengontrol penguasa lokal. Tidak sedikit kemudian penguasa-penguasa lokal mendukung kekuasaan Belanda di tengah angin segar power kekuasaan. Pejabat-pejabat ini terdoktrin jika posisi mereka berbeda dari masyarakat biasa.

Persekongkolan kejam pejabat pribumi dan Belanda dibedah dalam buku Max Havelaar oleh Multatuli, salah satu whistle blower pada masa kolonial. Masyarakat dalam buku ini adalah korban penjajahan Belanda, KKN Pejabat Pribumi hingga tindakan sewenang-wenang hanya karena kedudukan jabatan. Ingat tiap kali diadakannya perjamuan atau acara resmi?.

Ada batas yang mencuat sebab kedudukan jabatan resmi, termasuk yang sedang ramai dibahas tentang kesetaraan posisi dalam upacara bendera. Rentetan pertanyaan dan pernyataan muncul di media sosial, seperti “Kenapa kita dijemur sedangkan pejabat teduh di bawah tenda lengkap dengan sajian?”; atau “Di mana keadilan, kesetaraan yang diperjuangkan dalam kemerdekaan?”; atau “Mereka seperti kaum priyayi”. Melihat opini-opini ini, apakah sebenarnya kita masih menyisakan praktik-praktik kolonial?

Ilustrasi Pelaksanaan Upacara Bendera

                                    

Upacara bendera tidak 100% praktik kolonial, upacara bendera resmi di Indonesia pertama kali dilakukan saat upacara 17 Agustus 1945 yang kemudian menjadi Hari Kemerdekaan. Praktek baris-berbarisnya diperkirakan masih menggunakan cara-cara Belanda.

Sedangkan dalam hal pengaturan posisi pejabat merupakan aturan protokoler yang dimuat dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan yang diperjelas melalui Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2018. Dalam peraturan ini dimuat bagaimana posisi pejabat, tamu kenegaraan, termasuk keluarga mereka jika menghadiri acara resmi kenegaraan. Ini sudah diturunkan dari kesepakatan dalam Konvensi Wina 1961, mengingat tamu negara dan pejabat merupakan orang penting yang sedang mengemban tugas. Lalu kenapa masyarakat Indonesia begitu skeptis membahas posisi ini?

               

Ilustrasi Peraturan Keprotokolan Saat Acara Resmi Kenegaraan

Menurut saya pribadi, sikap skeptis masyarakat tidak muncul semata-mata hanya karena kemewahan sajian dan keteduhan untuk para pejabat. Hal ini perlu ditelisik sedikit lebih dalam.

Pertama, sudah tidak dipungkiri lagi jika masyarakat telah kecewa dengan tingkah laku para pejabat saat ini. Masyarakat terbayang para pejabat yang kerja belum optimal tapi fasilitasnya maksimal, sementara mereka masih terus berjuang di bawah panas matahari belum lagi kalau hujan tiba-tiba turun.

Kedua, kemunculan opini ini berdekatan dengan Hari Kemerdekaan, masyarakat merasa terhubung karena terbayang di pengulangan lini waktu yang sama, yaitu Agustus. Ketiga, gabungan lini waktu bulan Agustus, perjuangan rakyat, dan pejabat yang dianggap KKN erat kaitannya dengan masa-masa penjajahan, yang akhirnya terbayang adalah masa-masa kolonial yang penuh perjuangan.

Terlepas dari itu semua, masa kolonial dengan segala tinggalannya adalah lini waktu yang tidak bisa kita hapuskan dari sejarah Indonesia. Ia adalah pelajaran yang masanya seharusnya tak berulang, kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. Jadi menurut kalian warisan budaya kolonial apa yang menarik untuk dipelajari? [T]

Tags: Budayakolonialkolonialisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Next Post

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co