29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

Pande Susan by Pande Susan
August 19, 2026
in Esai
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?”

Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Jawaban yakin kita kemudian adalah tiga setengah abad atau 350 tahun, ini bahkan lebih lama dari pembangunan sebuah kompleks candi di Gunung Kawi Tampaksiring.

Paradigma yang menetap ini bukan tanpa penentang, karena dalam salah satu buku yang saya baca karangan G.J. Resink menyebutkan bahwa Belanda hanya menjajah Indonesia selama 40 tahun. Teori tiga setengah abad tentu berpijak dari pendirian VOC tahun 1602 hingga Indonesia merdeka tahun 1945.

Padahal, pada era 1600-an tersebut, tepatnya pada tahun 1618, VOC tak mampu membendung perlawanan dari pasukan gabungan Pangeran Jayakarta dan Kerajaan Inggris, sehingga memaksa Jan Pieterszoon Coen kabur bersama armadanya ke Maluku, meninggalkan sekitar 300 orang personilnya dalam sebuah benteng di sebuah wilayah yang sekarang disebut Kota Jakarta Utara.

Ilustrasi Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda

Sementara itu, Resink dalam bukunya “Bukan 350 Tahun Dijajah” menghitung rentang waktu keberadaan Belanda berdasarkan bukti-bukti hukum dan keberadaan wilayah-wilayah kerajaan, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tunduk kepada Belanda selama rentang waktu tersebut. Termasuk Bali yang baru mengokang senjata secara masif di tahun 1849 lewat Perang Jagaraga, Buleleng.

Tahun 1906 – 1908 di wilayah selatan Bali pun timbul perlawanan lewat Puputan Badung dan Puputan Klungkung. Namun demikian, baik itu 40 tahun atau tiga setengah abad, keberadaan orang-orang Belanda dalam kurun waktu tersebut di Bali pastilah meninggalkan jejak arkeologi, sosiologi, hingga pemahaman yang secara sadar maupun tidak teradaptasi dan berbaur dalam masyarakat.

Perundingan di Tjakranegara | Sumber: Buku G.J. Resink

                                                                                            

Puputan Badung | Sumber: Australian Bali Info for Traveling

                 

Di Bali, terdapat sekitar 150 lebih tinggalan arkeologis yang terkait masa kolonial. Mulai dari puluhan meriam yang tersebar di seluruh wilayah Bali, lalu bangunan-bangunan kerajaan berarsitektur Belanda seperti Taman Ujung di Karangasem. Hotel pertama di Bali pun tak lepas dari pengaruh kolonial, gardu-gardu listrik di beberapa titik Kota Singaraja yang dulu sempat menjadi ibukota Bali adalah hasil dari pembangunan masa kolonial, hingga salah satu sekolah negeri di Bangli merupakan peninggalan kolonial.

Bahkan, sistem subak yang (saat ini masih) menyandang status Warisan Budaya Dunia tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda, paling tidak dari sebuah catatan seorang Kontrolir Pemerintah Hindia-Belanda yang menceritakan tentang perizinan membangun bendungan untuk mengalirkan air hingga pembangunan bendungan di Pejeng, Mambal, Oongan, dan Apuan.

  Meriam di Museum Bali | Dok. Pribadi  

DAM Lawas Pejeng | Dok.Pribadi

         

Balai Kapal di Taman Ujung Sukasada | Dok.Pribadi

 Arca Prajurit di Puri Karangasem | Dok.Pribadi

Gardu Listrik di Singaraja | Dok.Ivan Luttfy

Keberhasilan Belanda menguasai wilayah-wilayah di Indonesia tidak luput dari aspek sosiologi. Dalam beberapa catatan yang masih tertinggal atau sengaja ditinggalkan di Indonesia, banyak peneliti dari Belanda yang datang dan didatangkan untuk mengamati kemudian mencatat bagaimana kehidupan masyarakat di Indonesia pada masa kolonial.

Dr. Roelof Goris, Frederik Albert Liefrinck, hingga Willem Frederik Stutterheim merupakan segelintir peneliti yang datang dan membaur bersama masyarakat Bali. Pendekatan sosiologis ini yang kemudian pelan-pelan membangun pemahaman dalam masyarakat. Catatan-catatan mereka melahirkan buku-buku seperti “Prasasti Bali I dan II”; “Hetgeloof der Balineezen”;”Bijdrage tot de kennis van het eiland Bali”; dan “Oudheden Van Bali”.

Salinan Oudheden Van Bali karya Stutterheim | Dok.Pribadi

Meskipun terlihat seperti catatan lapangan, namun hal yang luput oleh orang-orang Bali saat itu adalah para peneliti ini menjaring informasi agar lebih mudah membuat masyarakat tunduk dengan mempelajari kebiasaan masyarakat lokal secara implisit.

Tidak cukup sampai di sana, untuk menundukkan Bali, pemerintah Belanda menurunkan H.J. Huskus Koopman untuk memahami bagaimana kebiasaan masyarakat dan pemerintahannya kemudian mempengaruhi bangsawan-bangsawan kerajaan untuk berunding agar tunduk pada pemerintahan Hindia Belanda. Hari ini, semua catatan tentang kolonialisme masih disimpan dan dirawat di Gedong Kirtya Singaraja, sebagai bukti bahwa warisan masa-masa kolonial masih menjadi hal penting bagi masyarakat Bali.

Begitu juga dengan Benda, Struktur, Bangunan, dan Situs terkait masa kolonial dilestarikan dengan pengkajian dan perawatan rutin untuk menjaga keberadaan peninggalan masa kolonial tersebut. Sepanjang penjelasan di atas, masa penjajahan Belanda sering menggunakan istilah masa kolonial. Kenapa masa penjajahan Belanda disebut masa kolonial? Apa arti kolonial atau kolonialisme itu sendiri?

Koloni adalah sebuah perkumpulan atau komunitas dalam bahasa latin tetapi dalam bahasa romawi koloni adalah tanah pertanian  atau pemukiman. Kedua bahasa asal kata koloni ini berhubungan dengan keberadaan manusia di satu wilayah, baik secara sukarela maupun terpaksa melalui kolonisasi yang akhirnya berkonotasi pada penjajahan.

Namun, terkait dengan pengertian koloni dalam bahasa Romawi, kedatangan bangsa asing ke wilayah bangsa lain awalnya adalah untuk bermukim dan mencari sumber daya alam untuk bertahan hidup. Konotasi kolonial menjadi negatif karena kolonisasi yang diikuti dengan peperangan, pemaksaan dan perampasan seakan wilayah yang akan mereka duduki adalah tanah kosong.

Indonesia kemudian menjadi salah satu primadona dari ambisi bangsa barat untuk menguasai sumber daya alam dan menghasilkan tanaman-tanaman pertanian monokultur yang memaksa masyarakat lokal menyeragamkan diri hingga akhirnya termarginalkan bagi mereka-mereka yang menolak dan berontak. Tidakkah penjelasan kolonialisme sepertinya relate dengan Indonesia saat ini?

                         

Kolonisasi demi penguasaan sumber daya alam | Sumber: Google

        

Tak cukup kolonisasi paksa dan marginalisasi, masyarakat dalam masa kolonial terjebak dalam hegemoni hierarki. Padahal sesungguhnya hal tersebut merupakan warisan masa kerajaan yang diperkuat status hukumnya pada masa kolonial. Penyebutan Ida Cokorda dan Gusti Ngurah yang awalnya adalah gelar kehormatan dimanfaatkan Belanda untuk memperkuat status mereka di wilayah koloni melalui pendekatan politik dan sosiologis.

Lurah, Camat, Bupati (Regent) pun merupakan jabatan dalam sistem kolonialisme untuk mengontrol penguasa lokal. Tidak sedikit kemudian penguasa-penguasa lokal mendukung kekuasaan Belanda di tengah angin segar power kekuasaan. Pejabat-pejabat ini terdoktrin jika posisi mereka berbeda dari masyarakat biasa.

Persekongkolan kejam pejabat pribumi dan Belanda dibedah dalam buku Max Havelaar oleh Multatuli, salah satu whistle blower pada masa kolonial. Masyarakat dalam buku ini adalah korban penjajahan Belanda, KKN Pejabat Pribumi hingga tindakan sewenang-wenang hanya karena kedudukan jabatan. Ingat tiap kali diadakannya perjamuan atau acara resmi?.

Ada batas yang mencuat sebab kedudukan jabatan resmi, termasuk yang sedang ramai dibahas tentang kesetaraan posisi dalam upacara bendera. Rentetan pertanyaan dan pernyataan muncul di media sosial, seperti “Kenapa kita dijemur sedangkan pejabat teduh di bawah tenda lengkap dengan sajian?”; atau “Di mana keadilan, kesetaraan yang diperjuangkan dalam kemerdekaan?”; atau “Mereka seperti kaum priyayi”. Melihat opini-opini ini, apakah sebenarnya kita masih menyisakan praktik-praktik kolonial?

Ilustrasi Pelaksanaan Upacara Bendera

                                    

Upacara bendera tidak 100% praktik kolonial, upacara bendera resmi di Indonesia pertama kali dilakukan saat upacara 17 Agustus 1945 yang kemudian menjadi Hari Kemerdekaan. Praktek baris-berbarisnya diperkirakan masih menggunakan cara-cara Belanda.

Sedangkan dalam hal pengaturan posisi pejabat merupakan aturan protokoler yang dimuat dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan yang diperjelas melalui Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2018. Dalam peraturan ini dimuat bagaimana posisi pejabat, tamu kenegaraan, termasuk keluarga mereka jika menghadiri acara resmi kenegaraan. Ini sudah diturunkan dari kesepakatan dalam Konvensi Wina 1961, mengingat tamu negara dan pejabat merupakan orang penting yang sedang mengemban tugas. Lalu kenapa masyarakat Indonesia begitu skeptis membahas posisi ini?

               

Ilustrasi Peraturan Keprotokolan Saat Acara Resmi Kenegaraan

Menurut saya pribadi, sikap skeptis masyarakat tidak muncul semata-mata hanya karena kemewahan sajian dan keteduhan untuk para pejabat. Hal ini perlu ditelisik sedikit lebih dalam.

Pertama, sudah tidak dipungkiri lagi jika masyarakat telah kecewa dengan tingkah laku para pejabat saat ini. Masyarakat terbayang para pejabat yang kerja belum optimal tapi fasilitasnya maksimal, sementara mereka masih terus berjuang di bawah panas matahari belum lagi kalau hujan tiba-tiba turun.

Kedua, kemunculan opini ini berdekatan dengan Hari Kemerdekaan, masyarakat merasa terhubung karena terbayang di pengulangan lini waktu yang sama, yaitu Agustus. Ketiga, gabungan lini waktu bulan Agustus, perjuangan rakyat, dan pejabat yang dianggap KKN erat kaitannya dengan masa-masa penjajahan, yang akhirnya terbayang adalah masa-masa kolonial yang penuh perjuangan.

Terlepas dari itu semua, masa kolonial dengan segala tinggalannya adalah lini waktu yang tidak bisa kita hapuskan dari sejarah Indonesia. Ia adalah pelajaran yang masanya seharusnya tak berulang, kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. Jadi menurut kalian warisan budaya kolonial apa yang menarik untuk dipelajari? [T]

Tags: Budayakolonialkolonialisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

Next Post

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails
Next Post
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co