3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Chusmeru by Chusmeru
July 13, 2026
in Tualang
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Peneliti Unsoed di Pesanggrahan Prabu Siliwangi / Foto Dok.TNA

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama kali yang dirasakan ketika memasuki Majalengka adalah hembusan angin yang kencang. Tak heran jika Majalengka mendapat julukan sebagai “Kota Angin”.

Nama Kabupaten Majalengka sendiri menurut banyak cerita berasal dari kisah zaman dahulu, ketika Nyi Rambut Kasih sebagai Ratu Sindangkasih menolak agama Islam yang dibawa oleh Pangeran Muhammad dari Cirebon. Pangeran Muhammad datang untuk mencari buah maja yang kabarnya bisa mengobati wabah penyakit di Cirebon.

Karena perselisihan agama, Nyi Rambut Kasih memilih melenyapkan pohon-pohon maja dan kemudian moksa (menghilang). Ketika Pangeran Muhammad dan pengikutnya tidak menemukan buah maja, mereka mengatakan “maja-e langka” atau “buah majanya hilang”, yang akhirnya menjadi nama Majalengka.

Memiliki panorama alam yang indah, Majalengka dijuluki Kota Seribu Curug. Banyak ditemukan curug atau air terjun yang masih alami. Bagi yang menyukai wisata alam, Majalengka cocok untuk dikunjungi. Beberapa curug yang terkenal di Majalengka adalah  Curug Embun Pelangi, Curug Cibali, Curug Ciladug, dan Curug Tonjong.

Peneliti Unsoed bersama Juru Kunci Pesanggrahan, Rozali | Foto Dok. TNA

Perjalanan Tim Peneliti Fisip Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dari Purwokerto ke Majalengka menempuh jarak sekitar 193 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari 4 jam. Pemandangan alam yang indah dan hijau di sepanjang perjalanan membuat suasana terasa nyaman, apalagi aksesibilitas jalan menuju Majalengka yang dijuluki Kota Pensiunan dan Kota Kecap juga terbilang baik.

Ketua Tim Peneliti Unsoed, Tri Nugroho Adi ingin menguak lebih jauh tentang Majalengka. Selain potensi wisata alam yang dimilki, Majalengka juga mempunyai objek wisata sejarah berupa petilasan atau pesanggrahan Prabu Siliwangi. Tri Nugroho Adi berharap petilasan ini dapat menjadi media komunikasi pendidikan dan literasi sejarah bagi generasi muda saat ini.

Prabu Siliwangi

Sebagai daerah yang berada di Tatar Pasundan, Majalengka juga tak lepas dari budaya, sejarah dan legenda yang hidup di wilayah Jawa Barat. Salah satu cerita sejarah yang berkembang di Majalengka adalah sosok Prabu Siliwangi. Sosok legendaris ini digambarkan sebagai seorang raja di Kerajaan Pajajaran yang berkuasa pada tahun 1482 Masehi – 1521 Masehi.

Terdapat banyak versi tentang sosok Prabu Siliwangi. Secara etimologi disebutkan bahwa nama Siliwangi berasal dari istilah dalam bahasa Sunda, yaitu Silih Wangi, yang berarti pengganti atau penerus Raja Wangi. Sedangkan Raja Wangi sendiri berarti seorang raja yang memiliki nama yang harum atau wangi. Banyak yang berpendapat Prabu Siliwangi atau Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja adalah sosok pemimpin Kerajaan Pajajaran yang memiliki corak Hindu.

Pesanggrahan Prabu Siliwangi | Foto Dok.TNA

Ayah Prabu Siliwangi adalah Prabu Dewa Niskala, yang juga cucu Raja Niskala Wastu Kencana, seorang  pemimpin Kerajaan Sunda Galuh pada 1348 sampai 1475 Masehi. Legenda Perang Bubat yang mengharumkan atau membuat wangi Raja Niskala Wastu Kencana membuat keturunannya mendapat sebutan Silih Wangi atau Siliwangi.

Prabu Siliwangi atau biasa juga disebut Sri Baduga Maharaja dikenal sebagai seorang raja yang sakti, cakap, gagah perkasa, adil, dan bijaksana. Ada pula yang menyebut Prabu Siliwangi dengan panggilan Prabu Jaya Dewata. Prabu Siliwangi berhasil membawa rakyat dan kerajaannya menuju zaman kejayaan. Itu semua tak terlepas dari cerita tentang kesaktian Prabu Siliwangi dan sikapnya yang selalu berpihak kepada nasib rakyatnya.

Pro dan kontra tentang sosok Prabu Siliwangi memang terus terjadi hingga saat ini. Namun sebagian besar percaya bahwa Prabu Siliwangi dikenal sebagai seorang prajurit yang tangguh dan memiliki kemampuan bertarung yang hebat. 

Prabu Siliwangi diceritakan memiliki kemampuan menghilang. Ia dapat menghilang dari pandangan musuhnya dan muncul di tempat lain secara tiba-tiba. Kesaktiannya membuat ia mampu berjalan secepat angin dan terbang seperti burung.

Dikenal juga sebagai raja yang memiliki pasukan gaib yang membantunya dalam setiap pertempuran. Kesaktian Prabu Siliwangi yang lain adalah berupa ilmu macan putih. Kekuatan dan ketangkasannya membuat kebal terhadap senjata dan serangan musuh. Konon ia selalu dijaga dan dikawal oleh harimau hitam dan putih.

Mitologi tentang Penguasa Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul juga kerap dikaitkan dengan Prabu Siliwangi. Nyi Roro Kidul adalah anak dari Prabu Siliwangi, dengan nama asli Putri Kandita. Ia adalah putri dari permaisuri Prabu Siliwangi bernama Permaisuri Kinasih.

Menurut legenda, Nyi Roro Kidul adalah putri cantik yang menjadi korban intrik di istana, sehingga tubuhnya disihir menjadi penuh borok dan bisul. Ia kemudian mengasingkan diri ke pesisir Laut Selatan, di mana ia sembuh setelah menceburkan diri ke laut dan mendapatkan kekuatan supranatural.  Setelah sembuh dan mendapatkan kekuatan, ia menjadi Ratu Laut Selatan yang dikenal sebagai Nyi Roro Kidul

Nama Komando Daerah Militer (Kodam III) Siliwangi di Jawa Barat terinspirasi dari sosok legendaris Prabu Siliwangi, raja dari Kerajaan Pajajaran yang melambangkan kepemimpinan dan semangat perjuangan. Kodam III Siliwangi membawahi wilayah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Lambang Kodam III Siliwangi pun berupa harimau berwajah garang.

Pesanggrahan

Puluhan tahun menjadi raja di Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi meninggalkan banyak jejak yang disebut dengan petilasan atau persinggahan. Salah satu tempat yang dipercaya masyarakat sebagai petilasan Prabu Siliwangi berada di Kabupaten Majalengka.

Terletak di Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, petilasan Prabu Siliwangi menjadi objek wisata alam, sejarah, dan spiritual yang banyak dikunjungi wisatawan. Dari kota Majalengka, petilasan ini berjarak sekitar 12,6 kilometer dengan waktu tempuh 30 menit. Aksesibilitas menuju lokasi cukup mudah, baik berkendaraan roda empat maupun roda dua.

Pintu masuk Pesanggrahan Prabu Siliwangi | Foto Dok.TNA

Tim Peneliti Unsoed dipandu oleh Rozali, Juru Kunci pesanggrahan Prabu Siliwangi, berkunjung untuk mengobati rasa penasaran dan melihat dari dekat peninggalan Raja Pajajaran yang melegenda ini. Pesanggrahan ini sering didatangi pengunjung untuk berziarah atau semedi. Menurut Rozali, kebanyakan pengunjung datang pada malam Jumat Kliwon. Mereka diperbolehkan menginap di area pesanggrahan yang telah disediakan oleh pengelola.

“Pengunjung dari daerah Cirebon, Kuningan, Subang, Purwakarta, dan Jawa Tengah. Setiap minggu jumlah pengunjung mencapai 300 orang,” ujar Rozali.

Muncul pendapat bahwa petilasan tersebut dibangun oleh Ciung Wanara dari Kerajaan Galuh untuk tempat peristirahatan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Petilasan ini juga dianggap sebagai tempat moksa atau menghilangnya Prabu Siliwangi, karena hingga saat ini tidak ditemukan kejelasan tentang makam Raja Pajajaran itu.

Dalam beberapa legenda, raja-raja sering disebutkan moksa. Peristiwa moksanya seorang raja melambangkan pelepasan dari ikatan duniawi dan mencapai pencerahan. Kepercayaan ini menempatkan raja-raja tertentu bukan sebagai sosok yang wafat secara biasa, melainkan sebagai seseorang yang mencapai kesempurnaan spiritual.

Moksa dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan keagungan yang melampaui batas waktu. Ini menandakan bahwa keberadaan mereka lebih dari sekadar kehidupan fisik biasa. Dengan mencapai moksa, jiwa memasuki keadaan kebahagiaan ilahi yang abadi. . Untuk mencapai moksa, seorang raja harus membebaskan diri dari keinginan material, dan mengembangkan pengetahuan yang mendalam tentang jiwa dan alam semesta.

Pakar pemberdayaan masyarakat Prof.Dr.Adhi Iman Sulaiman sebagai pendamping penelitian berharap ada program pemberdayaan bagi masyarakat di sekitar petilasan atau pesanggrahan Prabu Siliwangi. Pemberdayaan ini bertujuan agar masyarakat sekitar dapat terlibat dalam pengelolaan objek wisata sejarah ini.

“Selain itu, objek wisata petilasan ini juga perlu dikelola secara profesional dengan tidak meninggalkan kearifan lokal,” kata Prof.Dr.Adhi Iman Sulaiman.

Petilasan Prabu Siliwangi bukan sekadar objek wisata sejarah, budaya, dan spiritual. Lewat petilasan itu semestinya orang akan merenung tentang betapa sulitnya meninggalkan keinginan dan ambisi duniawi. Manusia saat ini sulit untuk membebaskan diri dari ambisi jabatan dan selalu terbelenggu oleh keinginan material yang dirasa tak pernah tercukupi. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananMajalengkasejarahSiliwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co