“Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.”
Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah diskusi tentang posisi sastra Indonesia hari ini. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI), perubahan perilaku membaca, dan berkembangnya platform digital, ia justru melihat harapan sastra berada pada generasi muda yang selama ini acap dipandang sebelah mata.
Di Kawasan Museum Buleleng, Sabtu, 4 Juli 2026, perbincangan tentang sastra berlangsung hangat sekaligus reflektif. Panel bertajuk “Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia” menjadi salah satu rangkaian hari kedua Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Ratih Kumala, Sasti Gotama, dan JS Khairen hadir sebagai narasumber dengan Desi Nurani sebagai moderator. Selama hampir dua jam, pembahasan tidak hanya menyoroti sastra sebagai karya, tetapi juga perubahan ekosistem yang mengitarinya, mulai dari lahirnya penulis baru, bergesernya perilaku membaca, hingga tantangan di era kecerdasan buatan (AI).
Desi Nurani membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan yang langsung mengarahkan percakapan ke inti persoalan: jika diminta menggambarkan posisi sastra Indonesia hari ini, apakah sastra sedang tumbuh atau justru menghadapi krisis?

Bagi JS Khairen, jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada cara orang memaknai sastra. Ia mengawali dengan pengalaman pribadinya. Ketika tujuh novel pertamanya belum laris, ia lebih sering diundang ke forum-forum diskusi sastra. Namun, setelah karya-karyanya menjadi best seller, undangan justru lebih banyak datang dari kampus dan ruang-ruang publik lain.
Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa batas antara sastra dan pasar masih sering diperdebatkan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dibantah: Generasi Z memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga kehidupan sastra Indonesia. Mereka mungkin tidak banyak mengenal karya-karya sastra masa lalu, tetapi justru menjadi pembaca yang menghidupi sastra hari ini.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa generasi yang kini mulai menjadi penulis akan menghadapi tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Di era AI, persoalannya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuktikan bahwa karya itu benar-benar lahir dari tangan dan pikiran sendiri.
Meski begitu, ia tetap optimistis. “Kalau autentik, AI itu nggak bisa niru. Semua penulis pasti punya signature-nya. Semua punya gaya yang tidak bisa ditiru AI,” tegasnya.

Ratih Kumala melihat persoalan dari sudut berbeda. Baginya, sastra Indonesia bukan sedang mengalami krisis, melainkan transformasi.
Transformasi itu tampak dari tema, genre, hingga cara penulis membangun kariernya. Jika dahulu seorang penulis harus bersaing ketat agar bisa dimuat di surat kabar atau diterbitkan penerbit besar, kini jalurnya jauh lebih beragam. Platform digital memberi ruang lebih luas bagi siapa pun untuk mulai menulis dan menemukan pembacanya sendiri.
“Perubahan medium justru membuka peluang baru. Penulis masa kini bahkan bisa hidup dari aktivitas menulis tanpa harus menjadi jurnalis atau menerbitkan buku secara konvensional. Platform seperti Wattpad dan berbagai media digital memungkinkan penulis membangun komunitas pembaca sekaligus memperoleh penghasilan. Interaksi yang terbangun dengan pembaca juga lebih intens sehingga mendorong lahirnya karya-karya yang lebih eksperimental,” ungkap Ratih Kumala.

Pandangan Ratih Kumala diamini Sasti Gotama. Penulis yang mengawali karier melalui platform digital itu mengaku dirinya menjadi salah satu bagian dari transformasi tersebut.
Menurut Sasti, perubahan tidak hanya terjadi pada medium publikasi, tetapi juga pada keberanian penulis bereksperimen. Kini ada buku yang dikemas menyerupai majalah, ada pula karya yang bermain dengan bentuk dan struktur yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan.
Ia bahkan menyebut dirinya ‘tersesat’ ke dunia sastra karena berlatar belakang seorang dokter umum. Namun, justru latar belakang itulah yang memberi sudut pandang berbeda dalam menulis.
“Beragam pengalaman hidup, selalu menyimpan kemungkinan untuk diolah menjadi cerita yang autentik,” ucapnya.


Diskusi kemudian bergeser pada isu yang tak kalah penting, yakni bagaimana perubahan cara membaca memengaruhi proses kreatif seorang penulis.
Desi Nurani mengingatkan bahwa pembaca kini mengakses bacaan melalui banyak medium. Kebiasaan membaca pun berubah. Di tengah situasi itu, ia bertanya apakah para penulis akhirnya menyesuaikan diri dengan selera pasar atau tetap bertahan pada idealismenya.
JS Khairen menjawab dengan pengalaman yang justru bertolak belakang dari anggapan umum.
“Aku pernah menulis karya dengan keinginan pembaca, tapi tidak laku. Ketika aku menulis sebagai JS Khairen, justru laku.”
Menurutnya, pembaca pada akhirnya mencari orisinalitas dan ketulusan seorang penulis. Pasar akan menunggu karya yang benar-benar lahir dari identitas penulisnya sendiri.
Ratih Kumala memiliki pendekatan lebih kontekstual. Ia mengaku selalu berangkat dari idealisme dan kegelisahan pribadi ketika menulis novel. Namun, saat menulis skenario film, ia harus mempertimbangkan kebutuhan pasar karena medium tersebut memiliki karakter berbeda.

Sementara itu, Sasti Gotama mengakui bahwa seluruh karya yang ia tulis berawal dari kebutuhan untuk melakukan katarsis. Seiring waktu, muncul pula keinginan agar bukunya diterima pasar. Algoritma media sosial, menurutnya, membantu penulis membaca tren, sementara komunitas seperti bookstagram dan TikTok memperluas cara buku dipasarkan.
Kendati demikian, ia menyadari bahwa mengikuti selera pasar sepenuhnya bukan perkara mudah. Ia pernah mencoba, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Pada akhirnya, ia meyakini karya yang lahir dari idealisme penulis sendiri lebih mudah menemukan pembaca. Kini, bukan hanya isi buku yang menarik perhatian publik, tetapi juga sosok penulisnya.
Menjelang akhir diskusi, satu benang merah terasa semakin jelas. Ketiga penulis itu boleh datang dari generasi, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Namun, mereka bertemu pada satu keyakinan bahwa sastra Indonesia tidak sedang kehilangan arah.

Sastra Indonesia kini sedang bertransformasi. Perubahan itu menghadirkan tantangan baru: AI, algoritma, media sosial, hingga bergesernya perilaku membaca. Namun, di balik semua itu, selalu ada ruang bagi kejujuran, keberanian bereksperimen, dan suara-suara autentik yang membuat sastra tetap menemukan pembacanya.
Di halaman Museum Buleleng siang itu, percakapan tentang sastra bukan sekadar membahas buku atau penulis. Ia menjadi pengingat bahwa selama masih ada generasi yang membaca, menulis, dan percaya pada kekuatan cerita, sastra Indonesia akan terus bertumbuh, menemukan bentuk-bentuk baru, sekaligus menjaga denyut kehidupan yang membuatnya tetap relevan di tengah lanskap dunia yang terus berubah.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































