23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
in Khas
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.”

Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah diskusi tentang posisi sastra Indonesia hari ini. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI), perubahan perilaku membaca, dan berkembangnya platform digital, ia justru melihat harapan sastra berada pada generasi muda yang selama ini acap dipandang sebelah mata.

Di Kawasan Museum Buleleng, Sabtu, 4 Juli 2026, perbincangan tentang sastra berlangsung hangat sekaligus reflektif. Panel bertajuk “Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia” menjadi salah satu rangkaian hari kedua Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Ratih Kumala, Sasti Gotama, dan JS Khairen hadir sebagai narasumber dengan Desi Nurani sebagai moderator. Selama hampir dua jam, pembahasan tidak hanya menyoroti sastra sebagai karya, tetapi juga perubahan ekosistem yang mengitarinya, mulai dari lahirnya penulis baru, bergesernya perilaku membaca, hingga tantangan di era kecerdasan buatan (AI).

Desi Nurani membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan yang langsung mengarahkan percakapan ke inti persoalan: jika diminta menggambarkan posisi sastra Indonesia hari ini, apakah sastra sedang tumbuh atau justru menghadapi krisis?

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Bagi JS Khairen, jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada cara orang memaknai sastra. Ia mengawali dengan pengalaman pribadinya. Ketika tujuh novel pertamanya belum laris, ia lebih sering diundang ke forum-forum diskusi sastra. Namun, setelah karya-karyanya menjadi best seller, undangan justru lebih banyak datang dari kampus dan ruang-ruang publik lain.

Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa batas antara sastra dan pasar masih sering diperdebatkan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dibantah: Generasi Z memiliki posisi yang sangat penting dalam menjaga kehidupan sastra Indonesia. Mereka mungkin tidak banyak mengenal karya-karya sastra masa lalu, tetapi justru menjadi pembaca yang menghidupi sastra hari ini.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa generasi yang kini mulai menjadi penulis akan menghadapi tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Di era AI, persoalannya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuktikan bahwa karya itu benar-benar lahir dari tangan dan pikiran sendiri.

Meski begitu, ia tetap optimistis. “Kalau autentik, AI itu nggak bisa niru. Semua penulis pasti punya signature-nya. Semua punya gaya yang tidak bisa ditiru AI,” tegasnya.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Ratih Kumala melihat persoalan dari sudut berbeda. Baginya, sastra Indonesia bukan sedang mengalami krisis, melainkan transformasi.

Transformasi itu tampak dari tema, genre, hingga cara penulis membangun kariernya. Jika dahulu seorang penulis harus bersaing ketat agar bisa dimuat di surat kabar atau diterbitkan penerbit besar, kini jalurnya jauh lebih beragam. Platform digital memberi ruang lebih luas bagi siapa pun untuk mulai menulis dan menemukan pembacanya sendiri.

“Perubahan medium justru membuka peluang baru. Penulis masa kini bahkan bisa hidup dari aktivitas menulis tanpa harus menjadi jurnalis atau menerbitkan buku secara konvensional. Platform seperti Wattpad dan berbagai media digital memungkinkan penulis membangun komunitas pembaca sekaligus memperoleh penghasilan. Interaksi yang terbangun dengan pembaca juga lebih intens sehingga mendorong lahirnya karya-karya yang lebih eksperimental,” ungkap Ratih Kumala.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Pandangan Ratih Kumala diamini Sasti Gotama. Penulis yang mengawali karier melalui platform digital itu mengaku dirinya menjadi salah satu bagian dari transformasi tersebut.

Menurut Sasti, perubahan tidak hanya terjadi pada medium publikasi, tetapi juga pada keberanian penulis bereksperimen. Kini ada buku yang dikemas menyerupai majalah, ada pula karya yang bermain dengan bentuk dan struktur yang sebelumnya nyaris tak terpikirkan.

Ia bahkan menyebut dirinya ‘tersesat’ ke dunia sastra karena berlatar belakang seorang dokter umum. Namun, justru latar belakang itulah yang memberi sudut pandang berbeda dalam menulis.

“Beragam pengalaman hidup, selalu menyimpan kemungkinan untuk diolah menjadi cerita yang autentik,” ucapnya.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Diskusi kemudian bergeser pada isu yang tak kalah penting, yakni bagaimana perubahan cara membaca memengaruhi proses kreatif seorang penulis.

Desi Nurani mengingatkan bahwa pembaca kini mengakses bacaan melalui banyak medium. Kebiasaan membaca pun berubah. Di tengah situasi itu, ia bertanya apakah para penulis akhirnya menyesuaikan diri dengan selera pasar atau tetap bertahan pada idealismenya.

JS Khairen menjawab dengan pengalaman yang justru bertolak belakang dari anggapan umum.

“Aku pernah menulis karya dengan keinginan pembaca, tapi tidak laku. Ketika aku menulis sebagai JS Khairen, justru laku.”

Menurutnya, pembaca pada akhirnya mencari orisinalitas dan ketulusan seorang penulis. Pasar akan menunggu karya yang benar-benar lahir dari identitas penulisnya sendiri.

Ratih Kumala memiliki pendekatan lebih kontekstual. Ia mengaku selalu berangkat dari idealisme dan kegelisahan pribadi ketika menulis novel. Namun, saat menulis skenario film, ia harus mempertimbangkan kebutuhan pasar karena medium tersebut memiliki karakter berbeda.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Sementara itu, Sasti Gotama mengakui bahwa seluruh karya yang ia tulis berawal dari kebutuhan untuk melakukan katarsis. Seiring waktu, muncul pula keinginan agar bukunya diterima pasar. Algoritma media sosial, menurutnya, membantu penulis membaca tren, sementara komunitas seperti bookstagram dan TikTok memperluas cara buku dipasarkan.

Kendati demikian, ia menyadari bahwa mengikuti selera pasar sepenuhnya bukan perkara mudah. Ia pernah mencoba, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Pada akhirnya, ia meyakini karya yang lahir dari idealisme penulis sendiri lebih mudah menemukan pembaca. Kini, bukan hanya isi buku yang menarik perhatian publik, tetapi juga sosok penulisnya.

Menjelang akhir diskusi, satu benang merah terasa semakin jelas. Ketiga penulis itu boleh datang dari generasi, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Namun, mereka bertemu pada satu keyakinan bahwa sastra Indonesia tidak sedang kehilangan arah.

Panel Diskusi ‘Posisi dan Potensi Sastra Indonesia dalam Lanskap Dunia’│Foto: Dok. SLF

Sastra Indonesia kini sedang bertransformasi. Perubahan itu menghadirkan tantangan baru: AI, algoritma, media sosial, hingga bergesernya perilaku membaca. Namun, di balik semua itu, selalu ada ruang bagi kejujuran, keberanian bereksperimen, dan suara-suara autentik yang membuat sastra tetap menemukan pembacanya.

Di halaman Museum Buleleng siang itu, percakapan tentang sastra bukan sekadar membahas buku atau penulis. Ia menjadi pengingat bahwa selama masih ada generasi yang membaca, menulis, dan percaya pada kekuatan cerita, sastra Indonesia akan terus bertumbuh, menemukan bentuk-bentuk baru, sekaligus menjaga denyut kehidupan yang membuatnya tetap relevan di tengah lanskap dunia yang terus berubah.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: JS KhairenRatih KumalaSasti GotamasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Next Post

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co