2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
July 13, 2026
in Esai
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Ilustrasi dibuat dengan AI

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di Indonesia. Di tengah meningkatnya beban administrasi, tuntutan publikasi, kewajiban memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD), kompetisi hibah penelitian, hingga persoalan kesejahteraan – terutama bagi dosen honorer dan dosen di banyak perguruan tinggi swasta – tidak sedikit akademisi yang mulai menyebut dirinya sebagai buruh intelektual.

Bagi sebagian orang, menyebut dosen sebagai buruh adalah bentuk pengakuan bahwa mereka hidup dari menjual tenaga kerja kepada universitas, sama seperti pekerja lain yang menjual tenaga kerjanya kepada perusahaan. Sebaliknya, pihak lain menilai istilah tersebut terlalu menyederhanakan profesi akademik. Dosen memiliki pendidikan tinggi, keahlian profesional, otonomi dalam menjalankan pekerjaannya, serta peran sosial yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan pekerja pada umumnya.

Perdebatan ini tampaknya hanya berkisar pada soal istilah. Padahal, persoalannya jauh lebih mendasar. Ketika kita bertanya apakah dosen adalah buruh, sesungguhnya kita sedang mempertanyakan posisi kelas profesi akademik dalam kapitalisme kontemporer. Apakah dosen merupakan bagian dari proletariat karena tidak memiliki alat produksi dan hidup dari upah? Ataukah mereka justru membentuk kelas sosial yang berbeda karena menjalankan fungsi profesional dalam menghasilkan pengetahuan, mendidik tenaga kerja, dan mengelola institusi pendidikan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini menggunakan dua perspektif yang sama-sama berakar pada tradisi Marxis. Pertama, perspektif Marxis klasik yang mendefinisikan kelas berdasarkan hubungan terhadap alat produksi. Kedua, konsep Professional-Managerial Class (PMC) dari Barbara dan John Ehrenreich yang berupaya menjelaskan bagaimana perkembangan kapitalisme modern melahirkan kelompok profesional dengan fungsi sosial yang khas.

Marx: Dosen sebagai Proletariat

Bagi Karl Marx, kelas sosial tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan, prestise, ataupun besar kecilnya pendapatan. Yang menentukan adalah hubungan seseorang terhadap alat produksi. Kaum borjuis adalah mereka yang memiliki alat produksi dan memperoleh keuntungan dari kepemilikannya. Sebaliknya, proletariat adalah mereka yang tidak memiliki alat produksi sehingga harus menjual tenaga kerjanya demi memperoleh upah. Jika menggunakan ukuran ini, posisi dosen relatif jelas.

Dosen tidak memiliki universitas. Mereka tidak memiliki ruang kuliah, laboratorium, sistem administrasi, ataupun institusi tempat mereka bekerja. Semua itu dimiliki oleh negara, yayasan, atau badan penyelenggara pendidikan. Yang dimiliki dosen hanyalah kemampuan intelektualnya. Setiap hari mereka menjual kemampuan mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat kepada universitas dengan imbalan gaji. Pengetahuan yang mereka hasilkan melalui penelitian juga umumnya menjadi bagian dari aset akademik institusi tempat mereka bekerja.

Dalam perspektif Marxis klasik, dosen merupakan pekerja upahan (wage labour). Mereka adalah bagian dari proletariat. Perbedaan antara dosen dan buruh pabrik bukan terletak pada hubungan produksinya, melainkan pada bentuk tenaga kerja yang dijual. Buruh menjual tenaga fisik, sedangkan dosen menjual tenaga intelektual. Namun keduanya sama-sama bergantung pada penjualan tenaga kerja karena tidak memiliki alat produksi.

Ehrenreich: Dosen sebagai Professional-Managerial Class (PMC)

Barbara dan John Ehrenreich berpendapat bahwa perkembangan kapitalisme modern telah menciptakan diferensiasi yang semakin kompleks di dalam masyarakat kapitalis. Di samping borjuasi dan proletariat, muncul kelompok profesional yang tidak dapat dipahami hanya melalui dikotomi klasik tersebut. Mereka menyebut kelompok ini sebagai Professional-Managerial Class (PMC). PMC bukanlah pemilik modal dan juga hidup dari gaji, namun fungsi mereka dalam kapitalisme berbeda dari pekerja pada umumnya.

Menurut Ehrenreich, yang membedakan PMC bukan terutama hubungan mereka terhadap alat produksi, melainkan fungsi sosial yang mereka jalankan. Mereka menghasilkan pengetahuan, mengembangkan teknologi, mengelola organisasi, menetapkan standar profesional, melakukan pengawasan, serta mereproduksi keterampilan yang dibutuhkan sistem kapitalisme. Kelompok ini mencakup dokter, pengacara, insinyur, psikolog, birokrat, manajer, peneliti, dan dosen.

Dalam konteks ini, universitas bukan sekadar tempat bekerja. Ia merupakan institusi yang menghasilkan pengetahuan, melatih tenaga kerja profesional, memberikan sertifikasi, dan membentuk standar keilmuan. Mereka tidak hanya mengajar tetapi juga menyusun kurikulum, melakukan penelitian, membimbing dan menguji mahasiswa, serta menghasilkan pengetahuan yang menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebijakan publik. Karena itu, Ehrenreich melihat dosen bukan sekadar pekerja upahan, tetapi juga bagian dari kelas profesional yang menjalankan fungsi penting dalam reproduksi kapitalisme modern.

Posisi Dosen dalam Perubahan Sosial

Perdebatan mengenai apakah dosen merupakan proletariat atau Professional-Managerial Class memberikan cara yang berbeda untuk memahami posisi akademisi dalam kapitalisme. Namun, berhenti pada klasifikasi kelas saja tidak cukup menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa peran dosen dalam perubahan sosial?

Di titik inilah diskusi mengenai kelas menemukan batasnya. Mengetahui bahwa dosen adalah pekerja upahan sebagaimana dijelaskan Marx, atau bagian dari Professional-Managerial Class sebagaimana dijelaskan Ehrenreich, tidak secara otomatis menjelaskan keberpihakan politik seorang akademisi. Posisi kelas dapat membantu kita memahami hubungan ekonomi maupun fungsi sosial suatu profesi, tetapi tidak serta-merta menentukan bagaimana profesi tersebut menggunakan pengetahuan dan otoritas yang dimilikinya.

Kritik Catherine Liu terhadap PMC melalui bukunya yang berjudul Virtue Hoarders: The Case Against the Professional-Managerial Class memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Pertama, menurut Liu, PMC mempertahankan dominasinya melalui apa yang ia sebut sebagai virtue hoarding. Kelas profesional tidak hanya memperoleh status melalui pendidikan dan keahlian, tetapi juga melalui klaim superioritas moral. Pendidikan, bahasa akademik, dan identitas sebagai kelompok yang dianggap lebih progresif menjadi sumber legitimasi sosial yang membedakan mereka dari kelompok lain.

Kedua, Liu menilai bahwa PMC telah menggeser perhatian dari politik kelas menuju politik identitas dan pengakuan. Perdebatan mengenai eksploitasi, upah, serikat pekerja, dan distribusi kekayaan semakin tergantikan oleh perdebatan mengenai representasi, keberagaman, dan bahasa yang dianggap tepat. Bagi Liu, perjuangan melawan diskriminasi tetap penting, tetapi ketika isu-isu tersebut menggantikan pembahasan mengenai relasi produksi dan ketimpangan ekonomi, kritik terhadap kapitalisme kehilangan daya ubahnya.

Ketiga, Liu melihat universitas sebagai institusi utama reproduksi PMC. Kampus tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga mereproduksi status sosial melalui gelar, sertifikasi, dan kredensial profesional. Semakin tinggi kredensial akademik seseorang, semakin besar otoritas yang dimilikinya untuk menentukan pengetahuan apa yang dianggap sah, siapa yang dianggap kompeten, dan siapa yang memiliki legitimasi untuk berbicara di ruang publik.

Keempat, Liu mengkritik mitos meritokrasi yang diyakini PMC. Keberhasilan sering dipahami sebagai hasil kerja keras, kecerdasan, dan prestasi individual semata. Padahal, menurut Liu, posisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh akses terhadap pendidikan, jaringan sosial, modal budaya, dan berbagai privilese yang tidak dimiliki semua orang. Meritokrasi akhirnya menjadi ideologi yang melegitimasi ketimpangan dengan menganggap keberhasilan sebagai sepenuhnya hasil usaha individu.

Kelima, Liu berpendapat bahwa PMC pada akhirnya tidak menjadi ancaman serius bagi kapitalisme. Banyak anggota PMC tampil progresif dalam isu-isu budaya dan sosial, tetapi tetap menerima logika dasar kapitalisme seperti kompetisi, profesionalisasi, dan akumulasi modal. Kritik terhadap diskriminasi berkembang, tetapi kritik terhadap hubungan produksi dan konsentrasi kekayaan justru melemah. Akibatnya, PMC sering kali berperan sebagai penstabil sistem, bukan sebagai kekuatan yang mentransformasikannya.

Bagi profesi dosen, lima kritik tersebut menjadi pengingat bahwa posisi sebagai bagian dari PMC bukan hanya memberikan otoritas intelektual, tetapi juga membawa risiko reproduksi privilese. Pendidikan, gelar akademik, dan reputasi ilmiah dapat menjadi sarana mempertahankan status profesional apabila tidak diiringi dengan keberpihakan terhadap persoalan-persoalan sosial yang lebih luas.

Di sinilah pemikiran Antonio Gramsci memberikan perspektif yang berbeda. Bagi Gramsci, persoalan utama bukanlah semata-mata asal-usul kelas seorang intelektual, melainkan fungsi yang dijalankannya dalam membangun atau menantang hegemoni. Setiap kelas sosial membutuhkan intelektual organik, yaitu intelektual yang mampu mengartikulasikan pengalaman, kepentingan, dan aspirasi kaum proletariat ke dalam gagasan yang dapat membangun kesadaran kolektif dan mendorong perubahan sosial.

Dalam pengertian ini, seorang dosen dapat saja merupakan bagian dari PMC, tetapi tetap memilih menjadi intelektual organik yang berpihak kepada kelas pekerja. Sebaliknya, seorang akademisi yang secara struktural merupakan pekerja upahan juga dapat menjadi bagian dari reproduksi tatanan yang ada apabila pengetahuan yang dihasilkannya hanya memperkuat status quo. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: dosenPendidikan TinggiPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

Next Post

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co