12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Afgan Fadilla by Afgan Fadilla
July 13, 2026
in Esai
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

Ilustrasi dibuat dengan AI

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di Indonesia. Di tengah meningkatnya beban administrasi, tuntutan publikasi, kewajiban memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD), kompetisi hibah penelitian, hingga persoalan kesejahteraan – terutama bagi dosen honorer dan dosen di banyak perguruan tinggi swasta – tidak sedikit akademisi yang mulai menyebut dirinya sebagai buruh intelektual.

Bagi sebagian orang, menyebut dosen sebagai buruh adalah bentuk pengakuan bahwa mereka hidup dari menjual tenaga kerja kepada universitas, sama seperti pekerja lain yang menjual tenaga kerjanya kepada perusahaan. Sebaliknya, pihak lain menilai istilah tersebut terlalu menyederhanakan profesi akademik. Dosen memiliki pendidikan tinggi, keahlian profesional, otonomi dalam menjalankan pekerjaannya, serta peran sosial yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan pekerja pada umumnya.

Perdebatan ini tampaknya hanya berkisar pada soal istilah. Padahal, persoalannya jauh lebih mendasar. Ketika kita bertanya apakah dosen adalah buruh, sesungguhnya kita sedang mempertanyakan posisi kelas profesi akademik dalam kapitalisme kontemporer. Apakah dosen merupakan bagian dari proletariat karena tidak memiliki alat produksi dan hidup dari upah? Ataukah mereka justru membentuk kelas sosial yang berbeda karena menjalankan fungsi profesional dalam menghasilkan pengetahuan, mendidik tenaga kerja, dan mengelola institusi pendidikan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini menggunakan dua perspektif yang sama-sama berakar pada tradisi Marxis. Pertama, perspektif Marxis klasik yang mendefinisikan kelas berdasarkan hubungan terhadap alat produksi. Kedua, konsep Professional-Managerial Class (PMC) dari Barbara dan John Ehrenreich yang berupaya menjelaskan bagaimana perkembangan kapitalisme modern melahirkan kelompok profesional dengan fungsi sosial yang khas.

Marx: Dosen sebagai Proletariat

Bagi Karl Marx, kelas sosial tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan, prestise, ataupun besar kecilnya pendapatan. Yang menentukan adalah hubungan seseorang terhadap alat produksi. Kaum borjuis adalah mereka yang memiliki alat produksi dan memperoleh keuntungan dari kepemilikannya. Sebaliknya, proletariat adalah mereka yang tidak memiliki alat produksi sehingga harus menjual tenaga kerjanya demi memperoleh upah. Jika menggunakan ukuran ini, posisi dosen relatif jelas.

Dosen tidak memiliki universitas. Mereka tidak memiliki ruang kuliah, laboratorium, sistem administrasi, ataupun institusi tempat mereka bekerja. Semua itu dimiliki oleh negara, yayasan, atau badan penyelenggara pendidikan. Yang dimiliki dosen hanyalah kemampuan intelektualnya. Setiap hari mereka menjual kemampuan mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat kepada universitas dengan imbalan gaji. Pengetahuan yang mereka hasilkan melalui penelitian juga umumnya menjadi bagian dari aset akademik institusi tempat mereka bekerja.

Dalam perspektif Marxis klasik, dosen merupakan pekerja upahan (wage labour). Mereka adalah bagian dari proletariat. Perbedaan antara dosen dan buruh pabrik bukan terletak pada hubungan produksinya, melainkan pada bentuk tenaga kerja yang dijual. Buruh menjual tenaga fisik, sedangkan dosen menjual tenaga intelektual. Namun keduanya sama-sama bergantung pada penjualan tenaga kerja karena tidak memiliki alat produksi.

Ehrenreich: Dosen sebagai Professional-Managerial Class (PMC)

Barbara dan John Ehrenreich berpendapat bahwa perkembangan kapitalisme modern telah menciptakan diferensiasi yang semakin kompleks di dalam masyarakat kapitalis. Di samping borjuasi dan proletariat, muncul kelompok profesional yang tidak dapat dipahami hanya melalui dikotomi klasik tersebut. Mereka menyebut kelompok ini sebagai Professional-Managerial Class (PMC). PMC bukanlah pemilik modal dan juga hidup dari gaji, namun fungsi mereka dalam kapitalisme berbeda dari pekerja pada umumnya.

Menurut Ehrenreich, yang membedakan PMC bukan terutama hubungan mereka terhadap alat produksi, melainkan fungsi sosial yang mereka jalankan. Mereka menghasilkan pengetahuan, mengembangkan teknologi, mengelola organisasi, menetapkan standar profesional, melakukan pengawasan, serta mereproduksi keterampilan yang dibutuhkan sistem kapitalisme. Kelompok ini mencakup dokter, pengacara, insinyur, psikolog, birokrat, manajer, peneliti, dan dosen.

Dalam konteks ini, universitas bukan sekadar tempat bekerja. Ia merupakan institusi yang menghasilkan pengetahuan, melatih tenaga kerja profesional, memberikan sertifikasi, dan membentuk standar keilmuan. Mereka tidak hanya mengajar tetapi juga menyusun kurikulum, melakukan penelitian, membimbing dan menguji mahasiswa, serta menghasilkan pengetahuan yang menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebijakan publik. Karena itu, Ehrenreich melihat dosen bukan sekadar pekerja upahan, tetapi juga bagian dari kelas profesional yang menjalankan fungsi penting dalam reproduksi kapitalisme modern.

Posisi Dosen dalam Perubahan Sosial

Perdebatan mengenai apakah dosen merupakan proletariat atau Professional-Managerial Class memberikan cara yang berbeda untuk memahami posisi akademisi dalam kapitalisme. Namun, berhenti pada klasifikasi kelas saja tidak cukup menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa peran dosen dalam perubahan sosial?

Di titik inilah diskusi mengenai kelas menemukan batasnya. Mengetahui bahwa dosen adalah pekerja upahan sebagaimana dijelaskan Marx, atau bagian dari Professional-Managerial Class sebagaimana dijelaskan Ehrenreich, tidak secara otomatis menjelaskan keberpihakan politik seorang akademisi. Posisi kelas dapat membantu kita memahami hubungan ekonomi maupun fungsi sosial suatu profesi, tetapi tidak serta-merta menentukan bagaimana profesi tersebut menggunakan pengetahuan dan otoritas yang dimilikinya.

Kritik Catherine Liu terhadap PMC melalui bukunya yang berjudul Virtue Hoarders: The Case Against the Professional-Managerial Class memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Pertama, menurut Liu, PMC mempertahankan dominasinya melalui apa yang ia sebut sebagai virtue hoarding. Kelas profesional tidak hanya memperoleh status melalui pendidikan dan keahlian, tetapi juga melalui klaim superioritas moral. Pendidikan, bahasa akademik, dan identitas sebagai kelompok yang dianggap lebih progresif menjadi sumber legitimasi sosial yang membedakan mereka dari kelompok lain.

Kedua, Liu menilai bahwa PMC telah menggeser perhatian dari politik kelas menuju politik identitas dan pengakuan. Perdebatan mengenai eksploitasi, upah, serikat pekerja, dan distribusi kekayaan semakin tergantikan oleh perdebatan mengenai representasi, keberagaman, dan bahasa yang dianggap tepat. Bagi Liu, perjuangan melawan diskriminasi tetap penting, tetapi ketika isu-isu tersebut menggantikan pembahasan mengenai relasi produksi dan ketimpangan ekonomi, kritik terhadap kapitalisme kehilangan daya ubahnya.

Ketiga, Liu melihat universitas sebagai institusi utama reproduksi PMC. Kampus tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga mereproduksi status sosial melalui gelar, sertifikasi, dan kredensial profesional. Semakin tinggi kredensial akademik seseorang, semakin besar otoritas yang dimilikinya untuk menentukan pengetahuan apa yang dianggap sah, siapa yang dianggap kompeten, dan siapa yang memiliki legitimasi untuk berbicara di ruang publik.

Keempat, Liu mengkritik mitos meritokrasi yang diyakini PMC. Keberhasilan sering dipahami sebagai hasil kerja keras, kecerdasan, dan prestasi individual semata. Padahal, menurut Liu, posisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh akses terhadap pendidikan, jaringan sosial, modal budaya, dan berbagai privilese yang tidak dimiliki semua orang. Meritokrasi akhirnya menjadi ideologi yang melegitimasi ketimpangan dengan menganggap keberhasilan sebagai sepenuhnya hasil usaha individu.

Kelima, Liu berpendapat bahwa PMC pada akhirnya tidak menjadi ancaman serius bagi kapitalisme. Banyak anggota PMC tampil progresif dalam isu-isu budaya dan sosial, tetapi tetap menerima logika dasar kapitalisme seperti kompetisi, profesionalisasi, dan akumulasi modal. Kritik terhadap diskriminasi berkembang, tetapi kritik terhadap hubungan produksi dan konsentrasi kekayaan justru melemah. Akibatnya, PMC sering kali berperan sebagai penstabil sistem, bukan sebagai kekuatan yang mentransformasikannya.

Bagi profesi dosen, lima kritik tersebut menjadi pengingat bahwa posisi sebagai bagian dari PMC bukan hanya memberikan otoritas intelektual, tetapi juga membawa risiko reproduksi privilese. Pendidikan, gelar akademik, dan reputasi ilmiah dapat menjadi sarana mempertahankan status profesional apabila tidak diiringi dengan keberpihakan terhadap persoalan-persoalan sosial yang lebih luas.

Di sinilah pemikiran Antonio Gramsci memberikan perspektif yang berbeda. Bagi Gramsci, persoalan utama bukanlah semata-mata asal-usul kelas seorang intelektual, melainkan fungsi yang dijalankannya dalam membangun atau menantang hegemoni. Setiap kelas sosial membutuhkan intelektual organik, yaitu intelektual yang mampu mengartikulasikan pengalaman, kepentingan, dan aspirasi kaum proletariat ke dalam gagasan yang dapat membangun kesadaran kolektif dan mendorong perubahan sosial.

Dalam pengertian ini, seorang dosen dapat saja merupakan bagian dari PMC, tetapi tetap memilih menjadi intelektual organik yang berpihak kepada kelas pekerja. Sebaliknya, seorang akademisi yang secara struktural merupakan pekerja upahan juga dapat menjadi bagian dari reproduksi tatanan yang ada apabila pengetahuan yang dihasilkannya hanya memperkuat status quo. [T]

Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole

Tags: dosenPendidikan TinggiPerguruan Tinggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

Next Post

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Afgan Fadilla

Afgan Fadilla

Dosen Prodi Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co