ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Jalan Syeh Nawawi Al-Bantani, Curug, Serang, adalah salah satunya.
Dua minggu terakhir ini, hampir setiap pagi kami datang ke kawasan tersebut. Bukan untuk mengurus surat, bukan pula untuk bertemu pejabat. Kami datang untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: berjalan kaki sekitar setengah jam, menghirup udara pagi, dan mengajak istri menikmati suasana luar rumah.
Awalnya kami hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk berjalan. Namun setelah beberapa kali datang, kami mulai melihat KP3B dari sudut pandang yang berbeda. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan ternyata juga menjadi ruang publik yang cukup menarik bagi masyarakat.
Pagi hari, kawasan itu mulai dipenuhi warga. Ada yang berjalan santai, berlari, senam, bermain badminton, atau sekadar duduk menikmati suasana. Anak-anak belajar bersepeda dengan orang tua mereka. Sebagian warga datang bersama keluarga. Ada pula pedagang yang memanfaatkan keramaian untuk menjual makanan dan minuman.
Suasana seperti itu semakin terasa pada Sabtu dan terutama Ahad. Jumlah pengunjung meningkat. Kawasan pemerintahan yang pada hari kerja identik dengan kesibukan birokrasi berubah menjadi ruang rekreasi masyarakat.
Di sinilah menariknya KP3B. Ia bukan hanya kumpulan gedung pemerintahan, tetapi juga menjadi ruang tempat masyarakat berolahraga, bersantai, bertemu, dan mencari rezeki.
Berolahraga Tanpa Harus Mahal
Di tengah kehidupan yang semakin mahal, menjaga kesehatan sering kali dianggap membutuhkan biaya besar. Kita mengenal pusat kebugaran, berbagai perlengkapan olahraga, atau tempat rekreasi yang membutuhkan biaya masuk.

Padahal olahraga paling sederhana adalah berjalan kaki. Tidak membutuhkan peralatan khusus. Tidak perlu membayar keanggotaan. Sepasang sepatu yang nyaman sudah cukup. Yang lebih penting adalah kemauan untuk bergerak secara teratur.
KP3B menyediakan ruang yang memungkinkan aktivitas sederhana itu dilakukan. Jalan yang cukup luas, ruang terbuka, taman, lapangan, dan suasana yang relatif nyaman membuat masyarakat dapat berolahraga tanpa harus mengeluarkan biaya.
Bagi kami, berjalan selama setengah jam mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan rutin, kegiatan itu menjadi bagian dari usaha menjaga kebugaran. Lebih dari itu, berjalan bersama istri juga memberikan kesempatan untuk berbicara dan menikmati waktu berdua. Kadang percakapan justru terasa lebih ringan ketika dilakukan sambil berjalan daripada ketika duduk di ruang tamu.
Mungkin kesehatan bukan hanya persoalan tubuh, tetapi juga soal bagaimana kita memberikan waktu kepada diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.
KP3B sebagai Ruang Publik
Fungsi utama KP3B tentu saja sebagai pusat pemerintahan Provinsi Banten. Di kawasan ini terdapat kantor gubernur, DPRD, berbagai perangkat daerah, dan Masjid Raya Al-Bantani.
Namun sebuah ruang publik tidak selalu berhenti pada fungsi formalnya. Ketika masyarakat mulai memanfaatkan sebuah kawasan untuk berbagai kegiatan sosial, kawasan itu memperoleh kehidupan baru. KP3B menjadi contoh bagaimana ruang pemerintahan dapat sekaligus berfungsi sebagai ruang publik.

Pada pagi hari, kita dapat melihat berbagai lapisan masyarakat berada di tempat yang sama. Ada pegawai yang berolahraga sebelum bekerja, warga yang berjalan santai, komunitas yang berlari, anak-anak yang belajar bersepeda, hingga orang tua yang menemani anak-anaknya.
Tidak ada yang terlalu istimewa dari kegiatan tersebut. Justru karena sederhana, suasananya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ruang publik memang seharusnya seperti itu: dapat digunakan oleh banyak orang tanpa memandang latar belakang ekonomi. Di KP3B, masyarakat tidak datang karena fasilitas mewah. Mereka datang karena tersedia ruang yang luas dan cukup nyaman untuk melakukan aktivitas sederhana.
Ahad Pagi yang Ramai
Kalau ingin melihat wajah masyarakat yang lebih lengkap, datanglah ke KP3B pada Ahad pagi. Sejak pagi, pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang untuk berlari, berjalan kaki, senam, bermain badminton, atau bersepeda. Anak-anak terlihat belajar mengendalikan sepeda. Ada yang sudah lancar mengayuh, ada pula yang masih perlu didampingi orang tua.
Keluarga juga banyak yang datang bersama. Setelah berolahraga, mereka biasanya mencari makanan atau minuman untuk sarapan. Keramaian tersebut kemudian menciptakan peluang bagi masyarakat yang berjualan.
Para pedagang memanfaatkan kawasan yang ramai untuk menawarkan berbagai makanan, minuman, dan jajanan. Bagi mereka, keramaian akhir pekan bukan sekadar pemandangan, tetapi kesempatan untuk memperoleh penghasilan.
Di sini kita dapat melihat hubungan sederhana antara ruang publik dan ekonomi masyarakat. Warga datang untuk berolahraga dan berekreasi. Pedagang datang untuk mencari rezeki. Keduanya saling bertemu dalam ruang yang sama.

Mungkin inilah bentuk ekonomi kerakyatan yang paling sederhana. Tidak selalu berbicara tentang investasi besar atau gedung pusat perbelanjaan. Kadang ekonomi masyarakat tumbuh dari keramaian kecil di ruang terbuka.
Wisata yang Dekat dan Murah
Kita sering mengartikan wisata sebagai perjalanan jauh. Pergi ke pantai, gunung, tempat wisata, hotel, atau kota lain. Padahal wisata tidak selalu harus demikian.
Wisata juga bisa berarti keluar rumah pada pagi hari, menikmati udara segar, berjalan bersama keluarga, melihat aktivitas masyarakat, kemudian menikmati makanan sederhana sebelum pulang.
Dalam pengertian seperti itu, KP3B dapat menjadi salah satu pilihan wisata lokal yang ramah di kantong. Tidak perlu menyiapkan anggaran besar. Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Bahkan bagi masyarakat yang tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut, perjalanan ke KP3B dapat dilakukan dengan biaya yang sangat terjangkau.
Yang diperoleh juga cukup banyak: tubuh bergerak, pikiran lebih segar, keluarga dapat berkumpul, dan masyarakat sekitar mendapatkan kesempatan berdagang.
Wisata seperti ini mungkin tidak masuk kategori wisata mewah. Tetapi justru karena sederhana, ia dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Kita tidak perlu menjadi kaya untuk menikmati pagi.
Menjaga Kebersihan Bersama
Keramaian tentu memiliki konsekuensi. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula potensi munculnya sampah. Karena itu, persoalan kebersihan perlu menjadi perhatian bersama. Kawasan publik yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau petugas kebersihan. Pengunjung juga mempunyai tanggung jawab.
Membuang sampah pada tempatnya adalah hal kecil, tetapi dampaknya besar apabila dilakukan bersama-sama. Sebaliknya, satu orang membuang sampah sembarangan mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan ratusan atau ribuan orang, kawasan yang tadinya bersih akan segera berubah.
Karena itu, menikmati ruang publik seharusnya juga disertai kesadaran untuk merawatnya. Kalau kita ingin anak-anak dapat bermain dengan nyaman, para pelari dapat berolahraga dengan baik, dan keluarga dapat menikmati suasana yang asri, maka kebersihan harus menjadi bagian dari budaya bersama. Ruang publik adalah milik bersama. Karena itu, merawatnya juga merupakan tanggung jawab bersama.
Dari Pemerintahan Menjadi Kehidupan
Ada sesuatu yang menarik dari perubahan suasana KP3B pada hari kerja dan akhir pekan. Pada hari kerja, kita melihat kawasan ini sebagai pusat administrasi pemerintahan. Pegawai datang dan pergi. Kendaraan berlalu-lalang. Urusan pelayanan dan birokrasi berlangsung.
Tetapi ketika akhir pekan tiba, suasananya berubah. Gedung-gedung pemerintahan tetap berdiri, tetapi masyarakat mengambil ruang di sekitarnya. Jalan menjadi tempat berlari dan berjalan. Lapangan menjadi tempat bermain. Ruang terbuka menjadi tempat berkumpul. Anak-anak belajar bersepeda. Pedagang menawarkan makanan.
Kawasan itu seolah mempunyai dua kehidupan. Pada hari kerja ia bekerja untuk pemerintahan. Pada akhir pekan ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Bagi saya, keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya menyediakan gedung dan infrastruktur. Kota juga membutuhkan ruang yang memungkinkan manusia berinteraksi dan menikmati hidup. Sebuah kota akan terasa hidup ketika masyarakat mempunyai tempat untuk bertemu tanpa harus selalu membeli sesuatu.
Kebahagiaan yang Sederhana
Dua minggu berjalan pagi di KP3B membuat saya kembali melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang kita hanya membutuhkan waktu setengah jam.
Berjalan perlahan. Menghirup udara pagi. Berbincang dengan istri. Melihat orang lain berolahraga. Menyaksikan anak-anak belajar bersepeda. Sesekali berhenti membeli minuman atau sarapan dari pedagang. Sederhana sekali.
Tetapi kehidupan memang sering kali dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu. Kita terlalu sering mengejar sesuatu yang jauh dan mahal, sementara hal-hal kecil di sekitar kita luput diperhatikan.
Padahal tubuh membutuhkan gerak. Pikiran membutuhkan udara segar. Keluarga membutuhkan waktu bersama. Dan masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu. KP3B, dengan segala kesederhanaannya, menyediakan sebagian dari kebutuhan itu.
Wisata Sehat untuk Semua
Jika dikembangkan dan dirawat dengan baik, KP3B bukan hanya dapat menjadi kawasan pemerintahan yang tertata, tetapi juga ruang publik yang semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Tentu masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Kebersihan, ketertiban pedagang, kenyamanan pengunjung, fasilitas olahraga, dan pengelolaan ruang publik perlu terus diperhatikan.
Namun di luar semua itu, kita patut melihat sisi positifnya. Masyarakat telah menemukan sendiri fungsi sosial kawasan tersebut. Mereka datang bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena membutuhkan ruang untuk berolahraga dan berkumpul.

Pada akhirnya, wisata tidak selalu tentang tempat yang jauh. Tidak harus mahal. Tidak harus mewah. Wisata bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: pagi yang cerah, jalan kaki setengah jam, keluarga yang berkumpul, anak-anak yang belajar bersepeda, warga yang berolahraga, dan pedagang kecil yang memperoleh rezeki.
Itulah wisata sehat yang sesungguhnya. Ramah bagi tubuh, ramah bagi keluarga, ramah bagi ekonomi masyarakat, dan tentu saja ramah bagi kantong. Mungkin kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mencari kebahagiaan. Cukup melihat kembali ruang-ruang yang ada di sekitar kita, lalu menggunakannya dengan baik.
KP3B mengajarkan satu hal sederhana: sebuah kawasan pemerintahan dapat menjadi lebih berarti ketika di dalamnya bukan hanya ada aktivitas birokrasi, tetapi juga ada langkah kaki masyarakat, tawa anak-anak, keluarga yang berkumpul, orang-orang yang menjaga kesehatan, dan pedagang kecil yang mencari rezeki.
Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang mempunyai gedung pemerintahan yang megah. Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang kepada warganya untuk hidup sehat, berkumpul, dan menikmati kehidupan dengan cara yang sederhana. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole


![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)

























