18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
in Tualang
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Gerbang KP3 Banten / Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Jalan Syeh Nawawi Al-Bantani, Curug, Serang, adalah salah satunya.

Dua minggu terakhir ini, hampir setiap pagi kami datang ke kawasan tersebut. Bukan untuk mengurus surat, bukan pula untuk bertemu pejabat. Kami datang untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: berjalan kaki sekitar setengah jam, menghirup udara pagi, dan mengajak istri menikmati suasana luar rumah.

Awalnya kami hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk berjalan. Namun setelah beberapa kali datang, kami mulai melihat KP3B dari sudut pandang yang berbeda. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan ternyata juga menjadi ruang publik yang cukup menarik bagi masyarakat.

Pagi hari, kawasan itu mulai dipenuhi warga. Ada yang berjalan santai, berlari, senam, bermain badminton, atau sekadar duduk menikmati suasana. Anak-anak belajar bersepeda dengan orang tua mereka. Sebagian warga datang bersama keluarga. Ada pula pedagang yang memanfaatkan keramaian untuk menjual makanan dan minuman.

Suasana seperti itu semakin terasa pada Sabtu dan terutama Ahad. Jumlah pengunjung meningkat. Kawasan pemerintahan yang pada hari kerja identik dengan kesibukan birokrasi berubah menjadi ruang rekreasi masyarakat.

Di sinilah menariknya KP3B. Ia bukan hanya kumpulan gedung pemerintahan, tetapi juga menjadi ruang tempat masyarakat berolahraga, bersantai, bertemu, dan mencari rezeki.

Berolahraga Tanpa Harus Mahal

Di tengah kehidupan yang semakin mahal, menjaga kesehatan sering kali dianggap membutuhkan biaya besar. Kita mengenal pusat kebugaran, berbagai perlengkapan olahraga, atau tempat rekreasi yang membutuhkan biaya masuk.

Penulis dan istri jalan sehat bersama warga di KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Padahal olahraga paling sederhana adalah berjalan kaki. Tidak membutuhkan peralatan khusus. Tidak perlu membayar keanggotaan. Sepasang sepatu yang nyaman sudah cukup. Yang lebih penting adalah kemauan untuk bergerak secara teratur.

KP3B menyediakan ruang yang memungkinkan aktivitas sederhana itu dilakukan. Jalan yang cukup luas, ruang terbuka, taman, lapangan, dan suasana yang relatif nyaman membuat masyarakat dapat berolahraga tanpa harus mengeluarkan biaya.

Bagi kami, berjalan selama setengah jam mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan rutin, kegiatan itu menjadi bagian dari usaha menjaga kebugaran. Lebih dari itu, berjalan bersama istri juga memberikan kesempatan untuk berbicara dan menikmati waktu berdua. Kadang percakapan justru terasa lebih ringan ketika dilakukan sambil berjalan daripada ketika duduk di ruang tamu.

Mungkin kesehatan bukan hanya persoalan tubuh, tetapi juga soal bagaimana kita memberikan waktu kepada diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

KP3B sebagai Ruang Publik

Fungsi utama KP3B tentu saja sebagai pusat pemerintahan Provinsi Banten. Di kawasan ini terdapat kantor gubernur, DPRD, berbagai perangkat daerah, dan Masjid Raya Al-Bantani.

Namun sebuah ruang publik tidak selalu berhenti pada fungsi formalnya. Ketika masyarakat mulai memanfaatkan sebuah kawasan untuk berbagai kegiatan sosial, kawasan itu memperoleh kehidupan baru. KP3B menjadi contoh bagaimana ruang pemerintahan dapat sekaligus berfungsi sebagai ruang publik.

Aktivitas warga di KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Pada pagi hari, kita dapat melihat berbagai lapisan masyarakat berada di tempat yang sama. Ada pegawai yang berolahraga sebelum bekerja, warga yang berjalan santai, komunitas yang berlari, anak-anak yang belajar bersepeda, hingga orang tua yang menemani anak-anaknya.

Tidak ada yang terlalu istimewa dari kegiatan tersebut. Justru karena sederhana, suasananya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ruang publik memang seharusnya seperti itu: dapat digunakan oleh banyak orang tanpa memandang latar belakang ekonomi. Di KP3B, masyarakat tidak datang karena fasilitas mewah. Mereka datang karena tersedia ruang yang luas dan cukup nyaman untuk melakukan aktivitas sederhana.

Ahad Pagi yang Ramai

Kalau ingin melihat wajah masyarakat yang lebih lengkap, datanglah ke KP3B pada Ahad pagi. Sejak pagi, pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang untuk berlari, berjalan kaki, senam, bermain badminton, atau bersepeda. Anak-anak terlihat belajar mengendalikan sepeda. Ada yang sudah lancar mengayuh, ada pula yang masih perlu didampingi orang tua.

Keluarga juga banyak yang datang bersama. Setelah berolahraga, mereka biasanya mencari makanan atau minuman untuk sarapan. Keramaian tersebut kemudian menciptakan peluang bagi masyarakat yang berjualan.

Para pedagang memanfaatkan kawasan yang ramai untuk menawarkan berbagai makanan, minuman, dan jajanan. Bagi mereka, keramaian akhir pekan bukan sekadar pemandangan, tetapi kesempatan untuk memperoleh penghasilan.

Di sini kita dapat melihat hubungan sederhana antara ruang publik dan ekonomi masyarakat. Warga datang untuk berolahraga dan berekreasi. Pedagang datang untuk mencari rezeki. Keduanya saling bertemu dalam ruang yang sama.

Jogging Track KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Mungkin inilah bentuk ekonomi kerakyatan yang paling sederhana. Tidak selalu berbicara tentang investasi besar atau gedung pusat perbelanjaan. Kadang ekonomi masyarakat tumbuh dari keramaian kecil di ruang terbuka.

Wisata yang Dekat dan Murah

Kita sering mengartikan wisata sebagai perjalanan jauh. Pergi ke pantai, gunung, tempat wisata, hotel, atau kota lain. Padahal wisata tidak selalu harus demikian.

Wisata juga bisa berarti keluar rumah pada pagi hari, menikmati udara segar, berjalan bersama keluarga, melihat aktivitas masyarakat, kemudian menikmati makanan sederhana sebelum pulang.

Dalam pengertian seperti itu, KP3B dapat menjadi salah satu pilihan wisata lokal yang ramah di kantong. Tidak perlu menyiapkan anggaran besar. Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Bahkan bagi masyarakat yang tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut, perjalanan ke KP3B dapat dilakukan dengan biaya yang sangat terjangkau.

Yang diperoleh juga cukup banyak: tubuh bergerak, pikiran lebih segar, keluarga dapat berkumpul, dan masyarakat sekitar mendapatkan kesempatan berdagang.

Wisata seperti ini mungkin tidak masuk kategori wisata mewah. Tetapi justru karena sederhana, ia dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Kita tidak perlu menjadi kaya untuk menikmati pagi.

Menjaga Kebersihan Bersama

Keramaian tentu memiliki konsekuensi. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula potensi munculnya sampah. Karena itu, persoalan kebersihan perlu menjadi perhatian bersama. Kawasan publik yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau petugas kebersihan. Pengunjung juga mempunyai tanggung jawab.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal kecil, tetapi dampaknya besar apabila dilakukan bersama-sama. Sebaliknya, satu orang membuang sampah sembarangan mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan ratusan atau ribuan orang, kawasan yang tadinya bersih akan segera berubah.

Karena itu, menikmati ruang publik seharusnya juga disertai kesadaran untuk merawatnya. Kalau kita ingin anak-anak dapat bermain dengan nyaman, para pelari dapat berolahraga dengan baik, dan keluarga dapat menikmati suasana yang asri, maka kebersihan harus menjadi bagian dari budaya bersama. Ruang publik adalah milik bersama. Karena itu, merawatnya juga merupakan tanggung jawab bersama.

Dari Pemerintahan Menjadi Kehidupan

Ada sesuatu yang menarik dari perubahan suasana KP3B pada hari kerja dan akhir pekan. Pada hari kerja, kita melihat kawasan ini sebagai pusat administrasi pemerintahan. Pegawai datang dan pergi. Kendaraan berlalu-lalang. Urusan pelayanan dan birokrasi berlangsung.

Tetapi ketika akhir pekan tiba, suasananya berubah. Gedung-gedung pemerintahan tetap berdiri, tetapi masyarakat mengambil ruang di sekitarnya. Jalan menjadi tempat berlari dan berjalan. Lapangan menjadi tempat bermain. Ruang terbuka menjadi tempat berkumpul. Anak-anak belajar bersepeda. Pedagang menawarkan makanan.

Kawasan itu seolah mempunyai dua kehidupan. Pada hari kerja ia bekerja untuk pemerintahan. Pada akhir pekan ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi saya, keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya menyediakan gedung dan infrastruktur. Kota juga membutuhkan ruang yang memungkinkan manusia berinteraksi dan menikmati hidup. Sebuah kota akan terasa hidup ketika masyarakat mempunyai tempat untuk bertemu tanpa harus selalu membeli sesuatu.

Kebahagiaan yang Sederhana

Dua minggu berjalan pagi di KP3B membuat saya kembali melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang kita hanya membutuhkan waktu setengah jam.

Berjalan perlahan. Menghirup udara pagi. Berbincang dengan istri. Melihat orang lain berolahraga. Menyaksikan anak-anak belajar bersepeda. Sesekali berhenti membeli minuman atau sarapan dari pedagang. Sederhana sekali.

Tetapi kehidupan memang sering kali dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu. Kita terlalu sering mengejar sesuatu yang jauh dan mahal, sementara hal-hal kecil di sekitar kita luput diperhatikan.

Padahal tubuh membutuhkan gerak. Pikiran membutuhkan udara segar. Keluarga membutuhkan waktu bersama. Dan masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu. KP3B, dengan segala kesederhanaannya, menyediakan sebagian dari kebutuhan itu.

Wisata Sehat untuk Semua

Jika dikembangkan dan dirawat dengan baik, KP3B bukan hanya dapat menjadi kawasan pemerintahan yang tertata, tetapi juga ruang publik yang semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Tentu masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Kebersihan, ketertiban pedagang, kenyamanan pengunjung, fasilitas olahraga, dan pengelolaan ruang publik perlu terus diperhatikan.

Namun di luar semua itu, kita patut melihat sisi positifnya. Masyarakat telah menemukan sendiri fungsi sosial kawasan tersebut. Mereka datang bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena membutuhkan ruang untuk berolahraga dan berkumpul.

Aktivitas warga di Plaza Masjid Raya al-Bantani KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Pada akhirnya, wisata tidak selalu tentang tempat yang jauh. Tidak harus mahal. Tidak harus mewah. Wisata bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: pagi yang cerah, jalan kaki setengah jam, keluarga yang berkumpul, anak-anak yang belajar bersepeda, warga yang berolahraga, dan pedagang kecil yang memperoleh rezeki.

Itulah wisata sehat yang sesungguhnya. Ramah bagi tubuh, ramah bagi keluarga, ramah bagi ekonomi masyarakat, dan tentu saja ramah bagi kantong. Mungkin kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mencari kebahagiaan. Cukup melihat kembali ruang-ruang yang ada di sekitar kita, lalu menggunakannya dengan baik.

KP3B mengajarkan satu hal sederhana: sebuah kawasan pemerintahan dapat menjadi lebih berarti ketika di dalamnya bukan hanya ada aktivitas birokrasi, tetapi juga ada langkah kaki masyarakat, tawa anak-anak, keluarga yang berkumpul, orang-orang yang menjaga kesehatan, dan pedagang kecil yang mencari rezeki.

Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang mempunyai gedung pemerintahan yang megah. Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang kepada warganya untuk hidup sehat, berkumpul, dan menikmati kehidupan dengan cara yang sederhana. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: bantenPariwisatapariwisata provinsi bantenwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Next Post

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co