7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
in Tualang
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

Gerbang KP3 Banten / Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Jalan Syeh Nawawi Al-Bantani, Curug, Serang, adalah salah satunya.

Dua minggu terakhir ini, hampir setiap pagi kami datang ke kawasan tersebut. Bukan untuk mengurus surat, bukan pula untuk bertemu pejabat. Kami datang untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: berjalan kaki sekitar setengah jam, menghirup udara pagi, dan mengajak istri menikmati suasana luar rumah.

Awalnya kami hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk berjalan. Namun setelah beberapa kali datang, kami mulai melihat KP3B dari sudut pandang yang berbeda. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan ternyata juga menjadi ruang publik yang cukup menarik bagi masyarakat.

Pagi hari, kawasan itu mulai dipenuhi warga. Ada yang berjalan santai, berlari, senam, bermain badminton, atau sekadar duduk menikmati suasana. Anak-anak belajar bersepeda dengan orang tua mereka. Sebagian warga datang bersama keluarga. Ada pula pedagang yang memanfaatkan keramaian untuk menjual makanan dan minuman.

Suasana seperti itu semakin terasa pada Sabtu dan terutama Ahad. Jumlah pengunjung meningkat. Kawasan pemerintahan yang pada hari kerja identik dengan kesibukan birokrasi berubah menjadi ruang rekreasi masyarakat.

Di sinilah menariknya KP3B. Ia bukan hanya kumpulan gedung pemerintahan, tetapi juga menjadi ruang tempat masyarakat berolahraga, bersantai, bertemu, dan mencari rezeki.

Berolahraga Tanpa Harus Mahal

Di tengah kehidupan yang semakin mahal, menjaga kesehatan sering kali dianggap membutuhkan biaya besar. Kita mengenal pusat kebugaran, berbagai perlengkapan olahraga, atau tempat rekreasi yang membutuhkan biaya masuk.

Penulis dan istri jalan sehat bersama warga di KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Padahal olahraga paling sederhana adalah berjalan kaki. Tidak membutuhkan peralatan khusus. Tidak perlu membayar keanggotaan. Sepasang sepatu yang nyaman sudah cukup. Yang lebih penting adalah kemauan untuk bergerak secara teratur.

KP3B menyediakan ruang yang memungkinkan aktivitas sederhana itu dilakukan. Jalan yang cukup luas, ruang terbuka, taman, lapangan, dan suasana yang relatif nyaman membuat masyarakat dapat berolahraga tanpa harus mengeluarkan biaya.

Bagi kami, berjalan selama setengah jam mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika dilakukan rutin, kegiatan itu menjadi bagian dari usaha menjaga kebugaran. Lebih dari itu, berjalan bersama istri juga memberikan kesempatan untuk berbicara dan menikmati waktu berdua. Kadang percakapan justru terasa lebih ringan ketika dilakukan sambil berjalan daripada ketika duduk di ruang tamu.

Mungkin kesehatan bukan hanya persoalan tubuh, tetapi juga soal bagaimana kita memberikan waktu kepada diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

KP3B sebagai Ruang Publik

Fungsi utama KP3B tentu saja sebagai pusat pemerintahan Provinsi Banten. Di kawasan ini terdapat kantor gubernur, DPRD, berbagai perangkat daerah, dan Masjid Raya Al-Bantani.

Namun sebuah ruang publik tidak selalu berhenti pada fungsi formalnya. Ketika masyarakat mulai memanfaatkan sebuah kawasan untuk berbagai kegiatan sosial, kawasan itu memperoleh kehidupan baru. KP3B menjadi contoh bagaimana ruang pemerintahan dapat sekaligus berfungsi sebagai ruang publik.

Aktivitas warga di KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Pada pagi hari, kita dapat melihat berbagai lapisan masyarakat berada di tempat yang sama. Ada pegawai yang berolahraga sebelum bekerja, warga yang berjalan santai, komunitas yang berlari, anak-anak yang belajar bersepeda, hingga orang tua yang menemani anak-anaknya.

Tidak ada yang terlalu istimewa dari kegiatan tersebut. Justru karena sederhana, suasananya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ruang publik memang seharusnya seperti itu: dapat digunakan oleh banyak orang tanpa memandang latar belakang ekonomi. Di KP3B, masyarakat tidak datang karena fasilitas mewah. Mereka datang karena tersedia ruang yang luas dan cukup nyaman untuk melakukan aktivitas sederhana.

Ahad Pagi yang Ramai

Kalau ingin melihat wajah masyarakat yang lebih lengkap, datanglah ke KP3B pada Ahad pagi. Sejak pagi, pengunjung mulai berdatangan. Ada yang datang untuk berlari, berjalan kaki, senam, bermain badminton, atau bersepeda. Anak-anak terlihat belajar mengendalikan sepeda. Ada yang sudah lancar mengayuh, ada pula yang masih perlu didampingi orang tua.

Keluarga juga banyak yang datang bersama. Setelah berolahraga, mereka biasanya mencari makanan atau minuman untuk sarapan. Keramaian tersebut kemudian menciptakan peluang bagi masyarakat yang berjualan.

Para pedagang memanfaatkan kawasan yang ramai untuk menawarkan berbagai makanan, minuman, dan jajanan. Bagi mereka, keramaian akhir pekan bukan sekadar pemandangan, tetapi kesempatan untuk memperoleh penghasilan.

Di sini kita dapat melihat hubungan sederhana antara ruang publik dan ekonomi masyarakat. Warga datang untuk berolahraga dan berekreasi. Pedagang datang untuk mencari rezeki. Keduanya saling bertemu dalam ruang yang sama.

Jogging Track KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Mungkin inilah bentuk ekonomi kerakyatan yang paling sederhana. Tidak selalu berbicara tentang investasi besar atau gedung pusat perbelanjaan. Kadang ekonomi masyarakat tumbuh dari keramaian kecil di ruang terbuka.

Wisata yang Dekat dan Murah

Kita sering mengartikan wisata sebagai perjalanan jauh. Pergi ke pantai, gunung, tempat wisata, hotel, atau kota lain. Padahal wisata tidak selalu harus demikian.

Wisata juga bisa berarti keluar rumah pada pagi hari, menikmati udara segar, berjalan bersama keluarga, melihat aktivitas masyarakat, kemudian menikmati makanan sederhana sebelum pulang.

Dalam pengertian seperti itu, KP3B dapat menjadi salah satu pilihan wisata lokal yang ramah di kantong. Tidak perlu menyiapkan anggaran besar. Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Bahkan bagi masyarakat yang tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut, perjalanan ke KP3B dapat dilakukan dengan biaya yang sangat terjangkau.

Yang diperoleh juga cukup banyak: tubuh bergerak, pikiran lebih segar, keluarga dapat berkumpul, dan masyarakat sekitar mendapatkan kesempatan berdagang.

Wisata seperti ini mungkin tidak masuk kategori wisata mewah. Tetapi justru karena sederhana, ia dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Kita tidak perlu menjadi kaya untuk menikmati pagi.

Menjaga Kebersihan Bersama

Keramaian tentu memiliki konsekuensi. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula potensi munculnya sampah. Karena itu, persoalan kebersihan perlu menjadi perhatian bersama. Kawasan publik yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau petugas kebersihan. Pengunjung juga mempunyai tanggung jawab.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal kecil, tetapi dampaknya besar apabila dilakukan bersama-sama. Sebaliknya, satu orang membuang sampah sembarangan mungkin terlihat sepele, tetapi jika dilakukan ratusan atau ribuan orang, kawasan yang tadinya bersih akan segera berubah.

Karena itu, menikmati ruang publik seharusnya juga disertai kesadaran untuk merawatnya. Kalau kita ingin anak-anak dapat bermain dengan nyaman, para pelari dapat berolahraga dengan baik, dan keluarga dapat menikmati suasana yang asri, maka kebersihan harus menjadi bagian dari budaya bersama. Ruang publik adalah milik bersama. Karena itu, merawatnya juga merupakan tanggung jawab bersama.

Dari Pemerintahan Menjadi Kehidupan

Ada sesuatu yang menarik dari perubahan suasana KP3B pada hari kerja dan akhir pekan. Pada hari kerja, kita melihat kawasan ini sebagai pusat administrasi pemerintahan. Pegawai datang dan pergi. Kendaraan berlalu-lalang. Urusan pelayanan dan birokrasi berlangsung.

Tetapi ketika akhir pekan tiba, suasananya berubah. Gedung-gedung pemerintahan tetap berdiri, tetapi masyarakat mengambil ruang di sekitarnya. Jalan menjadi tempat berlari dan berjalan. Lapangan menjadi tempat bermain. Ruang terbuka menjadi tempat berkumpul. Anak-anak belajar bersepeda. Pedagang menawarkan makanan.

Kawasan itu seolah mempunyai dua kehidupan. Pada hari kerja ia bekerja untuk pemerintahan. Pada akhir pekan ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi saya, keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya menyediakan gedung dan infrastruktur. Kota juga membutuhkan ruang yang memungkinkan manusia berinteraksi dan menikmati hidup. Sebuah kota akan terasa hidup ketika masyarakat mempunyai tempat untuk bertemu tanpa harus selalu membeli sesuatu.

Kebahagiaan yang Sederhana

Dua minggu berjalan pagi di KP3B membuat saya kembali melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang kita hanya membutuhkan waktu setengah jam.

Berjalan perlahan. Menghirup udara pagi. Berbincang dengan istri. Melihat orang lain berolahraga. Menyaksikan anak-anak belajar bersepeda. Sesekali berhenti membeli minuman atau sarapan dari pedagang. Sederhana sekali.

Tetapi kehidupan memang sering kali dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu. Kita terlalu sering mengejar sesuatu yang jauh dan mahal, sementara hal-hal kecil di sekitar kita luput diperhatikan.

Padahal tubuh membutuhkan gerak. Pikiran membutuhkan udara segar. Keluarga membutuhkan waktu bersama. Dan masyarakat membutuhkan ruang untuk bertemu. KP3B, dengan segala kesederhanaannya, menyediakan sebagian dari kebutuhan itu.

Wisata Sehat untuk Semua

Jika dikembangkan dan dirawat dengan baik, KP3B bukan hanya dapat menjadi kawasan pemerintahan yang tertata, tetapi juga ruang publik yang semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Tentu masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Kebersihan, ketertiban pedagang, kenyamanan pengunjung, fasilitas olahraga, dan pengelolaan ruang publik perlu terus diperhatikan.

Namun di luar semua itu, kita patut melihat sisi positifnya. Masyarakat telah menemukan sendiri fungsi sosial kawasan tersebut. Mereka datang bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena membutuhkan ruang untuk berolahraga dan berkumpul.

Aktivitas warga di Plaza Masjid Raya al-Bantani KP3B | Foto Dok. Syiabatus Sakhowah

Pada akhirnya, wisata tidak selalu tentang tempat yang jauh. Tidak harus mahal. Tidak harus mewah. Wisata bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: pagi yang cerah, jalan kaki setengah jam, keluarga yang berkumpul, anak-anak yang belajar bersepeda, warga yang berolahraga, dan pedagang kecil yang memperoleh rezeki.

Itulah wisata sehat yang sesungguhnya. Ramah bagi tubuh, ramah bagi keluarga, ramah bagi ekonomi masyarakat, dan tentu saja ramah bagi kantong. Mungkin kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mencari kebahagiaan. Cukup melihat kembali ruang-ruang yang ada di sekitar kita, lalu menggunakannya dengan baik.

KP3B mengajarkan satu hal sederhana: sebuah kawasan pemerintahan dapat menjadi lebih berarti ketika di dalamnya bukan hanya ada aktivitas birokrasi, tetapi juga ada langkah kaki masyarakat, tawa anak-anak, keluarga yang berkumpul, orang-orang yang menjaga kesehatan, dan pedagang kecil yang mencari rezeki.

Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang mempunyai gedung pemerintahan yang megah. Kota yang baik adalah kota yang memberi ruang kepada warganya untuk hidup sehat, berkumpul, dan menikmati kehidupan dengan cara yang sederhana. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: bantenPariwisatapariwisata provinsi bantenwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co