13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
in Ulas Musik
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Gambar dibuat dengan AI

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya. Ia tidak lahir sebagai hiburan, melainkan sebagai peringatan, bahkan semacam lonceng kematian bagi kenyamanan lama. Dalam bait-baitnya, Dylan tidak berbisik; ia berseru. Ia memanggil orang-orang yang merasa mapan, berkuasa, dan aman dalam urutan lama, untuk menyadari satu hal yang tak bisa ditawar: waktu sedang berpindah tangan.

Lagu ini ditulis di tengah dekade 1960-an, masa ketika dunia Barat, terutama Amerika Serikat, mengalami guncangan sosial yang hebat: gerakan hak sipil, penolakan perang Vietnam, perlawanan generasi muda terhadap nilai-nilai konservatif, serta bangkitnya kesadaran baru tentang kebebasan, kesetaraan, dan identitas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kemampuannya melampaui konteks sejarah itu. Ia terus hidup karena setiap zaman, pada dasarnya, selalu berada di ambang perubahan, dan selalu ada mereka yang menolak untuk melihatnya.

Dylan membuka lagunya dengan ajakan yang nyaris seperti kutbah sekuler: “Come gather ’round people wherever you roam.” Datanglah, berkumpullah, dari mana pun kalian berasal. Ini bukan seruan untuk satu kelas, satu ideologi, atau satu generasi saja, melainkan panggilan universal. Tetapi segera setelah itu, ia memperingatkan: air sedang naik, dan siapa pun yang tidak berenang akan tenggelam. Perubahan, dalam lagu ini, bukan sesuatu yang netral. Ia adalah kekuatan yang akan menyelamatkan sebagian orang dan menenggelamkan yang lain.

Garis yang Telah Ditarik

Salah satu metafora terkuat dalam lagu ini adalah tentang “garis yang telah ditarik.” Garis itu bukan sekadar batas politik atau ideologis, melainkan batas eksistensial antara masa lalu dan masa depan. Begitu garis itu ditarik, seseorang tak lagi bisa berdiri di tengah-tengah dengan aman. Netralitas menjadi ilusi. Diam berarti memilih, dan sering kali memilih untuk tetap bersama yang lama.

Dylan menulis: “The line it is drawn, the curse it is cast.” Kalimat ini terasa seperti vonis. Bahwa perubahan bukan hanya tentang peluang baru, tetapi juga tentang kutukan bagi mereka yang bersikeras mempertahankan kekuasaan lama dengan cara lama. Dalam setiap masyarakat, selalu ada struktur yang telah mapan: norma, institusi, tradisi, dan hierarki. Struktur itu sering kali mengklaim dirinya sebagai “alami” atau “abadi”. Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa tidak ada yang benar-benar permanen selain perubahan itu sendiri.

Di titik inilah lagu Dylan menjadi relevan jauh di luar Amerika tahun 1960-an. Dalam konteks Indonesia, misalnya, kita pun mengenal momen-momen ketika garis itu ditarik: reformasi 1998, pergeseran kekuasaan digital, bangkitnya generasi muda yang lebih cair identitasnya, serta perubahan cara melihat otoritas, agama, dan negara. Setiap kali garis itu muncul, selalu ada kegelisahan yang sama: siapa yang akan berada di sisi yang “benar”, dan siapa yang akan tertinggal.

Ketika yang Lambat Menjadi Cepat

Dylan menulis dengan nada hampir paradoksal: “The slow one now will later be fast.” Ini bukan sekadar soal kecepatan fisik atau teknologi, melainkan tentang posisi sosial dan sejarah. Mereka yang dulu dianggap pinggiran, minoritas, kaum muda, suara-suara yang diremehkan, perlahan bergerak ke pusat. Sebaliknya, mereka yang dulu berada di pusat kekuasaan bisa tiba-tiba terasa usang, lamban, bahkan tidak relevan.

Perubahan ini sering kali memicu ketakutan. Ketakutan kehilangan privilese, kehilangan kendali, kehilangan makna. Karena itu, resistensi terhadap perubahan hampir selalu dibungkus dengan bahasa moral: demi stabilitas, demi tradisi, demi ketertiban. Namun Dylan, dengan ketajaman puitiknya, membongkar topeng itu. Ia menunjukkan bahwa yang dipertaruhkan bukan semata nilai, melainkan kekuasaan.

Lagu ini mengajarkan bahwa sejarah tidak bergerak dengan meminta izin. Ia melaju, kadang kasar, kadang tidak adil, tetapi nyaris selalu tak terhindarkan. Mereka yang memahami arusnya mungkin tidak selalu menang, tetapi mereka setidaknya tidak terkejut. Sebaliknya, mereka yang menolak untuk melihat perubahan sering kali merasa dikhianati oleh zaman, padahal yang berubah bukan zaman, melainkan posisi mereka di dalamnya.

Seruan kepada Para Orang Tua dan Penguasa

Bagian paling konfrontatif dari lagu ini adalah ketika Dylan secara langsung menyapa “senator, anggota kongres”, serta “ayah dan ibu”. Ini bukan kebetulan. Ia tahu bahwa perubahan generasional sering kali terhambat bukan oleh ketiadaan ide, melainkan oleh kekuasaan yang enggan melepaskan kendali.

“Please get out of the new one if you can’t lend your hand.” Kalimat ini keras, bahkan kasar. Tetapi justru di situlah kejujurannya. Dylan tidak meminta restu; ia menuntut kesadaran. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghalangi. Ini adalah etika minimal perubahan: jangan berdiri di depan pintu sejarah sambil mengunci dari dalam.

Dalam banyak masyarakat, konflik generasi sering disalahpahami sebagai kurang ajar atau tidak tahu diri. Padahal, sering kali ia adalah ekspresi dari ketidaksabaran terhadap struktur yang tidak lagi menjawab kebutuhan zaman. Lagu ini tidak memuja kaum muda secara romantis, tetapi ia memberi mereka legitimasi moral untuk berbicara—dan menuntut ruang.

Antara Hidup dan Mati

Menariknya, Dylan pernah menyatakan bahwa lagu ini baginya adalah tentang pembeda antara hidup dan mati. Pernyataan ini memberi kedalaman baru pada liriknya. Perubahan, dalam pengertian ini, bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan kebutuhan eksistensial. Menolak berubah bisa berarti mati, secara sosial, kultural, bahkan spiritual.

Hidup, dalam lagu ini, berarti berani membuka diri pada ketidakpastian. Mati berarti membeku dalam kepastian palsu. Ini bukan ajakan untuk merayakan kekacauan, melainkan untuk mengakui bahwa ketertiban lama tidak selalu layak dipertahankan. Ada saat ketika perubahan bukan ancaman, melainkan satu-satunya jalan untuk tetap manusiawi.

Mendengar Ketukan Zaman

The Times They Are a-Changin’ tidak menawarkan peta jalan yang rinci. Ia tidak memberi solusi kebijakan atau program konkret, yang ia lakukan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: mengajak kita mendengar. Mendengar ketukan zaman, suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan kegelisahan yang muncul ketika dunia bergerak lebih cepat daripada kesediaan kita untuk berubah.[T]

Tags: Bob Dylanlagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Next Post

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co