3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
in Ulas Musik
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Gambar dibuat dengan AI

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya. Ia tidak lahir sebagai hiburan, melainkan sebagai peringatan, bahkan semacam lonceng kematian bagi kenyamanan lama. Dalam bait-baitnya, Dylan tidak berbisik; ia berseru. Ia memanggil orang-orang yang merasa mapan, berkuasa, dan aman dalam urutan lama, untuk menyadari satu hal yang tak bisa ditawar: waktu sedang berpindah tangan.

Lagu ini ditulis di tengah dekade 1960-an, masa ketika dunia Barat, terutama Amerika Serikat, mengalami guncangan sosial yang hebat: gerakan hak sipil, penolakan perang Vietnam, perlawanan generasi muda terhadap nilai-nilai konservatif, serta bangkitnya kesadaran baru tentang kebebasan, kesetaraan, dan identitas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kemampuannya melampaui konteks sejarah itu. Ia terus hidup karena setiap zaman, pada dasarnya, selalu berada di ambang perubahan, dan selalu ada mereka yang menolak untuk melihatnya.

Dylan membuka lagunya dengan ajakan yang nyaris seperti kutbah sekuler: “Come gather ’round people wherever you roam.” Datanglah, berkumpullah, dari mana pun kalian berasal. Ini bukan seruan untuk satu kelas, satu ideologi, atau satu generasi saja, melainkan panggilan universal. Tetapi segera setelah itu, ia memperingatkan: air sedang naik, dan siapa pun yang tidak berenang akan tenggelam. Perubahan, dalam lagu ini, bukan sesuatu yang netral. Ia adalah kekuatan yang akan menyelamatkan sebagian orang dan menenggelamkan yang lain.

Garis yang Telah Ditarik

Salah satu metafora terkuat dalam lagu ini adalah tentang “garis yang telah ditarik.” Garis itu bukan sekadar batas politik atau ideologis, melainkan batas eksistensial antara masa lalu dan masa depan. Begitu garis itu ditarik, seseorang tak lagi bisa berdiri di tengah-tengah dengan aman. Netralitas menjadi ilusi. Diam berarti memilih, dan sering kali memilih untuk tetap bersama yang lama.

Dylan menulis: “The line it is drawn, the curse it is cast.” Kalimat ini terasa seperti vonis. Bahwa perubahan bukan hanya tentang peluang baru, tetapi juga tentang kutukan bagi mereka yang bersikeras mempertahankan kekuasaan lama dengan cara lama. Dalam setiap masyarakat, selalu ada struktur yang telah mapan: norma, institusi, tradisi, dan hierarki. Struktur itu sering kali mengklaim dirinya sebagai “alami” atau “abadi”. Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa tidak ada yang benar-benar permanen selain perubahan itu sendiri.

Di titik inilah lagu Dylan menjadi relevan jauh di luar Amerika tahun 1960-an. Dalam konteks Indonesia, misalnya, kita pun mengenal momen-momen ketika garis itu ditarik: reformasi 1998, pergeseran kekuasaan digital, bangkitnya generasi muda yang lebih cair identitasnya, serta perubahan cara melihat otoritas, agama, dan negara. Setiap kali garis itu muncul, selalu ada kegelisahan yang sama: siapa yang akan berada di sisi yang “benar”, dan siapa yang akan tertinggal.

Ketika yang Lambat Menjadi Cepat

Dylan menulis dengan nada hampir paradoksal: “The slow one now will later be fast.” Ini bukan sekadar soal kecepatan fisik atau teknologi, melainkan tentang posisi sosial dan sejarah. Mereka yang dulu dianggap pinggiran, minoritas, kaum muda, suara-suara yang diremehkan, perlahan bergerak ke pusat. Sebaliknya, mereka yang dulu berada di pusat kekuasaan bisa tiba-tiba terasa usang, lamban, bahkan tidak relevan.

Perubahan ini sering kali memicu ketakutan. Ketakutan kehilangan privilese, kehilangan kendali, kehilangan makna. Karena itu, resistensi terhadap perubahan hampir selalu dibungkus dengan bahasa moral: demi stabilitas, demi tradisi, demi ketertiban. Namun Dylan, dengan ketajaman puitiknya, membongkar topeng itu. Ia menunjukkan bahwa yang dipertaruhkan bukan semata nilai, melainkan kekuasaan.

Lagu ini mengajarkan bahwa sejarah tidak bergerak dengan meminta izin. Ia melaju, kadang kasar, kadang tidak adil, tetapi nyaris selalu tak terhindarkan. Mereka yang memahami arusnya mungkin tidak selalu menang, tetapi mereka setidaknya tidak terkejut. Sebaliknya, mereka yang menolak untuk melihat perubahan sering kali merasa dikhianati oleh zaman, padahal yang berubah bukan zaman, melainkan posisi mereka di dalamnya.

Seruan kepada Para Orang Tua dan Penguasa

Bagian paling konfrontatif dari lagu ini adalah ketika Dylan secara langsung menyapa “senator, anggota kongres”, serta “ayah dan ibu”. Ini bukan kebetulan. Ia tahu bahwa perubahan generasional sering kali terhambat bukan oleh ketiadaan ide, melainkan oleh kekuasaan yang enggan melepaskan kendali.

“Please get out of the new one if you can’t lend your hand.” Kalimat ini keras, bahkan kasar. Tetapi justru di situlah kejujurannya. Dylan tidak meminta restu; ia menuntut kesadaran. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghalangi. Ini adalah etika minimal perubahan: jangan berdiri di depan pintu sejarah sambil mengunci dari dalam.

Dalam banyak masyarakat, konflik generasi sering disalahpahami sebagai kurang ajar atau tidak tahu diri. Padahal, sering kali ia adalah ekspresi dari ketidaksabaran terhadap struktur yang tidak lagi menjawab kebutuhan zaman. Lagu ini tidak memuja kaum muda secara romantis, tetapi ia memberi mereka legitimasi moral untuk berbicara—dan menuntut ruang.

Antara Hidup dan Mati

Menariknya, Dylan pernah menyatakan bahwa lagu ini baginya adalah tentang pembeda antara hidup dan mati. Pernyataan ini memberi kedalaman baru pada liriknya. Perubahan, dalam pengertian ini, bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan kebutuhan eksistensial. Menolak berubah bisa berarti mati, secara sosial, kultural, bahkan spiritual.

Hidup, dalam lagu ini, berarti berani membuka diri pada ketidakpastian. Mati berarti membeku dalam kepastian palsu. Ini bukan ajakan untuk merayakan kekacauan, melainkan untuk mengakui bahwa ketertiban lama tidak selalu layak dipertahankan. Ada saat ketika perubahan bukan ancaman, melainkan satu-satunya jalan untuk tetap manusiawi.

Mendengar Ketukan Zaman

The Times They Are a-Changin’ tidak menawarkan peta jalan yang rinci. Ia tidak memberi solusi kebijakan atau program konkret, yang ia lakukan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: mengajak kita mendengar. Mendengar ketukan zaman, suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan kegelisahan yang muncul ketika dunia bergerak lebih cepat daripada kesediaan kita untuk berubah.[T]

Tags: Bob Dylanlagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Next Post

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co