23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
in Ulas Musik
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Gambar dibuat dengan AI

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya. Ia tidak lahir sebagai hiburan, melainkan sebagai peringatan, bahkan semacam lonceng kematian bagi kenyamanan lama. Dalam bait-baitnya, Dylan tidak berbisik; ia berseru. Ia memanggil orang-orang yang merasa mapan, berkuasa, dan aman dalam urutan lama, untuk menyadari satu hal yang tak bisa ditawar: waktu sedang berpindah tangan.

Lagu ini ditulis di tengah dekade 1960-an, masa ketika dunia Barat, terutama Amerika Serikat, mengalami guncangan sosial yang hebat: gerakan hak sipil, penolakan perang Vietnam, perlawanan generasi muda terhadap nilai-nilai konservatif, serta bangkitnya kesadaran baru tentang kebebasan, kesetaraan, dan identitas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kemampuannya melampaui konteks sejarah itu. Ia terus hidup karena setiap zaman, pada dasarnya, selalu berada di ambang perubahan, dan selalu ada mereka yang menolak untuk melihatnya.

Dylan membuka lagunya dengan ajakan yang nyaris seperti kutbah sekuler: “Come gather ’round people wherever you roam.” Datanglah, berkumpullah, dari mana pun kalian berasal. Ini bukan seruan untuk satu kelas, satu ideologi, atau satu generasi saja, melainkan panggilan universal. Tetapi segera setelah itu, ia memperingatkan: air sedang naik, dan siapa pun yang tidak berenang akan tenggelam. Perubahan, dalam lagu ini, bukan sesuatu yang netral. Ia adalah kekuatan yang akan menyelamatkan sebagian orang dan menenggelamkan yang lain.

Garis yang Telah Ditarik

Salah satu metafora terkuat dalam lagu ini adalah tentang “garis yang telah ditarik.” Garis itu bukan sekadar batas politik atau ideologis, melainkan batas eksistensial antara masa lalu dan masa depan. Begitu garis itu ditarik, seseorang tak lagi bisa berdiri di tengah-tengah dengan aman. Netralitas menjadi ilusi. Diam berarti memilih, dan sering kali memilih untuk tetap bersama yang lama.

Dylan menulis: “The line it is drawn, the curse it is cast.” Kalimat ini terasa seperti vonis. Bahwa perubahan bukan hanya tentang peluang baru, tetapi juga tentang kutukan bagi mereka yang bersikeras mempertahankan kekuasaan lama dengan cara lama. Dalam setiap masyarakat, selalu ada struktur yang telah mapan: norma, institusi, tradisi, dan hierarki. Struktur itu sering kali mengklaim dirinya sebagai “alami” atau “abadi”. Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa tidak ada yang benar-benar permanen selain perubahan itu sendiri.

Di titik inilah lagu Dylan menjadi relevan jauh di luar Amerika tahun 1960-an. Dalam konteks Indonesia, misalnya, kita pun mengenal momen-momen ketika garis itu ditarik: reformasi 1998, pergeseran kekuasaan digital, bangkitnya generasi muda yang lebih cair identitasnya, serta perubahan cara melihat otoritas, agama, dan negara. Setiap kali garis itu muncul, selalu ada kegelisahan yang sama: siapa yang akan berada di sisi yang “benar”, dan siapa yang akan tertinggal.

Ketika yang Lambat Menjadi Cepat

Dylan menulis dengan nada hampir paradoksal: “The slow one now will later be fast.” Ini bukan sekadar soal kecepatan fisik atau teknologi, melainkan tentang posisi sosial dan sejarah. Mereka yang dulu dianggap pinggiran, minoritas, kaum muda, suara-suara yang diremehkan, perlahan bergerak ke pusat. Sebaliknya, mereka yang dulu berada di pusat kekuasaan bisa tiba-tiba terasa usang, lamban, bahkan tidak relevan.

Perubahan ini sering kali memicu ketakutan. Ketakutan kehilangan privilese, kehilangan kendali, kehilangan makna. Karena itu, resistensi terhadap perubahan hampir selalu dibungkus dengan bahasa moral: demi stabilitas, demi tradisi, demi ketertiban. Namun Dylan, dengan ketajaman puitiknya, membongkar topeng itu. Ia menunjukkan bahwa yang dipertaruhkan bukan semata nilai, melainkan kekuasaan.

Lagu ini mengajarkan bahwa sejarah tidak bergerak dengan meminta izin. Ia melaju, kadang kasar, kadang tidak adil, tetapi nyaris selalu tak terhindarkan. Mereka yang memahami arusnya mungkin tidak selalu menang, tetapi mereka setidaknya tidak terkejut. Sebaliknya, mereka yang menolak untuk melihat perubahan sering kali merasa dikhianati oleh zaman, padahal yang berubah bukan zaman, melainkan posisi mereka di dalamnya.

Seruan kepada Para Orang Tua dan Penguasa

Bagian paling konfrontatif dari lagu ini adalah ketika Dylan secara langsung menyapa “senator, anggota kongres”, serta “ayah dan ibu”. Ini bukan kebetulan. Ia tahu bahwa perubahan generasional sering kali terhambat bukan oleh ketiadaan ide, melainkan oleh kekuasaan yang enggan melepaskan kendali.

“Please get out of the new one if you can’t lend your hand.” Kalimat ini keras, bahkan kasar. Tetapi justru di situlah kejujurannya. Dylan tidak meminta restu; ia menuntut kesadaran. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghalangi. Ini adalah etika minimal perubahan: jangan berdiri di depan pintu sejarah sambil mengunci dari dalam.

Dalam banyak masyarakat, konflik generasi sering disalahpahami sebagai kurang ajar atau tidak tahu diri. Padahal, sering kali ia adalah ekspresi dari ketidaksabaran terhadap struktur yang tidak lagi menjawab kebutuhan zaman. Lagu ini tidak memuja kaum muda secara romantis, tetapi ia memberi mereka legitimasi moral untuk berbicara—dan menuntut ruang.

Antara Hidup dan Mati

Menariknya, Dylan pernah menyatakan bahwa lagu ini baginya adalah tentang pembeda antara hidup dan mati. Pernyataan ini memberi kedalaman baru pada liriknya. Perubahan, dalam pengertian ini, bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan kebutuhan eksistensial. Menolak berubah bisa berarti mati, secara sosial, kultural, bahkan spiritual.

Hidup, dalam lagu ini, berarti berani membuka diri pada ketidakpastian. Mati berarti membeku dalam kepastian palsu. Ini bukan ajakan untuk merayakan kekacauan, melainkan untuk mengakui bahwa ketertiban lama tidak selalu layak dipertahankan. Ada saat ketika perubahan bukan ancaman, melainkan satu-satunya jalan untuk tetap manusiawi.

Mendengar Ketukan Zaman

The Times They Are a-Changin’ tidak menawarkan peta jalan yang rinci. Ia tidak memberi solusi kebijakan atau program konkret, yang ia lakukan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: mengajak kita mendengar. Mendengar ketukan zaman, suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan kegelisahan yang muncul ketika dunia bergerak lebih cepat daripada kesediaan kita untuk berubah.[T]

Tags: Bob Dylanlagumusikulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

Next Post

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co