BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih jalan yang berbeda. Boneka-boneka tiga dimensi setinggi sekitar satu meter hadir utuh di atas panggung, dimainkan secara langsung oleh dua dalang dalam sebuah teknik yang mengingatkan pada teater boneka Bunraku dari Jepang, tetapi tetap berakar kuat pada tradisi Bali.
Setiap tokoh digerakkan dengan presisi. Seorang dalang mengendalikan kepala dan kedua tangan, sementara dalang lainnya menghidupkan langkah kaki. Tubuh-tubuh boneka yang terbuat dari anyaman daun ental (lontar) itu bergerak lentur, seolah memiliki napas dan perasaan sendiri. Dari sinilah Wayang Ental menawarkan pengalaman menonton yang berbeda—bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan wayang, melainkan melihat sebuah bahasa tubuh yang puitis.

Pengalaman itulah yang memikat penonton dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026. Komunitas Kuta Kumara Agung mempersembahkan karya terbaru mereka, Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu, sebuah pertunjukan yang mengolah kerinduan, penyesalan, dan kesempatan menjadi perjalanan emosional yang hening sekaligus menyentuh.
Alih-alih bertumpu pada dialog, kisah dibangun melalui gestur boneka yang menyerupai pantomim. Puisi, lagu, dan komposisi bunyi hadir sebagai lapisan emosional yang memperkuat suasana, tanpa pernah mengambil alih ruang tafsir penonton. Setiap gerak menjadi kalimat, setiap jeda menjadi makna.
Tokoh Manu dan Tala mengajak penonton menelusuri sebuah pertanyaan sederhana yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: berapa banyak hal yang kita tunda karena merasa waktu masih tersedia? Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban, melainkan menghadirkan pengalaman batin tentang kesempatan yang perlahan menghilang sebelum sempat disadari.

Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Koordinator pementasan sekaligus pencipta Wayang Ental, Dr. I Gusti Dharma Putra, yang akrab disapa Gung Ade Dalang mengatakan, Manu Tala: Nanti Dulu lahir dari refleksi mengenai kecenderungan manusia menunda mengungkapkan perasaan atau melakukan sesuatu karena percaya masih ada hari esok.
“Mungkin penyesalan bukan lahir karena kehilangan, melainkan karena keyakinan bahwa masih ada waktu. Bahwa selalu ada hari lain untuk berkumpul, tertawa, dan saling hadir. Bahwa selalu ada nanti. Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu adalah refleksi tentang kesempatan, membingkai momen yang dibiarkan menguap, hingga akhirnya kita menyadari bahwa yang paling fana bukanlah waktu, melainkan kesempatan,” paparnya.
Sejak pertama kali diperkenalkan dalam Festival Bali Jani tahun 2019, Wayang Ental terus mengalami perkembangan. Pementasan tahun ini menjadi penampilan keempat Komunitas Kuta Kumara Agung setelah sempat terhenti pada masa pandemi. Bagi Gung Ade Dalang, setiap kemunculan di Festival Bali Jani menjadi momentum untuk menghadirkan pembaruan, baik dari sisi medium, bahasa artistik, maupun pendekatan dramatik.

Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Perubahan paling mencolok tampak pada desain boneka yang kini dibuat lebih kecil, sehingga memungkinkan manipulasi gerak yang lebih realistis dan ekspresif. Sementara itu, struktur cerita bergeser dari pola sebab-akibat menuju eksplorasi psikologis tokoh. Fokus pertunjukan bukan lagi pada apa yang terjadi, melainkan bagaimana peristiwa itu dirasakan.
“Kami lebih tertarik mengeksplorasi perasaan manusia, terutama tentang kerinduan. Target capaian kami memang pengalaman emosional penonton,” ujar Gung Ade Dalang.
Pilihan menggunakan pendekatan nonverbal menjadi salah satu kekuatan artistik pertunjukan ini. Tanpa dialog yang menjelaskan alur secara gamblang, penonton diberi ruang untuk membangun makna melalui pengalaman pribadi masing-masing. Puisi dan musik hadir sebagai penanda suasana, bukan sebagai narator yang mengarahkan tafsir.
Untuk menjaga kualitas permainan, seluruh penggerak Wayang Ental berasal dari kalangan yang memiliki dasar seni pedalangan, mulai dari pelajar SMK Pedalangan, mahasiswa, hingga dalang profesional. Kepekaan mereka terhadap ritme, karakter, dan dramaturgi menjadi fondasi penting dalam menghidupkan setiap boneka.

Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Produksi berdurasi sekitar satu jam tersebut melibatkan sekitar 76 orang, mencakup pemain, penata musik, penata cahaya, tim artistik, hingga tim produksi. Tahun ini, Komunitas Kuta Kumara Agung juga memperkenalkan sepuluh boneka baru, sehingga kini Wayang Ental memiliki empat jenis bentuk, mulai dari boneka pipih, model Lego, berukuran manusia, hingga versi terbaru yang lebih kecil dan fleksibel.
Meski kisah Manu Tala: Nanti Dulu sepenuhnya merupakan karya fiksi, pengalaman emosional yang dibangunnya terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan. Pesan yang diusung pun sederhana, tetapi mengena: jangan membiarkan kata “nanti” menjadi alasan yang merampas kesempatan untuk mengungkapkan kasih sayang, meminta maaf, atau sekadar hadir bagi orang-orang terdekat.
Kurator Festival Seni Bali Jani VIII, I Made Adnyana, menilai Wayang Ental merupakan salah satu contoh bagaimana tradisi dapat terus bertumbuh melalui kreativitas dan keberanian bereksperimen. Karya tersebut selaras dengan semangat Festival Bali Jani sebagai ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk seni kontemporer yang berakar pada kebudayaan Bali.

Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana
Lebih dari sekadar menghadirkan bentuk wayang yang baru, Wayang Ental menawarkan cara pandang baru terhadap seni pertunjukan. Tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai sumber kemungkinan yang terus berkembang. Perpaduan boneka, gerak nonverbal, puisi, musik, tata cahaya, dan visual artistik melahirkan pengalaman estetis yang intim sekaligus reflektif.
Pada akhirnya, Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu bukan hanya sebuah tontonan, melainkan sebuah pengingat. Bahwa yang paling mudah hilang bukanlah waktu, melainkan kesempatan. Sering kali, penyesalan lahir justru dari keyakinan bahwa selalu ada hari lain untuk mengatakan, melakukan, atau mencintai.
Di ruang pertunjukan itu, Wayang Ental berhasil mengubah “nanti dulu” menjadi sebuah renungan bersama yakni tentang hidup, tentang kerinduan, dan tentang keberanian untuk tidak lagi menunda.
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































