3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
in Panggung
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

Pertunjukan Wayang Ental di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih jalan yang berbeda. Boneka-boneka tiga dimensi setinggi sekitar satu meter hadir utuh di atas panggung, dimainkan secara langsung oleh dua dalang dalam sebuah teknik yang mengingatkan pada teater boneka Bunraku dari Jepang, tetapi tetap berakar kuat pada tradisi Bali.

Setiap tokoh digerakkan dengan presisi. Seorang dalang mengendalikan kepala dan kedua tangan, sementara dalang lainnya menghidupkan langkah kaki. Tubuh-tubuh boneka yang terbuat dari anyaman daun ental (lontar) itu bergerak lentur, seolah memiliki napas dan perasaan sendiri. Dari sinilah Wayang Ental menawarkan pengalaman menonton yang berbeda—bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan wayang, melainkan melihat sebuah bahasa tubuh yang puitis.

Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pengalaman itulah yang memikat penonton dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026. Komunitas Kuta Kumara Agung mempersembahkan karya terbaru mereka, Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu, sebuah pertunjukan yang mengolah kerinduan, penyesalan, dan kesempatan menjadi perjalanan emosional yang hening sekaligus menyentuh.

Alih-alih bertumpu pada dialog, kisah dibangun melalui gestur boneka yang menyerupai pantomim. Puisi, lagu, dan komposisi bunyi hadir sebagai lapisan emosional yang memperkuat suasana, tanpa pernah mengambil alih ruang tafsir penonton. Setiap gerak menjadi kalimat, setiap jeda menjadi makna.

Tokoh Manu dan Tala mengajak penonton menelusuri sebuah pertanyaan sederhana yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari: berapa banyak hal yang kita tunda karena merasa waktu masih tersedia? Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban, melainkan menghadirkan pengalaman batin tentang kesempatan yang perlahan menghilang sebelum sempat disadari.


Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Koordinator pementasan sekaligus pencipta Wayang Ental, Dr. I Gusti Dharma Putra, yang akrab disapa Gung Ade Dalang mengatakan, Manu Tala: Nanti Dulu lahir dari refleksi mengenai kecenderungan manusia menunda mengungkapkan perasaan atau melakukan sesuatu karena percaya masih ada hari esok.

“Mungkin penyesalan bukan lahir karena kehilangan, melainkan karena keyakinan bahwa masih ada waktu. Bahwa selalu ada hari lain untuk berkumpul, tertawa, dan saling hadir. Bahwa selalu ada nanti. Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu adalah refleksi tentang kesempatan, membingkai momen yang dibiarkan menguap, hingga akhirnya kita menyadari bahwa yang paling fana bukanlah waktu, melainkan kesempatan,” paparnya.

Sejak pertama kali diperkenalkan dalam Festival Bali Jani tahun 2019, Wayang Ental terus mengalami perkembangan. Pementasan tahun ini menjadi penampilan keempat Komunitas Kuta Kumara Agung setelah sempat terhenti pada masa pandemi. Bagi Gung Ade Dalang, setiap kemunculan di Festival Bali Jani menjadi momentum untuk menghadirkan pembaruan, baik dari sisi medium, bahasa artistik, maupun pendekatan dramatik.


Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Perubahan paling mencolok tampak pada desain boneka yang kini dibuat lebih kecil, sehingga memungkinkan manipulasi gerak yang lebih realistis dan ekspresif. Sementara itu, struktur cerita bergeser dari pola sebab-akibat menuju eksplorasi psikologis tokoh. Fokus pertunjukan bukan lagi pada apa yang terjadi, melainkan bagaimana peristiwa itu dirasakan.

“Kami lebih tertarik mengeksplorasi perasaan manusia, terutama tentang kerinduan. Target capaian kami memang pengalaman emosional penonton,” ujar Gung Ade Dalang.

Pilihan menggunakan pendekatan nonverbal menjadi salah satu kekuatan artistik pertunjukan ini. Tanpa dialog yang menjelaskan alur secara gamblang, penonton diberi ruang untuk membangun makna melalui pengalaman pribadi masing-masing. Puisi dan musik hadir sebagai penanda suasana, bukan sebagai narator yang mengarahkan tafsir.

Untuk menjaga kualitas permainan, seluruh penggerak Wayang Ental berasal dari kalangan yang memiliki dasar seni pedalangan, mulai dari pelajar SMK Pedalangan, mahasiswa, hingga dalang profesional. Kepekaan mereka terhadap ritme, karakter, dan dramaturgi menjadi fondasi penting dalam menghidupkan setiap boneka.


Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Produksi berdurasi sekitar satu jam tersebut melibatkan sekitar 76 orang, mencakup pemain, penata musik, penata cahaya, tim artistik, hingga tim produksi. Tahun ini, Komunitas Kuta Kumara Agung juga memperkenalkan sepuluh boneka baru, sehingga kini Wayang Ental memiliki empat jenis bentuk, mulai dari boneka pipih, model Lego, berukuran manusia, hingga versi terbaru yang lebih kecil dan fleksibel.

Meski kisah Manu Tala: Nanti Dulu sepenuhnya merupakan karya fiksi, pengalaman emosional yang dibangunnya terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan. Pesan yang diusung pun sederhana, tetapi mengena: jangan membiarkan kata “nanti” menjadi alasan yang merampas kesempatan untuk mengungkapkan kasih sayang, meminta maaf, atau sekadar hadir bagi orang-orang terdekat.

Kurator Festival Seni Bali Jani VIII, I Made Adnyana, menilai Wayang Ental merupakan salah satu contoh bagaimana tradisi dapat terus bertumbuh melalui kreativitas dan keberanian bereksperimen. Karya tersebut selaras dengan semangat Festival Bali Jani sebagai ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk seni kontemporer yang berakar pada kebudayaan Bali.


Pertunjukan Wayang Ental oleh Komunitas Kuta Kumara Agung di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu 12 Juli 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Lebih dari sekadar menghadirkan bentuk wayang yang baru, Wayang Ental menawarkan cara pandang baru terhadap seni pertunjukan. Tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai sumber kemungkinan yang terus berkembang. Perpaduan boneka, gerak nonverbal, puisi, musik, tata cahaya, dan visual artistik melahirkan pengalaman estetis yang intim sekaligus reflektif.

Pada akhirnya, Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu bukan hanya sebuah tontonan, melainkan sebuah pengingat. Bahwa yang paling mudah hilang bukanlah waktu, melainkan kesempatan. Sering kali, penyesalan lahir justru dari keyakinan bahwa selalu ada hari lain untuk mengatakan, melakukan, atau mencintai.

Di ruang pertunjukan itu, Wayang Ental berhasil mengubah “nanti dulu” menjadi sebuah renungan bersama yakni tentang hidup, tentang kerinduan, dan tentang keberanian untuk tidak lagi menunda.

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Komunitas Kuta Kumara Agungwayang ental
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Next Post

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co