3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Tualang
Mereka Menunggu di Setia Darma 

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wisata menuntun langkah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan dua turis itu masih mengikuti.

“Ini tempatnya?” tanya si turis perempuan, berambut pirang dan bermata teduh. Sejak awal, ia lebih banyak diam, lebih banyak menyimak.

Sang pemandu, pria paruh baya dengan wajah ramah dan tenang, tersenyum kecil sambil mengangguk. “Ya. Ini namanya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma,” sahutnya pelan. “Tapi ini bukan sekadar museum. Tempat ini… hidup.”

Begitu mereka melewati gapura sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma”, suasana seketika berubah. Udara menjadi lebih sejuk. Aroma kayu tua dan tanah basah menyambut dari segala arah. Tak ada deru kendaraan. Tak ada musik. Hanya angin berdesir dan langkah kaki mereka yang pelan-pelan masuk ke pekarangan luas dan tenang.

Mereka berhenti di depan sebuah joglo besar. Sang pemandu melangkah masuk lebih dulu. Di dalamnya, ribuan mata menyambut dalam diam. Topeng-topeng menggantung di dinding, berdiri di panggung kecil, berjajar rapi di sudut-sudut ruangan. Wayang-wayang menunggu dalam kesunyian yang bukan kematian, melainkan jeda. Seolah menanti. Entah apa. Entah siapa. Tempat ini memang bukan sekadar rumah koleksi. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, adalah tempat masa lalu belum sepenuhnya berlalu. Di mana setiap benda seolah masih bernapas, menyimpan jiwa.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Rumah yang Bernapas

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma lahir dari cinta dan ketekunan Hadi Sunyoto bersama mendiang Agustinus Prayitno. Sejak 1996, mereka mengumpulkan topeng dan wayang dari pelosok Indonesia hingga berbagai belahan dunia. Pelan-pelan, koleksi itu tumbuh, dan akhirnya dibuka untuk umum pada 2006. “Saya mengumpulkan topeng dan wayang dari Indonesia dan dunia. Sekarang sudah ada 1.300 topeng dan 5.700 wayang,” kata Prayitno – pria kelahiran Kembangbahu, Jawa Timur, 23 Juli 1946 – dalam sebuah wawancara yang kini hanya bisa dikenang.

Bagi Prayitno, tempat ini bukan museum. Kata “museum” terdengar kaku, terlalu dingin. Ia lebih memilih kata “rumah”. Rumah adalah tempat di mana sesuatu masih terasa hidup.

“Banyak yang ingin menamainya museum, bahkan pejabat. Tapi saya mohon, biarkan ini tetap menjadi rumah. Karena di dalam rumah ada senyum. Di dalam rumah ada interaksi,” ujarnya, dikutip dari YouTube NetNews.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Kompleks ini terdiri atas sebelas bangunan. Tujuh di antaranya adalah joglo, rumah kayu tradisional yang hangat dan bersahaja, menjadi ruang pamer yang membawa kita berjalan ke masa lalu, menyusuri berbagai budaya dari dalam dan luar negeri. Di Joglo Plumpang, barong dari berbagai daerah menyambut dengan ekspresi penuh karakter. Di Joglo Boma, topeng-topeng Bali berjajar, dari dewa-dewi hingga raksasa, seolah masih ingin menari lagi.

Joglo Senori menjadi pertemuan budaya Nusantara: Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Sementara Joglo Keben menyimpan wayang dan gamelan Jawa. Di Joglo Bojonegoro, terdapat wayang golek dan boneka dari mancanegara. Paviliun Jepang menyuguhkan topeng-topeng khas Negeri Sakura. Dan di Joglo Blora, wajah-wajah dari Afrika hingga Eropa memandang dalam diam.

“Apakah semuanya pernah digunakan?” tanya si turis pria, bertubuh gempal dan berkacamata, dengan suara pelan.

Sang pemandu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Pernah,” sahutnya. “Ada yang pernah menari. Ada yang bercerita. Sekarang, mereka hanya menunggu.”

Ada satu joglo yang dibiarkan kosong. Namanya Joglo Tembakau. Tak ada penjelasan pasti. Mungkin memang belum waktunya ia bercerita. Atau, mungkin ia memang ditakdirkan tetap sunyi. Di salah satu sudut, berdiri amphitheater, ruang untuk pertunjukan, diskusi, dan perayaan budaya. Di sinilah rumah ini benar-benar bernapas. Bukan sekadar ruang pamer, tapi tempat berkumpul dan berbagi.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Menunggu dalam Sunyi

Meskipun pintu-pintu joglo selalu terbuka, rumah ini tidak selalu ramai. Kadang hanya ada beberapa pelancong, keluarga kecil, atau rombongan pelajar. Sebagian besar datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan keheningan seperti semula.

“Kenapa tempat seperti ini tidak ramai, ya?” tanya si turis perempuan saat mereka duduk di bangku kayu depan Joglo Plumpang, memandang halaman hijau yang sejuk.

Sang pemandu tersenyum tipis. “Mungkin karena dia tidak berteriak. Tempat ini, hanya menunggu,” jawabnya.

Tak ada loket tiket, antrean, maupun mesin kasir. Rumah ini memberi tanpa menuntut. Tapi justru itu yang kadang terasa miris. Ribuan warisan budaya tersimpan di sini, tapi belum tentu masuk dalam kesadaran banyak orang.

Bukan karena tempat ini tidak menarik. Tapi mungkin karena kita terlalu sibuk mengejar yang baru, hingga lupa menengok cermin: siapa kita dan dari mana kita berasal. Di antara tempat-tempat wisata yang berlomba menawarkan atraksi dan sensasi, Setia Darma berdiri tenang. Tak memaksa. Tak membujuk. Ia hanya menawarkan ruang hening untuk merenung.

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

 

Topeng-topeng itu tidak meminta perhatian. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dikenang. Tapi hari-hari berlalu. Banyak yang lewat, sedikit yang betul-betul singgah.

Setiap topeng dan wayang di sini pernah “hidup”, “menari”, “bersuara”. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan kisah-kisah yang lebih panjang dari usia kita. Dan ketika sampai di sini, mereka tidak mati. Mereka hanya, menunggu. Menunggu pengunjung yang datang bukan hanya untuk memotret, tapi “melihat”. Menunggu mereka yang tak sekadar melintas, tapi benar-benar “mendengar”.

Waktu perlahan merayap menuju sore. Kedua turis itu duduk diam. Tak banyak bicara. Bahkan sang pemandu ikut larut dalam keheningan. Seolah semuanya sepakat: tempat ini lebih fasih berbicara lewat sunyi.

Sebelum melangkah pergi, si turis perempuan sempat menoleh lagi ke dalam. Lama. Seperti ingin mengingat setiap gurat wajah yang tergantung di sana. Lalu, perlahan, mereka pergi. Barangkali ada sesuatu dari tempat ini yang ikut mereka bawa pulang. Setia Darma kembali hening, tapi tak pernah benar-benar sepi. Karena mereka masih ada di sana. Menunggu. Sampai kisah mereka benar-benar selesai diceritakan.

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Tags: Desa KemenuhGianyarMuseumRumah Topeng dan Wayang Setia Darmasukawatitopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Next Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co