14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Tualang
Mereka Menunggu di Setia Darma 

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wisata menuntun langkah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan dua turis itu masih mengikuti.

“Ini tempatnya?” tanya si turis perempuan, berambut pirang dan bermata teduh. Sejak awal, ia lebih banyak diam, lebih banyak menyimak.

Sang pemandu, pria paruh baya dengan wajah ramah dan tenang, tersenyum kecil sambil mengangguk. “Ya. Ini namanya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma,” sahutnya pelan. “Tapi ini bukan sekadar museum. Tempat ini… hidup.”

Begitu mereka melewati gapura sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma”, suasana seketika berubah. Udara menjadi lebih sejuk. Aroma kayu tua dan tanah basah menyambut dari segala arah. Tak ada deru kendaraan. Tak ada musik. Hanya angin berdesir dan langkah kaki mereka yang pelan-pelan masuk ke pekarangan luas dan tenang.

Mereka berhenti di depan sebuah joglo besar. Sang pemandu melangkah masuk lebih dulu. Di dalamnya, ribuan mata menyambut dalam diam. Topeng-topeng menggantung di dinding, berdiri di panggung kecil, berjajar rapi di sudut-sudut ruangan. Wayang-wayang menunggu dalam kesunyian yang bukan kematian, melainkan jeda. Seolah menanti. Entah apa. Entah siapa. Tempat ini memang bukan sekadar rumah koleksi. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, adalah tempat masa lalu belum sepenuhnya berlalu. Di mana setiap benda seolah masih bernapas, menyimpan jiwa.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Rumah yang Bernapas

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma lahir dari cinta dan ketekunan Hadi Sunyoto bersama mendiang Agustinus Prayitno. Sejak 1996, mereka mengumpulkan topeng dan wayang dari pelosok Indonesia hingga berbagai belahan dunia. Pelan-pelan, koleksi itu tumbuh, dan akhirnya dibuka untuk umum pada 2006. “Saya mengumpulkan topeng dan wayang dari Indonesia dan dunia. Sekarang sudah ada 1.300 topeng dan 5.700 wayang,” kata Prayitno – pria kelahiran Kembangbahu, Jawa Timur, 23 Juli 1946 – dalam sebuah wawancara yang kini hanya bisa dikenang.

Bagi Prayitno, tempat ini bukan museum. Kata “museum” terdengar kaku, terlalu dingin. Ia lebih memilih kata “rumah”. Rumah adalah tempat di mana sesuatu masih terasa hidup.

“Banyak yang ingin menamainya museum, bahkan pejabat. Tapi saya mohon, biarkan ini tetap menjadi rumah. Karena di dalam rumah ada senyum. Di dalam rumah ada interaksi,” ujarnya, dikutip dari YouTube NetNews.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Kompleks ini terdiri atas sebelas bangunan. Tujuh di antaranya adalah joglo, rumah kayu tradisional yang hangat dan bersahaja, menjadi ruang pamer yang membawa kita berjalan ke masa lalu, menyusuri berbagai budaya dari dalam dan luar negeri. Di Joglo Plumpang, barong dari berbagai daerah menyambut dengan ekspresi penuh karakter. Di Joglo Boma, topeng-topeng Bali berjajar, dari dewa-dewi hingga raksasa, seolah masih ingin menari lagi.

Joglo Senori menjadi pertemuan budaya Nusantara: Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Sementara Joglo Keben menyimpan wayang dan gamelan Jawa. Di Joglo Bojonegoro, terdapat wayang golek dan boneka dari mancanegara. Paviliun Jepang menyuguhkan topeng-topeng khas Negeri Sakura. Dan di Joglo Blora, wajah-wajah dari Afrika hingga Eropa memandang dalam diam.

“Apakah semuanya pernah digunakan?” tanya si turis pria, bertubuh gempal dan berkacamata, dengan suara pelan.

Sang pemandu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Pernah,” sahutnya. “Ada yang pernah menari. Ada yang bercerita. Sekarang, mereka hanya menunggu.”

Ada satu joglo yang dibiarkan kosong. Namanya Joglo Tembakau. Tak ada penjelasan pasti. Mungkin memang belum waktunya ia bercerita. Atau, mungkin ia memang ditakdirkan tetap sunyi. Di salah satu sudut, berdiri amphitheater, ruang untuk pertunjukan, diskusi, dan perayaan budaya. Di sinilah rumah ini benar-benar bernapas. Bukan sekadar ruang pamer, tapi tempat berkumpul dan berbagi.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Menunggu dalam Sunyi

Meskipun pintu-pintu joglo selalu terbuka, rumah ini tidak selalu ramai. Kadang hanya ada beberapa pelancong, keluarga kecil, atau rombongan pelajar. Sebagian besar datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan keheningan seperti semula.

“Kenapa tempat seperti ini tidak ramai, ya?” tanya si turis perempuan saat mereka duduk di bangku kayu depan Joglo Plumpang, memandang halaman hijau yang sejuk.

Sang pemandu tersenyum tipis. “Mungkin karena dia tidak berteriak. Tempat ini, hanya menunggu,” jawabnya.

Tak ada loket tiket, antrean, maupun mesin kasir. Rumah ini memberi tanpa menuntut. Tapi justru itu yang kadang terasa miris. Ribuan warisan budaya tersimpan di sini, tapi belum tentu masuk dalam kesadaran banyak orang.

Bukan karena tempat ini tidak menarik. Tapi mungkin karena kita terlalu sibuk mengejar yang baru, hingga lupa menengok cermin: siapa kita dan dari mana kita berasal. Di antara tempat-tempat wisata yang berlomba menawarkan atraksi dan sensasi, Setia Darma berdiri tenang. Tak memaksa. Tak membujuk. Ia hanya menawarkan ruang hening untuk merenung.

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

 

Topeng-topeng itu tidak meminta perhatian. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dikenang. Tapi hari-hari berlalu. Banyak yang lewat, sedikit yang betul-betul singgah.

Setiap topeng dan wayang di sini pernah “hidup”, “menari”, “bersuara”. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan kisah-kisah yang lebih panjang dari usia kita. Dan ketika sampai di sini, mereka tidak mati. Mereka hanya, menunggu. Menunggu pengunjung yang datang bukan hanya untuk memotret, tapi “melihat”. Menunggu mereka yang tak sekadar melintas, tapi benar-benar “mendengar”.

Waktu perlahan merayap menuju sore. Kedua turis itu duduk diam. Tak banyak bicara. Bahkan sang pemandu ikut larut dalam keheningan. Seolah semuanya sepakat: tempat ini lebih fasih berbicara lewat sunyi.

Sebelum melangkah pergi, si turis perempuan sempat menoleh lagi ke dalam. Lama. Seperti ingin mengingat setiap gurat wajah yang tergantung di sana. Lalu, perlahan, mereka pergi. Barangkali ada sesuatu dari tempat ini yang ikut mereka bawa pulang. Setia Darma kembali hening, tapi tak pernah benar-benar sepi. Karena mereka masih ada di sana. Menunggu. Sampai kisah mereka benar-benar selesai diceritakan.

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Tags: Desa KemenuhGianyarMuseumRumah Topeng dan Wayang Setia Darmasukawatitopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Next Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co