23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Tualang
Mereka Menunggu di Setia Darma 

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wisata menuntun langkah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan dua turis itu masih mengikuti.

“Ini tempatnya?” tanya si turis perempuan, berambut pirang dan bermata teduh. Sejak awal, ia lebih banyak diam, lebih banyak menyimak.

Sang pemandu, pria paruh baya dengan wajah ramah dan tenang, tersenyum kecil sambil mengangguk. “Ya. Ini namanya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma,” sahutnya pelan. “Tapi ini bukan sekadar museum. Tempat ini… hidup.”

Begitu mereka melewati gapura sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma”, suasana seketika berubah. Udara menjadi lebih sejuk. Aroma kayu tua dan tanah basah menyambut dari segala arah. Tak ada deru kendaraan. Tak ada musik. Hanya angin berdesir dan langkah kaki mereka yang pelan-pelan masuk ke pekarangan luas dan tenang.

Mereka berhenti di depan sebuah joglo besar. Sang pemandu melangkah masuk lebih dulu. Di dalamnya, ribuan mata menyambut dalam diam. Topeng-topeng menggantung di dinding, berdiri di panggung kecil, berjajar rapi di sudut-sudut ruangan. Wayang-wayang menunggu dalam kesunyian yang bukan kematian, melainkan jeda. Seolah menanti. Entah apa. Entah siapa. Tempat ini memang bukan sekadar rumah koleksi. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, adalah tempat masa lalu belum sepenuhnya berlalu. Di mana setiap benda seolah masih bernapas, menyimpan jiwa.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Rumah yang Bernapas

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma lahir dari cinta dan ketekunan Hadi Sunyoto bersama mendiang Agustinus Prayitno. Sejak 1996, mereka mengumpulkan topeng dan wayang dari pelosok Indonesia hingga berbagai belahan dunia. Pelan-pelan, koleksi itu tumbuh, dan akhirnya dibuka untuk umum pada 2006. “Saya mengumpulkan topeng dan wayang dari Indonesia dan dunia. Sekarang sudah ada 1.300 topeng dan 5.700 wayang,” kata Prayitno – pria kelahiran Kembangbahu, Jawa Timur, 23 Juli 1946 – dalam sebuah wawancara yang kini hanya bisa dikenang.

Bagi Prayitno, tempat ini bukan museum. Kata “museum” terdengar kaku, terlalu dingin. Ia lebih memilih kata “rumah”. Rumah adalah tempat di mana sesuatu masih terasa hidup.

“Banyak yang ingin menamainya museum, bahkan pejabat. Tapi saya mohon, biarkan ini tetap menjadi rumah. Karena di dalam rumah ada senyum. Di dalam rumah ada interaksi,” ujarnya, dikutip dari YouTube NetNews.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Kompleks ini terdiri atas sebelas bangunan. Tujuh di antaranya adalah joglo, rumah kayu tradisional yang hangat dan bersahaja, menjadi ruang pamer yang membawa kita berjalan ke masa lalu, menyusuri berbagai budaya dari dalam dan luar negeri. Di Joglo Plumpang, barong dari berbagai daerah menyambut dengan ekspresi penuh karakter. Di Joglo Boma, topeng-topeng Bali berjajar, dari dewa-dewi hingga raksasa, seolah masih ingin menari lagi.

Joglo Senori menjadi pertemuan budaya Nusantara: Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Sementara Joglo Keben menyimpan wayang dan gamelan Jawa. Di Joglo Bojonegoro, terdapat wayang golek dan boneka dari mancanegara. Paviliun Jepang menyuguhkan topeng-topeng khas Negeri Sakura. Dan di Joglo Blora, wajah-wajah dari Afrika hingga Eropa memandang dalam diam.

“Apakah semuanya pernah digunakan?” tanya si turis pria, bertubuh gempal dan berkacamata, dengan suara pelan.

Sang pemandu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Pernah,” sahutnya. “Ada yang pernah menari. Ada yang bercerita. Sekarang, mereka hanya menunggu.”

Ada satu joglo yang dibiarkan kosong. Namanya Joglo Tembakau. Tak ada penjelasan pasti. Mungkin memang belum waktunya ia bercerita. Atau, mungkin ia memang ditakdirkan tetap sunyi. Di salah satu sudut, berdiri amphitheater, ruang untuk pertunjukan, diskusi, dan perayaan budaya. Di sinilah rumah ini benar-benar bernapas. Bukan sekadar ruang pamer, tapi tempat berkumpul dan berbagi.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Menunggu dalam Sunyi

Meskipun pintu-pintu joglo selalu terbuka, rumah ini tidak selalu ramai. Kadang hanya ada beberapa pelancong, keluarga kecil, atau rombongan pelajar. Sebagian besar datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan keheningan seperti semula.

“Kenapa tempat seperti ini tidak ramai, ya?” tanya si turis perempuan saat mereka duduk di bangku kayu depan Joglo Plumpang, memandang halaman hijau yang sejuk.

Sang pemandu tersenyum tipis. “Mungkin karena dia tidak berteriak. Tempat ini, hanya menunggu,” jawabnya.

Tak ada loket tiket, antrean, maupun mesin kasir. Rumah ini memberi tanpa menuntut. Tapi justru itu yang kadang terasa miris. Ribuan warisan budaya tersimpan di sini, tapi belum tentu masuk dalam kesadaran banyak orang.

Bukan karena tempat ini tidak menarik. Tapi mungkin karena kita terlalu sibuk mengejar yang baru, hingga lupa menengok cermin: siapa kita dan dari mana kita berasal. Di antara tempat-tempat wisata yang berlomba menawarkan atraksi dan sensasi, Setia Darma berdiri tenang. Tak memaksa. Tak membujuk. Ia hanya menawarkan ruang hening untuk merenung.

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

 

Topeng-topeng itu tidak meminta perhatian. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dikenang. Tapi hari-hari berlalu. Banyak yang lewat, sedikit yang betul-betul singgah.

Setiap topeng dan wayang di sini pernah “hidup”, “menari”, “bersuara”. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan kisah-kisah yang lebih panjang dari usia kita. Dan ketika sampai di sini, mereka tidak mati. Mereka hanya, menunggu. Menunggu pengunjung yang datang bukan hanya untuk memotret, tapi “melihat”. Menunggu mereka yang tak sekadar melintas, tapi benar-benar “mendengar”.

Waktu perlahan merayap menuju sore. Kedua turis itu duduk diam. Tak banyak bicara. Bahkan sang pemandu ikut larut dalam keheningan. Seolah semuanya sepakat: tempat ini lebih fasih berbicara lewat sunyi.

Sebelum melangkah pergi, si turis perempuan sempat menoleh lagi ke dalam. Lama. Seperti ingin mengingat setiap gurat wajah yang tergantung di sana. Lalu, perlahan, mereka pergi. Barangkali ada sesuatu dari tempat ini yang ikut mereka bawa pulang. Setia Darma kembali hening, tapi tak pernah benar-benar sepi. Karena mereka masih ada di sana. Menunggu. Sampai kisah mereka benar-benar selesai diceritakan.

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Tags: Desa KemenuhGianyarMuseumRumah Topeng dan Wayang Setia Darmasukawatitopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Next Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co