23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Panggung
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan untuk kembali melihat makanan bukan sekadar sajian di atas piring, melainkan hasil dari kerja panjang para petani, nelayan, peramu pangan, dan penjaga tradisi kuliner.

Selama empat hari, 28–31 Mei 2026, festival kuliner terbesar di Indonesia itu menghadirkan chef, pegiat gastronomi, produsen artisan, kreator makanan, hingga pecinta kuliner dari berbagai negara dalam perayaan yang tahun ini banyak berbicara tentang tanah, laut, dan masa depan pangan Indonesia.

Suasana itu sudah terasa sejak opening press conference digelar di Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Para chef, pegiat pangan, jurnalis, dan pelaku industri kuliner berkumpul dalam satu ruang untuk menandai dimulainya festival yang selama lebih dari satu dekade berkembang menjadi salah satu agenda gastronomi paling penting di Indonesia.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Di Rumah Kayu, Janet DeNeefe selaku Founder dan Director Ubud Food Festival duduk bersama sejumlah pembicara, termasuk penerima Lifetime Achievement Award tahun ini, Helianti Hilman. Dari awal hingga akhir sesi, percakapan terus kembali pada satu persoalan yang sama: semakin jauhnya hubungan manusia dengan tanah dan mereka yang menanam pangan.

“Salah satu isu mendesak yang sedang dihadapi Bali saat ini adalah menurunnya jumlah petani. Dibandingkan ketika saya pertama kali datang ke Bali bertahun-tahun lalu, jumlahnya menurun drastis, dan itu adalah sebuah tragedi,” ujar Janet DeNeefe.

Menurut Janet, isu pangan tidak pernah bisa dipisahkan dari keberadaan petani. Ia menyoroti pentingnya pertanian regeneratif dan perlunya membuat dunia pertanian kembali menarik bagi generasi muda.

“Karena itu kita perlu memberi perhatian pada pertanian regeneratif dan mendorong lebih banyak petani muda. Kita harus membuat dunia pertanian menjadi menarik bagi generasi muda dan terus membuka percakapan mengenai hal ini. Masalah lainnya adalah hilangnya sawah-sawah yang kini banyak berubah menjadi vila. Namun bagi saya, semuanya kembali pada para petani, karena tanpa mereka, kita tidak akan memiliki makanan untuk disantap,” lanjutnya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Tema “Farmers: Guardians of Land and Sea” memang menjadi benang merah seluruh program festival tahun ini. Selama empat hari, pengunjung dapat mengikuti Demo Masak, Food Talks, Chef’s Table, Masterclass, hingga menikmati Food Market gratis dengan lebih dari 70 tenant yang untuk pertama kalinya dibuka selama empat hari penuh.

Tahun ini, festival juga menghadirkan sejumlah nama internasional. Salah satu yang paling dinanti adalah chef pastry asal Australia, Kate Reid ꟷ founder Lune Croissanterie di Melbourne sekaligus mantan aerodynamicist Formula 1. Kroisan buatannya bahkan pernah disebut The New York Times sebagai yang terbaik di dunia. Reid dijadwalkan hadir dalam sesi bincang santai di Indus sebelum bergabung sebagai juri bersama Chef Tedjo dari Fas.a.Fas dan chef bakery Prancis, Jean-Marie Lanio untuk memilih Best Croissant in Bali.

Namun, sorotan utama festival tahun ini jatuh pada Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia yang menerima Lifetime Achievement Award atas dedikasinya selama puluhan tahun mendukung petani, peramu pangan, dan produsen pangan tradisional Indonesia.

“Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi. Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka,” ungkap Helianti.

 Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Janet DeNeefe menyebut Helianti sebagai sosok yang selama ini membantu dunia memahami kekayaan kuliner Indonesia dari akar paling dasar: tanah dan masyarakat adat.

“Festival ini selalu berdiri atas keyakinan bahwa makanan adalah sesuatu yang melampaui apa yang tersaji di atas piring, dan tidak ada sosok yang lebih merepresentasikan hal itu selain Helianti Hilman,” tutur Janet DeNeefe.

“Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut,” sambungnya.

Dalam konferensi pers itu, Helianti juga berbicara tentang bagaimana biodiversitas Indonesia seharusnya menjadi kekuatan utama bangsa ini dalam membangun masa depan gastronomi.

“Ketika Javara didirikan 18 tahun lalu, kami menyadari bahwa kekayaan terbesar Indonesia adalah biodiversitas dan budaya. Kombinasi keduanya sangat kuat dalam menjawab isu kedaulatan pangan, ekonomi inklusif, dan meningkatnya minat dunia terhadap wisata gastronomi,” ujar Helianti Hilman.

“Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal biodiversitas, baik di darat maupun laut, dan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, setiap budaya memiliki interpretasi tersendiri terhadap bahan pangan dan tradisi kuliner. Jika dikelola dengan baik, dan dengan lebih banyak dukungan serta inisiatif seperti Ubud Food Festival, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu destinasi gastronomi terdepan di dunia.”

Semangat itu akan dibawa Helianti ke salah satu jamuan makan spesial festival di Bambu Indah bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, dan Puan Rimba ꟷ kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat. Jamuan makan panjang itu akan menghadirkan bahan-bahan dan teknik memasak tradisional yang mulai terlupakan, mulai dari ikan sungai panggang hingga dedaunan dan rempah hutan yang jarang ditemui di atas piring.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Selain menghadirkan tokoh gastronomi, Ubud Food Festival tahun ini juga memberi ruang besar bagi percakapan tentang masa depan pangan Indonesia melalui program Food for Thought. Wali Kota Padang Fadly Amran akan membahas upaya Padang menuju UNESCO City of Gastronomy 2027, sementara pelopor pertanian organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, agripreneur Yeni Aspin, dan Agung Wedha akan berbagi cerita tentang kehidupan di dunia pertanian.

Festival juga berkolaborasi dengan TikTok untuk membahas bagaimana storytelling digital kini ikut membentuk cara masyarakat memahami dan mengonsumsi makanan. Kreator konten Vanessa Budihardja-Barus dan ecopreneur Dian Sonnerstedt dijadwalkan tampil dalam sesi tersebut.

Di luar panggung diskusi, festival bergerak menjadi ruang eksplorasi rasa dan kreativitas. Program Masterclass menghadirkan beragam praktik kuliner, mulai dari Bale Nagi: Brewing the Taste of Flores hingga sesi fotografi makanan bersama Ade Ardhana yang membahas storytelling melalui lensa.

Pada sesi Chef’s Table, Ben Devlin dari Byron Bay dan Simon Polkinghorne dari Masonry Canggu akan mempertemukan dua dapur dalam satu menu kolaboratif melalui demonstrasi memasak langsung yang menghadirkan ikan dipres di atas kertas dan teknik api pesisir.

Sementara di Teater Kuliner, bintang TikTok Venithya Calista dan pemenang MasterChef Indonesia Jesselyn Lauwreen akan merayakan budaya lalap Indonesia melalui demonstrasi ngulek langsung di hadapan penonton. Curry Smackdown kembali menghadirkan pertarungan seru antara Chef Wan dan Chef Jovan Koraag. Chef Glenn Erari dari SEMAJA juga akan mengeksplorasi bahan pangan khas Indonesia Timur melalui sajian Roti Abon dari Manokwari dan Ikan Tuna Gohu dari Ternate.

Pemutaran Trailer Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Percakapan tentang pangan lokal juga muncul dari para chef dan pelaku pertanian yang hadir dalam opening press conference.

“Saya rasa chef memiliki peran yang sangat penting sebagai jendela pertama untuk memperkenalkan bahan pangan dan produsen lokal. Setelah bekerja di restoran Thailand selama hampir tiga tahun, saya menyadari bahwa petani selalu menjadi fondasi dari kuliner yang hebat. Peran saya sebagai chef adalah menampilkan hasil kerja para petani dan nelayan lokal, sekaligus membantu menjaga nilai dari apa yang mereka hasilkan. Di tengah perkembangan teknik memasak modern saat ini, tantangannya adalah bagaimana kita menerapkan teknik tersebut sambil tetap menghormati tradisi dan membuat kuliner menjadi semakin baik,” ucap Joe Napol, chef Thailand peraih bintang Michelin.

Hal serupa disampaikan Yudha Permana, Executive Chef meimei dan YUKI, yang menilai hubungan antara dapur dan produsen lokal menjadi semakin penting.

“Saya sangat senang bisa kembali bergabung di Ubud Food Festival tahun ini dan berbicara tentang petani lokal serta bahan pangan lokal yang kami gunakan di Meimei. Kami bekerja sangat dekat dengan petani dan nelayan lokal karena Bali memiliki begitu banyak bahan pangan dan produsen luar biasa, dan saya sangat bangga dengan apa yang kita miliki di sini. Sebagai chef, tanggung jawab kami adalah terus mendukung produksi lokal, membangun hubungan yang lebih kuat dengan para petani dan produsen, serta memperkenalkan kekayaan bahan pangan dari Bali dan Indonesia kepada lebih banyak orang,” ungkap Yudha Permana.

Sementara itu, hortikulturis Indonesia sekaligus General Manager Island Organics Bali, Ramadhani Yudha Prasetya, menyoroti pentingnya mengenalkan kembali tanaman native ke dalam sistem pangan dan kuliner.

“Ada satu hal yang perlu kita pahami, yaitu perbedaan antara apa yang disebut native, lokal, dan eksotis dalam industri kuliner. Apa yang saya lakukan adalah memperkenalkan tanaman pangan yang bisa menciptakan kosakata baru dalam dunia kuliner dan pertanian di sini. Banyak sayuran yang kita konsumsi saat ini sebenarnya berasal dari benih impor yang diperkenalkan pada masa Revolusi Hijau di tahun 1980-an. Di perusahaan kami, ada lebih dari 300 jenis tanaman yang sudah terdata, namun hanya sekitar lima persen yang benar-benar merupakan tanaman asli lokal. Karena itulah, memperkenalkan tanaman native ke dalam sistem kuliner menjadi sangat penting,” ujar Ramadhani Yudha Prasetya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Saat malam tiba nanti, festival tidak hanya menjadi ruang untuk makanan, tetapi juga musik dan sastra. R.A.P. Party yang didirikan penyair peraih penghargaan Inua Ellams bersama sepuluh ahli spoken word akan menghadirkan perpaduan pembacaan puisi dan listening party dalam suasana yang lebih menyerupai pesta rumah daripada malam sastra. Chef Bernard bahkan akan menutup demonstrasi memasaknya dengan berpindah ke balik meja DJ.

Menjelang akhir konferensi pers, Janet DeNeefe kembali menegaskan semangat utama festival tahun ini: mengembalikan perhatian pada tanah, manusia, dan pengetahuan yang menjaga makanan tetap hidup.

“Festival tahun ini menjadi pengingat tentang makna sesungguhnya dari makanan: tanah, manusia, dan pengetahuan yang menghubungkan keduanya. Dari penjaga hutan dan petani organik hingga chef kelas dunia dan penyair spoken word, program tahun ini mencerminkan kedalaman dan keberagaman budaya pangan Indonesia dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Empat hari, satu meja, dan kami tidak sabar untuk membagikannya kepada semua orang,” tutup Janet DeNeefe. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Next Post

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails
Next Post
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co