4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Panggung
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan untuk kembali melihat makanan bukan sekadar sajian di atas piring, melainkan hasil dari kerja panjang para petani, nelayan, peramu pangan, dan penjaga tradisi kuliner.

Selama empat hari, 28–31 Mei 2026, festival kuliner terbesar di Indonesia itu menghadirkan chef, pegiat gastronomi, produsen artisan, kreator makanan, hingga pecinta kuliner dari berbagai negara dalam perayaan yang tahun ini banyak berbicara tentang tanah, laut, dan masa depan pangan Indonesia.

Suasana itu sudah terasa sejak opening press conference digelar di Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Para chef, pegiat pangan, jurnalis, dan pelaku industri kuliner berkumpul dalam satu ruang untuk menandai dimulainya festival yang selama lebih dari satu dekade berkembang menjadi salah satu agenda gastronomi paling penting di Indonesia.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Di Rumah Kayu, Janet DeNeefe selaku Founder dan Director Ubud Food Festival duduk bersama sejumlah pembicara, termasuk penerima Lifetime Achievement Award tahun ini, Helianti Hilman. Dari awal hingga akhir sesi, percakapan terus kembali pada satu persoalan yang sama: semakin jauhnya hubungan manusia dengan tanah dan mereka yang menanam pangan.

“Salah satu isu mendesak yang sedang dihadapi Bali saat ini adalah menurunnya jumlah petani. Dibandingkan ketika saya pertama kali datang ke Bali bertahun-tahun lalu, jumlahnya menurun drastis, dan itu adalah sebuah tragedi,” ujar Janet DeNeefe.

Menurut Janet, isu pangan tidak pernah bisa dipisahkan dari keberadaan petani. Ia menyoroti pentingnya pertanian regeneratif dan perlunya membuat dunia pertanian kembali menarik bagi generasi muda.

“Karena itu kita perlu memberi perhatian pada pertanian regeneratif dan mendorong lebih banyak petani muda. Kita harus membuat dunia pertanian menjadi menarik bagi generasi muda dan terus membuka percakapan mengenai hal ini. Masalah lainnya adalah hilangnya sawah-sawah yang kini banyak berubah menjadi vila. Namun bagi saya, semuanya kembali pada para petani, karena tanpa mereka, kita tidak akan memiliki makanan untuk disantap,” lanjutnya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Tema “Farmers: Guardians of Land and Sea” memang menjadi benang merah seluruh program festival tahun ini. Selama empat hari, pengunjung dapat mengikuti Demo Masak, Food Talks, Chef’s Table, Masterclass, hingga menikmati Food Market gratis dengan lebih dari 70 tenant yang untuk pertama kalinya dibuka selama empat hari penuh.

Tahun ini, festival juga menghadirkan sejumlah nama internasional. Salah satu yang paling dinanti adalah chef pastry asal Australia, Kate Reid ꟷ founder Lune Croissanterie di Melbourne sekaligus mantan aerodynamicist Formula 1. Kroisan buatannya bahkan pernah disebut The New York Times sebagai yang terbaik di dunia. Reid dijadwalkan hadir dalam sesi bincang santai di Indus sebelum bergabung sebagai juri bersama Chef Tedjo dari Fas.a.Fas dan chef bakery Prancis, Jean-Marie Lanio untuk memilih Best Croissant in Bali.

Namun, sorotan utama festival tahun ini jatuh pada Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia yang menerima Lifetime Achievement Award atas dedikasinya selama puluhan tahun mendukung petani, peramu pangan, dan produsen pangan tradisional Indonesia.

“Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi. Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka,” ungkap Helianti.

 Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Janet DeNeefe menyebut Helianti sebagai sosok yang selama ini membantu dunia memahami kekayaan kuliner Indonesia dari akar paling dasar: tanah dan masyarakat adat.

“Festival ini selalu berdiri atas keyakinan bahwa makanan adalah sesuatu yang melampaui apa yang tersaji di atas piring, dan tidak ada sosok yang lebih merepresentasikan hal itu selain Helianti Hilman,” tutur Janet DeNeefe.

“Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut,” sambungnya.

Dalam konferensi pers itu, Helianti juga berbicara tentang bagaimana biodiversitas Indonesia seharusnya menjadi kekuatan utama bangsa ini dalam membangun masa depan gastronomi.

“Ketika Javara didirikan 18 tahun lalu, kami menyadari bahwa kekayaan terbesar Indonesia adalah biodiversitas dan budaya. Kombinasi keduanya sangat kuat dalam menjawab isu kedaulatan pangan, ekonomi inklusif, dan meningkatnya minat dunia terhadap wisata gastronomi,” ujar Helianti Hilman.

“Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal biodiversitas, baik di darat maupun laut, dan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, setiap budaya memiliki interpretasi tersendiri terhadap bahan pangan dan tradisi kuliner. Jika dikelola dengan baik, dan dengan lebih banyak dukungan serta inisiatif seperti Ubud Food Festival, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu destinasi gastronomi terdepan di dunia.”

Semangat itu akan dibawa Helianti ke salah satu jamuan makan spesial festival di Bambu Indah bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, dan Puan Rimba ꟷ kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat. Jamuan makan panjang itu akan menghadirkan bahan-bahan dan teknik memasak tradisional yang mulai terlupakan, mulai dari ikan sungai panggang hingga dedaunan dan rempah hutan yang jarang ditemui di atas piring.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Selain menghadirkan tokoh gastronomi, Ubud Food Festival tahun ini juga memberi ruang besar bagi percakapan tentang masa depan pangan Indonesia melalui program Food for Thought. Wali Kota Padang Fadly Amran akan membahas upaya Padang menuju UNESCO City of Gastronomy 2027, sementara pelopor pertanian organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, agripreneur Yeni Aspin, dan Agung Wedha akan berbagi cerita tentang kehidupan di dunia pertanian.

Festival juga berkolaborasi dengan TikTok untuk membahas bagaimana storytelling digital kini ikut membentuk cara masyarakat memahami dan mengonsumsi makanan. Kreator konten Vanessa Budihardja-Barus dan ecopreneur Dian Sonnerstedt dijadwalkan tampil dalam sesi tersebut.

Di luar panggung diskusi, festival bergerak menjadi ruang eksplorasi rasa dan kreativitas. Program Masterclass menghadirkan beragam praktik kuliner, mulai dari Bale Nagi: Brewing the Taste of Flores hingga sesi fotografi makanan bersama Ade Ardhana yang membahas storytelling melalui lensa.

Pada sesi Chef’s Table, Ben Devlin dari Byron Bay dan Simon Polkinghorne dari Masonry Canggu akan mempertemukan dua dapur dalam satu menu kolaboratif melalui demonstrasi memasak langsung yang menghadirkan ikan dipres di atas kertas dan teknik api pesisir.

Sementara di Teater Kuliner, bintang TikTok Venithya Calista dan pemenang MasterChef Indonesia Jesselyn Lauwreen akan merayakan budaya lalap Indonesia melalui demonstrasi ngulek langsung di hadapan penonton. Curry Smackdown kembali menghadirkan pertarungan seru antara Chef Wan dan Chef Jovan Koraag. Chef Glenn Erari dari SEMAJA juga akan mengeksplorasi bahan pangan khas Indonesia Timur melalui sajian Roti Abon dari Manokwari dan Ikan Tuna Gohu dari Ternate.

Pemutaran Trailer Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Percakapan tentang pangan lokal juga muncul dari para chef dan pelaku pertanian yang hadir dalam opening press conference.

“Saya rasa chef memiliki peran yang sangat penting sebagai jendela pertama untuk memperkenalkan bahan pangan dan produsen lokal. Setelah bekerja di restoran Thailand selama hampir tiga tahun, saya menyadari bahwa petani selalu menjadi fondasi dari kuliner yang hebat. Peran saya sebagai chef adalah menampilkan hasil kerja para petani dan nelayan lokal, sekaligus membantu menjaga nilai dari apa yang mereka hasilkan. Di tengah perkembangan teknik memasak modern saat ini, tantangannya adalah bagaimana kita menerapkan teknik tersebut sambil tetap menghormati tradisi dan membuat kuliner menjadi semakin baik,” ucap Joe Napol, chef Thailand peraih bintang Michelin.

Hal serupa disampaikan Yudha Permana, Executive Chef meimei dan YUKI, yang menilai hubungan antara dapur dan produsen lokal menjadi semakin penting.

“Saya sangat senang bisa kembali bergabung di Ubud Food Festival tahun ini dan berbicara tentang petani lokal serta bahan pangan lokal yang kami gunakan di Meimei. Kami bekerja sangat dekat dengan petani dan nelayan lokal karena Bali memiliki begitu banyak bahan pangan dan produsen luar biasa, dan saya sangat bangga dengan apa yang kita miliki di sini. Sebagai chef, tanggung jawab kami adalah terus mendukung produksi lokal, membangun hubungan yang lebih kuat dengan para petani dan produsen, serta memperkenalkan kekayaan bahan pangan dari Bali dan Indonesia kepada lebih banyak orang,” ungkap Yudha Permana.

Sementara itu, hortikulturis Indonesia sekaligus General Manager Island Organics Bali, Ramadhani Yudha Prasetya, menyoroti pentingnya mengenalkan kembali tanaman native ke dalam sistem pangan dan kuliner.

“Ada satu hal yang perlu kita pahami, yaitu perbedaan antara apa yang disebut native, lokal, dan eksotis dalam industri kuliner. Apa yang saya lakukan adalah memperkenalkan tanaman pangan yang bisa menciptakan kosakata baru dalam dunia kuliner dan pertanian di sini. Banyak sayuran yang kita konsumsi saat ini sebenarnya berasal dari benih impor yang diperkenalkan pada masa Revolusi Hijau di tahun 1980-an. Di perusahaan kami, ada lebih dari 300 jenis tanaman yang sudah terdata, namun hanya sekitar lima persen yang benar-benar merupakan tanaman asli lokal. Karena itulah, memperkenalkan tanaman native ke dalam sistem kuliner menjadi sangat penting,” ujar Ramadhani Yudha Prasetya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Saat malam tiba nanti, festival tidak hanya menjadi ruang untuk makanan, tetapi juga musik dan sastra. R.A.P. Party yang didirikan penyair peraih penghargaan Inua Ellams bersama sepuluh ahli spoken word akan menghadirkan perpaduan pembacaan puisi dan listening party dalam suasana yang lebih menyerupai pesta rumah daripada malam sastra. Chef Bernard bahkan akan menutup demonstrasi memasaknya dengan berpindah ke balik meja DJ.

Menjelang akhir konferensi pers, Janet DeNeefe kembali menegaskan semangat utama festival tahun ini: mengembalikan perhatian pada tanah, manusia, dan pengetahuan yang menjaga makanan tetap hidup.

“Festival tahun ini menjadi pengingat tentang makna sesungguhnya dari makanan: tanah, manusia, dan pengetahuan yang menghubungkan keduanya. Dari penjaga hutan dan petani organik hingga chef kelas dunia dan penyair spoken word, program tahun ini mencerminkan kedalaman dan keberagaman budaya pangan Indonesia dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Empat hari, satu meja, dan kami tidak sabar untuk membagikannya kepada semua orang,” tutup Janet DeNeefe. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Next Post

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
0
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

Read moreDetails

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
0
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

Read moreDetails

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
0
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

Read moreDetails

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails
Next Post
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co