14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Panggung
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan untuk kembali melihat makanan bukan sekadar sajian di atas piring, melainkan hasil dari kerja panjang para petani, nelayan, peramu pangan, dan penjaga tradisi kuliner.

Selama empat hari, 28–31 Mei 2026, festival kuliner terbesar di Indonesia itu menghadirkan chef, pegiat gastronomi, produsen artisan, kreator makanan, hingga pecinta kuliner dari berbagai negara dalam perayaan yang tahun ini banyak berbicara tentang tanah, laut, dan masa depan pangan Indonesia.

Suasana itu sudah terasa sejak opening press conference digelar di Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Para chef, pegiat pangan, jurnalis, dan pelaku industri kuliner berkumpul dalam satu ruang untuk menandai dimulainya festival yang selama lebih dari satu dekade berkembang menjadi salah satu agenda gastronomi paling penting di Indonesia.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Di Rumah Kayu, Janet DeNeefe selaku Founder dan Director Ubud Food Festival duduk bersama sejumlah pembicara, termasuk penerima Lifetime Achievement Award tahun ini, Helianti Hilman. Dari awal hingga akhir sesi, percakapan terus kembali pada satu persoalan yang sama: semakin jauhnya hubungan manusia dengan tanah dan mereka yang menanam pangan.

“Salah satu isu mendesak yang sedang dihadapi Bali saat ini adalah menurunnya jumlah petani. Dibandingkan ketika saya pertama kali datang ke Bali bertahun-tahun lalu, jumlahnya menurun drastis, dan itu adalah sebuah tragedi,” ujar Janet DeNeefe.

Menurut Janet, isu pangan tidak pernah bisa dipisahkan dari keberadaan petani. Ia menyoroti pentingnya pertanian regeneratif dan perlunya membuat dunia pertanian kembali menarik bagi generasi muda.

“Karena itu kita perlu memberi perhatian pada pertanian regeneratif dan mendorong lebih banyak petani muda. Kita harus membuat dunia pertanian menjadi menarik bagi generasi muda dan terus membuka percakapan mengenai hal ini. Masalah lainnya adalah hilangnya sawah-sawah yang kini banyak berubah menjadi vila. Namun bagi saya, semuanya kembali pada para petani, karena tanpa mereka, kita tidak akan memiliki makanan untuk disantap,” lanjutnya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Tema “Farmers: Guardians of Land and Sea” memang menjadi benang merah seluruh program festival tahun ini. Selama empat hari, pengunjung dapat mengikuti Demo Masak, Food Talks, Chef’s Table, Masterclass, hingga menikmati Food Market gratis dengan lebih dari 70 tenant yang untuk pertama kalinya dibuka selama empat hari penuh.

Tahun ini, festival juga menghadirkan sejumlah nama internasional. Salah satu yang paling dinanti adalah chef pastry asal Australia, Kate Reid ꟷ founder Lune Croissanterie di Melbourne sekaligus mantan aerodynamicist Formula 1. Kroisan buatannya bahkan pernah disebut The New York Times sebagai yang terbaik di dunia. Reid dijadwalkan hadir dalam sesi bincang santai di Indus sebelum bergabung sebagai juri bersama Chef Tedjo dari Fas.a.Fas dan chef bakery Prancis, Jean-Marie Lanio untuk memilih Best Croissant in Bali.

Namun, sorotan utama festival tahun ini jatuh pada Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia yang menerima Lifetime Achievement Award atas dedikasinya selama puluhan tahun mendukung petani, peramu pangan, dan produsen pangan tradisional Indonesia.

“Makanan selalu lebih dari sekadar sumber nutrisi. Di dalamnya ada ingatan, identitas, dan pengetahuan lintas generasi. Saya berharap penghargaan ini membuat semakin banyak orang menghargai para petani dan peramu pangan yang telah menjaga warisan ini sepanjang hidup mereka,” ungkap Helianti.

 Helianti Hilman, pegiat gastronomi Indonesia di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Janet DeNeefe menyebut Helianti sebagai sosok yang selama ini membantu dunia memahami kekayaan kuliner Indonesia dari akar paling dasar: tanah dan masyarakat adat.

“Festival ini selalu berdiri atas keyakinan bahwa makanan adalah sesuatu yang melampaui apa yang tersaji di atas piring, dan tidak ada sosok yang lebih merepresentasikan hal itu selain Helianti Hilman,” tutur Janet DeNeefe.

“Sangat sedikit orang yang telah melakukan begitu banyak untuk melindungi petani, peramu pangan, dan warisan pangan biokultural Indonesia. Karyanya secara perlahan telah membentuk cara dunia memahami kuliner Indonesia. Kami merasa terhormat dapat memberikan penghargaan atas kontribusi tersebut,” sambungnya.

Dalam konferensi pers itu, Helianti juga berbicara tentang bagaimana biodiversitas Indonesia seharusnya menjadi kekuatan utama bangsa ini dalam membangun masa depan gastronomi.

“Ketika Javara didirikan 18 tahun lalu, kami menyadari bahwa kekayaan terbesar Indonesia adalah biodiversitas dan budaya. Kombinasi keduanya sangat kuat dalam menjawab isu kedaulatan pangan, ekonomi inklusif, dan meningkatnya minat dunia terhadap wisata gastronomi,” ujar Helianti Hilman.

“Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal biodiversitas, baik di darat maupun laut, dan dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, setiap budaya memiliki interpretasi tersendiri terhadap bahan pangan dan tradisi kuliner. Jika dikelola dengan baik, dan dengan lebih banyak dukungan serta inisiatif seperti Ubud Food Festival, Indonesia seharusnya bisa menjadi salah satu destinasi gastronomi terdepan di dunia.”

Semangat itu akan dibawa Helianti ke salah satu jamuan makan spesial festival di Bambu Indah bersama Chef Agus Hermawan, Chef Aaron Lumakeki, dan Puan Rimba ꟷ kolektif perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat. Jamuan makan panjang itu akan menghadirkan bahan-bahan dan teknik memasak tradisional yang mulai terlupakan, mulai dari ikan sungai panggang hingga dedaunan dan rempah hutan yang jarang ditemui di atas piring.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Selain menghadirkan tokoh gastronomi, Ubud Food Festival tahun ini juga memberi ruang besar bagi percakapan tentang masa depan pangan Indonesia melalui program Food for Thought. Wali Kota Padang Fadly Amran akan membahas upaya Padang menuju UNESCO City of Gastronomy 2027, sementara pelopor pertanian organik Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, agripreneur Yeni Aspin, dan Agung Wedha akan berbagi cerita tentang kehidupan di dunia pertanian.

Festival juga berkolaborasi dengan TikTok untuk membahas bagaimana storytelling digital kini ikut membentuk cara masyarakat memahami dan mengonsumsi makanan. Kreator konten Vanessa Budihardja-Barus dan ecopreneur Dian Sonnerstedt dijadwalkan tampil dalam sesi tersebut.

Di luar panggung diskusi, festival bergerak menjadi ruang eksplorasi rasa dan kreativitas. Program Masterclass menghadirkan beragam praktik kuliner, mulai dari Bale Nagi: Brewing the Taste of Flores hingga sesi fotografi makanan bersama Ade Ardhana yang membahas storytelling melalui lensa.

Pada sesi Chef’s Table, Ben Devlin dari Byron Bay dan Simon Polkinghorne dari Masonry Canggu akan mempertemukan dua dapur dalam satu menu kolaboratif melalui demonstrasi memasak langsung yang menghadirkan ikan dipres di atas kertas dan teknik api pesisir.

Sementara di Teater Kuliner, bintang TikTok Venithya Calista dan pemenang MasterChef Indonesia Jesselyn Lauwreen akan merayakan budaya lalap Indonesia melalui demonstrasi ngulek langsung di hadapan penonton. Curry Smackdown kembali menghadirkan pertarungan seru antara Chef Wan dan Chef Jovan Koraag. Chef Glenn Erari dari SEMAJA juga akan mengeksplorasi bahan pangan khas Indonesia Timur melalui sajian Roti Abon dari Manokwari dan Ikan Tuna Gohu dari Ternate.

Pemutaran Trailer Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Percakapan tentang pangan lokal juga muncul dari para chef dan pelaku pertanian yang hadir dalam opening press conference.

“Saya rasa chef memiliki peran yang sangat penting sebagai jendela pertama untuk memperkenalkan bahan pangan dan produsen lokal. Setelah bekerja di restoran Thailand selama hampir tiga tahun, saya menyadari bahwa petani selalu menjadi fondasi dari kuliner yang hebat. Peran saya sebagai chef adalah menampilkan hasil kerja para petani dan nelayan lokal, sekaligus membantu menjaga nilai dari apa yang mereka hasilkan. Di tengah perkembangan teknik memasak modern saat ini, tantangannya adalah bagaimana kita menerapkan teknik tersebut sambil tetap menghormati tradisi dan membuat kuliner menjadi semakin baik,” ucap Joe Napol, chef Thailand peraih bintang Michelin.

Hal serupa disampaikan Yudha Permana, Executive Chef meimei dan YUKI, yang menilai hubungan antara dapur dan produsen lokal menjadi semakin penting.

“Saya sangat senang bisa kembali bergabung di Ubud Food Festival tahun ini dan berbicara tentang petani lokal serta bahan pangan lokal yang kami gunakan di Meimei. Kami bekerja sangat dekat dengan petani dan nelayan lokal karena Bali memiliki begitu banyak bahan pangan dan produsen luar biasa, dan saya sangat bangga dengan apa yang kita miliki di sini. Sebagai chef, tanggung jawab kami adalah terus mendukung produksi lokal, membangun hubungan yang lebih kuat dengan para petani dan produsen, serta memperkenalkan kekayaan bahan pangan dari Bali dan Indonesia kepada lebih banyak orang,” ungkap Yudha Permana.

Sementara itu, hortikulturis Indonesia sekaligus General Manager Island Organics Bali, Ramadhani Yudha Prasetya, menyoroti pentingnya mengenalkan kembali tanaman native ke dalam sistem pangan dan kuliner.

“Ada satu hal yang perlu kita pahami, yaitu perbedaan antara apa yang disebut native, lokal, dan eksotis dalam industri kuliner. Apa yang saya lakukan adalah memperkenalkan tanaman pangan yang bisa menciptakan kosakata baru dalam dunia kuliner dan pertanian di sini. Banyak sayuran yang kita konsumsi saat ini sebenarnya berasal dari benih impor yang diperkenalkan pada masa Revolusi Hijau di tahun 1980-an. Di perusahaan kami, ada lebih dari 300 jenis tanaman yang sudah terdata, namun hanya sekitar lima persen yang benar-benar merupakan tanaman asli lokal. Karena itulah, memperkenalkan tanaman native ke dalam sistem kuliner menjadi sangat penting,” ujar Ramadhani Yudha Prasetya.

Opening Press Conference Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Saat malam tiba nanti, festival tidak hanya menjadi ruang untuk makanan, tetapi juga musik dan sastra. R.A.P. Party yang didirikan penyair peraih penghargaan Inua Ellams bersama sepuluh ahli spoken word akan menghadirkan perpaduan pembacaan puisi dan listening party dalam suasana yang lebih menyerupai pesta rumah daripada malam sastra. Chef Bernard bahkan akan menutup demonstrasi memasaknya dengan berpindah ke balik meja DJ.

Menjelang akhir konferensi pers, Janet DeNeefe kembali menegaskan semangat utama festival tahun ini: mengembalikan perhatian pada tanah, manusia, dan pengetahuan yang menjaga makanan tetap hidup.

“Festival tahun ini menjadi pengingat tentang makna sesungguhnya dari makanan: tanah, manusia, dan pengetahuan yang menghubungkan keduanya. Dari penjaga hutan dan petani organik hingga chef kelas dunia dan penyair spoken word, program tahun ini mencerminkan kedalaman dan keberagaman budaya pangan Indonesia dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Empat hari, satu meja, dan kami tidak sabar untuk membagikannya kepada semua orang,” tutup Janet DeNeefe. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Next Post

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co