24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
in Esai
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

I Gusti Made Darma Putra

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang tak pernah tidur. Kuta modern dikonstruksikan sebagai ruang konsumsi yang tercerabut dari akar spritualnya. Namun, jika kita mengupas lapisan-lapisan artifisial pariwisata tersebut, kita akan menemukan bahwa jauh sebelum wilayah ini diidentifikasi sebagai pusat pelancongan global, pesisir ini adalah ruang kebudayaan yang melahirkan salah satu pencapaian estetika paling radikal dalam sejarah Bali.

Kuta bukan sekadar wilayah geografis daerah ini adalah rahim peradaban seni. Di tanah pesisir inilah, Peradaban Palegongan lahir, tumbuh, dan memancarkan pengaruhnya yang secara fundamental mengubah arah estetika seni pertunjukan Bali modern. Membaca Kuta melalui kacamata Peradaban Palegongan berarti menolak cara pandang hegemonik yang melihat kesenian tradisional sekadar sebagai produk hiburan masa lalu atau pelengkap ritus yang statis.

PALEGONGAN SEBAGAI SISTEM BERPIKIR DAN OTONOMI ESTETIKA

Palegongan di Kuta, di bawah kejeniusan maestro I Wayan Lotring, adalah sebuah sistem berpikir. Sebelum era Gong Kebyar mendominasi lanskap musikal Bali dengan karakternya yang meledak-ledak, Palegongan adalah puncak dari kecerdasan karawitan Bali yang paling rumit, transparan, dan membutuhkan disiplin mental yang tinggi. Gamelan Palegongan, dengan keterbatasan bilahnya, justru menuntut komposer untuk melahirkan kreativitas yang melampaui batas fisik instrumen.

Di tengah masyarakat Bali awal abad ke-20 yang menempatkan kesenian dalam sekat-sekat sakralitas ritual murni (ngayah), Kuta menawarkan antitesisnya yang revolusioner. Melalui Palegongan, Kuta merumuskan ulang hubungan antara manusia, ruang, dan bunyi. Musik tidak lagi dipandang semata-mata sebagai fungsionalisme upacara keagamaan, melainkan diangkat derajatnya menjadi sebuah kesadaran artistik yang otonom. Lotring datang membawa kedewasaan kompositoris, sebuah kesadaran bahwa bunyi memiliki haknya sendiri untuk dinikmati, diapresiasi, dan ditafsirkan sebagai struktur estetika yang mandiri. Ini adalah benih pertama dari apa yang kita sebut sebagai modernisme musik di Bali.

KARAKTER PESISIR: ANTARA PRESISI MATEMATIKA DAN WATAK CAIR

Keberanian melakukan pembaruan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bentukan dari ekologi spasial Kuta itu sendiri. Karakter pesisir yang terbuka, dinamis, dan terbiasa berhadapan dengan ufuk yang luas membentuk watak peradaban yang berani mendobrak kemapanan pedalaman. Melodi-melodi Palegongan gaya Kuta seperti yang abadi dalam mahakarya Layar Samah adalah manifestasi visual yang ditransformasikan ke dalam sebuah karya.

Gending Layar Samah bukan sekadar representasi jukung nelayan yang diterpa angin senja, melainkan sebuah struktur musikal yang cair, dinamis, penuh kejutan ritmis yang tak terduga, namun diikat oleh presisi kotekan (jalinan nada) yang sangat ketat. Ada paradoks estetika yang jenius di sini, kelenturan rasa pesisir yang dipadukan dengan ketepatan matematika yang rigid. Julukan “Jarum Emas Murni” dari para etnomusikolog dunia untuk Lotring bukanlah sekadar pujian atas kemahiran teknis jemarinya, melainkan pengakuan filosofis terhadap sebuah lompatan cara berpikir kontemporer yang melampaui zamannya.

KOSMOPOLITANISME ORGANIK: DIALOG YANG SETARA

Melalui Peradaban Palegongan ini pula, Kuta menjelma menjadi ruang kosmopolitan budaya yang organik jauh sebelum istilah globalisasi diarsiteki oleh industri modern. Ketika Lotring terlibat dalam dialog intelektual dan musikal yang intens dengan komposer Barat seperti Colin McPhee pada dekade 1930-an, Kuta tidak sedang memposisikan diri sebagai objek eksotisme yang pasif. Kuta adalah subjek penentu arah diskusi.

Di Kuta, struktur musik Barat yang berbasis pada partitur dan linearitas bertemu dengan struktur musik Timur yang berbasis pada kelisanan (orality) dan siklus (cyclic). Pertemuan ini bukan untuk saling mengubur atau mengasimilasi secara murahan, melainkan untuk saling menguji kedalaman estetika masing-masing. Palegongan Kuta menjadi bukti otentik bahwa modernitas Bali tidak harus lahir dari imitasi buta terhadap Barat, melainkan dari radikalisasi tradisi lokal itu sendiri. Kuta membuktikan bahwa menjadi universal bisa dicapai dengan menjadi sangat lokal yang sublim.

MENGEMBALIKAN AKAR ASAL KUTA

Oleh karena itu, mereduksi Kuta hanya sebagai narasi sejarah perkembangan pariwisata atau sekadar titik pendaratan wisatawan adalah sebuah kecacatan epistemologis yang fatal. Kuta harus dikembalikan ke akar asalnya sebagai episentrum peradaban seni yang pernah melahirkan cetak biru (blueprint) bagi estetika Bali kontemporer.

Warisan Lotring dan Peradaban Palegongan Kuta memberikan kita sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana sebuah kebudayaan merawat daya hidupnya. Tradisi tidak dijaga dengan cara membeku dalam museum ingatan, melainkan dengan cara ditantang melalui hal-hal baru yang berani. Di tanah pesisir ini, melalui gending Palegongan, Bali pernah menemukan keberanian paling intim untuk bergerak maju tanpa pernah kehilangan jangkar kulturalnya.

Kuta adalah sebuah manifesto kebudayaan, sebuah ruang di mana Palegongan tidak sekadar dipentaskan di atas panggung, melainkan dihidupi sebagai sebuah peradaban berpikir yang melintasi batas waktu. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutalegongpalegongan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Next Post

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co