3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
in Esai
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

I Gusti Made Darma Putra

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang tak pernah tidur. Kuta modern dikonstruksikan sebagai ruang konsumsi yang tercerabut dari akar spritualnya. Namun, jika kita mengupas lapisan-lapisan artifisial pariwisata tersebut, kita akan menemukan bahwa jauh sebelum wilayah ini diidentifikasi sebagai pusat pelancongan global, pesisir ini adalah ruang kebudayaan yang melahirkan salah satu pencapaian estetika paling radikal dalam sejarah Bali.

Kuta bukan sekadar wilayah geografis daerah ini adalah rahim peradaban seni. Di tanah pesisir inilah, Peradaban Palegongan lahir, tumbuh, dan memancarkan pengaruhnya yang secara fundamental mengubah arah estetika seni pertunjukan Bali modern. Membaca Kuta melalui kacamata Peradaban Palegongan berarti menolak cara pandang hegemonik yang melihat kesenian tradisional sekadar sebagai produk hiburan masa lalu atau pelengkap ritus yang statis.

PALEGONGAN SEBAGAI SISTEM BERPIKIR DAN OTONOMI ESTETIKA

Palegongan di Kuta, di bawah kejeniusan maestro I Wayan Lotring, adalah sebuah sistem berpikir. Sebelum era Gong Kebyar mendominasi lanskap musikal Bali dengan karakternya yang meledak-ledak, Palegongan adalah puncak dari kecerdasan karawitan Bali yang paling rumit, transparan, dan membutuhkan disiplin mental yang tinggi. Gamelan Palegongan, dengan keterbatasan bilahnya, justru menuntut komposer untuk melahirkan kreativitas yang melampaui batas fisik instrumen.

Di tengah masyarakat Bali awal abad ke-20 yang menempatkan kesenian dalam sekat-sekat sakralitas ritual murni (ngayah), Kuta menawarkan antitesisnya yang revolusioner. Melalui Palegongan, Kuta merumuskan ulang hubungan antara manusia, ruang, dan bunyi. Musik tidak lagi dipandang semata-mata sebagai fungsionalisme upacara keagamaan, melainkan diangkat derajatnya menjadi sebuah kesadaran artistik yang otonom. Lotring datang membawa kedewasaan kompositoris, sebuah kesadaran bahwa bunyi memiliki haknya sendiri untuk dinikmati, diapresiasi, dan ditafsirkan sebagai struktur estetika yang mandiri. Ini adalah benih pertama dari apa yang kita sebut sebagai modernisme musik di Bali.

KARAKTER PESISIR: ANTARA PRESISI MATEMATIKA DAN WATAK CAIR

Keberanian melakukan pembaruan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bentukan dari ekologi spasial Kuta itu sendiri. Karakter pesisir yang terbuka, dinamis, dan terbiasa berhadapan dengan ufuk yang luas membentuk watak peradaban yang berani mendobrak kemapanan pedalaman. Melodi-melodi Palegongan gaya Kuta seperti yang abadi dalam mahakarya Layar Samah adalah manifestasi visual yang ditransformasikan ke dalam sebuah karya.

Gending Layar Samah bukan sekadar representasi jukung nelayan yang diterpa angin senja, melainkan sebuah struktur musikal yang cair, dinamis, penuh kejutan ritmis yang tak terduga, namun diikat oleh presisi kotekan (jalinan nada) yang sangat ketat. Ada paradoks estetika yang jenius di sini, kelenturan rasa pesisir yang dipadukan dengan ketepatan matematika yang rigid. Julukan “Jarum Emas Murni” dari para etnomusikolog dunia untuk Lotring bukanlah sekadar pujian atas kemahiran teknis jemarinya, melainkan pengakuan filosofis terhadap sebuah lompatan cara berpikir kontemporer yang melampaui zamannya.

KOSMOPOLITANISME ORGANIK: DIALOG YANG SETARA

Melalui Peradaban Palegongan ini pula, Kuta menjelma menjadi ruang kosmopolitan budaya yang organik jauh sebelum istilah globalisasi diarsiteki oleh industri modern. Ketika Lotring terlibat dalam dialog intelektual dan musikal yang intens dengan komposer Barat seperti Colin McPhee pada dekade 1930-an, Kuta tidak sedang memposisikan diri sebagai objek eksotisme yang pasif. Kuta adalah subjek penentu arah diskusi.

Di Kuta, struktur musik Barat yang berbasis pada partitur dan linearitas bertemu dengan struktur musik Timur yang berbasis pada kelisanan (orality) dan siklus (cyclic). Pertemuan ini bukan untuk saling mengubur atau mengasimilasi secara murahan, melainkan untuk saling menguji kedalaman estetika masing-masing. Palegongan Kuta menjadi bukti otentik bahwa modernitas Bali tidak harus lahir dari imitasi buta terhadap Barat, melainkan dari radikalisasi tradisi lokal itu sendiri. Kuta membuktikan bahwa menjadi universal bisa dicapai dengan menjadi sangat lokal yang sublim.

MENGEMBALIKAN AKAR ASAL KUTA

Oleh karena itu, mereduksi Kuta hanya sebagai narasi sejarah perkembangan pariwisata atau sekadar titik pendaratan wisatawan adalah sebuah kecacatan epistemologis yang fatal. Kuta harus dikembalikan ke akar asalnya sebagai episentrum peradaban seni yang pernah melahirkan cetak biru (blueprint) bagi estetika Bali kontemporer.

Warisan Lotring dan Peradaban Palegongan Kuta memberikan kita sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana sebuah kebudayaan merawat daya hidupnya. Tradisi tidak dijaga dengan cara membeku dalam museum ingatan, melainkan dengan cara ditantang melalui hal-hal baru yang berani. Di tanah pesisir ini, melalui gending Palegongan, Bali pernah menemukan keberanian paling intim untuk bergerak maju tanpa pernah kehilangan jangkar kulturalnya.

Kuta adalah sebuah manifesto kebudayaan, sebuah ruang di mana Palegongan tidak sekadar dipentaskan di atas panggung, melainkan dihidupi sebagai sebuah peradaban berpikir yang melintasi batas waktu. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutalegongpalegongan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Next Post

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co