30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
August 10, 2026
in Panggung
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Sebagian bergerak mengikuti musik—bahkan sampai ada yang berdansa. Menjelang tengah malam, penonton masih ramai di Giri Stage, pada penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026.

Malam penutupan terasa sedikit berbeda. Pengunjung terlihat lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Mungkin karena mereka tahu ini malam terakhir. Mungkin juga karena sudah dua hari larut dalam suasana festival, sehingga pulang terasa sedikit berat.

Saya datang ke UVJF dengan satu pengalaman yang paling terasa sejak awal, yaitu kedekatan.

Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.

Beberapa penampil itu sempat saya ajak berbincang santai pasca manggung. Saya sempat ngobrol dengan Indra Gupta dari Pong Nakornchai Ensemble, juga dengan Ayu Viby bersama kawan-kawan Westside Vinyl DeeJays.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok UVJF

Jarak antara penonton dan musisi terasa dekat. Setelah tampil, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Itu yang membuat pengalaman menonton di UVJF terasa intim dan hangat.

Penontonnya juga beragam. Ada keluarga dengan anak-anak, pasangan, orang yang datang sendiri, penonton dewasa, sampai bule-bule yang cukup banyak terlihat di antara kerumunan.

Di salah satu bagian festival, anak-anak memiliki ruang sendiri untuk bermain dan menggambar sambil mendengarkan musik jazz. Bagi saya, ini menarik. Anak-anak bisa mengenal jazz tanpa harus duduk dengan sikap seperti sedang mengikuti pelajaran musik. Mereka bermain, musik berjalan. Keduanya bertemu dengan cara yang sederhana.

Vinyl, Obrolan, Komunitas, dan Reuni Fans

Area Community Stage punya suasana yang berbeda dari panggung utama.

Di sana Westside Vinyl DeeJays memainkan musik jazz dari piringan hitam. Di sekilingnya terdapat stand makanan dan minuman. Orang-orang duduk, makan, minum, mengobrol, lalu sesekali memperhatikan musik yang sedang diputar. Area ini yang paling guyup, seperti tempat bertemunya orang-orang memang. Pengunjung dari Giri Stage yang ingin ke Subak Stage akan melewati area ini, begitu juga sebaliknya.

Ini semacam area kumpul komunitas, bahkan bukan hanya komunitas musik. Orang-orang dari berbagai latar komunitas yang berbeda bisa guyup di area ini.

“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” ungkap UVJF Committee Diana Surya.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di Community Space, orang-orang tetap ngobrol dengan teman mereka, musik menjadi bagian dari suasana tanpa harus mengambil seluruh perhatian. Ada yang sibuk dengan makanan. Ada yang sekadar duduk. Tetapi, vinyl jazz terus berputar di tengah percakapan itu. Suasananya guyup.

Malam itu saya juga menonton Ayu Viby bermain vinyl. Dengan kacamata minus dan rambut yang mulai banyak beruban, perempuan paruh baya itu tetap terlihat enjoy memutar piringan hitam.

Ada satu kejadian kecil yang menurut saya menarik. Seorang perempuan paruh baya—sekilas lebih tua dari Ayu Viby—datang dari kursi penonton dan menghampiri Ayu. Ia berterima kasih karena sudah memainkan lagu-lagu lawas yang ia sukai. Salah satunya lagu dari Al Jarreau. Saat menghampiri Ayu Viny, perempuan itu seperti sedang reuni sesama fans Al Jarreau—selain sesama paruh baya juga sesama generasi X yang masih gila musik.

Momen itu sederhana. Tetapi menunjukkan bagaimana sebuah lagu bisa mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan saling mengenal jika tidak berada di tempat itu.

Ketika Jazz Membuat Penonton Tersihir

Salah satu penampilan yang paling saya rasakan malam itu datang dari Pong Nakornchai Ensemble. Saya seperti ditarik masuk ke dalam alunan musik mereka.

Pong Nakornchai memainkan drum dengan tenaga yang berubah-ubah. Ada saat ketika pukulannya cepat dan keras. Ada pula bagian ketika ia bermain sangat pelan, gerakannya kadang seperti memukul, kadang seperti membelai.

Ekspresinya ketika bermain juga menarik untuk diperhatikan. Kepala plontos dengan ekspresi serius tapi ketukan drumnya halus-halus sopan kadang.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di panggung yang sama, permainan contrabass Indra Gupta membuat saya melihat alat musik itu dengan cara berbeda. Selama ini saya membayangkan contrabass sebagai alat musik yang berat dan kaku. Di tangan Indra, instrumen itu justru terasa hidup dan menyenangkan.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg.

Saya cukup lama terdiam mendengarkan mereka. Musiknya membuat perhatian saya tertarik penuh ke panggung. Barangkali jika ada orang memanggil saat itu, mungkin saya tidak akan mendengarnya.

Penonton juga memberikan respons yang spontan. Beberapa kali terdengar suara dari kerumunan. “Huuuuuuuhhhh.Aaaahhhhhh”

Seperti suara orang yang baru saja dirangsang sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Penampilan lain yang apik juga datang dari H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka—biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU. Mereka tampil di Giri Stage membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Trio instrumental asal Jepang itu membuat saya melongo tanpa sadar. Penampilan pianisnya cukup akrobatik menurut saya, entah terbuat dari apa jari-jemarinya itu. Barangkali itu juga, jika mengetik nama band ini dengan album Questune di YouTube, maka yang muncul adalah gambar album mereka dengan gurita yang memainkan piano menggunakan tentakelnya. Pantas saja, pikir saya.

Di malam penupatan itu, ada juga Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

Lalu ada Peperzak Quartet—dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors—yang membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam.

Orang-Orang yang Datang dan Merasa Ikut Memiliki

Selama dua hari, saya melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bercampur di festival.

Ada musisi muda, musisi senior, musisi Indonesia, dan musisi dari berbagai negara. Ada komunitas, keluarga, wisatawan, pekerja festival, tenant, dan penonton.

Di UVJF, batas-batas itu terasa cair. Penonton juga tidak seperti orang yang hanya datang membeli tiket kemudian duduk menonton pertunjukan. Mereka seperti ikut menjadi bagian dari suasana festival.

Hal itu terasa ketika Aji Anom Darsana memberikan sambutan pada penghujung acara. Ia bertanya kepada penonton, apakah mereka love dengan festival ini? Penonton menjawab serentak, “Love! banget”.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi suasana yang mengikutinya cukup terasa. Orang-orang masih bertahan meski waktu sudah mendekati tengah malam.

Kemudian Salamander Big Band memainkan musiknya. Banyak warna bunyi bertemu dalam satu panggung. Ritmenya membuat energi Giri Stage kembali naik. Orang-orang bergerak dan beberapa di antaranya berdansa. Festival terasa belum selesai meskipun pertunjukan sudah berada di penghujung.

Membawa Jazz Lebih Dekat

Ada anggapan bahwa jazz adalah musik yang sulit dijangkau. Musik yang dekat dengan kalangan tertentu dan sering dianggap terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.

Pengalaman di UVJF terasa berbeda. Jazz bisa terdengar dari piringan hitam ketika orang sedang ngobrol. Bisa didengarkan anak-anak sambil bermain dan menggambar. Bisa membuat penonton diam karena terlalu larut mendengarkan permainan musik. Bisa membuat seseorang mengenang lagu lama dari Al Jarreau.

Mungkin itu yang sedang dilakukan UVJF. Membuat orang terhubung dengan jazz dan hal-hal lainnya.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Festival ini mempertemukan orang dengan musik, tetapi juga mempertemukan orang dengan orang lain dan dengan berbagai isu yang ada di sekitar mereka. Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha—menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan. Delapan seniman itu ada Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.

Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan lahir dari barang bekas, material daur ulang, hingga sisa industri untuk kemudian diolah menjadi karya seni.

Bagi saya, jazz malam itu terasa dekat. Dekat dengan telinga, dekat dengan tubuh, dan dekat dengan orang-orang yang menikmatinya serta orang-orang yang menjadi bagian darinya.[T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

Tags: Sthala Ubud Village Jazz FestivalSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Next Post

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co