31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
August 10, 2026
in Panggung
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Sebagian bergerak mengikuti musik—bahkan sampai ada yang berdansa. Menjelang tengah malam, penonton masih ramai di Giri Stage, pada penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026.

Malam penutupan terasa sedikit berbeda. Pengunjung terlihat lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Mungkin karena mereka tahu ini malam terakhir. Mungkin juga karena sudah dua hari larut dalam suasana festival, sehingga pulang terasa sedikit berat.

Saya datang ke UVJF dengan satu pengalaman yang paling terasa sejak awal, yaitu kedekatan.

Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.

Beberapa penampil itu sempat saya ajak berbincang santai pasca manggung. Saya sempat ngobrol dengan Indra Gupta dari Pong Nakornchai Ensemble, juga dengan Ayu Viby bersama kawan-kawan Westside Vinyl DeeJays.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok UVJF

Jarak antara penonton dan musisi terasa dekat. Setelah tampil, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Itu yang membuat pengalaman menonton di UVJF terasa intim dan hangat.

Penontonnya juga beragam. Ada keluarga dengan anak-anak, pasangan, orang yang datang sendiri, penonton dewasa, sampai bule-bule yang cukup banyak terlihat di antara kerumunan.

Di salah satu bagian festival, anak-anak memiliki ruang sendiri untuk bermain dan menggambar sambil mendengarkan musik jazz. Bagi saya, ini menarik. Anak-anak bisa mengenal jazz tanpa harus duduk dengan sikap seperti sedang mengikuti pelajaran musik. Mereka bermain, musik berjalan. Keduanya bertemu dengan cara yang sederhana.

Vinyl, Obrolan, Komunitas, dan Reuni Fans

Area Community Stage punya suasana yang berbeda dari panggung utama.

Di sana Westside Vinyl DeeJays memainkan musik jazz dari piringan hitam. Di sekilingnya terdapat stand makanan dan minuman. Orang-orang duduk, makan, minum, mengobrol, lalu sesekali memperhatikan musik yang sedang diputar. Area ini yang paling guyup, seperti tempat bertemunya orang-orang memang. Pengunjung dari Giri Stage yang ingin ke Subak Stage akan melewati area ini, begitu juga sebaliknya.

Ini semacam area kumpul komunitas, bahkan bukan hanya komunitas musik. Orang-orang dari berbagai latar komunitas yang berbeda bisa guyup di area ini.

“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” ungkap UVJF Committee Diana Surya.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di Community Space, orang-orang tetap ngobrol dengan teman mereka, musik menjadi bagian dari suasana tanpa harus mengambil seluruh perhatian. Ada yang sibuk dengan makanan. Ada yang sekadar duduk. Tetapi, vinyl jazz terus berputar di tengah percakapan itu. Suasananya guyup.

Malam itu saya juga menonton Ayu Viby bermain vinyl. Dengan kacamata minus dan rambut yang mulai banyak beruban, perempuan paruh baya itu tetap terlihat enjoy memutar piringan hitam.

Ada satu kejadian kecil yang menurut saya menarik. Seorang perempuan paruh baya—sekilas lebih tua dari Ayu Viby—datang dari kursi penonton dan menghampiri Ayu. Ia berterima kasih karena sudah memainkan lagu-lagu lawas yang ia sukai. Salah satunya lagu dari Al Jarreau. Saat menghampiri Ayu Viny, perempuan itu seperti sedang reuni sesama fans Al Jarreau—selain sesama paruh baya juga sesama generasi X yang masih gila musik.

Momen itu sederhana. Tetapi menunjukkan bagaimana sebuah lagu bisa mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan saling mengenal jika tidak berada di tempat itu.

Ketika Jazz Membuat Penonton Tersihir

Salah satu penampilan yang paling saya rasakan malam itu datang dari Pong Nakornchai Ensemble. Saya seperti ditarik masuk ke dalam alunan musik mereka.

Pong Nakornchai memainkan drum dengan tenaga yang berubah-ubah. Ada saat ketika pukulannya cepat dan keras. Ada pula bagian ketika ia bermain sangat pelan, gerakannya kadang seperti memukul, kadang seperti membelai.

Ekspresinya ketika bermain juga menarik untuk diperhatikan. Kepala plontos dengan ekspresi serius tapi ketukan drumnya halus-halus sopan kadang.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di panggung yang sama, permainan contrabass Indra Gupta membuat saya melihat alat musik itu dengan cara berbeda. Selama ini saya membayangkan contrabass sebagai alat musik yang berat dan kaku. Di tangan Indra, instrumen itu justru terasa hidup dan menyenangkan.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg.

Saya cukup lama terdiam mendengarkan mereka. Musiknya membuat perhatian saya tertarik penuh ke panggung. Barangkali jika ada orang memanggil saat itu, mungkin saya tidak akan mendengarnya.

Penonton juga memberikan respons yang spontan. Beberapa kali terdengar suara dari kerumunan. “Huuuuuuuhhhh.Aaaahhhhhh”

Seperti suara orang yang baru saja dirangsang sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Penampilan lain yang apik juga datang dari H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka—biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU. Mereka tampil di Giri Stage membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Trio instrumental asal Jepang itu membuat saya melongo tanpa sadar. Penampilan pianisnya cukup akrobatik menurut saya, entah terbuat dari apa jari-jemarinya itu. Barangkali itu juga, jika mengetik nama band ini dengan album Questune di YouTube, maka yang muncul adalah gambar album mereka dengan gurita yang memainkan piano menggunakan tentakelnya. Pantas saja, pikir saya.

Di malam penupatan itu, ada juga Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

Lalu ada Peperzak Quartet—dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors—yang membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam.

Orang-Orang yang Datang dan Merasa Ikut Memiliki

Selama dua hari, saya melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bercampur di festival.

Ada musisi muda, musisi senior, musisi Indonesia, dan musisi dari berbagai negara. Ada komunitas, keluarga, wisatawan, pekerja festival, tenant, dan penonton.

Di UVJF, batas-batas itu terasa cair. Penonton juga tidak seperti orang yang hanya datang membeli tiket kemudian duduk menonton pertunjukan. Mereka seperti ikut menjadi bagian dari suasana festival.

Hal itu terasa ketika Aji Anom Darsana memberikan sambutan pada penghujung acara. Ia bertanya kepada penonton, apakah mereka love dengan festival ini? Penonton menjawab serentak, “Love! banget”.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi suasana yang mengikutinya cukup terasa. Orang-orang masih bertahan meski waktu sudah mendekati tengah malam.

Kemudian Salamander Big Band memainkan musiknya. Banyak warna bunyi bertemu dalam satu panggung. Ritmenya membuat energi Giri Stage kembali naik. Orang-orang bergerak dan beberapa di antaranya berdansa. Festival terasa belum selesai meskipun pertunjukan sudah berada di penghujung.

Membawa Jazz Lebih Dekat

Ada anggapan bahwa jazz adalah musik yang sulit dijangkau. Musik yang dekat dengan kalangan tertentu dan sering dianggap terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.

Pengalaman di UVJF terasa berbeda. Jazz bisa terdengar dari piringan hitam ketika orang sedang ngobrol. Bisa didengarkan anak-anak sambil bermain dan menggambar. Bisa membuat penonton diam karena terlalu larut mendengarkan permainan musik. Bisa membuat seseorang mengenang lagu lama dari Al Jarreau.

Mungkin itu yang sedang dilakukan UVJF. Membuat orang terhubung dengan jazz dan hal-hal lainnya.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Festival ini mempertemukan orang dengan musik, tetapi juga mempertemukan orang dengan orang lain dan dengan berbagai isu yang ada di sekitar mereka. Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha—menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan. Delapan seniman itu ada Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.

Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan lahir dari barang bekas, material daur ulang, hingga sisa industri untuk kemudian diolah menjadi karya seni.

Bagi saya, jazz malam itu terasa dekat. Dekat dengan telinga, dekat dengan tubuh, dan dekat dengan orang-orang yang menikmatinya serta orang-orang yang menjadi bagian darinya.[T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

Tags: Sthala Ubud Village Jazz FestivalSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Next Post

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co