ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Sebagian bergerak mengikuti musik—bahkan sampai ada yang berdansa. Menjelang tengah malam, penonton masih ramai di Giri Stage, pada penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026.
Malam penutupan terasa sedikit berbeda. Pengunjung terlihat lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Mungkin karena mereka tahu ini malam terakhir. Mungkin juga karena sudah dua hari larut dalam suasana festival, sehingga pulang terasa sedikit berat.
Saya datang ke UVJF dengan satu pengalaman yang paling terasa sejak awal, yaitu kedekatan.
Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.
Beberapa penampil itu sempat saya ajak berbincang santai pasca manggung. Saya sempat ngobrol dengan Indra Gupta dari Pong Nakornchai Ensemble, juga dengan Ayu Viby bersama kawan-kawan Westside Vinyl DeeJays.

Jarak antara penonton dan musisi terasa dekat. Setelah tampil, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Itu yang membuat pengalaman menonton di UVJF terasa intim dan hangat.
Penontonnya juga beragam. Ada keluarga dengan anak-anak, pasangan, orang yang datang sendiri, penonton dewasa, sampai bule-bule yang cukup banyak terlihat di antara kerumunan.
Di salah satu bagian festival, anak-anak memiliki ruang sendiri untuk bermain dan menggambar sambil mendengarkan musik jazz. Bagi saya, ini menarik. Anak-anak bisa mengenal jazz tanpa harus duduk dengan sikap seperti sedang mengikuti pelajaran musik. Mereka bermain, musik berjalan. Keduanya bertemu dengan cara yang sederhana.
Vinyl, Obrolan, Komunitas, dan Reuni Fans
Area Community Stage punya suasana yang berbeda dari panggung utama.
Di sana Westside Vinyl DeeJays memainkan musik jazz dari piringan hitam. Di sekilingnya terdapat stand makanan dan minuman. Orang-orang duduk, makan, minum, mengobrol, lalu sesekali memperhatikan musik yang sedang diputar. Area ini yang paling guyup, seperti tempat bertemunya orang-orang memang. Pengunjung dari Giri Stage yang ingin ke Subak Stage akan melewati area ini, begitu juga sebaliknya.
Ini semacam area kumpul komunitas, bahkan bukan hanya komunitas musik. Orang-orang dari berbagai latar komunitas yang berbeda bisa guyup di area ini.
“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” ungkap UVJF Committee Diana Surya.

Di Community Space, orang-orang tetap ngobrol dengan teman mereka, musik menjadi bagian dari suasana tanpa harus mengambil seluruh perhatian. Ada yang sibuk dengan makanan. Ada yang sekadar duduk. Tetapi, vinyl jazz terus berputar di tengah percakapan itu. Suasananya guyup.
Malam itu saya juga menonton Ayu Viby bermain vinyl. Dengan kacamata minus dan rambut yang mulai banyak beruban, perempuan paruh baya itu tetap terlihat enjoy memutar piringan hitam.
Ada satu kejadian kecil yang menurut saya menarik. Seorang perempuan paruh baya—sekilas lebih tua dari Ayu Viby—datang dari kursi penonton dan menghampiri Ayu. Ia berterima kasih karena sudah memainkan lagu-lagu lawas yang ia sukai. Salah satunya lagu dari Al Jarreau. Saat menghampiri Ayu Viny, perempuan itu seperti sedang reuni sesama fans Al Jarreau—selain sesama paruh baya juga sesama generasi X yang masih gila musik.
Momen itu sederhana. Tetapi menunjukkan bagaimana sebuah lagu bisa mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan saling mengenal jika tidak berada di tempat itu.
Ketika Jazz Membuat Penonton Tersihir
Salah satu penampilan yang paling saya rasakan malam itu datang dari Pong Nakornchai Ensemble. Saya seperti ditarik masuk ke dalam alunan musik mereka.
Pong Nakornchai memainkan drum dengan tenaga yang berubah-ubah. Ada saat ketika pukulannya cepat dan keras. Ada pula bagian ketika ia bermain sangat pelan, gerakannya kadang seperti memukul, kadang seperti membelai.
Ekspresinya ketika bermain juga menarik untuk diperhatikan. Kepala plontos dengan ekspresi serius tapi ketukan drumnya halus-halus sopan kadang.

Di panggung yang sama, permainan contrabass Indra Gupta membuat saya melihat alat musik itu dengan cara berbeda. Selama ini saya membayangkan contrabass sebagai alat musik yang berat dan kaku. Di tangan Indra, instrumen itu justru terasa hidup dan menyenangkan.
Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg.
Saya cukup lama terdiam mendengarkan mereka. Musiknya membuat perhatian saya tertarik penuh ke panggung. Barangkali jika ada orang memanggil saat itu, mungkin saya tidak akan mendengarnya.
Penonton juga memberikan respons yang spontan. Beberapa kali terdengar suara dari kerumunan. “Huuuuuuuhhhh.Aaaahhhhhh”
Seperti suara orang yang baru saja dirangsang sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.
Penampilan lain yang apik juga datang dari H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka—biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU. Mereka tampil di Giri Stage membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE.

Trio instrumental asal Jepang itu membuat saya melongo tanpa sadar. Penampilan pianisnya cukup akrobatik menurut saya, entah terbuat dari apa jari-jemarinya itu. Barangkali itu juga, jika mengetik nama band ini dengan album Questune di YouTube, maka yang muncul adalah gambar album mereka dengan gurita yang memainkan piano menggunakan tentakelnya. Pantas saja, pikir saya.
Di malam penupatan itu, ada juga Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.
Lalu ada Peperzak Quartet—dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors—yang membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta.

String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam.
Orang-Orang yang Datang dan Merasa Ikut Memiliki
Selama dua hari, saya melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bercampur di festival.
Ada musisi muda, musisi senior, musisi Indonesia, dan musisi dari berbagai negara. Ada komunitas, keluarga, wisatawan, pekerja festival, tenant, dan penonton.
Di UVJF, batas-batas itu terasa cair. Penonton juga tidak seperti orang yang hanya datang membeli tiket kemudian duduk menonton pertunjukan. Mereka seperti ikut menjadi bagian dari suasana festival.
Hal itu terasa ketika Aji Anom Darsana memberikan sambutan pada penghujung acara. Ia bertanya kepada penonton, apakah mereka love dengan festival ini? Penonton menjawab serentak, “Love! banget”.

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi suasana yang mengikutinya cukup terasa. Orang-orang masih bertahan meski waktu sudah mendekati tengah malam.
Kemudian Salamander Big Band memainkan musiknya. Banyak warna bunyi bertemu dalam satu panggung. Ritmenya membuat energi Giri Stage kembali naik. Orang-orang bergerak dan beberapa di antaranya berdansa. Festival terasa belum selesai meskipun pertunjukan sudah berada di penghujung.
Membawa Jazz Lebih Dekat
Ada anggapan bahwa jazz adalah musik yang sulit dijangkau. Musik yang dekat dengan kalangan tertentu dan sering dianggap terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.
Pengalaman di UVJF terasa berbeda. Jazz bisa terdengar dari piringan hitam ketika orang sedang ngobrol. Bisa didengarkan anak-anak sambil bermain dan menggambar. Bisa membuat penonton diam karena terlalu larut mendengarkan permainan musik. Bisa membuat seseorang mengenang lagu lama dari Al Jarreau.
Mungkin itu yang sedang dilakukan UVJF. Membuat orang terhubung dengan jazz dan hal-hal lainnya.

Festival ini mempertemukan orang dengan musik, tetapi juga mempertemukan orang dengan orang lain dan dengan berbagai isu yang ada di sekitar mereka. Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha—menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan. Delapan seniman itu ada Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.
Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan lahir dari barang bekas, material daur ulang, hingga sisa industri untuk kemudian diolah menjadi karya seni.
Bagi saya, jazz malam itu terasa dekat. Dekat dengan telinga, dekat dengan tubuh, dan dekat dengan orang-orang yang menikmatinya serta orang-orang yang menjadi bagian darinya.[T]
Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto






























