20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
August 10, 2026
in Panggung
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Sebagian bergerak mengikuti musik—bahkan sampai ada yang berdansa. Menjelang tengah malam, penonton masih ramai di Giri Stage, pada penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026.

Malam penutupan terasa sedikit berbeda. Pengunjung terlihat lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Mungkin karena mereka tahu ini malam terakhir. Mungkin juga karena sudah dua hari larut dalam suasana festival, sehingga pulang terasa sedikit berat.

Saya datang ke UVJF dengan satu pengalaman yang paling terasa sejak awal, yaitu kedekatan.

Line-up malam itu juga menampilkan Koko Harsoe & SAN Trio, Watchdog dari Prancis, Pong Nakornchai Ensemble, Dodot Trio, hingga String Corner Project, sebelum festival resmi ditutup oleh H ZETTRIO, Jadi Peperzak Quartet, dan Salamander Big Band menjelang tengah malam.

Beberapa penampil itu sempat saya ajak berbincang santai pasca manggung. Saya sempat ngobrol dengan Indra Gupta dari Pong Nakornchai Ensemble, juga dengan Ayu Viby bersama kawan-kawan Westside Vinyl DeeJays.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok UVJF

Jarak antara penonton dan musisi terasa dekat. Setelah tampil, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Itu yang membuat pengalaman menonton di UVJF terasa intim dan hangat.

Penontonnya juga beragam. Ada keluarga dengan anak-anak, pasangan, orang yang datang sendiri, penonton dewasa, sampai bule-bule yang cukup banyak terlihat di antara kerumunan.

Di salah satu bagian festival, anak-anak memiliki ruang sendiri untuk bermain dan menggambar sambil mendengarkan musik jazz. Bagi saya, ini menarik. Anak-anak bisa mengenal jazz tanpa harus duduk dengan sikap seperti sedang mengikuti pelajaran musik. Mereka bermain, musik berjalan. Keduanya bertemu dengan cara yang sederhana.

Vinyl, Obrolan, Komunitas, dan Reuni Fans

Area Community Stage punya suasana yang berbeda dari panggung utama.

Di sana Westside Vinyl DeeJays memainkan musik jazz dari piringan hitam. Di sekilingnya terdapat stand makanan dan minuman. Orang-orang duduk, makan, minum, mengobrol, lalu sesekali memperhatikan musik yang sedang diputar. Area ini yang paling guyup, seperti tempat bertemunya orang-orang memang. Pengunjung dari Giri Stage yang ingin ke Subak Stage akan melewati area ini, begitu juga sebaliknya.

Ini semacam area kumpul komunitas, bahkan bukan hanya komunitas musik. Orang-orang dari berbagai latar komunitas yang berbeda bisa guyup di area ini.

“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” ungkap UVJF Committee Diana Surya.

Suasana Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di Community Space, orang-orang tetap ngobrol dengan teman mereka, musik menjadi bagian dari suasana tanpa harus mengambil seluruh perhatian. Ada yang sibuk dengan makanan. Ada yang sekadar duduk. Tetapi, vinyl jazz terus berputar di tengah percakapan itu. Suasananya guyup.

Malam itu saya juga menonton Ayu Viby bermain vinyl. Dengan kacamata minus dan rambut yang mulai banyak beruban, perempuan paruh baya itu tetap terlihat enjoy memutar piringan hitam.

Ada satu kejadian kecil yang menurut saya menarik. Seorang perempuan paruh baya—sekilas lebih tua dari Ayu Viby—datang dari kursi penonton dan menghampiri Ayu. Ia berterima kasih karena sudah memainkan lagu-lagu lawas yang ia sukai. Salah satunya lagu dari Al Jarreau. Saat menghampiri Ayu Viny, perempuan itu seperti sedang reuni sesama fans Al Jarreau—selain sesama paruh baya juga sesama generasi X yang masih gila musik.

Momen itu sederhana. Tetapi menunjukkan bagaimana sebuah lagu bisa mempertemukan dua orang yang mungkin tidak akan saling mengenal jika tidak berada di tempat itu.

Ketika Jazz Membuat Penonton Tersihir

Salah satu penampilan yang paling saya rasakan malam itu datang dari Pong Nakornchai Ensemble. Saya seperti ditarik masuk ke dalam alunan musik mereka.

Pong Nakornchai memainkan drum dengan tenaga yang berubah-ubah. Ada saat ketika pukulannya cepat dan keras. Ada pula bagian ketika ia bermain sangat pelan, gerakannya kadang seperti memukul, kadang seperti membelai.

Ekspresinya ketika bermain juga menarik untuk diperhatikan. Kepala plontos dengan ekspresi serius tapi ketukan drumnya halus-halus sopan kadang.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Di panggung yang sama, permainan contrabass Indra Gupta membuat saya melihat alat musik itu dengan cara berbeda. Selama ini saya membayangkan contrabass sebagai alat musik yang berat dan kaku. Di tangan Indra, instrumen itu justru terasa hidup dan menyenangkan.

Pong Nakornchai Ensemble mempertemukan drummer Thailand Pong Nakornchai, bassist Indonesia Indra Gupta, dan gitaris Michael Ananda Aartsen dalam komposisi saksofonis Amerika Joe Rosenberg.

Saya cukup lama terdiam mendengarkan mereka. Musiknya membuat perhatian saya tertarik penuh ke panggung. Barangkali jika ada orang memanggil saat itu, mungkin saya tidak akan mendengarnya.

Penonton juga memberikan respons yang spontan. Beberapa kali terdengar suara dari kerumunan. “Huuuuuuuhhhh.Aaaahhhhhh”

Seperti suara orang yang baru saja dirangsang sesuatu yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata.

Penampilan lain yang apik juga datang dari H ZETTRIO, trio instrumental asal Jepang yang dikenal lewat hidung berwarna khas mereka—biru untuk pianis H ZETT M, merah untuk bassist H ZETT NIRE, dan perak untuk drummer H ZETT KOU. Mereka tampil di Giri Stage membawakan materi dari album terbaru mereka, QUESTUNE.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Trio instrumental asal Jepang itu membuat saya melongo tanpa sadar. Penampilan pianisnya cukup akrobatik menurut saya, entah terbuat dari apa jari-jemarinya itu. Barangkali itu juga, jika mengetik nama band ini dengan album Questune di YouTube, maka yang muncul adalah gambar album mereka dengan gurita yang memainkan piano menggunakan tentakelnya. Pantas saja, pikir saya.

Di malam penupatan itu, ada juga Watchdog, duo asal Prancis yang terdiri dari Anne Quillier (piano, keyboard, Moog, vokal) dan Pierre Horckmans (klarinet bas), membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Fables, dengan dukungan AJC (Association Jazzé Croisé) dan Institut Français Indonésie.

Lalu ada Peperzak Quartet—dipimpin gitaris Belanda Jadi Peperzak bersama pianis Indonesia Kasyfi Kalyasyena, bassist Nepal Sulav Maharjan, dan drummer Belanda Rafael Slors—yang membawakan materi dari album debut mereka, Amity, yang terinspirasi antara lain oleh Pat Metheny, Kurt Rosenwinkel, Wayne Shorter, dan Herbie Hancock, dengan dukungan Erasmus Huis Jakarta.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

String Corner Project turut mengisi Subak Stage dengan perpaduan gitar flamenco, improvisasi jazz, dan ritme Nusantara melalui kolaborasi gitaris Adien Fazmail dan Icang Rahimy. Festival kemudian resmi ditutup oleh Salamander Big Band di Giri Stage menjelang tengah malam.

Orang-Orang yang Datang dan Merasa Ikut Memiliki

Selama dua hari, saya melihat orang-orang dengan latar belakang yang berbeda bercampur di festival.

Ada musisi muda, musisi senior, musisi Indonesia, dan musisi dari berbagai negara. Ada komunitas, keluarga, wisatawan, pekerja festival, tenant, dan penonton.

Di UVJF, batas-batas itu terasa cair. Penonton juga tidak seperti orang yang hanya datang membeli tiket kemudian duduk menonton pertunjukan. Mereka seperti ikut menjadi bagian dari suasana festival.

Hal itu terasa ketika Aji Anom Darsana memberikan sambutan pada penghujung acara. Ia bertanya kepada penonton, apakah mereka love dengan festival ini? Penonton menjawab serentak, “Love! banget”.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi suasana yang mengikutinya cukup terasa. Orang-orang masih bertahan meski waktu sudah mendekati tengah malam.

Kemudian Salamander Big Band memainkan musiknya. Banyak warna bunyi bertemu dalam satu panggung. Ritmenya membuat energi Giri Stage kembali naik. Orang-orang bergerak dan beberapa di antaranya berdansa. Festival terasa belum selesai meskipun pertunjukan sudah berada di penghujung.

Membawa Jazz Lebih Dekat

Ada anggapan bahwa jazz adalah musik yang sulit dijangkau. Musik yang dekat dengan kalangan tertentu dan sering dianggap terlalu rumit untuk dinikmati semua orang.

Pengalaman di UVJF terasa berbeda. Jazz bisa terdengar dari piringan hitam ketika orang sedang ngobrol. Bisa didengarkan anak-anak sambil bermain dan menggambar. Bisa membuat penonton diam karena terlalu larut mendengarkan permainan musik. Bisa membuat seseorang mengenang lagu lama dari Al Jarreau.

Mungkin itu yang sedang dilakukan UVJF. Membuat orang terhubung dengan jazz dan hal-hal lainnya.

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 | Foto: Dok. UVJF

Festival ini mempertemukan orang dengan musik, tetapi juga mempertemukan orang dengan orang lain dan dengan berbagai isu yang ada di sekitar mereka. Sepanjang dua hari festival, pameran seni “Second Life” oleh kolektif Kala Patha—menampilkan karya delapan seniman yang mengangkat isu daur ulang dan keberlanjutan. Delapan seniman itu ada Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova.

Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan lahir dari barang bekas, material daur ulang, hingga sisa industri untuk kemudian diolah menjadi karya seni.

Bagi saya, jazz malam itu terasa dekat. Dekat dengan telinga, dekat dengan tubuh, dan dekat dengan orang-orang yang menikmatinya serta orang-orang yang menjadi bagian darinya.[T]

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto

Tags: Sthala Ubud Village Jazz FestivalSthala Ubud Village Jazz Festival 2026Ubud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

Next Post

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co