22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Pacet Mereka Kembali

Jaswanto by Jaswanto
June 2, 2026
in Tualang
Ke Pacet Mereka Kembali

Kawasan pemandian air panas di Desa Padusan, Pacet, Mojokerto | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendominasi jalanan―bahkan nyaris menguasainya. Di antara deru yang menyemut itu, saya terkantuk-kantuk di bangku belakang mobil yang membawa saya menuju Pacet, Mojokerto―tempat yang oleh kendaraan L dan W itu tuju. “Biasa, libur panjang. Orang Surabaya pada ke Pacet,” ujar istri saya menjelaskan.

Pacet. Kata ini yang sendari tadi keluar dari mulut istri saya. Tentu saja saya belum pernah sakali pun ke sana. Karena itu saya tak punya bayangan apa pun tentangnya. Tapi saya tahu, tempat itu merupakan tujuan banyak orang Surabaya di akhir pekan atau hari libur.

Dan saya tidak mengada-ada. Setiap akhir pekan, Surabaya seperti kota yang sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Kota yang ramai ini bisa menjadi lengang ketika akhir pekan (Sabtu-Minggu) tiba. Sejak Sabtu pagi, jalan-jalan menuju arah selatan biasanya selalu dipenuhi kendaraan. Mobil keluarga, sepeda motor, hingga rombongan pesepeda beriringan meninggalkan kota. Mereka bergerak menuju tempat-tempat yang menjanjikan sesuatu yang semakin langka di Surabaya, yakni udara sejuk, sungai-sungai jernih, undak-undakan sawah, pepohonan, dan kesempatan untuk mendengar suara selain klakson dan deru kendaraan atau mencium sesuatu selain bau selokan dan sampah yang menggunung.

Saya berangkat pagi hari dari Surabaya. Tapi kota itu sudah panas bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Beton-aspal memantulkan cahaya dengan ganas. Gedung-gedung berkaca tumbuh semakin rapat setiap tahun, sementara pohon-pohon tampak semakin tersisih ke pinggir. Surabaya memang bangga menjadi kota modern, kota industri, kota jasa, kota perdagangan. Namun di balik semua kebanggaan itu, ada sesuatu yang menyusut―dan perlahan menghilang―yaitu ruang untuk bernapas. Barangkali itulah sebabnya mengapa setiap akhir pekan ribuan orang berbondong-bondong menuju Pacet. Mereka ingin mencari apa yang tidak lagi bisa diberikan oleh kotanya sendiri.

Menjelang siang, setelah melewati banyak kelokan menanjak yang membuat kepala saya gliyengan, juga para calo villa “sotime”―yang berdiri di pinggir jalan menawarkan jasa penginapan kepada pengguna jalan, terutama pasangan yang mengendarai sepeda motor di jalur utama menuju wisata Air Panas Padusan, tepatnya di sepanjang Jalan Raya RA Kartini, Dusun Made, hingga ke Jalan Air Panas, Desa Padusan―dan bangunan-bangunan baru Koperasi Merah Putih yang teronggok kesepian di lereng-lereng bukit terpencil, akhirnya saya sampai di tujuan: kawasan wisata Air Panas Padusan, Pacet, Mojokerto, yang berada di ketiak Gunung Welirang―yang masih menghasilkan belerang.

Tetapi, perjalanan menuju Desa Padusan terasa seperti perpindahan alam yang kontras. Jalan mulai menanjak. Hutan pinus bermunculan di sisi kanan dan kiri. Udara berubah pelan-pelan. Jendela mobil yang semula tertutup rapat karena panas mulai dibuka. Aroma tanah basah dan dedaunan masuk menggantikan bau aspal dan asap kendaraan. Dari sini saya sadar bahwa warga Surabaya rela berkendara hampir dua jam di jalan sempit-berkelok-menanjak hanya untuk mendapatkan udara segar yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar manusia.

Sampai di sini, saya kira, Pacet telah menjadi semacam katup penyelamat bagi masyarakat urban Surabaya. Bukan sekadar tujuan wisata, melainkan tempat pelarian. Di sini orang-orang datang membawa kelelahan yang samar. Mereka membawa stres pekerjaan, target penjualan, rapat daring yang tak ada habisnya, serta kehidupan kota yang menuntut manusia untuk terus produktif bahkan ketika tubuhnya sudah meminta berhenti.

Kota besar sering kali membanggakan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan investasi. Namun ukuran keberhasilan kota jarang dihitung dari pertanyaan apakah warganya betah tinggal di sana tanpa perlu melarikan diri setiap akhir pekan? Jika setiap hari kerja dihabiskan dalam panas, kemacetan, dan tekanan hidup yang membuat orang tergesa-gesa mencari pegunungan begitu hari libur tiba, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi dari cara kota itu dibangun.

Beberapa orang berendam di kolam pemandian air panas The Full Hot Spring & Resort, Pacet, Mojokerto. Foto ini diambil sebelum kolam penuh oleh pengunjung. | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sementara itu, di wilayah Pacet, tepatnya di kawasan Padusan, ada sederet pemandian air panas yang menjadi destinasi favorit wisatawan untuk relaksasi dan terapi. Dikelilingi hutan tropis dan udara pegunungan yang sejuk, kawasan ini menjadi tempat ideal untuk melepas penat dari rutinitas harian. Di sana ada Pemandian Air Panas Padusan, De’Qoem Qoem, JACUZZI Pool Cafe & Karaoke, Whirphool Kolam Rendam Air Panas, FOREST ONSEN Hot Water Bath Pacet, The Full Hot Spring & Resort, dan lainnya. Semuanya menawarkan narasi relaksasi dengan air panas alami—sebuah kekayaan alam yang membuat Surabaya berusaha mati-matian untuk meraihnya.

Kabut tipis mulai turun dari lereng Welirang. Di kawasan ini, pemandian air panas bukanlah hal baru. Sejak lama orang datang ke Pacet untuk berendam. Namun kini wajah wisata Padusan berubah. Resort, vila, kafe, dan berbagai fasilitas baru bermunculan mengikuti arus kebutuhan wisatawan kota.

Saya memilih berendam di The Full Hot Spring & Resort. Tubuh yang sejak pagi duduk di kendaraan perlahan rileks ketika menyentuh air panas 39 derajat Celsius. Uap tipis mengepul dari permukaan kolam. Di kejauhan, pinus-pinus berdiri diam diselimuti kabut. Suasana itu menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di kota metropolitan.

Namun, bahkan di tempat yang tenang ini, jejak kota tetap mengikuti. Beberapa pengunjung sibuk mengatur sudut kamera sebelum masuk kolam. Ada yang menghabiskan lebih banyak waktu memotret daripada menikmati air panas. Sebagian lain terlihat lebih fokus mengunggah foto ke media sosial ketimbang menikmati pemandangan di hadapannya. Rasanya seperti melihat warga kota membawa kebisingannya sendiri ke tengah pegunungan yang menenangkan. Ah, rupanya kita hidup pada masa ketika relaksasi pun sering kali berubah menjadi pertunjukan. Masih banyak orang yang datang untuk mencari ketenangan sekaligus ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka sedang tenang. Saya tersenyum sendiri.

“Dari mana, Mas?” suara itu membuyarkan lamunan saya. Seorang bapak tambun paruh-baya baru saja menceburkan diri di samping kiri saya. Sejenak saya terpaku sebelum akhirnya menjawab dari Surabaya. Dia mengaku dari Gresik. Namanya Herman. Setiap akhir pekan bersama keluarganya dia rutin berendam air panas di sini. “Supaya sendi-sendi tidak kaku,” ia menjelaskan tujuannya beremdam air panas. Saya mengaguk saja. Lalu memandangi wajahnya yang mulai memerah terkena air panas. Usianya mungkin mendekati enam puluh tahun. Perutnya sedikit membuncit. Rambutnya mulai menipis. Ia tampak seperti kebanyakan bapak-bapak yang saya temui di kota-kota industri sekitar Surabaya: bekerja puluhan tahun, membesarkan anak, membayar cicilan rumah, lalu perlahan menyadari tubuh mereka tak lagi setangguh dulu.

Herman mungkin datang untuk menghangatkan sendi-sendinya. Tetapi saya curiga, yang ingin ia pulihkan bukan hanya lutut atau punggungnya. Ada kelelahan yang lebih panjang dari sekadar pegal-pegal fisik. Kelelahan karena bertahun-tahun hidup dalam ritme kawasan metropolitan yang terus bergerak tanpa banyak memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat.

Saya membayangkan Senin pagi yang akan dihadapi Herman. Jalanan padat. Jam kerja yang panjang. Dering telepon. Tagihan bulanan. Urusan keluarga. Semua itu akan kembali menunggunya setelah ia meninggalkan Pacet. Barangkali karena itulah ia terus datang ke tempat ini. Bukan karena air panasnya semata, melainkan karena di sini ia bisa mencuri jeda yang sulit ditemukan di tempat lain.

Herman bukan pengecualian. Ia justru representasi dari ribuan orang yang setiap akhir pekan memenuhi jalur menuju Pacet. Mereka adalah generasi yang menikmati hasil pembangunan ekonomi sekaligus menanggung konsekuensinya. Mereka memiliki kendaraan pribadi, daya beli untuk berwisata, dan akses menuju berbagai tempat rekreasi. Namun pada saat yang sama mereka hidup dalam lingkungan yang semakin padat, semakin panas, dan semakin melelahkan. Kota-kota metropolitan dibangun untuk menciptakan kenyamanan hidup, tetapi justru menghasilkan kebutuhan untuk sesekali melarikan diri darinya. Herman dan ribuan pengunjung lain datang ke Pacet karena kota tempat mereka bekerja tidak lagi mampu menyediakan apa yang mereka cari.

Di tempat kami—saya dan Herman—berendam, pengunjung semakin ramai. Kebanyak lansia dan paruh baya. Ada pemuda, tapi tak banyak. Ada anak-anak, tapi tak berendam di kolam air panas. Mereka berenang dan bersenang-senang di kolam air dingin.

Pedagang oleh-oleh yang berderet di sepanjang jalur menuju kawasan pemandian air panas di Desa Padusan, Pacet, Mojokerto. Suasana ini mirip di Bedugul, Tabanan, Bali. | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Orang-orang seperti Herman rela berkali-kali kembali ke Pacet karena alasan klasik: Perjalanannya tak cukup jauh sementara harga yang harus dibayar tak terlalu mahal. Meski mungkin ia tak tahu bahwa di balik keindahan lembah Pacet, di kaki Arjuno-Welirang-Anjasamoro, tempat ini juga rawan menjadi lokasi pembuangan korban kejahatan dan rawan kecelakaan. Bahkan tak sedikit orang menyebutnya Lembah Mayat.

Wilayah Pacet, Mojokerto, berada di lembah yang diapit empat gunung besar: Penanggungan, Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro. Kawasan lereng Gunung Welirang memang menawarkan pariwisata alam yang indah—terkenal melalui jalur Cangar-Pacet—tetapi juga menyimpan kerawanan bencana seperti longsor dan banjir bandang. Bencana pernah terjadi di pemandian air panas Padusan, Pacet, Desember 2002, yang menewaskan 26 orang dan Februari 2004 dengan korban tewas 17 orang.

Di Padusan dan di beberapa desa sekitarnya ada 23 objek wisata berupa pemandian air panas, tempat arung jeram, air terjun, bumi perkemahan, dan area kegiatan alam terbuka. Namun, petaka tahun 2002 dan 2004 membuktikan, pengembangan pariwisata yang tidak terkendali memicu alih fungsi lahan yang membahayakan keselamatan masyarakat. Hutan di lereng pegunungan seluas hampir 50.000 hektar dibabat tanpa sisa.

Saya memandang kabut yang bergerak perlahan di antara pepohonan. Di kejauhan terdengar suara kendaraan yang masih berdatangan. Nanti sore mereka akan kembali ke Surabaya. Selasa pagi mereka akan kembali menghadapi rapat, target, kemacetan, dan suhu kota yang terasa semakin panas setiap tahun.

Saya rasa Pacet tidak dapat menyelesaikan masalah itu. Ia hanya memberi jeda. Semacam ruang tunggu bagi orang-orang yang lelah hidup di kota yang terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, tetapi sering lupa menyediakan ketenangan bagi warganya. Dan selama Surabaya terus berkembang tanpa cukup ruang hijau, tanpa cukup tempat untuk bernapas, serta tanpa cukup keheningan untuk ditinggali, arus manusia menuju Pacet setiap akhir pekan tampaknya akan terus berlangsung. Sebab, terkadang, bagi beberapa orang, tujuan sebuah perjalanan bukanlah upaya mencari tempat baru. Melainkan usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang di kota yang kita tinggali.

Ketika saya meninggalkan kolam rendam, Herman masih duduk di sudut yang sama. Ia tampak menikmati hangat air yang mengepul perlahan di bawah kabut Welirang. Besok atau lusa ia akan kembali ke rutinitasnya. Mungkin beberapa minggu lagi ia akan datang lagi ke Pacet, seperti yang sudah berkali-kali ia lakukan sebelumnya.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya bukan tentang Herman seorang. Ia hanya satu wajah dari ribuan wajah lain yang setiap akhir pekan bergerak dari Surabaya, Gresik, atau Sidoarjo menuju lereng-lereng pegunungan Mojokerto. Mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda, tetapi membawa kebutuhan yang sama: mencari ruang untuk bernapas.[T]

Reprter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurMojokertoPacet MojokertoPariwisatapariwisata jawa timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Next Post

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co