22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Pacet Mereka Kembali

Jaswanto by Jaswanto
June 2, 2026
in Tualang
Ke Pacet Mereka Kembali

Kawasan pemandian air panas di Desa Padusan, Pacet, Mojokerto | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendominasi jalanan―bahkan nyaris menguasainya. Di antara deru yang menyemut itu, saya terkantuk-kantuk di bangku belakang mobil yang membawa saya menuju Pacet, Mojokerto―tempat yang oleh kendaraan L dan W itu tuju. “Biasa, libur panjang. Orang Surabaya pada ke Pacet,” ujar istri saya menjelaskan.

Pacet. Kata ini yang sendari tadi keluar dari mulut istri saya. Tentu saja saya belum pernah sakali pun ke sana. Karena itu saya tak punya bayangan apa pun tentangnya. Tapi saya tahu, tempat itu merupakan tujuan banyak orang Surabaya di akhir pekan atau hari libur.

Dan saya tidak mengada-ada. Setiap akhir pekan, Surabaya seperti kota yang sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Kota yang ramai ini bisa menjadi lengang ketika akhir pekan (Sabtu-Minggu) tiba. Sejak Sabtu pagi, jalan-jalan menuju arah selatan biasanya selalu dipenuhi kendaraan. Mobil keluarga, sepeda motor, hingga rombongan pesepeda beriringan meninggalkan kota. Mereka bergerak menuju tempat-tempat yang menjanjikan sesuatu yang semakin langka di Surabaya, yakni udara sejuk, sungai-sungai jernih, undak-undakan sawah, pepohonan, dan kesempatan untuk mendengar suara selain klakson dan deru kendaraan atau mencium sesuatu selain bau selokan dan sampah yang menggunung.

Saya berangkat pagi hari dari Surabaya. Tapi kota itu sudah panas bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Beton-aspal memantulkan cahaya dengan ganas. Gedung-gedung berkaca tumbuh semakin rapat setiap tahun, sementara pohon-pohon tampak semakin tersisih ke pinggir. Surabaya memang bangga menjadi kota modern, kota industri, kota jasa, kota perdagangan. Namun di balik semua kebanggaan itu, ada sesuatu yang menyusut―dan perlahan menghilang―yaitu ruang untuk bernapas. Barangkali itulah sebabnya mengapa setiap akhir pekan ribuan orang berbondong-bondong menuju Pacet. Mereka ingin mencari apa yang tidak lagi bisa diberikan oleh kotanya sendiri.

Menjelang siang, setelah melewati banyak kelokan menanjak yang membuat kepala saya gliyengan, juga para calo villa “sotime”―yang berdiri di pinggir jalan menawarkan jasa penginapan kepada pengguna jalan, terutama pasangan yang mengendarai sepeda motor di jalur utama menuju wisata Air Panas Padusan, tepatnya di sepanjang Jalan Raya RA Kartini, Dusun Made, hingga ke Jalan Air Panas, Desa Padusan―dan bangunan-bangunan baru Koperasi Merah Putih yang teronggok kesepian di lereng-lereng bukit terpencil, akhirnya saya sampai di tujuan: kawasan wisata Air Panas Padusan, Pacet, Mojokerto, yang berada di ketiak Gunung Welirang―yang masih menghasilkan belerang.

Tetapi, perjalanan menuju Desa Padusan terasa seperti perpindahan alam yang kontras. Jalan mulai menanjak. Hutan pinus bermunculan di sisi kanan dan kiri. Udara berubah pelan-pelan. Jendela mobil yang semula tertutup rapat karena panas mulai dibuka. Aroma tanah basah dan dedaunan masuk menggantikan bau aspal dan asap kendaraan. Dari sini saya sadar bahwa warga Surabaya rela berkendara hampir dua jam di jalan sempit-berkelok-menanjak hanya untuk mendapatkan udara segar yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar manusia.

Sampai di sini, saya kira, Pacet telah menjadi semacam katup penyelamat bagi masyarakat urban Surabaya. Bukan sekadar tujuan wisata, melainkan tempat pelarian. Di sini orang-orang datang membawa kelelahan yang samar. Mereka membawa stres pekerjaan, target penjualan, rapat daring yang tak ada habisnya, serta kehidupan kota yang menuntut manusia untuk terus produktif bahkan ketika tubuhnya sudah meminta berhenti.

Kota besar sering kali membanggakan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan investasi. Namun ukuran keberhasilan kota jarang dihitung dari pertanyaan apakah warganya betah tinggal di sana tanpa perlu melarikan diri setiap akhir pekan? Jika setiap hari kerja dihabiskan dalam panas, kemacetan, dan tekanan hidup yang membuat orang tergesa-gesa mencari pegunungan begitu hari libur tiba, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi dari cara kota itu dibangun.

Beberapa orang berendam di kolam pemandian air panas The Full Hot Spring & Resort, Pacet, Mojokerto. Foto ini diambil sebelum kolam penuh oleh pengunjung. | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sementara itu, di wilayah Pacet, tepatnya di kawasan Padusan, ada sederet pemandian air panas yang menjadi destinasi favorit wisatawan untuk relaksasi dan terapi. Dikelilingi hutan tropis dan udara pegunungan yang sejuk, kawasan ini menjadi tempat ideal untuk melepas penat dari rutinitas harian. Di sana ada Pemandian Air Panas Padusan, De’Qoem Qoem, JACUZZI Pool Cafe & Karaoke, Whirphool Kolam Rendam Air Panas, FOREST ONSEN Hot Water Bath Pacet, The Full Hot Spring & Resort, dan lainnya. Semuanya menawarkan narasi relaksasi dengan air panas alami—sebuah kekayaan alam yang membuat Surabaya berusaha mati-matian untuk meraihnya.

Kabut tipis mulai turun dari lereng Welirang. Di kawasan ini, pemandian air panas bukanlah hal baru. Sejak lama orang datang ke Pacet untuk berendam. Namun kini wajah wisata Padusan berubah. Resort, vila, kafe, dan berbagai fasilitas baru bermunculan mengikuti arus kebutuhan wisatawan kota.

Saya memilih berendam di The Full Hot Spring & Resort. Tubuh yang sejak pagi duduk di kendaraan perlahan rileks ketika menyentuh air panas 39 derajat Celsius. Uap tipis mengepul dari permukaan kolam. Di kejauhan, pinus-pinus berdiri diam diselimuti kabut. Suasana itu menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di kota metropolitan.

Namun, bahkan di tempat yang tenang ini, jejak kota tetap mengikuti. Beberapa pengunjung sibuk mengatur sudut kamera sebelum masuk kolam. Ada yang menghabiskan lebih banyak waktu memotret daripada menikmati air panas. Sebagian lain terlihat lebih fokus mengunggah foto ke media sosial ketimbang menikmati pemandangan di hadapannya. Rasanya seperti melihat warga kota membawa kebisingannya sendiri ke tengah pegunungan yang menenangkan. Ah, rupanya kita hidup pada masa ketika relaksasi pun sering kali berubah menjadi pertunjukan. Masih banyak orang yang datang untuk mencari ketenangan sekaligus ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka sedang tenang. Saya tersenyum sendiri.

“Dari mana, Mas?” suara itu membuyarkan lamunan saya. Seorang bapak tambun paruh-baya baru saja menceburkan diri di samping kiri saya. Sejenak saya terpaku sebelum akhirnya menjawab dari Surabaya. Dia mengaku dari Gresik. Namanya Herman. Setiap akhir pekan bersama keluarganya dia rutin berendam air panas di sini. “Supaya sendi-sendi tidak kaku,” ia menjelaskan tujuannya beremdam air panas. Saya mengaguk saja. Lalu memandangi wajahnya yang mulai memerah terkena air panas. Usianya mungkin mendekati enam puluh tahun. Perutnya sedikit membuncit. Rambutnya mulai menipis. Ia tampak seperti kebanyakan bapak-bapak yang saya temui di kota-kota industri sekitar Surabaya: bekerja puluhan tahun, membesarkan anak, membayar cicilan rumah, lalu perlahan menyadari tubuh mereka tak lagi setangguh dulu.

Herman mungkin datang untuk menghangatkan sendi-sendinya. Tetapi saya curiga, yang ingin ia pulihkan bukan hanya lutut atau punggungnya. Ada kelelahan yang lebih panjang dari sekadar pegal-pegal fisik. Kelelahan karena bertahun-tahun hidup dalam ritme kawasan metropolitan yang terus bergerak tanpa banyak memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat.

Saya membayangkan Senin pagi yang akan dihadapi Herman. Jalanan padat. Jam kerja yang panjang. Dering telepon. Tagihan bulanan. Urusan keluarga. Semua itu akan kembali menunggunya setelah ia meninggalkan Pacet. Barangkali karena itulah ia terus datang ke tempat ini. Bukan karena air panasnya semata, melainkan karena di sini ia bisa mencuri jeda yang sulit ditemukan di tempat lain.

Herman bukan pengecualian. Ia justru representasi dari ribuan orang yang setiap akhir pekan memenuhi jalur menuju Pacet. Mereka adalah generasi yang menikmati hasil pembangunan ekonomi sekaligus menanggung konsekuensinya. Mereka memiliki kendaraan pribadi, daya beli untuk berwisata, dan akses menuju berbagai tempat rekreasi. Namun pada saat yang sama mereka hidup dalam lingkungan yang semakin padat, semakin panas, dan semakin melelahkan. Kota-kota metropolitan dibangun untuk menciptakan kenyamanan hidup, tetapi justru menghasilkan kebutuhan untuk sesekali melarikan diri darinya. Herman dan ribuan pengunjung lain datang ke Pacet karena kota tempat mereka bekerja tidak lagi mampu menyediakan apa yang mereka cari.

Di tempat kami—saya dan Herman—berendam, pengunjung semakin ramai. Kebanyak lansia dan paruh baya. Ada pemuda, tapi tak banyak. Ada anak-anak, tapi tak berendam di kolam air panas. Mereka berenang dan bersenang-senang di kolam air dingin.

Pedagang oleh-oleh yang berderet di sepanjang jalur menuju kawasan pemandian air panas di Desa Padusan, Pacet, Mojokerto. Suasana ini mirip di Bedugul, Tabanan, Bali. | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Orang-orang seperti Herman rela berkali-kali kembali ke Pacet karena alasan klasik: Perjalanannya tak cukup jauh sementara harga yang harus dibayar tak terlalu mahal. Meski mungkin ia tak tahu bahwa di balik keindahan lembah Pacet, di kaki Arjuno-Welirang-Anjasamoro, tempat ini juga rawan menjadi lokasi pembuangan korban kejahatan dan rawan kecelakaan. Bahkan tak sedikit orang menyebutnya Lembah Mayat.

Wilayah Pacet, Mojokerto, berada di lembah yang diapit empat gunung besar: Penanggungan, Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro. Kawasan lereng Gunung Welirang memang menawarkan pariwisata alam yang indah—terkenal melalui jalur Cangar-Pacet—tetapi juga menyimpan kerawanan bencana seperti longsor dan banjir bandang. Bencana pernah terjadi di pemandian air panas Padusan, Pacet, Desember 2002, yang menewaskan 26 orang dan Februari 2004 dengan korban tewas 17 orang.

Di Padusan dan di beberapa desa sekitarnya ada 23 objek wisata berupa pemandian air panas, tempat arung jeram, air terjun, bumi perkemahan, dan area kegiatan alam terbuka. Namun, petaka tahun 2002 dan 2004 membuktikan, pengembangan pariwisata yang tidak terkendali memicu alih fungsi lahan yang membahayakan keselamatan masyarakat. Hutan di lereng pegunungan seluas hampir 50.000 hektar dibabat tanpa sisa.

Saya memandang kabut yang bergerak perlahan di antara pepohonan. Di kejauhan terdengar suara kendaraan yang masih berdatangan. Nanti sore mereka akan kembali ke Surabaya. Selasa pagi mereka akan kembali menghadapi rapat, target, kemacetan, dan suhu kota yang terasa semakin panas setiap tahun.

Saya rasa Pacet tidak dapat menyelesaikan masalah itu. Ia hanya memberi jeda. Semacam ruang tunggu bagi orang-orang yang lelah hidup di kota yang terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, tetapi sering lupa menyediakan ketenangan bagi warganya. Dan selama Surabaya terus berkembang tanpa cukup ruang hijau, tanpa cukup tempat untuk bernapas, serta tanpa cukup keheningan untuk ditinggali, arus manusia menuju Pacet setiap akhir pekan tampaknya akan terus berlangsung. Sebab, terkadang, bagi beberapa orang, tujuan sebuah perjalanan bukanlah upaya mencari tempat baru. Melainkan usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang di kota yang kita tinggali.

Ketika saya meninggalkan kolam rendam, Herman masih duduk di sudut yang sama. Ia tampak menikmati hangat air yang mengepul perlahan di bawah kabut Welirang. Besok atau lusa ia akan kembali ke rutinitasnya. Mungkin beberapa minggu lagi ia akan datang lagi ke Pacet, seperti yang sudah berkali-kali ia lakukan sebelumnya.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya bukan tentang Herman seorang. Ia hanya satu wajah dari ribuan wajah lain yang setiap akhir pekan bergerak dari Surabaya, Gresik, atau Sidoarjo menuju lereng-lereng pegunungan Mojokerto. Mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda, tetapi membawa kebutuhan yang sama: mencari ruang untuk bernapas.[T]

Reprter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurMojokertoPacet MojokertoPariwisatapariwisata jawa timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Next Post

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co