22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Early NHS by Early NHS
June 2, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp, dan kabar tentang “Teror Pocong” muncul di sejumlah daerah. Respons publik beragam, ada yang menganggapnya sebagai modus kejahatan, kelakuan orang iseng, lelucon yang kebablasan, atau sekadar hoaks yang dibesar-besarkan.

Terlepas dari itu, ada satu hal menarik, yaitu muncul kecurigaan di media sosial bahwa “Teror Pocong” hanyalah pengalihan isu yang didalangi negara untuk memindahkan perhatian publik dari berita buruk tentang pemerintah, kondisi ekonomi, atau persoalan publik lain yang dianggap lebih penting.

Bahkan, sejumlah narasi di media sosial menafsirkan fenomena ini sebagai pola lama yang berulang, sebagaimana rumor tentang kolor ijo pada awal 2000-an, babi ngepet di Depok beberapa tahun lalu, dan berbagai cerita mistis lain yang dicurigai sebagai pengalih perhatian publik. Ini berarti, pocong, sosok yang biasanya hadir dalam cerita rakyat, film horor, tayangan televisi, atau obrolan di tongkrongan lewat jam 12 malam, kini muncul di media sosial sebagai bagian dari percakapan yang sifatnya politis.

Tentu saja, klaim semacam itu tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemerintah sedang menjalankan operasi besar dengan tujuan mengalihkan perhatian publik melalui isu pocong. Tuduhan seperti itu terlalu serius jika hanya bersandar pada dugaan, kecurigaan, atau potongan percakapan di media sosial.

Namun, narasi ini tidak boleh dianggap sepele. Kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting. Bukan tentang kebenaran negara menggunakan pocong sebagai alat pengalihan isu, tetapi mengapa sebagian masyarakat begitu cepat menghubungkan rumor mistis dengan politik, rekayasa, dan campur tangan negara? Mengapa ketika muncul kabar sosok berkain kafan di jalanan, sebagian masyarakat langsung curiga atau bertanya siapa yang berkepentingan dari kemunculan isu tersebut?

Di titik inilah fenomena “Teror Pocong” menjadi lebih dari sekadar cerita horor. Ketika kepercayaan terhadap institusi publik melemah, peristiwa yang tampak sepele dapat dengan mudah dikaitkan dengan isu politik dan disimpulkan sebagai bagian dari agenda tersembunyi dan didalangi “hantu” belakang layar. Karena itu, pocong dalam percakapan di media sosial hari-hari ini bukan hanya sosok mistis, tetapi juga simbol dari rasa tidak aman, kecurigaan, dan rapuhnya hubungan sekaligus kepercayaan antara masyarakat dan penguasa.

Fenomena sejenis “Teror Pocong” bukanlah hal baru. Fenomena seperti itu sudah ada bahkan sebelum era media sosial. Perbedaannya, dulu rumor sejenis menyebar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, atau dari kampung ke kampung. Prosesnya relatif lambat. Sekarang, rumor menyebar melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, X, dan berbagai portal berita daring. Penyebarannya jauh lebih cepat dan jangkauannya jauh lebih luas. Sebuah video dari satu daerah bisa dipercaya sebagai kejadian di daerah lain. Foto lama bisa diberi keterangan baru. Rekaman yang konteksnya tidak jelas bisa menyebar sebagai “bukti” dari peristiwa yang sebenarnya belum pernah terjadi.

Dalam situasi seperti itu, batas antara informasi, hoaks, lelucon, dan kepanikan menjadi kabur. Namun, tidak semua informasi keliru lahir dari operasi yang rapi dan terorganisasi. Banyak orang menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena takut, ikut-ikutan, atau merasa sedang membantu orang lain. Karena itu, membaca setiap rumor sebagai konspirasi besar juga berbahaya. Pandangan seperti itu justru menyederhanakan fenomena yang sering kali jauh lebih rumit.

Sejarah memang menunjukkan bahwa kepercayaan lokal pernah dimanfaatkan dalam operasi psikologis. Salah satu contohnya adalah Operation Wandering Soul dalam Perang Vietnam. Saat itu, militer Amerika Serikat memanfaatkan keyakinan sebagian masyarakat Vietnam bahwa arwah orang yang meninggal tanpa pemakaman yang layak dapat menjadi roh gentayangan. Melalui pengeras suara yang dipasang di helikopter atau kendaraan militer, diputarlah rekaman suara yang menyerupai ratapan arwah dan pesan-pesan bernuansa spiritual pada malam hari. Tujuannya adalah menciptakan tekanan psikologis terhadap pasukan Viet Cong dan memengaruhi persepsi mereka melalui simbol-simbol yang memiliki makna budaya dan religius.

Pertanyaannya, apakah itu berarti fenomena pocong hari ini pasti bagian dari operasi negara? Tentu tidak.

Sejarah bisa menjadi bahan perbandingan, tetapi bukan bukti. Sejarah memang mengingatkan kita bahwa ketakutan, mitos, dan kepercayaan masyarakat kadang dapat menjadi bagian dari perebutan pengaruh dan pembentukan opini publik. Namun, contoh sejarah semacam itu tidak boleh dipakai untuk meloncat pada kesimpulan bahwa fenomena pocong hari ini pasti didalangi negara.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang relevan

Ketika membahas hubungan antara rumor mistis dan politik, kita sulit mengabaikan peristiwa Banyuwangi 1998. Saat itu, isu santet, cerita tentang ninja, ketakutan warga, pemberitaan media, dan lemahnya otoritas negara bercampur menjadi satu. Banyak orang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Berbagai teori bermunculan, dan publik berusaha mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Tidak sedikit orang yang curiga peristiwa Banyuwangi 1998 didalangi negara. Akan tetapi, penelitian Nicholas Herriman tentang pembunuhan dukun santet di Banyuwangi dan Jawa Timur memberi analisis yang lebih kompleks.

Herriman menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu teori konspirasi besar. Kekerasan itu disebabkan banyak faktor, rumor, kepercayaan lokal, ketakutan kolektif, perubahan politik pasca-Orde Baru, serta tindakan warga dalam menafsirkan ancaman yang mereka yakini. Dengan kata lain, masyarakat bukan sekadar korban pasif yang digerakkan oleh satu dalang. Masyarakat juga ikut mempercayai rumor, menafsirkan situasi, dan dalam beberapa kasus bertindak berdasarkan rasa takut yang dianggap masuk akal pada saat itu.

Meski begitu, negara juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Ketika informasi tidak jelas, keamanan tidak terjamin, dan penjelasan resmi tidak dipercaya, ruang bagi rumor akan semakin terbuka.

Di sinilah pelajaran Banyuwangi relevan untuk membaca fenomena “Teror Pocong”. Tentu, kedua kasus ini tidak bisa disamakan begitu saja. Banyuwangi adalah kasus kekerasan terhadap orang yang dituduh dukun santet, sedangkan isu pocong hari ini lebih banyak terkait rumor, kepanikan, dan percakapan politik di media sosial. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang serupa, rumor mistis menjadi masuk akal bagi sebagian masyarakat ketika kehidupan sosial dipenuhi ketidakpastian, rasa tidak aman, dan kecurigaan terhadap otoritas.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan adanya pihak yang sengaja menciptakan rumor, tetapi ketika rumor menemukan tanah yang subur untuk tumbuh. Tanah itu bernama ketidakpastian, ekonomi yang terasa berat, politik yang penuh kecurigaan, informasi yang simpang siur, dan kepercayaan publik yang melemah. Dalam situasi seperti itu, rumor hanya perlu terdengar cocok dengan perasaan publik untuk dipercaya.

Ketika banyak orang merasa hidup semakin sulit atau merasa pejabat tidak cukup jujur, rumor kecil dapat berubah menjadi penjelasan alternatif yang terasa masuk akal.

Masalah mulai tampak ketika persoalan pocong menjadi politis, bukan karena pocong itu sendiri punya agenda, tetapi karena publik sudah mulai terbiasa mencurigai ada agenda di balik setiap peristiwa yang menarik perhatian publik.

Kita boleh curiga, tetapi kita tidak perlu percaya begitu saja bahwa “Teror Pocong” adalah bagian dari operasi senyap negara. Tidak semua rumor adalah konspirasi, dan tidak semua ketakutan adalah rekayasa. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang tersimpan di balik kecurigaan itu. Ketika sebuah isu mistis begitu mudah diterjemahkan sebagai bagian dari operasi negara, persoalannya bukan lagi soal pocong, ini soal kepercayaan terhadap negara.

Barangkali hantu yang paling mengganggu ruang publik kita hari ini bukan sosok berkain kafan yang berkeliaran di jalanan, melainkan krisis kepercayaan yang ada di antara rakyat dan penguasa. Selama masalah itu tidak diselesaikan, rumor kecil akan selalu berpeluang memantik kecurigaan terhadap negara, dan rumor seperti “Teror Pocong”, betapa pun anehnya, akan terus muncul sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat tentang kelakuan hantu-hantu di singgasana kekuasaan. [T]

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: hororkekuasaanmistispocongteror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Next Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Ke Pacet Mereka Kembali

Ke Pacet Mereka Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co