2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Early NHS by Early NHS
June 2, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp, dan kabar tentang “Teror Pocong” muncul di sejumlah daerah. Respons publik beragam, ada yang menganggapnya sebagai modus kejahatan, kelakuan orang iseng, lelucon yang kebablasan, atau sekadar hoaks yang dibesar-besarkan.

Terlepas dari itu, ada satu hal menarik, yaitu muncul kecurigaan di media sosial bahwa “Teror Pocong” hanyalah pengalihan isu yang didalangi negara untuk memindahkan perhatian publik dari berita buruk tentang pemerintah, kondisi ekonomi, atau persoalan publik lain yang dianggap lebih penting.

Bahkan, sejumlah narasi di media sosial menafsirkan fenomena ini sebagai pola lama yang berulang, sebagaimana rumor tentang kolor ijo pada awal 2000-an, babi ngepet di Depok beberapa tahun lalu, dan berbagai cerita mistis lain yang dicurigai sebagai pengalih perhatian publik. Ini berarti, pocong, sosok yang biasanya hadir dalam cerita rakyat, film horor, tayangan televisi, atau obrolan di tongkrongan lewat jam 12 malam, kini muncul di media sosial sebagai bagian dari percakapan yang sifatnya politis.

Tentu saja, klaim semacam itu tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemerintah sedang menjalankan operasi besar dengan tujuan mengalihkan perhatian publik melalui isu pocong. Tuduhan seperti itu terlalu serius jika hanya bersandar pada dugaan, kecurigaan, atau potongan percakapan di media sosial.

Namun, narasi ini tidak boleh dianggap sepele. Kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting. Bukan tentang kebenaran negara menggunakan pocong sebagai alat pengalihan isu, tetapi mengapa sebagian masyarakat begitu cepat menghubungkan rumor mistis dengan politik, rekayasa, dan campur tangan negara? Mengapa ketika muncul kabar sosok berkain kafan di jalanan, sebagian masyarakat langsung curiga atau bertanya siapa yang berkepentingan dari kemunculan isu tersebut?

Di titik inilah fenomena “Teror Pocong” menjadi lebih dari sekadar cerita horor. Ketika kepercayaan terhadap institusi publik melemah, peristiwa yang tampak sepele dapat dengan mudah dikaitkan dengan isu politik dan disimpulkan sebagai bagian dari agenda tersembunyi dan didalangi “hantu” belakang layar. Karena itu, pocong dalam percakapan di media sosial hari-hari ini bukan hanya sosok mistis, tetapi juga simbol dari rasa tidak aman, kecurigaan, dan rapuhnya hubungan sekaligus kepercayaan antara masyarakat dan penguasa.

Fenomena sejenis “Teror Pocong” bukanlah hal baru. Fenomena seperti itu sudah ada bahkan sebelum era media sosial. Perbedaannya, dulu rumor sejenis menyebar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, atau dari kampung ke kampung. Prosesnya relatif lambat. Sekarang, rumor menyebar melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, X, dan berbagai portal berita daring. Penyebarannya jauh lebih cepat dan jangkauannya jauh lebih luas. Sebuah video dari satu daerah bisa dipercaya sebagai kejadian di daerah lain. Foto lama bisa diberi keterangan baru. Rekaman yang konteksnya tidak jelas bisa menyebar sebagai “bukti” dari peristiwa yang sebenarnya belum pernah terjadi.

Dalam situasi seperti itu, batas antara informasi, hoaks, lelucon, dan kepanikan menjadi kabur. Namun, tidak semua informasi keliru lahir dari operasi yang rapi dan terorganisasi. Banyak orang menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena takut, ikut-ikutan, atau merasa sedang membantu orang lain. Karena itu, membaca setiap rumor sebagai konspirasi besar juga berbahaya. Pandangan seperti itu justru menyederhanakan fenomena yang sering kali jauh lebih rumit.

Sejarah memang menunjukkan bahwa kepercayaan lokal pernah dimanfaatkan dalam operasi psikologis. Salah satu contohnya adalah Operation Wandering Soul dalam Perang Vietnam. Saat itu, militer Amerika Serikat memanfaatkan keyakinan sebagian masyarakat Vietnam bahwa arwah orang yang meninggal tanpa pemakaman yang layak dapat menjadi roh gentayangan. Melalui pengeras suara yang dipasang di helikopter atau kendaraan militer, diputarlah rekaman suara yang menyerupai ratapan arwah dan pesan-pesan bernuansa spiritual pada malam hari. Tujuannya adalah menciptakan tekanan psikologis terhadap pasukan Viet Cong dan memengaruhi persepsi mereka melalui simbol-simbol yang memiliki makna budaya dan religius.

Pertanyaannya, apakah itu berarti fenomena pocong hari ini pasti bagian dari operasi negara? Tentu tidak.

Sejarah bisa menjadi bahan perbandingan, tetapi bukan bukti. Sejarah memang mengingatkan kita bahwa ketakutan, mitos, dan kepercayaan masyarakat kadang dapat menjadi bagian dari perebutan pengaruh dan pembentukan opini publik. Namun, contoh sejarah semacam itu tidak boleh dipakai untuk meloncat pada kesimpulan bahwa fenomena pocong hari ini pasti didalangi negara.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang relevan

Ketika membahas hubungan antara rumor mistis dan politik, kita sulit mengabaikan peristiwa Banyuwangi 1998. Saat itu, isu santet, cerita tentang ninja, ketakutan warga, pemberitaan media, dan lemahnya otoritas negara bercampur menjadi satu. Banyak orang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Berbagai teori bermunculan, dan publik berusaha mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Tidak sedikit orang yang curiga peristiwa Banyuwangi 1998 didalangi negara. Akan tetapi, penelitian Nicholas Herriman tentang pembunuhan dukun santet di Banyuwangi dan Jawa Timur memberi analisis yang lebih kompleks.

Herriman menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu teori konspirasi besar. Kekerasan itu disebabkan banyak faktor, rumor, kepercayaan lokal, ketakutan kolektif, perubahan politik pasca-Orde Baru, serta tindakan warga dalam menafsirkan ancaman yang mereka yakini. Dengan kata lain, masyarakat bukan sekadar korban pasif yang digerakkan oleh satu dalang. Masyarakat juga ikut mempercayai rumor, menafsirkan situasi, dan dalam beberapa kasus bertindak berdasarkan rasa takut yang dianggap masuk akal pada saat itu.

Meski begitu, negara juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Ketika informasi tidak jelas, keamanan tidak terjamin, dan penjelasan resmi tidak dipercaya, ruang bagi rumor akan semakin terbuka.

Di sinilah pelajaran Banyuwangi relevan untuk membaca fenomena “Teror Pocong”. Tentu, kedua kasus ini tidak bisa disamakan begitu saja. Banyuwangi adalah kasus kekerasan terhadap orang yang dituduh dukun santet, sedangkan isu pocong hari ini lebih banyak terkait rumor, kepanikan, dan percakapan politik di media sosial. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang serupa, rumor mistis menjadi masuk akal bagi sebagian masyarakat ketika kehidupan sosial dipenuhi ketidakpastian, rasa tidak aman, dan kecurigaan terhadap otoritas.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan adanya pihak yang sengaja menciptakan rumor, tetapi ketika rumor menemukan tanah yang subur untuk tumbuh. Tanah itu bernama ketidakpastian, ekonomi yang terasa berat, politik yang penuh kecurigaan, informasi yang simpang siur, dan kepercayaan publik yang melemah. Dalam situasi seperti itu, rumor hanya perlu terdengar cocok dengan perasaan publik untuk dipercaya.

Ketika banyak orang merasa hidup semakin sulit atau merasa pejabat tidak cukup jujur, rumor kecil dapat berubah menjadi penjelasan alternatif yang terasa masuk akal.

Masalah mulai tampak ketika persoalan pocong menjadi politis, bukan karena pocong itu sendiri punya agenda, tetapi karena publik sudah mulai terbiasa mencurigai ada agenda di balik setiap peristiwa yang menarik perhatian publik.

Kita boleh curiga, tetapi kita tidak perlu percaya begitu saja bahwa “Teror Pocong” adalah bagian dari operasi senyap negara. Tidak semua rumor adalah konspirasi, dan tidak semua ketakutan adalah rekayasa. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang tersimpan di balik kecurigaan itu. Ketika sebuah isu mistis begitu mudah diterjemahkan sebagai bagian dari operasi negara, persoalannya bukan lagi soal pocong, ini soal kepercayaan terhadap negara.

Barangkali hantu yang paling mengganggu ruang publik kita hari ini bukan sosok berkain kafan yang berkeliaran di jalanan, melainkan krisis kepercayaan yang ada di antara rakyat dan penguasa. Selama masalah itu tidak diselesaikan, rumor kecil akan selalu berpeluang memantik kecurigaan terhadap negara, dan rumor seperti “Teror Pocong”, betapa pun anehnya, akan terus muncul sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat tentang kelakuan hantu-hantu di singgasana kekuasaan. [T]

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: hororkekuasaanmistispocongteror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co