11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

Early NHS by Early NHS
June 2, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp, dan kabar tentang “Teror Pocong” muncul di sejumlah daerah. Respons publik beragam, ada yang menganggapnya sebagai modus kejahatan, kelakuan orang iseng, lelucon yang kebablasan, atau sekadar hoaks yang dibesar-besarkan.

Terlepas dari itu, ada satu hal menarik, yaitu muncul kecurigaan di media sosial bahwa “Teror Pocong” hanyalah pengalihan isu yang didalangi negara untuk memindahkan perhatian publik dari berita buruk tentang pemerintah, kondisi ekonomi, atau persoalan publik lain yang dianggap lebih penting.

Bahkan, sejumlah narasi di media sosial menafsirkan fenomena ini sebagai pola lama yang berulang, sebagaimana rumor tentang kolor ijo pada awal 2000-an, babi ngepet di Depok beberapa tahun lalu, dan berbagai cerita mistis lain yang dicurigai sebagai pengalih perhatian publik. Ini berarti, pocong, sosok yang biasanya hadir dalam cerita rakyat, film horor, tayangan televisi, atau obrolan di tongkrongan lewat jam 12 malam, kini muncul di media sosial sebagai bagian dari percakapan yang sifatnya politis.

Tentu saja, klaim semacam itu tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pemerintah sedang menjalankan operasi besar dengan tujuan mengalihkan perhatian publik melalui isu pocong. Tuduhan seperti itu terlalu serius jika hanya bersandar pada dugaan, kecurigaan, atau potongan percakapan di media sosial.

Namun, narasi ini tidak boleh dianggap sepele. Kita perlu mengajukan satu pertanyaan penting. Bukan tentang kebenaran negara menggunakan pocong sebagai alat pengalihan isu, tetapi mengapa sebagian masyarakat begitu cepat menghubungkan rumor mistis dengan politik, rekayasa, dan campur tangan negara? Mengapa ketika muncul kabar sosok berkain kafan di jalanan, sebagian masyarakat langsung curiga atau bertanya siapa yang berkepentingan dari kemunculan isu tersebut?

Di titik inilah fenomena “Teror Pocong” menjadi lebih dari sekadar cerita horor. Ketika kepercayaan terhadap institusi publik melemah, peristiwa yang tampak sepele dapat dengan mudah dikaitkan dengan isu politik dan disimpulkan sebagai bagian dari agenda tersembunyi dan didalangi “hantu” belakang layar. Karena itu, pocong dalam percakapan di media sosial hari-hari ini bukan hanya sosok mistis, tetapi juga simbol dari rasa tidak aman, kecurigaan, dan rapuhnya hubungan sekaligus kepercayaan antara masyarakat dan penguasa.

Fenomena sejenis “Teror Pocong” bukanlah hal baru. Fenomena seperti itu sudah ada bahkan sebelum era media sosial. Perbedaannya, dulu rumor sejenis menyebar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, atau dari kampung ke kampung. Prosesnya relatif lambat. Sekarang, rumor menyebar melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, X, dan berbagai portal berita daring. Penyebarannya jauh lebih cepat dan jangkauannya jauh lebih luas. Sebuah video dari satu daerah bisa dipercaya sebagai kejadian di daerah lain. Foto lama bisa diberi keterangan baru. Rekaman yang konteksnya tidak jelas bisa menyebar sebagai “bukti” dari peristiwa yang sebenarnya belum pernah terjadi.

Dalam situasi seperti itu, batas antara informasi, hoaks, lelucon, dan kepanikan menjadi kabur. Namun, tidak semua informasi keliru lahir dari operasi yang rapi dan terorganisasi. Banyak orang menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena takut, ikut-ikutan, atau merasa sedang membantu orang lain. Karena itu, membaca setiap rumor sebagai konspirasi besar juga berbahaya. Pandangan seperti itu justru menyederhanakan fenomena yang sering kali jauh lebih rumit.

Sejarah memang menunjukkan bahwa kepercayaan lokal pernah dimanfaatkan dalam operasi psikologis. Salah satu contohnya adalah Operation Wandering Soul dalam Perang Vietnam. Saat itu, militer Amerika Serikat memanfaatkan keyakinan sebagian masyarakat Vietnam bahwa arwah orang yang meninggal tanpa pemakaman yang layak dapat menjadi roh gentayangan. Melalui pengeras suara yang dipasang di helikopter atau kendaraan militer, diputarlah rekaman suara yang menyerupai ratapan arwah dan pesan-pesan bernuansa spiritual pada malam hari. Tujuannya adalah menciptakan tekanan psikologis terhadap pasukan Viet Cong dan memengaruhi persepsi mereka melalui simbol-simbol yang memiliki makna budaya dan religius.

Pertanyaannya, apakah itu berarti fenomena pocong hari ini pasti bagian dari operasi negara? Tentu tidak.

Sejarah bisa menjadi bahan perbandingan, tetapi bukan bukti. Sejarah memang mengingatkan kita bahwa ketakutan, mitos, dan kepercayaan masyarakat kadang dapat menjadi bagian dari perebutan pengaruh dan pembentukan opini publik. Namun, contoh sejarah semacam itu tidak boleh dipakai untuk meloncat pada kesimpulan bahwa fenomena pocong hari ini pasti didalangi negara.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang relevan

Ketika membahas hubungan antara rumor mistis dan politik, kita sulit mengabaikan peristiwa Banyuwangi 1998. Saat itu, isu santet, cerita tentang ninja, ketakutan warga, pemberitaan media, dan lemahnya otoritas negara bercampur menjadi satu. Banyak orang dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Berbagai teori bermunculan, dan publik berusaha mencari siapa dalang di balik peristiwa itu. Tidak sedikit orang yang curiga peristiwa Banyuwangi 1998 didalangi negara. Akan tetapi, penelitian Nicholas Herriman tentang pembunuhan dukun santet di Banyuwangi dan Jawa Timur memberi analisis yang lebih kompleks.

Herriman menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu teori konspirasi besar. Kekerasan itu disebabkan banyak faktor, rumor, kepercayaan lokal, ketakutan kolektif, perubahan politik pasca-Orde Baru, serta tindakan warga dalam menafsirkan ancaman yang mereka yakini. Dengan kata lain, masyarakat bukan sekadar korban pasif yang digerakkan oleh satu dalang. Masyarakat juga ikut mempercayai rumor, menafsirkan situasi, dan dalam beberapa kasus bertindak berdasarkan rasa takut yang dianggap masuk akal pada saat itu.

Meski begitu, negara juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Ketika informasi tidak jelas, keamanan tidak terjamin, dan penjelasan resmi tidak dipercaya, ruang bagi rumor akan semakin terbuka.

Di sinilah pelajaran Banyuwangi relevan untuk membaca fenomena “Teror Pocong”. Tentu, kedua kasus ini tidak bisa disamakan begitu saja. Banyuwangi adalah kasus kekerasan terhadap orang yang dituduh dukun santet, sedangkan isu pocong hari ini lebih banyak terkait rumor, kepanikan, dan percakapan politik di media sosial. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang serupa, rumor mistis menjadi masuk akal bagi sebagian masyarakat ketika kehidupan sosial dipenuhi ketidakpastian, rasa tidak aman, dan kecurigaan terhadap otoritas.

Yang berbahaya bukan hanya kemungkinan adanya pihak yang sengaja menciptakan rumor, tetapi ketika rumor menemukan tanah yang subur untuk tumbuh. Tanah itu bernama ketidakpastian, ekonomi yang terasa berat, politik yang penuh kecurigaan, informasi yang simpang siur, dan kepercayaan publik yang melemah. Dalam situasi seperti itu, rumor hanya perlu terdengar cocok dengan perasaan publik untuk dipercaya.

Ketika banyak orang merasa hidup semakin sulit atau merasa pejabat tidak cukup jujur, rumor kecil dapat berubah menjadi penjelasan alternatif yang terasa masuk akal.

Masalah mulai tampak ketika persoalan pocong menjadi politis, bukan karena pocong itu sendiri punya agenda, tetapi karena publik sudah mulai terbiasa mencurigai ada agenda di balik setiap peristiwa yang menarik perhatian publik.

Kita boleh curiga, tetapi kita tidak perlu percaya begitu saja bahwa “Teror Pocong” adalah bagian dari operasi senyap negara. Tidak semua rumor adalah konspirasi, dan tidak semua ketakutan adalah rekayasa. Namun kita juga tidak boleh mengabaikan pesan yang tersimpan di balik kecurigaan itu. Ketika sebuah isu mistis begitu mudah diterjemahkan sebagai bagian dari operasi negara, persoalannya bukan lagi soal pocong, ini soal kepercayaan terhadap negara.

Barangkali hantu yang paling mengganggu ruang publik kita hari ini bukan sosok berkain kafan yang berkeliaran di jalanan, melainkan krisis kepercayaan yang ada di antara rakyat dan penguasa. Selama masalah itu tidak diselesaikan, rumor kecil akan selalu berpeluang memantik kecurigaan terhadap negara, dan rumor seperti “Teror Pocong”, betapa pun anehnya, akan terus muncul sebagai cermin dari kegelisahan masyarakat tentang kelakuan hantu-hantu di singgasana kekuasaan. [T]

Penulis: Early NHS
Editor: Jaswanto

Tags: hororkekuasaanmistispocongteror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

Next Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Ke Pacet Mereka Kembali

Ke Pacet Mereka Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co