29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan pada setiap karya seni yang berani mempertanyakan kenyataan.”

Demokrasi Lebih dari Sekadar Pemilu

Demokrasi sering dipersempit maknanya menjadi sekadar sistem pemilihan umum atau pergantian kekuasaan yang berlangsung secara konstitusional. Ketika pemilu selesai dan pemerintahan terbentuk, banyak yang menganggap demokrasi telah menjalankan fungsinya. Padahal, demokrasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi adalah sebuah praktik kehidupan yang terus berlangsung melalui kebebasan masyarakat untuk berpikir, berbicara, mengkritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam ruang itulah seni memperoleh makna politiknya.

Sayangnya, politik masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya menjadi urusan partai politik, parlemen, atau pemerintah. Akibatnya, ketika seni berbicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan sosial lainnya, karya tersebut kerap diberi label sebagai sesuatu yang “terlalu politis”. Padahal, persoalannya bukan karena seni telah memasuki wilayah politik, melainkan karena masyarakat masih memahami politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, politik sesungguhnya adalah urusan seluruh warga negara. Setiap upaya menyampaikan aspirasi, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan publik, atau mengawasi jalannya kekuasaan merupakan tindakan politik dalam arti yang paling mendasar. Oleh sebab itu, seni yang mengangkat realitas sosial sejatinya sedang menjalankan salah satu fungsi demokrasi, yaitu menghadirkan suara warga dalam ruang publik.

Seni sebagai Bahasa Kehidupan

Seni bukan sekadar media hiburan. Seni adalah bahasa yang memungkinkan manusia berbicara ketika bahasa formal tidak lagi mampu mewakili pengalaman hidupnya.

Ada penderitaan yang tidak cukup dijelaskan oleh angka statistik. Ada ketidakadilan yang lebih mudah dipahami melalui sebuah lukisan daripada laporan resmi. Ada kemarahan yang lebih kuat terdengar melalui lagu daripada pidato politik. Melalui puisi, teater, film, musik, tari, hingga mural di ruang publik, seni menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari pembicaraan politik formal.

Di situlah letak kekuatan seni. Seni tidak menggantikan politik, tetapi melengkapinya dengan menghadirkan pengalaman manusia sebagai pusat perhatian.

Kritik sebagai Praktik Demokrasi

Dalam demokrasi, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara ataupun ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Filsuf Prancis Jacques Rancière menjelaskan bahwa politik tidak hanya berlangsung di lembaga negara. Politik juga terjadi ketika mereka yang selama ini tidak terlihat atau tidak didengar memperoleh kesempatan untuk menyatakan keberadaannya. Melalui konsep distribution of the sensible, Rancière menunjukkan bahwa politik berkaitan dengan siapa yang boleh berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, dan persoalan apa yang layak menjadi perhatian publik.

Dalam kerangka tersebut, seni memiliki peran yang sangat demokratis. Sebuah mural yang mengkritik penggusuran, puisi yang mengisahkan buruh, film yang menyoroti diskriminasi, atau pertunjukan teater yang mempertanyakan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar karya artistik. Semua itu merupakan upaya memperluas ruang publik agar pengalaman masyarakat yang selama ini tersisihkan dapat hadir dalam percakapan bersama.

Dengan demikian, seni tidak sedang merebut peran negara. Seni justru mengingatkan negara bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara warganya.

Mengapa Demokrasi Membutuhkan Seni?

Kritik yang lahir dari seni sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal, stabilitas yang dibangun melalui pembungkaman bukanlah stabilitas yang sehat, melainkan kesunyian yang dipaksakan.

Demokrasi justru bertumbuh melalui keberanian menerima kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi yang membuat kekuasaan tetap berada dalam pengawasan masyarakat.

Pemikiran John Stuart Mill filsuf Inggris memperkuat pandangan tersebut. Menurut Mill, membungkam suatu pendapat berarti menghilangkan kemungkinan masyarakat menemukan kebenaran. Bahkan apabila suatu pendapat ternyata keliru, keberadaannya tetap penting karena memaksa masyarakat menguji kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Demokrasi membutuhkan dialog dan perdebatan, bukan keseragaman.

Seni menjalankan fungsi itu dengan cara yang khas. Kritik dalam seni tidak selalu disampaikan secara langsung. Ia bekerja melalui simbol, metafora, ironi, satire, musik, visual, maupun gerak tubuh. Justru karena tidak bersifat literal, seni mampu menyentuh ruang-ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh bahasa politik biasa. Ia tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengajak mereka berpikir.

Di sinilah seni menjalankan fungsi sosialnya yang paling mendalam.

Seni sebagai Memori Kolektif Bangsa

Seni bukan hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat. Karya-karya seni menjadi arsip emosional suatu bangsa. Melalui lagu, novel, film, puisi, dan pertunjukan teater, generasi berikutnya dapat memahami bagaimana suatu zaman mengalami ketidakadilan, harapan, maupun perjuangan.

Seni menjadi saksi sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menyimpan emosi manusia yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ketika seni kehilangan kebebasannya, masyarakat sesungguhnya kehilangan salah satu ruang paling penting untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Alat Kekuasaan

Persoalan muncul ketika seni diperlakukan sebagai instrumen politik. Bukan karena seniman tidak boleh memiliki pandangan politik setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpolitik melainkan karena seni kehilangan otonominya ketika dipaksa melayani kepentingan kekuasaan.

Pada saat itu, karya tidak lagi lahir dari pencarian makna, tetapi dari kebutuhan membangun citra, memenangkan dukungan, atau menyerang lawan politik. Seni berubah dari ruang dialog menjadi alat propaganda.

Sejarah menunjukkan bahwa propaganda selalu berusaha membuat seni hanya memiliki satu suara: suara yang menguntungkan penguasa. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan keberagaman suara. Demokrasi tidak takut terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari mekanisme yang menjaganya tetap sehat.

Yang patut dikhawatirkan bukanlah karya seni yang mengkritik pemerintah, melainkan keadaan ketika tidak ada lagi karya yang berani mengkritik apa pun.

Ketiadaan kritik bukanlah tanda bahwa masyarakat telah adil. Bisa jadi, itulah pertanda bahwa masyarakat telah kehilangan keberanian untuk berbicara.

Menjaga Napas Demokrasi

Membela kebebasan seni bukan semata-mata membela hak para seniman. Membela seni berarti membela hak masyarakat untuk berpikir, berdialog, dan melihat kenyataan dari berbagai sudut pandang.

Seni yang bebas memungkinkan demokrasi terus mengoreksi dirinya sendiri. Ia menjaga agar kekuasaan tidak menjadi ruang yang kebal terhadap pertanyaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya mampu menerima tepuk tangan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bersedia mendengar suara-suara yang tidak nyaman, memberi ruang bagi perbedaan pendapat, dan menganggap kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan bersama.

Pada akhirnya, seni bukan pelengkap demokrasi. Seni adalah salah satu napasnya.

Selama masih ada puisi yang berani bertanya, lagu yang berani menggugat, mural yang berani mengingatkan, film yang berani membuka tabir ketidakadilan, dan teater yang berani menyuarakan keresahan masyarakat, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus hidup, memperbaiki diri, dan tetap berpihak pada manusia.

Sebab demokrasi yang kehilangan seni adalah demokrasi yang kehilangan imajinasi. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan imajinasi, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang lebih adil.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara yang menang dalam pemilu. Demokrasi membutuhkan suara yang berani bertanya. Dan seni, sejak dahulu hingga hari ini, adalah salah satu bentuk keberanian itu.[T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiPolitikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

Next Post

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co