17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan pada setiap karya seni yang berani mempertanyakan kenyataan.”

Demokrasi Lebih dari Sekadar Pemilu

Demokrasi sering dipersempit maknanya menjadi sekadar sistem pemilihan umum atau pergantian kekuasaan yang berlangsung secara konstitusional. Ketika pemilu selesai dan pemerintahan terbentuk, banyak yang menganggap demokrasi telah menjalankan fungsinya. Padahal, demokrasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi adalah sebuah praktik kehidupan yang terus berlangsung melalui kebebasan masyarakat untuk berpikir, berbicara, mengkritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam ruang itulah seni memperoleh makna politiknya.

Sayangnya, politik masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya menjadi urusan partai politik, parlemen, atau pemerintah. Akibatnya, ketika seni berbicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan sosial lainnya, karya tersebut kerap diberi label sebagai sesuatu yang “terlalu politis”. Padahal, persoalannya bukan karena seni telah memasuki wilayah politik, melainkan karena masyarakat masih memahami politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, politik sesungguhnya adalah urusan seluruh warga negara. Setiap upaya menyampaikan aspirasi, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan publik, atau mengawasi jalannya kekuasaan merupakan tindakan politik dalam arti yang paling mendasar. Oleh sebab itu, seni yang mengangkat realitas sosial sejatinya sedang menjalankan salah satu fungsi demokrasi, yaitu menghadirkan suara warga dalam ruang publik.

Seni sebagai Bahasa Kehidupan

Seni bukan sekadar media hiburan. Seni adalah bahasa yang memungkinkan manusia berbicara ketika bahasa formal tidak lagi mampu mewakili pengalaman hidupnya.

Ada penderitaan yang tidak cukup dijelaskan oleh angka statistik. Ada ketidakadilan yang lebih mudah dipahami melalui sebuah lukisan daripada laporan resmi. Ada kemarahan yang lebih kuat terdengar melalui lagu daripada pidato politik. Melalui puisi, teater, film, musik, tari, hingga mural di ruang publik, seni menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari pembicaraan politik formal.

Di situlah letak kekuatan seni. Seni tidak menggantikan politik, tetapi melengkapinya dengan menghadirkan pengalaman manusia sebagai pusat perhatian.

Kritik sebagai Praktik Demokrasi

Dalam demokrasi, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara ataupun ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Filsuf Prancis Jacques Rancière menjelaskan bahwa politik tidak hanya berlangsung di lembaga negara. Politik juga terjadi ketika mereka yang selama ini tidak terlihat atau tidak didengar memperoleh kesempatan untuk menyatakan keberadaannya. Melalui konsep distribution of the sensible, Rancière menunjukkan bahwa politik berkaitan dengan siapa yang boleh berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, dan persoalan apa yang layak menjadi perhatian publik.

Dalam kerangka tersebut, seni memiliki peran yang sangat demokratis. Sebuah mural yang mengkritik penggusuran, puisi yang mengisahkan buruh, film yang menyoroti diskriminasi, atau pertunjukan teater yang mempertanyakan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar karya artistik. Semua itu merupakan upaya memperluas ruang publik agar pengalaman masyarakat yang selama ini tersisihkan dapat hadir dalam percakapan bersama.

Dengan demikian, seni tidak sedang merebut peran negara. Seni justru mengingatkan negara bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara warganya.

Mengapa Demokrasi Membutuhkan Seni?

Kritik yang lahir dari seni sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal, stabilitas yang dibangun melalui pembungkaman bukanlah stabilitas yang sehat, melainkan kesunyian yang dipaksakan.

Demokrasi justru bertumbuh melalui keberanian menerima kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi yang membuat kekuasaan tetap berada dalam pengawasan masyarakat.

Pemikiran John Stuart Mill filsuf Inggris memperkuat pandangan tersebut. Menurut Mill, membungkam suatu pendapat berarti menghilangkan kemungkinan masyarakat menemukan kebenaran. Bahkan apabila suatu pendapat ternyata keliru, keberadaannya tetap penting karena memaksa masyarakat menguji kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Demokrasi membutuhkan dialog dan perdebatan, bukan keseragaman.

Seni menjalankan fungsi itu dengan cara yang khas. Kritik dalam seni tidak selalu disampaikan secara langsung. Ia bekerja melalui simbol, metafora, ironi, satire, musik, visual, maupun gerak tubuh. Justru karena tidak bersifat literal, seni mampu menyentuh ruang-ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh bahasa politik biasa. Ia tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengajak mereka berpikir.

Di sinilah seni menjalankan fungsi sosialnya yang paling mendalam.

Seni sebagai Memori Kolektif Bangsa

Seni bukan hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat. Karya-karya seni menjadi arsip emosional suatu bangsa. Melalui lagu, novel, film, puisi, dan pertunjukan teater, generasi berikutnya dapat memahami bagaimana suatu zaman mengalami ketidakadilan, harapan, maupun perjuangan.

Seni menjadi saksi sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menyimpan emosi manusia yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ketika seni kehilangan kebebasannya, masyarakat sesungguhnya kehilangan salah satu ruang paling penting untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Alat Kekuasaan

Persoalan muncul ketika seni diperlakukan sebagai instrumen politik. Bukan karena seniman tidak boleh memiliki pandangan politik setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpolitik melainkan karena seni kehilangan otonominya ketika dipaksa melayani kepentingan kekuasaan.

Pada saat itu, karya tidak lagi lahir dari pencarian makna, tetapi dari kebutuhan membangun citra, memenangkan dukungan, atau menyerang lawan politik. Seni berubah dari ruang dialog menjadi alat propaganda.

Sejarah menunjukkan bahwa propaganda selalu berusaha membuat seni hanya memiliki satu suara: suara yang menguntungkan penguasa. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan keberagaman suara. Demokrasi tidak takut terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari mekanisme yang menjaganya tetap sehat.

Yang patut dikhawatirkan bukanlah karya seni yang mengkritik pemerintah, melainkan keadaan ketika tidak ada lagi karya yang berani mengkritik apa pun.

Ketiadaan kritik bukanlah tanda bahwa masyarakat telah adil. Bisa jadi, itulah pertanda bahwa masyarakat telah kehilangan keberanian untuk berbicara.

Menjaga Napas Demokrasi

Membela kebebasan seni bukan semata-mata membela hak para seniman. Membela seni berarti membela hak masyarakat untuk berpikir, berdialog, dan melihat kenyataan dari berbagai sudut pandang.

Seni yang bebas memungkinkan demokrasi terus mengoreksi dirinya sendiri. Ia menjaga agar kekuasaan tidak menjadi ruang yang kebal terhadap pertanyaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya mampu menerima tepuk tangan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bersedia mendengar suara-suara yang tidak nyaman, memberi ruang bagi perbedaan pendapat, dan menganggap kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan bersama.

Pada akhirnya, seni bukan pelengkap demokrasi. Seni adalah salah satu napasnya.

Selama masih ada puisi yang berani bertanya, lagu yang berani menggugat, mural yang berani mengingatkan, film yang berani membuka tabir ketidakadilan, dan teater yang berani menyuarakan keresahan masyarakat, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus hidup, memperbaiki diri, dan tetap berpihak pada manusia.

Sebab demokrasi yang kehilangan seni adalah demokrasi yang kehilangan imajinasi. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan imajinasi, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang lebih adil.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara yang menang dalam pemilu. Demokrasi membutuhkan suara yang berani bertanya. Dan seni, sejak dahulu hingga hari ini, adalah salah satu bentuk keberanian itu.[T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiPolitikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

Next Post

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co