8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan pada setiap karya seni yang berani mempertanyakan kenyataan.”

Demokrasi Lebih dari Sekadar Pemilu

Demokrasi sering dipersempit maknanya menjadi sekadar sistem pemilihan umum atau pergantian kekuasaan yang berlangsung secara konstitusional. Ketika pemilu selesai dan pemerintahan terbentuk, banyak yang menganggap demokrasi telah menjalankan fungsinya. Padahal, demokrasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi adalah sebuah praktik kehidupan yang terus berlangsung melalui kebebasan masyarakat untuk berpikir, berbicara, mengkritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam ruang itulah seni memperoleh makna politiknya.

Sayangnya, politik masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya menjadi urusan partai politik, parlemen, atau pemerintah. Akibatnya, ketika seni berbicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan sosial lainnya, karya tersebut kerap diberi label sebagai sesuatu yang “terlalu politis”. Padahal, persoalannya bukan karena seni telah memasuki wilayah politik, melainkan karena masyarakat masih memahami politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, politik sesungguhnya adalah urusan seluruh warga negara. Setiap upaya menyampaikan aspirasi, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan publik, atau mengawasi jalannya kekuasaan merupakan tindakan politik dalam arti yang paling mendasar. Oleh sebab itu, seni yang mengangkat realitas sosial sejatinya sedang menjalankan salah satu fungsi demokrasi, yaitu menghadirkan suara warga dalam ruang publik.

Seni sebagai Bahasa Kehidupan

Seni bukan sekadar media hiburan. Seni adalah bahasa yang memungkinkan manusia berbicara ketika bahasa formal tidak lagi mampu mewakili pengalaman hidupnya.

Ada penderitaan yang tidak cukup dijelaskan oleh angka statistik. Ada ketidakadilan yang lebih mudah dipahami melalui sebuah lukisan daripada laporan resmi. Ada kemarahan yang lebih kuat terdengar melalui lagu daripada pidato politik. Melalui puisi, teater, film, musik, tari, hingga mural di ruang publik, seni menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari pembicaraan politik formal.

Di situlah letak kekuatan seni. Seni tidak menggantikan politik, tetapi melengkapinya dengan menghadirkan pengalaman manusia sebagai pusat perhatian.

Kritik sebagai Praktik Demokrasi

Dalam demokrasi, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara ataupun ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Filsuf Prancis Jacques Rancière menjelaskan bahwa politik tidak hanya berlangsung di lembaga negara. Politik juga terjadi ketika mereka yang selama ini tidak terlihat atau tidak didengar memperoleh kesempatan untuk menyatakan keberadaannya. Melalui konsep distribution of the sensible, Rancière menunjukkan bahwa politik berkaitan dengan siapa yang boleh berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, dan persoalan apa yang layak menjadi perhatian publik.

Dalam kerangka tersebut, seni memiliki peran yang sangat demokratis. Sebuah mural yang mengkritik penggusuran, puisi yang mengisahkan buruh, film yang menyoroti diskriminasi, atau pertunjukan teater yang mempertanyakan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar karya artistik. Semua itu merupakan upaya memperluas ruang publik agar pengalaman masyarakat yang selama ini tersisihkan dapat hadir dalam percakapan bersama.

Dengan demikian, seni tidak sedang merebut peran negara. Seni justru mengingatkan negara bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara warganya.

Mengapa Demokrasi Membutuhkan Seni?

Kritik yang lahir dari seni sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal, stabilitas yang dibangun melalui pembungkaman bukanlah stabilitas yang sehat, melainkan kesunyian yang dipaksakan.

Demokrasi justru bertumbuh melalui keberanian menerima kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi yang membuat kekuasaan tetap berada dalam pengawasan masyarakat.

Pemikiran John Stuart Mill filsuf Inggris memperkuat pandangan tersebut. Menurut Mill, membungkam suatu pendapat berarti menghilangkan kemungkinan masyarakat menemukan kebenaran. Bahkan apabila suatu pendapat ternyata keliru, keberadaannya tetap penting karena memaksa masyarakat menguji kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Demokrasi membutuhkan dialog dan perdebatan, bukan keseragaman.

Seni menjalankan fungsi itu dengan cara yang khas. Kritik dalam seni tidak selalu disampaikan secara langsung. Ia bekerja melalui simbol, metafora, ironi, satire, musik, visual, maupun gerak tubuh. Justru karena tidak bersifat literal, seni mampu menyentuh ruang-ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh bahasa politik biasa. Ia tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengajak mereka berpikir.

Di sinilah seni menjalankan fungsi sosialnya yang paling mendalam.

Seni sebagai Memori Kolektif Bangsa

Seni bukan hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat. Karya-karya seni menjadi arsip emosional suatu bangsa. Melalui lagu, novel, film, puisi, dan pertunjukan teater, generasi berikutnya dapat memahami bagaimana suatu zaman mengalami ketidakadilan, harapan, maupun perjuangan.

Seni menjadi saksi sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menyimpan emosi manusia yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ketika seni kehilangan kebebasannya, masyarakat sesungguhnya kehilangan salah satu ruang paling penting untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Alat Kekuasaan

Persoalan muncul ketika seni diperlakukan sebagai instrumen politik. Bukan karena seniman tidak boleh memiliki pandangan politik setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpolitik melainkan karena seni kehilangan otonominya ketika dipaksa melayani kepentingan kekuasaan.

Pada saat itu, karya tidak lagi lahir dari pencarian makna, tetapi dari kebutuhan membangun citra, memenangkan dukungan, atau menyerang lawan politik. Seni berubah dari ruang dialog menjadi alat propaganda.

Sejarah menunjukkan bahwa propaganda selalu berusaha membuat seni hanya memiliki satu suara: suara yang menguntungkan penguasa. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan keberagaman suara. Demokrasi tidak takut terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari mekanisme yang menjaganya tetap sehat.

Yang patut dikhawatirkan bukanlah karya seni yang mengkritik pemerintah, melainkan keadaan ketika tidak ada lagi karya yang berani mengkritik apa pun.

Ketiadaan kritik bukanlah tanda bahwa masyarakat telah adil. Bisa jadi, itulah pertanda bahwa masyarakat telah kehilangan keberanian untuk berbicara.

Menjaga Napas Demokrasi

Membela kebebasan seni bukan semata-mata membela hak para seniman. Membela seni berarti membela hak masyarakat untuk berpikir, berdialog, dan melihat kenyataan dari berbagai sudut pandang.

Seni yang bebas memungkinkan demokrasi terus mengoreksi dirinya sendiri. Ia menjaga agar kekuasaan tidak menjadi ruang yang kebal terhadap pertanyaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya mampu menerima tepuk tangan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bersedia mendengar suara-suara yang tidak nyaman, memberi ruang bagi perbedaan pendapat, dan menganggap kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan bersama.

Pada akhirnya, seni bukan pelengkap demokrasi. Seni adalah salah satu napasnya.

Selama masih ada puisi yang berani bertanya, lagu yang berani menggugat, mural yang berani mengingatkan, film yang berani membuka tabir ketidakadilan, dan teater yang berani menyuarakan keresahan masyarakat, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus hidup, memperbaiki diri, dan tetap berpihak pada manusia.

Sebab demokrasi yang kehilangan seni adalah demokrasi yang kehilangan imajinasi. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan imajinasi, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang lebih adil.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara yang menang dalam pemilu. Demokrasi membutuhkan suara yang berani bertanya. Dan seni, sejak dahulu hingga hari ini, adalah salah satu bentuk keberanian itu.[T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiPolitikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

Next Post

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co