19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan pada setiap karya seni yang berani mempertanyakan kenyataan.”

Demokrasi Lebih dari Sekadar Pemilu

Demokrasi sering dipersempit maknanya menjadi sekadar sistem pemilihan umum atau pergantian kekuasaan yang berlangsung secara konstitusional. Ketika pemilu selesai dan pemerintahan terbentuk, banyak yang menganggap demokrasi telah menjalankan fungsinya. Padahal, demokrasi yang sesungguhnya tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi adalah sebuah praktik kehidupan yang terus berlangsung melalui kebebasan masyarakat untuk berpikir, berbicara, mengkritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam ruang itulah seni memperoleh makna politiknya.

Sayangnya, politik masih sering dipahami secara sempit, seolah hanya menjadi urusan partai politik, parlemen, atau pemerintah. Akibatnya, ketika seni berbicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau persoalan sosial lainnya, karya tersebut kerap diberi label sebagai sesuatu yang “terlalu politis”. Padahal, persoalannya bukan karena seni telah memasuki wilayah politik, melainkan karena masyarakat masih memahami politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.

Dalam negara demokrasi, politik sesungguhnya adalah urusan seluruh warga negara. Setiap upaya menyampaikan aspirasi, mempertanyakan kebijakan, membela kepentingan publik, atau mengawasi jalannya kekuasaan merupakan tindakan politik dalam arti yang paling mendasar. Oleh sebab itu, seni yang mengangkat realitas sosial sejatinya sedang menjalankan salah satu fungsi demokrasi, yaitu menghadirkan suara warga dalam ruang publik.

Seni sebagai Bahasa Kehidupan

Seni bukan sekadar media hiburan. Seni adalah bahasa yang memungkinkan manusia berbicara ketika bahasa formal tidak lagi mampu mewakili pengalaman hidupnya.

Ada penderitaan yang tidak cukup dijelaskan oleh angka statistik. Ada ketidakadilan yang lebih mudah dipahami melalui sebuah lukisan daripada laporan resmi. Ada kemarahan yang lebih kuat terdengar melalui lagu daripada pidato politik. Melalui puisi, teater, film, musik, tari, hingga mural di ruang publik, seni menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari pembicaraan politik formal.

Di situlah letak kekuatan seni. Seni tidak menggantikan politik, tetapi melengkapinya dengan menghadirkan pengalaman manusia sebagai pusat perhatian.

Kritik sebagai Praktik Demokrasi

Dalam demokrasi, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara ataupun ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Filsuf Prancis Jacques Rancière menjelaskan bahwa politik tidak hanya berlangsung di lembaga negara. Politik juga terjadi ketika mereka yang selama ini tidak terlihat atau tidak didengar memperoleh kesempatan untuk menyatakan keberadaannya. Melalui konsep distribution of the sensible, Rancière menunjukkan bahwa politik berkaitan dengan siapa yang boleh berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, dan persoalan apa yang layak menjadi perhatian publik.

Dalam kerangka tersebut, seni memiliki peran yang sangat demokratis. Sebuah mural yang mengkritik penggusuran, puisi yang mengisahkan buruh, film yang menyoroti diskriminasi, atau pertunjukan teater yang mempertanyakan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar karya artistik. Semua itu merupakan upaya memperluas ruang publik agar pengalaman masyarakat yang selama ini tersisihkan dapat hadir dalam percakapan bersama.

Dengan demikian, seni tidak sedang merebut peran negara. Seni justru mengingatkan negara bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar suara warganya.

Mengapa Demokrasi Membutuhkan Seni?

Kritik yang lahir dari seni sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal, stabilitas yang dibangun melalui pembungkaman bukanlah stabilitas yang sehat, melainkan kesunyian yang dipaksakan.

Demokrasi justru bertumbuh melalui keberanian menerima kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi yang membuat kekuasaan tetap berada dalam pengawasan masyarakat.

Pemikiran John Stuart Mill filsuf Inggris memperkuat pandangan tersebut. Menurut Mill, membungkam suatu pendapat berarti menghilangkan kemungkinan masyarakat menemukan kebenaran. Bahkan apabila suatu pendapat ternyata keliru, keberadaannya tetap penting karena memaksa masyarakat menguji kembali keyakinan yang selama ini dianggap benar. Demokrasi membutuhkan dialog dan perdebatan, bukan keseragaman.

Seni menjalankan fungsi itu dengan cara yang khas. Kritik dalam seni tidak selalu disampaikan secara langsung. Ia bekerja melalui simbol, metafora, ironi, satire, musik, visual, maupun gerak tubuh. Justru karena tidak bersifat literal, seni mampu menyentuh ruang-ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh bahasa politik biasa. Ia tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengajak mereka berpikir.

Di sinilah seni menjalankan fungsi sosialnya yang paling mendalam.

Seni sebagai Memori Kolektif Bangsa

Seni bukan hanya mencerminkan masyarakat, tetapi juga membentuk kesadaran masyarakat. Karya-karya seni menjadi arsip emosional suatu bangsa. Melalui lagu, novel, film, puisi, dan pertunjukan teater, generasi berikutnya dapat memahami bagaimana suatu zaman mengalami ketidakadilan, harapan, maupun perjuangan.

Seni menjadi saksi sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menyimpan emosi manusia yang hidup di dalamnya.

Karena itu, ketika seni kehilangan kebebasannya, masyarakat sesungguhnya kehilangan salah satu ruang paling penting untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Alat Kekuasaan

Persoalan muncul ketika seni diperlakukan sebagai instrumen politik. Bukan karena seniman tidak boleh memiliki pandangan politik setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpolitik melainkan karena seni kehilangan otonominya ketika dipaksa melayani kepentingan kekuasaan.

Pada saat itu, karya tidak lagi lahir dari pencarian makna, tetapi dari kebutuhan membangun citra, memenangkan dukungan, atau menyerang lawan politik. Seni berubah dari ruang dialog menjadi alat propaganda.

Sejarah menunjukkan bahwa propaganda selalu berusaha membuat seni hanya memiliki satu suara: suara yang menguntungkan penguasa. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan keberagaman suara. Demokrasi tidak takut terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari mekanisme yang menjaganya tetap sehat.

Yang patut dikhawatirkan bukanlah karya seni yang mengkritik pemerintah, melainkan keadaan ketika tidak ada lagi karya yang berani mengkritik apa pun.

Ketiadaan kritik bukanlah tanda bahwa masyarakat telah adil. Bisa jadi, itulah pertanda bahwa masyarakat telah kehilangan keberanian untuk berbicara.

Menjaga Napas Demokrasi

Membela kebebasan seni bukan semata-mata membela hak para seniman. Membela seni berarti membela hak masyarakat untuk berpikir, berdialog, dan melihat kenyataan dari berbagai sudut pandang.

Seni yang bebas memungkinkan demokrasi terus mengoreksi dirinya sendiri. Ia menjaga agar kekuasaan tidak menjadi ruang yang kebal terhadap pertanyaan.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang hanya mampu menerima tepuk tangan. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bersedia mendengar suara-suara yang tidak nyaman, memberi ruang bagi perbedaan pendapat, dan menganggap kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan bersama.

Pada akhirnya, seni bukan pelengkap demokrasi. Seni adalah salah satu napasnya.

Selama masih ada puisi yang berani bertanya, lagu yang berani menggugat, mural yang berani mengingatkan, film yang berani membuka tabir ketidakadilan, dan teater yang berani menyuarakan keresahan masyarakat, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus hidup, memperbaiki diri, dan tetap berpihak pada manusia.

Sebab demokrasi yang kehilangan seni adalah demokrasi yang kehilangan imajinasi. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan imajinasi, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang lebih adil.

Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara yang menang dalam pemilu. Demokrasi membutuhkan suara yang berani bertanya. Dan seni, sejak dahulu hingga hari ini, adalah salah satu bentuk keberanian itu.[T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasiPolitikSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

Next Post

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co