1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
in Persona
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api spektakuler, ataupun peralatan dapur berteknologi tinggi. Yang terdengar justru bunyi berirama dari cobek dan ulekan yang saling beradu.

Suara itu menjadi pusat perhatian para pengunjung yang memadati area demo memasak pada hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026.

Dalam sesi bertajuk ‘Lalapan Reimagined’, dua perempuan yang dikenal luas di dunia kuliner dan media sosial, Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen, mengajak audiens melihat kembali salah satu tradisi makan paling sederhana sekaligus paling akrab bagi masyarakat Indonesia, yakni lalapan.

Jesselyn Lauwreen (kiri) dan Veni Calista (kanan) saat mengulek sambal│Foto: tatkala.co/Dede

Bagi banyak orang Indonesia, lalapan mungkin hanyalah sayuran segar peneman ayam goreng, ikan bakar, atau aneka lauk lainnya. Namun di tangan Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen, tradisi yang acap dianggap biasa itu justru tampil sebagai simbol kekayaan pangan lokal, keberagaman bahan, dan relasi panjang antara petani, dapur, serta meja makan.

Sejak sesi dimulai, keduanya tidak langsung berbicara panjang lebar. Mereka memilih menunjukkan proses yang selama ini menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Nusantara, yaitu mengulek sambal secara manual.

Di hadapan penonton yang terdiri dari wisatawan domestik maupun mancanegara, mereka mengolah berbagai jenis sambal menggunakan cobek batu. Cabai, bawang, tomat, terasi, dan aneka bumbu lain dihancurkan perlahan hingga menghasilkan tekstur yang khas.

Bagi sebagian wisatawan asing, pemandangan itu menjadi sesuatu yang menarik. Di tengah era peralatan dapur modern yang serba cepat, proses mengulek tampak sederhana, namun menyimpan filosofi dan karakter rasa yang tidak mudah digantikan.

Cooking Demo oleh Jesselyn Lauwreen dan Veni Calista di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Jesselyn Lauwreen menjelaskan bahwa cara mengolah sambal memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir yang didapatkan.

“Kalau Ngulek digantikan dengan blender tentu akan berbeda tekstur, aroma, dan cita rasa yang didapatkan. Jadi, kami menghadirkan rasa yang autentik dengan mengulek, dan ini adalah cara tradisional Indonesia,” ujar Jesselyn.

Pernyataan itu segera mendapat respons dari audiens yang memperhatikan setiap gerakan ulekan yang berputar di atas cobek. Proses yang mungkin terlihat sederhana ternyata menjadi bagian penting dalam menjaga karakter sebuah hidangan.

Sementara Jesselyn sibuk mengolah bumbu, Veni Calista menjelaskan posisi sambal dalam budaya makan masyarakat Indonesia. Menurutnya, sambal bukan sekadar pelengkap yang hadir di pinggir piring.

Lebih dari itu, sambal sering kali menjadi elemen yang menentukan pengalaman makan secara keseluruhan.

“Sambal-sambal ini bisa dipadukan dengan apa saja. Dan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap makanan, tetapi menjadi salah satu hal penting, terutama dalam masakan Indonesia,” kata Veni Calista.

Lalapan Reimagined oleh Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen│Foto: tatkala.co/Dede

Sepanjang demonstrasi, beraneka sambal disiapkan dengan karakter berbeda-beda, mulai dari sambal ganja khas aceh, sambal terasi, sambal hijau, dan sambal teri kacang. Menghadirkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis.

Namun sesi tersebut tidak hanya berbicara tentang rasa.

Di tengah proses memasak, Veni Calista juga menghubungkan sambal dengan tema besar yang diangkat Ubud Food Festival tahun ini, yaitu ‘Farmers: Guardians of Land and Sea’.

Baginya, keberadaan sambal tidak bisa dilepaskan dari kerja para petani yang menanam bahan-bahan dasar yang digunakan setiap hari di dapur Indonesia.

“Sambal itu membuat saya teringat semangat dari tema Ubud Food Festival 2026, ‘Farmers: Guardians of Land and Sea’. Tentu dengan hal-hal seperti ini kita semua bisa ikut menjaga pangan,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa setiap sambal sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar rasa pedas. Di dalamnya ada hasil kerja petani cabai, tomat, bawang, hingga berbagai pihak yang menjaga keberlangsungan bahan pangan lokal.

Veni Calista menjelaskan sambal yang dibuat kepada salah satu audiens│Foto: tatkala.co/Dede

 

Setelah seluruh sambal selesai dibuat, sesi kemudian berlanjut pada tahap yang paling menarik secara visual.

Veni Calista dan Jesselyn mulai menata hidangan lalapan dalam sebuah papan saji besar. Satu per satu bahan disusun dengan cermat. Aneka sayuran segar, daun selada, kol, kemangi, mentimun, dan tomat ditempatkan mengelilingi cobek sambal yang menjadi pusat sajian.

Di sisi lain, ayam goreng, ikan bakar, tempe, tahu, kerupuk, terong bakar, serta berbagai pelengkap lain ditata hingga membentuk hamparan warna-warni yang menggugah selera.

Perlahan, meja demonstrasi berubah menjadi sebuah representasi sederhana tentang kekayaan pangan Indonesia.

Audiens pun segera mengangkat gawai mereka ketika sajian selesai ditata. Beberapa berdiri mendekat untuk mendapatkan sudut foto terbaik. Sebelum makanan dicicipi, karya tersebut terlebih dahulu menjadi objek yang diabadikan.

Momen itu menunjukkan bagaimana sebuah tradisi makan yang sehari-hari ditemukan di warung pinggir jalan, rumah tangga, atau meja makan keluarga Indonesia, dapat tampil memikat di panggung festival kuliner internasional.

Audiens mencicipi hidangan yang tersaji di akhir sesi demo memasak│Foto: tatkala.co/Dede

Setelah sesi foto selesai, audiens dipersilakan mencicipi hasil demonstrasi tersebut.

Bagi pengunjung Indonesia, pengalaman menikmati sambal dan lalapan tentu bukan hal baru. Namun bagi banyak wisatawan asing yang hadir, kesempatan mencicipi beberapa jenis sambal sekaligus menjadi pengalaman yang berbeda.

Mereka tidak hanya mencoba rasa pedas yang beragam, tetapi juga mengenal cara masyarakat Indonesia menikmati makanan melalui kombinasi sayuran segar, lauk sederhana, dan sambal yang menjadi pusat cita rasa.

Di tengah berbagai sajian internasional yang hadir sepanjang Ubud Food Festival 2026, sesi ‘Lalapan Reimagined’ menunjukkan bahwa kekuatan kuliner Indonesia tidak selalu terletak pada teknik rumit atau bahan mewah.

Terkadang, kekuatan itu justru hadir dalam hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: cobek batu, sambal diulek perlahan, dan sepiring lalapan yang menghubungkan tanah, petani, tradisi, serta ingatan kolektif tentang makanan.

Melalui demonstrasi tersebut, Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen berhasil menunjukkan bahwa sambal dan lalapan bukan sekadar pendamping makanan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner Indonesia yang terus hidup, diwariskan, dan menemukan ruang baru untuk diperkenalkan kepada dunia. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinersambalUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Next Post

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

'Nyama Kelod-Nyama Kaje': Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co