22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
in Persona
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api spektakuler, ataupun peralatan dapur berteknologi tinggi. Yang terdengar justru bunyi berirama dari cobek dan ulekan yang saling beradu.

Suara itu menjadi pusat perhatian para pengunjung yang memadati area demo memasak pada hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026.

Dalam sesi bertajuk ‘Lalapan Reimagined’, dua perempuan yang dikenal luas di dunia kuliner dan media sosial, Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen, mengajak audiens melihat kembali salah satu tradisi makan paling sederhana sekaligus paling akrab bagi masyarakat Indonesia, yakni lalapan.

Jesselyn Lauwreen (kiri) dan Veni Calista (kanan) saat mengulek sambal│Foto: tatkala.co/Dede

Bagi banyak orang Indonesia, lalapan mungkin hanyalah sayuran segar peneman ayam goreng, ikan bakar, atau aneka lauk lainnya. Namun di tangan Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen, tradisi yang acap dianggap biasa itu justru tampil sebagai simbol kekayaan pangan lokal, keberagaman bahan, dan relasi panjang antara petani, dapur, serta meja makan.

Sejak sesi dimulai, keduanya tidak langsung berbicara panjang lebar. Mereka memilih menunjukkan proses yang selama ini menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Nusantara, yaitu mengulek sambal secara manual.

Di hadapan penonton yang terdiri dari wisatawan domestik maupun mancanegara, mereka mengolah berbagai jenis sambal menggunakan cobek batu. Cabai, bawang, tomat, terasi, dan aneka bumbu lain dihancurkan perlahan hingga menghasilkan tekstur yang khas.

Bagi sebagian wisatawan asing, pemandangan itu menjadi sesuatu yang menarik. Di tengah era peralatan dapur modern yang serba cepat, proses mengulek tampak sederhana, namun menyimpan filosofi dan karakter rasa yang tidak mudah digantikan.

Cooking Demo oleh Jesselyn Lauwreen dan Veni Calista di Ubud Food Festival 2026│Foto: tatkala.co/Dede

Jesselyn Lauwreen menjelaskan bahwa cara mengolah sambal memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir yang didapatkan.

“Kalau Ngulek digantikan dengan blender tentu akan berbeda tekstur, aroma, dan cita rasa yang didapatkan. Jadi, kami menghadirkan rasa yang autentik dengan mengulek, dan ini adalah cara tradisional Indonesia,” ujar Jesselyn.

Pernyataan itu segera mendapat respons dari audiens yang memperhatikan setiap gerakan ulekan yang berputar di atas cobek. Proses yang mungkin terlihat sederhana ternyata menjadi bagian penting dalam menjaga karakter sebuah hidangan.

Sementara Jesselyn sibuk mengolah bumbu, Veni Calista menjelaskan posisi sambal dalam budaya makan masyarakat Indonesia. Menurutnya, sambal bukan sekadar pelengkap yang hadir di pinggir piring.

Lebih dari itu, sambal sering kali menjadi elemen yang menentukan pengalaman makan secara keseluruhan.

“Sambal-sambal ini bisa dipadukan dengan apa saja. Dan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap makanan, tetapi menjadi salah satu hal penting, terutama dalam masakan Indonesia,” kata Veni Calista.

Lalapan Reimagined oleh Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen│Foto: tatkala.co/Dede

Sepanjang demonstrasi, beraneka sambal disiapkan dengan karakter berbeda-beda, mulai dari sambal ganja khas aceh, sambal terasi, sambal hijau, dan sambal teri kacang. Menghadirkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis.

Namun sesi tersebut tidak hanya berbicara tentang rasa.

Di tengah proses memasak, Veni Calista juga menghubungkan sambal dengan tema besar yang diangkat Ubud Food Festival tahun ini, yaitu ‘Farmers: Guardians of Land and Sea’.

Baginya, keberadaan sambal tidak bisa dilepaskan dari kerja para petani yang menanam bahan-bahan dasar yang digunakan setiap hari di dapur Indonesia.

“Sambal itu membuat saya teringat semangat dari tema Ubud Food Festival 2026, ‘Farmers: Guardians of Land and Sea’. Tentu dengan hal-hal seperti ini kita semua bisa ikut menjaga pangan,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa setiap sambal sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar rasa pedas. Di dalamnya ada hasil kerja petani cabai, tomat, bawang, hingga berbagai pihak yang menjaga keberlangsungan bahan pangan lokal.

Veni Calista menjelaskan sambal yang dibuat kepada salah satu audiens│Foto: tatkala.co/Dede

 

Setelah seluruh sambal selesai dibuat, sesi kemudian berlanjut pada tahap yang paling menarik secara visual.

Veni Calista dan Jesselyn mulai menata hidangan lalapan dalam sebuah papan saji besar. Satu per satu bahan disusun dengan cermat. Aneka sayuran segar, daun selada, kol, kemangi, mentimun, dan tomat ditempatkan mengelilingi cobek sambal yang menjadi pusat sajian.

Di sisi lain, ayam goreng, ikan bakar, tempe, tahu, kerupuk, terong bakar, serta berbagai pelengkap lain ditata hingga membentuk hamparan warna-warni yang menggugah selera.

Perlahan, meja demonstrasi berubah menjadi sebuah representasi sederhana tentang kekayaan pangan Indonesia.

Audiens pun segera mengangkat gawai mereka ketika sajian selesai ditata. Beberapa berdiri mendekat untuk mendapatkan sudut foto terbaik. Sebelum makanan dicicipi, karya tersebut terlebih dahulu menjadi objek yang diabadikan.

Momen itu menunjukkan bagaimana sebuah tradisi makan yang sehari-hari ditemukan di warung pinggir jalan, rumah tangga, atau meja makan keluarga Indonesia, dapat tampil memikat di panggung festival kuliner internasional.

Audiens mencicipi hidangan yang tersaji di akhir sesi demo memasak│Foto: tatkala.co/Dede

Setelah sesi foto selesai, audiens dipersilakan mencicipi hasil demonstrasi tersebut.

Bagi pengunjung Indonesia, pengalaman menikmati sambal dan lalapan tentu bukan hal baru. Namun bagi banyak wisatawan asing yang hadir, kesempatan mencicipi beberapa jenis sambal sekaligus menjadi pengalaman yang berbeda.

Mereka tidak hanya mencoba rasa pedas yang beragam, tetapi juga mengenal cara masyarakat Indonesia menikmati makanan melalui kombinasi sayuran segar, lauk sederhana, dan sambal yang menjadi pusat cita rasa.

Di tengah berbagai sajian internasional yang hadir sepanjang Ubud Food Festival 2026, sesi ‘Lalapan Reimagined’ menunjukkan bahwa kekuatan kuliner Indonesia tidak selalu terletak pada teknik rumit atau bahan mewah.

Terkadang, kekuatan itu justru hadir dalam hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: cobek batu, sambal diulek perlahan, dan sepiring lalapan yang menghubungkan tanah, petani, tradisi, serta ingatan kolektif tentang makanan.

Melalui demonstrasi tersebut, Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen berhasil menunjukkan bahwa sambal dan lalapan bukan sekadar pendamping makanan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner Indonesia yang terus hidup, diwariskan, dan menemukan ruang baru untuk diperkenalkan kepada dunia. [T]

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinersambalUbudUbud Food Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Pacet Mereka Kembali

Next Post

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails
Next Post
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

'Nyama Kelod-Nyama Kaje': Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co