GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) berskala 1:64. Sama seperti diorama, miniatur mobil juga kerap dimodifikasi agar tampak lebih nyata. Saya menemui Brey―panggilan akrabnya―di acara International Automodified (IAM) 2026 di Tunjungan Plaza Convention Hall, Surabaya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ya, pria 21 tahun asal Juanda, Sidoarjo, itu mengenal dunia modifikasi die-cast awalnya dari media sosial, sejak ia masih duduk di bangku SMK. Saat itu lini masanya dipenuhi video mobil-mobil mini yang dimodifikasi menyerupai kendaraan dalam film Fast & Furious. Rasa penasaran membuatnya mencoba. Tapi percobaan pertamanya jauh dari kata berhasil. Meski kegagalan-kegagalan kecil itu juga yang membuatnya terus mencoba. Kini ia sudah lulus sekolah, dan memilih menekuni dunia modifikasi die-cast. “Dari kecil saya memang suka otak-atik mainan,” kata Brey.
Saya membuka Instagram dan menonton video singkat yang menampilkan sebuah Porsche 911 mungil berwarna kuning mencolok yang tengah direparasi Brey. Ukurannya bahkan lebih kecil dari telapak tangan. Namun bagi Brey, mobil itu bukan sekadar mainan. Ia memegangnya dengan ketelitian seorang montir yang sedang memeriksa kendaraan sungguhan. Pemuda bertubuh tinggi itu tampak memberi efek karat pada beberapa bagian bodi mobil, seolah sedang menua-kan sebuah kendaraan yang telah lama menempuh perjalanan.

Benar. Orang-orang seperti Brey ini seolah menjadi montir dan karoseri—yang melayani pembuatan, perakitan, dan modifikasi bodi dan interior kendaraan di atas sasis atau kerangka dasar—dalam skala mini. Hampir semua ubahan yang lazim diterapkan pada mobil sungguhan dapat mereka tiru—mengganti roda dan velg, mengecat ulang bodi, menambahkan decal (jenis stiker khusus yang terbuat dari bahan vinil atau film transparan, dirancang untuk ukuran besar atau detail rumit) tertentu, hingga memanjangkan spatbor—hanya saja seluruh pekerjaan itu dilakukan pada komponen yang ukurannya tak lebih besar dari ruas jari tangan.
Sebelum menekuni modifikasi mobil kerdil ini, Brey lebih dulu membuat diorama—miniatur lingkungan yang menjadi panggung bagi mobil-mobil kecil tersebut. Ia mengikuti berbagai kontes di Surabaya dan mulai dikenal di kalangan penghobi. Karya-karya Brey sudah sampai di Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa kota di Indonesia.
Kini, akun TikTok dan Instagram miliknya, @dissect_miniscale, menjadi etalase sekaligus bengkel digital. Melalui siaran langsung, ia menunjukkan proses membongkar die-cast, mengikis bodi, memasang aksesori, hingga mengecat ulang kendaraan berukuran mini itu. Apa yang dahulu hanya bisa disaksikan di meja kerja para penghobi kini dapat ditonton ribuan orang secara langsung melalui layar ponsel.
Pada saat yang sama, saya juga mewawancarai Muhammad Ardiansyah, seorang perajin modifikasi die-cast skala 1:64. Sore itu, ia mengeluarkan tiga mobil mini hasil garapannya dari dalam tas selempang yang dibawanya. Mohon maaf, saya harus mengakui satu kelalaian: saya lupa menanyakan jenis ketiga mobil tersebut. Dari bentuknya, saya hanya bisa menebak-nebak—barangkali BMW M3, Nissan Skyline, dan semacam Volkswagen Kool Kombi. Yang pasti, ketiganya tampil menawan di dalam kotak akrilik dan detail yang dikerjakan dengan telaten. Sulit membayangkan bahwa benda-benda sekecil itu berawal dari mainan produksi massal sebelum kemudian berubah menjadi karya yang nyaris tak memiliki kembaran.
Ardiansyah termasuk generasi baru perajin mobil mini yang lahir dari kegemaran mengoleksi die-cast. Ia mulai akrab dengan dunia itu sekitar 2017-2018. Mula-mula ia hanya membeli dan menyimpan berbagai model mobil mini sebagai koleksi pribadi. Namun ketertarikan itu perlahan berkembang. Sebagian koleksinya mulai ia jual kembali, membuka jalan bagi keterlibatannya yang lebih serius dalam ekosistem die-cast.

Memasuki 2019, Ardiansyah semakin tenggelam dalam dunia mobil skala mini, terutama melalui merek-merek populer seperti Hot Wheels dan Mini GT. Dari sekadar kolektor, ia kemudian berproses menjadi perajin yang tak hanya mengagumi detail sebuah miniatur, tetapi juga mampu menciptakan dan mengubahnya dengan sentuhan tangannya sendiri.
Menurut Ardiansyah, di dunia kolektor, mobil-mobil mungil itu bukan benda mati. Mereka bisa dimodifikasi, dibongkar, dicat ulang, diganti velg, ditambah body kit, bahkan diubah menjadi versi yang tak pernah diproduksi pabrikan. “Seperti mobil sungguhan, die-cast juga ada dunia modifikasinya sendiri,” ujarnya sambil terus mengunyah sesuatu di mulutnya.
Sama seperti Brey, Ardiansyah juga mempelajari seni ini secara otodidak. Dari mengamati karya para customizer—sebutan untuk orang-orang yang senang memodifikasi die-cast—di media sosial, ia belajar bagaimana sebuah miniatur bisa tampak jauh lebih hidup. Lambat laun ia mulai membuat decal sendiri, memodifikasi bodi, hingga menerima pesanan dari sesama kolektor. Bahkan, hasil kerja kerasnya sampai ke tangan-tangan kolektor di Jakarta, Malaysia, hingga Singapura.
“Saat ini saya sudah menjadikan seni ini sebagai pekerjaan utama, di samping bikin decal dan body kit,” ujarnya.

Proses modifikasi die-cast, menurut Ardiansyah, memang menuntut kesabaran, ketelitian, dan keterampilan tangan yang baik. Namun, sekali menekuninya, hobi ini bisa sangat membuat ketagihan. “Yang dicari itu detail dan kerapihannya,” kata pria 37 tahun asal Karangpilang tersebut.
Di akun Instagramnya, @satuenampat, hasil-hasil pekerjaannya berjejer rapi: mobil reli dengan livery balap yang presisi, mobil jalanan dengan detail khas Jepang, hingga kendaraan yang tampak seperti baru keluar dari bengkel modifikasi sungguhan.
Tumbuh Berkat Teknologi Digital
Di kalangan kolektor, para perajin seperti Ardiansyah dan Aubrey sering disebut customizer. Namun sebutan lain mungkin lebih tepat: montir mobil kerdil. Sebab proses yang mereka lakukan nyaris sama dengan modifikasi kendaraan sungguhan. Sebuah die-cast dibongkar dengan mengebor rivet penguncinya. Cat pabrikan dihilangkan. Bodi diamplas. Setelah itu barulah proses kreatif dimulai: pengecatan ulang, pemasangan decal, penggantian roda, penambahan spoiler, body kit, lampu, hingga interior. Beberapa bahkan menambahkan efek karat, atau bekas pemakaian agar tampak realistis, mengganti mesin, menurunkan suspensi, hingga menciptakan ulang mobil-mobil balap atau kendaraan kustom dengan tingkat detail yang mengagumkan.

Berbekal peralatan sederhana seperti amplas, lem super, ragum, dan alat putar semacam dremel, para modifikator die-cast skala 1:64—yang juga sering disebut modifikator Hot Wheels karena dominasi merek tersebut—seperti halnya modifikator mobil sungguhan, langkah pertama yang mereka lakukan juga adalah membongkar kendaraan sebelum mengubahnya sesuai imajinasi.
Teknik membongkar dan merakit kembali mobil mini ini kini terdokumentasi dengan baik. Anda dapat melihatnya di media sosial dengan kata kunci: modifikasi die-cast atau semacamnya. Banyak pehobi yang membagikan berbagai panduan melalui akunya masing-masing.
Sampai di sini, perkembangan teknologi digital membuat batas antara dunia miniatur dan dunia nyata semakin kabur. Desain body kit kini juga bisa dibuat menggunakan perangkat lunak pemodelan tiga dimensi. Komponen-komponen kecil seperti roda, velg, spoiler, kap mesin, atau aksesori lain dapat dicetak menggunakan printer 3D. Bahkan industri Hot Wheels sendiri telah memanfaatkan desain digital dan pencetakan 3D dalam proses pengembangan model-model baru mereka.
Karena itu, kemampuan yang dibutuhkan seorang customizer hari ini tidak lagi hanya berkaitan dengan keterampilan tangan semata. Mereka juga dituntut memahami fotografi, desain grafis, pengeditan video, hingga pemasaran digital.

Media sosial menjadi ruang pamer terbesar dan termurah mereka. Instagram memudahkan kolektor memamerkan karya kepada komunitas lintas negara. TikTok memungkinkan proses modifikasi yang memakan waktu berjam-jam diringkas menjadi video berdurasi satu menit. Sementara siaran langsung membuka peluang transaksi secara real time antara pembuat dan calon pembeli. Oleh sebab itu, hobi yang dulu identik dengan rak koleksi kini bertransformasi menjadi ekosistem digital.

Hobi ini juga terus berkembang secara global. Sejumlah laporan industri menunjukkan pasar model die-cast dunia bernilai miliaran dolar AS dan terus bertumbuh. Salah satu pendorong terbesarnya adalah komunitas digital yang memungkinkan para kolektor dan modifikator saling terhubung lintas negara. Pengaruh media sosial bahkan disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan pasar tersebut.
Meski demikian, saya menduga nilai terpenting dari mobil-mobil mungil hasil modifikasi itu tidak selalu terletak pada harganya. Yang lebih berharga adalah hasrat untuk menciptakan sesuatu yang unik dan personal. Melalui tangan mereka, sebuah Nissan Skyline yang tak pernah diproduksi pabrikan bisa menjadi nyata. Sebuah Toyota tua dapat diubah menyerupai mobil yang pernah dikendarai seseorang pada masa mudanya. Bahkan mobil balap yang selama ini hanya hidup di dalam imajinasi pun dapat menjelma menjadi benda yang bisa disentuh, dipajang, dan dipandangi berulang kali.
Di dunia modifikasi die-cast, kreativitas sering kali lebih bernilai daripada kelangkaan, dan kenangan lebih berharga daripada sekadar angka pada label harga. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk “terus belajar dan bereksperimen,” kata Aubrey.

Benar. Di tangan para montir mobil kerdil seperti Ardiansyah dan Aubrey, sebuah mainan tidak berhenti menjadi benda koleksi. Ia berubah menjadi ruang berkarya, tempat ketelitian bertemu imajinasi, dan tempat dunia otomotif diperkecil hingga muat di atas telapak tangan―mereka menemukan kebahagiaan dari benda-benda yang bisa disentuh, dibongkar, dan dirakit kembali.
Dan karya-karya itu hidup lebih jauh berkat internet. Ibaratnya, sebuah mobil kecil selesai dimodifikasi di Surabaya. Aubrey memotretnya. Ardiansyah mengunggahnya ke Instagram. Dalam hitungan menit, foto itu melintas di layar ponsel seseorang di Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, bahkan Los Angeles. Mungkin bagi sebagian orang ia hanya mainan. Namun bagi para montir mobil kerdil seperti Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah, benda itu adalah hasil berjam-jam kesabaran, puluhan kali percobaan, dan imajinasi yang terus diasah.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole






























