14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief by Azhari M. Latief
June 24, 2026
in Esai
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialog itu di televisi, dan belakangan, ramai dikonsumsi dalam bentuk siniar-siniar. Di mana-mana pola yang sama diulang: dua pihak yang berbeda pandangan diundang, dipertemukan, dan dibiarkan berdebat panjang lebar.

Atas nama demokrasi pula, dialog-dialog semacam itu diberi panggung yang luas dan ditonton banyak orang, tanpa seorang pun benar-benar tahu ujungnya akan bermuara ke mana. Apa yang kita tahu: dialog yang acap banjir kata-kata makian itu; yang konon dianggap sebagai jantung demokrasi; kini mengalami pergesaran makna menjadi hiburan. Pergeseran makna inilah yang kemudian ramai disebut dengan satu istilah yang catchy: Talkshow.

Di dalam Talkshow, dialog diesensialisasi sebagai pangkal dan ujung dari demokrasi. Setiap orang yang mendaku diri sebagai pro-demokrasi, maka ia harus menyediakan diri untuk berdialog dengan siapa saja yang memiliki pendapat yang berbeda, bagi pihak ini, dialog bersinonim dengan kata demokrasi; sebaliknya, bagi siapapun yang menolak dialog, maka ia bisa dikategorikan sebagai kontra-demokrasi, ‘memalukan’, dan tuduhan-tuduhan negatif lainnya.

Dialog Non-Deliberatif

Padahal, terdapat berbagai syarat agar sebuah dialog dapat disebut demokratis. Pelajaran ini banyak dijelaskan oleh Habermas (2007): supaya dapat disebut demokratis, sebuah dialog harus memenuhi kondisi-kondisi komunikatif yang setara dan bebas dominasi, setelah kondisi-kondisi terpenuhi, barulah sebuah konsensus dihasilkan, dan menjadi legitim peserta dialog.  Bahkan Horkheimer, kolega Habermas, lebih radikal lagi, ia menyebut, agar sebuah dialog dapat disebut demokratis, ia harus mengutamakan sikap kritis—dan tidak hanya kritis, ia harus berorientasi pada emansipasi.

Konsekuensi atas penjelasan teoretis ini adalah bahwa tidak semua dialog dapat disebut demokratis, dan lebih jauh, dialog tidak bisa diapahami secara banal sebagai faktor esensial bagi demokrasi. Ia hanya merupakan syarat perlu yang bisa ditangguhkan justru untuk mencapai tujuan-tujuan demokratis. Dengan cara inilah kita bisa memahami penolakan Tan Malaka untuk ‘dialog’/negosisasi terhadap ‘pencuri di rumah sendiri’ sebagai etos demokratis.

Dalam konteks penolakan itu, Tan Malaka. bukannya tidak demokratis, ia justru paham betul bahwa dialog yang akan berlangsung tidak membawanya pada tujuan-tujuan demokratis, yakni kesetaraan, maka dari itu, Tan Malaka tidak sah disebut sebagai aktor kontra-demokratis hanya karena menolak dialog.

Persis lewat konteks yang amat spesifik inilah kita bisa memahami penolakan Mahasiswa atas dialog yang dilesenggarakan para menteri di Universitas Gajah Mada. Penolakan ini tidak bisa langsung diatribusikan sebagai aksi merusak demokrasi, melalui tulisan ini akan ditunjukkan bagaimana aksi intervensi itu justru adalah upaya ‘menyelematkan’ demokrasi jatuh ke dalam banalitas dialog.

Demokrasi Cuci Piring

Peristiwa penolakan atas dialog tersebut terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tepatnya di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), pada Senin malam, 15 Juni 2026. Forum diskusi publik bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” itu menghadirkan tiga pejabat negara: Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Di tengah berlangsungnya acara, sekelompok mahasiswa datang mengintervensi hingga forum itu buyar. Mereka menguasai panggung dan mendesak ketiga pejabat itu pergi. Di tengah situasi yang kacau itu, seorang host acara mengangkat pengeras suara dan berteriak: “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog!”

Teriakan itu, tanpa ia sadari, menjadi contoh sempurna apa yang sedang kita persoalkan: bahwa dialog telah merasuk begitu dalam sehinga kita menyebutnya sebagai sinonim demokrasi, sehingga seruan untuk berdialog dianggap sudah cukup sebagai pembuktian diri demokratis—tanpa perlu mempersoalkan siapa yang bicara, dalam kondisi apa, dan untuk tujuan apa. Dialog bukan lagi alat menuju demokrasi, tetapi dialog diangap telah menjadi substansi demokrasi itu sendiri.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Pemerintahan hari ini tidak kekurangan dialog. Pemerintah justru tampak gemar menyelenggarakannya, misalnya mengundang jurnalis untuk berbicara langsung dengan Presiden, akan tetapi, dialog itu seringkali dihadirkan ketika ‘sesuatu’ sudah selesai diputuskan: UU TNI direvisi tanpa konsultasi publik yang memadai, UU Polri, Program Makan Bergizi Gratis, baru memulai diskusi secara serius setelah korupsi meledak dan mahasiswa turun ke jalan, pejabat-pejabat negara merasa perlu “berdialog.”

Koperasi Desa Merah Putih didirikan dengan kerangka yang sudah baku, lalu warga diundang “berdiskusi” tentangnya. Dalam semua kasus ini, dialog tidak muncul sebagai prasyarat kebijakan, dialog justru sebagai prosedur penutupnya. Bukan untuk mendengar, melainkan untuk menebalkan kebenaran versi kekuasaan terkait ha-hal yang sudah diputuskan.

Maka, sangat bisa dipahami bahwa forum Kopdar Bareng Mas Dar di UGM itu, secara kritis dibaca dalam terang perspektif yang sangat spesifik ini. Acara itu, pada akhirnya bukan dialog, ia sosialisasi yang mengenakan kostum dialog. Herman & Chomsky (2008)punya istilah yang relevan menggambarkan praktik semacam ini sebagai Manufacturing Concent:  di mana dialog digunakan bukan lagi dipakai mencapai kesepahaman, melainkan untuk mengamankan tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ketika host berteriak “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog menutup kesimpulan itu.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk meniadakan dialog sama sekali—dialog justru sangat penting, dengan catatan ia harus ditempatkan di awal, sebagai fondasi bagi sebuah kebijakan yang bermakna. Dalam dialog yang memadai, semua pihak dimungkinkan untuk mengeksplorasi gagasan secara bebas tanpa sumbatan, dan secara aktif ikut menentukan arah kebijakan sebelum menjadi keputusan.

Akan tetapi, yang kerap terjadi justru sebaliknya, dialog di tempatkan di ujung pesta, ketika pesta sendiri, sebagai kesempatan berbagi ruang secara demokratis sudah selesai dan hanya menyisakan piring kotor. Dalam konteks ini, dialog dengan publik diperlakukan tidak lebih dari kegiatan cuci piring; terlibat dalam diskursus memang, tetapi ya, cuma cuci piring; dan wajar tidak semua orang mau ‘hanya’ menjadi petugas cuci piring. [T]

Penulis: Azhari M. Latief
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Azhari M. Latief

Azhari M. Latief

Staf Pengajar Program Studi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU)

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co