4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief by Azhari M. Latief
June 24, 2026
in Esai
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Azhari M. Latief

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialog itu di televisi, dan belakangan, ramai dikonsumsi dalam bentuk siniar-siniar. Di mana-mana pola yang sama diulang: dua pihak yang berbeda pandangan diundang, dipertemukan, dan dibiarkan berdebat panjang lebar.

Atas nama demokrasi pula, dialog-dialog semacam itu diberi panggung yang luas dan ditonton banyak orang, tanpa seorang pun benar-benar tahu ujungnya akan bermuara ke mana. Apa yang kita tahu: dialog yang acap banjir kata-kata makian itu; yang konon dianggap sebagai jantung demokrasi; kini mengalami pergesaran makna menjadi hiburan. Pergeseran makna inilah yang kemudian ramai disebut dengan satu istilah yang catchy: Talkshow.

Di dalam Talkshow, dialog diesensialisasi sebagai pangkal dan ujung dari demokrasi. Setiap orang yang mendaku diri sebagai pro-demokrasi, maka ia harus menyediakan diri untuk berdialog dengan siapa saja yang memiliki pendapat yang berbeda, bagi pihak ini, dialog bersinonim dengan kata demokrasi; sebaliknya, bagi siapapun yang menolak dialog, maka ia bisa dikategorikan sebagai kontra-demokrasi, ‘memalukan’, dan tuduhan-tuduhan negatif lainnya.

Dialog Non-Deliberatif

Padahal, terdapat berbagai syarat agar sebuah dialog dapat disebut demokratis. Pelajaran ini banyak dijelaskan oleh Habermas (2007): supaya dapat disebut demokratis, sebuah dialog harus memenuhi kondisi-kondisi komunikatif yang setara dan bebas dominasi, setelah kondisi-kondisi terpenuhi, barulah sebuah konsensus dihasilkan, dan menjadi legitim peserta dialog.  Bahkan Horkheimer, kolega Habermas, lebih radikal lagi, ia menyebut, agar sebuah dialog dapat disebut demokratis, ia harus mengutamakan sikap kritis—dan tidak hanya kritis, ia harus berorientasi pada emansipasi.

Konsekuensi atas penjelasan teoretis ini adalah bahwa tidak semua dialog dapat disebut demokratis, dan lebih jauh, dialog tidak bisa diapahami secara banal sebagai faktor esensial bagi demokrasi. Ia hanya merupakan syarat perlu yang bisa ditangguhkan justru untuk mencapai tujuan-tujuan demokratis. Dengan cara inilah kita bisa memahami penolakan Tan Malaka untuk ‘dialog’/negosisasi terhadap ‘pencuri di rumah sendiri’ sebagai etos demokratis.

Dalam konteks penolakan itu, Tan Malaka. bukannya tidak demokratis, ia justru paham betul bahwa dialog yang akan berlangsung tidak membawanya pada tujuan-tujuan demokratis, yakni kesetaraan, maka dari itu, Tan Malaka tidak sah disebut sebagai aktor kontra-demokratis hanya karena menolak dialog.

Persis lewat konteks yang amat spesifik inilah kita bisa memahami penolakan Mahasiswa atas dialog yang dilesenggarakan para menteri di Universitas Gajah Mada. Penolakan ini tidak bisa langsung diatribusikan sebagai aksi merusak demokrasi, melalui tulisan ini akan ditunjukkan bagaimana aksi intervensi itu justru adalah upaya ‘menyelematkan’ demokrasi jatuh ke dalam banalitas dialog.

Demokrasi Cuci Piring

Peristiwa penolakan atas dialog tersebut terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tepatnya di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), pada Senin malam, 15 Juni 2026. Forum diskusi publik bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” itu menghadirkan tiga pejabat negara: Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Di tengah berlangsungnya acara, sekelompok mahasiswa datang mengintervensi hingga forum itu buyar. Mereka menguasai panggung dan mendesak ketiga pejabat itu pergi. Di tengah situasi yang kacau itu, seorang host acara mengangkat pengeras suara dan berteriak: “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog!”

Teriakan itu, tanpa ia sadari, menjadi contoh sempurna apa yang sedang kita persoalkan: bahwa dialog telah merasuk begitu dalam sehinga kita menyebutnya sebagai sinonim demokrasi, sehingga seruan untuk berdialog dianggap sudah cukup sebagai pembuktian diri demokratis—tanpa perlu mempersoalkan siapa yang bicara, dalam kondisi apa, dan untuk tujuan apa. Dialog bukan lagi alat menuju demokrasi, tetapi dialog diangap telah menjadi substansi demokrasi itu sendiri.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Pemerintahan hari ini tidak kekurangan dialog. Pemerintah justru tampak gemar menyelenggarakannya, misalnya mengundang jurnalis untuk berbicara langsung dengan Presiden, akan tetapi, dialog itu seringkali dihadirkan ketika ‘sesuatu’ sudah selesai diputuskan: UU TNI direvisi tanpa konsultasi publik yang memadai, UU Polri, Program Makan Bergizi Gratis, baru memulai diskusi secara serius setelah korupsi meledak dan mahasiswa turun ke jalan, pejabat-pejabat negara merasa perlu “berdialog.”

Koperasi Desa Merah Putih didirikan dengan kerangka yang sudah baku, lalu warga diundang “berdiskusi” tentangnya. Dalam semua kasus ini, dialog tidak muncul sebagai prasyarat kebijakan, dialog justru sebagai prosedur penutupnya. Bukan untuk mendengar, melainkan untuk menebalkan kebenaran versi kekuasaan terkait ha-hal yang sudah diputuskan.

Maka, sangat bisa dipahami bahwa forum Kopdar Bareng Mas Dar di UGM itu, secara kritis dibaca dalam terang perspektif yang sangat spesifik ini. Acara itu, pada akhirnya bukan dialog, ia sosialisasi yang mengenakan kostum dialog. Herman & Chomsky (2008)punya istilah yang relevan menggambarkan praktik semacam ini sebagai Manufacturing Concent:  di mana dialog digunakan bukan lagi dipakai mencapai kesepahaman, melainkan untuk mengamankan tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ketika host berteriak “kalau kalian pro-demokrasi, ayo kita dialog menutup kesimpulan itu.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk meniadakan dialog sama sekali—dialog justru sangat penting, dengan catatan ia harus ditempatkan di awal, sebagai fondasi bagi sebuah kebijakan yang bermakna. Dalam dialog yang memadai, semua pihak dimungkinkan untuk mengeksplorasi gagasan secara bebas tanpa sumbatan, dan secara aktif ikut menentukan arah kebijakan sebelum menjadi keputusan.

Akan tetapi, yang kerap terjadi justru sebaliknya, dialog di tempatkan di ujung pesta, ketika pesta sendiri, sebagai kesempatan berbagi ruang secara demokratis sudah selesai dan hanya menyisakan piring kotor. Dalam konteks ini, dialog dengan publik diperlakukan tidak lebih dari kegiatan cuci piring; terlibat dalam diskursus memang, tetapi ya, cuma cuci piring; dan wajar tidak semua orang mau ‘hanya’ menjadi petugas cuci piring. [T]

Penulis: Azhari M. Latief
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Azhari M. Latief

Azhari M. Latief

Staf Pengajar Program Studi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU)

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co