14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Yudi Laksana by Yudi Laksana
June 24, 2026
in Ulas Pentas
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari Kabupaten Bangli dengan Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Kota Denpasar. Anak-anak itu sama-sama menunjukkan kepiawaian dalam parade gong kebyar di Pesta Kesenian Bali 2026.

Meskipun didominasi oleh penonton yang berasal dari Kota Denpasar, anak-anak sekaa gong dari Bangli tampak sangat percaya diri dan tidak kehilangan semangat di atas panggung.

Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti  membawakan tiga materi garapan yakni  Tabuh Pepanggulan, Tari Sekar Jagat dan juga Dolanan. Sekaa Santika Murti bisa dikatakan membawakan semua garapan dengan lascarya, dengan ketulusan hati serta meyakini panugrahan Hyang Dehe (manifestasi Tuhan  yang berstana di Bukit Demulih-Bangli).

Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Ketiga materi dibawakan dengan lancar. Apalagi dengan spirit lokalan (sebunan), sekaa ini sangat dekat sekali dengan laku ritual yang biasanya dilaksanakan di Pucak Bukit Daha, Demulih. Kedekatan secara spiritual ini menjadikan nilai bonus bagi mereka. Di satu sisi, Mereka dapat tampil pada ajang bergengsi sekelas PKB, dan di sisi lainnya mereka membawakan spirit laku ritual Bukit Dehe ke audiens yang lebih luas.

Karya-karya yang dibawakan anak-anak dari Demulih itu memang mengkomparasikan kesadaran  nilai kemuliaan dari Bukit Dehe itu dengan  proses laku anak-anak dalam kehidupan mereka sehari-hari.  Melahirkan karya seni musikal sebanyak tiga karya sekaligus memang sesuatu yang tak mudah. Proses latihan (nuasen) dimulai Januari 2026, dan  ini tergolong waktu yang relatif singkat untuk proses pengkaryaan di ajang PKB. Belum lagi terkendala teknis dan teknik dari anak-anak yang memang sangat belia untuk maju di pagelaran gong kebyar.

Namun melalui spirit lokalan (nyebun), karya-karya itu terlahir dengan menyenangkan dan sesuai harapan. Karya-karya itu adalah hasil perenungan bersama dari para pembina; Agus Adi Dharma dan Aditya Tresna Bayu yang menjadi mentor untuk pengrawit. Yudi Laksana dan Dwija Badranaya mentor untuk seni tari dan peran pada dolanan. Ni Putu Arini Eka Yanti sebagai mentor untuk tari penyambutan  dibantu oleh Aswin Ananta sebagai stage manager yang menjadi eksekutor untuk nilai artistik dari masing-masing karya.

Semua pembina dan mentor itu berada dalam sebuah kapal yang dinahkodai oleh Jero Mangku Puseh I Nengah Darsana  dan I Nyoman Susila yang sejak awal sudah bersiap untuk mengarungi samudera tanpa tepi dalam proses penggarapan itu.

Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Jero Mangku Puseh dan I Nyoman Susila adalah legenda seni yang dimiliki oleh Panjak Daha  (begitu sebutan untuk warga yang tinggal di Demulih) ini menjadi dasar kesadaran untuk menjembatani generasi dulu, generasi kini dan generasi yang akan datang  bahwa proses penuangan kepada anak-anak tentu tidak mudah. Seperti halnya dalam proses tersebut mentor  memang benar-benar “berperang” melawan ego sentris dalam artian ekspetasi harus diselaraskan dengan sumber daya manusia yang ada. Ini merupakan refleksi Atma Kerti “jiwa suda parisudha”, di mana atman yang berstana dalam diri mendapatkan penyucian dari sebuah kesadaran  proses sebagai laku spiritual.

Kesabaran, ketenangan dan membijaksanai diri selaras berjalan dengan proses penciptaan karya. “Berproses bersama anak-anak ini adalah salah satu metode saya untuk memurnikan jiwa itu sendiri“ begitu saya, Yudi Laksana, pembina dolanan sering bergumam berkali-kali.

Memang benar adanya di usia mereka yang rata-rata 8-12 tahun, anak-anak Santika Murti harus mendapat perhatian khusus. Dengan kondisi anak zaman sekarang yang sangat labil dan cendrung cepat bosan dengan ritme proses latihan monoton, menjadi PR bagi para mentor  untuk mengelaborasikan proses latihan dengan kondisi anak-anak masa kini.

“Kita tidak sedang beradu panggung dengan daerah lain, tapi kita sedah menumbuhkan kesadaran untuk beradu dengan diri sendiri kemudian jiwa sebagai panggungnya!” Begitu kiranya pesan yang berulang kali dilontarkan Jero Mangku Puseh untuk menambah semangat bagi para mentor muda.

Tari Sekar Jagat dari Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Berpores bagaikan menapaki tangga-tangga kecil menuju puncak Bukit Daha. Di setiap hentakan kaki dari anak tangga pertama, begitulah para mentor memvisualisasikannya ke dalam proses pengkaryaan. Setiap langkahnya memiliki cerita dan studi kasus yang beragam. Terkadang pada pertengahan menuju puncak bukit, para mentor harus menoleh ke belakang untuk memastikan apakah tidak ada jejak kaki  yang menodai ekosistem tumbuhan yang hidup di sekitarnya.

Seni menyoal terhadap ekosistem yang hidup dan berkembang, pun demikian sama halnya dengan pengkaryaan. tidak hanya berkarya menyukseskan tugas yang diberikan kepada sekha, tetapi bagaimana menjaga elektabilitas dan ekosistem seni yang perlu hidup dan berkembang agar kehidupan berkesenian menjadi harmonis.

Bukit Daha mengajarkan banyak hal tentang keseimbangan. Ia tidak pernah tergesa-gesa menunjukkan puncaknya kepada setiap pejalan. Ada jalan yang menanjak, ada jalan yang licin ketika hujan turun, ada pula jalan yang mengharuskan untuk berhenti sejenak untuk mengatur langkah. Begitu pula proses yang dijalani anak-anak Santika Murti. Tidak semua materi dapat mereka serap dalam satu kali pertemuan. Ada yang harus diulang berkali-kali, ada yang harus dipelajari melalui pendekatan yang berbeda, bahkan ada yang harus dipahami melalui pengalaman bermain bersama sebelum akhirnya mampu diterjemahkan menjadi sebuah ekspresi seni di atas panggung.

Tari Sekar Jagat dari Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Dalam perjalanan tersebut, para mentor  menyadari bahwa keberhasilan bukanlah ketika anak-anak mampu memainkan tabuh dengan sempurna ataupun menarikan gerak dengan presisi semata. Keberhasilan sejati hadir ketika mereka mulai mengenal makna kebersamaan, belajar menghormati teman satu barungan, memahami pentingnya disiplin waktu, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekha yang mereka cintai. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi dari kemuliaan Bukit Dehe, sebuah kesadaran yang diwariskan secara turun-temurun melalui laku, bukan hanya melalui tutur.

Spirit Lokalan  (nyebun) yang menjadi ruh dari pengkaryaan perlahan menjelma menjadi energi kolektif. Anak-anak yang pada awalnya datang karena ajakan orang tua atau teman sebaya, lambat laun menemukan ruang bermain sekaligus ruang belajar yang menyenangkan. Tawa mereka di sela-sela latihan, canda yang kadang memecah konsentrasi, hingga tangis kecil ketika merasa kesulitan mengikuti materi, semuanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju panggung Ardha Candra.

Setiap dinamika tersebut membentuk ikatan emosional yang kuat antara pembina dan anak-anak, antara generasi yang menuntun dan generasi yang sedang bertumbuh.

Pada akhirnya, ketika lampu panggung menyala dan tabuh pertama mulai ditabuhkan, sesungguhnya yang ditampilkan bukan hanya sebuah karya seni. Yang hadir di hadapan penonton adalah akumulasi dari proses panjang, doa-doa yang dipanjatkan, ketulusan para pembina, dukungan masyarakat, serta jejak spiritual Bukit Daha yang menyertai setiap langkah mereka. Karya yang dipersembahkan menjadi medium untuk menyampaikan bahwa kesenian bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang mengajarkan manusia untuk mengenali dirinya sendiri.

Dolanan dari Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Kesadaran Atma Kerti yang menjadi benang merah dalam perjalanan ini menemukan bentuknya melalui proses. Jiwa yang disucikan bukanlah jiwa yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan jiwa yang terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus berjalan dengan ketulusan. Sebagaimana anak-anak Santika Murti yang menapaki tangga-tangga kecil menuju puncak Bukit Daha, demikian pula kita sedang menapaki perjalanan yang sama menuju puncak kesadaran, selangkah demi selangkah, dengan penuh sraddha dan bhakti terhadap warisan nilai yang telah dititipkan oleh para leluhur.

Maka, PKB ke-48 Tahun 2026 bukan semata-mata menjadi ruang kompetisi ataupun ruang unjuk kemampuan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ruang tempat nilai-nilai luhur Bukit Dehe kembali dibunyikan melalui gamelan, digerakkan melalui tari, dan dituturkan melalui dolanan. Sebuah pengingat bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemenangan, tetapi dari ketulusan menjalani proses yang dilakukan bersama-sama. [T]

Foto bersama Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Santika Murti, Demulih, Bangli, di Pesta Kesenian Bali 2026

Penulis: Yudi Laksana
Editor: Adnyana Ole

Tags: BangliDesa Demulihgong kebyargong kebyar ank anakPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Next Post

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Yudi Laksana

Yudi Laksana

I Wayan Yudi Laksana. Lahir di Desa Demulih Bangli. Lulusan SMKI / KOKAR Bali 2010. Lulusan ISI Denpasar 2014. Ketua Sanggar Uyah Lengis Langgo

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails
Next Post
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co