30 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

IM Gede Nesa Saputra by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
in Ulas Pentas
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Pementasan lakon dramatari Arja Katung Pingit di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaan (cultural soul) yang berakar pada teo-estetika Hindu. Dalam paradigma Hindu Bali, seni bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi merupakan manifestasi satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan) yang menyatukan dimensi spiritual, etika, dan estetika dalam satu kesatuan ontologis. Oleh karena itu, Arja hadir sebagai media yadnya kultural yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia (pawongan), serta warisan leluhur yang menopang identitas komunal.

Secara teo-estetis, setiap dialog, tembang, gerak, dan lakon dalam Arja mengandung nilai dharma yang ditransformasikan melalui pengalaman estetis. Keindahan dalam Arja bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kesadaran spiritual dan pembentukan karakter kolektif. Dalam perspektif ini, kebangkitan Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan bentuk re-enchantment terhadap ruang sosial yang sebelumnya mengalami fragmentasi akibat modernisasi dan perubahan orientasi budaya. Seni kembali memperoleh kedudukannya sebagai ruang sakral tempat nilai-nilai religius, etika sosial, dan memori kolektif diwariskan secara lintas generasi.

Lebih jauh, kembalinya Arja telah menjadi medium konsolidasi sosial masyarakat Banjar Bukit Buwung. Proses latihan, pementasan, hingga pengelolaan kelompok Arja menghadirkan ruang partisipasi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat menyama braya dan ngayah. Interaksi tersebut membangun kembali modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif yang menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan banjar. Dengan demikian, Arja tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat di tengah tantangan individualisme dan homogenisasi budaya global.

Dalam konteks ini, Arja menjadi simbol teologi yang hidup (living theology), yakni teologi yang tidak berhenti pada doktrin, melainkan diwujudkan melalui praktik estetis yang membentuk habitus religius masyarakat. Seni menjadi bahasa teologi yang mampu menghadirkan pengalaman ketuhanan secara konkret melalui keindahan, kebersamaan, dan pengabdian. Oleh sebab itu, kembalinya seni Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan proses rekonstruksi identitas teo-kultural, di mana seni kembali berfungsi sebagai roh komunitas yang meneguhkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, alam, dan tradisi.

Dengan demikian, revitalisasi Arja di Banjar Bukit Buwung tidak sekadar menghidupkan kembali sebuah genre seni pertunjukan, tetapi mereaktualisasikan identitas teologis masyarakat Hindu Bali. Arja menjelma sebagai ruang dialektika antara nilai-nilai sakral dan kehidupan sosial, sehingga keberadaannya menjadi instrumen strategis dalam memperkuat resiliensi budaya, memperkokoh konsolidasi sosial, serta memastikan keberlanjutan identitas Banjar Bukit Buwung sebagai komunitas yang berakar pada prinsip teo-estetika Hindu.

Foto bersama para pemain, penabuh, pembina, prajuru dan Ibu Gubernur

Momentum kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung mencapai puncak simboliknya melalui penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2026. Pementasan bertajuk Katung Pingit bukan hanya menjadi debut artistik sebuah sekaa, melainkan penegasan bahwa Arja tetap menjadi medium teo-estetika yang mampu mentransformasikan nilai-nilai Hindu ke dalam bahasa pertunjukan yang hidup. Lakon yang diangkat tidak semata menghadirkan konflik politik kerajaan, tetapi juga menawarkan refleksi filosofis mengenai kemenangan dharma atas adharma, sekaligus memperlihatkan bahwa legitimasi kekuasaan sejati bertumpu pada kemurnian batin, bukan pada intrik dan ambisi.

Katung Pingit mengisahkan dinamika politik di Kerajaan Kencana Puri yang diliputi perebutan takhta. Ibu tiri Raden Putra Sinunggal menyusun siasat untuk menggeser pewaris sah kerajaan dengan mengangkat Diah Naga Utari sebagai penerus takhta. Melalui rekayasa yang sistematis, Raden Putra Sinunggal bersama kakak kandungnya, Diah Pujiastuti, diperintahkan melaksanakan upacara mulang pekelem di tengah samudra menggunakan perahu yang telah dirancang bocor. Intrik tersebut menjadi simbol bekerjanya maya (ilusi) dan lobha (keserakahan) yang mengaburkan jalan dharma. Namun, atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, keduanya terselamatkan dari maut. Mereka kemudian memilih jalan nyineb wangsa, melepaskan identitas sosial dan hidup dalam penyamaran di pesisir Wana Giri sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus proses pendewasaan spiritual.

Para Penari Arja Banjar Bukit Buwung Kesiman

Narasi kemudian bergerak menuju titik balik ketika Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti bertemu dengan Raden Jaya Kesuma, Raja Kerajaan Kerta Winangun. Pertemuan ini bukanlah kebetulan, melainkan manifestasi kehendak ilahi yang memperlihatkan bahwa dharma senantiasa menemukan jalannya. Amanat ayahanda Raden Jaya Kesuma untuk mempersunting Diah Pujiastuti sebagai permaisuri menjadi jembatan rekonsiliasi antara takdir pribadi dan kehendak kosmis. Selanjutnya, Raden Jaya Kesuma memulihkan martabat kedua tokoh tersebut dengan mengembalikan status kewangsaannya, sekaligus mengantarkan Raden Putra Sinunggal kembali ke Kerajaan Kencana Puri untuk merebut kembali takhta yang menjadi haknya secara sah.

Apabila dibaca melalui perspektif Atma Kertih, khususnya konsep jiwa sudha parisudha, Katung Pingit menampilkan perjalanan penyucian jiwa sebagai inti dari transformasi manusia. Atma Kertih mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan sosial maupun atribut duniawi, tetapi oleh kemampuan menjaga kesucian atman dari pengaruh ṣaḍripu—enam musuh dalam diri seperti nafsu, amarah, keserakahan, kebingungan, kesombongan, dan iri hati. Dalam lakon ini, tokoh antagonis digerakkan oleh dominasi lobha dan mada, sedangkan Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti justru memperlihatkan keteguhan batin melalui kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan kepada dharma meskipun kehilangan identitas, kedudukan, dan hak-hak politiknya.

Proses nyineb wangsa memiliki makna teo-estetis yang sangat mendalam. Penyamaran tersebut bukan sekadar strategi untuk bertahan hidup, melainkan simbol pelepasan ego (ahaṃkara) dan identitas duniawi agar jiwa mengalami pemurnian. Dalam ajaran Hindu, perjalanan spiritual sering kali menuntut manusia melepaskan segala bentuk keterikatan sebelum memperoleh kembali kemuliaannya dalam bentuk yang lebih luhur. Dengan demikian, pengembalian kasta dan takhta pada akhir cerita bukan dipahami sebagai restorasi status sosial semata, melainkan sebagai konsekuensi dari keberhasilan menjaga jiwa yang tetap suci dan paripurna (sudha parisudha) di tengah cobaan kehidupan.

Dari sudut pandang teo-estetika Hindu, Katung Pingit memperlihatkan bahwa estetika pertunjukan Arja bekerja sebagai media pendidikan spiritual (adhyatmika). Dialog, tembang, gerak, dan dramatika politik menjadi instrumen untuk menyampaikan ajaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas musuh eksternal, melainkan kemenangan atas kegelapan batin sendiri. Kembalinya Raden Putra Sinunggal ke singgasana merupakan simbol tegaknya kembali ṛta atau tatanan kosmis, di mana kekuasaan hanya memperoleh legitimasi apabila dibangun di atas kemurnian jiwa dan pengabdian kepada dharma.

Dengan demikian, penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma melalui lakon Katung Pingit pada PKB 2026 tidak hanya menandai kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung, tetapi juga menegaskan fungsi Arja sebagai media transmisi teologi Hindu yang hidup. Pertunjukan ini merepresentasikan bahwa kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan sosial merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui konsep Atma Kerthi: jiwa sudha parisudha, Katung Pingit mengajarkan bahwa identitas, kehormatan, dan kepemimpinan yang sejati hanya dapat dipulihkan melalui pemurnian jiwa, kesetiaan kepada dharma, dan keyakinan bahwa kehendak ilahi pada akhirnya akan menegakkan kebenaran di atas segala bentuk intrik kekuasaan. Inilah pesan teo-estetis yang menjadikan Arja bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang terus merelevansikan nilai-nilai Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali kontemporer. [T]

Penulis: I Made Gede Nesa Saputr
Editor: Adnyana Ole

Tags: arjaBanjar Bukit Buwungdramatari arjaKelurahan Kesimankesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Next Post

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

IM Gede Nesa Saputra

IM Gede Nesa Saputra

I Made Gede Nesa Saputra, anggota sekaa arja Giri Nata Kusuma, pernah menulis beberapa risalah secara kolektif, tiga diantaranya telah tercetak dan terbit dalam bentuk buku. Aktif dalam menulis jurnal ilmiah terkait teologi, pendidikan, filsafat, hukum dan politik

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta ---Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky
Cerpen

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co