21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

IM Gede Nesa Saputra by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
in Ulas Pentas
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Pementasan lakon dramatari Arja Katung Pingit di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaan (cultural soul) yang berakar pada teo-estetika Hindu. Dalam paradigma Hindu Bali, seni bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi merupakan manifestasi satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan) yang menyatukan dimensi spiritual, etika, dan estetika dalam satu kesatuan ontologis. Oleh karena itu, Arja hadir sebagai media yadnya kultural yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia (pawongan), serta warisan leluhur yang menopang identitas komunal.

Secara teo-estetis, setiap dialog, tembang, gerak, dan lakon dalam Arja mengandung nilai dharma yang ditransformasikan melalui pengalaman estetis. Keindahan dalam Arja bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kesadaran spiritual dan pembentukan karakter kolektif. Dalam perspektif ini, kebangkitan Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan bentuk re-enchantment terhadap ruang sosial yang sebelumnya mengalami fragmentasi akibat modernisasi dan perubahan orientasi budaya. Seni kembali memperoleh kedudukannya sebagai ruang sakral tempat nilai-nilai religius, etika sosial, dan memori kolektif diwariskan secara lintas generasi.

Lebih jauh, kembalinya Arja telah menjadi medium konsolidasi sosial masyarakat Banjar Bukit Buwung. Proses latihan, pementasan, hingga pengelolaan kelompok Arja menghadirkan ruang partisipasi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat menyama braya dan ngayah. Interaksi tersebut membangun kembali modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif yang menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan banjar. Dengan demikian, Arja tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat di tengah tantangan individualisme dan homogenisasi budaya global.

Dalam konteks ini, Arja menjadi simbol teologi yang hidup (living theology), yakni teologi yang tidak berhenti pada doktrin, melainkan diwujudkan melalui praktik estetis yang membentuk habitus religius masyarakat. Seni menjadi bahasa teologi yang mampu menghadirkan pengalaman ketuhanan secara konkret melalui keindahan, kebersamaan, dan pengabdian. Oleh sebab itu, kembalinya seni Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan proses rekonstruksi identitas teo-kultural, di mana seni kembali berfungsi sebagai roh komunitas yang meneguhkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, alam, dan tradisi.

Dengan demikian, revitalisasi Arja di Banjar Bukit Buwung tidak sekadar menghidupkan kembali sebuah genre seni pertunjukan, tetapi mereaktualisasikan identitas teologis masyarakat Hindu Bali. Arja menjelma sebagai ruang dialektika antara nilai-nilai sakral dan kehidupan sosial, sehingga keberadaannya menjadi instrumen strategis dalam memperkuat resiliensi budaya, memperkokoh konsolidasi sosial, serta memastikan keberlanjutan identitas Banjar Bukit Buwung sebagai komunitas yang berakar pada prinsip teo-estetika Hindu.

Foto bersama para pemain, penabuh, pembina, prajuru dan Ibu Gubernur

Momentum kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung mencapai puncak simboliknya melalui penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2026. Pementasan bertajuk Katung Pingit bukan hanya menjadi debut artistik sebuah sekaa, melainkan penegasan bahwa Arja tetap menjadi medium teo-estetika yang mampu mentransformasikan nilai-nilai Hindu ke dalam bahasa pertunjukan yang hidup. Lakon yang diangkat tidak semata menghadirkan konflik politik kerajaan, tetapi juga menawarkan refleksi filosofis mengenai kemenangan dharma atas adharma, sekaligus memperlihatkan bahwa legitimasi kekuasaan sejati bertumpu pada kemurnian batin, bukan pada intrik dan ambisi.

Katung Pingit mengisahkan dinamika politik di Kerajaan Kencana Puri yang diliputi perebutan takhta. Ibu tiri Raden Putra Sinunggal menyusun siasat untuk menggeser pewaris sah kerajaan dengan mengangkat Diah Naga Utari sebagai penerus takhta. Melalui rekayasa yang sistematis, Raden Putra Sinunggal bersama kakak kandungnya, Diah Pujiastuti, diperintahkan melaksanakan upacara mulang pekelem di tengah samudra menggunakan perahu yang telah dirancang bocor. Intrik tersebut menjadi simbol bekerjanya maya (ilusi) dan lobha (keserakahan) yang mengaburkan jalan dharma. Namun, atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, keduanya terselamatkan dari maut. Mereka kemudian memilih jalan nyineb wangsa, melepaskan identitas sosial dan hidup dalam penyamaran di pesisir Wana Giri sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus proses pendewasaan spiritual.

Para Penari Arja Banjar Bukit Buwung Kesiman

Narasi kemudian bergerak menuju titik balik ketika Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti bertemu dengan Raden Jaya Kesuma, Raja Kerajaan Kerta Winangun. Pertemuan ini bukanlah kebetulan, melainkan manifestasi kehendak ilahi yang memperlihatkan bahwa dharma senantiasa menemukan jalannya. Amanat ayahanda Raden Jaya Kesuma untuk mempersunting Diah Pujiastuti sebagai permaisuri menjadi jembatan rekonsiliasi antara takdir pribadi dan kehendak kosmis. Selanjutnya, Raden Jaya Kesuma memulihkan martabat kedua tokoh tersebut dengan mengembalikan status kewangsaannya, sekaligus mengantarkan Raden Putra Sinunggal kembali ke Kerajaan Kencana Puri untuk merebut kembali takhta yang menjadi haknya secara sah.

Apabila dibaca melalui perspektif Atma Kertih, khususnya konsep jiwa sudha parisudha, Katung Pingit menampilkan perjalanan penyucian jiwa sebagai inti dari transformasi manusia. Atma Kertih mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan sosial maupun atribut duniawi, tetapi oleh kemampuan menjaga kesucian atman dari pengaruh ṣaḍripu—enam musuh dalam diri seperti nafsu, amarah, keserakahan, kebingungan, kesombongan, dan iri hati. Dalam lakon ini, tokoh antagonis digerakkan oleh dominasi lobha dan mada, sedangkan Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti justru memperlihatkan keteguhan batin melalui kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan kepada dharma meskipun kehilangan identitas, kedudukan, dan hak-hak politiknya.

Proses nyineb wangsa memiliki makna teo-estetis yang sangat mendalam. Penyamaran tersebut bukan sekadar strategi untuk bertahan hidup, melainkan simbol pelepasan ego (ahaṃkara) dan identitas duniawi agar jiwa mengalami pemurnian. Dalam ajaran Hindu, perjalanan spiritual sering kali menuntut manusia melepaskan segala bentuk keterikatan sebelum memperoleh kembali kemuliaannya dalam bentuk yang lebih luhur. Dengan demikian, pengembalian kasta dan takhta pada akhir cerita bukan dipahami sebagai restorasi status sosial semata, melainkan sebagai konsekuensi dari keberhasilan menjaga jiwa yang tetap suci dan paripurna (sudha parisudha) di tengah cobaan kehidupan.

Dari sudut pandang teo-estetika Hindu, Katung Pingit memperlihatkan bahwa estetika pertunjukan Arja bekerja sebagai media pendidikan spiritual (adhyatmika). Dialog, tembang, gerak, dan dramatika politik menjadi instrumen untuk menyampaikan ajaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas musuh eksternal, melainkan kemenangan atas kegelapan batin sendiri. Kembalinya Raden Putra Sinunggal ke singgasana merupakan simbol tegaknya kembali ṛta atau tatanan kosmis, di mana kekuasaan hanya memperoleh legitimasi apabila dibangun di atas kemurnian jiwa dan pengabdian kepada dharma.

Dengan demikian, penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma melalui lakon Katung Pingit pada PKB 2026 tidak hanya menandai kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung, tetapi juga menegaskan fungsi Arja sebagai media transmisi teologi Hindu yang hidup. Pertunjukan ini merepresentasikan bahwa kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan sosial merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui konsep Atma Kerthi: jiwa sudha parisudha, Katung Pingit mengajarkan bahwa identitas, kehormatan, dan kepemimpinan yang sejati hanya dapat dipulihkan melalui pemurnian jiwa, kesetiaan kepada dharma, dan keyakinan bahwa kehendak ilahi pada akhirnya akan menegakkan kebenaran di atas segala bentuk intrik kekuasaan. Inilah pesan teo-estetis yang menjadikan Arja bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang terus merelevansikan nilai-nilai Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali kontemporer. [T]

Penulis: I Made Gede Nesa Saputr
Editor: Adnyana Ole

Tags: arjaBanjar Bukit Buwungdramatari arjaKelurahan Kesimankesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Next Post

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

IM Gede Nesa Saputra

IM Gede Nesa Saputra

I Made Gede Nesa Saputra, anggota sekaa arja Giri Nata Kusuma, pernah menulis beberapa risalah secara kolektif, tiga diantaranya telah tercetak dan terbit dalam bentuk buku. Aktif dalam menulis jurnal ilmiah terkait teologi, pendidikan, filsafat, hukum dan politik

Related Posts

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails
Next Post
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta ---Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co