KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaan (cultural soul) yang berakar pada teo-estetika Hindu. Dalam paradigma Hindu Bali, seni bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi merupakan manifestasi satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan) yang menyatukan dimensi spiritual, etika, dan estetika dalam satu kesatuan ontologis. Oleh karena itu, Arja hadir sebagai media yadnya kultural yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia (pawongan), serta warisan leluhur yang menopang identitas komunal.
Secara teo-estetis, setiap dialog, tembang, gerak, dan lakon dalam Arja mengandung nilai dharma yang ditransformasikan melalui pengalaman estetis. Keindahan dalam Arja bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kesadaran spiritual dan pembentukan karakter kolektif. Dalam perspektif ini, kebangkitan Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan bentuk re-enchantment terhadap ruang sosial yang sebelumnya mengalami fragmentasi akibat modernisasi dan perubahan orientasi budaya. Seni kembali memperoleh kedudukannya sebagai ruang sakral tempat nilai-nilai religius, etika sosial, dan memori kolektif diwariskan secara lintas generasi.
Lebih jauh, kembalinya Arja telah menjadi medium konsolidasi sosial masyarakat Banjar Bukit Buwung. Proses latihan, pementasan, hingga pengelolaan kelompok Arja menghadirkan ruang partisipasi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat menyama braya dan ngayah. Interaksi tersebut membangun kembali modal sosial berupa kepercayaan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif yang menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan banjar. Dengan demikian, Arja tidak hanya merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat di tengah tantangan individualisme dan homogenisasi budaya global.
Dalam konteks ini, Arja menjadi simbol teologi yang hidup (living theology), yakni teologi yang tidak berhenti pada doktrin, melainkan diwujudkan melalui praktik estetis yang membentuk habitus religius masyarakat. Seni menjadi bahasa teologi yang mampu menghadirkan pengalaman ketuhanan secara konkret melalui keindahan, kebersamaan, dan pengabdian. Oleh sebab itu, kembalinya seni Arja di Banjar Bukit Buwung merupakan proses rekonstruksi identitas teo-kultural, di mana seni kembali berfungsi sebagai roh komunitas yang meneguhkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, alam, dan tradisi.
Dengan demikian, revitalisasi Arja di Banjar Bukit Buwung tidak sekadar menghidupkan kembali sebuah genre seni pertunjukan, tetapi mereaktualisasikan identitas teologis masyarakat Hindu Bali. Arja menjelma sebagai ruang dialektika antara nilai-nilai sakral dan kehidupan sosial, sehingga keberadaannya menjadi instrumen strategis dalam memperkuat resiliensi budaya, memperkokoh konsolidasi sosial, serta memastikan keberlanjutan identitas Banjar Bukit Buwung sebagai komunitas yang berakar pada prinsip teo-estetika Hindu.

Momentum kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung mencapai puncak simboliknya melalui penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2026. Pementasan bertajuk Katung Pingit bukan hanya menjadi debut artistik sebuah sekaa, melainkan penegasan bahwa Arja tetap menjadi medium teo-estetika yang mampu mentransformasikan nilai-nilai Hindu ke dalam bahasa pertunjukan yang hidup. Lakon yang diangkat tidak semata menghadirkan konflik politik kerajaan, tetapi juga menawarkan refleksi filosofis mengenai kemenangan dharma atas adharma, sekaligus memperlihatkan bahwa legitimasi kekuasaan sejati bertumpu pada kemurnian batin, bukan pada intrik dan ambisi.
Katung Pingit mengisahkan dinamika politik di Kerajaan Kencana Puri yang diliputi perebutan takhta. Ibu tiri Raden Putra Sinunggal menyusun siasat untuk menggeser pewaris sah kerajaan dengan mengangkat Diah Naga Utari sebagai penerus takhta. Melalui rekayasa yang sistematis, Raden Putra Sinunggal bersama kakak kandungnya, Diah Pujiastuti, diperintahkan melaksanakan upacara mulang pekelem di tengah samudra menggunakan perahu yang telah dirancang bocor. Intrik tersebut menjadi simbol bekerjanya maya (ilusi) dan lobha (keserakahan) yang mengaburkan jalan dharma. Namun, atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, keduanya terselamatkan dari maut. Mereka kemudian memilih jalan nyineb wangsa, melepaskan identitas sosial dan hidup dalam penyamaran di pesisir Wana Giri sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus proses pendewasaan spiritual.

Narasi kemudian bergerak menuju titik balik ketika Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti bertemu dengan Raden Jaya Kesuma, Raja Kerajaan Kerta Winangun. Pertemuan ini bukanlah kebetulan, melainkan manifestasi kehendak ilahi yang memperlihatkan bahwa dharma senantiasa menemukan jalannya. Amanat ayahanda Raden Jaya Kesuma untuk mempersunting Diah Pujiastuti sebagai permaisuri menjadi jembatan rekonsiliasi antara takdir pribadi dan kehendak kosmis. Selanjutnya, Raden Jaya Kesuma memulihkan martabat kedua tokoh tersebut dengan mengembalikan status kewangsaannya, sekaligus mengantarkan Raden Putra Sinunggal kembali ke Kerajaan Kencana Puri untuk merebut kembali takhta yang menjadi haknya secara sah.
Apabila dibaca melalui perspektif Atma Kertih, khususnya konsep jiwa sudha parisudha, Katung Pingit menampilkan perjalanan penyucian jiwa sebagai inti dari transformasi manusia. Atma Kertih mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan sosial maupun atribut duniawi, tetapi oleh kemampuan menjaga kesucian atman dari pengaruh ṣaḍripu—enam musuh dalam diri seperti nafsu, amarah, keserakahan, kebingungan, kesombongan, dan iri hati. Dalam lakon ini, tokoh antagonis digerakkan oleh dominasi lobha dan mada, sedangkan Raden Putra Sinunggal dan Diah Pujiastuti justru memperlihatkan keteguhan batin melalui kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan kepada dharma meskipun kehilangan identitas, kedudukan, dan hak-hak politiknya.
Proses nyineb wangsa memiliki makna teo-estetis yang sangat mendalam. Penyamaran tersebut bukan sekadar strategi untuk bertahan hidup, melainkan simbol pelepasan ego (ahaṃkara) dan identitas duniawi agar jiwa mengalami pemurnian. Dalam ajaran Hindu, perjalanan spiritual sering kali menuntut manusia melepaskan segala bentuk keterikatan sebelum memperoleh kembali kemuliaannya dalam bentuk yang lebih luhur. Dengan demikian, pengembalian kasta dan takhta pada akhir cerita bukan dipahami sebagai restorasi status sosial semata, melainkan sebagai konsekuensi dari keberhasilan menjaga jiwa yang tetap suci dan paripurna (sudha parisudha) di tengah cobaan kehidupan.
Dari sudut pandang teo-estetika Hindu, Katung Pingit memperlihatkan bahwa estetika pertunjukan Arja bekerja sebagai media pendidikan spiritual (adhyatmika). Dialog, tembang, gerak, dan dramatika politik menjadi instrumen untuk menyampaikan ajaran bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas musuh eksternal, melainkan kemenangan atas kegelapan batin sendiri. Kembalinya Raden Putra Sinunggal ke singgasana merupakan simbol tegaknya kembali ṛta atau tatanan kosmis, di mana kekuasaan hanya memperoleh legitimasi apabila dibangun di atas kemurnian jiwa dan pengabdian kepada dharma.
Dengan demikian, penampilan perdana Sekaa Arja Giri Nata Kusuma melalui lakon Katung Pingit pada PKB 2026 tidak hanya menandai kebangkitan seni Arja di Banjar Bukit Buwung, tetapi juga menegaskan fungsi Arja sebagai media transmisi teologi Hindu yang hidup. Pertunjukan ini merepresentasikan bahwa kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan sosial merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Melalui konsep Atma Kerthi: jiwa sudha parisudha, Katung Pingit mengajarkan bahwa identitas, kehormatan, dan kepemimpinan yang sejati hanya dapat dipulihkan melalui pemurnian jiwa, kesetiaan kepada dharma, dan keyakinan bahwa kehendak ilahi pada akhirnya akan menegakkan kebenaran di atas segala bentuk intrik kekuasaan. Inilah pesan teo-estetis yang menjadikan Arja bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang terus merelevansikan nilai-nilai Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali kontemporer. [T]
Penulis: I Made Gede Nesa Saputr
Editor: Adnyana Ole






























