1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Wahyu Mahaputra by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
in Khas
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Maplayanan (permainan) dalam acara Workshop Permainan Tradisional “Kakua Buta” (Penyu Buta) di Gedung Mario, Jumat 26 Juni 2026

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut berteriak, karena energi dari aktivitas anak-anak itu. Mereka adu lari dengan cara yang unik. Satu anak berlari dengan mengangkat kedua kaki temannya, satu anak lari menggunakan tangannya. Sorak dan teriakan pun pecah. Itu pertanda stres, energi negatif dan ketegangan telah lepas.

Sebanyak 80 anak-anak dari SD Negeri 1 Buahan itu sedang mengikuti Maplayanan (permainan) dalam acara Workshop Permainan Tradisional “Kakua Buta” (Penyu Buta) di Gedung Mario, Jumat 26 Juni 2026. Workshop dalam kegiatan Pemajuan Kebudayaan dari Badan Pelestarian Kebudayaan Bali yang memberikan bantuan kepada I Wayan Sumerta Dana Arta itu menghadirkan dua narasumber, yaitu I Nyoman Budarsana dan Dewa Gede Sudarma.

Anak-anak itu telah mempersiapkan diri sejak pagi. Mereka berkumpul di sekolahnya, lalu naik bus untuk bisa sampai di gedung kesenian yang terletak di jantung Kota Tabanan itu. Wajah mereka sangat senang. Mereka bermain dengan mengenakan busana adat, seperti kain, baju kaos dan udeng untuk anak laki-laki. Selama dua jam mereka menikmati permainan tradisional yang dipercaya dapat membentuk karakter. Melalui permaian itu, mereka juga belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dengan cara bermain.

Sebab, Kekua Buta merupakan permainan tradisional Bali yang mengajak anak-anak mengenal dan menyayangi binatang langka, salah satunya penyu. Permainan ini dapat dimainkan oleh 12 anak hingga 20 anak secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas dua orang. Satu anak berperan sebagai kekua (anak yang lari dengan kedua tangan dengan mata ditutup). Sementara, satu anak berperan sebagai pendamping kekua yang mengangkat kedua kaki dan mengarahkan.

Narasumber pada Workshop Permainan Tradisional “Kakua Buta” (Penyu Buta) di Gedung Mario, Jumat 26 Juni 2026

Sebelum permainan dimulai, seluruh anak-anak bernyanyi, melantunkan lagu tentang pelestarian kekua atau penyu. Lagu dengan struktur melodi sederhana dan lirik yang berulang secara alami sangat mudah diikuti seluruh yang hadir. Dalam kebersamaan itu, mereka kemudian bernyanyi:

• Timpal-timpal ngiring lestariang beburone ane langka
(teman-teman ayo lestarikan bianatang langka)
• Timpal-timpal ngiring lestariang beburone ane langka
(teman-teman ayo lestarikan bianatang langka)
• Apa to…, apa to…, adane, ento kekua
(apa itu, apa itu, namanya penyu)
• Jalan lebang ka pasihe
(ayo lepas ke laut)
• Jemak batisne, ekutne egol-egol
(ambil kakinya, ekornya goyang-goyang)

Ketika lagu pada kalimat “jemak batisne, ekutne egol-egol” anak yang dibelakang mengangkat kedua kaki anak yang berperan sebagai kekua, lalu berlari. Masing-masing kelompok mengerahkan seluruh kekuatan untuk menjadi pemenang. Tidak sedikit anak yang berperan sebagai kekua itu keluar lintasan karena matanya tertutup (buta). Itu karena anak dibelakkang, tidak baik mengarahkan temannya, sehingga kekua keluar lintasan, bahkan jatuh. Tawa pun kembali pecah.

Permainan menggunakan sistem perlombaan. Kelompok yang paling cepat mencapai garis akhir dan tetap berada di dalam lintasan akan menjadi pemenang. Kelompok yang menang kemudian dikumpulkan, kemudian bertanding untuk menjadi penenang kembali, sehingga memperoleh satu kelompok yang terbaik. Meski sudah diberikan kesempatan bermain, namun ada saja yang tidak puas, sehingga melakukan secara berulang-ulang saking serunya.

Sejarah dan manfaat

Sebelum praktik berlangsung, para peserta mengikuti sesi pengenalan mengenai sejarah dan filosofi permainan. Narasumber I Nyoman Budarsana menjelaskan, Maplayanan Kakua Buta diciptakan oleh I Wayan Sumerta Dana Arta atau yang akrab disapa Wayan Mokoh pada tahun 2016. Permainan ini lahir sebagai media edukasi untuk mengenalkan satwa langka kepada generasi muda, terutama penyu yang populasinya perlu terus dijaga.

Menurut Budarsana, inspirasi permainan tersebut muncul ketika Wayan Mokoh menyaksikan kegiatan pelepasan tukik di Pantai Yeh Gangga, Tabanan. Saat itu, wisatawan mancanegara tampak antusias melepas anak-anak penyu menuju laut sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

“Semangat itulah yang ingin dikenalkan dan ditularkan kepada anak-anak, agar mereka tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga binatang langka sekaligus melestarikan lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi sehingga masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga kebersihan pantai dan laut sebagai habitatnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Budarsana menilai permainan tradisional memiliki peran yang semakin penting. Selain menjadi media rekreasi, permainan tradisional mampu menyeimbangkan tumbuh kembang anak melalui aktivitas fisik, membangun kemampuan sosial, melatih sportivitas, serta menjaga keberlangsungan warisan budaya Bali.

Atraksi maplayanan

Sementara itu, narasumber Dewa Gede Sudarma menjelaskan, gerakan dalam permainan Kakua Buta memberikan manfaat bagi kebugaran tubuh. Posisi berjalan menggunakan tangan sambil menopang berat badan mampu melatih kekuatan otot lengan, otot perut, otot punggung, daya tahan, serta keseimbangan tubuh.

“Permainan Kakua Buta dapat memperkuat otot lengan, otot perut, dan otot punggung. Selain menyenangkan, permainan ini juga menyehatkan,” katanya.

Workshop ini menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Di balik tawa dan keceriaan anak-anak, tersimpan pelajaran tentang kerja sama, kepercayaan, kecintaan terhadap alam, serta pentingnya melestarikan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. [T]

Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole

Tags: permainan anak-anakpermainan tradisional anak-anaktabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Next Post

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Wahyu Mahaputra

Wahyu Mahaputra

Bernama lengkap I Putu Wahyu Mahaputra, akrab dipanggil WM Putra, lahir di Gianyar, 14 Maret 2004. Masyarakat sipil biasa yang baru belajar menulis dan gemar mendengarkan nada-nada minor, sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.

Related Posts

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails
Next Post
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co