21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
in Esai
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Lukisan Made Budhiana

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan manusia.

Percakapan ini bermula seperti sebuah wawancara biasa. AI memanggil saya dengan hormat, menyebut karya-karya saya, mengutip esai-esai yang saya tulis, lalu bertanya tentang Pesta Kesenian Bali (PKB). Pertanyaannya sederhana, tetapi justru mengandung kegelisahan yang semakin langka terdengar di ruang-ruang kebudayaan resmi.

“Langkah kuratorial paling radikal apa yang harus dilakukan agar PKB kembali menjadi ruang gagasan yang merdeka?”

Saya tersenyum.

Betapa aneh zaman ini. Yang bertanya tentang kebebasan berpikir bukan lagi seorang pejabat kebudayaan, bukan pula panitia festival, melainkan sebuah kecerdasan buatan.

Saya mulai bertanya dalam hati: jangan-jangan mesin sedang belajar menjadi manusia, sementara manusia sedang berlatih menjadi mesin.

Selama bertahun-tahun kita membanggakan Bali sebagai pulau budaya. Namun, semakin lama saya menyaksikan berbagai festival, semakin saya merasa bahwa yang dipelihara sering kali bukan kebudayaan, melainkan administrasi kebudayaan.

Seni menjadi sangat rapi.

Terlalu rapi.

Begitu rapi sehingga tak ada lagi ruang bagi kegagalan, keberanian, bahkan kejutan.

Di atas panggung kita menyaksikan ribuan gerak yang seragam. Di belakang panggung kita menyaksikan ribuan formulir yang sama. Yang berubah hanyalah warna kostum dan nama kabupaten. Cara berpikirnya tetap identik.

Barangkali birokrasi memang memiliki bakat luar biasa: mengubah imajinasi menjadi prosedur.

Tradisi kemudian diperlakukan seperti barang antik.

Ia dipoles.

Dipajang.

Difoto.

Dipromosikan.

Tetapi perlahan berhenti diajak berdialog.

Padahal tradisi yang sehat bukanlah benda mati. Tradisi adalah percakapan panjang antara masa lalu dan masa depan. Ketika percakapan itu berhenti, yang tersisa hanyalah museum yang kebetulan masih dipentaskan.

Ironinya, semakin sering kita mengucapkan kata pelestarian, semakin besar kemungkinan kita sedang mengawetkan sesuatu yang seharusnya hidup.

AI kemudian bertanya lagi.

“Apakah generasi muda sedang dipersiapkan menjadi penerus tradisi yang kritis, atau justru menjadi alat baru bagi standardisasi massal?”

Pertanyaan itu terasa seperti cermin.

Saya melihat anak-anak muda Bali yang luar biasa cerdas. Mereka mengakses musik dunia, filsafat, teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga seni eksperimental hanya melalui telepon genggam.

Namun ketika memasuki ruang-ruang institusi, mereka sering diminta meninggalkan keberanian itu di depan pintu.

Mereka dipuji karena kreatif.

Tetapi dinilai karena kepatuhan.

Mereka diminta inovatif.

Asalkan tidak terlalu berbeda.

Mereka didorong berpikir.

Asalkan kesimpulannya sudah tersedia.

Begitulah cara birokrasi menciptakan ilusi pembaruan.

Yang lahir bukan inovator.

Yang lahir adalah operator.

Saya kemudian menjawab AI.

Persoalannya bukan semata PKB.

Persoalannya adalah cara kita memahami kebudayaan.

Selama kurasi masih berada di bawah bayang-bayang administrasi, seni akan selalu diminta menjelaskan dirinya kepada tabel anggaran.

Padahal sejarah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya.

Bukan birokrasi yang melahirkan mahakarya.

Mahakaryalah yang kelak memaksa birokrasi menulis ulang sejarahnya.

Karena itu, kurator seharusnya memiliki kemerdekaan intelektual yang sama besarnya dengan seniman.

Negara cukup menyediakan ruang.

Bukan menentukan arah imajinasi.

Mungkin sudah waktunya PKB berhenti bertanya,

“Apakah karya ini sesuai pakem?”

dan mulai bertanya,

“Pertanyaan baru apa yang sedang diajukan karya ini kepada kebudayaan Bali?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berbahaya.

Tetapi hanya pertanyaan semacam itulah yang mampu membuat sebuah peradaban tetap hidup.

Percakapan dengan AI berakhir tanpa tepuk tangan.

Tidak ada notulen.

Tidak ada rekomendasi resmi.

Tidak ada foto bersama.

Yang tertinggal hanyalah satu ironi yang sulit saya lupakan.

Hari ini, sebuah mesin mengingatkan saya bahwa tugas kebudayaan bukanlah mengulang jawaban, melainkan terus melahirkan pertanyaan.

Dan mungkin di situlah satire terbesar zaman kita bersembunyi.

Ketika kecerdasan buatan mulai mengajak manusia berpikir lebih bebas, sementara sebagian manusia justru sibuk mengajarkan kebudayaan untuk berpikir seperti mesin.

Barangkali ancaman terbesar terhadap seni bukanlah teknologi.

Melainkan kebiasaan kita menjadikan imajinasi sebagai dokumen, kreativitas sebagai prosedur, dan tradisi sebagai seragam.

Jika itu yang terus terjadi, maka suatu hari nanti mesin tidak akan menggantikan seniman.

Ia hanya akan menggantikan birokrasi.

Sedangkan seniman, sebagaimana sejak dahulu, akan tetap memiliki satu tugas yang tak pernah bisa diotomatisasi:

mengganggu kenyamanan zaman. [T]

Kubu Art Space.

Penulis: Wayan Gde Yudane
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIkebudayaan baliPesta Kesenian Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Next Post

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Kembalinya Roh Teo-Estetika ---Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co