31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Hartanto by Hartanto
June 29, 2026
in Ulas Rupa
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Karya Putu Fajar Arcana

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.

Bagi saya, itu kerja yang menyenangkan. Pasalnya, saya acap ‘berdialog’ dengan perupa mengenai cerpen yang bersangkutan.

Ide Bre Redana ini saya anggap sungguh genial. Bre. Ia dikenal sebagai wartawan, esais, dan kurator seni  ‘menginisiasi’ keterlibatan perupa dalam proyek ‘dialog’ karya rupa dan cerpen Kompas.

Saat itu, saya bertugas kuratorial perupa Bali, perupa Hari Budiono kurasi untuk Jogya dan sekitarnya. Untuk Bandung dan sekitarnya dikurasi oleh perupa Andar Manik. Sementara itu, untuk Jakarta dan sekitarnya dikurasi oleh Bre Sendiri.

Karya rupa yang berdialog dengan karya sastra itu, merupakan karya oleh perupa muda, hingga para maestro. Para maestro senirupa dari Bali yang berpartisipasi antara lain : Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Chusin Setiadiara, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Suklu, Putu Sutawijaya, Tatang BSP dan lain sebagainya. Karya rupa yang merespon cerpen itu, tak hanya karya dwimatra saja, ada karya trimatra juga.

Bre Redana dan saya, menolak istilah “ilustrasi” karena menekankan bahwa karya rupa dan karya sastra saling berdialog.

Bukan sekadar hubungan ‘hierarkis’. melainkan dalam ‘dialog saling melengkapi’. Karya rupa – merespon karya sastra.

Itu sejalan dengan gagasan ‘intermedialitas’ dalam teori seni kontemporer – bahwa ‘teks’ dan ‘citra’ bukan sekadar pendamping, melainkan ‘dua medium’ yang saling memperluas makna.

Kepada para perupa, saya mengatakan bahwa karya respon terhadap cerpen itu bukanlah ‘ilustrasi’. Ia, merupakan karya rupa yang ‘mandiri’, hasil interpretasi perupanya pada karya sastra. Hal ini, mengingat suatu saat Bre mengatakan – tidak memberi ‘kriteria’ pada cerpen yang hendak dimuat di harian umum Kompas.

Menurutnya, ‘kreativitas’ artinya menembus batas-batas yang ada. Selanjutnya, Bre menambahkan – jika ia memberi ‘kriteria’ – itu tak menaikkan mutu karya sastra tersebut, tapi ‘membunuh’ kemungkinan ‘kreatif’.

Sekarang, menurut Bre, dengan kemungkian lintas platform – adakah editor yang berpikir dan mengajak perupa untuk merespon karya sastra cerita pendek jadi ‘performing art’ misalnya.

Jadi, tambahnya, selain photo pertunjukannya, bisa juga diinfo ‘link platform’nya. Pemikiran Bre cukup beralasan mengingat youtube, tiktok, reels adalah media  berbasis web video sharing. Ini bisa memfasilitasi penggunanya untuk berbagi video yang mereka miliki.

Tentu, untuk itu dibutuhkan kerja kreatif editor media yang bersangkutan. Sementara itu, masih kata Bre, kini dalam sastra Koran ada tradisi yang terputus. Dipermukaan, tampak sama, padahal esensi tradisi lalu, terputus. Ini, disebut  Bre sebagai disrupsi.

Begitulah interaksi saya dengan Bre. Apa yang kami lakukan sebenarnya menempatkan seni rupa sebagai ‘respon kreatif’terhadap sastra, bukan sekadar ‘visualisasi’.

Ini mirip dengan praktik para perupa internasional yang menjembatani medium : misalnya Cy Twombly, yang sering menghadirkan ‘fragmen puisi Yunani’ dalam kanvasnya.

Atau Anselm Kiefer, yang menggunakan teks Paul Celan untuk memperdalam lapisan sejarah dan memori dalam lukisan.

Mereka tidak “mengilustrasikan” teks sastra, melainkan berdialog dengannya, sama seperti saat saya kerja kurasi bersama Bre Redana.

Anselm Kiefer menjadikan puisi Paul Celan sebagai salah satu poros utama dalam karya-karyanya, terutama sejak ia membaca ‘Todesfuge’ (‘Death Fugue’) di masa remaja.

Celan, penyair berbahasa Jerman keturunan Yahudi-Rumania yang selamat dari ‘Holocaust’, menulis dengan bahasa yang penuh luka dan keretakan; Kiefer meresponsnya lewat ‘lukisan’, ‘instalasi’, dan ‘patung’ yang monumental, menghidupkan kembali ‘trauma sejarah’ melalui ‘citra visual’.

Dalam konteks karya rupa Putu Fajar Arcana yang mendampingi karya cerpen Cindy Wijaya di Koran Kompas 20 – 21 Juni 2026, sikap ini semakin relevan. Lukisan Arcana bukan sekadar pelengkap cerpen Cindy Wijaya, melainkan ‘diksi sunyi’ visual – yang membuka ‘atmosfer batin’ cerita.

Seperti kata Rothko: “I’m interested only in expressing basic human emotions.”. (“Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”). Demikian juga dengan Arcana. Ia menghadirkan emosi itu melalui ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’, sementara teks menghadirkannya melalui kata.

Mark Rothko adalah pelopor ‘Ekspresionisme Abstrak’ Amerika, yang terkenal dengan lukisan “bidang warna” – acap menampilkan kanvas berskala besar persegi panjang, bercahaya dengan tepi lembut dan warna jenuh.

Lukisannya dirancang untuk menyelimuti penonton, karya-karya monumentalnya bertujuan untuk mengekspresikan emosi manusia yang mendalam.

Sementara itu, Roland Barthes – filsuf, kritikus sastra, dan ‘semiolog’ Prancis, menegaskan bahwa ‘citra’ selalu “coded,” dan di sini ‘kode visual’ Arcana memperluas kode naratif cerpen.

Dalam pandangan Barthes, ‘citra’ adalah sebuah pesan kompleks yang terdiri dari ‘teks’ dan ‘gamba’r, berfungsi bukan sekadar sebagai ‘representasi visual’, melainkan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan ‘ideologi’ melalui lapisan makna berlapis.

Dengan demikian, apa yang Saya dan Bre lakukan sejak awal 2000-an sudah menempatkan seni Indonesia dalam percakapan global tentang intermedialitas : ‘teks’ dan ‘rupa’ sebagai ‘dua bahasa’ yang saling ‘mengisi’, bukan ‘subordinasi’.

Itu membuat karya seperti Arcana – Wijaya bisa dibaca sejajar dengan tradisi dunia, dari Twombly hingga Kiefer, dari Hilma af Klint hingga Rothko.

Namun, menurut saya karya Putu Fajar Arcana dan cerpen Cindy Wijaya juga dapat dibaca sebagai sebuah dialektika, bukan sekadar hubungan ‘ilustratif’;.

‘Dialektika’ di sini berarti adanya pertukaran makna yang saling menegaskan sekaligus menantang : ‘teks’ membuka ruang ‘naratif’ tentang “penonton terakhir,”.

Menurut saya, lukisan arcana menghadirkan ‘atmosfer visual’ yang ‘multiinterpretabel’ – antara cahaya dan bayangan, antara pertumbuhan dan peluruhan.

Arcana tidak hanya “menggambarkan” isi cerpen, melainkan ‘merespons’nya dengan bahasa rupa yang independen.

Pada karya Arcana tersebut, warna kuning dan hitam menjadi ‘dialektika emosional’ yang memperkuat tema ‘kesunyian’ dan ‘transisi’ dalam teks.

‘Dialektika’ ini juga bisa kita baca pada karya Arcana – Wijaya  Mereka tidak sekadar menempelkan ‘citra’ pada ‘kata’, melainkan menciptakan percakapan ‘lintas medium’.

Dengan demikian, karya Arcana dan cerpen Cindy Wijaya menghadirkan ‘dialektika’ yang ‘produktif’ – sastra dan rupa saling menguji, saling memperluas, dan bersama-sama membentuk pengalaman ‘estetis’ yang lebih dalam.

Oleh karenanya, saya berpendapat ‘dialektika’ ini sebagai bagian dari sejarah ‘intermedial’ seni Indonesia. Oleh karenanya, perkenankan saya menyebutnya ‘Intermedialitas dialektis’.

Masih menurut saya, soal penggayaan – Karya Putu Fajar Arcana dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘bentuk’, dan ‘atmosfer’ dengan pengalaman batin.

Oleh karenanya, perkenankan saya berpendapat, ‘resonansi’ karya Arcana sejalan dengan pemikiran Kandinsky, Barthes, dan sejumlah perupa dunia seperti Rothko, Pollock, dan Hilma af Klint.

Kandinsky pernah menulis dalam Concerning the Spiritual in Art: “Color is a power which directly influences the soul.”  (Mengenai Aspek Spiritual dalam Seni: “Warna adalah kekuatan yang secara langsung memengaruhi jiwa.”)

Kutipan ini menemukan padanannya dalam karya Arcana, di mana warna menjadi ‘energi spiritual’ yang menyalurkan tegangan ‘emosional’.

Dalam pandangan saya, lukisan Arcana menjadi ‘kode visual’ yang berdialog dengan ‘teks’ Cindy Wijaya, memperluas makna cerpen melalui ‘bentuk organik’ yang cair dan ‘multiinterpretabilitas’.

Ini parallel dengan pendaat Barthes ; ““The image is not a reality but a representation, it is always coded.” (“Gambar bukanlah ‘realitas’ melainkan ‘representasi’, selalu dikodekan.”)

Selain itu, karya kreatif Arcana juga dapat dipadankan dengan Mark Rothko, yang menekankan bahwa warna lapangan luas mampu membuat penonton menangis: “I’m not an abstractionist. I’m interested only in expressing basic human emotions.” (“Saya bukan seorang ‘abstraksionis’. Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”)

Seperti Rothko, Arcana menggunakan warna sebagai medium emosi, bukan sekadar dekorasi. Ini mengingatkan Jackson Pollock yang menulis: “The painting has a life of its own. I try to let it come through.” (“Lukisan ini memiliki kehidupannya sendiri. Saya mencoba membiarkannya muncul dengan sendirinya.”)

Sapuan Arcana yang ‘ekspresif’, seolah kabut dan cahaya yang bergerak, menghadirkan kehidupan batin yang serupa dengan ‘intensitas Pollock’.

Hilma af Klint, pionir ‘abstraksi spiritual’, percaya bahwa lukisan dapat menjadi wahana ‘komunikasi’ dengan ‘dimensi’ tak kasat mata.

Arcana, dengan latar belakang sebagai penulis dan jurnalis, membawa ‘sensibilitas literer’ ke dalam kanvas, menjadikan lukisan sebagai ‘medium terapi batin’ yang menghubungkan ‘kata’ dan ‘citra’.

Padanan lain dapat ditemukan pada Piet Mondrian, yang menulis bahwa “Seni abstrak adalah jalan menuju harmoni universal”. Arcana, meski tidak ‘geometris’, tetap menghadirkan ‘harmoni’ melalui tegangan ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’ yang menyeimbangkan ‘vitalitas’ dan ‘kesunyian’.

Pada ensiklopedi Britanica, Pablo Picasso menegaskan: “There is no abstract art. You must always start with something. Afterward you can remove all traces of reality.” (“Tidak ada seni abstrak. Anda harus selalu memulai dengan sesuatu. Setelah itu, Anda dapat menghapus semua jejak realitas.”)

Pandapat Picasso itu dapat saya padankan dengan Arcana yang memulai dari pengalaman ‘batin’ dan ‘literer’, lalu menghapus jejak ‘realitas’ untuk menghadirkan ‘atmosfer reflektif’.

Dengan demikian, perkenankan saya menempatkan  karya Arcana dalam peta seni global sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘betuk; dengan jiwa.

‘Teks’ dengan ‘citra’, dan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’ – dalam konteks esai ini – menegaskan bahwa seni Arcana bukan sekadar ‘ilustrasi’, melainkan bagian dari percakapan panjang antara seni Indonesia dan tradisi abstrak dunia, dari Kandinsky hingga Rothko, dari Pollock hingga af Klint. [T]

Tags: Putu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

Next Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Wawancara antara Saya dan AI ---Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co