10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Hartanto by Hartanto
June 29, 2026
in Ulas Rupa
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Karya Putu Fajar Arcana

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.

Bagi saya, itu kerja yang menyenangkan. Pasalnya, saya acap ‘berdialog’ dengan perupa mengenai cerpen yang bersangkutan.

Ide Bre Redana ini saya anggap sungguh genial. Bre. Ia dikenal sebagai wartawan, esais, dan kurator seni  ‘menginisiasi’ keterlibatan perupa dalam proyek ‘dialog’ karya rupa dan cerpen Kompas.

Saat itu, saya bertugas kuratorial perupa Bali, perupa Hari Budiono kurasi untuk Jogya dan sekitarnya. Untuk Bandung dan sekitarnya dikurasi oleh perupa Andar Manik. Sementara itu, untuk Jakarta dan sekitarnya dikurasi oleh Bre Sendiri.

Karya rupa yang berdialog dengan karya sastra itu, merupakan karya oleh perupa muda, hingga para maestro. Para maestro senirupa dari Bali yang berpartisipasi antara lain : Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Chusin Setiadiara, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Suklu, Putu Sutawijaya, Tatang BSP dan lain sebagainya. Karya rupa yang merespon cerpen itu, tak hanya karya dwimatra saja, ada karya trimatra juga.

Bre Redana dan saya, menolak istilah “ilustrasi” karena menekankan bahwa karya rupa dan karya sastra saling berdialog.

Bukan sekadar hubungan ‘hierarkis’. melainkan dalam ‘dialog saling melengkapi’. Karya rupa – merespon karya sastra.

Itu sejalan dengan gagasan ‘intermedialitas’ dalam teori seni kontemporer – bahwa ‘teks’ dan ‘citra’ bukan sekadar pendamping, melainkan ‘dua medium’ yang saling memperluas makna.

Kepada para perupa, saya mengatakan bahwa karya respon terhadap cerpen itu bukanlah ‘ilustrasi’. Ia, merupakan karya rupa yang ‘mandiri’, hasil interpretasi perupanya pada karya sastra. Hal ini, mengingat suatu saat Bre mengatakan – tidak memberi ‘kriteria’ pada cerpen yang hendak dimuat di harian umum Kompas.

Menurutnya, ‘kreativitas’ artinya menembus batas-batas yang ada. Selanjutnya, Bre menambahkan – jika ia memberi ‘kriteria’ – itu tak menaikkan mutu karya sastra tersebut, tapi ‘membunuh’ kemungkinan ‘kreatif’.

Sekarang, menurut Bre, dengan kemungkian lintas platform – adakah editor yang berpikir dan mengajak perupa untuk merespon karya sastra cerita pendek jadi ‘performing art’ misalnya.

Jadi, tambahnya, selain photo pertunjukannya, bisa juga diinfo ‘link platform’nya. Pemikiran Bre cukup beralasan mengingat youtube, tiktok, reels adalah media  berbasis web video sharing. Ini bisa memfasilitasi penggunanya untuk berbagi video yang mereka miliki.

Tentu, untuk itu dibutuhkan kerja kreatif editor media yang bersangkutan. Sementara itu, masih kata Bre, kini dalam sastra Koran ada tradisi yang terputus. Dipermukaan, tampak sama, padahal esensi tradisi lalu, terputus. Ini, disebut  Bre sebagai disrupsi.

Begitulah interaksi saya dengan Bre. Apa yang kami lakukan sebenarnya menempatkan seni rupa sebagai ‘respon kreatif’terhadap sastra, bukan sekadar ‘visualisasi’.

Ini mirip dengan praktik para perupa internasional yang menjembatani medium : misalnya Cy Twombly, yang sering menghadirkan ‘fragmen puisi Yunani’ dalam kanvasnya.

Atau Anselm Kiefer, yang menggunakan teks Paul Celan untuk memperdalam lapisan sejarah dan memori dalam lukisan.

Mereka tidak “mengilustrasikan” teks sastra, melainkan berdialog dengannya, sama seperti saat saya kerja kurasi bersama Bre Redana.

Anselm Kiefer menjadikan puisi Paul Celan sebagai salah satu poros utama dalam karya-karyanya, terutama sejak ia membaca ‘Todesfuge’ (‘Death Fugue’) di masa remaja.

Celan, penyair berbahasa Jerman keturunan Yahudi-Rumania yang selamat dari ‘Holocaust’, menulis dengan bahasa yang penuh luka dan keretakan; Kiefer meresponsnya lewat ‘lukisan’, ‘instalasi’, dan ‘patung’ yang monumental, menghidupkan kembali ‘trauma sejarah’ melalui ‘citra visual’.

Dalam konteks karya rupa Putu Fajar Arcana yang mendampingi karya cerpen Cindy Wijaya di Koran Kompas 20 – 21 Juni 2026, sikap ini semakin relevan. Lukisan Arcana bukan sekadar pelengkap cerpen Cindy Wijaya, melainkan ‘diksi sunyi’ visual – yang membuka ‘atmosfer batin’ cerita.

Seperti kata Rothko: “I’m interested only in expressing basic human emotions.”. (“Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”). Demikian juga dengan Arcana. Ia menghadirkan emosi itu melalui ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’, sementara teks menghadirkannya melalui kata.

Mark Rothko adalah pelopor ‘Ekspresionisme Abstrak’ Amerika, yang terkenal dengan lukisan “bidang warna” – acap menampilkan kanvas berskala besar persegi panjang, bercahaya dengan tepi lembut dan warna jenuh.

Lukisannya dirancang untuk menyelimuti penonton, karya-karya monumentalnya bertujuan untuk mengekspresikan emosi manusia yang mendalam.

Sementara itu, Roland Barthes – filsuf, kritikus sastra, dan ‘semiolog’ Prancis, menegaskan bahwa ‘citra’ selalu “coded,” dan di sini ‘kode visual’ Arcana memperluas kode naratif cerpen.

Dalam pandangan Barthes, ‘citra’ adalah sebuah pesan kompleks yang terdiri dari ‘teks’ dan ‘gamba’r, berfungsi bukan sekadar sebagai ‘representasi visual’, melainkan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan ‘ideologi’ melalui lapisan makna berlapis.

Dengan demikian, apa yang Saya dan Bre lakukan sejak awal 2000-an sudah menempatkan seni Indonesia dalam percakapan global tentang intermedialitas : ‘teks’ dan ‘rupa’ sebagai ‘dua bahasa’ yang saling ‘mengisi’, bukan ‘subordinasi’.

Itu membuat karya seperti Arcana – Wijaya bisa dibaca sejajar dengan tradisi dunia, dari Twombly hingga Kiefer, dari Hilma af Klint hingga Rothko.

Namun, menurut saya karya Putu Fajar Arcana dan cerpen Cindy Wijaya juga dapat dibaca sebagai sebuah dialektika, bukan sekadar hubungan ‘ilustratif’;.

‘Dialektika’ di sini berarti adanya pertukaran makna yang saling menegaskan sekaligus menantang : ‘teks’ membuka ruang ‘naratif’ tentang “penonton terakhir,”.

Menurut saya, lukisan arcana menghadirkan ‘atmosfer visual’ yang ‘multiinterpretabel’ – antara cahaya dan bayangan, antara pertumbuhan dan peluruhan.

Arcana tidak hanya “menggambarkan” isi cerpen, melainkan ‘merespons’nya dengan bahasa rupa yang independen.

Pada karya Arcana tersebut, warna kuning dan hitam menjadi ‘dialektika emosional’ yang memperkuat tema ‘kesunyian’ dan ‘transisi’ dalam teks.

‘Dialektika’ ini juga bisa kita baca pada karya Arcana – Wijaya  Mereka tidak sekadar menempelkan ‘citra’ pada ‘kata’, melainkan menciptakan percakapan ‘lintas medium’.

Dengan demikian, karya Arcana dan cerpen Cindy Wijaya menghadirkan ‘dialektika’ yang ‘produktif’ – sastra dan rupa saling menguji, saling memperluas, dan bersama-sama membentuk pengalaman ‘estetis’ yang lebih dalam.

Oleh karenanya, saya berpendapat ‘dialektika’ ini sebagai bagian dari sejarah ‘intermedial’ seni Indonesia. Oleh karenanya, perkenankan saya menyebutnya ‘Intermedialitas dialektis’.

Masih menurut saya, soal penggayaan – Karya Putu Fajar Arcana dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘bentuk’, dan ‘atmosfer’ dengan pengalaman batin.

Oleh karenanya, perkenankan saya berpendapat, ‘resonansi’ karya Arcana sejalan dengan pemikiran Kandinsky, Barthes, dan sejumlah perupa dunia seperti Rothko, Pollock, dan Hilma af Klint.

Kandinsky pernah menulis dalam Concerning the Spiritual in Art: “Color is a power which directly influences the soul.”  (Mengenai Aspek Spiritual dalam Seni: “Warna adalah kekuatan yang secara langsung memengaruhi jiwa.”)

Kutipan ini menemukan padanannya dalam karya Arcana, di mana warna menjadi ‘energi spiritual’ yang menyalurkan tegangan ‘emosional’.

Dalam pandangan saya, lukisan Arcana menjadi ‘kode visual’ yang berdialog dengan ‘teks’ Cindy Wijaya, memperluas makna cerpen melalui ‘bentuk organik’ yang cair dan ‘multiinterpretabilitas’.

Ini parallel dengan pendaat Barthes ; ““The image is not a reality but a representation, it is always coded.” (“Gambar bukanlah ‘realitas’ melainkan ‘representasi’, selalu dikodekan.”)

Selain itu, karya kreatif Arcana juga dapat dipadankan dengan Mark Rothko, yang menekankan bahwa warna lapangan luas mampu membuat penonton menangis: “I’m not an abstractionist. I’m interested only in expressing basic human emotions.” (“Saya bukan seorang ‘abstraksionis’. Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”)

Seperti Rothko, Arcana menggunakan warna sebagai medium emosi, bukan sekadar dekorasi. Ini mengingatkan Jackson Pollock yang menulis: “The painting has a life of its own. I try to let it come through.” (“Lukisan ini memiliki kehidupannya sendiri. Saya mencoba membiarkannya muncul dengan sendirinya.”)

Sapuan Arcana yang ‘ekspresif’, seolah kabut dan cahaya yang bergerak, menghadirkan kehidupan batin yang serupa dengan ‘intensitas Pollock’.

Hilma af Klint, pionir ‘abstraksi spiritual’, percaya bahwa lukisan dapat menjadi wahana ‘komunikasi’ dengan ‘dimensi’ tak kasat mata.

Arcana, dengan latar belakang sebagai penulis dan jurnalis, membawa ‘sensibilitas literer’ ke dalam kanvas, menjadikan lukisan sebagai ‘medium terapi batin’ yang menghubungkan ‘kata’ dan ‘citra’.

Padanan lain dapat ditemukan pada Piet Mondrian, yang menulis bahwa “Seni abstrak adalah jalan menuju harmoni universal”. Arcana, meski tidak ‘geometris’, tetap menghadirkan ‘harmoni’ melalui tegangan ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’ yang menyeimbangkan ‘vitalitas’ dan ‘kesunyian’.

Pada ensiklopedi Britanica, Pablo Picasso menegaskan: “There is no abstract art. You must always start with something. Afterward you can remove all traces of reality.” (“Tidak ada seni abstrak. Anda harus selalu memulai dengan sesuatu. Setelah itu, Anda dapat menghapus semua jejak realitas.”)

Pandapat Picasso itu dapat saya padankan dengan Arcana yang memulai dari pengalaman ‘batin’ dan ‘literer’, lalu menghapus jejak ‘realitas’ untuk menghadirkan ‘atmosfer reflektif’.

Dengan demikian, perkenankan saya menempatkan  karya Arcana dalam peta seni global sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘betuk; dengan jiwa.

‘Teks’ dengan ‘citra’, dan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’ – dalam konteks esai ini – menegaskan bahwa seni Arcana bukan sekadar ‘ilustrasi’, melainkan bagian dari percakapan panjang antara seni Indonesia dan tradisi abstrak dunia, dari Kandinsky hingga Rothko, dari Pollock hingga af Klint. [T]

Tags: Putu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

Next Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails
Next Post
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Wawancara antara Saya dan AI ---Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co