29 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Hartanto by Hartanto
June 29, 2026
in Ulas Rupa
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Karya Putu Fajar Arcana

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.

Bagi saya, itu kerja yang menyenangkan. Pasalnya, saya acap ‘berdialog’ dengan perupa mengenai cerpen yang bersangkutan.

Ide Bre Redana ini saya anggap sungguh genial. Bre. Ia dikenal sebagai wartawan, esais, dan kurator seni  ‘menginisiasi’ keterlibatan perupa dalam proyek ‘dialog’ karya rupa dan cerpen Kompas.

Saat itu, saya bertugas kuratorial perupa Bali, perupa Hari Budiono kurasi untuk Jogya dan sekitarnya. Untuk Bandung dan sekitarnya dikurasi oleh perupa Andar Manik. Sementara itu, untuk Jakarta dan sekitarnya dikurasi oleh Bre Sendiri.

Karya rupa yang berdialog dengan karya sastra itu, merupakan karya oleh perupa muda, hingga para maestro. Para maestro senirupa dari Bali yang berpartisipasi antara lain : Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Chusin Setiadiara, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Suklu, Putu Sutawijaya, Tatang BSP dan lain sebagainya. Karya rupa yang merespon cerpen itu, tak hanya karya dwimatra saja, ada karya trimatra juga.

Bre Redana dan saya, menolak istilah “ilustrasi” karena menekankan bahwa karya rupa dan karya sastra saling berdialog.

Bukan sekadar hubungan ‘hierarkis’. melainkan dalam ‘dialog saling melengkapi’. Karya rupa – merespon karya sastra.

Itu sejalan dengan gagasan ‘intermedialitas’ dalam teori seni kontemporer – bahwa ‘teks’ dan ‘citra’ bukan sekadar pendamping, melainkan ‘dua medium’ yang saling memperluas makna.

Kepada para perupa, saya mengatakan bahwa karya respon terhadap cerpen itu bukanlah ‘ilustrasi’. Ia, merupakan karya rupa yang ‘mandiri’, hasil interpretasi perupanya pada karya sastra. Hal ini, mengingat suatu saat Bre mengatakan – tidak memberi ‘kriteria’ pada cerpen yang hendak dimuat di harian umum Kompas.

Menurutnya, ‘kreativitas’ artinya menembus batas-batas yang ada. Selanjutnya, Bre menambahkan – jika ia memberi ‘kriteria’ – itu tak menaikkan mutu karya sastra tersebut, tapi ‘membunuh’ kemungkinan ‘kreatif’.

Sekarang, menurut Bre, dengan kemungkian lintas platform – adakah editor yang berpikir dan mengajak perupa untuk merespon karya sastra cerita pendek jadi ‘performing art’ misalnya.

Jadi, tambahnya, selain photo pertunjukannya, bisa juga diinfo ‘link platform’nya. Pemikiran Bre cukup beralasan mengingat youtube, tiktok, reels adalah media  berbasis web video sharing. Ini bisa memfasilitasi penggunanya untuk berbagi video yang mereka miliki.

Tentu, untuk itu dibutuhkan kerja kreatif editor media yang bersangkutan. Sementara itu, masih kata Bre, kini dalam sastra Koran ada tradisi yang terputus. Dipermukaan, tampak sama, padahal esensi tradisi lalu, terputus. Ini, disebut  Bre sebagai disrupsi.

Begitulah interaksi saya dengan Bre. Apa yang kami lakukan sebenarnya menempatkan seni rupa sebagai ‘respon kreatif’terhadap sastra, bukan sekadar ‘visualisasi’.

Ini mirip dengan praktik para perupa internasional yang menjembatani medium : misalnya Cy Twombly, yang sering menghadirkan ‘fragmen puisi Yunani’ dalam kanvasnya.

Atau Anselm Kiefer, yang menggunakan teks Paul Celan untuk memperdalam lapisan sejarah dan memori dalam lukisan.

Mereka tidak “mengilustrasikan” teks sastra, melainkan berdialog dengannya, sama seperti saat saya kerja kurasi bersama Bre Redana.

Anselm Kiefer menjadikan puisi Paul Celan sebagai salah satu poros utama dalam karya-karyanya, terutama sejak ia membaca ‘Todesfuge’ (‘Death Fugue’) di masa remaja.

Celan, penyair berbahasa Jerman keturunan Yahudi-Rumania yang selamat dari ‘Holocaust’, menulis dengan bahasa yang penuh luka dan keretakan; Kiefer meresponsnya lewat ‘lukisan’, ‘instalasi’, dan ‘patung’ yang monumental, menghidupkan kembali ‘trauma sejarah’ melalui ‘citra visual’.

Dalam konteks karya rupa Putu Fajar Arcana yang mendampingi karya cerpen Cindy Wijaya di Koran Kompas 20 – 21 Juni 2026, sikap ini semakin relevan. Lukisan Arcana bukan sekadar pelengkap cerpen Cindy Wijaya, melainkan ‘diksi sunyi’ visual – yang membuka ‘atmosfer batin’ cerita.

Seperti kata Rothko: “I’m interested only in expressing basic human emotions.”. (“Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”). Demikian juga dengan Arcana. Ia menghadirkan emosi itu melalui ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’, sementara teks menghadirkannya melalui kata.

Mark Rothko adalah pelopor ‘Ekspresionisme Abstrak’ Amerika, yang terkenal dengan lukisan “bidang warna” – acap menampilkan kanvas berskala besar persegi panjang, bercahaya dengan tepi lembut dan warna jenuh.

Lukisannya dirancang untuk menyelimuti penonton, karya-karya monumentalnya bertujuan untuk mengekspresikan emosi manusia yang mendalam.

Sementara itu, Roland Barthes – filsuf, kritikus sastra, dan ‘semiolog’ Prancis, menegaskan bahwa ‘citra’ selalu “coded,” dan di sini ‘kode visual’ Arcana memperluas kode naratif cerpen.

Dalam pandangan Barthes, ‘citra’ adalah sebuah pesan kompleks yang terdiri dari ‘teks’ dan ‘gamba’r, berfungsi bukan sekadar sebagai ‘representasi visual’, melainkan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan ‘ideologi’ melalui lapisan makna berlapis.

Dengan demikian, apa yang Saya dan Bre lakukan sejak awal 2000-an sudah menempatkan seni Indonesia dalam percakapan global tentang intermedialitas : ‘teks’ dan ‘rupa’ sebagai ‘dua bahasa’ yang saling ‘mengisi’, bukan ‘subordinasi’.

Itu membuat karya seperti Arcana – Wijaya bisa dibaca sejajar dengan tradisi dunia, dari Twombly hingga Kiefer, dari Hilma af Klint hingga Rothko.

Namun, menurut saya karya Putu Fajar Arcana dan cerpen Cindy Wijaya juga dapat dibaca sebagai sebuah dialektika, bukan sekadar hubungan ‘ilustratif’;.

‘Dialektika’ di sini berarti adanya pertukaran makna yang saling menegaskan sekaligus menantang : ‘teks’ membuka ruang ‘naratif’ tentang “penonton terakhir,”.

Menurut saya, lukisan arcana menghadirkan ‘atmosfer visual’ yang ‘multiinterpretabel’ – antara cahaya dan bayangan, antara pertumbuhan dan peluruhan.

Arcana tidak hanya “menggambarkan” isi cerpen, melainkan ‘merespons’nya dengan bahasa rupa yang independen.

Pada karya Arcana tersebut, warna kuning dan hitam menjadi ‘dialektika emosional’ yang memperkuat tema ‘kesunyian’ dan ‘transisi’ dalam teks.

‘Dialektika’ ini juga bisa kita baca pada karya Arcana – Wijaya  Mereka tidak sekadar menempelkan ‘citra’ pada ‘kata’, melainkan menciptakan percakapan ‘lintas medium’.

Dengan demikian, karya Arcana dan cerpen Cindy Wijaya menghadirkan ‘dialektika’ yang ‘produktif’ – sastra dan rupa saling menguji, saling memperluas, dan bersama-sama membentuk pengalaman ‘estetis’ yang lebih dalam.

Oleh karenanya, saya berpendapat ‘dialektika’ ini sebagai bagian dari sejarah ‘intermedial’ seni Indonesia. Oleh karenanya, perkenankan saya menyebutnya ‘Intermedialitas dialektis’.

Masih menurut saya, soal penggayaan – Karya Putu Fajar Arcana dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘bentuk’, dan ‘atmosfer’ dengan pengalaman batin.

Oleh karenanya, perkenankan saya berpendapat, ‘resonansi’ karya Arcana sejalan dengan pemikiran Kandinsky, Barthes, dan sejumlah perupa dunia seperti Rothko, Pollock, dan Hilma af Klint.

Kandinsky pernah menulis dalam Concerning the Spiritual in Art: “Color is a power which directly influences the soul.”  (Mengenai Aspek Spiritual dalam Seni: “Warna adalah kekuatan yang secara langsung memengaruhi jiwa.”)

Kutipan ini menemukan padanannya dalam karya Arcana, di mana warna menjadi ‘energi spiritual’ yang menyalurkan tegangan ‘emosional’.

Dalam pandangan saya, lukisan Arcana menjadi ‘kode visual’ yang berdialog dengan ‘teks’ Cindy Wijaya, memperluas makna cerpen melalui ‘bentuk organik’ yang cair dan ‘multiinterpretabilitas’.

Ini parallel dengan pendaat Barthes ; ““The image is not a reality but a representation, it is always coded.” (“Gambar bukanlah ‘realitas’ melainkan ‘representasi’, selalu dikodekan.”)

Selain itu, karya kreatif Arcana juga dapat dipadankan dengan Mark Rothko, yang menekankan bahwa warna lapangan luas mampu membuat penonton menangis: “I’m not an abstractionist. I’m interested only in expressing basic human emotions.” (“Saya bukan seorang ‘abstraksionis’. Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”)

Seperti Rothko, Arcana menggunakan warna sebagai medium emosi, bukan sekadar dekorasi. Ini mengingatkan Jackson Pollock yang menulis: “The painting has a life of its own. I try to let it come through.” (“Lukisan ini memiliki kehidupannya sendiri. Saya mencoba membiarkannya muncul dengan sendirinya.”)

Sapuan Arcana yang ‘ekspresif’, seolah kabut dan cahaya yang bergerak, menghadirkan kehidupan batin yang serupa dengan ‘intensitas Pollock’.

Hilma af Klint, pionir ‘abstraksi spiritual’, percaya bahwa lukisan dapat menjadi wahana ‘komunikasi’ dengan ‘dimensi’ tak kasat mata.

Arcana, dengan latar belakang sebagai penulis dan jurnalis, membawa ‘sensibilitas literer’ ke dalam kanvas, menjadikan lukisan sebagai ‘medium terapi batin’ yang menghubungkan ‘kata’ dan ‘citra’.

Padanan lain dapat ditemukan pada Piet Mondrian, yang menulis bahwa “Seni abstrak adalah jalan menuju harmoni universal”. Arcana, meski tidak ‘geometris’, tetap menghadirkan ‘harmoni’ melalui tegangan ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’ yang menyeimbangkan ‘vitalitas’ dan ‘kesunyian’.

Pada ensiklopedi Britanica, Pablo Picasso menegaskan: “There is no abstract art. You must always start with something. Afterward you can remove all traces of reality.” (“Tidak ada seni abstrak. Anda harus selalu memulai dengan sesuatu. Setelah itu, Anda dapat menghapus semua jejak realitas.”)

Pandapat Picasso itu dapat saya padankan dengan Arcana yang memulai dari pengalaman ‘batin’ dan ‘literer’, lalu menghapus jejak ‘realitas’ untuk menghadirkan ‘atmosfer reflektif’.

Dengan demikian, perkenankan saya menempatkan  karya Arcana dalam peta seni global sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘betuk; dengan jiwa.

‘Teks’ dengan ‘citra’, dan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’ – dalam konteks esai ini – menegaskan bahwa seni Arcana bukan sekadar ‘ilustrasi’, melainkan bagian dari percakapan panjang antara seni Indonesia dan tradisi abstrak dunia, dari Kandinsky hingga Rothko, dari Pollock hingga af Klint. [T]

Tags: Putu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky
Cerpen

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan
Liputan Khusus

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

by Jaswanto
June 28, 2026
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
Bulan Juni Milik Empat Presiden
Esai

Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co