20 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Hartanto by Hartanto
June 29, 2026
in Ulas Rupa
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Karya Putu Fajar Arcana

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.

Bagi saya, itu kerja yang menyenangkan. Pasalnya, saya acap ‘berdialog’ dengan perupa mengenai cerpen yang bersangkutan.

Ide Bre Redana ini saya anggap sungguh genial. Bre. Ia dikenal sebagai wartawan, esais, dan kurator seni  ‘menginisiasi’ keterlibatan perupa dalam proyek ‘dialog’ karya rupa dan cerpen Kompas.

Saat itu, saya bertugas kuratorial perupa Bali, perupa Hari Budiono kurasi untuk Jogya dan sekitarnya. Untuk Bandung dan sekitarnya dikurasi oleh perupa Andar Manik. Sementara itu, untuk Jakarta dan sekitarnya dikurasi oleh Bre Sendiri.

Karya rupa yang berdialog dengan karya sastra itu, merupakan karya oleh perupa muda, hingga para maestro. Para maestro senirupa dari Bali yang berpartisipasi antara lain : Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Chusin Setiadiara, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Suklu, Putu Sutawijaya, Tatang BSP dan lain sebagainya. Karya rupa yang merespon cerpen itu, tak hanya karya dwimatra saja, ada karya trimatra juga.

Bre Redana dan saya, menolak istilah “ilustrasi” karena menekankan bahwa karya rupa dan karya sastra saling berdialog.

Bukan sekadar hubungan ‘hierarkis’. melainkan dalam ‘dialog saling melengkapi’. Karya rupa – merespon karya sastra.

Itu sejalan dengan gagasan ‘intermedialitas’ dalam teori seni kontemporer – bahwa ‘teks’ dan ‘citra’ bukan sekadar pendamping, melainkan ‘dua medium’ yang saling memperluas makna.

Kepada para perupa, saya mengatakan bahwa karya respon terhadap cerpen itu bukanlah ‘ilustrasi’. Ia, merupakan karya rupa yang ‘mandiri’, hasil interpretasi perupanya pada karya sastra. Hal ini, mengingat suatu saat Bre mengatakan – tidak memberi ‘kriteria’ pada cerpen yang hendak dimuat di harian umum Kompas.

Menurutnya, ‘kreativitas’ artinya menembus batas-batas yang ada. Selanjutnya, Bre menambahkan – jika ia memberi ‘kriteria’ – itu tak menaikkan mutu karya sastra tersebut, tapi ‘membunuh’ kemungkinan ‘kreatif’.

Sekarang, menurut Bre, dengan kemungkian lintas platform – adakah editor yang berpikir dan mengajak perupa untuk merespon karya sastra cerita pendek jadi ‘performing art’ misalnya.

Jadi, tambahnya, selain photo pertunjukannya, bisa juga diinfo ‘link platform’nya. Pemikiran Bre cukup beralasan mengingat youtube, tiktok, reels adalah media  berbasis web video sharing. Ini bisa memfasilitasi penggunanya untuk berbagi video yang mereka miliki.

Tentu, untuk itu dibutuhkan kerja kreatif editor media yang bersangkutan. Sementara itu, masih kata Bre, kini dalam sastra Koran ada tradisi yang terputus. Dipermukaan, tampak sama, padahal esensi tradisi lalu, terputus. Ini, disebut  Bre sebagai disrupsi.

Begitulah interaksi saya dengan Bre. Apa yang kami lakukan sebenarnya menempatkan seni rupa sebagai ‘respon kreatif’terhadap sastra, bukan sekadar ‘visualisasi’.

Ini mirip dengan praktik para perupa internasional yang menjembatani medium : misalnya Cy Twombly, yang sering menghadirkan ‘fragmen puisi Yunani’ dalam kanvasnya.

Atau Anselm Kiefer, yang menggunakan teks Paul Celan untuk memperdalam lapisan sejarah dan memori dalam lukisan.

Mereka tidak “mengilustrasikan” teks sastra, melainkan berdialog dengannya, sama seperti saat saya kerja kurasi bersama Bre Redana.

Anselm Kiefer menjadikan puisi Paul Celan sebagai salah satu poros utama dalam karya-karyanya, terutama sejak ia membaca ‘Todesfuge’ (‘Death Fugue’) di masa remaja.

Celan, penyair berbahasa Jerman keturunan Yahudi-Rumania yang selamat dari ‘Holocaust’, menulis dengan bahasa yang penuh luka dan keretakan; Kiefer meresponsnya lewat ‘lukisan’, ‘instalasi’, dan ‘patung’ yang monumental, menghidupkan kembali ‘trauma sejarah’ melalui ‘citra visual’.

Dalam konteks karya rupa Putu Fajar Arcana yang mendampingi karya cerpen Cindy Wijaya di Koran Kompas 20 – 21 Juni 2026, sikap ini semakin relevan. Lukisan Arcana bukan sekadar pelengkap cerpen Cindy Wijaya, melainkan ‘diksi sunyi’ visual – yang membuka ‘atmosfer batin’ cerita.

Seperti kata Rothko: “I’m interested only in expressing basic human emotions.”. (“Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”). Demikian juga dengan Arcana. Ia menghadirkan emosi itu melalui ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’, sementara teks menghadirkannya melalui kata.

Mark Rothko adalah pelopor ‘Ekspresionisme Abstrak’ Amerika, yang terkenal dengan lukisan “bidang warna” – acap menampilkan kanvas berskala besar persegi panjang, bercahaya dengan tepi lembut dan warna jenuh.

Lukisannya dirancang untuk menyelimuti penonton, karya-karya monumentalnya bertujuan untuk mengekspresikan emosi manusia yang mendalam.

Sementara itu, Roland Barthes – filsuf, kritikus sastra, dan ‘semiolog’ Prancis, menegaskan bahwa ‘citra’ selalu “coded,” dan di sini ‘kode visual’ Arcana memperluas kode naratif cerpen.

Dalam pandangan Barthes, ‘citra’ adalah sebuah pesan kompleks yang terdiri dari ‘teks’ dan ‘gamba’r, berfungsi bukan sekadar sebagai ‘representasi visual’, melainkan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan ‘ideologi’ melalui lapisan makna berlapis.

Dengan demikian, apa yang Saya dan Bre lakukan sejak awal 2000-an sudah menempatkan seni Indonesia dalam percakapan global tentang intermedialitas : ‘teks’ dan ‘rupa’ sebagai ‘dua bahasa’ yang saling ‘mengisi’, bukan ‘subordinasi’.

Itu membuat karya seperti Arcana – Wijaya bisa dibaca sejajar dengan tradisi dunia, dari Twombly hingga Kiefer, dari Hilma af Klint hingga Rothko.

Namun, menurut saya karya Putu Fajar Arcana dan cerpen Cindy Wijaya juga dapat dibaca sebagai sebuah dialektika, bukan sekadar hubungan ‘ilustratif’;.

‘Dialektika’ di sini berarti adanya pertukaran makna yang saling menegaskan sekaligus menantang : ‘teks’ membuka ruang ‘naratif’ tentang “penonton terakhir,”.

Menurut saya, lukisan arcana menghadirkan ‘atmosfer visual’ yang ‘multiinterpretabel’ – antara cahaya dan bayangan, antara pertumbuhan dan peluruhan.

Arcana tidak hanya “menggambarkan” isi cerpen, melainkan ‘merespons’nya dengan bahasa rupa yang independen.

Pada karya Arcana tersebut, warna kuning dan hitam menjadi ‘dialektika emosional’ yang memperkuat tema ‘kesunyian’ dan ‘transisi’ dalam teks.

‘Dialektika’ ini juga bisa kita baca pada karya Arcana – Wijaya  Mereka tidak sekadar menempelkan ‘citra’ pada ‘kata’, melainkan menciptakan percakapan ‘lintas medium’.

Dengan demikian, karya Arcana dan cerpen Cindy Wijaya menghadirkan ‘dialektika’ yang ‘produktif’ – sastra dan rupa saling menguji, saling memperluas, dan bersama-sama membentuk pengalaman ‘estetis’ yang lebih dalam.

Oleh karenanya, saya berpendapat ‘dialektika’ ini sebagai bagian dari sejarah ‘intermedial’ seni Indonesia. Oleh karenanya, perkenankan saya menyebutnya ‘Intermedialitas dialektis’.

Masih menurut saya, soal penggayaan – Karya Putu Fajar Arcana dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘bentuk’, dan ‘atmosfer’ dengan pengalaman batin.

Oleh karenanya, perkenankan saya berpendapat, ‘resonansi’ karya Arcana sejalan dengan pemikiran Kandinsky, Barthes, dan sejumlah perupa dunia seperti Rothko, Pollock, dan Hilma af Klint.

Kandinsky pernah menulis dalam Concerning the Spiritual in Art: “Color is a power which directly influences the soul.”  (Mengenai Aspek Spiritual dalam Seni: “Warna adalah kekuatan yang secara langsung memengaruhi jiwa.”)

Kutipan ini menemukan padanannya dalam karya Arcana, di mana warna menjadi ‘energi spiritual’ yang menyalurkan tegangan ‘emosional’.

Dalam pandangan saya, lukisan Arcana menjadi ‘kode visual’ yang berdialog dengan ‘teks’ Cindy Wijaya, memperluas makna cerpen melalui ‘bentuk organik’ yang cair dan ‘multiinterpretabilitas’.

Ini parallel dengan pendaat Barthes ; ““The image is not a reality but a representation, it is always coded.” (“Gambar bukanlah ‘realitas’ melainkan ‘representasi’, selalu dikodekan.”)

Selain itu, karya kreatif Arcana juga dapat dipadankan dengan Mark Rothko, yang menekankan bahwa warna lapangan luas mampu membuat penonton menangis: “I’m not an abstractionist. I’m interested only in expressing basic human emotions.” (“Saya bukan seorang ‘abstraksionis’. Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”)

Seperti Rothko, Arcana menggunakan warna sebagai medium emosi, bukan sekadar dekorasi. Ini mengingatkan Jackson Pollock yang menulis: “The painting has a life of its own. I try to let it come through.” (“Lukisan ini memiliki kehidupannya sendiri. Saya mencoba membiarkannya muncul dengan sendirinya.”)

Sapuan Arcana yang ‘ekspresif’, seolah kabut dan cahaya yang bergerak, menghadirkan kehidupan batin yang serupa dengan ‘intensitas Pollock’.

Hilma af Klint, pionir ‘abstraksi spiritual’, percaya bahwa lukisan dapat menjadi wahana ‘komunikasi’ dengan ‘dimensi’ tak kasat mata.

Arcana, dengan latar belakang sebagai penulis dan jurnalis, membawa ‘sensibilitas literer’ ke dalam kanvas, menjadikan lukisan sebagai ‘medium terapi batin’ yang menghubungkan ‘kata’ dan ‘citra’.

Padanan lain dapat ditemukan pada Piet Mondrian, yang menulis bahwa “Seni abstrak adalah jalan menuju harmoni universal”. Arcana, meski tidak ‘geometris’, tetap menghadirkan ‘harmoni’ melalui tegangan ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’ yang menyeimbangkan ‘vitalitas’ dan ‘kesunyian’.

Pada ensiklopedi Britanica, Pablo Picasso menegaskan: “There is no abstract art. You must always start with something. Afterward you can remove all traces of reality.” (“Tidak ada seni abstrak. Anda harus selalu memulai dengan sesuatu. Setelah itu, Anda dapat menghapus semua jejak realitas.”)

Pandapat Picasso itu dapat saya padankan dengan Arcana yang memulai dari pengalaman ‘batin’ dan ‘literer’, lalu menghapus jejak ‘realitas’ untuk menghadirkan ‘atmosfer reflektif’.

Dengan demikian, perkenankan saya menempatkan  karya Arcana dalam peta seni global sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘betuk; dengan jiwa.

‘Teks’ dengan ‘citra’, dan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’ – dalam konteks esai ini – menegaskan bahwa seni Arcana bukan sekadar ‘ilustrasi’, melainkan bagian dari percakapan panjang antara seni Indonesia dan tradisi abstrak dunia, dari Kandinsky hingga Rothko, dari Pollock hingga af Klint. [T]

Tags: Putu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

Next Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails
Next Post
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Wawancara antara Saya dan AI ---Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara
Kritik Seni

Mengapa Seniman Bali Kerap Menjadi Jago Kandang?  —Catatan Tentang Keberjarakan, Tradisi, dan Pada Siapa Karya Berbicara

SEBELUM kalian marah-marah dengan judul tulisan ini, perlu dijelaskan topik ini adalah auto kritik yang aku layangkan pada tiap seniman...

by Made Chandra
July 19, 2026
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya
Ulas Pentas

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?
Esai

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co