11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Hartanto by Hartanto
June 29, 2026
in Ulas Rupa
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

Karya Putu Fajar Arcana

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.

Bagi saya, itu kerja yang menyenangkan. Pasalnya, saya acap ‘berdialog’ dengan perupa mengenai cerpen yang bersangkutan.

Ide Bre Redana ini saya anggap sungguh genial. Bre. Ia dikenal sebagai wartawan, esais, dan kurator seni  ‘menginisiasi’ keterlibatan perupa dalam proyek ‘dialog’ karya rupa dan cerpen Kompas.

Saat itu, saya bertugas kuratorial perupa Bali, perupa Hari Budiono kurasi untuk Jogya dan sekitarnya. Untuk Bandung dan sekitarnya dikurasi oleh perupa Andar Manik. Sementara itu, untuk Jakarta dan sekitarnya dikurasi oleh Bre Sendiri.

Karya rupa yang berdialog dengan karya sastra itu, merupakan karya oleh perupa muda, hingga para maestro. Para maestro senirupa dari Bali yang berpartisipasi antara lain : Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Chusin Setiadiara, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Suklu, Putu Sutawijaya, Tatang BSP dan lain sebagainya. Karya rupa yang merespon cerpen itu, tak hanya karya dwimatra saja, ada karya trimatra juga.

Bre Redana dan saya, menolak istilah “ilustrasi” karena menekankan bahwa karya rupa dan karya sastra saling berdialog.

Bukan sekadar hubungan ‘hierarkis’. melainkan dalam ‘dialog saling melengkapi’. Karya rupa – merespon karya sastra.

Itu sejalan dengan gagasan ‘intermedialitas’ dalam teori seni kontemporer – bahwa ‘teks’ dan ‘citra’ bukan sekadar pendamping, melainkan ‘dua medium’ yang saling memperluas makna.

Kepada para perupa, saya mengatakan bahwa karya respon terhadap cerpen itu bukanlah ‘ilustrasi’. Ia, merupakan karya rupa yang ‘mandiri’, hasil interpretasi perupanya pada karya sastra. Hal ini, mengingat suatu saat Bre mengatakan – tidak memberi ‘kriteria’ pada cerpen yang hendak dimuat di harian umum Kompas.

Menurutnya, ‘kreativitas’ artinya menembus batas-batas yang ada. Selanjutnya, Bre menambahkan – jika ia memberi ‘kriteria’ – itu tak menaikkan mutu karya sastra tersebut, tapi ‘membunuh’ kemungkinan ‘kreatif’.

Sekarang, menurut Bre, dengan kemungkian lintas platform – adakah editor yang berpikir dan mengajak perupa untuk merespon karya sastra cerita pendek jadi ‘performing art’ misalnya.

Jadi, tambahnya, selain photo pertunjukannya, bisa juga diinfo ‘link platform’nya. Pemikiran Bre cukup beralasan mengingat youtube, tiktok, reels adalah media  berbasis web video sharing. Ini bisa memfasilitasi penggunanya untuk berbagi video yang mereka miliki.

Tentu, untuk itu dibutuhkan kerja kreatif editor media yang bersangkutan. Sementara itu, masih kata Bre, kini dalam sastra Koran ada tradisi yang terputus. Dipermukaan, tampak sama, padahal esensi tradisi lalu, terputus. Ini, disebut  Bre sebagai disrupsi.

Begitulah interaksi saya dengan Bre. Apa yang kami lakukan sebenarnya menempatkan seni rupa sebagai ‘respon kreatif’terhadap sastra, bukan sekadar ‘visualisasi’.

Ini mirip dengan praktik para perupa internasional yang menjembatani medium : misalnya Cy Twombly, yang sering menghadirkan ‘fragmen puisi Yunani’ dalam kanvasnya.

Atau Anselm Kiefer, yang menggunakan teks Paul Celan untuk memperdalam lapisan sejarah dan memori dalam lukisan.

Mereka tidak “mengilustrasikan” teks sastra, melainkan berdialog dengannya, sama seperti saat saya kerja kurasi bersama Bre Redana.

Anselm Kiefer menjadikan puisi Paul Celan sebagai salah satu poros utama dalam karya-karyanya, terutama sejak ia membaca ‘Todesfuge’ (‘Death Fugue’) di masa remaja.

Celan, penyair berbahasa Jerman keturunan Yahudi-Rumania yang selamat dari ‘Holocaust’, menulis dengan bahasa yang penuh luka dan keretakan; Kiefer meresponsnya lewat ‘lukisan’, ‘instalasi’, dan ‘patung’ yang monumental, menghidupkan kembali ‘trauma sejarah’ melalui ‘citra visual’.

Dalam konteks karya rupa Putu Fajar Arcana yang mendampingi karya cerpen Cindy Wijaya di Koran Kompas 20 – 21 Juni 2026, sikap ini semakin relevan. Lukisan Arcana bukan sekadar pelengkap cerpen Cindy Wijaya, melainkan ‘diksi sunyi’ visual – yang membuka ‘atmosfer batin’ cerita.

Seperti kata Rothko: “I’m interested only in expressing basic human emotions.”. (“Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”). Demikian juga dengan Arcana. Ia menghadirkan emosi itu melalui ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’, sementara teks menghadirkannya melalui kata.

Mark Rothko adalah pelopor ‘Ekspresionisme Abstrak’ Amerika, yang terkenal dengan lukisan “bidang warna” – acap menampilkan kanvas berskala besar persegi panjang, bercahaya dengan tepi lembut dan warna jenuh.

Lukisannya dirancang untuk menyelimuti penonton, karya-karya monumentalnya bertujuan untuk mengekspresikan emosi manusia yang mendalam.

Sementara itu, Roland Barthes – filsuf, kritikus sastra, dan ‘semiolog’ Prancis, menegaskan bahwa ‘citra’ selalu “coded,” dan di sini ‘kode visual’ Arcana memperluas kode naratif cerpen.

Dalam pandangan Barthes, ‘citra’ adalah sebuah pesan kompleks yang terdiri dari ‘teks’ dan ‘gamba’r, berfungsi bukan sekadar sebagai ‘representasi visual’, melainkan sebagai alat komunikasi yang menyampaikan ‘ideologi’ melalui lapisan makna berlapis.

Dengan demikian, apa yang Saya dan Bre lakukan sejak awal 2000-an sudah menempatkan seni Indonesia dalam percakapan global tentang intermedialitas : ‘teks’ dan ‘rupa’ sebagai ‘dua bahasa’ yang saling ‘mengisi’, bukan ‘subordinasi’.

Itu membuat karya seperti Arcana – Wijaya bisa dibaca sejajar dengan tradisi dunia, dari Twombly hingga Kiefer, dari Hilma af Klint hingga Rothko.

Namun, menurut saya karya Putu Fajar Arcana dan cerpen Cindy Wijaya juga dapat dibaca sebagai sebuah dialektika, bukan sekadar hubungan ‘ilustratif’;.

‘Dialektika’ di sini berarti adanya pertukaran makna yang saling menegaskan sekaligus menantang : ‘teks’ membuka ruang ‘naratif’ tentang “penonton terakhir,”.

Menurut saya, lukisan arcana menghadirkan ‘atmosfer visual’ yang ‘multiinterpretabel’ – antara cahaya dan bayangan, antara pertumbuhan dan peluruhan.

Arcana tidak hanya “menggambarkan” isi cerpen, melainkan ‘merespons’nya dengan bahasa rupa yang independen.

Pada karya Arcana tersebut, warna kuning dan hitam menjadi ‘dialektika emosional’ yang memperkuat tema ‘kesunyian’ dan ‘transisi’ dalam teks.

‘Dialektika’ ini juga bisa kita baca pada karya Arcana – Wijaya  Mereka tidak sekadar menempelkan ‘citra’ pada ‘kata’, melainkan menciptakan percakapan ‘lintas medium’.

Dengan demikian, karya Arcana dan cerpen Cindy Wijaya menghadirkan ‘dialektika’ yang ‘produktif’ – sastra dan rupa saling menguji, saling memperluas, dan bersama-sama membentuk pengalaman ‘estetis’ yang lebih dalam.

Oleh karenanya, saya berpendapat ‘dialektika’ ini sebagai bagian dari sejarah ‘intermedial’ seni Indonesia. Oleh karenanya, perkenankan saya menyebutnya ‘Intermedialitas dialektis’.

Masih menurut saya, soal penggayaan – Karya Putu Fajar Arcana dapat dibaca sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘bentuk’, dan ‘atmosfer’ dengan pengalaman batin.

Oleh karenanya, perkenankan saya berpendapat, ‘resonansi’ karya Arcana sejalan dengan pemikiran Kandinsky, Barthes, dan sejumlah perupa dunia seperti Rothko, Pollock, dan Hilma af Klint.

Kandinsky pernah menulis dalam Concerning the Spiritual in Art: “Color is a power which directly influences the soul.”  (Mengenai Aspek Spiritual dalam Seni: “Warna adalah kekuatan yang secara langsung memengaruhi jiwa.”)

Kutipan ini menemukan padanannya dalam karya Arcana, di mana warna menjadi ‘energi spiritual’ yang menyalurkan tegangan ‘emosional’.

Dalam pandangan saya, lukisan Arcana menjadi ‘kode visual’ yang berdialog dengan ‘teks’ Cindy Wijaya, memperluas makna cerpen melalui ‘bentuk organik’ yang cair dan ‘multiinterpretabilitas’.

Ini parallel dengan pendaat Barthes ; ““The image is not a reality but a representation, it is always coded.” (“Gambar bukanlah ‘realitas’ melainkan ‘representasi’, selalu dikodekan.”)

Selain itu, karya kreatif Arcana juga dapat dipadankan dengan Mark Rothko, yang menekankan bahwa warna lapangan luas mampu membuat penonton menangis: “I’m not an abstractionist. I’m interested only in expressing basic human emotions.” (“Saya bukan seorang ‘abstraksionis’. Saya hanya tertarik untuk mengekspresikan emosi dasar manusia.”)

Seperti Rothko, Arcana menggunakan warna sebagai medium emosi, bukan sekadar dekorasi. Ini mengingatkan Jackson Pollock yang menulis: “The painting has a life of its own. I try to let it come through.” (“Lukisan ini memiliki kehidupannya sendiri. Saya mencoba membiarkannya muncul dengan sendirinya.”)

Sapuan Arcana yang ‘ekspresif’, seolah kabut dan cahaya yang bergerak, menghadirkan kehidupan batin yang serupa dengan ‘intensitas Pollock’.

Hilma af Klint, pionir ‘abstraksi spiritual’, percaya bahwa lukisan dapat menjadi wahana ‘komunikasi’ dengan ‘dimensi’ tak kasat mata.

Arcana, dengan latar belakang sebagai penulis dan jurnalis, membawa ‘sensibilitas literer’ ke dalam kanvas, menjadikan lukisan sebagai ‘medium terapi batin’ yang menghubungkan ‘kata’ dan ‘citra’.

Padanan lain dapat ditemukan pada Piet Mondrian, yang menulis bahwa “Seni abstrak adalah jalan menuju harmoni universal”. Arcana, meski tidak ‘geometris’, tetap menghadirkan ‘harmoni’ melalui tegangan ‘warna’, ‘garis’ dan ‘bentuk’ yang menyeimbangkan ‘vitalitas’ dan ‘kesunyian’.

Pada ensiklopedi Britanica, Pablo Picasso menegaskan: “There is no abstract art. You must always start with something. Afterward you can remove all traces of reality.” (“Tidak ada seni abstrak. Anda harus selalu memulai dengan sesuatu. Setelah itu, Anda dapat menghapus semua jejak realitas.”)

Pandapat Picasso itu dapat saya padankan dengan Arcana yang memulai dari pengalaman ‘batin’ dan ‘literer’, lalu menghapus jejak ‘realitas’ untuk menghadirkan ‘atmosfer reflektif’.

Dengan demikian, perkenankan saya menempatkan  karya Arcana dalam peta seni global sebagai bagian dari tradisi ‘abstrak spiritual’ yang menghubungkan ‘warna’, ‘garis’, ‘betuk; dengan jiwa.

‘Teks’ dengan ‘citra’, dan pengalaman ‘personal’ dengan ‘resonansi universal’ – dalam konteks esai ini – menegaskan bahwa seni Arcana bukan sekadar ‘ilustrasi’, melainkan bagian dari percakapan panjang antara seni Indonesia dan tradisi abstrak dunia, dari Kandinsky hingga Rothko, dari Pollock hingga af Klint. [T]

Tags: Putu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

Next Post

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Wawancara antara Saya dan AI ---Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co