DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa yang menghambat langkah pertamanya, jawaban yang terlontar hampir selalu bermuara pada satu alasan klasik, seperti “Saya tidak punya modal.”
Kalimat ini sering diucapkan dengan nada pasrah, seolah-olah ketiadaan uang tunai adalah tembok tebal yang secara otomatis mematikan semua potensi kreatif.
Paradoks ini terus mengusik benak saya, hingga kemudian saya menemukan sebuah cermin refleksi dalam buku Entrepreneurial Noble Thinking: Seni Berpikir untuk Melejitkan Karier, karya Wisnu S. Dewobroto (2024). Ada satu titik di mana saya tertegun ketika membaca pemikiran beliau bahwa sebenarnya sumber daya itu bertebaran di mana-mana.
Membaca lembar demi lembar buku tersebut memantik sebuah pertanyaan mendasar dalam diri saya; kenapa ya, kita begitu terpaku pada apa yang tidak ada di tangan, sampai kita buta terhadap gunung modal yang sebenarnya sedang kita duduki?
Perspektif ini menjadi sangat personal bagi saya. Sebagai seorang penyandang tunanetratuli. Saya menyadari bahwa jika saya menggunakan kacamata “modal adalah uang dan kesempurnaan fisik,” maka saya seharusnya sudah berhenti bermimpi sejak awal. Namun, buku ini seolah memvalidasi apa yang saya jalani, yakni bahwa kewirausahaan bukanlah soal seberapa besar angka di rekening bank, melainkan soal bagaimana kita merakit keberanian dari sisa-sisa apa yang kita miliki.
Pergolakan batin terbesar saya bermula dari sebuah label sosial. Banyak orang percaya pada mitos bahwa seorang tunanetra pastilah memiliki pendengaran yang sangat tajam.
Namun, realitas saya justru sebaliknya; saya juga menghadapi hambatan pendengaran. Di titik ini, saya berada di persimpangan yang sunyi. Saya tidak bisa menggunakan bahasa isyarat karena hambatan penglihatan, dan saya pun tidak bisa membaca live caption teks karena alasan yang sama. Di Indonesia, standarisasi komunikasi untuk tunanetratuli masih menjadi tantangan besar.
Dalam keterbatasan itu, saya dipaksa untuk berhenti meratapi apa yang hilang dan mulai mengaudit apa yang tersisa. Saya melakukan sebuah eksperimen sederhana yang kemudian mengubah hidup saya. Saat menggunakan alat bantu dengar konvensional . Suara memang terdengar lebih keras, namun tetap tidak fokus pada lawan bicara. Akhirnya, saya mencoba memanfaatkan perangkat yang sudah saya miliki, seperti gawai, aplikasi Zoom Meeting, dan sepasang headset.
Melalui kombinasi sederhana ini, saya menciptakan “alat bantu dengar” mandiri yang memungkinkan suara lawan bicara masuk langsung ke telinga dengan jernih. Eksperimen ini berhasil. Inilah bentuk nyata dari pemanfaatan sumber daya di sekitar kita yang sering kali dianggap remeh. Tanpa modal jutaan rupiah untuk teknologi khusus, saya menemukan jalan keluar hanya dengan mengakalinya secara kreatif. Keberhasilan komunikasi inilah yang kemudian memberi saya rasa percaya diri untuk menjalankan roda usaha.
Seni berpikir untuk memanfaatkan apa yang ada ini pulalah yang membawa saya membangun sekolah musik Sunar Sanggita. Kala itu, modal fisik saya jauh dari kata ideal. Saya hanya memiliki sebuah keyboard tua peninggalan kakek dan sebuah ruang tamu sederhana tanpa penyejuk udara. Tidak ada gedung kedap suara atau instrumen mewah. Namun, di sanalah saya belajar sebuah kejujuran, bahwa saya tidak perlu menunggu kondisi menjadi sempurna untuk memulai. Kesempurnaan sering kali hanyalah alasan yang kita buat untuk menunda langkah.
Membaca pemikiran dalam buku Entrepreneurial Noble Thinking menyadarkan saya bahwa kita perlu jujur pada diri sendiri. Sering kali, alasan “tidak punya modal” hanyalah sebuah perisai untuk melindungi diri dari rasa takut akan kegagalan atau ketidaknyamanan. Modal itu tidak tunggal; ia ada di dalam gawai yang kita genggam, di dalam relasi yang kita bina, dan yang terpenting, di dalam kemampuan kita untuk terus belajar dari setiap tantangan yang ada.
Tulisan ini bukanlah sebuah ajakan untuk mengecilkan realitas kesulitan ekonomi, melainkan sebuah undangan untuk melakukan audit terhadap diri sendiri. Jika sebuah perangkat sederhana dan kemauan untuk mencari cara bisa menggerakkan roda usaha bagi seseorang dengan hambatan ganda seperti saya, maka saya percaya setiap orang sebenarnya sudah memiliki bekal yang lebih dari cukup.
Modal sejati bukanlah tumpukan uang di bank, melainkan ketangguhan untuk tetap berjalan dan kecerdikan dalam merangkai keterbatasan menjadi sebuah kemungkinan baru. Berhentilah menunggu situasi menjadi sempurna. Mulailah dengan apa yang ada di tangan Anda hari ini, karena pada akhirnya, modal terbesar kita adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita sebenarnya sanggup memulai. [T]
Sumber Bacaan:
Entrepreneurial Noble Thinking: Seni Berpikir untuk Melejitkan Karier — Wisnu S. Dewobroto. Podomoro University Press, 2024.




























