15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG)untuk di hentikan,  Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan anggaran yang begitu besar ditengah tekanan fiscal terhadap keuangan negara.  

Dalam kontek ini, apakah ruang keterbukaan dan kritik terhadap program yang dilaksanakan oleh pemerintah menjadi catatan yang penting, masih diyakini untuk didengar, tidak ada penolakan atau ancaman balik koreksi terhadap kekuasaan yang di gaungkan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil? Dalam demokrasi modern, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui apa yang dapat disebut sebagai politik topeng. Topeng bukan sekadar simbol pencitraan, melainkan mekanisme yang memisahkan antara tampilan demokratis di ruang publik dan praktik kekuasaan yang berlangsung di baliknya.

Dalam kondisi ini, demokrasi tidak dihapus, tetapi dikemas ulang menjadi pertunjukan: terlihat terbuka, partisipatif, dan kompetitif, tetapi pada saat yang sama mengalami penyempitan ruang kontrol dan pengawasan.

Fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding) menjadi salah satu tantangan utama dalam politik kontemporer. Banyak negara yang tetap mempertahankan prosedur demokrasi, tetapi secara perlahan menunjukkan kecenderungan pemusatan kekuasaan, pelemahan lembaga pengawas, serta penyempitan kebebasan sipil.

Dalam literatur ilmu politik, kondisi ini dipahami sebagai bagian dari siklus rezim: demokrasi tidak bergerak secara linier, melainkan dapat mengalami kemajuan, stagnasi, atau kemunduran. Tanpa konsolidasi institusi dan partisipasi publik yang kuat, demokrasi dapat mengalami regresi meskipun secara formal tetap berjalan.

Indonesia sebagai salah satu demokrasi terbesar di dunia tidak berada di luar arus ini. Dalam satu dekade terakhir, dinamika politik Indonesia menunjukkan kombinasi antara penguatan legitimasi elektoral, percepatan pembangunan, serta meningkatnya peran komunikasi politik berbasis popularitas.

Pada masa pemerintahan Joko Widodo, sejumlah analis mencatat adanya penguatan peran eksekutif dalam struktur kekuasaan. Di satu sisi, hal ini ditopang oleh agenda pembangunan infrastruktur dan stabilitas politik. Namun di sisi lain, muncul kritik terkait perubahan desain kelembagaan sejumlah institusi pengawas, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta regulasi yang dinilai mempersempit ruang kebebasan sipil.

Dalam kerangka ini, populisme tidak selalu hadir sebagai konfrontasi terbuka. Ia dapat bekerja melalui mekanisme demokratis itu sendiri: legitimasi elektoral, dukungan mayoritas, serta pengendalian narasi publik melalui komunikasi politik yang intensif.

Kondisi tersebut sering dibaca sebagai bentuk demokrasi yang mengalami kemunduran dari dalam: prosedur tetap berjalan, tetapi kualitas checks and balances mengalami tekanan.

Dalam konteks transisi menuju pemerintahan Prabowo Subianto, sebagian pengamat melihat potensi keberlanjutan pola konsolidasi kekuasaan yang telah terbentuk sebelumnya, meskipun dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Namun arah aktual tetap akan sangat ditentukan oleh dinamika institusional, konfigurasi politik, serta kekuatan masyarakat sipil.

Pandangan mengenai kemunduran demokrasi dari dalam juga sejalan dengan analisis Jaleswari Pramodhawardani dalam tulisan “Ketika Demokrasi Dimatikan oleh Para Pemimpin” (2025), yang menyoroti bagaimana personalisasi kekuasaan dan pelemahan lembaga kontrol dapat berlangsung dalam kerangka formal demokrasi tanpa mengubah struktur elektoral secara langsung.

Demokrasi, Topeng, dan Politik yang Berubah Wajah

Di titik ini, politik tidak lagi sekadar ruang pengambilan keputusan, tetapi berubah menjadi arena pengelolaan persepsi.

Perjuangan politik hari ini kian menyerupai panggung bertopeng. Topeng menjadi metafora dari wajah kekuasaan yang tampil berbeda antara narasi publik dan praktik di lapangan.

Para aktor politik berbicara dalam bahasa publik tentang kepentingan rakyat, tetapi dalam praktiknya sibuk mengelola kuasa, membangun citra, dan mengendalikan opini. Prestasi politik tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang lebih menentukan adalah visibilitas, viralitas, dan kemampuan menguasai ruang narasi. Topeng politik dapat dibaca sebagai bentuk politik muka ganda (Yasonna H. Laoly, Politik Muka Ganda, 2022), ketika terdapat jarak antara etika publik dan praktik kekuasaan.

Pada titik ini, politik kehilangan orientasi etik. Kepentingan pragmatis lebih dominan daripada tanggung jawab moral, sementara kekuasaan bekerja melalui simbol dan persepsi.

Perkembangan teknologi digital  juga mempercepat perubahan ini. Media sosial dan algoritma tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk cara publik mengonsumsi politik. Konflik, kontroversi, dan emosi cenderung memperoleh ruang lebih besar dibandingkan substansi kebijakan. Akibatnya, politik lebih sering diukur dari tingkat keterlibatan digital daripada kualitas keputusan publik.

Fenomena ini melahirkan kondisi yang dapat disebut sebagai anestesi demokrasi: publik merasa terlibat, tetapi sesungguhnya terjebak dalam konsumsi konflik yang berulang tanpa kontrol efektif terhadap proses kebijakan. Dalam situasi seperti ini, demokrasi perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan: ramai di permukaan, tetapi mengalami pengosongan substansi di dalamnya.

Partai Politik, Beban Demokrasi, dan Efektivitas Sistem

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah banyaknya partai politik benar-benar memperkuat demokrasi. Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berserikat dan berpolitik (UUD 1945 Pasal 28 dan 28E), sementara sistem kepartaian diatur dalam UU No. 2 Tahun 2008 juncto UU No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Negara juga memberikan bantuan keuangan kepada partai politik melalui APBN/APBD berdasarkan perolehan suara sah.

Namun dalam praktiknya, fragmentasi partai yang terlalu banyak sering melahirkan politik transaksional, koalisi rapuh, serta tingginya biaya politik.

Indonesia pernah mengenal penyederhanaan partai pada masa Orde Baru menjadi tiga kekuatan politik: Golkar, PPP, dan PDI. Model ini tidak dapat direplikasi secara langsung dalam sistem demokrasi modern, tetapi dapat menjadi bahan refleksi tentang efektivitas sistem kepartaian.

Dalam pandangan Prof Mahfud MD, kualitas demokrasi tidak ditentukan oleh banyaknya partai, melainkan oleh kemampuan sistem politik menghasilkan pemerintahan yang efektif dan berkeadilan. 

Menurut Prof Mahfudz, hukum tanpa demokrasi adalah kezaliman, demokrasi tanpa hukum adalah anarki. Karakter hukum (Responsif vs Konservatif) sangat bergantung pada konfigurasi politiknya. Meski dinamis, harapan selalu ada lewat peran civil society dan dunia pendidikan. Jadi, mari terus kita jaga dan tingkatkan kualitas demokrasi dan senantiasa menjadi warga yang berhukum dengan baik. (Prof Mahfudz,  Orasi Ilmiah di Universitas Jambi, 21 April 2026)

Sementara itu, Yasonna H. Laoly menegaskan bahwa partai politik idealnya menjadi sarana pendidikan politik dan kaderisasi kepemimpinan, bukan sekadar kendaraan elektoral (Yasonna H. Laoly, 2022). Dari berbagai dinamika tersebut, terlihat bahwa tantangan utama demokrasi Indonesia bukan semata pada prosedur, melainkan pada kualitas etika politik.

Demokrasi yang hanya berjalan secara prosedural tetapi kehilangan substansi pengawasan dan akuntabilitas berisiko melahirkan ruang politik yang didominasi pencitraan dan manipulasi persepsi.

Di sinilah pentingnya kesadaran publik untuk tidak terjebak dalam politik topeng yang memperlihatkan demokrasi hanya sebagai panggung.

Rekomendasi: Mahasiswa, Politik, dan Integritas Gerakan

Sebagai aktivis sosial sejak masih kuliah dulu, penulis berpendapat bahwa dalam konteks masyarakat sipil, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai aktor kontrol sosial dalam demokrasi. Namun terdapat dua risiko yang perlu dicermati.

Pertama, risiko kooptasi dalam politik praktis yang dapat mengurangi independensi gerakan intelektual dan kritis mahasiswa. Kedua, risiko instrumentalitas identitas mahasiswa oleh aktor tertentu yang menggunakan legitimasi akademik untuk kepentingan politik tertentu, yang pada akhirnya dapat merusak kredibilitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif ini, jarak kritis antara gerakan intelektual dan kepentingan politik praktis menjadi syarat penting bagi keberlanjutan fungsi kontrol demokrasi.

Dalam konteks demokrasi, mahasiswa juga memiliki posisi strategis sebagai kelompok penyeimbang dalam ruang demokrasi.

Namun terdapat dua risiko yang perlu diwaspadai. Pertama, mahasiswa dapat “masuk angin” dalam arus politik praktis, ketika gerakan intelektual perlahan berubah menjadi bagian dari kontestasi kekuasaan, sehingga kritik kehilangan independensi dan berubah menjadi keberpihakan yang tidak kritis.

Kedua, muncul pula fenomena penyalahgunaan identitas mahasiswa oleh sebagian pihak yang mengatasnamakan gerakan akademik, tetapi justru melakukan tindakan yang merugikan sesama aktivis maupun masyarakat, sehingga mencederai kredibilitas gerakan intelektual itu sendiri.

Karena itu, diperlukan garis batas yang jelas antara gerakan moral-intelektual dan politik praktis. Mahasiswa tidak hanya dituntut hadir dalam ruang demokrasi, tetapi juga menjaga jarak kritis agar tidak menjadi bagian dari reproduksi “politik topeng” yang justru ingin mereka kritik.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diuji oleh kekuasaan, tetapi juga oleh integritas mereka yang mengawalnya. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Next Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ ---Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co