4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG)untuk di hentikan,  Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan anggaran yang begitu besar ditengah tekanan fiscal terhadap keuangan negara.  

Dalam kontek ini, apakah ruang keterbukaan dan kritik terhadap program yang dilaksanakan oleh pemerintah menjadi catatan yang penting, masih diyakini untuk didengar, tidak ada penolakan atau ancaman balik koreksi terhadap kekuasaan yang di gaungkan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil? Dalam demokrasi modern, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui apa yang dapat disebut sebagai politik topeng. Topeng bukan sekadar simbol pencitraan, melainkan mekanisme yang memisahkan antara tampilan demokratis di ruang publik dan praktik kekuasaan yang berlangsung di baliknya.

Dalam kondisi ini, demokrasi tidak dihapus, tetapi dikemas ulang menjadi pertunjukan: terlihat terbuka, partisipatif, dan kompetitif, tetapi pada saat yang sama mengalami penyempitan ruang kontrol dan pengawasan.

Fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding) menjadi salah satu tantangan utama dalam politik kontemporer. Banyak negara yang tetap mempertahankan prosedur demokrasi, tetapi secara perlahan menunjukkan kecenderungan pemusatan kekuasaan, pelemahan lembaga pengawas, serta penyempitan kebebasan sipil.

Dalam literatur ilmu politik, kondisi ini dipahami sebagai bagian dari siklus rezim: demokrasi tidak bergerak secara linier, melainkan dapat mengalami kemajuan, stagnasi, atau kemunduran. Tanpa konsolidasi institusi dan partisipasi publik yang kuat, demokrasi dapat mengalami regresi meskipun secara formal tetap berjalan.

Indonesia sebagai salah satu demokrasi terbesar di dunia tidak berada di luar arus ini. Dalam satu dekade terakhir, dinamika politik Indonesia menunjukkan kombinasi antara penguatan legitimasi elektoral, percepatan pembangunan, serta meningkatnya peran komunikasi politik berbasis popularitas.

Pada masa pemerintahan Joko Widodo, sejumlah analis mencatat adanya penguatan peran eksekutif dalam struktur kekuasaan. Di satu sisi, hal ini ditopang oleh agenda pembangunan infrastruktur dan stabilitas politik. Namun di sisi lain, muncul kritik terkait perubahan desain kelembagaan sejumlah institusi pengawas, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta regulasi yang dinilai mempersempit ruang kebebasan sipil.

Dalam kerangka ini, populisme tidak selalu hadir sebagai konfrontasi terbuka. Ia dapat bekerja melalui mekanisme demokratis itu sendiri: legitimasi elektoral, dukungan mayoritas, serta pengendalian narasi publik melalui komunikasi politik yang intensif.

Kondisi tersebut sering dibaca sebagai bentuk demokrasi yang mengalami kemunduran dari dalam: prosedur tetap berjalan, tetapi kualitas checks and balances mengalami tekanan.

Dalam konteks transisi menuju pemerintahan Prabowo Subianto, sebagian pengamat melihat potensi keberlanjutan pola konsolidasi kekuasaan yang telah terbentuk sebelumnya, meskipun dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Namun arah aktual tetap akan sangat ditentukan oleh dinamika institusional, konfigurasi politik, serta kekuatan masyarakat sipil.

Pandangan mengenai kemunduran demokrasi dari dalam juga sejalan dengan analisis Jaleswari Pramodhawardani dalam tulisan “Ketika Demokrasi Dimatikan oleh Para Pemimpin” (2025), yang menyoroti bagaimana personalisasi kekuasaan dan pelemahan lembaga kontrol dapat berlangsung dalam kerangka formal demokrasi tanpa mengubah struktur elektoral secara langsung.

Demokrasi, Topeng, dan Politik yang Berubah Wajah

Di titik ini, politik tidak lagi sekadar ruang pengambilan keputusan, tetapi berubah menjadi arena pengelolaan persepsi.

Perjuangan politik hari ini kian menyerupai panggung bertopeng. Topeng menjadi metafora dari wajah kekuasaan yang tampil berbeda antara narasi publik dan praktik di lapangan.

Para aktor politik berbicara dalam bahasa publik tentang kepentingan rakyat, tetapi dalam praktiknya sibuk mengelola kuasa, membangun citra, dan mengendalikan opini. Prestasi politik tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang lebih menentukan adalah visibilitas, viralitas, dan kemampuan menguasai ruang narasi. Topeng politik dapat dibaca sebagai bentuk politik muka ganda (Yasonna H. Laoly, Politik Muka Ganda, 2022), ketika terdapat jarak antara etika publik dan praktik kekuasaan.

Pada titik ini, politik kehilangan orientasi etik. Kepentingan pragmatis lebih dominan daripada tanggung jawab moral, sementara kekuasaan bekerja melalui simbol dan persepsi.

Perkembangan teknologi digital  juga mempercepat perubahan ini. Media sosial dan algoritma tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk cara publik mengonsumsi politik. Konflik, kontroversi, dan emosi cenderung memperoleh ruang lebih besar dibandingkan substansi kebijakan. Akibatnya, politik lebih sering diukur dari tingkat keterlibatan digital daripada kualitas keputusan publik.

Fenomena ini melahirkan kondisi yang dapat disebut sebagai anestesi demokrasi: publik merasa terlibat, tetapi sesungguhnya terjebak dalam konsumsi konflik yang berulang tanpa kontrol efektif terhadap proses kebijakan. Dalam situasi seperti ini, demokrasi perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan: ramai di permukaan, tetapi mengalami pengosongan substansi di dalamnya.

Partai Politik, Beban Demokrasi, dan Efektivitas Sistem

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah banyaknya partai politik benar-benar memperkuat demokrasi. Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berserikat dan berpolitik (UUD 1945 Pasal 28 dan 28E), sementara sistem kepartaian diatur dalam UU No. 2 Tahun 2008 juncto UU No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Negara juga memberikan bantuan keuangan kepada partai politik melalui APBN/APBD berdasarkan perolehan suara sah.

Namun dalam praktiknya, fragmentasi partai yang terlalu banyak sering melahirkan politik transaksional, koalisi rapuh, serta tingginya biaya politik.

Indonesia pernah mengenal penyederhanaan partai pada masa Orde Baru menjadi tiga kekuatan politik: Golkar, PPP, dan PDI. Model ini tidak dapat direplikasi secara langsung dalam sistem demokrasi modern, tetapi dapat menjadi bahan refleksi tentang efektivitas sistem kepartaian.

Dalam pandangan Prof Mahfud MD, kualitas demokrasi tidak ditentukan oleh banyaknya partai, melainkan oleh kemampuan sistem politik menghasilkan pemerintahan yang efektif dan berkeadilan. 

Menurut Prof Mahfudz, hukum tanpa demokrasi adalah kezaliman, demokrasi tanpa hukum adalah anarki. Karakter hukum (Responsif vs Konservatif) sangat bergantung pada konfigurasi politiknya. Meski dinamis, harapan selalu ada lewat peran civil society dan dunia pendidikan. Jadi, mari terus kita jaga dan tingkatkan kualitas demokrasi dan senantiasa menjadi warga yang berhukum dengan baik. (Prof Mahfudz,  Orasi Ilmiah di Universitas Jambi, 21 April 2026)

Sementara itu, Yasonna H. Laoly menegaskan bahwa partai politik idealnya menjadi sarana pendidikan politik dan kaderisasi kepemimpinan, bukan sekadar kendaraan elektoral (Yasonna H. Laoly, 2022). Dari berbagai dinamika tersebut, terlihat bahwa tantangan utama demokrasi Indonesia bukan semata pada prosedur, melainkan pada kualitas etika politik.

Demokrasi yang hanya berjalan secara prosedural tetapi kehilangan substansi pengawasan dan akuntabilitas berisiko melahirkan ruang politik yang didominasi pencitraan dan manipulasi persepsi.

Di sinilah pentingnya kesadaran publik untuk tidak terjebak dalam politik topeng yang memperlihatkan demokrasi hanya sebagai panggung.

Rekomendasi: Mahasiswa, Politik, dan Integritas Gerakan

Sebagai aktivis sosial sejak masih kuliah dulu, penulis berpendapat bahwa dalam konteks masyarakat sipil, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai aktor kontrol sosial dalam demokrasi. Namun terdapat dua risiko yang perlu dicermati.

Pertama, risiko kooptasi dalam politik praktis yang dapat mengurangi independensi gerakan intelektual dan kritis mahasiswa. Kedua, risiko instrumentalitas identitas mahasiswa oleh aktor tertentu yang menggunakan legitimasi akademik untuk kepentingan politik tertentu, yang pada akhirnya dapat merusak kredibilitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif ini, jarak kritis antara gerakan intelektual dan kepentingan politik praktis menjadi syarat penting bagi keberlanjutan fungsi kontrol demokrasi.

Dalam konteks demokrasi, mahasiswa juga memiliki posisi strategis sebagai kelompok penyeimbang dalam ruang demokrasi.

Namun terdapat dua risiko yang perlu diwaspadai. Pertama, mahasiswa dapat “masuk angin” dalam arus politik praktis, ketika gerakan intelektual perlahan berubah menjadi bagian dari kontestasi kekuasaan, sehingga kritik kehilangan independensi dan berubah menjadi keberpihakan yang tidak kritis.

Kedua, muncul pula fenomena penyalahgunaan identitas mahasiswa oleh sebagian pihak yang mengatasnamakan gerakan akademik, tetapi justru melakukan tindakan yang merugikan sesama aktivis maupun masyarakat, sehingga mencederai kredibilitas gerakan intelektual itu sendiri.

Karena itu, diperlukan garis batas yang jelas antara gerakan moral-intelektual dan politik praktis. Mahasiswa tidak hanya dituntut hadir dalam ruang demokrasi, tetapi juga menjaga jarak kritis agar tidak menjadi bagian dari reproduksi “politik topeng” yang justru ingin mereka kritik.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diuji oleh kekuasaan, tetapi juga oleh integritas mereka yang mengawalnya. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Next Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ ---Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co