24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG)untuk di hentikan,  Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan anggaran yang begitu besar ditengah tekanan fiscal terhadap keuangan negara.  

Dalam kontek ini, apakah ruang keterbukaan dan kritik terhadap program yang dilaksanakan oleh pemerintah menjadi catatan yang penting, masih diyakini untuk didengar, tidak ada penolakan atau ancaman balik koreksi terhadap kekuasaan yang di gaungkan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil? Dalam demokrasi modern, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal, tetapi juga melalui apa yang dapat disebut sebagai politik topeng. Topeng bukan sekadar simbol pencitraan, melainkan mekanisme yang memisahkan antara tampilan demokratis di ruang publik dan praktik kekuasaan yang berlangsung di baliknya.

Dalam kondisi ini, demokrasi tidak dihapus, tetapi dikemas ulang menjadi pertunjukan: terlihat terbuka, partisipatif, dan kompetitif, tetapi pada saat yang sama mengalami penyempitan ruang kontrol dan pengawasan.

Fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding) menjadi salah satu tantangan utama dalam politik kontemporer. Banyak negara yang tetap mempertahankan prosedur demokrasi, tetapi secara perlahan menunjukkan kecenderungan pemusatan kekuasaan, pelemahan lembaga pengawas, serta penyempitan kebebasan sipil.

Dalam literatur ilmu politik, kondisi ini dipahami sebagai bagian dari siklus rezim: demokrasi tidak bergerak secara linier, melainkan dapat mengalami kemajuan, stagnasi, atau kemunduran. Tanpa konsolidasi institusi dan partisipasi publik yang kuat, demokrasi dapat mengalami regresi meskipun secara formal tetap berjalan.

Indonesia sebagai salah satu demokrasi terbesar di dunia tidak berada di luar arus ini. Dalam satu dekade terakhir, dinamika politik Indonesia menunjukkan kombinasi antara penguatan legitimasi elektoral, percepatan pembangunan, serta meningkatnya peran komunikasi politik berbasis popularitas.

Pada masa pemerintahan Joko Widodo, sejumlah analis mencatat adanya penguatan peran eksekutif dalam struktur kekuasaan. Di satu sisi, hal ini ditopang oleh agenda pembangunan infrastruktur dan stabilitas politik. Namun di sisi lain, muncul kritik terkait perubahan desain kelembagaan sejumlah institusi pengawas, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta regulasi yang dinilai mempersempit ruang kebebasan sipil.

Dalam kerangka ini, populisme tidak selalu hadir sebagai konfrontasi terbuka. Ia dapat bekerja melalui mekanisme demokratis itu sendiri: legitimasi elektoral, dukungan mayoritas, serta pengendalian narasi publik melalui komunikasi politik yang intensif.

Kondisi tersebut sering dibaca sebagai bentuk demokrasi yang mengalami kemunduran dari dalam: prosedur tetap berjalan, tetapi kualitas checks and balances mengalami tekanan.

Dalam konteks transisi menuju pemerintahan Prabowo Subianto, sebagian pengamat melihat potensi keberlanjutan pola konsolidasi kekuasaan yang telah terbentuk sebelumnya, meskipun dengan gaya kepemimpinan yang berbeda. Namun arah aktual tetap akan sangat ditentukan oleh dinamika institusional, konfigurasi politik, serta kekuatan masyarakat sipil.

Pandangan mengenai kemunduran demokrasi dari dalam juga sejalan dengan analisis Jaleswari Pramodhawardani dalam tulisan “Ketika Demokrasi Dimatikan oleh Para Pemimpin” (2025), yang menyoroti bagaimana personalisasi kekuasaan dan pelemahan lembaga kontrol dapat berlangsung dalam kerangka formal demokrasi tanpa mengubah struktur elektoral secara langsung.

Demokrasi, Topeng, dan Politik yang Berubah Wajah

Di titik ini, politik tidak lagi sekadar ruang pengambilan keputusan, tetapi berubah menjadi arena pengelolaan persepsi.

Perjuangan politik hari ini kian menyerupai panggung bertopeng. Topeng menjadi metafora dari wajah kekuasaan yang tampil berbeda antara narasi publik dan praktik di lapangan.

Para aktor politik berbicara dalam bahasa publik tentang kepentingan rakyat, tetapi dalam praktiknya sibuk mengelola kuasa, membangun citra, dan mengendalikan opini. Prestasi politik tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang lebih menentukan adalah visibilitas, viralitas, dan kemampuan menguasai ruang narasi. Topeng politik dapat dibaca sebagai bentuk politik muka ganda (Yasonna H. Laoly, Politik Muka Ganda, 2022), ketika terdapat jarak antara etika publik dan praktik kekuasaan.

Pada titik ini, politik kehilangan orientasi etik. Kepentingan pragmatis lebih dominan daripada tanggung jawab moral, sementara kekuasaan bekerja melalui simbol dan persepsi.

Perkembangan teknologi digital  juga mempercepat perubahan ini. Media sosial dan algoritma tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk cara publik mengonsumsi politik. Konflik, kontroversi, dan emosi cenderung memperoleh ruang lebih besar dibandingkan substansi kebijakan. Akibatnya, politik lebih sering diukur dari tingkat keterlibatan digital daripada kualitas keputusan publik.

Fenomena ini melahirkan kondisi yang dapat disebut sebagai anestesi demokrasi: publik merasa terlibat, tetapi sesungguhnya terjebak dalam konsumsi konflik yang berulang tanpa kontrol efektif terhadap proses kebijakan. Dalam situasi seperti ini, demokrasi perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan: ramai di permukaan, tetapi mengalami pengosongan substansi di dalamnya.

Partai Politik, Beban Demokrasi, dan Efektivitas Sistem

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah banyaknya partai politik benar-benar memperkuat demokrasi. Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan berserikat dan berpolitik (UUD 1945 Pasal 28 dan 28E), sementara sistem kepartaian diatur dalam UU No. 2 Tahun 2008 juncto UU No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Negara juga memberikan bantuan keuangan kepada partai politik melalui APBN/APBD berdasarkan perolehan suara sah.

Namun dalam praktiknya, fragmentasi partai yang terlalu banyak sering melahirkan politik transaksional, koalisi rapuh, serta tingginya biaya politik.

Indonesia pernah mengenal penyederhanaan partai pada masa Orde Baru menjadi tiga kekuatan politik: Golkar, PPP, dan PDI. Model ini tidak dapat direplikasi secara langsung dalam sistem demokrasi modern, tetapi dapat menjadi bahan refleksi tentang efektivitas sistem kepartaian.

Dalam pandangan Prof Mahfud MD, kualitas demokrasi tidak ditentukan oleh banyaknya partai, melainkan oleh kemampuan sistem politik menghasilkan pemerintahan yang efektif dan berkeadilan. 

Menurut Prof Mahfudz, hukum tanpa demokrasi adalah kezaliman, demokrasi tanpa hukum adalah anarki. Karakter hukum (Responsif vs Konservatif) sangat bergantung pada konfigurasi politiknya. Meski dinamis, harapan selalu ada lewat peran civil society dan dunia pendidikan. Jadi, mari terus kita jaga dan tingkatkan kualitas demokrasi dan senantiasa menjadi warga yang berhukum dengan baik. (Prof Mahfudz,  Orasi Ilmiah di Universitas Jambi, 21 April 2026)

Sementara itu, Yasonna H. Laoly menegaskan bahwa partai politik idealnya menjadi sarana pendidikan politik dan kaderisasi kepemimpinan, bukan sekadar kendaraan elektoral (Yasonna H. Laoly, 2022). Dari berbagai dinamika tersebut, terlihat bahwa tantangan utama demokrasi Indonesia bukan semata pada prosedur, melainkan pada kualitas etika politik.

Demokrasi yang hanya berjalan secara prosedural tetapi kehilangan substansi pengawasan dan akuntabilitas berisiko melahirkan ruang politik yang didominasi pencitraan dan manipulasi persepsi.

Di sinilah pentingnya kesadaran publik untuk tidak terjebak dalam politik topeng yang memperlihatkan demokrasi hanya sebagai panggung.

Rekomendasi: Mahasiswa, Politik, dan Integritas Gerakan

Sebagai aktivis sosial sejak masih kuliah dulu, penulis berpendapat bahwa dalam konteks masyarakat sipil, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai aktor kontrol sosial dalam demokrasi. Namun terdapat dua risiko yang perlu dicermati.

Pertama, risiko kooptasi dalam politik praktis yang dapat mengurangi independensi gerakan intelektual dan kritis mahasiswa. Kedua, risiko instrumentalitas identitas mahasiswa oleh aktor tertentu yang menggunakan legitimasi akademik untuk kepentingan politik tertentu, yang pada akhirnya dapat merusak kredibilitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif ini, jarak kritis antara gerakan intelektual dan kepentingan politik praktis menjadi syarat penting bagi keberlanjutan fungsi kontrol demokrasi.

Dalam konteks demokrasi, mahasiswa juga memiliki posisi strategis sebagai kelompok penyeimbang dalam ruang demokrasi.

Namun terdapat dua risiko yang perlu diwaspadai. Pertama, mahasiswa dapat “masuk angin” dalam arus politik praktis, ketika gerakan intelektual perlahan berubah menjadi bagian dari kontestasi kekuasaan, sehingga kritik kehilangan independensi dan berubah menjadi keberpihakan yang tidak kritis.

Kedua, muncul pula fenomena penyalahgunaan identitas mahasiswa oleh sebagian pihak yang mengatasnamakan gerakan akademik, tetapi justru melakukan tindakan yang merugikan sesama aktivis maupun masyarakat, sehingga mencederai kredibilitas gerakan intelektual itu sendiri.

Karena itu, diperlukan garis batas yang jelas antara gerakan moral-intelektual dan politik praktis. Mahasiswa tidak hanya dituntut hadir dalam ruang demokrasi, tetapi juga menjaga jarak kritis agar tidak menjadi bagian dari reproduksi “politik topeng” yang justru ingin mereka kritik.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diuji oleh kekuasaan, tetapi juga oleh integritas mereka yang mengawalnya. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Next Post

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ ---Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co