4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum Indonesia, yaitu apakah penahanan adalah keharusan, ataukah hanya instrumen luar biasa yang digunakan secara proporsional?

Pertanyaan ini relevan dalam kasus Roy Suryo dan dr. Tifa yang tersangkut perkara tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Setelah melalui proses penyidikan dan pelimpahan perkara ke kejaksaan, keduanya dilaporkan memperoleh penangguhan penahanan dengan jaminan keluarga, kuasa hukum, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Pada satu sisi, keputusan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak tersangka. Dalam negara hukum, seseorang tidak boleh diperlakukan sebagai orang bersalah sebelum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Penahanan bukan hukuman awal, melainkan tindakan pembatasan kebebasan yang seharusnya digunakan hanya apabila benar-benar diperlukan, yaitu untuk mencegah pelarian, penghilangan barang bukti, pengulangan tindak pidana, atau gangguan serius terhadap proses peradilan.

Namun, pada sisi lain, penangguhan penahanan dalam perkara yang sangat politis dan mendapat perhatian publik luas tidak boleh berhenti pada alasan administratif. Keputusan itu harus dapat dijelaskan secara terbuka, terukur, dan konsisten. Di sinilah persoalan utamanya, yaitu bukan semata-mata apakah Roy Suryo dan dr. Tifa layak ditahan atau tidak, melainkan apakah standar yang sama juga tersedia bagi setiap warga negara dengan perkara serupa?.

Penahanan Bukan Balas Dendam Negara

Secara teoritis, hukum acara pidana modern berdiri di antara dua kepentingan besar. Pertama, pendekatan crime control, yaitu kebutuhan negara untuk menindak kejahatan secara cepat, tegas, dan efektif (Hughes, 1998). Kedua, pendekatan due process of law, yaitu kewajiban negara melindungi hak individu dari tindakan aparat yang berlebihan, sewenang-wenang, atau tidak proporsional (Barnett & Bernick, 2019).

Dalam perspektif due process, penahanan sebelum persidangan harus dipandang sebagai pengecualian, bukan kebiasaan (Miller & Guggenheim, 1990a). Negara memang memiliki kewenangan untuk menahan tersangka, tetapi kewenangan itu harus dibatasi oleh alasan objektif, proporsionalitas, dan pengawasan yang dapat diuji.

Karena itu, penangguhan penahanan pada dasarnya bukan tindakan yang otomatis salah. Bahkan, dalam banyak perkara, penangguhan dapat menjadi pilihan yang lebih manusiawi, khususnya apabila tersangka kooperatif, memiliki alamat jelas, hadir dalam pemeriksaan, tidak berpotensi menghilangkan barang bukti, dan terdapat penjamin yang bertanggung jawab.

Masalah muncul ketika kebijakan tersebut tampak hanya mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki akses sosial, jaringan politik, kuasa hukum kuat, atau dukungan tokoh publik. Hukum tidak boleh menciptakan kesan bahwa kebebasan sebelum sidang dapat dinegosiasikan berdasarkan popularitas, pengaruh, atau kemampuan menghadirkan penjamin terkenal.

Keadilan Tidak Cukup Dilakukan, Tetapi Harus Terlihat Dilakukan

Teori procedural justice dari Tom R. Tyler menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya menilai hukum dari hasil akhirnya, tetapi juga dari cara hukum itu dijalankan (Tyler, 1988). Orang cenderung lebih menerima keputusan yang tidak menguntungkan sekalipun apabila mereka merasa prosesnya adil, transparan, tidak diskriminatif, dan memberi ruang bagi semua pihak untuk didengar.

Dalam konteks ini, Kejaksaan dan aparat penegak hukum perlu menyadari bahwa perkara publik tidak hanya diuji di ruang sidang, tetapi juga di ruang kepercayaan masyarakat.

Apabila penangguhan penahanan diberikan, publik berhak mengetahui pertimbangan dasarnya secara proporsional, yaitu apakah karena kondisi kesehatan, kooperatif dalam proses hukum, adanya jaminan yang cukup, rendahnya risiko melarikan diri, telah diamankannya barang bukti, atau karena alasan hukum lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penjelasan tersebut penting agar masyarakat tidak membangun kesimpulan sendiri bahwa hukum bekerja berbeda terhadap tokoh terkenal dan warga biasa. Sebab, ketidakjelasan bukan hanya menimbulkan kritik. Ketidakjelasan dapat berubah menjadi krisis legitimasi.

Bahaya Jika Standar Penangguhan Tidak Konsisten

Jika pola penangguhan penahanan dibiarkan tanpa ukuran yang jelas dan tanpa komunikasi publik yang memadai, setidaknya terdapat beberapa masalah hukum yang serius.

Pertama, muncul risiko pelanggaran prinsip equality before the law. Konstitusi menempatkan setiap warga negara pada kedudukan yang sama di hadapan hukum. Artinya, seorang figur publik, pejabat, aktivis, akademisi, buruh, mahasiswa, maupun warga biasa seharusnya diuji dengan standar yang sama ketika meminta penangguhan penahanan.

Apabila seorang tersangka dengan dukungan sosial kuat lebih mudah memperoleh penangguhan, sementara tersangka lain dalam perkara serupa tetap ditahan tanpa alasan yang jelas, maka hukum berpotensi dipandang bukan sebagai instrumen keadilan, melainkan sebagai instrumen seleksi sosial.

Kedua, terdapat risiko terganggunya integritas pembuktian. Dalam perkara yang berkaitan dengan informasi elektronik, dugaan manipulasi dokumen, narasi digital, dan opini publik, barang bukti memang tidak selalu berbentuk fisik. Barang bukti dapat berupa akun media sosial, komunikasi digital, perangkat elektronik, dokumen, rekaman, unggahan, hingga jejaring penyebaran informasi.

Jika penangguhan tidak disertai syarat yang ketat, seperti larangan menghubungi saksi tertentu, pembatasan aktivitas digital terkait perkara, kewajiban lapor, atau larangan melakukan tindakan yang berpotensi memengaruhi proses persidangan, maka risiko tekanan terhadap saksi dan pembentukan opini publik yang mengganggu independensi peradilan tetap terbuka.

Ketiga, terdapat risiko pengulangan atau eskalasi narasi. Perkara yang berangkat dari tudingan di ruang publik memiliki karakter berbeda dengan perkara biasa. Narasi dapat terus hidup, diperbanyak, dipotong, dimanipulasi, dan disebarkan kembali dalam hitungan menit. Karena itu, kebebasan tersangka selama masa proses hukum harus disertai tanggung jawab untuk tidak memperkeruh situasi, tidak menyerang pihak lain, dan tidak membangun pengadilan opini.

Keempat, terdapat risiko preseden buruk dalam penegakan hukum. Ketika masyarakat melihat bahwa penangguhan penahanan mudah diberikan dalam perkara tertentu, sedangkan kasus lain dengan ancaman pidana serupa diperlakukan lebih keras, publik akan mempertanyakan konsistensi aparat. Ketika konsistensi hilang, kepatuhan terhadap hukum ikut melemah.

Studi Kasus

Debat mengenai penahanan prapersidangan bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai penelitian di banyak negara menunjukkan bahwa penahanan sebelum putusan pengadilan dapat menghasilkan dampak sosial berat, antara lain; kehilangan pekerjaan, gangguan pendidikan, keretakan keluarga, hilangnya penghasilan, serta stigma sosial, bahkan ketika seseorang pada akhirnya tidak dinyatakan bersalah (Digard & Swavola, 2019).

Artinya, penahanan tidak boleh digunakan semata-mata untuk menunjukkan ketegasan negara.

Namun, pengalaman di banyak negara juga memperlihatkan sisi sebaliknya. Ketika pembebasan atau penangguhan dilakukan tanpa penilaian risiko yang memadai, sistem peradilan dapat menghadapi masalah ketidakhadiran tersangka, intimidasi terhadap saksi, penghilangan bukti, dan pengulangan tindak pidana (Miller & Guggenheim, 1990b).

Karena itu, kuncinya bukan “selalu tahan” atau “selalu tangguhkan”. Kuncinya adalah penilaian risiko individual yang objektif.

Dalam kasus berprofil tinggi seperti perkara Roy Suryo dan dr. Tifa, penilaian risiko semestinya lebih cermat karena dampaknya tidak hanya menyangkut dua orang tersangka, tetapi juga menyangkut martabat institusi, stabilitas opini publik, perlindungan terhadap saksi, dan kepercayaan masyarakat kepada hukum.

Penangguhan Harus Disertai Syarat Tegas

Penangguhan penahanan tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Agar tidak menjadi preseden buruk, aparat penegak hukum perlu memastikan adanya syarat yang jelas dan dapat diawasi, antara lain:

  1. kewajiban lapor secara berkala;
  2. kewajiban hadir dalam setiap agenda pemeriksaan dan persidangan;
  3. larangan melarikan diri atau bepergian tanpa izin;
  4. larangan menghubungi, memengaruhi, atau menekan saksi;
  5. larangan menghilangkan, mengubah, atau menyebarkan ulang materi yang menjadi objek perkara;
  6. larangan membuat pernyataan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum atau memengaruhi independensi pengadilan;
  7. pencabutan penangguhan apabila syarat dilanggar.

Syarat semacam ini bukan bentuk kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat. Justru ini adalah mekanisme untuk menjaga keseimbangan antara hak tersangka dan kepentingan proses peradilan.

Kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional. Namun, kebebasan tersebut tidak identik dengan kebebasan menyebarkan tuduhan yang belum terbukti, merendahkan martabat seseorang, atau mendorong publik mempercayai suatu kesimpulan sebelum diuji secara hukum dan ilmiah.

Menjaga Hukum dari Dua Ekstrem

Publik tidak boleh terjebak dalam dua ekstrem.

Ekstrem pertama adalah pandangan bahwa setiap tersangka harus ditahan agar hukum terlihat tegas. Pandangan ini berbahaya karena dapat mengubah penahanan menjadi penghukuman sebelum putusan pengadilan.

Ekstrem kedua adalah pandangan bahwa setiap penangguhan penahanan adalah bentuk kemenangan atau pembenaran terhadap tersangka. Pandangan ini juga keliru. Penangguhan penahanan bukan putusan bebas, bukan penghentian penyidikan, bukan penghapusan perkara, dan bukan pembuktian bahwa seseorang tidak bersalah (Libus, 1982).

Penangguhan hanyalah keputusan prosedural selama proses hukum berjalan.

Karena itu, ukuran keberhasilan perkara ini bukan terletak pada apakah Roy Suryo dan dr. Tifa berada di dalam atau di luar tahanan. Ukurannya adalah apakah persidangan nanti berlangsung adil, terbuka, berbasis bukti, bebas tekanan politik, dan menghasilkan putusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Penutup

Kasus ini harus menjadi pengingat bahwa hukum tidak boleh bekerja berdasarkan kemarahan publik, afiliasi politik, atau kekuatan jaringan sosial. Hukum juga tidak boleh tunduk pada tekanan massa, opini media sosial, maupun status seseorang di ruang publik.

Penangguhan penahanan dapat dibenarkan secara hukum apabila didasarkan pada pertimbangan yang objektif, proporsional, dan dapat diuji. Namun, apabila kebijakan itu diterapkan tanpa standar yang transparan dan konsisten, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu perkara, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap negara hukum.

Dalam demokrasi, keadilan bukan sekadar tentang siapa yang ditahan dan siapa yang dibebaskan. Keadilan adalah kepastian bahwa setiap orang, baik terkenal atau tidak, kuat atau lemah, kaya atau miskin, yang diperlakukan dengan ukuran hukum yang sama.

Karena itu, penangguhan penahanan harus tetap diawasi. Bukan untuk menghakimi tersangka sebelum sidang, melainkan untuk memastikan bahwa hukum tidak berubah menjadi privilese bagi mereka yang memiliki nama, jaringan, dan panggung. [T]

Referensi

Barnett, R. E., & Bernick, E. D. (2019). No arbitrary power: An originalist theory of the due process of law. William & Mary Law Review, 60(5), 1599.

Digard, L., & Swavola, E. (2019). Justice denied: The harmful and lasting effects of pretrial detention. Vera Evidence Brief. New York: Vera Institute of Justice.

Hughes, G. (1998). Understanding crime prevention. McGraw-Hill Education (UK).

Libus, I. (1982). The Presumption of Innocence and Termination of Proceedings in Criminal Cases (Acquittal). Soviet Law and Government, 21(1), 50–67.

Miller, M., & Guggenheim, M. (1990a). Pretrial detention and punishment. Minnesota Law Review, 75(2), 335.

Miller, M., & Guggenheim, M. (1990b). Pretrial detention and punishment. Minnesota Law Review, 75(2), 335.

Tyler, T. R. (1988). What is procedural justice?: Criteria used by citizens to assess the fairness of legal procedures. Law & society review, 22(1), 103–135.

Tags: hukum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

Next Post

Duri Akar dan “Sungga”

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post
Duri Akar dan “Sungga”

Duri Akar dan “Sungga”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co