25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
in Opini
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki melalui evaluasi, revisi, atau pencabutan. Sebaliknya, kata-kata yang telanjur beredar di ruang publik dapat berkembang menjadi persepsi, membentuk opini, memengaruhi emosi, dan pada akhirnya menggerus kepercayaan masyarakat. Satu kalimat yang terlontar dari seorang pejabat dapat menimbulkan kegaduhan, menghapus kesan positif yang telah dibangun berbulan-bulan, bahkan memunculkan ketidakpercayaan terhadap institusi yang diwakilinya. Ironisnya, blunder komunikasi semacam itu tidak selalu lahir dari niat buruk atau ketidakmampuan pejabat memahami persoalan. Tidak jarang, pernyataan tersebut justru disampaikan untuk memberikan penjelasan, meluruskan informasi, atau merespons keresahan masyarakat. Persoalannya muncul ketika penjelasan itu disampaikan tanpa mempertimbangkan konteks, sensitivitas publik, serta pengalaman warga yang sedang berhadapan langsung dengan persoalan tersebut.

Pada titik itulah komunikasi pejabat tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan teknis berbicara. Ia menjadi persoalan politik, sosial, bahkan etis. Yang dipertaruhkan bukan hanya apakah sebuah kalimat benar atau salah secara faktual, melainkan bagaimana kalimat itu akan diterima, dimaknai, dan dipertautkan dengan realitas kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, seorang pejabat publik sesungguhnya tidak pernah benar-benar berbicara sebagai individu biasa. Posisi sosial yang melekat pada dirinya membuat setiap tuturan memiliki konsekuensi yang lebih luas.

Bahasa Pejabat Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Masalahnya tampak sederhana, tetapi dampaknya tidak sederhana: pejabat sering lupa bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya memiliki bobot politik. Masyarakat tidak mendengar pernyataan pejabat seperti mendengar percakapan biasa. Ketika seorang warga mengatakan sesuatu, dampaknya mungkin hanya berhenti pada lingkaran pergaulannya. Namun, ketika presiden, menteri, kepala daerah, anggota parlemen, atau pejabat publik berbicara, setiap kata dapat dibaca sebagai representasi sikap pemerintah atau negara.

Kalimat yang bagi pejabat terasa ringan dapat diterima masyarakat sebagai bentuk ketidakpekaan, bahkan penghinaan. Pejabat berbicara dari perspektif kekuasaan, sementara masyarakat mendengarkan dari perspektif pengalaman. Dua perspektif tersebut tidak selalu bertemu.Seorang pejabat mungkin mengatakan bahwa kenaikan harga adalah sesuatu yang “wajar”. Secara ekonomi, pernyataan tersebut mungkin dapat dijelaskan. Harga memang dapat bergerak karena inflasi, gangguan distribusi, perubahan permintaan, kenaikan biaya produksi, atau berbagai faktor lainnya. Namun, bagi keluarga yang pendapatannya tidak naik sementara kebutuhan hidup terus meningkat, kata “wajar” dapat memiliki makna yang sama sekali berbeda. Kata tersebut dapat terdengar seperti pengabaian terhadap kesulitan hidup.

Begitu pula ketika seorang pejabat mengatakan bahwa kritik masyarakat terlalu berlebihan. Bagi pejabat, pernyataan tersebut mungkin dimaksudkan untuk meredam informasi yang dianggap tidak proporsional. Namun, bagi masyarakat yang merasa tidak didengar, kalimat itu justru dapat memperkuat keyakinan bahwa pemerintah semakin jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.Inilah persoalan penting dalam komunikasi publik: makna tidak sepenuhnya berada di tangan penutur. Pejabat mungkin memiliki maksud tertentu, tetapi masyarakat memiliki hak untuk menangkap, menafsirkan, dan merespons pesan tersebut berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Ketika terjadi kesenjangan antara maksud penutur dan pemaknaan publik, pejabat tidak dapat begitu saja menyalahkan masyarakat karena dianggap “salah memahami”.

Komunikasi publik bukanlah ruang tempat pejabat bebas menentukan makna secara sepihak. Sebaliknya, komunikasi publik merupakan ruang pertemuan berbagai pengalaman, kepentingan, emosi, dan posisi sosial. Semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk mempertimbangkan kemungkinan makna dari setiap tuturan yang disampaikan.

Persoalan Bukan Hanya Apa yang Dikatakan, tetapi Bagaimana dan Kapan Mengatakannya

Dalam komunikasi publik, konteks adalah segalanya. Satu kalimat yang diujarkan pada waktu dan situasi yang tepat dapat menenangkan keresahan. Sebaliknya, kalimat yang sama, apabila disampaikan dalam momentum yang sensitif, dapat berubah menjadi bumerang bagi pejabat yang mengucapkannya. Persoalan tersebut dapat dilihat dari pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster yang kembali menjadi perhatian publik setelah potongan video ketika seorang warga menanyakan persoalan lapangan pekerjaan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, warga bertanya mengenai tanggapan pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi respons yang terdengar dari Koster adalah, “Diam kamu.” Potongan tersebut kemudian memunculkan berbagai reaksi dan kritik karena publik menilainya sebagai respons yang tidak sejalan dengan posisi seorang pejabat publik ketika berhadapan dengan warga.

Namun, kasus tersebut justru menarik apabila dilihat secara lebih kritis dan tidak berhenti pada penilaian bahwa seorang pejabat telah melakukan blunder. Sejumlah laporan kemudian menjelaskan bahwa video tersebut bukan peristiwa baru, melainkan rekaman ketika Koster melakukan penertiban bangunan yang melanggar aturan di kawasan Pantai Bingin pada 21 Juli 2025. Dengan demikian, potongan video yang beredar perlu dibaca bersama konteks peristiwa secara utuh. Di sinilah persoalan komunikasi publik menjadi menarik: sebuah tuturan tidak pernah berdiri sendiri. Maknanya sangat ditentukan oleh siapa yang berbicara, kepada siapa tuturan diarahkan, dalam situasi apa tuturan disampaikan, serta bagaimana tuturan tersebut kemudian dipindahkan ke ruang komunikasi yang berbeda.

Secara pragmatik, ungkapan “diam kamu” merupakan tuturan yang sangat pendek, tetapi memiliki daya pragmatis yang kuat. Secara literal, tuturan tersebut merupakan perintah agar lawan bicara berhenti berbicara. Namun, ketika diucapkan oleh seorang gubernur kepada warga, maknanya tidak lagi berhenti pada struktur kalimat imperatif. Ada relasi kekuasaan yang ikut bekerja di dalamnya. Penutur memiliki otoritas sebagai pejabat publik, sedangkan mitra tutur berada pada posisi sebagai warga yang sedang menyampaikan pertanyaan. Karena itu, tuturan tersebut berpotensi dimaknai bukan sekadar sebagai permintaan untuk berhenti berbicara, tetapi sebagai tindakan membatasi ruang warga untuk menyampaikan suara.

Di sinilah sebuah kata yang sederhana dapat memiliki konsekuensi politik yang besar. Apabila kalimat tersebut diucapkan dalam percakapan pribadi antara dua orang yang memiliki relasi setara, dampaknya mungkin berbeda. Namun, ketika muncul dalam relasi pejabat dan warga, daya tekan tuturan menjadi jauh lebih besar. Kata yang sama dapat memiliki daya sosial yang berbeda karena relasi kekuasaan di antara penutur dan mitra tutur berbeda. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata pada kata “diam”, tetapi pada siapa yang mengatakan, kepada siapa kata itu diarahkan, dan dalam situasi sosial seperti apa kata tersebut muncul.

Kasus ini juga memperlihatkan betapa pentingnya membedakan antara maksud penutur dan dampak tuturan. Kita tidak dapat serta-merta mengetahui keseluruhan maksud psikologis seorang pejabat hanya dari potongan video. Bisa saja terdapat situasi tertentu sebelum tuturan tersebut yang tidak terlihat dalam rekaman. Bahkan, laporan mengenai konteks peristiwa menunjukkan bahwa video tersebut berlangsung dalam situasi penertiban yang cukup kompleks. Namun, dari perspektif komunikasi publik, persoalan tidak selesai hanya dengan mengetahui maksud penutur. Publik tetap berhak menilai dampak dari tuturan yang mereka dengar dan lihat.

Inilah tantangan terbesar pejabat pada era media sosial. Dahulu, sebuah pernyataan yang kurang tepat mungkin hanya didengar oleh orang-orang yang berada di lokasi. Sekarang, sebuah kalimat dapat direkam dengan telepon genggam, dipotong menjadi beberapa detik, diberi judul, disebarkan melalui berbagai platform, dan kemudian diproduksi kembali menjadi opini publik. Dalam kasus Koster, rekaman lama tersebut kembali beredar pada September 2026 dan dipahami oleh sebagian publik sebagai peristiwa yang aktual. Artinya, sebuah tuturan dapat mengalami perjalanan makna yang jauh melampaui situasi ketika tuturan tersebut pertama kali diucapkan.

Masyarakat digital tidak hanya mendistribusikan informasi; mereka juga memproduksi makna. Potongan video dapat ditempatkan dalam konteks baru, dihubungkan dengan persoalan lain, dibandingkan dengan kebijakan pemerintah, bahkan dijadikan simbol untuk mewakili kekecewaan yang lebih luas. Akibatnya, pejabat tidak lagi memiliki kendali penuh terhadap perjalanan pesan setelah pesan tersebut keluar. Pernyataan yang semula merupakan respons spontan dalam sebuah situasi tertentu dapat berubah menjadi bahan perdebatan mengenai kepemimpinan, etika kekuasaan, dan hubungan pemerintah dengan masyarakat.

Di sinilah kemampuan pragmatik menjadi penting. Seorang pejabat tidak cukup hanya memperkirakan apa yang ingin dikatakan, tetapi juga harus memperhitungkan apa yang mungkin dipahami, bagaimana tuturan itu akan diterima, dan apa efek sosial yang mungkin ditimbulkannya. Dalam perspektif pragmatik, tuturan selalu berhubungan dengan konteks, penutur, mitra tutur, tujuan komunikasi, situasi, serta pengetahuan yang dimiliki bersama. Oleh karena itu, kemampuan berbicara di depan publik tidak seharusnya berhenti pada kefasihan verbal atau kemampuan menguasai materi.

Seorang pejabat dapat berbicara dengan lancar, memiliki data yang lengkap, dan menguasai substansi kebijakan. Namun, semua itu belum cukup apabila ia tidak mampu membaca situasi sosial ketika berbicara. Pertanyaan warga tentang lapangan pekerjaan, misalnya, pada dasarnya bukan hanya pertanyaan administratif tentang program pemerintah. Di balik pertanyaan tersebut terdapat persoalan ekonomi, masa depan keluarga, harapan anak muda, dan kecemasan mengenai kesempatan hidup yang layak. Karena itu, ketika seorang warga bertanya tentang lapangan pekerjaan, pejabat seharusnya mampu menangkap makna sosial di balik pertanyaan literalnya.

Pertanyaan “apa tanggapan pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat?” secara gramatikal memang hanya meminta jawaban. Namun, secara pragmatik pertanyaan tersebut dapat mengandung harapan agar pemerintah hadir, mendengar, dan memberikan solusi. Jika respons yang diterima justru berupa perintah untuk diam, maka terdapat kemungkinan terjadi ketidaksejajaran antara tujuan komunikatif warga dan respons pejabat. Warga datang membawa persoalan; yang dibutuhkan adalah jawaban. Ketika yang diterima justru penghentian komunikasi, persoalan yang semula berupa masalah lapangan pekerjaan dapat bergeser menjadi persoalan tentang bagaimana pemerintah memperlakukan suara masyarakat.

Di sinilah terjadi perbedaan antara bahasa birokrasi dan bahasa pengalaman masyarakat. Bahasa birokrasi cenderung berbicara dalam angka, target, indikator, program, investasi, pertumbuhan ekonomi, dan capaian pembangunan. Sementara masyarakat mengalami kebijakan melalui hal-hal yang jauh lebih konkret: apakah mereka mendapatkan pekerjaan, apakah penghasilan mereka cukup, apakah biaya hidup dapat dijangkau, apakah anak-anak mereka memiliki masa depan, dan apakah suara mereka didengar ketika menyampaikan persoalan.

Pejabat yang gagal menjembatani dua dunia bahasa tersebut berisiko membuat komunikasi publik kehilangan sentuhan kemanusiaan. Bahkan, sebuah kebijakan yang secara administratif dapat dipertanggungjawabkan dapat kehilangan legitimasi sosial apabila cara menjelaskannya membuat masyarakat merasa direndahkan atau tidak dianggap penting.

Karena itu, persoalan komunikasi pejabat sebenarnya bukan hanya persoalan benar atau salah, tetapi juga persoalan tepat atau tidak tepat. Sebuah pernyataan dapat benar secara faktual, tetapi tidak tepat secara pragmatik. Sebuah respons dapat dimaksudkan untuk mengendalikan situasi, tetapi justru memperbesar konflik. Sebuah kalimat dapat dimaksudkan sebagai respons spontan, tetapi ketika direkam dan disebarkan, berubah menjadi simbol yang memiliki makna jauh lebih besar daripada maksud awal penuturnya.

Ujaran “diam kamu” memberikan pelajaran penting bahwa  dalam komunikasi publik, pejabat tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang dimaksudkannya, tetapi juga harus menyadari kemungkinan dampak dari apa yang dikatakannya. Terlebih ketika kata-kata tersebut keluar dari mulut seorang pejabat yang memiliki kekuasaan dan kemudian masuk ke ruang digital yang tidak mengenal batas waktu dan tempat.

Maka, yang diperlukan bukan pejabat yang takut berbicara, melainkan pejabat yang mampu menimbang kata sebelum berbicara. Kecepatan merespons persoalan publik memang penting, tetapi kecepatan tanpa kepekaan dapat melahirkan persoalan baru. Dalam situasi tertentu, jawaban yang lebih panjang mungkin diperlukan. Dalam situasi lain, penjelasan yang sederhana dan empatik justru lebih efektif. Dan pada keadaan tertentu, menahan diri beberapa detik sebelum menjawab mungkin jauh lebih bijaksana daripada mengeluarkan kalimat spontan yang kemudian harus dijelaskan berhari-hari.

Pada akhirnya, komunikasi publik adalah bagian dari pertanggungjawaban kekuasaan. Pejabat bukan hanya dituntut mampu membuat kebijakan, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan masyarakat yang menerima dampak dari kebijakan tersebut. Sebab, bagi masyarakat, pemerintah tidak hanya hadir melalui peraturan, anggaran, dan program. Pemerintah juga hadir melalui kata-kata pejabatnya. Satu kalimat pejabat dapat menjadi jembatan, tetapi dapat pula menjadi tembok. Yang membedakannya bukan hanya pilihan kata, melainkan kemampuan membaca konteks, memahami posisi mitra tutur, mempertimbangkan relasi kekuasaan, dan memperkirakan bagaimana sebuah tuturan akan hidup setelah keluar dari mulut penuturnya.

Di era ketika setiap orang membawa kamera di dalam genggaman tangannya, pejabat tidak lagi memiliki kemewahan untuk menganggap kata-kata sebagai sesuatu yang selesai ketika kalimat berakhir. Kalimat dapat direkam. Rekaman dapat dipotong. Potongan dapat ditafsirkan. Tafsir dapat berkembang menjadi opini. Dan opini dapat berubah menjadi ketidakpercayaan. Sebelum mikrofon dinyalakan dan sebelum respons diberikan, ada satu pertanyaan sederhana yang layak selalu diajukan: bukan hanya “apa yang ingin saya katakan?”, tetapi juga “apa yang mungkin dirasakan dan dimaknai masyarakat setelah saya mengatakannya?”

Klarifikasi Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah

Salah satu pola yang sering muncul setelah sebuah pernyataan pejabat menuai kritik adalah klarifikasi. “Maksud saya bukan begitu.” “Pernyataan saya dipotong.” “Media salah mengutip.” “Masyarakat salah memahami.” Klarifikasi tentu penting, terutama apabila sebuah pernyataan memang dipelintir atau dilepaskan dari konteks. Namun, terlalu sering berlindung di balik dalih “salah konteks” justru dapat memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar: kegagalan memilih kata sejak awal.

Klarifikasi pada dasarnya bersifat reaktif. Ia muncul setelah persoalan terjadi. Sementara komunikasi publik yang baik seharusnya bersifat preventif: memperhitungkan kemungkinan tafsir sebelum sebuah pernyataan disampaikan.Di sinilah pentingnya membedakan antara maksud komunikatif dan dampak komunikatif. Seorang pejabat mungkin bermaksud menjelaskan, tetapi dampaknya dapat melukai. Ia mungkin bermaksud bercanda, tetapi publik menganggapnya merendahkan. Ia mungkin bermaksud tegas, tetapi publik menangkapnya sebagai arogan.

Apakah berarti pejabat harus selalu berbicara dengan bahasa yang steril dari segala kemungkinan salah tafsir? Tentu tidak. Bahasa pada dasarnya bersifat terbuka terhadap berbagai interpretasi. Tidak ada komunikasi yang sepenuhnya bebas dari risiko kesalahpahaman. Namun, justru karena risiko tersebut ada, pejabat memiliki kewajiban moral untuk memperkecil kemungkinan munculnya tafsir yang merugikan masyarakat.

Menyalahkan masyarakat karena salah memahami ucapan pejabat adalah cara yang terlalu mudah. Pejabat memiliki posisi, akses informasi, penasihat komunikasi, dan otoritas institusional yang jauh lebih besar daripada warga biasa. Ketimpangan tersebut melahirkan tanggung jawab yang juga tidak seimbang.Dengan kata lain, semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab komunikatifnya.

Ketika Bahasa Menjadi Cermin Jarak Kekuasaan

Blunder komunikasi pejabat sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia dapat menjadi gejala dari persoalan yang lebih besar, yaitu jarak antara penguasa dan masyarakat.Ketika seorang pejabat menggunakan kata-kata yang dianggap tidak sensitif terhadap penderitaan masyarakat, persoalan yang muncul bukan hanya persoalan pilihan diksi. Publik dapat membaca kata tersebut sebagai representasi cara berpikir kekuasaan. Satu kata dapat dianggap sebagai cermin bagaimana pemerintah memandang rakyatnya.

Karena itu, kegaduhan akibat pernyataan pejabat sering kali jauh lebih besar daripada substansi kalimat itu sendiri. Masyarakat mungkin tidak semata-mata marah terhadap sebuah kata, tetapi terhadap apa yang mereka anggap berada di balik kata tersebut.Jika masyarakat sedang menghadapi kesulitan ekonomi lalu mendengar pejabat berbicara dengan nada meremehkan, yang muncul bukan hanya persoalan linguistik. Yang muncul adalah perasaan tidak dipahami. Jika masyarakat sedang menuntut keadilan lalu kritik mereka dianggap berlebihan, yang muncul adalah perasaan tidak dihargai.

Pada titik tertentu, bahasa menjadi simbol hubungan kekuasaan.

Bahasa pejabat dapat memperpendek jarak antara pemerintah dan rakyat, tetapi dapat pula memperlebar jarak tersebut. Bahasa yang empatik dapat menghadirkan rasa bahwa pemerintah memahami penderitaan masyarakat. Sebaliknya, bahasa yang defensif, meremehkan, atau tidak sensitif dapat menghadirkan kesan bahwa pemerintah hidup dalam realitas yang berbeda.

Dengan demikian, persoalan komunikasi pejabat sebenarnya merupakan bagian dari persoalan demokrasi. Demokrasi bukan hanya mekanisme pemilihan pemimpin. Demokrasi juga berkaitan dengan bagaimana kekuasaan berkomunikasi dengan masyarakat yang memberikan legitimasi kepadanya.

Pejabat Tidak Harus Selalu Benar, tetapi Harus Mau Mendengar

Masyarakat sesungguhnya tidak menuntut pejabat selalu berkata sempurna. Mereka juga tidak mengharapkan setiap pernyataan bebas dari kekeliruan. Yang lebih penting adalah adanya kesediaan untuk mendengar, memahami, dan mengoreksi diri. Naskah awal menegaskan bahwa masyarakat ingin melihat dirinya didengar, dihargai, dan dipahami.

Pernyataan tersebut penting karena komunikasi publik sering kali terlalu berorientasi pada kemampuan pemerintah menyampaikan pesan, tetapi kurang memberi perhatian pada kemampuan pemerintah menerima pesan. Padahal, komunikasi yang sehat selalu membutuhkan dua arah.Pejabat tidak cukup mengatakan, “Kami sudah menjelaskan.” Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah masyarakat merasa sudah didengar?

Perbedaan antara dua pertanyaan tersebut sangat mendasar. Yang pertama berorientasi pada keberhasilan penutur. Yang kedua berorientasi pada keberhasilan komunikasi.Ketika pejabat mengatakan bahwa pemerintah telah menjelaskan, itu berarti komunikasi dilihat dari perspektif pengirim pesan. Namun, ketika masyarakat mengatakan bahwa mereka belum merasa dipahami, berarti komunikasi dilihat dari perspektif penerima pesan.

Keduanya dapat sama-sama benar. Pemerintah mungkin telah memberikan penjelasan, tetapi masyarakat belum merasa memperoleh jawaban. Di sinilah komunikasi publik membutuhkan empati, bukan sekadar informasi.Empati tidak berarti pejabat harus menyetujui semua tuntutan masyarakat. Empati berarti mampu memahami mengapa masyarakat berpikir, marah, kecewa, atau cemas. Seorang pejabat tetap dapat mempertahankan kebijakan yang diyakininya benar, tetapi menjelaskannya dengan cara yang menghormati pengalaman masyarakat.

Diperlukan “Rem Komunikasi” bagi Pejabat

Barangkali sudah waktunya setiap pejabat memiliki semacam “rem komunikasi” sebelum mikrofon dinyalakan. Bukan untuk membatasi kebebasan berbicara, melainkan untuk memastikan bahwa kebebasan tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Ada beberapa pertanyaan sederhana yang seharusnya muncul sebelum sebuah pernyataan disampaikan.

Apakah kalimat ini benar? Kebenaran faktual merupakan syarat pertama. Pejabat tidak boleh membangun komunikasi publik berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. Apakah kalimat ini relevan? Tidak semua hal yang benar perlu disampaikan pada setiap kesempatan. Kebenaran yang tidak relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dapat terdengar sebagai pengalihan isu. Apakah kalimat ini sensitif terhadap kondisi masyarakat?

Sebuah pernyataan dapat benar secara faktual tetapi tidak tepat secara sosial. Kepekaan terhadap situasi publik merupakan bagian penting dari etika komunikasi.

Dari “Cepat Bicara” Menuju “Tepat Bicara”

Era digital memang menuntut kecepatan. Pejabat sering berada dalam tekanan untuk segera memberikan respons terhadap berbagai isu. Masyarakat ingin jawaban cepat, media membutuhkan pernyataan, dan media sosial terus bergerak. Namun, kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan.Persoalannya bukan apakah pejabat harus cepat atau lambat berbicara. Persoalannya adalah apakah ia mampu cepat sekaligus tepat.

Kecepatan tanpa pertimbangan dapat menghasilkan blunder. Sebaliknya, kehati-hatian tanpa kemampuan merespons dapat menciptakan kesan pemerintah tidak hadir. Tantangan komunikasi pejabat masa kini bukan memilih antara cepat dan hati-hati, melainkan menemukan keseimbangan antara keduanya. Di sinilah profesionalisme komunikasi pemerintahan menjadi penting. Pernyataan pejabat seharusnya tidak hanya dipersiapkan dari sisi substansi, tetapi juga dari sisi konteks, pilihan kata, kemungkinan tafsir, serta konsekuensi sosialnya.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada staf komunikasi. Pada akhirnya, pejabat sendiri harus memiliki kecerdasan komunikatif. Ia harus memahami bahwa mikrofon bukan sekadar alat untuk memperbesar suara. Mikrofon adalah alat yang memperbesar konsekuensi dari setiap kata. Satu kalimat dapat membangun kepercayaan. Satu kalimat pula dapat menghancurkannya.

Bahasa sebagai Pertanggungjawaban Kekuasaan

Pada akhirnya, bahasa pejabat tidak dapat dipisahkan dari pertanggungjawaban kekuasaan. Pejabat tidak cukup hanya kompeten membuat kebijakan. Mereka juga harus kompeten menjelaskan kebijakan. Tidak cukup memiliki data; mereka harus mampu menghubungkan data dengan realitas kehidupan warga. Tidak cukup pintar berbicara; mereka harus tahu kapan berbicara, bagaimana berbicara, dan—yang sering kali paling sulit—kapan menahan diri untuk tidak berbicara.Pandangan tersebut seharusnya menjadi prinsip dasar komunikasi pemerintahan.

Kekuasaan memperoleh legitimasi dari masyarakat. Bahasa yang digunakan oleh pemegang kekuasaan harus memperlihatkan penghormatan terhadap masyarakat. Bahasa tidak boleh menjadi alat untuk menutupi kegagalan, menghindari tanggung jawab, atau merendahkan kritik.

Sebaliknya, bahasa harus menjadi jembatan antara kebijakan dan pemahaman publik.Pejabat yang baik bukan hanya pejabat yang mampu mengambil keputusan sulit. Ia juga mampu menjelaskan keputusan tersebut tanpa merendahkan orang yang terdampak. Ia mampu menerima kritik tanpa menganggap kritik sebagai ancaman. Ia mampu mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan wibawa. Sesungguhnya wibawa seorang pejabat tidak runtuh karena ia mengakui kesalahan. Wibawa justru dapat runtuh ketika ia terus-menerus membela ucapan yang jelas-jelas melukai masyarakat.

Sebelum Kata Menjadi Bumerang

Blunder seorang pejabat bukan semata-mata persoalan lidah yang terpeleset. Ia dapat menjadi cermin dari jarak antara kekuasaan dan rakyat. Semakin lebar jarak tersebut, semakin mudah sebuah kalimat kecil berubah menjadi kegaduhan besar. Persoalan sesungguhnya bukan apakah pejabat boleh berbicara. Mereka justru harus berbicara. Masyarakat berhak memperoleh informasi, penjelasan, dan pertanggungjawaban dari para pemegang kekuasaan.Namun, berbicara di ruang publik membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia membutuhkan pengetahuan, kepekaan, empati, konteks, dan tanggung jawab.

Pejabat perlu memahami bahwa masyarakat tidak hanya mendengar kata-kata. Masyarakat membaca sikap di balik kata-kata tersebut. Mereka membandingkannya dengan pengalaman hidup, dengan kebijakan yang mereka rasakan, dengan janji yang pernah disampaikan, dan dengan realitas yang mereka hadapi. Sebelum berbicara, seorang pejabat semestinya bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah yang akan saya katakan benar? Apakah perlu dikatakan sekarang? Apakah kata-kata ini menghormati mereka yang mendengarnya? Dan apakah setelah saya mengatakannya, masyarakat akan merasa lebih dekat dengan pemerintah atau justru semakin jauh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak sederhana. Namun, justru kesederhanaan itulah yang sering dilupakan.Dalam demokrasi, masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang selalu sempurna dalam berbicara. Masyarakat membutuhkan pejabat yang sadar bahwa setiap kata membawa konsekuensi. Ketika sebuah kebijakan buruk masih dapat diperbaiki, kata-kata yang telanjur melukai membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk dipulihkan. Ukuran kedewasaan seorang pejabat bukan hanya terletak pada seberapa banyak ia mampu berbicara, tetapi pada seberapa bijak ia memilih kata.

Oleh karena itu,  dalam ruang publik, tidak semua yang dapat dikatakan harus dikatakan. Dan tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang sama. Ada saatnya seorang pejabat perlu berbicara. Ada saatnya ia perlu menjelaskan. Tetapi ada pula saatnya ia harus berhenti sejenak, mendengarkan rakyat, lalu menimbang kata sebelum berbicara. [T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gubernur Balikomunikasikomunikasi politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

Next Post

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co