25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus sesuatu di kantor desa, menerima bantuan, atau berurusan dengan administrasi. Karena itu, ketika seorang remaja tetangganya meminjam KTP dan menjanjikan uang Rp25 ribu, mungkin tidak ada alasan bagi perempuan 63 tahun itu untuk membayangkan sebuah bencana.  Toh cuma KTP.

Beberapa waktu kemudian, yang datang bukan lagi Rp25 ribu.  Petugas bank tahu-tahu datang menagih utang sekitar Rp10 juta. Mbah Darmi, lansia buta huruf dari Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi orang yang menurut sistem, memiliki utang. Padahal ia merasa tidak pernah mengajukan pinjaman tersebut. Orang tua ditipu remaja.

Lembar Tagihan yang Tak Kelihatan

Di sinilah kisah Mbah Darmi ini, menjadi lebih besar daripada sekadar cerita seorang lansia yang kena tipu. Saya renung-renungkan, jangan-jangan kita semua sesungguhnya Mbah Darmi? Disclaimer, tentu saja bukan dalam arti bahwa seluruh rakyat Indonesia gampang ditipu. Bukan pula bahwa masyarakat kita bodoh.

Bukan itu, justru persoalannya lebih serius. Kita sering kali diminta mengambil keputusan berdasarkan apa yang tampak di depan mata, sementara konsekuensi sebenarnya tersembunyi jauh di belakangnya.

Mbah Darmi melihat Rp25 ribu.  Sistem melihat sebuah identitas yang bisa menghasilkan utang Rp10 juta.  Ada jarak yang sangat lebar antara apa yang diketahui Mbah Darmi dengan apa yang diketahui pihak yang menggunakan identitasnya. Itulah yang disebut ketimpangan informasi. Dan dalam kehidupan bernegara, ketimpangan seperti itu konsekuensinya jauh lebih besar.

Dalam politik, “Rp25 ribu” tentu tidak selalu berbentuk uang. Ia bisa berupa bantuan sosial. Jalan baru. Jembatan. Kantor desa. Lapangan pekerjaan. Investasi. Proyek pembangunan. Janji kesejahteraan. Semuanya bukan sesuatu yang salah. Negara memang harus membangun. Masyarakat memang membutuhkan infrastruktur. Investasi juga diperlukan.

Persoalannya bukan pada pembangunan itu sendiri, namun pada apakah masyarakat mengetahui seluruh harga yang harus dibayar untuk mendapatkan semua itu.   Sebab sesuatu yang terlihat gratis hampir selalu mempunyai biaya. Sebuah jembatan mungkin dibangun dengan anggaran negara. Tetapi dari mana uangnya? Sebuah kawasan hutan dibuka dan menghasilkan aktivitas ekonomi. Tetapi apa yang terjadi pada sumber airnya?

Sebuah perusahaan mungkin membuka lapangan pekerjaan, tanpa terpikirkan bagaimana perubahan ruang hidup masyarakat di sekitarnya.  Sebuah proyek mungkin meningkatkan pendapatan daerah, tapi lupa hitung berapa biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung ketika lingkungan mengalami kerusakan. Pertimbangan semacam itu jarang muncul dalam kampanye politik.  Sebab kampanye memang cenderung menjual sesuatu yang mudah dilihat. 

Jalan lebih mudah difoto daripada kualitas tanah. Jembatan lebih mudah diresmikan daripada kualitas sungai. Gedung lebih mudah diberi prasasti daripada dihitung dampaknya terhadap lingkungan.  Bantuan lebih mudah dibagikan ketimbang menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi jangka panjang akan memengaruhi kehidupan masyarakat.  Maka jangan heran kalau politik sering nampak dengan logika sederhana, lihat manfaatnya sekarang, urusan tagihan nanti. 

Lalu  kasus lingkungan menjadi sangat menarik. Hutan Kalimantan, misalnya, bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dihitung dalam meter kubik kayu. Hutan juga merupakan penyimpan air, habitat satwa, pengatur iklim lokal, penjaga tanah, dan bagian dari sistem kehidupan masyarakat.  Ketika hutan rusak, kerugiannya tidak selalu langsung terlihat. 

Pada hari pertama mungkin yang terlihat justru aktivitas ekonomi.  Ada itu alat berat, jalan, proyek, investasi, jelas ada pekerjaan, ada penerimaan masuk.  Tetapi beberapa tahun kemudian, tagihannya datang dalam bentuk tak disangka. Lihat saja sungai yang berubah, sumber air yang terganggu, tanah yang kehilangan daya dukung, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, atau masyarakat yang makin sulit memperoleh manfaat sumber daya alam yang sebelumnya tersedia di sekitar mereka. Itulah utang ekologis.

Utang ini tidak dikirim melalui surat bank atau petugas yang mengetuk pintu sambil membawa lembar tagihan.  Tetapi tagihannya tetap ada. Dan yang lebih ironis, orang yang menikmati manfaat pembangunan hari ini belum tentu jadi orang yang membayar kerusakan ekologisnya nanti.  Malahan yang membayar anak-anak dan cucu kita.

Bukan Buta Huruf

Maka persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat cerdas atau tidak cerdas. Tidak sesederhana itu.  Lebih tepat adalah literasi. Mbah Darmi memang buta huruf, tapi bagi kita literasi bukan buta huruf. Banyak kita ini buta literasi finansial untuk memahami utang, buta literasi digital untuk memahami bagaimana identitas digunakan, buta literasi politik untuk memahami konsekuensi sebuah kebijakan, buta literasi hukum untuk memahami hak dan kewajiban, juga buta literasi ekologis untuk memahami hubungan antara hutan, air, tanah, iklim, ekonomi, dan kehidupan manusia. 

Orang yang tidak punya literasi tersebut akan lebih mudah membuat keputusan, cuma melihat dari manfaat langsungnya.  Sementara orang yang mempunyai pengetahuan lebih lengkap dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, konsekuensi jangka panjang.

Inilah sebabnya masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang banyak orang berpendidikan tinggi. Yang jauh lebih penting adalah masyarakat yang bisa menerka berapa harganya, siapa yang membayar, dan siapa yang untung. Atau memperkirakan apa akibatnya sepuluh tahun lagi, kalau sumber air hilang dan hutan rusak, siapa pula yang bertanggungjawab memulihkannya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu sebenarnya adalah fondasi demokrasi yang sehat.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada membuat manusia pintar menjawab soal.  Pendidikan harus membuat manusia mampu memprediksi kenyataan. John Dewey sejak lama menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis.

Warga negara yang demokratis bukan hanya orang yang mempunyai hak memilih, tetapi orang yang mampu berpartisipasi secara reflektif dalam kehidupan bersama.  Kalau dalam konteks lingkungan, gagasan ini menjadi semakin penting. Sebab keputusan mengenai hutan, sungai, tambang, energi, pangan, dan tata ruang bukan hanya persoalan teknis para ahli.

Demokrasi yang Lucu

Karena Itu semua menyangkut persoalan publik, maka masyarakat harus mempunyai kemampuan untuk memahami apa yang sedang diputuskan atas nama mereka.  Sebab kalau tidak, demokrasi bisa berubah menjadi sesuatu yang agak lucu. Rakyat diberi hak memilih, tetapi tidak selalu diberi pengetahuan yang cukup untuk memahami seluruh konsekuensi dari pilihannya. 

Cek saja, rakyat diberi pembangunan, tetapi tidak selalu diajak menghitung biaya sosial dan ekologisnya. Diberi janji kesejahteraan, tetapi tidak selalu diperlihatkan neraca tagihannya.  Maka janganlah kita mengatakan bahwa rakyat mudah dibodohi.  Kita harus tanyakan, mengapa rakyat hanya diperlihatkan Rp25 ribunya, tetapi tidak diperlihatkan tagihan Rp10 jutanya?

Itulah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada demokrasi. Saya kira Mbah Darmi bisa menjadi cermin. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kartu identitas yang dipinjamkan demi Rp25 ribu, bisa menyeretnya ke jurang utang jutaan rupiah.  Kita pun sering kali tidak membayangkan bahwa sebuah keputusan yang tampak remeh hari ini dapat menghasilkan persoalan besar bagi generasi mendatang. 

Kita menikmati jalan, listrik, menerima bantuan, menyambut gembira  investasi, tersenyum ketika ada pembangunan. Semua itu sah saja. Cuma, jangan lupa kita perlu tahu nanti tagihannya siapa yang membayar. Seperti kalau hutan habis, lalu sungai mengering, karhutla dan udara penuh asap, siapa yang tanggung. Jawabannya jelas, yaitu mereka yang datang setelah kita. Anak-anak dan cucu-cucu kita, yang hari ini bahkan belum lahir.

Siapa Dia?

Barangkali karena itu, mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya mempunyai makna yang jauh lebih serius daripada sekadar meningkatkan angka kelulusan atau menambah gelar akademik biar keren. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu melihat hubungan antara hari ini dan hariesok. Bangsa yang melek adalah bangsa yang tidak mudah terpukau oleh kenikmatan sesaat, karena paham ada biaya yang mengintai. Bangsa yang dewasa secara demokratis bukan bangsa yang menolak semua pembangunan. Namun mendukung pembangunan, yang memang membangun, bukan yang pembangunan yang meruntuhkan.

Mungkin itulah pelajaran pahit dari kisah Mbah Darmi ini. Bukan soal Rp25 ribu dan bukan pula semata-mata soal utang Rp10 juta. Tetapi tentang betapa mahalnya harga sebuah keputusan ketika seseorang tidak mengetahui konsekuensinya. Dan mungkin Indonesia sedang berada dalam posisi yang sama dengan mbah Darmi. Kita menerima “Rp25 ribu” dalam bentuk banyak macam, tanpa menyadari tagihan yang kelak tiba-tiba datang.  Jadi jangan-jangan… kita semua adalah Mbah Darmi.

Lalu, siapakah sang remaja nakal itu?

Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomijudolkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Topi Para Penyintas Kanker

Next Post

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co