6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus sesuatu di kantor desa, menerima bantuan, atau berurusan dengan administrasi. Karena itu, ketika seorang remaja tetangganya meminjam KTP dan menjanjikan uang Rp25 ribu, mungkin tidak ada alasan bagi perempuan 63 tahun itu untuk membayangkan sebuah bencana.  Toh cuma KTP.

Beberapa waktu kemudian, yang datang bukan lagi Rp25 ribu.  Petugas bank tahu-tahu datang menagih utang sekitar Rp10 juta. Mbah Darmi, lansia buta huruf dari Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi orang yang menurut sistem, memiliki utang. Padahal ia merasa tidak pernah mengajukan pinjaman tersebut. Orang tua ditipu remaja.

Lembar Tagihan yang Tak Kelihatan

Di sinilah kisah Mbah Darmi ini, menjadi lebih besar daripada sekadar cerita seorang lansia yang kena tipu. Saya renung-renungkan, jangan-jangan kita semua sesungguhnya Mbah Darmi? Disclaimer, tentu saja bukan dalam arti bahwa seluruh rakyat Indonesia gampang ditipu. Bukan pula bahwa masyarakat kita bodoh.

Bukan itu, justru persoalannya lebih serius. Kita sering kali diminta mengambil keputusan berdasarkan apa yang tampak di depan mata, sementara konsekuensi sebenarnya tersembunyi jauh di belakangnya.

Mbah Darmi melihat Rp25 ribu.  Sistem melihat sebuah identitas yang bisa menghasilkan utang Rp10 juta.  Ada jarak yang sangat lebar antara apa yang diketahui Mbah Darmi dengan apa yang diketahui pihak yang menggunakan identitasnya. Itulah yang disebut ketimpangan informasi. Dan dalam kehidupan bernegara, ketimpangan seperti itu konsekuensinya jauh lebih besar.

Dalam politik, “Rp25 ribu” tentu tidak selalu berbentuk uang. Ia bisa berupa bantuan sosial. Jalan baru. Jembatan. Kantor desa. Lapangan pekerjaan. Investasi. Proyek pembangunan. Janji kesejahteraan. Semuanya bukan sesuatu yang salah. Negara memang harus membangun. Masyarakat memang membutuhkan infrastruktur. Investasi juga diperlukan.

Persoalannya bukan pada pembangunan itu sendiri, namun pada apakah masyarakat mengetahui seluruh harga yang harus dibayar untuk mendapatkan semua itu.   Sebab sesuatu yang terlihat gratis hampir selalu mempunyai biaya. Sebuah jembatan mungkin dibangun dengan anggaran negara. Tetapi dari mana uangnya? Sebuah kawasan hutan dibuka dan menghasilkan aktivitas ekonomi. Tetapi apa yang terjadi pada sumber airnya?

Sebuah perusahaan mungkin membuka lapangan pekerjaan, tanpa terpikirkan bagaimana perubahan ruang hidup masyarakat di sekitarnya.  Sebuah proyek mungkin meningkatkan pendapatan daerah, tapi lupa hitung berapa biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung ketika lingkungan mengalami kerusakan. Pertimbangan semacam itu jarang muncul dalam kampanye politik.  Sebab kampanye memang cenderung menjual sesuatu yang mudah dilihat. 

Jalan lebih mudah difoto daripada kualitas tanah. Jembatan lebih mudah diresmikan daripada kualitas sungai. Gedung lebih mudah diberi prasasti daripada dihitung dampaknya terhadap lingkungan.  Bantuan lebih mudah dibagikan ketimbang menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi jangka panjang akan memengaruhi kehidupan masyarakat.  Maka jangan heran kalau politik sering nampak dengan logika sederhana, lihat manfaatnya sekarang, urusan tagihan nanti. 

Lalu  kasus lingkungan menjadi sangat menarik. Hutan Kalimantan, misalnya, bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dihitung dalam meter kubik kayu. Hutan juga merupakan penyimpan air, habitat satwa, pengatur iklim lokal, penjaga tanah, dan bagian dari sistem kehidupan masyarakat.  Ketika hutan rusak, kerugiannya tidak selalu langsung terlihat. 

Pada hari pertama mungkin yang terlihat justru aktivitas ekonomi.  Ada itu alat berat, jalan, proyek, investasi, jelas ada pekerjaan, ada penerimaan masuk.  Tetapi beberapa tahun kemudian, tagihannya datang dalam bentuk tak disangka. Lihat saja sungai yang berubah, sumber air yang terganggu, tanah yang kehilangan daya dukung, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, atau masyarakat yang makin sulit memperoleh manfaat sumber daya alam yang sebelumnya tersedia di sekitar mereka. Itulah utang ekologis.

Utang ini tidak dikirim melalui surat bank atau petugas yang mengetuk pintu sambil membawa lembar tagihan.  Tetapi tagihannya tetap ada. Dan yang lebih ironis, orang yang menikmati manfaat pembangunan hari ini belum tentu jadi orang yang membayar kerusakan ekologisnya nanti.  Malahan yang membayar anak-anak dan cucu kita.

Bukan Buta Huruf

Maka persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat cerdas atau tidak cerdas. Tidak sesederhana itu.  Lebih tepat adalah literasi. Mbah Darmi memang buta huruf, tapi bagi kita literasi bukan buta huruf. Banyak kita ini buta literasi finansial untuk memahami utang, buta literasi digital untuk memahami bagaimana identitas digunakan, buta literasi politik untuk memahami konsekuensi sebuah kebijakan, buta literasi hukum untuk memahami hak dan kewajiban, juga buta literasi ekologis untuk memahami hubungan antara hutan, air, tanah, iklim, ekonomi, dan kehidupan manusia. 

Orang yang tidak punya literasi tersebut akan lebih mudah membuat keputusan, cuma melihat dari manfaat langsungnya.  Sementara orang yang mempunyai pengetahuan lebih lengkap dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, konsekuensi jangka panjang.

Inilah sebabnya masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang banyak orang berpendidikan tinggi. Yang jauh lebih penting adalah masyarakat yang bisa menerka berapa harganya, siapa yang membayar, dan siapa yang untung. Atau memperkirakan apa akibatnya sepuluh tahun lagi, kalau sumber air hilang dan hutan rusak, siapa pula yang bertanggungjawab memulihkannya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu sebenarnya adalah fondasi demokrasi yang sehat.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada membuat manusia pintar menjawab soal.  Pendidikan harus membuat manusia mampu memprediksi kenyataan. John Dewey sejak lama menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis.

Warga negara yang demokratis bukan hanya orang yang mempunyai hak memilih, tetapi orang yang mampu berpartisipasi secara reflektif dalam kehidupan bersama.  Kalau dalam konteks lingkungan, gagasan ini menjadi semakin penting. Sebab keputusan mengenai hutan, sungai, tambang, energi, pangan, dan tata ruang bukan hanya persoalan teknis para ahli.

Demokrasi yang Lucu

Karena Itu semua menyangkut persoalan publik, maka masyarakat harus mempunyai kemampuan untuk memahami apa yang sedang diputuskan atas nama mereka.  Sebab kalau tidak, demokrasi bisa berubah menjadi sesuatu yang agak lucu. Rakyat diberi hak memilih, tetapi tidak selalu diberi pengetahuan yang cukup untuk memahami seluruh konsekuensi dari pilihannya. 

Cek saja, rakyat diberi pembangunan, tetapi tidak selalu diajak menghitung biaya sosial dan ekologisnya. Diberi janji kesejahteraan, tetapi tidak selalu diperlihatkan neraca tagihannya.  Maka janganlah kita mengatakan bahwa rakyat mudah dibodohi.  Kita harus tanyakan, mengapa rakyat hanya diperlihatkan Rp25 ribunya, tetapi tidak diperlihatkan tagihan Rp10 jutanya?

Itulah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada demokrasi. Saya kira Mbah Darmi bisa menjadi cermin. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kartu identitas yang dipinjamkan demi Rp25 ribu, bisa menyeretnya ke jurang utang jutaan rupiah.  Kita pun sering kali tidak membayangkan bahwa sebuah keputusan yang tampak remeh hari ini dapat menghasilkan persoalan besar bagi generasi mendatang. 

Kita menikmati jalan, listrik, menerima bantuan, menyambut gembira  investasi, tersenyum ketika ada pembangunan. Semua itu sah saja. Cuma, jangan lupa kita perlu tahu nanti tagihannya siapa yang membayar. Seperti kalau hutan habis, lalu sungai mengering, karhutla dan udara penuh asap, siapa yang tanggung. Jawabannya jelas, yaitu mereka yang datang setelah kita. Anak-anak dan cucu-cucu kita, yang hari ini bahkan belum lahir.

Siapa Dia?

Barangkali karena itu, mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya mempunyai makna yang jauh lebih serius daripada sekadar meningkatkan angka kelulusan atau menambah gelar akademik biar keren. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu melihat hubungan antara hari ini dan hariesok. Bangsa yang melek adalah bangsa yang tidak mudah terpukau oleh kenikmatan sesaat, karena paham ada biaya yang mengintai. Bangsa yang dewasa secara demokratis bukan bangsa yang menolak semua pembangunan. Namun mendukung pembangunan, yang memang membangun, bukan yang pembangunan yang meruntuhkan.

Mungkin itulah pelajaran pahit dari kisah Mbah Darmi ini. Bukan soal Rp25 ribu dan bukan pula semata-mata soal utang Rp10 juta. Tetapi tentang betapa mahalnya harga sebuah keputusan ketika seseorang tidak mengetahui konsekuensinya. Dan mungkin Indonesia sedang berada dalam posisi yang sama dengan mbah Darmi. Kita menerima “Rp25 ribu” dalam bentuk banyak macam, tanpa menyadari tagihan yang kelak tiba-tiba datang.  Jadi jangan-jangan… kita semua adalah Mbah Darmi.

Lalu, siapakah sang remaja nakal itu?

Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomijudolkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Topi Para Penyintas Kanker

Next Post

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co