17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus sesuatu di kantor desa, menerima bantuan, atau berurusan dengan administrasi. Karena itu, ketika seorang remaja tetangganya meminjam KTP dan menjanjikan uang Rp25 ribu, mungkin tidak ada alasan bagi perempuan 63 tahun itu untuk membayangkan sebuah bencana.  Toh cuma KTP.

Beberapa waktu kemudian, yang datang bukan lagi Rp25 ribu.  Petugas bank tahu-tahu datang menagih utang sekitar Rp10 juta. Mbah Darmi, lansia buta huruf dari Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi orang yang menurut sistem, memiliki utang. Padahal ia merasa tidak pernah mengajukan pinjaman tersebut. Orang tua ditipu remaja.

Lembar Tagihan yang Tak Kelihatan

Di sinilah kisah Mbah Darmi ini, menjadi lebih besar daripada sekadar cerita seorang lansia yang kena tipu. Saya renung-renungkan, jangan-jangan kita semua sesungguhnya Mbah Darmi? Disclaimer, tentu saja bukan dalam arti bahwa seluruh rakyat Indonesia gampang ditipu. Bukan pula bahwa masyarakat kita bodoh.

Bukan itu, justru persoalannya lebih serius. Kita sering kali diminta mengambil keputusan berdasarkan apa yang tampak di depan mata, sementara konsekuensi sebenarnya tersembunyi jauh di belakangnya.

Mbah Darmi melihat Rp25 ribu.  Sistem melihat sebuah identitas yang bisa menghasilkan utang Rp10 juta.  Ada jarak yang sangat lebar antara apa yang diketahui Mbah Darmi dengan apa yang diketahui pihak yang menggunakan identitasnya. Itulah yang disebut ketimpangan informasi. Dan dalam kehidupan bernegara, ketimpangan seperti itu konsekuensinya jauh lebih besar.

Dalam politik, โ€œRp25 ribuโ€ tentu tidak selalu berbentuk uang. Ia bisa berupa bantuan sosial. Jalan baru. Jembatan. Kantor desa. Lapangan pekerjaan. Investasi. Proyek pembangunan. Janji kesejahteraan. Semuanya bukan sesuatu yang salah. Negara memang harus membangun. Masyarakat memang membutuhkan infrastruktur. Investasi juga diperlukan.

Persoalannya bukan pada pembangunan itu sendiri, namun pada apakah masyarakat mengetahui seluruh harga yang harus dibayar untuk mendapatkan semua itu.   Sebab sesuatu yang terlihat gratis hampir selalu mempunyai biaya. Sebuah jembatan mungkin dibangun dengan anggaran negara. Tetapi dari mana uangnya? Sebuah kawasan hutan dibuka dan menghasilkan aktivitas ekonomi. Tetapi apa yang terjadi pada sumber airnya?

Sebuah perusahaan mungkin membuka lapangan pekerjaan, tanpa terpikirkan bagaimana perubahan ruang hidup masyarakat di sekitarnya.  Sebuah proyek mungkin meningkatkan pendapatan daerah, tapi lupa hitung berapa biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung ketika lingkungan mengalami kerusakan. Pertimbangan semacam itu jarang muncul dalam kampanye politik.  Sebab kampanye memang cenderung menjual sesuatu yang mudah dilihat. 

Jalan lebih mudah difoto daripada kualitas tanah. Jembatan lebih mudah diresmikan daripada kualitas sungai. Gedung lebih mudah diberi prasasti daripada dihitung dampaknya terhadap lingkungan.  Bantuan lebih mudah dibagikan ketimbang menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi jangka panjang akan memengaruhi kehidupan masyarakat.  Maka jangan heran kalau politik sering nampak dengan logika sederhana, lihat manfaatnya sekarang, urusan tagihan nanti. 

Lalu  kasus lingkungan menjadi sangat menarik. Hutan Kalimantan, misalnya, bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dihitung dalam meter kubik kayu. Hutan juga merupakan penyimpan air, habitat satwa, pengatur iklim lokal, penjaga tanah, dan bagian dari sistem kehidupan masyarakat.  Ketika hutan rusak, kerugiannya tidak selalu langsung terlihat. 

Pada hari pertama mungkin yang terlihat justru aktivitas ekonomi.  Ada itu alat berat, jalan, proyek, investasi, jelas ada pekerjaan, ada penerimaan masuk.  Tetapi beberapa tahun kemudian, tagihannya datang dalam bentuk tak disangka. Lihat saja sungai yang berubah, sumber air yang terganggu, tanah yang kehilangan daya dukung, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, atau masyarakat yang makin sulit memperoleh manfaat sumber daya alam yang sebelumnya tersedia di sekitar mereka. Itulah utang ekologis.

Utang ini tidak dikirim melalui surat bank atau petugas yang mengetuk pintu sambil membawa lembar tagihan.  Tetapi tagihannya tetap ada. Dan yang lebih ironis, orang yang menikmati manfaat pembangunan hari ini belum tentu jadi orang yang membayar kerusakan ekologisnya nanti.  Malahan yang membayar anak-anak dan cucu kita.

Bukan Buta Huruf

Maka persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat cerdas atau tidak cerdas. Tidak sesederhana itu.  Lebih tepat adalah literasi. Mbah Darmi memang buta huruf, tapi bagi kita literasi bukan buta huruf. Banyak kita ini buta literasi finansial untuk memahami utang, buta literasi digital untuk memahami bagaimana identitas digunakan, buta literasi politik untuk memahami konsekuensi sebuah kebijakan, buta literasi hukum untuk memahami hak dan kewajiban, juga buta literasi ekologis untuk memahami hubungan antara hutan, air, tanah, iklim, ekonomi, dan kehidupan manusia. 

Orang yang tidak punya literasi tersebut akan lebih mudah membuat keputusan, cuma melihat dari manfaat langsungnya.  Sementara orang yang mempunyai pengetahuan lebih lengkap dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, konsekuensi jangka panjang.

Inilah sebabnya masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang banyak orang berpendidikan tinggi. Yang jauh lebih penting adalah masyarakat yang bisa menerka berapa harganya, siapa yang membayar, dan siapa yang untung. Atau memperkirakan apa akibatnya sepuluh tahun lagi, kalau sumber air hilang dan hutan rusak, siapa pula yang bertanggungjawab memulihkannya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu sebenarnya adalah fondasi demokrasi yang sehat.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada membuat manusia pintar menjawab soal.  Pendidikan harus membuat manusia mampu memprediksi kenyataan. John Dewey sejak lama menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis.

Warga negara yang demokratis bukan hanya orang yang mempunyai hak memilih, tetapi orang yang mampu berpartisipasi secara reflektif dalam kehidupan bersama.  Kalau dalam konteks lingkungan, gagasan ini menjadi semakin penting. Sebab keputusan mengenai hutan, sungai, tambang, energi, pangan, dan tata ruang bukan hanya persoalan teknis para ahli.

Demokrasi yang Lucu

Karena Itu semua menyangkut persoalan publik, maka masyarakat harus mempunyai kemampuan untuk memahami apa yang sedang diputuskan atas nama mereka.  Sebab kalau tidak, demokrasi bisa berubah menjadi sesuatu yang agak lucu. Rakyat diberi hak memilih, tetapi tidak selalu diberi pengetahuan yang cukup untuk memahami seluruh konsekuensi dari pilihannya. 

Cek saja, rakyat diberi pembangunan, tetapi tidak selalu diajak menghitung biaya sosial dan ekologisnya. Diberi janji kesejahteraan, tetapi tidak selalu diperlihatkan neraca tagihannya.  Maka janganlah kita mengatakan bahwa rakyat mudah dibodohi.  Kita harus tanyakan, mengapa rakyat hanya diperlihatkan Rp25 ribunya, tetapi tidak diperlihatkan tagihan Rp10 jutanya?

Itulah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada demokrasi. Saya kira Mbah Darmi bisa menjadi cermin. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kartu identitas yang dipinjamkan demi Rp25 ribu, bisa menyeretnya ke jurang utang jutaan rupiah.  Kita pun sering kali tidak membayangkan bahwa sebuah keputusan yang tampak remeh hari ini dapat menghasilkan persoalan besar bagi generasi mendatang. 

Kita menikmati jalan, listrik, menerima bantuan, menyambut gembira  investasi, tersenyum ketika ada pembangunan. Semua itu sah saja. Cuma, jangan lupa kita perlu tahu nanti tagihannya siapa yang membayar. Seperti kalau hutan habis, lalu sungai mengering, karhutla dan udara penuh asap, siapa yang tanggung. Jawabannya jelas, yaitu mereka yang datang setelah kita. Anak-anak dan cucu-cucu kita, yang hari ini bahkan belum lahir.

Siapa Dia?

Barangkali karena itu, mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya mempunyai makna yang jauh lebih serius daripada sekadar meningkatkan angka kelulusan atau menambah gelar akademik biar keren. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu melihat hubungan antara hari ini dan hariesok. Bangsa yang melek adalah bangsa yang tidak mudah terpukau oleh kenikmatan sesaat, karena paham ada biaya yang mengintai. Bangsa yang dewasa secara demokratis bukan bangsa yang menolak semua pembangunan. Namun mendukung pembangunan, yang memang membangun, bukan yang pembangunan yang meruntuhkan.

Mungkin itulah pelajaran pahit dari kisah Mbah Darmi ini. Bukan soal Rp25 ribu dan bukan pula semata-mata soal utang Rp10 juta. Tetapi tentang betapa mahalnya harga sebuah keputusan ketika seseorang tidak mengetahui konsekuensinya. Dan mungkin Indonesia sedang berada dalam posisi yang sama dengan mbah Darmi. Kita menerima โ€œRp25 ribuโ€ dalam bentuk banyak macam, tanpa menyadari tagihan yang kelak tiba-tiba datang.  Jadi jangan-jangan… kita semua adalah Mbah Darmi.

Lalu, siapakah sang remaja nakal itu?

Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomijudolkehidupan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Topi Para Penyintas Kanker

Next Post

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali โ€™โ€™Diam Kamuโ€™โ€™

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali โ€™โ€™Diam Kamuโ€™โ€™

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali โ€™โ€™Diam Kamuโ€™โ€™

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co