31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

I Gede Sena Putrawan by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
in Opini
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Kawasan titik nol Kota Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya masih dalam tahap sayembara, tetapi publik mengenalnya dengan nama “titik nol Singaraja”. Sebuah kawasan pemerintahan yang direnovasi sedemikian rupa untuk mengembalikan arsitektur dan sentuhan Buleleng masa lampau.

Disamping dari perdebatan yang muncul tentang prioritas alokasi anggaran dalam pembangunannya, proyek yang memberikan nuansa Malioboro ini faktanya memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan. Uniknya, daya tarik tersebut lahir jauh sebelum proyek pembangunannya rampung secara keseluruhan.

Tingginya daya tarik akan titik nol ditandai dengan meningkatnya volume keramaian pada area tersebut, utamanya pada sore hari. Banyak masyarakat yang berkumpul di trotoar yang mengelilingi tugu Singa Ambara Raja itu. Ada yang sekedar duduk menikmati sore, ada yang mengambil gambar, hingga ada yang mengiringi sore dengan alunan musik yang menambah syahdu suasana.

Sebagai seorang mahasiswa ekonomi, hadir dan berinteraksi di lokasi tersebut bukan hanya membuat saya menikmati suasananya, tetapi juga membuat saya mengaitkan banyak hal yang ditemui kepada teori-teori ekonomi yang dipelajari di kelas. Dengan berbekal 4 semester yang telah saya lalui, pikiran saya secara tidak sengaja menemukan sebuah potensi ekonomi yang terbuang dan bahkan tidak banyak diperbincankan tentang proyek ini.

Hal yang memantik ketertarikan saya untuk berpikir adalah keramaian yang ada di kawasan tersebut. Dalam ekonomi publik, keramaian yang dihasilkan oleh suatu proyek pembangunan, khususnya barang publik dapat dikategorikan sebagai eksternalitas. Dalam konteks ini, keramaian dapat masuk dalam 2 kategori sekaligus. Kategori pertama adalah eksternalitas negatif, yakni kondisi ketika keramaian tersebut menimbulkan kemacetan dan sampah yang berserakan. Kategori kedua adalah eksternalitas positif, yakni ketika keramaian tersebut dimanfaatkan untuk memutar roda perekonomian.

Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Sumber foto: bisnis.com

Dalam pengamatan saya, eksternalitas negatif sangat terlihat jelas pada awal-awal kawasan tersebut dipadati pengunjung. Banyak yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan. Namun, respon cepat dalam mengerahkan dinas perhubungan serta membuka lahan-lahan parkir, seperti pada area makam pahlawan sudah cukup dalam mengatasi permasalahan ini.

Di sisi lain, respon cepat tidak saya lihat dalam konteks potensi eksternalitas positif. Dalam analisis saya, jika keramaian pada titik nol ingin ditransformasikan menjadi eksternalitas positif, maka diperlukan sebuah langkah untuk menyediakan wadah bagi keramaian tersebut dalam memutar roda perekonomian. Dan solusinya dapat berupa penyediaan UMKM di sekitar area tersebut, khususnya pada lapangan di dalam area rumah jabatan.

Meski saat saya datang kesana belum terdapat satu pun UMKM, dalam beberapa kanal berita sudah pernah disampaikan rencana untuk membuat wadah bagi UMKM dalam kawasan tersebut pada rangkaian Buleleng Festival. Rencana tersebut juga patut diapresiasi. Namun, melihat adanya keramaian yang muncul lebih cepat, rasanya potensi perputaran ekonomi sayang untuk tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kondisi belum optimalnya pemanfaatan potensi perputaran ekonomi ini mengingatkan saya pada konsep dasar ekonomi berikutnya, yakni opportunity cost (biaya peluang). Konsep ini menjelaskan bahwa setiap keputusan yang diambil dalam ekonomi, akan selalu ada peluang yang harus dikorbankan. Peluang yang dikorbankan itu tidak harus dalam bentuk nominal, tetapi juga perputaran ekonomi yang menguap setiap sore, seperti dalam konteks ini.

Melihat kondisi tersebut, terbesit pertanyaan besar dalam benak saya “Mengapa pemerintah tidak memberikan ruang saja kepada para UMKM?”

Setelah berpikir beberapa saat, hipotesis yang menurut saya bisa diangkat untuk menjawab pertanyaan tersebut berpijak pada sebuah teori dalam ekonomi kelembagaan, yakni Institutional Lag. Teori ini menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi sangat cepat di lapangan tidak bisa diikuti dengan kecepatan yang sama oleh regulasi serta birokrasi . Dalam konteks ini, keramaian di lapangan ternyata lebih cepat muncul, bahkan sebelum proyeknya rampung. Kecepatan tersebut tentu sulit untuk diikuti oleh lahirnya kebijakan penyediaan UMKM saat ini.

Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Dok. pribadi

Keterlambatan itu tidak lain karena proses pengambilan kebijakan yang panjang dan adanya birokrasi yang sulit. Pemerintah tidak bisa menyusun kebijakan dengan sangat cepat karena tentu ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, mulai dari penyediaan tempat, pencarian mitra, hingga yang terpenting kebersihan. Selain itu, birokrasi mengharuskan adanya keperluan administratif, perencanaan, hingga koordinasi antar institusi yang juga membuat pengambilan kebijakan menjadi lambat. Pada akhirnya dampak dari adanya Institutional lag ini adalah realisasi yang menunggu momentum seremonial, seperti Buleleng Festival saja. 

Setelah memikirkan hal ini, muncul kesadaran dalam diri saya bahwa kebijakan publik di sekitar kita sering kali masih bersifat reaktif dalam jangka panjang dan belum bisa adaptif dalam jangka pendek. Dalam disiplin ekonomi,lambatnya kebijakan publik bisa saja menghasilkan Opportunity Cost yang bahkan leih besar daripada ini ketika kondisinya berbeda.

Berdasarkan analisis ini, titik nol Singaraja pada akhirnya tidak hanya sekedar menjadi proyek yang mengembalikan nuansa masa lampau, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebijakan publik berhasil menciptakan daya tarik massa dan mampu menjadi potensi pendorong perekonomian. Namun, tanpa adanya kebijakan pendukung yang adaptif, maka potensi tersebut hanya akan terbuang akibat adanya keterlambatan birokrasi.[T]

Penulis: Sena Putrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengekonomiKota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

Next Post

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

I Gede Sena Putrawan

I Gede Sena Putrawan

Lahir: Singaraja. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya serta Presidium Nasional Kajian dan Aksi Strategis Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? ----[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co