11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

I Gede Sena Putrawan by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
in Opini
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

Kawasan titik nol Kota Singaraja | Foto: Diskominfo Buleleng

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya masih dalam tahap sayembara, tetapi publik mengenalnya dengan nama “titik nol Singaraja”. Sebuah kawasan pemerintahan yang direnovasi sedemikian rupa untuk mengembalikan arsitektur dan sentuhan Buleleng masa lampau.

Disamping dari perdebatan yang muncul tentang prioritas alokasi anggaran dalam pembangunannya, proyek yang memberikan nuansa Malioboro ini faktanya memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan. Uniknya, daya tarik tersebut lahir jauh sebelum proyek pembangunannya rampung secara keseluruhan.

Tingginya daya tarik akan titik nol ditandai dengan meningkatnya volume keramaian pada area tersebut, utamanya pada sore hari. Banyak masyarakat yang berkumpul di trotoar yang mengelilingi tugu Singa Ambara Raja itu. Ada yang sekedar duduk menikmati sore, ada yang mengambil gambar, hingga ada yang mengiringi sore dengan alunan musik yang menambah syahdu suasana.

Sebagai seorang mahasiswa ekonomi, hadir dan berinteraksi di lokasi tersebut bukan hanya membuat saya menikmati suasananya, tetapi juga membuat saya mengaitkan banyak hal yang ditemui kepada teori-teori ekonomi yang dipelajari di kelas. Dengan berbekal 4 semester yang telah saya lalui, pikiran saya secara tidak sengaja menemukan sebuah potensi ekonomi yang terbuang dan bahkan tidak banyak diperbincankan tentang proyek ini.

Hal yang memantik ketertarikan saya untuk berpikir adalah keramaian yang ada di kawasan tersebut. Dalam ekonomi publik, keramaian yang dihasilkan oleh suatu proyek pembangunan, khususnya barang publik dapat dikategorikan sebagai eksternalitas. Dalam konteks ini, keramaian dapat masuk dalam 2 kategori sekaligus. Kategori pertama adalah eksternalitas negatif, yakni kondisi ketika keramaian tersebut menimbulkan kemacetan dan sampah yang berserakan. Kategori kedua adalah eksternalitas positif, yakni ketika keramaian tersebut dimanfaatkan untuk memutar roda perekonomian.

Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Sumber foto: bisnis.com

Dalam pengamatan saya, eksternalitas negatif sangat terlihat jelas pada awal-awal kawasan tersebut dipadati pengunjung. Banyak yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan. Namun, respon cepat dalam mengerahkan dinas perhubungan serta membuka lahan-lahan parkir, seperti pada area makam pahlawan sudah cukup dalam mengatasi permasalahan ini.

Di sisi lain, respon cepat tidak saya lihat dalam konteks potensi eksternalitas positif. Dalam analisis saya, jika keramaian pada titik nol ingin ditransformasikan menjadi eksternalitas positif, maka diperlukan sebuah langkah untuk menyediakan wadah bagi keramaian tersebut dalam memutar roda perekonomian. Dan solusinya dapat berupa penyediaan UMKM di sekitar area tersebut, khususnya pada lapangan di dalam area rumah jabatan.

Meski saat saya datang kesana belum terdapat satu pun UMKM, dalam beberapa kanal berita sudah pernah disampaikan rencana untuk membuat wadah bagi UMKM dalam kawasan tersebut pada rangkaian Buleleng Festival. Rencana tersebut juga patut diapresiasi. Namun, melihat adanya keramaian yang muncul lebih cepat, rasanya potensi perputaran ekonomi sayang untuk tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kondisi belum optimalnya pemanfaatan potensi perputaran ekonomi ini mengingatkan saya pada konsep dasar ekonomi berikutnya, yakni opportunity cost (biaya peluang). Konsep ini menjelaskan bahwa setiap keputusan yang diambil dalam ekonomi, akan selalu ada peluang yang harus dikorbankan. Peluang yang dikorbankan itu tidak harus dalam bentuk nominal, tetapi juga perputaran ekonomi yang menguap setiap sore, seperti dalam konteks ini.

Melihat kondisi tersebut, terbesit pertanyaan besar dalam benak saya “Mengapa pemerintah tidak memberikan ruang saja kepada para UMKM?”

Setelah berpikir beberapa saat, hipotesis yang menurut saya bisa diangkat untuk menjawab pertanyaan tersebut berpijak pada sebuah teori dalam ekonomi kelembagaan, yakni Institutional Lag. Teori ini menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi sangat cepat di lapangan tidak bisa diikuti dengan kecepatan yang sama oleh regulasi serta birokrasi . Dalam konteks ini, keramaian di lapangan ternyata lebih cepat muncul, bahkan sebelum proyeknya rampung. Kecepatan tersebut tentu sulit untuk diikuti oleh lahirnya kebijakan penyediaan UMKM saat ini.

Kawasan Titik Nol Kota Singaraja | Dok. pribadi

Keterlambatan itu tidak lain karena proses pengambilan kebijakan yang panjang dan adanya birokrasi yang sulit. Pemerintah tidak bisa menyusun kebijakan dengan sangat cepat karena tentu ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, mulai dari penyediaan tempat, pencarian mitra, hingga yang terpenting kebersihan. Selain itu, birokrasi mengharuskan adanya keperluan administratif, perencanaan, hingga koordinasi antar institusi yang juga membuat pengambilan kebijakan menjadi lambat. Pada akhirnya dampak dari adanya Institutional lag ini adalah realisasi yang menunggu momentum seremonial, seperti Buleleng Festival saja. 

Setelah memikirkan hal ini, muncul kesadaran dalam diri saya bahwa kebijakan publik di sekitar kita sering kali masih bersifat reaktif dalam jangka panjang dan belum bisa adaptif dalam jangka pendek. Dalam disiplin ekonomi,lambatnya kebijakan publik bisa saja menghasilkan Opportunity Cost yang bahkan leih besar daripada ini ketika kondisinya berbeda.

Berdasarkan analisis ini, titik nol Singaraja pada akhirnya tidak hanya sekedar menjadi proyek yang mengembalikan nuansa masa lampau, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebijakan publik berhasil menciptakan daya tarik massa dan mampu menjadi potensi pendorong perekonomian. Namun, tanpa adanya kebijakan pendukung yang adaptif, maka potensi tersebut hanya akan terbuang akibat adanya keterlambatan birokrasi.[T]

Penulis: Sena Putrawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengekonomiKota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

Next Post

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

I Gede Sena Putrawan

I Gede Sena Putrawan

Lahir: Singaraja. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya serta Presidium Nasional Kajian dan Aksi Strategis Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia

Related Posts

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? ----[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co