KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) dipenuhi stan-stan pameran. Di hadapan warga sekolah, murid-murid baru untuk pertama kalinya mempresentasikan hasil karya mereka sebagai bagian dari perjalanan awal menjadi keluarga besar Kesbam.
Pameran tersebut merupakan salah satu rangkaian Ignite Fest Kesbam 2026, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Seluruh murid baru yang terbagi ke dalam 14 kelompok menampilkan hasil proyek mengolah barang bekas menjadi produk bernilai guna. Ada yang membuat pot bunga, tempat sampah, pajangan, keset, tas, tempat penyimpanan, hingga berbagai kerajinan lain. Setiap kelompok tidak hanya memamerkan hasil karya, tetapi juga mempresentasikan proses kreatifnya di hadapan tim penilai dan para pengunjung.
Suasana semakin hidup ketika warga sekolah mulai berkeliling mengunjungi setiap stan. Tidak hanya melihat hasil akhir, para pengunjung dan tim penilai juga mengajukan berbagai pertanyaan mengenai bahan yang digunakan, tingkat kesulitan, hingga manfaat produk dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing anggota kelompok bergantian menjadi presenter, menjelaskan konsep sekaligus menjawab pertanyaan dari tim penilai maupun pengunjung dengan percaya diri.

Bagi sebagian murid baru, kegiatan ini menjadi pengalaman berbeda dibandingkan masa pengenalan lingkungan sekolah pada umumnya. Mereka tidak hanya menjadi peserta yang menerima materi, tetapi juga diberi ruang untuk berkarya, berdiskusi, menyelesaikan masalah bersama kelompok, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya melalui presentasi.
Di salah satu stan, sebuah pot tanaman dengan desain bergambar sapi berhasil menarik perhatian banyak pengunjung. Pot tersebut dipadukan dengan tanaman hias sehingga dapat digunakan untuk mempercantik ruangan maupun halaman. Di stan lain, tampak berbagai kerajinan berbahan limbah tekstil disusun rapi, memperlihatkan bagaimana bahan-bahan yang tidak lagi digunakan dapat memiliki fungsi baru.
Sementara itu, beberapa kelompok lain menampilkan alat dan wadah hasil modifikasi dari bahan bekas. Mereka menjelaskan bagaimana proses perancangan dilakukan mulai dari menentukan konsep, memilih material, hingga menyusun produk agar memiliki nilai guna. Setiap presentasi berlangsung santai, tetapi tetap menunjukkan keseriusan para peserta dalam menyampaikan hasil kerja mereka.


Salah seorang peserta, sebut saja Novi (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat merasa gugup karena harus mempresentasikan hasil karya di depan guru dan banyak pengunjung.
“Melalui proyek ini, kami belajar bekerja sama, berdiskusi, dan berani menjelaskan hasil karya di depan banyak orang. Rasanya bangga karena apa yang kami buat mendapat apresiasi dari guru dan teman-teman,” ujarnya.
Ketua Panitia OSIS, Putu Dihari Purnama, mengatakan bahwa pameran sengaja dirancang agar murid baru memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Kami ingin Ignite Fest menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan. Pameran ini membuktikan bahwa setiap murid memiliki potensi yang berbeda. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi juga tempat mengembangkan kreativitas, keberanian, dan kolaborasi.”
Konsep tersebut sejalan dengan semangat Ignite Fest yang tahun ini menjadi wajah baru pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar. Untuk pertama kalinya, MPLS dikemas dalam bentuk festival bertajuk ‘Ignite Fest (Igniting Health-Heroes Generation Festival)’ yang berlangsung selama lima hari, 13–17 Juli 2026. Sebanyak 289 murid baru mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan rasa percaya diri sejak awal mereka memasuki dunia pendidikan di Kesbam.

Nama Ignite dipilih sebagai simbol menyalakan semangat baru. Melalui slogan “Spark Your Light, Own Your Future”, setiap murid diajak menemukan potensi terbaik dalam dirinya sekaligus berani menentukan masa depan. Seluruh kegiatan juga berpijak pada tema “RAMAH (Responsif, Adaptif, Mandiri, Aktif, dan Harmonis) di Era Society 5.0”, yang menjadi nilai dasar dalam membentuk karakter murid baru.
Karena itulah, pameran bukan sekadar ajang memamerkan hasil karya. Di balik setiap produk terdapat proses berpikir, berdiskusi, berkolaborasi, hingga keberanian menyampaikan ide di hadapan orang lain. Semua pengalaman tersebut menjadi bekal awal yang bermakna tinimbang hanya mengenal ruang kelas atau tata tertib sekolah.
Ketua Panitia Guru, Kompiang Merta Yasa, S.Pd., juga menegaskan bahwa konsep festival dipilih agar murid baru menjalani MPLS dalam suasana menyenangkan. Dengan pendekatan lebih interaktif, proses adaptasi diharapkan berlangsung lebih alami sehingga peserta dapat mengenal lingkungan sekolah tanpa rasa canggung maupun tertekan.

Menjelang berakhirnya kegiatan, satu per satu juri menyelesaikan penilaian di seluruh stan. Meski ada kelompok yang keluar sebagai pemenang, semangat kebersamaan tetap terasa di antara para peserta. Mereka saling mengunjungi stan lain, memberikan apresiasi, sekaligus bertukar cerita mengenai proses pembuatan karya masing-masing.
Pada akhirnya, pameran tersebut menjadi lebih dari sekadar proyek. Ia menjadi ruang perjumpaan pertama bagi para murid baru untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam berkarya. Dari barang bekas yang disulap menjadi produk bernilai guna, lahir pula pelajaran tentang kepedulian terhadap lingkungan, kerja sama, komunikasi, dan keberanian tampil di depan publik.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:
























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





