“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu.” Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu mengandung paradoks yang menarik. Manusia selalu berbicara tentang masa depan, tetapi kerap lupa pada tempat yang memungkinkan masa depan itu lahir. Kita sibuk membicarakan pembangunan, teknologi, dan kemajuan, sementara bumi perlahan dipahami hanya sebagai ruang untuk dieksploitasi.
Padahal, jauh sebelum manusia mengenal kota, negara, bahkan peradaban, bumi telah lebih dahulu menjadi ruang yang memungkinkan kehidupan bertumbuh.
Kesadaran itulah yang muncul ketika membaca Genesis, karya keramik Ida Ayu Gede Artayani. Melalui medium stoneware clay, Artayani tidak sedang menghadirkan representasi tubuh manusia semata. Ia membangun sebuah metafora tentang asal-usul kehidupan.
Bentuk yang menyerupai rahim, figur janin, dua wajah laki-laki dan perempuan, serta tekstur tanah yang dibiarkan tetap organik berpadu menjadi bahasa visual yang mengajak kita memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam. Dalam konsep yang menyertai karya, rahim dipahami sebagai metafora “Rahim Ibu Bumi”, tempat seluruh kehidupan memperoleh kesempatan untuk lahir dan berkembang.
Membaca karya ini tidak cukup berhenti pada simbol-simbol yang tampak di permukaannya. Genesis bukan teka-teki visual yang harus dipecahkan melalui satu jawaban. Ia lebih menyerupai pintu yang membuka percakapan tentang sesuatu yang semakin jarang dibicarakan: dari mana kehidupan bermula, dan bagaimana manusia menjaga ruang yang memungkinkan kehidupan itu terus berlangsung.
Di sinilah seni memperlihatkan cara kerjanya yang khas. Ketika laporan ilmiah berbicara melalui data, seni berbicara melalui pengalaman. Ketika statistik menunjukkan laju kerusakan hutan atau kenaikan suhu bumi, karya seni menghadirkan pengalaman yang lebih sunyi. Ia tidak berusaha membuktikan sesuatu. Ia mengajak manusia mengingat.
Dan ingatan pertama manusia selalu berkaitan dengan kehidupan yang bertumbuh dalam sebuah ruang perlindungan.
Sebagai medium, keramik memiliki kedekatan yang istimewa dengan gagasan tersebut. Tidak banyak material yang memiliki hubungan sedemikian panjang dengan perjalanan peradaban manusia. Tanah liat telah menemani manusia sejak ribuan tahun silam, menjadi tempayan untuk menyimpan air, periuk untuk memasak makanan, gentong untuk menyimpan hasil panen, hingga berbagai benda ritual yang menghubungkan manusia dengan dunia yang dianggap suci. Tanah tidak hanya menjadi bahan baku kebudayaan, tetapi juga bagian dari imajinasi manusia mengenai penciptaan. Dalam banyak tradisi, manusia dipercaya berasal dari tanah dan pada akhirnya kembali menjadi tanah.
Pilihan menggunakan stoneware clay karena itu bukan sekadar persoalan teknis. Material menjadi bagian dari gagasan. Tanah yang dibentuk, dikeringkan, lalu dibakar hingga mengeras membawa ingatan tentang proses kehidupan itu sendiri: lahir, bertumbuh, mengalami perubahan, lalu bertahan menghadapi waktu.

Ida Ayu Gede Artayani memahami kedekatan simbolik itu. Alih-alih menyembunyikan karakter materialnya di balik glasir yang mengilap, ia membiarkan tekstur tanah tetap berbicara. Permukaan karya dipenuhi lipatan, guratan, dan tonjolan yang mengingatkan pada permukaan bumi, batuan yang tergerus usia, atau kulit pohon yang menyimpan jejak waktu. Dalam penjelasan karyanya, pemilihan warna-warna alam dan tekstur organik memang dimaksudkan untuk menegaskan hubungan erat antara manusia dan alam.
Di titik inilah Genesis mulai bergerak menjauh dari sekadar karya keramik. Ia menjadi cara untuk membaca bumi. Genesis menghadirkan bentuk yang sederhana, tetapi tidak sederhana untuk dibaca. Dari sisi depan tampak figur yang menyerupai janin. Tubuhnya tidak digambarkan secara anatomis, melainkan hadir sebagai isyarat tentang kehidupan yang sedang bertumbuh. Pada sisi belakang muncul dua wajah, laki-laki dan perempuan, yang dibentuk menyerupai topeng. Keduanya tidak tampil sebagai potret individual. Tidak ada identitas yang ingin ditegaskan. Yang dihadirkan adalah dua prinsip yang saling melengkapi.
Dalam penjelasan konseptualnya, Ida Ayu Gede Artayani mengaitkan kedua figur tersebut dengan konsep Purusha dan Prakriti. Purusha melambangkan kesadaran, sedangkan Prakriti merupakan prinsip material yang melahirkan kehidupan. Pertemuan keduanya menjadi syarat lahirnya semesta. Penafsiran itu diperkuat oleh penggunaan topeng sebagai simbol ego manusia. Karya ini mengajak manusia menanggalkan keakuannya agar kembali menemukan hubungan yang selaras dengan alam.
Namun, daya tarik Genesis justru muncul ketika pembacaan tidak berhenti pada penjelasan konseptual tersebut. Karya seni yang baik selalu memberi ruang bagi tafsir baru. Pada Genesis, perhatian lebih tertuju pada rongga yang berada di antara bentuk-bentuk itu. Rongga di bagian tengah karya bukan sekadar konsekuensi komposisi visual. Ia menghadirkan kesan perlindungan, ruang yang menyimpan sesuatu tanpa memperlihatkannya sepenuhnya. Dalam seni rupa, ruang kosong sering kali sama pentingnya dengan bentuk yang mengelilinginya. Kekosongan bukan berarti ketiadaan. Justru di sanalah kemungkinan kehidupan memperoleh tempat untuk tumbuh.
Di sinilah Genesis terasa begitu puitis. Ia tidak menghadirkan kehidupan sebagai sesuatu yang telah selesai. Kehidupan digambarkan sebagai proses yang masih berlangsung. Janin belum lahir. Dua wajah belum benar-benar menyatu. Bahkan bentuk keramiknya pun seolah masih terus bertumbuh mengikuti gerak organik tanah. Seluruh komposisi memberi kesan bahwa kehidupan selalu berada dalam keadaan “menjadi”, bukan “telah menjadi”.
Jika diperhatikan lebih lama, Genesis sesungguhnya tidak hanya menghadirkan simbol tentang kelahiran. Karya ini juga berbicara mengenai keseimbangan. Kehadiran dua wajah pada sisi belakang tidak dimaksudkan sebagai representasi laki-laki dan perempuan dalam pengertian biologis semata. Keduanya merupakan perlambang dua prinsip yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Dalam konsep karya, Ida Ayu Gede Artayani mengaitkannya dengan Purusha dan Prakriti, dua unsur yang memungkinkan kehidupan hadir dan berkembang.
Pembacaan tersebut memiliki kedekatan dengan cara masyarakat Bali memahami alam semesta. Kehidupan dipandang bukan sebagai hasil dari satu kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan dari perjumpaan berbagai unsur yang terus mencari keseimbangan. Perbedaan tidak dipahami sebagai pertentangan. Justru dari perbedaan itulah kehidupan memperoleh kemungkinan untuk tumbuh.
Karena itu, Genesis tidak menghadirkan dua wajah yang saling mendominasi. Tidak ada figur yang tampak lebih kuat daripada yang lain. Keduanya hadir dalam posisi yang setara. Pilihan artistik semacam ini terasa penting karena secara halus mengingatkan bahwa keberlangsungan kehidupan tidak pernah lahir dari dominasi, melainkan dari hubungan yang saling menopang.
Di sisi lain, penggunaan bentuk topeng juga membuka ruang tafsir yang menarik. Topeng selama ini identik dengan identitas. Ia dapat menyembunyikan wajah, tetapi sekaligus menghadirkan karakter baru. Dalam penjelasan konsepnya, Artayani memaknai topeng sebagai simbol ego manusia. Penafsiran ini memperluas makna karya. Persoalan lingkungan ternyata tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga dengan cara manusia memandang dirinya sendiri. Selama manusia merasa menjadi pusat semesta, alam akan selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya.
Padahal, hubungan manusia dengan alam sesungguhnya jauh lebih intim. Bumi bukan sekadar tempat manusia hidup. Ia membentuk tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi, air yang diminum, dan udara yang dihirup setiap hari. Tubuh manusia sesungguhnya merupakan bagian dari bumi yang sedang berjalan. Kesadaran semacam inilah yang perlahan dihadirkan Genesis melalui simbol-simbol yang tampak sederhana.
Pilihan medium keramik memperkuat gagasan tersebut. Tidak banyak material yang memiliki kedekatan sedemikian erat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus dengan sejarah kebudayaan manusia. Tanah liat telah digunakan selama ribuan tahun untuk membuat wadah, perlengkapan rumah tangga, hingga benda-benda ritual. Ketika tanah dibentuk menjadi karya seni, ia tidak kehilangan ingatan tentang asal-usulnya. Sebaliknya, material itu membawa seluruh jejak kebudayaan yang pernah melekat padanya.
Barangkali karena itulah permukaan Genesis tidak dibuat licin dan sempurna. Lipatan-lipatan, tekstur kasar, dan warna tanah tetap dipertahankan. Permukaan karya mengingatkan pada retakan tanah ketika musim kemarau, pada batu yang terkikis hujan selama puluhan tahun, atau pada kulit pohon yang menyimpan umur panjang. Semua unsur itu membuat karya terasa tetap dekat dengan alam yang menjadi sumber inspirasinya.
Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh citra digital dan benda-benda hasil produksi massal, pilihan semacam ini terasa seperti sebuah pernyataan. Ida Ayu Gede Artayani seolah ingin mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan material alam tidak pernah benar-benar putus. Tanah tetap menjadi asal sekaligus tujuan perjalanan manusia.
Kecenderungan itu juga memperlihatkan perkembangan menarik dalam seni kriya kontemporer. Jika dahulu keramik lebih banyak dipahami sebagai benda pakai atau karya dekoratif, kini medium tersebut semakin sering digunakan untuk mengangkat persoalan sosial, budaya, hingga lingkungan. Nilai sebuah karya tidak lagi hanya diukur dari kerumitan teknik pembuatannya, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan gagasan dan membuka percakapan.
Dalam konteks itu, Genesis memperlihatkan bahwa seni kriya dapat menjadi medium refleksi yang sama kuatnya dengan medium seni rupa lainnya. Keramik tidak lagi berhenti sebagai objek yang dipandang karena keindahan bentuknya. Ia berubah menjadi cara untuk memikirkan kembali hubungan manusia dengan bumi, dengan tubuhnya sendiri, dan dengan kehidupan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Di titik inilah Genesis mulai melampaui dirinya sebagai sebuah karya. Ia menjadi ajakan untuk melihat alam bukan sebagai sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan sebagai bagian yang membentuk keberadaan manusia sejak awal kehidupannya.
Membaca Genesis hanya sebagai karya bertema lingkungan sesungguhnya terlalu menyederhanakan lapisan makna yang ditawarkannya. Isu ekologis memang hadir sebagai salah satu poros pembacaan, tetapi karya ini juga berbicara mengenai hubungan antara tubuh, kebudayaan, dan ingatan. Ketiganya saling bertaut, sebagaimana tanah, air, dan api bertemu dalam proses penciptaan keramik.
Dalam antropologi, tubuh tidak pernah dipahami semata-mata sebagai entitas biologis. Tubuh adalah ruang tempat kebudayaan bekerja. Cara manusia lahir, tumbuh, makan, bekerja, hingga memandang alam dibentuk oleh nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, ketika Ida Ayu Gede Artayani memilih rahim sebagai metafora utama, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang sesuatu yang melampaui tubuh perempuan. Rahim menjadi lambang bagi ruang yang memungkinkan kebudayaan terus diwariskan.
Dari sudut pandang itu, Genesis mengingatkan bahwa kelahiran tidak hanya melahirkan seorang manusia. Setiap kelahiran juga melahirkan kemungkinan baru bagi sebuah kebudayaan. Anak yang lahir akan mewarisi bahasa, nilai, cara memandang alam, sekaligus berbagai persoalan yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Dengan demikian, menjaga bumi bukan sekadar menjaga bentang alam, melainkan menjaga ruang tempat kebudayaan dapat terus tumbuh.
Pembacaan semacam ini terasa semakin penting ketika dunia menghadapi perubahan lingkungan yang semakin cepat. Krisis iklim bukan hanya mengancam keberadaan hutan, sungai, atau pesisir. Ia juga mengubah cara hidup masyarakat yang selama berabad-abad bergantung pada alam. Petani menghadapi musim yang tidak lagi mudah diprediksi. Nelayan membaca laut yang berubah. Berbagai komunitas adat kehilangan ruang hidupnya. Ketika alam berubah, kebudayaan pun ikut berubah.
Barangkali karena itu, Genesis tidak berbicara mengenai bumi sebagai lanskap. Karya ini memilih metafora yang jauh lebih dekat dengan pengalaman manusia. Bumi dipahami sebagai ruang pertama yang memungkinkan kehidupan hadir. Dengan cara itu, hubungan manusia dengan alam tidak lagi bersifat abstrak. Alam menjadi sesuatu yang intim, sesuatu yang melekat pada pengalaman paling awal setiap manusia.
Pilihan simbol semacam ini juga memperlihatkan kematangan artistik Ida Ayu Gede Artayani. Perupa yang lahir di Pasekan pada 2 Juni 1975 ini merupakan akademisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan telah aktif mengikuti berbagai pameran nasional maupun internasional. Perjalanan tersebut memperlihatkan konsistensinya menjadikan seni kriya keramik sebagai medium untuk membicarakan persoalan budaya, spiritualitas, dan kehidupan kontemporer.
Jejak kepamerannya memperlihatkan perkembangan yang berkesinambungan. Ia terlibat dalam berbagai pameran seperti Bali Mega Rupa, Bali Bhuwana Rupa, pameran di Puri Lukisan Ubud, ArtMoments Jakarta, hingga The 14th International Exhibition of Traditional Fine Arts di Shanghai Museum. Kehadiran karya-karyanya dalam berbagai forum tersebut menunjukkan bahwa bahasa visual yang dibangunnya mampu melintasi batas geografis tanpa kehilangan kedekatannya dengan akar budaya Bali.
Genesis menjadi salah satu simpul penting dalam perjalanan itu. Karya ini memperlihatkan bagaimana medium tradisional seperti keramik dapat berbicara mengenai persoalan yang sangat mutakhir. Tanah liat yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini menjadi medium untuk merefleksikan krisis ekologis, tanpa harus kehilangan sifatnya yang hening dan kontemplatif.
Sebagai bagian dari Pameran Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Genesis juga menemukan konteks yang tepat. Tema besar pameran yang menempatkan alam sebagai sumber pengetahuan dan kreativitas memberi ruang bagi karya ini untuk berdialog dengan berbagai pendekatan artistik lain yang sama-sama berangkat dari hubungan manusia dengan alam.
Namun, kekuatan Genesis tidak bergantung pada konteks pameran tersebut. Bahkan ketika dipisahkan dari ruang galeri, karya ini tetap mampu menghidupkan percakapan mengenai persoalan yang semakin mendesak: bagaimana manusia memaknai bumi di tengah dunia yang semakin didominasi oleh logika eksploitasi.
Di titik inilah Genesis memperlihatkan bahwa seni kriya bukan sekadar soal keterampilan mengolah material. Ia adalah cara berpikir. Cara membaca dunia. Cara mengingat kembali hubungan yang perlahan dilupakan manusia dengan tanah tempat ia berasal.

Di tengah perkembangan seni kontemporer yang semakin akrab dengan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan berbagai medium baru, Genesis menunjukkan bahwa material yang paling tua pun masih menyimpan kemungkinan yang tak habis-habis untuk dibaca. Tanah liat, yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari kehidupan manusia, kembali memperoleh maknanya sebagai medium yang tidak hanya membentuk benda, tetapi juga membentuk kesadaran.
Di tangan Ida Ayu Gede Artayani, keramik tidak berhenti sebagai hasil keterampilan teknis. Ia menjadi ruang permenungan. Material, bentuk, dan gagasan saling menopang sehingga tidak ada satu unsur pun yang terasa lebih dominan daripada yang lain. Keberhasilan karya ini justru terletak pada kemampuannya menyatukan ketiganya dalam bahasa visual yang tenang, tetapi memiliki daya pantul yang panjang.
Barangkali itulah yang membedakan Genesis dari banyak karya bertema lingkungan yang cenderung mengandalkan citra-citra bencana. Ida Ayu Gede Artayani tidak menghadirkan hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, atau satwa yang kehilangan habitatnya. Ia memilih kembali kepada sesuatu yang lebih mendasar: asal mula kehidupan.
Pilihan itu membuat karya ini tidak terjebak menjadi poster kampanye lingkungan. Sebaliknya, Genesis menghadirkan kesadaran ekologis melalui pengalaman yang sangat manusiawi. Setiap orang pernah memulai hidup dalam ruang yang melindungi. Dari pengalaman paling awal itulah karya ini mengajak penonton memahami bumi sebagai ruang yang menjalankan fungsi serupa bagi seluruh kehidupan.
Pembacaan semacam ini terasa penting pada masa ketika manusia semakin jauh dari alam yang menopang hidupnya. Kota-kota terus tumbuh, teknologi semakin canggih, dan kehidupan bergerak semakin cepat. Namun, di balik semua kemajuan itu, manusia perlahan kehilangan hubungan emosional dengan tanah, air, dan ruang hidup yang selama ribuan tahun membentuk kebudayaannya. Alam lebih sering dipahami sebagai komoditas daripada sebagai bagian dari keberadaan manusia sendiri.
Dalam keadaan seperti itu, seni memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh ilmu pengetahuan ataupun kebijakan publik. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami kenyataan melalui data dan analisis. Kebijakan menawarkan langkah-langkah untuk mengatasinya. Sementara seni bekerja pada wilayah yang lebih subtil, yakni mengubah cara manusia merasakan dan memandang dunia. Perubahan itu memang tidak selalu tampak seketika, tetapi sering kali menjadi awal bagi perubahan yang lebih besar.
Genesis bekerja dengan cara yang demikian. Karya ini tidak menawarkan jawaban yang selesai. Ia justru menghidupkan kembali pertanyaan yang mungkin telah lama terlupakan. Bagaimana manusia memandang bumi? Apakah ia sekadar tempat berpijak, ataukah ruang yang memungkinkan kehidupan terus berlanjut? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban yang sama dari setiap orang. Yang terpenting, karya ini berhasil membuat pertanyaan tersebut kembali hadir dalam kesadaran kita.
Pada akhirnya, Genesis memperlihatkan bahwa seni kriya memiliki kemampuan untuk berbicara mengenai persoalan-persoalan besar tanpa kehilangan kedekatannya dengan material yang sederhana. Tanah liat yang dibentuk menjadi figur janin, dua wajah manusia, dan ruang organik yang menyerupai rahim menjelma menjadi refleksi tentang hubungan manusia dengan alam, tubuh, dan masa depan.
Barangkali, inilah kekuatan seni yang sesungguhnya. Ia tidak mengubah dunia secara langsung, tetapi mengubah cara manusia memandang dunia. Dan ketika cara pandang itu berubah, hubungan manusia dengan kehidupan pun perlahan ikut berubah. Mungkin, pada akhirnya, Genesis tidak sedang mengisahkan bagaimana kehidupan dimulai. Ia sedang mengingatkan bagaimana kehidupan seharusnya dipelihara. Sebab, setiap kelahiran selalu membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Dan selama bumi masih mampu menjadi ruang bagi kehidupan, harapan itu akan selalu ada. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-750x375.png)























![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-350x250.png)
![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-350x250.png)





