5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

Gede Sidi Artajaya by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
in Opini
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature biografi, prosedur, kritik-esai, hingga resensi novel. Rentang genre ini tampak kaya. Namun Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia tidak terutama menanyakan apakah siswa hafal struktur sebuah genre. TKA menguji apakah siswa sanggup membaca secara cermat, menyimpulkan yang tersirat, menilai akurasi gagasan, dan memberi respons terhadap bahasa serta dunia yang dibangun teks. Di titik inilah relevansi kurikulum perlu dibaca ulang: bukan sekadar ‘materinya sama atau tidak’, melainkan ‘apakah materi itu dilatih pada kedalaman berpikir yang sama dengan asesmennya’.

Tesis

Secara substantif, klasifikasi materi Bahasa Indonesia kelas X-XII sudah sangat relevan sebagai fondasi TKA, karena menyediakan dua ekosistem bacaan yang juga menjadi muatan TKA: teks informasi dan teks fiksi. Akan tetapi, relevansi itu belum otomatis menjamin kesiapan siswa. Persoalan utamanya terletak pada pergeseran orientasi: pembelajaran di kelas masih mudah terjebak pada identifikasi struktur, ciri kebahasaan, dan produksi genre secara terpisah, sedangkan TKA menuntut transfer kemampuan membaca ke teks baru, teks jamak, istilah lintas bidang, hubungan antargagasan, inferensi, evaluasi fakta-opini, serta apresiasi sastra.

Kerangka resmi TKA Bahasa Indonesia SMA menegaskan bahwa keterampilan yang difokuskan adalah membaca. Muatannya berupa teks informasi tunggal maupun jamak dan teks fiksi. Teks informasi dapat memuat fakta, konsep, prosedur, dan metakognisi dari berbagai bidang atau topik, genre, konteks, serta skala lokal, nasional, dan global. Kompetensinya dikelompokkan menjadi tiga: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Dengan demikian, menyebut TKA hanya berfokus pada ‘pemahaman tekstual’ kurang lengkap; pemahaman tekstual adalah lapis pertama, bukan keseluruhan bangunan kompetensi TKA.

Bagan 1. Arsitektur kompetensi TKA Bahasa Indonesia SMA berdasarkan kerangka resmi Pusmendik

Argumentasi

1. Peta materi SMA: kaya genre, tetapi harus dibaca sebagai ekosistem literasi

Jika 16 unit materi yang disebutkan untuk kelas X-XII dipetakan secara fungsional, terlihat keseimbangan antara teks informasional/pragmatik dan teks sastra atau hibrida. Laporan hasil observasi, biografi, argumentasi, berita, karya ilmiah, feature biografi, dan prosedur menyediakan medan untuk membaca fakta, konsep, urutan, hubungan sebab-akibat, serta kredibilitas informasi. Hikayat, cerpen, puisi, drama, dan resensi novel membuka ruang bagi pembacaan tokoh, konflik, latar, nilai, gaya bahasa, efek estetik, dan respons pembaca. Anekdot, negosiasi, kritik, dan esai berada di wilayah peralihan karena menggabungkan fungsi sosial, retorika, evaluasi, bahkan unsur literer.

Grafik 1. Klasifikasi analitis 16 unit materi Bahasa Indonesia SMA yang dikaji dalam esai ini

KelasSem.MateriKlasifikasiPotensi Kompetensi TKARelevansi
XITeks Laporan Hasil ObservasiInformasiFakta/konsepSangat kuat
XITeks AnekdotFiksi/hibridaNaratif, kritik sosialKuat
XIHikayatFiksiProsa klasikKuat
XIITeks NegosiasiInformasi/pragmatikArgumentasi & relasi maknaKuat
XIIBiografiInformasi/naratif faktualFakta, tokoh, kronologiSangat kuat
XIIPuisiFiksi/sastraBahasa figuratif & apresiasiSangat kuat
XIITeks ArgumentasiInformasiGagasan, fakta, opiniSangat kuat
XIIBeritaInformasiFakta, akurasi, relevansiSangat kuat
XIICerpenFiksi/sastraTokoh, konflik, latar, nilaiSangat kuat
XIIIPuisiFiksi/sastraInferensi & apresiasiSangat kuat
XIIIDramaFiksi/sastraTokoh, konflik, bahasaSangat kuat
XIIIPenulisan Karya IlmiahInformasi/akademikFakta, konsep, logika, sumberSangat kuat
XII–Feature Biografi/Tokoh InspiratifInformasi/naratif faktualFakta, tokoh, sudut pandangSangat kuat
XII–Teks Prosedur: Wirausaha MudaInformasiProsedur lintas bidangSangat kuat
XII–Kritik dan EsaiInformasi-kritis/sastraEvaluasi gagasan & bahasaSangat kuat
XII–Resensi Karya Sastra (Novel)Sastra-kritisEvaluasi & apresiasiSangat kuat

Tabel 1. Pemetaan materi SMA terhadap karakter bacaan dan potensi kompetensi TKA. Kategori relevansi merupakan analisis penulis

2. Kelas X: fondasi genre sudah tepat, tantangannya mengubah ‘mengenali’ menjadi ‘menalar’

Laporan hasil observasi sangat dekat dengan karakter teks informasi TKA karena siswa berhadapan dengan objek, klasifikasi, fakta, istilah, dan hubungan antarbagian. Materi ini akan lebih bernilai bagi TKA jika latihan tidak berhenti pada mencari definisi umum dan deskripsi bagian, tetapi meminta siswa membandingkan dua laporan, menemukan ketidakcukupan data, menilai ketepatan istilah teknis, atau mengubah informasi menjadi bagan.

Anekdot dan hikayat memberi latihan yang berbeda. Anekdot memungkinkan siswa membaca kritik sosial yang tidak selalu dinyatakan secara literal; hikayat menuntut pembaca menafsirkan karakter, nilai, latar budaya, serta pilihan bahasa. Keduanya relevan dengan pemahaman inferensial. Pada semester II, negosiasi melatih relasi gagasan, tujuan penutur, dan strategi bahasa; biografi menguatkan kronologi, fakta, keteladanan, dan inferensi karakter; puisi langsung beririsan dengan evaluasi dan apresiasi, termasuk respons emosional terhadap unsur puisi.

3. Kelas XI: titik paling kuat untuk membangun literasi tingkat tinggi

Argumentasi, berita, dan karya ilmiah merupakan tiga materi strategis untuk TKA. Teks argumentasi dapat digunakan untuk membedakan klaim, alasan, bukti, fakta, dan opini. Berita menyediakan laboratorium untuk menguji akurasi, kecukupan informasi, sudut pandang, serta relevansi. Karya ilmiah memperkenalkan siswa pada register akademik, istilah teknis, koherensi, data, dan disiplin sumber. Jika ketiganya dipadukan, siswa tidak hanya belajar bentuk teks, tetapi belajar epistemologi sederhana: dari mana sebuah klaim berasal, seberapa kuat buktinya, dan kapan sebuah simpulan dapat dipercaya.

Cerpen, puisi, dan drama sama pentingnya. Kerangka TKA secara eksplisit mengukur kemampuan menyimpulkan tokoh, peristiwa, latar, konflik, nilai, hubungan makna, prediksi lanjutan cerita, ketepatan bagian teks dalam menggambarkan unsur fiksi, serta respons emosional terhadap puisi, prosa, dan drama. Artinya, sastra bukan ornamen dalam persiapan TKA. Sastra justru menjadi arena autentik untuk melatih inferensi, toleransi terhadap ambiguitas, pembacaan konotasi, dan penilaian estetik.

4. Kelas XII: relevan, tetapi jangan berubah menjadi kursus ‘menebak soal TKA’

Materi kelas XII juga memiliki korespondensi yang kuat. Feature biografi menghadirkan fakta dalam teknik naratif; teks prosedur bertema wirausaha muda membawa siswa ke bacaan lintas bidang ekonomi dan kewirausahaan; kritik dan esai mengaktifkan penilaian gagasan; resensi novel menggabungkan pemahaman karya dengan evaluasi dan argumentasi. Empat materi ini dapat menjadi jembatan yang sangat baik menuju TKA apabila teks sumbernya diperluas dan tugas membacanya dibuat lintas genre.

Yang perlu dihindari ialah reduksi pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi latihan soal. TKA dirancang untuk memperoleh informasi capaian akademik yang terstandar dan mendorong penilaian berkualitas. Karena itu, respons pendidikan yang lebih sehat bukan mempersempit kurikulum agar menyerupai format tes, melainkan memperdalam kualitas membaca pada setiap materi yang memang sudah ada.

5. Di mana letak kesenjangan antara materi SMA dan tuntutan TKA?

Kesenjangan pertama adalah teks jamak. Siswa sering membaca satu teks untuk satu kompetensi, padahal TKA membuka ruang bagi teks informasi tunggal maupun jamak. Pembelajaran perlu membiasakan siswa mempertemukan dua sumber: misalnya berita dengan infografik, laporan observasi dengan artikel sains populer, biografi dengan arsip wawancara, atau resensi dengan penggalan novel.

Kesenjangan kedua adalah lintas bidang ilmu. TKA tidak membatasi teks informasi pada topik kebahasaan. Teks dapat mengangkat sains, lingkungan, ekonomi, teknologi, kesehatan publik, budaya, atau isu global. Konsekuensinya, guru Bahasa Indonesia tidak perlu mengajarkan isi semua disiplin, tetapi perlu mengajarkan strategi menghadapi istilah teknis, struktur penjelasan, data, dan argumen dari disiplin yang berbeda.

Kesenjangan ketiga adalah kedalaman kognitif. Pertanyaan ‘apa struktur teks ini?’ berada pada level yang berbeda dengan ‘apakah informasi ini cukup untuk mendukung simpulan?’, ‘apa asumsi yang tidak dinyatakan?’, atau ‘bagian mana yang paling efektif membangun karakter?’. TKA menuntut gerak dari menemukan informasi menuju menghubungkan, menyimpulkan, menguji, dan menilai.

Kesenjangan keempat adalah bahasa sebagai bukti, bukan sekadar daftar kaidah. Kerangka TKA memuat kata serapan, kosakata yang menandai latar atau fenomena, hubungan makna antarkalimat/paragraf, serta ketepatan penggunaan bahasa. Maka pembelajaran kebahasaan seharusnya ditempatkan di dalam konteks bacaan: siswa menjelaskan bagaimana pilihan kata, konjungsi, kalimat kompleks, atau nuansa makna mengubah pemahaman terhadap teks.

Grafik 2. Peta relevansi analitis. Nilai bukan bobot resmi TKA, melainkan indeks pemetaan penulis untuk menunjukkan area yang sudah kuat dan area yang perlu diperkuat

6. Matriks komparatif: dari materi menuju praktik asesmen

AspekPembelajaran SMATKA Bahasa IndonesiaImplikasi
OrientasiGenre, fungsi sosial, struktur, kebahasaan, produksi teksMembaca dan transfer pemahaman pada teks baruUbah genre menjadi wahana latihan membaca tingkat tinggi
KontenLHO, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, puisi, argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature, prosedur, kritik-esai, resensiTeks informasi tunggal/jamak dan teks fiksiSecara konten sangat kompatibel
KognitifSering bervariasi dari identifikasi hingga produksiTekstual, inferensial, evaluasi-apresiasiPerbanyak soal alasan, bukti, inferensi, evaluasi
KonteksSering mengikuti tema buku/modulBerbagai bidang; lokal, nasional, globalGunakan bacaan lintas disiplin dan isu aktual
Bentuk sumberDominan teks tunggalTeks informasi tunggal maupun jamakBiasakan intertekstualitas dan multimodal
SastraHikayat, cerpen, puisi, drama, novel/resensiTeks fiksi + apresiasiPertahankan sastra sebagai latihan inferensi dan estetika

Tabel 2. Komparasi orientasi materi SMA dan kerangka TKA Bahasa Indonesia

7. Model penguatan: satu materi, tiga lapis membaca

Agar pembelajaran tidak tercerabut dari kurikulum, guru dapat memakai pola sederhana pada setiap genre. Lapis pertama adalah tekstual: siswa menemukan dan menata kembali informasi eksplisit. Lapis kedua adalah inferensial: siswa menghubungkan petunjuk, menjelaskan relasi, menarik simpulan, atau memprediksi. Lapis ketiga adalah evaluatif-apresiatif: siswa menguji akurasi dan kecukupan informasi, menilai pilihan bahasa, mengaitkan peristiwa dengan konteks, atau merumuskan respons estetik. Dengan pola ini, persiapan TKA tidak membutuhkan ‘materi baru’; yang dibutuhkan terutama adalah rekayasa pertanyaan dan pengalaman membaca yang lebih dalam.

Contohnya, pada berita tentang perubahan iklim, siswa mula-mula mengidentifikasi fakta dan istilah; kemudian menyimpulkan hubungan sebab-akibat; lalu membandingkan berita dengan data atau teks kedua untuk menilai kecukupan informasi. Pada cerpen, siswa mengidentifikasi peristiwa; menyimpulkan perubahan karakter dari petunjuk tidak langsung; kemudian menilai bagian teks yang paling efektif membangun konflik. Pada puisi, siswa bergerak dari mengenali citraan menuju menafsirkan hubungan antarsimbol dan akhirnya merumuskan respons emosional-estetik dengan bukti tekstual.

Kesimpulan

Materi Bahasa Indonesia SMA kelas X-XII pada dasarnya relevan, bahkan kaya, untuk menopang TKA. Laporan observasi, argumentasi, berita, karya ilmiah, biografi, prosedur, kritik-esai, serta teks sastra menyediakan hampir seluruh medan yang diperlukan untuk membangun kemampuan membaca. Karena itu, problem utamanya bukan kekurangan genre. Problem yang lebih menentukan adalah apakah genre tersebut diajarkan sebagai pengetahuan tentang teks atau sebagai alat untuk berpikir melalui teks.

TKA menggeser pusat gravitasi pembelajaran dari ‘siswa tahu nama dan struktur teks’ menuju ‘siswa mampu menggunakan teks untuk memahami, menyimpulkan, memeriksa, dan menilai’. Pergeseran ini seharusnya tidak membuat sastra tersisih. Sebaliknya, hikayat, cerpen, puisi, drama, dan novel adalah ruang penting untuk mengembangkan inferensi, kepekaan bahasa, imajinasi, dan apresiasi—kompetensi yang secara eksplisit hadir dalam kerangka TKA.

Maka pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi: apakah materi SMA sudah sesuai dengan TKA? Jawabannya: secara konten, sebagian besar sudah. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apakah cara kita mengajarkannya sudah membentuk pembaca yang sanggup berpindah dari informasi tersurat ke makna tersirat, dari opini ke bukti, dari satu teks ke teks lain, dan dari bahasa ke penilaian kritis? Di situlah pekerjaan besar pembelajaran Bahasa Indonesia menjelang TKA sebenarnya berada.

Sumber Faktual Utama

• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Kerangka/laman TKA Bahasa Indonesia SMA: fokus keterampilan membaca, muatan teks informasi dan teks fiksi, serta kompetensi tekstual, inferensial, evaluasi dan apresiasi. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/tka/view/mata-pelajaran-wajib/sma/bahasa-indonesia

• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Halaman unduhan regulasi TKA, termasuk Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025, Perka BSKAP 45-H-AN-2025, dan Kepmendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/page/download

• Kemendikdasmen. Siaran Pers 7 Juli 2026: pendaftaran TKA 2026 jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK ditetapkan 27 Juli-27 September 2026.

• Klasifikasi materi kelas X-XII dalam esai ini mengikuti daftar materi yang diberikan penulis/pengguna; pengelompokan dan indeks relevansi pada tabel/grafik merupakan analisis komparatif, bukan bobot resmi TKA.

Tags: Bahasa IndonesiaPendidikanTes Kemampuan AkademikUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

Next Post

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

Gede Sidi Artajaya

Gede Sidi Artajaya

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co