DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature biografi, prosedur, kritik-esai, hingga resensi novel. Rentang genre ini tampak kaya. Namun Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia tidak terutama menanyakan apakah siswa hafal struktur sebuah genre. TKA menguji apakah siswa sanggup membaca secara cermat, menyimpulkan yang tersirat, menilai akurasi gagasan, dan memberi respons terhadap bahasa serta dunia yang dibangun teks. Di titik inilah relevansi kurikulum perlu dibaca ulang: bukan sekadar ‘materinya sama atau tidak’, melainkan ‘apakah materi itu dilatih pada kedalaman berpikir yang sama dengan asesmennya’.
Tesis
Secara substantif, klasifikasi materi Bahasa Indonesia kelas X-XII sudah sangat relevan sebagai fondasi TKA, karena menyediakan dua ekosistem bacaan yang juga menjadi muatan TKA: teks informasi dan teks fiksi. Akan tetapi, relevansi itu belum otomatis menjamin kesiapan siswa. Persoalan utamanya terletak pada pergeseran orientasi: pembelajaran di kelas masih mudah terjebak pada identifikasi struktur, ciri kebahasaan, dan produksi genre secara terpisah, sedangkan TKA menuntut transfer kemampuan membaca ke teks baru, teks jamak, istilah lintas bidang, hubungan antargagasan, inferensi, evaluasi fakta-opini, serta apresiasi sastra.
Kerangka resmi TKA Bahasa Indonesia SMA menegaskan bahwa keterampilan yang difokuskan adalah membaca. Muatannya berupa teks informasi tunggal maupun jamak dan teks fiksi. Teks informasi dapat memuat fakta, konsep, prosedur, dan metakognisi dari berbagai bidang atau topik, genre, konteks, serta skala lokal, nasional, dan global. Kompetensinya dikelompokkan menjadi tiga: pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Dengan demikian, menyebut TKA hanya berfokus pada ‘pemahaman tekstual’ kurang lengkap; pemahaman tekstual adalah lapis pertama, bukan keseluruhan bangunan kompetensi TKA.

Argumentasi
1. Peta materi SMA: kaya genre, tetapi harus dibaca sebagai ekosistem literasi
Jika 16 unit materi yang disebutkan untuk kelas X-XII dipetakan secara fungsional, terlihat keseimbangan antara teks informasional/pragmatik dan teks sastra atau hibrida. Laporan hasil observasi, biografi, argumentasi, berita, karya ilmiah, feature biografi, dan prosedur menyediakan medan untuk membaca fakta, konsep, urutan, hubungan sebab-akibat, serta kredibilitas informasi. Hikayat, cerpen, puisi, drama, dan resensi novel membuka ruang bagi pembacaan tokoh, konflik, latar, nilai, gaya bahasa, efek estetik, dan respons pembaca. Anekdot, negosiasi, kritik, dan esai berada di wilayah peralihan karena menggabungkan fungsi sosial, retorika, evaluasi, bahkan unsur literer.

| Kelas | Sem. | Materi | Klasifikasi | Potensi Kompetensi TKA | Relevansi |
| X | I | Teks Laporan Hasil Observasi | Informasi | Fakta/konsep | Sangat kuat |
| X | I | Teks Anekdot | Fiksi/hibrida | Naratif, kritik sosial | Kuat |
| X | I | Hikayat | Fiksi | Prosa klasik | Kuat |
| X | II | Teks Negosiasi | Informasi/pragmatik | Argumentasi & relasi makna | Kuat |
| X | II | Biografi | Informasi/naratif faktual | Fakta, tokoh, kronologi | Sangat kuat |
| X | II | Puisi | Fiksi/sastra | Bahasa figuratif & apresiasi | Sangat kuat |
| XI | I | Teks Argumentasi | Informasi | Gagasan, fakta, opini | Sangat kuat |
| XI | I | Berita | Informasi | Fakta, akurasi, relevansi | Sangat kuat |
| XI | I | Cerpen | Fiksi/sastra | Tokoh, konflik, latar, nilai | Sangat kuat |
| XI | II | Puisi | Fiksi/sastra | Inferensi & apresiasi | Sangat kuat |
| XI | II | Drama | Fiksi/sastra | Tokoh, konflik, bahasa | Sangat kuat |
| XI | II | Penulisan Karya Ilmiah | Informasi/akademik | Fakta, konsep, logika, sumber | Sangat kuat |
| XII | – | Feature Biografi/Tokoh Inspiratif | Informasi/naratif faktual | Fakta, tokoh, sudut pandang | Sangat kuat |
| XII | – | Teks Prosedur: Wirausaha Muda | Informasi | Prosedur lintas bidang | Sangat kuat |
| XII | – | Kritik dan Esai | Informasi-kritis/sastra | Evaluasi gagasan & bahasa | Sangat kuat |
| XII | – | Resensi Karya Sastra (Novel) | Sastra-kritis | Evaluasi & apresiasi | Sangat kuat |
Tabel 1. Pemetaan materi SMA terhadap karakter bacaan dan potensi kompetensi TKA. Kategori relevansi merupakan analisis penulis
2. Kelas X: fondasi genre sudah tepat, tantangannya mengubah ‘mengenali’ menjadi ‘menalar’
Laporan hasil observasi sangat dekat dengan karakter teks informasi TKA karena siswa berhadapan dengan objek, klasifikasi, fakta, istilah, dan hubungan antarbagian. Materi ini akan lebih bernilai bagi TKA jika latihan tidak berhenti pada mencari definisi umum dan deskripsi bagian, tetapi meminta siswa membandingkan dua laporan, menemukan ketidakcukupan data, menilai ketepatan istilah teknis, atau mengubah informasi menjadi bagan.
Anekdot dan hikayat memberi latihan yang berbeda. Anekdot memungkinkan siswa membaca kritik sosial yang tidak selalu dinyatakan secara literal; hikayat menuntut pembaca menafsirkan karakter, nilai, latar budaya, serta pilihan bahasa. Keduanya relevan dengan pemahaman inferensial. Pada semester II, negosiasi melatih relasi gagasan, tujuan penutur, dan strategi bahasa; biografi menguatkan kronologi, fakta, keteladanan, dan inferensi karakter; puisi langsung beririsan dengan evaluasi dan apresiasi, termasuk respons emosional terhadap unsur puisi.
3. Kelas XI: titik paling kuat untuk membangun literasi tingkat tinggi
Argumentasi, berita, dan karya ilmiah merupakan tiga materi strategis untuk TKA. Teks argumentasi dapat digunakan untuk membedakan klaim, alasan, bukti, fakta, dan opini. Berita menyediakan laboratorium untuk menguji akurasi, kecukupan informasi, sudut pandang, serta relevansi. Karya ilmiah memperkenalkan siswa pada register akademik, istilah teknis, koherensi, data, dan disiplin sumber. Jika ketiganya dipadukan, siswa tidak hanya belajar bentuk teks, tetapi belajar epistemologi sederhana: dari mana sebuah klaim berasal, seberapa kuat buktinya, dan kapan sebuah simpulan dapat dipercaya.
Cerpen, puisi, dan drama sama pentingnya. Kerangka TKA secara eksplisit mengukur kemampuan menyimpulkan tokoh, peristiwa, latar, konflik, nilai, hubungan makna, prediksi lanjutan cerita, ketepatan bagian teks dalam menggambarkan unsur fiksi, serta respons emosional terhadap puisi, prosa, dan drama. Artinya, sastra bukan ornamen dalam persiapan TKA. Sastra justru menjadi arena autentik untuk melatih inferensi, toleransi terhadap ambiguitas, pembacaan konotasi, dan penilaian estetik.
4. Kelas XII: relevan, tetapi jangan berubah menjadi kursus ‘menebak soal TKA’
Materi kelas XII juga memiliki korespondensi yang kuat. Feature biografi menghadirkan fakta dalam teknik naratif; teks prosedur bertema wirausaha muda membawa siswa ke bacaan lintas bidang ekonomi dan kewirausahaan; kritik dan esai mengaktifkan penilaian gagasan; resensi novel menggabungkan pemahaman karya dengan evaluasi dan argumentasi. Empat materi ini dapat menjadi jembatan yang sangat baik menuju TKA apabila teks sumbernya diperluas dan tugas membacanya dibuat lintas genre.
Yang perlu dihindari ialah reduksi pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi latihan soal. TKA dirancang untuk memperoleh informasi capaian akademik yang terstandar dan mendorong penilaian berkualitas. Karena itu, respons pendidikan yang lebih sehat bukan mempersempit kurikulum agar menyerupai format tes, melainkan memperdalam kualitas membaca pada setiap materi yang memang sudah ada.
5. Di mana letak kesenjangan antara materi SMA dan tuntutan TKA?
Kesenjangan pertama adalah teks jamak. Siswa sering membaca satu teks untuk satu kompetensi, padahal TKA membuka ruang bagi teks informasi tunggal maupun jamak. Pembelajaran perlu membiasakan siswa mempertemukan dua sumber: misalnya berita dengan infografik, laporan observasi dengan artikel sains populer, biografi dengan arsip wawancara, atau resensi dengan penggalan novel.
Kesenjangan kedua adalah lintas bidang ilmu. TKA tidak membatasi teks informasi pada topik kebahasaan. Teks dapat mengangkat sains, lingkungan, ekonomi, teknologi, kesehatan publik, budaya, atau isu global. Konsekuensinya, guru Bahasa Indonesia tidak perlu mengajarkan isi semua disiplin, tetapi perlu mengajarkan strategi menghadapi istilah teknis, struktur penjelasan, data, dan argumen dari disiplin yang berbeda.
Kesenjangan ketiga adalah kedalaman kognitif. Pertanyaan ‘apa struktur teks ini?’ berada pada level yang berbeda dengan ‘apakah informasi ini cukup untuk mendukung simpulan?’, ‘apa asumsi yang tidak dinyatakan?’, atau ‘bagian mana yang paling efektif membangun karakter?’. TKA menuntut gerak dari menemukan informasi menuju menghubungkan, menyimpulkan, menguji, dan menilai.
Kesenjangan keempat adalah bahasa sebagai bukti, bukan sekadar daftar kaidah. Kerangka TKA memuat kata serapan, kosakata yang menandai latar atau fenomena, hubungan makna antarkalimat/paragraf, serta ketepatan penggunaan bahasa. Maka pembelajaran kebahasaan seharusnya ditempatkan di dalam konteks bacaan: siswa menjelaskan bagaimana pilihan kata, konjungsi, kalimat kompleks, atau nuansa makna mengubah pemahaman terhadap teks.

6. Matriks komparatif: dari materi menuju praktik asesmen
| Aspek | Pembelajaran SMA | TKA Bahasa Indonesia | Implikasi |
| Orientasi | Genre, fungsi sosial, struktur, kebahasaan, produksi teks | Membaca dan transfer pemahaman pada teks baru | Ubah genre menjadi wahana latihan membaca tingkat tinggi |
| Konten | LHO, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, puisi, argumentasi, berita, cerpen, drama, karya ilmiah, feature, prosedur, kritik-esai, resensi | Teks informasi tunggal/jamak dan teks fiksi | Secara konten sangat kompatibel |
| Kognitif | Sering bervariasi dari identifikasi hingga produksi | Tekstual, inferensial, evaluasi-apresiasi | Perbanyak soal alasan, bukti, inferensi, evaluasi |
| Konteks | Sering mengikuti tema buku/modul | Berbagai bidang; lokal, nasional, global | Gunakan bacaan lintas disiplin dan isu aktual |
| Bentuk sumber | Dominan teks tunggal | Teks informasi tunggal maupun jamak | Biasakan intertekstualitas dan multimodal |
| Sastra | Hikayat, cerpen, puisi, drama, novel/resensi | Teks fiksi + apresiasi | Pertahankan sastra sebagai latihan inferensi dan estetika |
Tabel 2. Komparasi orientasi materi SMA dan kerangka TKA Bahasa Indonesia
7. Model penguatan: satu materi, tiga lapis membaca
Agar pembelajaran tidak tercerabut dari kurikulum, guru dapat memakai pola sederhana pada setiap genre. Lapis pertama adalah tekstual: siswa menemukan dan menata kembali informasi eksplisit. Lapis kedua adalah inferensial: siswa menghubungkan petunjuk, menjelaskan relasi, menarik simpulan, atau memprediksi. Lapis ketiga adalah evaluatif-apresiatif: siswa menguji akurasi dan kecukupan informasi, menilai pilihan bahasa, mengaitkan peristiwa dengan konteks, atau merumuskan respons estetik. Dengan pola ini, persiapan TKA tidak membutuhkan ‘materi baru’; yang dibutuhkan terutama adalah rekayasa pertanyaan dan pengalaman membaca yang lebih dalam.
Contohnya, pada berita tentang perubahan iklim, siswa mula-mula mengidentifikasi fakta dan istilah; kemudian menyimpulkan hubungan sebab-akibat; lalu membandingkan berita dengan data atau teks kedua untuk menilai kecukupan informasi. Pada cerpen, siswa mengidentifikasi peristiwa; menyimpulkan perubahan karakter dari petunjuk tidak langsung; kemudian menilai bagian teks yang paling efektif membangun konflik. Pada puisi, siswa bergerak dari mengenali citraan menuju menafsirkan hubungan antarsimbol dan akhirnya merumuskan respons emosional-estetik dengan bukti tekstual.
Kesimpulan
Materi Bahasa Indonesia SMA kelas X-XII pada dasarnya relevan, bahkan kaya, untuk menopang TKA. Laporan observasi, argumentasi, berita, karya ilmiah, biografi, prosedur, kritik-esai, serta teks sastra menyediakan hampir seluruh medan yang diperlukan untuk membangun kemampuan membaca. Karena itu, problem utamanya bukan kekurangan genre. Problem yang lebih menentukan adalah apakah genre tersebut diajarkan sebagai pengetahuan tentang teks atau sebagai alat untuk berpikir melalui teks.
TKA menggeser pusat gravitasi pembelajaran dari ‘siswa tahu nama dan struktur teks’ menuju ‘siswa mampu menggunakan teks untuk memahami, menyimpulkan, memeriksa, dan menilai’. Pergeseran ini seharusnya tidak membuat sastra tersisih. Sebaliknya, hikayat, cerpen, puisi, drama, dan novel adalah ruang penting untuk mengembangkan inferensi, kepekaan bahasa, imajinasi, dan apresiasi—kompetensi yang secara eksplisit hadir dalam kerangka TKA.
Maka pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi: apakah materi SMA sudah sesuai dengan TKA? Jawabannya: secara konten, sebagian besar sudah. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: apakah cara kita mengajarkannya sudah membentuk pembaca yang sanggup berpindah dari informasi tersurat ke makna tersirat, dari opini ke bukti, dari satu teks ke teks lain, dan dari bahasa ke penilaian kritis? Di situlah pekerjaan besar pembelajaran Bahasa Indonesia menjelang TKA sebenarnya berada.
Sumber Faktual Utama
• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Kerangka/laman TKA Bahasa Indonesia SMA: fokus keterampilan membaca, muatan teks informasi dan teks fiksi, serta kompetensi tekstual, inferensial, evaluasi dan apresiasi. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/tka/view/mata-pelajaran-wajib/sma/bahasa-indonesia
• Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen. Halaman unduhan regulasi TKA, termasuk Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025, Perka BSKAP 45-H-AN-2025, dan Kepmendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/page/download
• Kemendikdasmen. Siaran Pers 7 Juli 2026: pendaftaran TKA 2026 jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK ditetapkan 27 Juli-27 September 2026.
• Klasifikasi materi kelas X-XII dalam esai ini mengikuti daftar materi yang diberikan penulis/pengguna; pengelompokan dan indeks relevansi pada tabel/grafik merupakan analisis komparatif, bukan bobot resmi TKA.


















![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-350x250.png)



![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)



