— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027
Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang?
Jika pertanyaan itu ditujukan ke saya, maka jelas jawaban saya: Prof Mayuko Hara.
Bagi Mayuko bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan dari struktur sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Profesor Mayuko Hara, seorang akademisi ternama asal Jepang dari The University of Osaka, membuatnya hampir 20 tahun bolak-balik Jepang-Pedawa kawasan Bali Aga di Buleleng, Bali Utara. Sebagai seorang Indonesianis (pakar studi Indonesia), ia telah mendedikasikan sebagian besar karier akademisnya untuk meneliti dinamika sosiolinguistik, kontak bahasa, serta pelestarian bahasa daerah di Indonesia, dengan fokus utama pada Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali.
Awal Mula Sebuah Persahabatan: Kampus Jimbaran, 1992
Di balik puluhan jurnal ilmiah dan pengakuan internasional yang ia raih, ada sebuah kisah persahabatan kami yang panjang dan menjadi akar persamaan kecintaan saya terhadap berbagai aspek sosiolinguistik bahasa Bali.

Kisah ini bermula pada tahun 1992 di sebuah bangku di Kampus Universitas Udayana, Jimbaran. Saat itu, saya sedang duduk sendirian ketika tiba-tiba seorang mahasiswi berkulit putih dan bermata sipit datang mendekat lalu duduk di sebelah saya. Dugaan awal saya, ia adalah seorang keturunan Tionghoa-Indonesia (istilah gaulnya: Chindo) yang tertarik mempelajari kebudayaan lokal. Rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya: “Kenapa ikut kelas bahasa Bali?”
Di luar dugaan, perempuan ramah bernama Mayuko itu menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang fasih bahwa ia adalah mahasiswi program Sarjana (S1) jurusan Bahasa Indonesia di Jepang yang hampir tamat. Kehadirannya di Bali adalah untuk memperdalam pemahaman mengenai bahasa Bali langsung dari akarnya.
Pertemuan di bangku kampus Jimbaran itulah yang menjadi pemantik hubungan persahabatan yang tidak pernah putus. Selama 35 tahun berlalu, hubungan kami berkembang layaknya saudara kandung yang saling mendukung. Kami kerap saling mengunjungi lintas negara. Saya berkesempatan mengunjungi kampusnya di Tokyo ketika mendapatkan beasiswa pertukaran pemuda pelajar dari Perdana Menteri Jepang. Sebaliknya, setiap kali Mayuko menginjakkan kaki di Indonesia, khususnya Bali, kami selalu meluangkan waktu untuk berjumpa. Bahkan, Mayuko sempat mengunjungi saya hingga ke Lombok saat saya tinggal di sana.
Dua Dekade Meneliti Jantung Bali Aga
Persahabatan panjang kami tidak hanya bernilai personal, tetapi juga sangat membanggakan bisa membuat Mayuko bisa melahirkan kontribusi nyata bagi dunia akademis Indonesia dan dunia terkait bahasa Bali. Dalam hampir 20 tahun terakhir, kami berdua konsisten bolak-balik melakukan perjalanan riset ke Desa Pedawa, sebuah desa kuno di perbukitan Buleleng.

Seiring waktu kami merasa lebih matang mendiskusikan aspek sosiolinguistik dari masyarakat desa Pedawa, dan kami banyak menghabiskan waktu bersama penduduk Pedawa bercakap ritual, pertanian, pengobatan dll, di desa Pedawa. Kami berbicara dalam bahasa dialek Pedawa dan selalu berbahasa Bali dalam percakapan kami. Oleh karena itu, saya berani menjamin bahwa orang Jepang yang paling paham bahasa Bali — setidaknya yang saya kenal dan secara akademis paling memiliki jam terbang terpanjang dan terdalam di wilayah kebahasaan Bali Aga.
Penelitian lapangan yang dipimpin oleh Mayuko ini berfokus pada kebahasaan dan dialek Bali Aga (Bali Mula), khususnya di wilayah lingkar pedesaan SCTPB (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyusri). Setiap perjumpaan seperti sebuah seminar dalam kelas linguistik pasca sarjana, kami menjelajahi berbagai topik sosiolinguistik, mulai dari sistem adat, ritual keagamaan, hingga variasi bahasa sehari-hari yang unik dan berbeda dari Bali Dataran.
Salah satu hasil riset monumentalnya adalah tulisan bertajuk “Bentuk Hormat” Dialek Bahasa Bali Aga dalam Konteks Agama. Melalui kajian ini, Profesor Mayuko Hara membedah bagaimana masyarakat pegunungan SCTB mengekspresikan rasa hormat (kesantunan berbahasa) melalui tata bahasa tanpa harus terikat pada sekat kasta sosial tradisional.
Kontribusi terhadap Leksikografi dan Kebijakan Bahasa
Selain mendalami dialek Bali Aga di pedesaan Buleleng, Profesor Mayuko Hara juga mengamati aspek hukum pelestarian bahasa melalui studinya yang berjudul Kebijakan Bahasa Bali yang Terlihat dalam Peraturan Perundang-undangan di Provinsi Bali, Indonesia.
Di bidang leksikografi, ia terlibat aktif dalam berbagai proyek pengembangan materi ajar tingkat lanjut serta penyusunan kamus dan glosarium praktis. Kolaborasinya dalam riset internasional membantu mahasiswa serta peneliti di Jepang untuk memahami nuansa kontekstual dan kultural di balik setiap kosakata Indonesia dan Bali.

Bagi Profesor Hara, mendokumentasikan kata berarti merawat ingatan sebuah peradaban. Dan bagi kami berdua, setiap lembar karya ilmiah yang tercipta adalah monumen hidup dari persahabatan tulus yang dimulai dari sebuah bangku kampus di Jimbaran.
Profil Akademis: Prof. Mayuko Hara (原 真由子)
📌 Informasi Personal & Afiliasi
- Nama Lengkap: Prof. Mayuko Hara (原 真由子)
- Institusi Utama: Graduate School of Humanities, The University of Osaka, Jepang
- Jabatan Akademis: Profesor Penuh (Professor) bidang Studi Asing / Linguistik
- Spesialisasi: Sosiolinguistik, Kontak Bahasa (Code-mixing), Kebijakan Bahasa, dan Tata Bahasa Indonesia-Bali Aga.
🎓 Latar Belakang Pendidikan
- Sarjana (S1): Bahasa Indonesia, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) (Lulus era 1990-an awal, termasuk riset lapangan di Universitas Udayana, Jimbaran, 1992).
- Magister (S2) & Doktor (S3): Linguistik dan Studi Area Indonesia, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS).
🔬 Fokus Riset Khusus (20 Tahun Terakhir)
- Kawasan Fokus: Wilayah lingkar pedesaan Bali Aga: SCTPB (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa, dan Banyusri), Buleleng, Bali.
- Topik Utama: Sistem kesantunan (honorifics), pergeseran bahasa, dokumentasi dialek minoritas yang terancam punah, dan sosiolinguistik pedesaan.
📚 Karya Tulis & Jurnal Terpilih
- “Bentuk Hormat” Dialek Bahasa Bali Aga dalam Konteks Agama – Mengkaji bentuk kesantunan berbahasa pada masyarakat Bali Aga (khususnya Pedawa).
- Kebijakan Bahasa Bali dalam Peraturan Perundang-undangan Provinsi Bali – Analisis hukum terhadap proteksi bahasa daerah oleh pemerintah.
- Kajian Komparatif Toritate (Unsur Pemfokusan) dalam Bahasa Indonesia – Meneliti struktur penegasan kalimat formal.
- Proyek Pengembangan Kamus Aktif & Bahan Ajar BIPA Tingkat Lanjut – Riset kolaboratif untuk menyusun panduan leksikal Indonesia-Jepang.
🏆 Penghargaan
- President’s Award for Encouragement (総長奨励賞) dari The University of Osaka atas kontribusi luar biasa dalam riset kebahasaan lintas budaya dan penguatan studi Indonesia di Jepang.
Catatan Tambahan
Mayuko Hara (原 真由子) telah menyusun beberapa koleksi kosakata dan karya referensi bahasa Bali.
バリ語語彙集 (Koleksi Kosakata Bahasa Bali)
• Penulis: Mayuko Hara dan I Gusti Made Sutjaja
• Diterbitkan: Juli 2002 oleh Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa (ILCAA), Tokyo University of Foreign Studies.
バリ語敬語語彙集 (Koleksi Kosakata Bahasa Bali Alus/Hormat)
• Penulis: Mayuko Hara
• Diterbitkan: Juli 1999 oleh Department of Language Descriptive Theories, Tokyo University of Foreign Studies.
バリ語文法・会話 (Tata Bahasa dan Percakapan Bahasa Bali)
• Penulis: Asako Shiohara, Mayuko Hara, dan I Gusti Made Sutjaja
• Diterbitkan: Juli 2002 oleh ILCAA, Tokyo University of Foreign Studies.






















![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-350x250.png)



![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)



