10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Early NHS by Early NHS
July 20, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan berpakaian. Manusia-manusia dari berbagai mazhab, ideologi, dan kepentingan datang dengan asumsi dan argumentasinya.

Kaum konservatif meminta tubuh itu ditutup, industri kecantikan beriklan agar tubuh itu dipoles, algoritma menuntut tubuh itu selalu terpampang di layar, sementara sebagian kritikus kontemporer, khususnya dari kalangan feminisme, mengupayakan agar tubuh itu dibebaskan dari nilai-nilai yang mereka anggap menindas.

Bahasa yang digunakan kelompok-kelompok itu barangkali berbeda. Ada yang bicara tentang moralitas, kecantikan, pemberdayaan, bahkan perlawanan terhadap kapitalisme dan budaya patriarki. Sayangnya, semua “niat baik” itu punya kemungkinan berakhir pada tuntutan yang sama, yaitu perempuan seharusnya menampilkan tubuh sesuai standar orang lain.

Kecenderungan tersebut tampak dalam tulisan seorang akademikus yang saya hormati, Surfian Rahmat AP, berjudul “Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital”, terbit di Tatkala.co pada 15 Juli 2026.  

Dalam tulisan tersebut, Surfian menjelaskan bahwa figur baddie umumnya dikonstruksikan sebagai perempuan yang percaya diri dan mandiri secara finansial, serta menampilkan hiper-femininitas tertentu melalui riasan wajah, bentuk tubuh, dan gaya berpakaian. Surfian kemudian melihatnya sebagai bentuk kontemporer dari pendisiplinan tubuh perempuan oleh budaya patriarki, kapitalisme neoliberal, dan algoritma media sosial.

 Gaya yang kerap dikaitkan dengan kemandirian, keberanian, dan kemampuan perempuan mengendalikan citra dirinya, menurut Surfian, justru menyembunyikan bentuk penaklukan baru. Ia menulis: “Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi ….”

Saya sepakat dengan Surfian pada beberapa bagian, khususnya saat ia mengkritik kapitalisme, industri kecantikan, algoritma, serta bagian tulisannya yang menjelaskan apropriasi budaya dan hierarki rasial. Hanya saja, persoalan terbesar tulisan Surfian terletak pada kecenderungan analisisnya mempersempit ruang agensi perempuan.

Surfian memang menyebut tubuh sebagai subjek politik yang secara aktif merespons dan mereproduksi struktur kekuasaan. Namun, pada bagian-bagian selanjutnya, perempuan lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang telah menginternalisasi pengawasan, mengejar validasi eksternal, dan mengalami pemberdayaan yang ilusionis.

Hemat saya, tulisan Surfian menyisakan kesan bahwa perempuan yang mengikuti estetika baddie hanya merasakan kebebasan semu, padahal mereka sebenarnya sedang ditaklukkan; bahwa kepercayaan diri mereka merupakan produk manipulasi pasar; dan pilihan yang mereka anggap personal sesungguhnya adalah bentuk lain kepatuhan terhadap budaya digital dan kapitalisme. Pada akhirnya, perempuan kembali menjadi tubuh yang dijelaskan oleh orang lain.

Saya tidak mendefinisikan diri sebagai feminis dan tidak sedang membela hiper-femininitas. Saya hanya menolak argumen deterministik yang diajukan Surfian. Lebih-lebih, ia sempat mengatakan fenomena yang sedang dibahas memperlihatkan realitas yang kompleks, tetapi di dalam tulisannya kompleksitas itu ia reduksi menjadi persoalan struktur, sementara kemampuan perempuan untuk menafsirkan dan menegosiasikan pengalaman tubuhnya sendiri diabaikan. Surfian memang mengakui adanya agensi sebagai istilah, hanya saja penggunaan bahasa yang serba mutlak membuat agensi perempuan hampir tidak memiliki ruang dan diabaikan dalam kesimpulan analisisnya.

Struktur Tidak Menghapus Agensi

Tidak ada pilihan manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial, dengan siapa ia bergaul, akun TikTok apa yang ia tonton, bahkan nasihat orang tua saat bocah bisa saja memengaruhi pilihan hidup seseorang. Cara seseorang berpakaian, menampilkan diri, sampai mendefinisikan diri tidak jarang dibentuk oleh kebudayaan, nilai, struktur sosial, atau lingkungan sekitar. Dengan kata lain, tidak ada tubuh yang berdiri bebas di luar struktur sosial atau kekuasaan.

Karena itu, menunjukkan bahwa suatu pilihan dipengaruhi oleh struktur belum cukup untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut sama sekali bukan pilihan bebas. Seseorang bisa saja tahu dia sedang dipengaruhi tetapi tetap mempertahankan pilihan tersebut. Soal ini, pertanyaan terpentingnya bukan apakah pilihan perempuan murni dan bebas dari segala pengaruh, tetapi bagaimana perempuan menjalankan agensi di tengah pengaruh struktur tersebut. Seorang perempuan mungkin tahu dan paham bahwa industri kecantikan mengeksploitasi rasa “insecure”–nya, tetapi ia tetap menikmati kegiatan merias wajah. Seorang kreator kecantikan bisa saja menyadari bahwa media sosial memonetisasi tubuhnya, tetapi pada saat yang sama ia memperoleh pendapatan, jaringan sosial, dan kendali atas citra dirinya.

Kedua hal itu sangat mungkin muncul pada saat yang sama. Seseorang dapat memanfaatkan sistem yang membatasinya atau mengikuti norma tertentu sambil terus memperjuangkan eksistensinya. Seorang perempuan dapat memperoleh kesenangan, keuntungan material, dan ruang agensi dari suatu praktik, sekalipun praktik tersebut tetap berlangsung dalam relasi yang eksploitatif. Adanya manfaat yang diperoleh tidak begitu saja menghapus eksploitasi, sebagaimana eksploitasi tidak begitu saja menghapus seluruh agensi seseorang yang mengalaminya.

Maka itu, saya pikir analisis Surfian terlalu deterministik. Kapitalisme dan algoritma diperlakukan seolah-olah sepenuhnya menentukan arti tindakan perempuan. Padahal, dipengaruhi oleh struktur tidak sama dengan sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Mengakui hal ini bukan berarti menolak adanya kekuasaan, tetapi menolak menjadikan perempuan sebagai korban pasif yang tidak memahami pengalaman tubuhnya sendiri.

Paternalisme dalam Bahasa Pembebasan

Kritik Surfian terhadap estetika baddie berisiko berubah menjadi paternalisme baru. Pada masa lalu, tubuh perempuan dikendalikan melalui bahasa moralitas: perempuan yang berpakaian terbuka dianggap tidak terhormat. Kini, kecenderungan untuk menetapkan makna tubuh perempuan juga dapat muncul melalui bahasa yang lebih progresif, misalnya ketika perempuan yang menikmati riasan dianggap semata-mata dikendalikan industri atau perempuan yang menampilkan tubuhnya langsung dinilai sedang mengobjektifikasi diri.

Tentu, kritik progresif tidak memiliki bentuk dan daya paksa yang sama dengan kontrol moral atau institusional. Namun, keduanya dapat bertemu pada satu kecenderungan, yaitu pihak lain merasa lebih mengetahui arti kebebasan perempuan daripada perempuan yang menjalani pengalaman tubuh tersebut.

Lalu, seperti apakah perempuan yang benar-benar bebas? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Yang ingin saya katakan, gagasan tentang tubuh yang sepenuhnya autentik, alamiah, dan bebas dari pengaruh pasar adalah fantasi. Tubuh manusia selalu terikat, tidak ada tubuh yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial maupun pasar.

Karena itu, pembebasan tidak dapat diukur dari tebal-tipisnya riasan, terbuka-tertutupnya pakaian, atau seberapa banyak tubuh ditampilkan.

Kritik Surfian terhadap kapitalisme dan algoritma tetap relevan. Namun, kritik tersebut akan menjadi lebih membebaskan apabila diarahkan pada perluasan pilihan, bukan pada penetapan pilihan mana yang boleh disebut bebas.

Perjuangannya bukan mengganti satu standar tubuh dengan standar tubuh lainnya. Bukan juga mengganti pengawasan konservatif dengan pengawasan progresif. Yang seharusnya diperjuangkan adalah kondisi ketika perempuan dapat memakai riasan atau tidak, menampilkan tubuh atau menutupinya, mengikuti estetika tertentu atau tidak, tanpa kehilangan martabat, kesempatan untuk hidup, bahkan mengupayakan eksistensi dirinya.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan?

Tidak ada satu pihak pun, baik pasar, negara, agama, algoritma, maupun kritikus, yang memiliki kewenangan tunggal untuk menentukan arti kebebasan tubuh perempuan.

Estetika baddie bukan pembebasan mutlak, tetapi pada saat yang sama juga bukan penaklukan mutlak. Dalam tubuh perempuan di era digital, kesenangan, identitas, eksploitasi, dan agensi dapat hadir secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah setiap perempuan yang mengikuti estetika baddie telah bebas atau sedang ditindas. Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dan bahkan berubah dari waktu ke waktu.

Yang saya tolak bukan kritik terhadap pilihan perempuan, melainkan klaim bahwa kritikus selalu lebih mengetahui arti sesungguhnya dari pilihan tersebut dibandingkan perempuan yang menjalaninya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang diberi kewenangan untuk menentukan jawabannya?

Apabila jawaban selalu datang dari manusia lain, pasar, algoritma, negara, atau bahkan kritikus, perempuan akan tetap ditempatkan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang mampu menafsirkan dan menyuarakan pengalaman tubuhnya sendiri.

Surfian Rahmat telah menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui standar kecantikan, kapitalisme, dan algoritma. Namun, membongkar kekuasaan yang bekerja atas tubuh perempuan tidak seharusnya dilakukan dengan merampas kewenangan perempuan untuk memberi makna pada tubuhnya sendiri.

Tubuh perempuan dan juga laki-laki yang bebas bukan tubuh yang telah bebas dari pengaruh. Tubuh semacam itu tidak pernah ada. Tubuh kita selalu terikat. Yang perlu diperjuangkan adalah ruang agar manusia, di tengah berbagai keterikatannya, tetap dapat menegosiasikan, menerima, menolak, atau mengubah pengaruh-pengaruh tersebut. (Ciao!) [T]

  • BACA JUGA:
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Tags: PerempuanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

Next Post

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki ---Membaca "Agem Ni Pollok" dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co