11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Early NHS by Early NHS
July 20, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan berpakaian. Manusia-manusia dari berbagai mazhab, ideologi, dan kepentingan datang dengan asumsi dan argumentasinya.

Kaum konservatif meminta tubuh itu ditutup, industri kecantikan beriklan agar tubuh itu dipoles, algoritma menuntut tubuh itu selalu terpampang di layar, sementara sebagian kritikus kontemporer, khususnya dari kalangan feminisme, mengupayakan agar tubuh itu dibebaskan dari nilai-nilai yang mereka anggap menindas.

Bahasa yang digunakan kelompok-kelompok itu barangkali berbeda. Ada yang bicara tentang moralitas, kecantikan, pemberdayaan, bahkan perlawanan terhadap kapitalisme dan budaya patriarki. Sayangnya, semua “niat baik” itu punya kemungkinan berakhir pada tuntutan yang sama, yaitu perempuan seharusnya menampilkan tubuh sesuai standar orang lain.

Kecenderungan tersebut tampak dalam tulisan seorang akademikus yang saya hormati, Surfian Rahmat AP, berjudul “Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital”, terbit di Tatkala.co pada 15 Juli 2026.  

Dalam tulisan tersebut, Surfian menjelaskan bahwa figur baddie umumnya dikonstruksikan sebagai perempuan yang percaya diri dan mandiri secara finansial, serta menampilkan hiper-femininitas tertentu melalui riasan wajah, bentuk tubuh, dan gaya berpakaian. Surfian kemudian melihatnya sebagai bentuk kontemporer dari pendisiplinan tubuh perempuan oleh budaya patriarki, kapitalisme neoliberal, dan algoritma media sosial.

 Gaya yang kerap dikaitkan dengan kemandirian, keberanian, dan kemampuan perempuan mengendalikan citra dirinya, menurut Surfian, justru menyembunyikan bentuk penaklukan baru. Ia menulis: “Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi ….”

Saya sepakat dengan Surfian pada beberapa bagian, khususnya saat ia mengkritik kapitalisme, industri kecantikan, algoritma, serta bagian tulisannya yang menjelaskan apropriasi budaya dan hierarki rasial. Hanya saja, persoalan terbesar tulisan Surfian terletak pada kecenderungan analisisnya mempersempit ruang agensi perempuan.

Surfian memang menyebut tubuh sebagai subjek politik yang secara aktif merespons dan mereproduksi struktur kekuasaan. Namun, pada bagian-bagian selanjutnya, perempuan lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang telah menginternalisasi pengawasan, mengejar validasi eksternal, dan mengalami pemberdayaan yang ilusionis.

Hemat saya, tulisan Surfian menyisakan kesan bahwa perempuan yang mengikuti estetika baddie hanya merasakan kebebasan semu, padahal mereka sebenarnya sedang ditaklukkan; bahwa kepercayaan diri mereka merupakan produk manipulasi pasar; dan pilihan yang mereka anggap personal sesungguhnya adalah bentuk lain kepatuhan terhadap budaya digital dan kapitalisme. Pada akhirnya, perempuan kembali menjadi tubuh yang dijelaskan oleh orang lain.

Saya tidak mendefinisikan diri sebagai feminis dan tidak sedang membela hiper-femininitas. Saya hanya menolak argumen deterministik yang diajukan Surfian. Lebih-lebih, ia sempat mengatakan fenomena yang sedang dibahas memperlihatkan realitas yang kompleks, tetapi di dalam tulisannya kompleksitas itu ia reduksi menjadi persoalan struktur, sementara kemampuan perempuan untuk menafsirkan dan menegosiasikan pengalaman tubuhnya sendiri diabaikan. Surfian memang mengakui adanya agensi sebagai istilah, hanya saja penggunaan bahasa yang serba mutlak membuat agensi perempuan hampir tidak memiliki ruang dan diabaikan dalam kesimpulan analisisnya.

Struktur Tidak Menghapus Agensi

Tidak ada pilihan manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial, dengan siapa ia bergaul, akun TikTok apa yang ia tonton, bahkan nasihat orang tua saat bocah bisa saja memengaruhi pilihan hidup seseorang. Cara seseorang berpakaian, menampilkan diri, sampai mendefinisikan diri tidak jarang dibentuk oleh kebudayaan, nilai, struktur sosial, atau lingkungan sekitar. Dengan kata lain, tidak ada tubuh yang berdiri bebas di luar struktur sosial atau kekuasaan.

Karena itu, menunjukkan bahwa suatu pilihan dipengaruhi oleh struktur belum cukup untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut sama sekali bukan pilihan bebas. Seseorang bisa saja tahu dia sedang dipengaruhi tetapi tetap mempertahankan pilihan tersebut. Soal ini, pertanyaan terpentingnya bukan apakah pilihan perempuan murni dan bebas dari segala pengaruh, tetapi bagaimana perempuan menjalankan agensi di tengah pengaruh struktur tersebut. Seorang perempuan mungkin tahu dan paham bahwa industri kecantikan mengeksploitasi rasa “insecure”–nya, tetapi ia tetap menikmati kegiatan merias wajah. Seorang kreator kecantikan bisa saja menyadari bahwa media sosial memonetisasi tubuhnya, tetapi pada saat yang sama ia memperoleh pendapatan, jaringan sosial, dan kendali atas citra dirinya.

Kedua hal itu sangat mungkin muncul pada saat yang sama. Seseorang dapat memanfaatkan sistem yang membatasinya atau mengikuti norma tertentu sambil terus memperjuangkan eksistensinya. Seorang perempuan dapat memperoleh kesenangan, keuntungan material, dan ruang agensi dari suatu praktik, sekalipun praktik tersebut tetap berlangsung dalam relasi yang eksploitatif. Adanya manfaat yang diperoleh tidak begitu saja menghapus eksploitasi, sebagaimana eksploitasi tidak begitu saja menghapus seluruh agensi seseorang yang mengalaminya.

Maka itu, saya pikir analisis Surfian terlalu deterministik. Kapitalisme dan algoritma diperlakukan seolah-olah sepenuhnya menentukan arti tindakan perempuan. Padahal, dipengaruhi oleh struktur tidak sama dengan sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Mengakui hal ini bukan berarti menolak adanya kekuasaan, tetapi menolak menjadikan perempuan sebagai korban pasif yang tidak memahami pengalaman tubuhnya sendiri.

Paternalisme dalam Bahasa Pembebasan

Kritik Surfian terhadap estetika baddie berisiko berubah menjadi paternalisme baru. Pada masa lalu, tubuh perempuan dikendalikan melalui bahasa moralitas: perempuan yang berpakaian terbuka dianggap tidak terhormat. Kini, kecenderungan untuk menetapkan makna tubuh perempuan juga dapat muncul melalui bahasa yang lebih progresif, misalnya ketika perempuan yang menikmati riasan dianggap semata-mata dikendalikan industri atau perempuan yang menampilkan tubuhnya langsung dinilai sedang mengobjektifikasi diri.

Tentu, kritik progresif tidak memiliki bentuk dan daya paksa yang sama dengan kontrol moral atau institusional. Namun, keduanya dapat bertemu pada satu kecenderungan, yaitu pihak lain merasa lebih mengetahui arti kebebasan perempuan daripada perempuan yang menjalani pengalaman tubuh tersebut.

Lalu, seperti apakah perempuan yang benar-benar bebas? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Yang ingin saya katakan, gagasan tentang tubuh yang sepenuhnya autentik, alamiah, dan bebas dari pengaruh pasar adalah fantasi. Tubuh manusia selalu terikat, tidak ada tubuh yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial maupun pasar.

Karena itu, pembebasan tidak dapat diukur dari tebal-tipisnya riasan, terbuka-tertutupnya pakaian, atau seberapa banyak tubuh ditampilkan.

Kritik Surfian terhadap kapitalisme dan algoritma tetap relevan. Namun, kritik tersebut akan menjadi lebih membebaskan apabila diarahkan pada perluasan pilihan, bukan pada penetapan pilihan mana yang boleh disebut bebas.

Perjuangannya bukan mengganti satu standar tubuh dengan standar tubuh lainnya. Bukan juga mengganti pengawasan konservatif dengan pengawasan progresif. Yang seharusnya diperjuangkan adalah kondisi ketika perempuan dapat memakai riasan atau tidak, menampilkan tubuh atau menutupinya, mengikuti estetika tertentu atau tidak, tanpa kehilangan martabat, kesempatan untuk hidup, bahkan mengupayakan eksistensi dirinya.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan?

Tidak ada satu pihak pun, baik pasar, negara, agama, algoritma, maupun kritikus, yang memiliki kewenangan tunggal untuk menentukan arti kebebasan tubuh perempuan.

Estetika baddie bukan pembebasan mutlak, tetapi pada saat yang sama juga bukan penaklukan mutlak. Dalam tubuh perempuan di era digital, kesenangan, identitas, eksploitasi, dan agensi dapat hadir secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah setiap perempuan yang mengikuti estetika baddie telah bebas atau sedang ditindas. Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dan bahkan berubah dari waktu ke waktu.

Yang saya tolak bukan kritik terhadap pilihan perempuan, melainkan klaim bahwa kritikus selalu lebih mengetahui arti sesungguhnya dari pilihan tersebut dibandingkan perempuan yang menjalaninya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang diberi kewenangan untuk menentukan jawabannya?

Apabila jawaban selalu datang dari manusia lain, pasar, algoritma, negara, atau bahkan kritikus, perempuan akan tetap ditempatkan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang mampu menafsirkan dan menyuarakan pengalaman tubuhnya sendiri.

Surfian Rahmat telah menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui standar kecantikan, kapitalisme, dan algoritma. Namun, membongkar kekuasaan yang bekerja atas tubuh perempuan tidak seharusnya dilakukan dengan merampas kewenangan perempuan untuk memberi makna pada tubuhnya sendiri.

Tubuh perempuan dan juga laki-laki yang bebas bukan tubuh yang telah bebas dari pengaruh. Tubuh semacam itu tidak pernah ada. Tubuh kita selalu terikat. Yang perlu diperjuangkan adalah ruang agar manusia, di tengah berbagai keterikatannya, tetap dapat menegosiasikan, menerima, menolak, atau mengubah pengaruh-pengaruh tersebut. (Ciao!) [T]

  • BACA JUGA:
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Tags: PerempuanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

Next Post

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki ---Membaca "Agem Ni Pollok" dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co