20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Early NHS by Early NHS
July 20, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan berpakaian. Manusia-manusia dari berbagai mazhab, ideologi, dan kepentingan datang dengan asumsi dan argumentasinya.

Kaum konservatif meminta tubuh itu ditutup, industri kecantikan beriklan agar tubuh itu dipoles, algoritma menuntut tubuh itu selalu terpampang di layar, sementara sebagian kritikus kontemporer, khususnya dari kalangan feminisme, mengupayakan agar tubuh itu dibebaskan dari nilai-nilai yang mereka anggap menindas.

Bahasa yang digunakan kelompok-kelompok itu barangkali berbeda. Ada yang bicara tentang moralitas, kecantikan, pemberdayaan, bahkan perlawanan terhadap kapitalisme dan budaya patriarki. Sayangnya, semua “niat baik” itu punya kemungkinan berakhir pada tuntutan yang sama, yaitu perempuan seharusnya menampilkan tubuh sesuai standar orang lain.

Kecenderungan tersebut tampak dalam tulisan seorang akademikus yang saya hormati, Surfian Rahmat AP, berjudul “Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital”, terbit di Tatkala.co pada 15 Juli 2026.  

Dalam tulisan tersebut, Surfian menjelaskan bahwa figur baddie umumnya dikonstruksikan sebagai perempuan yang percaya diri dan mandiri secara finansial, serta menampilkan hiper-femininitas tertentu melalui riasan wajah, bentuk tubuh, dan gaya berpakaian. Surfian kemudian melihatnya sebagai bentuk kontemporer dari pendisiplinan tubuh perempuan oleh budaya patriarki, kapitalisme neoliberal, dan algoritma media sosial.

 Gaya yang kerap dikaitkan dengan kemandirian, keberanian, dan kemampuan perempuan mengendalikan citra dirinya, menurut Surfian, justru menyembunyikan bentuk penaklukan baru. Ia menulis: “Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi ….”

Saya sepakat dengan Surfian pada beberapa bagian, khususnya saat ia mengkritik kapitalisme, industri kecantikan, algoritma, serta bagian tulisannya yang menjelaskan apropriasi budaya dan hierarki rasial. Hanya saja, persoalan terbesar tulisan Surfian terletak pada kecenderungan analisisnya mempersempit ruang agensi perempuan.

Surfian memang menyebut tubuh sebagai subjek politik yang secara aktif merespons dan mereproduksi struktur kekuasaan. Namun, pada bagian-bagian selanjutnya, perempuan lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang telah menginternalisasi pengawasan, mengejar validasi eksternal, dan mengalami pemberdayaan yang ilusionis.

Hemat saya, tulisan Surfian menyisakan kesan bahwa perempuan yang mengikuti estetika baddie hanya merasakan kebebasan semu, padahal mereka sebenarnya sedang ditaklukkan; bahwa kepercayaan diri mereka merupakan produk manipulasi pasar; dan pilihan yang mereka anggap personal sesungguhnya adalah bentuk lain kepatuhan terhadap budaya digital dan kapitalisme. Pada akhirnya, perempuan kembali menjadi tubuh yang dijelaskan oleh orang lain.

Saya tidak mendefinisikan diri sebagai feminis dan tidak sedang membela hiper-femininitas. Saya hanya menolak argumen deterministik yang diajukan Surfian. Lebih-lebih, ia sempat mengatakan fenomena yang sedang dibahas memperlihatkan realitas yang kompleks, tetapi di dalam tulisannya kompleksitas itu ia reduksi menjadi persoalan struktur, sementara kemampuan perempuan untuk menafsirkan dan menegosiasikan pengalaman tubuhnya sendiri diabaikan. Surfian memang mengakui adanya agensi sebagai istilah, hanya saja penggunaan bahasa yang serba mutlak membuat agensi perempuan hampir tidak memiliki ruang dan diabaikan dalam kesimpulan analisisnya.

Struktur Tidak Menghapus Agensi

Tidak ada pilihan manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial, dengan siapa ia bergaul, akun TikTok apa yang ia tonton, bahkan nasihat orang tua saat bocah bisa saja memengaruhi pilihan hidup seseorang. Cara seseorang berpakaian, menampilkan diri, sampai mendefinisikan diri tidak jarang dibentuk oleh kebudayaan, nilai, struktur sosial, atau lingkungan sekitar. Dengan kata lain, tidak ada tubuh yang berdiri bebas di luar struktur sosial atau kekuasaan.

Karena itu, menunjukkan bahwa suatu pilihan dipengaruhi oleh struktur belum cukup untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut sama sekali bukan pilihan bebas. Seseorang bisa saja tahu dia sedang dipengaruhi tetapi tetap mempertahankan pilihan tersebut. Soal ini, pertanyaan terpentingnya bukan apakah pilihan perempuan murni dan bebas dari segala pengaruh, tetapi bagaimana perempuan menjalankan agensi di tengah pengaruh struktur tersebut. Seorang perempuan mungkin tahu dan paham bahwa industri kecantikan mengeksploitasi rasa “insecure”–nya, tetapi ia tetap menikmati kegiatan merias wajah. Seorang kreator kecantikan bisa saja menyadari bahwa media sosial memonetisasi tubuhnya, tetapi pada saat yang sama ia memperoleh pendapatan, jaringan sosial, dan kendali atas citra dirinya.

Kedua hal itu sangat mungkin muncul pada saat yang sama. Seseorang dapat memanfaatkan sistem yang membatasinya atau mengikuti norma tertentu sambil terus memperjuangkan eksistensinya. Seorang perempuan dapat memperoleh kesenangan, keuntungan material, dan ruang agensi dari suatu praktik, sekalipun praktik tersebut tetap berlangsung dalam relasi yang eksploitatif. Adanya manfaat yang diperoleh tidak begitu saja menghapus eksploitasi, sebagaimana eksploitasi tidak begitu saja menghapus seluruh agensi seseorang yang mengalaminya.

Maka itu, saya pikir analisis Surfian terlalu deterministik. Kapitalisme dan algoritma diperlakukan seolah-olah sepenuhnya menentukan arti tindakan perempuan. Padahal, dipengaruhi oleh struktur tidak sama dengan sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Mengakui hal ini bukan berarti menolak adanya kekuasaan, tetapi menolak menjadikan perempuan sebagai korban pasif yang tidak memahami pengalaman tubuhnya sendiri.

Paternalisme dalam Bahasa Pembebasan

Kritik Surfian terhadap estetika baddie berisiko berubah menjadi paternalisme baru. Pada masa lalu, tubuh perempuan dikendalikan melalui bahasa moralitas: perempuan yang berpakaian terbuka dianggap tidak terhormat. Kini, kecenderungan untuk menetapkan makna tubuh perempuan juga dapat muncul melalui bahasa yang lebih progresif, misalnya ketika perempuan yang menikmati riasan dianggap semata-mata dikendalikan industri atau perempuan yang menampilkan tubuhnya langsung dinilai sedang mengobjektifikasi diri.

Tentu, kritik progresif tidak memiliki bentuk dan daya paksa yang sama dengan kontrol moral atau institusional. Namun, keduanya dapat bertemu pada satu kecenderungan, yaitu pihak lain merasa lebih mengetahui arti kebebasan perempuan daripada perempuan yang menjalani pengalaman tubuh tersebut.

Lalu, seperti apakah perempuan yang benar-benar bebas? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Yang ingin saya katakan, gagasan tentang tubuh yang sepenuhnya autentik, alamiah, dan bebas dari pengaruh pasar adalah fantasi. Tubuh manusia selalu terikat, tidak ada tubuh yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial maupun pasar.

Karena itu, pembebasan tidak dapat diukur dari tebal-tipisnya riasan, terbuka-tertutupnya pakaian, atau seberapa banyak tubuh ditampilkan.

Kritik Surfian terhadap kapitalisme dan algoritma tetap relevan. Namun, kritik tersebut akan menjadi lebih membebaskan apabila diarahkan pada perluasan pilihan, bukan pada penetapan pilihan mana yang boleh disebut bebas.

Perjuangannya bukan mengganti satu standar tubuh dengan standar tubuh lainnya. Bukan juga mengganti pengawasan konservatif dengan pengawasan progresif. Yang seharusnya diperjuangkan adalah kondisi ketika perempuan dapat memakai riasan atau tidak, menampilkan tubuh atau menutupinya, mengikuti estetika tertentu atau tidak, tanpa kehilangan martabat, kesempatan untuk hidup, bahkan mengupayakan eksistensi dirinya.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan?

Tidak ada satu pihak pun, baik pasar, negara, agama, algoritma, maupun kritikus, yang memiliki kewenangan tunggal untuk menentukan arti kebebasan tubuh perempuan.

Estetika baddie bukan pembebasan mutlak, tetapi pada saat yang sama juga bukan penaklukan mutlak. Dalam tubuh perempuan di era digital, kesenangan, identitas, eksploitasi, dan agensi dapat hadir secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah setiap perempuan yang mengikuti estetika baddie telah bebas atau sedang ditindas. Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dan bahkan berubah dari waktu ke waktu.

Yang saya tolak bukan kritik terhadap pilihan perempuan, melainkan klaim bahwa kritikus selalu lebih mengetahui arti sesungguhnya dari pilihan tersebut dibandingkan perempuan yang menjalaninya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang diberi kewenangan untuk menentukan jawabannya?

Apabila jawaban selalu datang dari manusia lain, pasar, algoritma, negara, atau bahkan kritikus, perempuan akan tetap ditempatkan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang mampu menafsirkan dan menyuarakan pengalaman tubuhnya sendiri.

Surfian Rahmat telah menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui standar kecantikan, kapitalisme, dan algoritma. Namun, membongkar kekuasaan yang bekerja atas tubuh perempuan tidak seharusnya dilakukan dengan merampas kewenangan perempuan untuk memberi makna pada tubuhnya sendiri.

Tubuh perempuan dan juga laki-laki yang bebas bukan tubuh yang telah bebas dari pengaruh. Tubuh semacam itu tidak pernah ada. Tubuh kita selalu terikat. Yang perlu diperjuangkan adalah ruang agar manusia, di tengah berbagai keterikatannya, tetap dapat menegosiasikan, menerima, menolak, atau mengubah pengaruh-pengaruh tersebut. (Ciao!) [T]

  • BACA JUGA:
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Tags: PerempuanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

Next Post

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki ---Membaca "Agem Ni Pollok" dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co