31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

Early NHS by Early NHS
July 20, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan berpakaian. Manusia-manusia dari berbagai mazhab, ideologi, dan kepentingan datang dengan asumsi dan argumentasinya.

Kaum konservatif meminta tubuh itu ditutup, industri kecantikan beriklan agar tubuh itu dipoles, algoritma menuntut tubuh itu selalu terpampang di layar, sementara sebagian kritikus kontemporer, khususnya dari kalangan feminisme, mengupayakan agar tubuh itu dibebaskan dari nilai-nilai yang mereka anggap menindas.

Bahasa yang digunakan kelompok-kelompok itu barangkali berbeda. Ada yang bicara tentang moralitas, kecantikan, pemberdayaan, bahkan perlawanan terhadap kapitalisme dan budaya patriarki. Sayangnya, semua “niat baik” itu punya kemungkinan berakhir pada tuntutan yang sama, yaitu perempuan seharusnya menampilkan tubuh sesuai standar orang lain.

Kecenderungan tersebut tampak dalam tulisan seorang akademikus yang saya hormati, Surfian Rahmat AP, berjudul “Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital”, terbit di Tatkala.co pada 15 Juli 2026.  

Dalam tulisan tersebut, Surfian menjelaskan bahwa figur baddie umumnya dikonstruksikan sebagai perempuan yang percaya diri dan mandiri secara finansial, serta menampilkan hiper-femininitas tertentu melalui riasan wajah, bentuk tubuh, dan gaya berpakaian. Surfian kemudian melihatnya sebagai bentuk kontemporer dari pendisiplinan tubuh perempuan oleh budaya patriarki, kapitalisme neoliberal, dan algoritma media sosial.

 Gaya yang kerap dikaitkan dengan kemandirian, keberanian, dan kemampuan perempuan mengendalikan citra dirinya, menurut Surfian, justru menyembunyikan bentuk penaklukan baru. Ia menulis: “Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi ….”

Saya sepakat dengan Surfian pada beberapa bagian, khususnya saat ia mengkritik kapitalisme, industri kecantikan, algoritma, serta bagian tulisannya yang menjelaskan apropriasi budaya dan hierarki rasial. Hanya saja, persoalan terbesar tulisan Surfian terletak pada kecenderungan analisisnya mempersempit ruang agensi perempuan.

Surfian memang menyebut tubuh sebagai subjek politik yang secara aktif merespons dan mereproduksi struktur kekuasaan. Namun, pada bagian-bagian selanjutnya, perempuan lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang telah menginternalisasi pengawasan, mengejar validasi eksternal, dan mengalami pemberdayaan yang ilusionis.

Hemat saya, tulisan Surfian menyisakan kesan bahwa perempuan yang mengikuti estetika baddie hanya merasakan kebebasan semu, padahal mereka sebenarnya sedang ditaklukkan; bahwa kepercayaan diri mereka merupakan produk manipulasi pasar; dan pilihan yang mereka anggap personal sesungguhnya adalah bentuk lain kepatuhan terhadap budaya digital dan kapitalisme. Pada akhirnya, perempuan kembali menjadi tubuh yang dijelaskan oleh orang lain.

Saya tidak mendefinisikan diri sebagai feminis dan tidak sedang membela hiper-femininitas. Saya hanya menolak argumen deterministik yang diajukan Surfian. Lebih-lebih, ia sempat mengatakan fenomena yang sedang dibahas memperlihatkan realitas yang kompleks, tetapi di dalam tulisannya kompleksitas itu ia reduksi menjadi persoalan struktur, sementara kemampuan perempuan untuk menafsirkan dan menegosiasikan pengalaman tubuhnya sendiri diabaikan. Surfian memang mengakui adanya agensi sebagai istilah, hanya saja penggunaan bahasa yang serba mutlak membuat agensi perempuan hampir tidak memiliki ruang dan diabaikan dalam kesimpulan analisisnya.

Struktur Tidak Menghapus Agensi

Tidak ada pilihan manusia yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial, dengan siapa ia bergaul, akun TikTok apa yang ia tonton, bahkan nasihat orang tua saat bocah bisa saja memengaruhi pilihan hidup seseorang. Cara seseorang berpakaian, menampilkan diri, sampai mendefinisikan diri tidak jarang dibentuk oleh kebudayaan, nilai, struktur sosial, atau lingkungan sekitar. Dengan kata lain, tidak ada tubuh yang berdiri bebas di luar struktur sosial atau kekuasaan.

Karena itu, menunjukkan bahwa suatu pilihan dipengaruhi oleh struktur belum cukup untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut sama sekali bukan pilihan bebas. Seseorang bisa saja tahu dia sedang dipengaruhi tetapi tetap mempertahankan pilihan tersebut. Soal ini, pertanyaan terpentingnya bukan apakah pilihan perempuan murni dan bebas dari segala pengaruh, tetapi bagaimana perempuan menjalankan agensi di tengah pengaruh struktur tersebut. Seorang perempuan mungkin tahu dan paham bahwa industri kecantikan mengeksploitasi rasa “insecure”–nya, tetapi ia tetap menikmati kegiatan merias wajah. Seorang kreator kecantikan bisa saja menyadari bahwa media sosial memonetisasi tubuhnya, tetapi pada saat yang sama ia memperoleh pendapatan, jaringan sosial, dan kendali atas citra dirinya.

Kedua hal itu sangat mungkin muncul pada saat yang sama. Seseorang dapat memanfaatkan sistem yang membatasinya atau mengikuti norma tertentu sambil terus memperjuangkan eksistensinya. Seorang perempuan dapat memperoleh kesenangan, keuntungan material, dan ruang agensi dari suatu praktik, sekalipun praktik tersebut tetap berlangsung dalam relasi yang eksploitatif. Adanya manfaat yang diperoleh tidak begitu saja menghapus eksploitasi, sebagaimana eksploitasi tidak begitu saja menghapus seluruh agensi seseorang yang mengalaminya.

Maka itu, saya pikir analisis Surfian terlalu deterministik. Kapitalisme dan algoritma diperlakukan seolah-olah sepenuhnya menentukan arti tindakan perempuan. Padahal, dipengaruhi oleh struktur tidak sama dengan sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Mengakui hal ini bukan berarti menolak adanya kekuasaan, tetapi menolak menjadikan perempuan sebagai korban pasif yang tidak memahami pengalaman tubuhnya sendiri.

Paternalisme dalam Bahasa Pembebasan

Kritik Surfian terhadap estetika baddie berisiko berubah menjadi paternalisme baru. Pada masa lalu, tubuh perempuan dikendalikan melalui bahasa moralitas: perempuan yang berpakaian terbuka dianggap tidak terhormat. Kini, kecenderungan untuk menetapkan makna tubuh perempuan juga dapat muncul melalui bahasa yang lebih progresif, misalnya ketika perempuan yang menikmati riasan dianggap semata-mata dikendalikan industri atau perempuan yang menampilkan tubuhnya langsung dinilai sedang mengobjektifikasi diri.

Tentu, kritik progresif tidak memiliki bentuk dan daya paksa yang sama dengan kontrol moral atau institusional. Namun, keduanya dapat bertemu pada satu kecenderungan, yaitu pihak lain merasa lebih mengetahui arti kebebasan perempuan daripada perempuan yang menjalani pengalaman tubuh tersebut.

Lalu, seperti apakah perempuan yang benar-benar bebas? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini. Yang ingin saya katakan, gagasan tentang tubuh yang sepenuhnya autentik, alamiah, dan bebas dari pengaruh pasar adalah fantasi. Tubuh manusia selalu terikat, tidak ada tubuh yang sepenuhnya bebas dari pengaruh sosial maupun pasar.

Karena itu, pembebasan tidak dapat diukur dari tebal-tipisnya riasan, terbuka-tertutupnya pakaian, atau seberapa banyak tubuh ditampilkan.

Kritik Surfian terhadap kapitalisme dan algoritma tetap relevan. Namun, kritik tersebut akan menjadi lebih membebaskan apabila diarahkan pada perluasan pilihan, bukan pada penetapan pilihan mana yang boleh disebut bebas.

Perjuangannya bukan mengganti satu standar tubuh dengan standar tubuh lainnya. Bukan juga mengganti pengawasan konservatif dengan pengawasan progresif. Yang seharusnya diperjuangkan adalah kondisi ketika perempuan dapat memakai riasan atau tidak, menampilkan tubuh atau menutupinya, mengikuti estetika tertentu atau tidak, tanpa kehilangan martabat, kesempatan untuk hidup, bahkan mengupayakan eksistensi dirinya.

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan?

Tidak ada satu pihak pun, baik pasar, negara, agama, algoritma, maupun kritikus, yang memiliki kewenangan tunggal untuk menentukan arti kebebasan tubuh perempuan.

Estetika baddie bukan pembebasan mutlak, tetapi pada saat yang sama juga bukan penaklukan mutlak. Dalam tubuh perempuan di era digital, kesenangan, identitas, eksploitasi, dan agensi dapat hadir secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah setiap perempuan yang mengikuti estetika baddie telah bebas atau sedang ditindas. Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dan bahkan berubah dari waktu ke waktu.

Yang saya tolak bukan kritik terhadap pilihan perempuan, melainkan klaim bahwa kritikus selalu lebih mengetahui arti sesungguhnya dari pilihan tersebut dibandingkan perempuan yang menjalaninya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang diberi kewenangan untuk menentukan jawabannya?

Apabila jawaban selalu datang dari manusia lain, pasar, algoritma, negara, atau bahkan kritikus, perempuan akan tetap ditempatkan sebagai objek yang dibicarakan, bukan sebagai subjek yang mampu menafsirkan dan menyuarakan pengalaman tubuhnya sendiri.

Surfian Rahmat telah menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja melalui standar kecantikan, kapitalisme, dan algoritma. Namun, membongkar kekuasaan yang bekerja atas tubuh perempuan tidak seharusnya dilakukan dengan merampas kewenangan perempuan untuk memberi makna pada tubuhnya sendiri.

Tubuh perempuan dan juga laki-laki yang bebas bukan tubuh yang telah bebas dari pengaruh. Tubuh semacam itu tidak pernah ada. Tubuh kita selalu terikat. Yang perlu diperjuangkan adalah ruang agar manusia, di tengah berbagai keterikatannya, tetap dapat menegosiasikan, menerima, menolak, atau mengubah pengaruh-pengaruh tersebut. (Ciao!) [T]

  • BACA JUGA:
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Tags: PerempuanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

Next Post

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki ---Membaca "Agem Ni Pollok" dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co