26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie dikonstruksikan sebagai perempuan yang sangat percaya diri, mandiri secara finansial, dan menampilkan hiper-femininitas yang spesifik: riasan wajah tebal yang presisi (contouring), tubuh dengan proporsi hourglass (pinggang kecil dengan pinggul dan dada yang padat), serta gaya busana yang menonjolkan lekuk tubuh.

Di permukaan, fenomena berlomba-lombanya individu untuk mencapai status baddie sering dinarasikan sebagai bentuk women empowerment sebuah perayaan atas otonomi tubuh dan kebebasan berekspresi.

Namun, jika dibedah menggunakan kacamata politik tubuh (body politics), fenomena ini memperlihatkan realitas yang lebih kompleks. Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gaze (tatapan algoritmik).

Lebih jauh lagi, fenomena ini menandai pergeseran radikal di mana batas antara ranah privat (tubuh biologis) dan ruang publik (etalase digital) menjadi lebur. Tubuh tidak lagi sekadar entitas fisik yang dihidupi, melainkan sebuah subjek politik yang secara aktif merespons, mereproduksi, dan merepresentasikan struktur kekuasaan dominan. Bersembunyi di balik retorika “mencintai diri sendiri” (self-love), dorongan obsesif untuk menjadi baddie justru mengaburkan garis antara agensi otentik dan kepatuhan mutlak pada tuntutan industri visual kontemporer.

Tubuh yang Didisiplinkan: Dari Panopticon ke Algorithmic Gaze

Konsep politik tubuh bertumpu pada gagasan bahwa tubuh manusia bukanlah entitas biologis yang netral, melainkan sebuah kanvas di mana institusi, masyarakat, dan ideologi menorehkan kekuasaannya. Meminjam pemikiran Michel Foucault mengenai kedisiplinan tubuh (docile bodies), tubuh perempuan di era digital secara konstan diatur agar patuh pada norma tertentu.

Jika di masa lalu pendisiplinan tubuh dilakukan melalui institusi formal atau tekanan sosial secara langsung, hari ini pendisiplinan itu bekerja melalui algoritma. Individu secara sukarela mendisiplinkan tubuh mereka melalui diet ketat, olahraga spesifik, modifikasi kosmetik, hingga operasi plastic demi memenuhi metrik visibilitas di media sosial (seperti jumlah likes, followers, dan endorsement).

Algoritma media sosial pada dasarnya bukanlah entitas matematis yang netral; ia dikodekan dengan bias patriarki dan kapitalis. Algorithmic gaze bekerja dengan mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Tubuh yang berhasil mereplikasi standar baddie akan diberikan kompensasi berupa viralitas dan jangkauan (reach) yang luas. Sebaliknya, tubuh yang gagal atau menolak tunduk pada estetika ini akan secara perlahan “dihukum” melalui shadowbanning atau penurunan visibilitas secara sistemik.

Kondisi ini menciptakan bentuk panoptisisme gaya baru di mana pengawasan eksternal (male gaze atau tatapan laki-laki) telah sepenuhnya diinternalisasi oleh perempuan. Karena pendisiplinan ini dibingkai sebagai upaya “merawat diri” (self-care), individu tidak merasa sedang diawasi atau ditindas. Mereka bertransformasi menjadi sipir sekaligus narapidana bagi tubuh mereka sendiri, melakukan self-policing tanpa henti demi mengamankan tempat di hierarki visual digital.

Ilusi Agensi dan Komodifikasi dalam Neoliberalisme

Budaya baddie sangat lekat dengan post-feminisme neoliberal, sebuah paham yang menggeser perjuangan struktural perempuan menjadi sekadar pilihan individual dan konsumsi. Kepercayaan diri (confidence) tidak lagi dilihat sebagai kondisi psikologis, melainkan sesuatu yang harus “ditampilkan” dan “dibeli”. Untuk menjadi seorang baddie, dibutuhkan modal kapital yang tidak sedikit: akses terhadap produk kecantikan kelas atas, pakaian desainer, filter digital, hingga intervensi medis. Di sini, politik tubuh beroperasi secara ekonomi.

Dalam logika neoliberal, individu diperlakukan sebagai homo economicus manusia ekonomi yang memandang dirinya sendiri sebagai perusahaan atau proyek investasi. Melalui estetika baddie, perempuan didorong untuk mengumpulkan “kapital seksual” (sebuah konsep dari sosiolog Catherine Hakim), di mana daya tarik fisik dan erotisme diubah menjadi aset yang dapat dimonetisasi. Agensi perempuan direduksi sekadar menjadi kebebasan untuk mengkomodifikasi diri sendiri di pasar bebas digital.

Tragisnya, narasi pemberdayaan ini mengabaikan fakta bahwa nilai dari kapital seksual tersebut sepenuhnya ditentukan oleh struktur pasar yang eksploitatif. Tubuh menjadi sebuah proyek yang tidak pernah selesai (a never-ending project), membutuhkan pemeliharaan finansial dan emosional yang terus-menerus. Pemberdayaan yang dirasakan oleh seorang baddie sering kali bersifat ilusionis dan rapuh, karena ia sangat bergantung pada validasi eksternal dan tren konsumsi yang senantiasa berubah demi meraup keuntungan bagi industri kecantikan (fast fashion dan bedak kosmetik).

Apropriasi Budaya dan Hierarki Rasial

Dimensi lain dari politik tubuh dalam fenomena baddie adalah pergeseran standar kecantikan Eurosentris menuju apropriasi rasial (blackfishing). Estetika baddie kerap kali meminjam dan mengkapitalisasi fitur fisik yang secara historis melekat pada perempuan kulit hitam atau perempuan kulit berwarna (seperti bibir tebal, kulit yang digelapkan secara artifisial, dan lekuk tubuh tertentu).

Praktik ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “gentrifikasi tubuh”. Ketika fitur-fitur fisik tersebut tumbuh secara alamiah pada perempuan minoritas, mereka secara historis distigmatisasi, dihiperseksualisasi, atau dianggap menyimpang dari standar profesional.

Namun, ketika fitur yang sama “disewa” dan diapropriasi oleh perempuan kulit putih atau kelas menengah ke atas, fitur tersebut tiba-tiba dirayakan sebagai elemen eksotis yang bernilai tinggi dan trendi. Estetika ini dengan sengaja menghapus sejarah panjang trauma dan penindasan rasial demi estetika dangkal.

Hal ini membuktikan bahwa politik tubuh selalu beririsan kuat dengan politik ras dan kelas. Komodifikasi fitur rasial tertentu oleh estetika baddie menegaskan bahwa dalam kapitalisme digital, identitas minoritas dapat dipotong-potong dan dikonsumsi sepotong demi sepotong oleh kelompok dominan. Pada akhirnya, tren ini tidak meruntuhkan hierarki rasial, melainkan justru memperkuatnya dengan menentukan siapa yang memiliki “hak” istimewa untuk memakai dan menanggalkan identitas marjinal layaknya sebuah kostum.

Keluar dari Etalase Digital

Perlombaan individu untuk menjadi baddie di era digital bukanlah kemenangan mutlak atas otoritas tubuh perempuan. Sebaliknya, fenomena ini adalah manifestasi kontemporer dari politik tubuh, di mana hiper-femininitas dan objektifikasi diri (self-objectification) direngkuh di bawah jubah pemberdayaan. Tubuh tetap menjadi situs eksploitasi, namun kali ini, eksploitasi tersebut dilakukan dengan senyuman, filter kamera, dan legitimasi algoritma.

Untuk melampaui jebakan ini, diperlukan re-evaluasi kritis terhadap apa yang kita definisikan sebagai “pemberdayaan”. Pembebasan tubuh yang sejati tidak mungkin dicapai dengan sekadar meniru estetika visual yang didikte oleh algoritma dan kapitalisme rasial. Perlawanan terhadap kontrol politik tubuh hari ini menuntut kesadaran baru sebuah politik tubuh yang menolak homogenisasi visual, dan yang berani merayakan otonomi tubuh tanpa harus menjadikannya komoditas di etalase digital. [T]

Penulis: Surfian Rahmat AP
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalfeminismeTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Next Post

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara ---Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co