5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie dikonstruksikan sebagai perempuan yang sangat percaya diri, mandiri secara finansial, dan menampilkan hiper-femininitas yang spesifik: riasan wajah tebal yang presisi (contouring), tubuh dengan proporsi hourglass (pinggang kecil dengan pinggul dan dada yang padat), serta gaya busana yang menonjolkan lekuk tubuh.

Di permukaan, fenomena berlomba-lombanya individu untuk mencapai status baddie sering dinarasikan sebagai bentuk women empowerment sebuah perayaan atas otonomi tubuh dan kebebasan berekspresi.

Namun, jika dibedah menggunakan kacamata politik tubuh (body politics), fenomena ini memperlihatkan realitas yang lebih kompleks. Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gaze (tatapan algoritmik).

Lebih jauh lagi, fenomena ini menandai pergeseran radikal di mana batas antara ranah privat (tubuh biologis) dan ruang publik (etalase digital) menjadi lebur. Tubuh tidak lagi sekadar entitas fisik yang dihidupi, melainkan sebuah subjek politik yang secara aktif merespons, mereproduksi, dan merepresentasikan struktur kekuasaan dominan. Bersembunyi di balik retorika “mencintai diri sendiri” (self-love), dorongan obsesif untuk menjadi baddie justru mengaburkan garis antara agensi otentik dan kepatuhan mutlak pada tuntutan industri visual kontemporer.

Tubuh yang Didisiplinkan: Dari Panopticon ke Algorithmic Gaze

Konsep politik tubuh bertumpu pada gagasan bahwa tubuh manusia bukanlah entitas biologis yang netral, melainkan sebuah kanvas di mana institusi, masyarakat, dan ideologi menorehkan kekuasaannya. Meminjam pemikiran Michel Foucault mengenai kedisiplinan tubuh (docile bodies), tubuh perempuan di era digital secara konstan diatur agar patuh pada norma tertentu.

Jika di masa lalu pendisiplinan tubuh dilakukan melalui institusi formal atau tekanan sosial secara langsung, hari ini pendisiplinan itu bekerja melalui algoritma. Individu secara sukarela mendisiplinkan tubuh mereka melalui diet ketat, olahraga spesifik, modifikasi kosmetik, hingga operasi plastic demi memenuhi metrik visibilitas di media sosial (seperti jumlah likes, followers, dan endorsement).

Algoritma media sosial pada dasarnya bukanlah entitas matematis yang netral; ia dikodekan dengan bias patriarki dan kapitalis. Algorithmic gaze bekerja dengan mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Tubuh yang berhasil mereplikasi standar baddie akan diberikan kompensasi berupa viralitas dan jangkauan (reach) yang luas. Sebaliknya, tubuh yang gagal atau menolak tunduk pada estetika ini akan secara perlahan “dihukum” melalui shadowbanning atau penurunan visibilitas secara sistemik.

Kondisi ini menciptakan bentuk panoptisisme gaya baru di mana pengawasan eksternal (male gaze atau tatapan laki-laki) telah sepenuhnya diinternalisasi oleh perempuan. Karena pendisiplinan ini dibingkai sebagai upaya “merawat diri” (self-care), individu tidak merasa sedang diawasi atau ditindas. Mereka bertransformasi menjadi sipir sekaligus narapidana bagi tubuh mereka sendiri, melakukan self-policing tanpa henti demi mengamankan tempat di hierarki visual digital.

Ilusi Agensi dan Komodifikasi dalam Neoliberalisme

Budaya baddie sangat lekat dengan post-feminisme neoliberal, sebuah paham yang menggeser perjuangan struktural perempuan menjadi sekadar pilihan individual dan konsumsi. Kepercayaan diri (confidence) tidak lagi dilihat sebagai kondisi psikologis, melainkan sesuatu yang harus “ditampilkan” dan “dibeli”. Untuk menjadi seorang baddie, dibutuhkan modal kapital yang tidak sedikit: akses terhadap produk kecantikan kelas atas, pakaian desainer, filter digital, hingga intervensi medis. Di sini, politik tubuh beroperasi secara ekonomi.

Dalam logika neoliberal, individu diperlakukan sebagai homo economicus manusia ekonomi yang memandang dirinya sendiri sebagai perusahaan atau proyek investasi. Melalui estetika baddie, perempuan didorong untuk mengumpulkan “kapital seksual” (sebuah konsep dari sosiolog Catherine Hakim), di mana daya tarik fisik dan erotisme diubah menjadi aset yang dapat dimonetisasi. Agensi perempuan direduksi sekadar menjadi kebebasan untuk mengkomodifikasi diri sendiri di pasar bebas digital.

Tragisnya, narasi pemberdayaan ini mengabaikan fakta bahwa nilai dari kapital seksual tersebut sepenuhnya ditentukan oleh struktur pasar yang eksploitatif. Tubuh menjadi sebuah proyek yang tidak pernah selesai (a never-ending project), membutuhkan pemeliharaan finansial dan emosional yang terus-menerus. Pemberdayaan yang dirasakan oleh seorang baddie sering kali bersifat ilusionis dan rapuh, karena ia sangat bergantung pada validasi eksternal dan tren konsumsi yang senantiasa berubah demi meraup keuntungan bagi industri kecantikan (fast fashion dan bedak kosmetik).

Apropriasi Budaya dan Hierarki Rasial

Dimensi lain dari politik tubuh dalam fenomena baddie adalah pergeseran standar kecantikan Eurosentris menuju apropriasi rasial (blackfishing). Estetika baddie kerap kali meminjam dan mengkapitalisasi fitur fisik yang secara historis melekat pada perempuan kulit hitam atau perempuan kulit berwarna (seperti bibir tebal, kulit yang digelapkan secara artifisial, dan lekuk tubuh tertentu).

Praktik ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “gentrifikasi tubuh”. Ketika fitur-fitur fisik tersebut tumbuh secara alamiah pada perempuan minoritas, mereka secara historis distigmatisasi, dihiperseksualisasi, atau dianggap menyimpang dari standar profesional.

Namun, ketika fitur yang sama “disewa” dan diapropriasi oleh perempuan kulit putih atau kelas menengah ke atas, fitur tersebut tiba-tiba dirayakan sebagai elemen eksotis yang bernilai tinggi dan trendi. Estetika ini dengan sengaja menghapus sejarah panjang trauma dan penindasan rasial demi estetika dangkal.

Hal ini membuktikan bahwa politik tubuh selalu beririsan kuat dengan politik ras dan kelas. Komodifikasi fitur rasial tertentu oleh estetika baddie menegaskan bahwa dalam kapitalisme digital, identitas minoritas dapat dipotong-potong dan dikonsumsi sepotong demi sepotong oleh kelompok dominan. Pada akhirnya, tren ini tidak meruntuhkan hierarki rasial, melainkan justru memperkuatnya dengan menentukan siapa yang memiliki “hak” istimewa untuk memakai dan menanggalkan identitas marjinal layaknya sebuah kostum.

Keluar dari Etalase Digital

Perlombaan individu untuk menjadi baddie di era digital bukanlah kemenangan mutlak atas otoritas tubuh perempuan. Sebaliknya, fenomena ini adalah manifestasi kontemporer dari politik tubuh, di mana hiper-femininitas dan objektifikasi diri (self-objectification) direngkuh di bawah jubah pemberdayaan. Tubuh tetap menjadi situs eksploitasi, namun kali ini, eksploitasi tersebut dilakukan dengan senyuman, filter kamera, dan legitimasi algoritma.

Untuk melampaui jebakan ini, diperlukan re-evaluasi kritis terhadap apa yang kita definisikan sebagai “pemberdayaan”. Pembebasan tubuh yang sejati tidak mungkin dicapai dengan sekadar meniru estetika visual yang didikte oleh algoritma dan kapitalisme rasial. Perlawanan terhadap kontrol politik tubuh hari ini menuntut kesadaran baru sebuah politik tubuh yang menolak homogenisasi visual, dan yang berani merayakan otonomi tubuh tanpa harus menjadikannya komoditas di etalase digital. [T]

Penulis: Surfian Rahmat AP
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalfeminismeTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Next Post

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara ---Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co