5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie dikonstruksikan sebagai perempuan yang sangat percaya diri, mandiri secara finansial, dan menampilkan hiper-femininitas yang spesifik: riasan wajah tebal yang presisi (contouring), tubuh dengan proporsi hourglass (pinggang kecil dengan pinggul dan dada yang padat), serta gaya busana yang menonjolkan lekuk tubuh.

Di permukaan, fenomena berlomba-lombanya individu untuk mencapai status baddie sering dinarasikan sebagai bentuk women empowerment sebuah perayaan atas otonomi tubuh dan kebebasan berekspresi.

Namun, jika dibedah menggunakan kacamata politik tubuh (body politics), fenomena ini memperlihatkan realitas yang lebih kompleks. Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gaze (tatapan algoritmik).

Lebih jauh lagi, fenomena ini menandai pergeseran radikal di mana batas antara ranah privat (tubuh biologis) dan ruang publik (etalase digital) menjadi lebur. Tubuh tidak lagi sekadar entitas fisik yang dihidupi, melainkan sebuah subjek politik yang secara aktif merespons, mereproduksi, dan merepresentasikan struktur kekuasaan dominan. Bersembunyi di balik retorika “mencintai diri sendiri” (self-love), dorongan obsesif untuk menjadi baddie justru mengaburkan garis antara agensi otentik dan kepatuhan mutlak pada tuntutan industri visual kontemporer.

Tubuh yang Didisiplinkan: Dari Panopticon ke Algorithmic Gaze

Konsep politik tubuh bertumpu pada gagasan bahwa tubuh manusia bukanlah entitas biologis yang netral, melainkan sebuah kanvas di mana institusi, masyarakat, dan ideologi menorehkan kekuasaannya. Meminjam pemikiran Michel Foucault mengenai kedisiplinan tubuh (docile bodies), tubuh perempuan di era digital secara konstan diatur agar patuh pada norma tertentu.

Jika di masa lalu pendisiplinan tubuh dilakukan melalui institusi formal atau tekanan sosial secara langsung, hari ini pendisiplinan itu bekerja melalui algoritma. Individu secara sukarela mendisiplinkan tubuh mereka melalui diet ketat, olahraga spesifik, modifikasi kosmetik, hingga operasi plastic demi memenuhi metrik visibilitas di media sosial (seperti jumlah likes, followers, dan endorsement).

Algoritma media sosial pada dasarnya bukanlah entitas matematis yang netral; ia dikodekan dengan bias patriarki dan kapitalis. Algorithmic gaze bekerja dengan mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Tubuh yang berhasil mereplikasi standar baddie akan diberikan kompensasi berupa viralitas dan jangkauan (reach) yang luas. Sebaliknya, tubuh yang gagal atau menolak tunduk pada estetika ini akan secara perlahan “dihukum” melalui shadowbanning atau penurunan visibilitas secara sistemik.

Kondisi ini menciptakan bentuk panoptisisme gaya baru di mana pengawasan eksternal (male gaze atau tatapan laki-laki) telah sepenuhnya diinternalisasi oleh perempuan. Karena pendisiplinan ini dibingkai sebagai upaya “merawat diri” (self-care), individu tidak merasa sedang diawasi atau ditindas. Mereka bertransformasi menjadi sipir sekaligus narapidana bagi tubuh mereka sendiri, melakukan self-policing tanpa henti demi mengamankan tempat di hierarki visual digital.

Ilusi Agensi dan Komodifikasi dalam Neoliberalisme

Budaya baddie sangat lekat dengan post-feminisme neoliberal, sebuah paham yang menggeser perjuangan struktural perempuan menjadi sekadar pilihan individual dan konsumsi. Kepercayaan diri (confidence) tidak lagi dilihat sebagai kondisi psikologis, melainkan sesuatu yang harus “ditampilkan” dan “dibeli”. Untuk menjadi seorang baddie, dibutuhkan modal kapital yang tidak sedikit: akses terhadap produk kecantikan kelas atas, pakaian desainer, filter digital, hingga intervensi medis. Di sini, politik tubuh beroperasi secara ekonomi.

Dalam logika neoliberal, individu diperlakukan sebagai homo economicus manusia ekonomi yang memandang dirinya sendiri sebagai perusahaan atau proyek investasi. Melalui estetika baddie, perempuan didorong untuk mengumpulkan “kapital seksual” (sebuah konsep dari sosiolog Catherine Hakim), di mana daya tarik fisik dan erotisme diubah menjadi aset yang dapat dimonetisasi. Agensi perempuan direduksi sekadar menjadi kebebasan untuk mengkomodifikasi diri sendiri di pasar bebas digital.

Tragisnya, narasi pemberdayaan ini mengabaikan fakta bahwa nilai dari kapital seksual tersebut sepenuhnya ditentukan oleh struktur pasar yang eksploitatif. Tubuh menjadi sebuah proyek yang tidak pernah selesai (a never-ending project), membutuhkan pemeliharaan finansial dan emosional yang terus-menerus. Pemberdayaan yang dirasakan oleh seorang baddie sering kali bersifat ilusionis dan rapuh, karena ia sangat bergantung pada validasi eksternal dan tren konsumsi yang senantiasa berubah demi meraup keuntungan bagi industri kecantikan (fast fashion dan bedak kosmetik).

Apropriasi Budaya dan Hierarki Rasial

Dimensi lain dari politik tubuh dalam fenomena baddie adalah pergeseran standar kecantikan Eurosentris menuju apropriasi rasial (blackfishing). Estetika baddie kerap kali meminjam dan mengkapitalisasi fitur fisik yang secara historis melekat pada perempuan kulit hitam atau perempuan kulit berwarna (seperti bibir tebal, kulit yang digelapkan secara artifisial, dan lekuk tubuh tertentu).

Praktik ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “gentrifikasi tubuh”. Ketika fitur-fitur fisik tersebut tumbuh secara alamiah pada perempuan minoritas, mereka secara historis distigmatisasi, dihiperseksualisasi, atau dianggap menyimpang dari standar profesional.

Namun, ketika fitur yang sama “disewa” dan diapropriasi oleh perempuan kulit putih atau kelas menengah ke atas, fitur tersebut tiba-tiba dirayakan sebagai elemen eksotis yang bernilai tinggi dan trendi. Estetika ini dengan sengaja menghapus sejarah panjang trauma dan penindasan rasial demi estetika dangkal.

Hal ini membuktikan bahwa politik tubuh selalu beririsan kuat dengan politik ras dan kelas. Komodifikasi fitur rasial tertentu oleh estetika baddie menegaskan bahwa dalam kapitalisme digital, identitas minoritas dapat dipotong-potong dan dikonsumsi sepotong demi sepotong oleh kelompok dominan. Pada akhirnya, tren ini tidak meruntuhkan hierarki rasial, melainkan justru memperkuatnya dengan menentukan siapa yang memiliki “hak” istimewa untuk memakai dan menanggalkan identitas marjinal layaknya sebuah kostum.

Keluar dari Etalase Digital

Perlombaan individu untuk menjadi baddie di era digital bukanlah kemenangan mutlak atas otoritas tubuh perempuan. Sebaliknya, fenomena ini adalah manifestasi kontemporer dari politik tubuh, di mana hiper-femininitas dan objektifikasi diri (self-objectification) direngkuh di bawah jubah pemberdayaan. Tubuh tetap menjadi situs eksploitasi, namun kali ini, eksploitasi tersebut dilakukan dengan senyuman, filter kamera, dan legitimasi algoritma.

Untuk melampaui jebakan ini, diperlukan re-evaluasi kritis terhadap apa yang kita definisikan sebagai “pemberdayaan”. Pembebasan tubuh yang sejati tidak mungkin dicapai dengan sekadar meniru estetika visual yang didikte oleh algoritma dan kapitalisme rasial. Perlawanan terhadap kontrol politik tubuh hari ini menuntut kesadaran baru sebuah politik tubuh yang menolak homogenisasi visual, dan yang berani merayakan otonomi tubuh tanpa harus menjadikannya komoditas di etalase digital. [T]

Penulis: Surfian Rahmat AP
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalfeminismeTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Next Post

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara ---Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co