25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
in Esai
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Surfian Rahmat AP

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie dikonstruksikan sebagai perempuan yang sangat percaya diri, mandiri secara finansial, dan menampilkan hiper-femininitas yang spesifik: riasan wajah tebal yang presisi (contouring), tubuh dengan proporsi hourglass (pinggang kecil dengan pinggul dan dada yang padat), serta gaya busana yang menonjolkan lekuk tubuh.

Di permukaan, fenomena berlomba-lombanya individu untuk mencapai status baddie sering dinarasikan sebagai bentuk women empowerment sebuah perayaan atas otonomi tubuh dan kebebasan berekspresi.

Namun, jika dibedah menggunakan kacamata politik tubuh (body politics), fenomena ini memperlihatkan realitas yang lebih kompleks. Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gaze (tatapan algoritmik).

Lebih jauh lagi, fenomena ini menandai pergeseran radikal di mana batas antara ranah privat (tubuh biologis) dan ruang publik (etalase digital) menjadi lebur. Tubuh tidak lagi sekadar entitas fisik yang dihidupi, melainkan sebuah subjek politik yang secara aktif merespons, mereproduksi, dan merepresentasikan struktur kekuasaan dominan. Bersembunyi di balik retorika “mencintai diri sendiri” (self-love), dorongan obsesif untuk menjadi baddie justru mengaburkan garis antara agensi otentik dan kepatuhan mutlak pada tuntutan industri visual kontemporer.

Tubuh yang Didisiplinkan: Dari Panopticon ke Algorithmic Gaze

Konsep politik tubuh bertumpu pada gagasan bahwa tubuh manusia bukanlah entitas biologis yang netral, melainkan sebuah kanvas di mana institusi, masyarakat, dan ideologi menorehkan kekuasaannya. Meminjam pemikiran Michel Foucault mengenai kedisiplinan tubuh (docile bodies), tubuh perempuan di era digital secara konstan diatur agar patuh pada norma tertentu.

Jika di masa lalu pendisiplinan tubuh dilakukan melalui institusi formal atau tekanan sosial secara langsung, hari ini pendisiplinan itu bekerja melalui algoritma. Individu secara sukarela mendisiplinkan tubuh mereka melalui diet ketat, olahraga spesifik, modifikasi kosmetik, hingga operasi plastic demi memenuhi metrik visibilitas di media sosial (seperti jumlah likes, followers, dan endorsement).

Algoritma media sosial pada dasarnya bukanlah entitas matematis yang netral; ia dikodekan dengan bias patriarki dan kapitalis. Algorithmic gaze bekerja dengan mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Tubuh yang berhasil mereplikasi standar baddie akan diberikan kompensasi berupa viralitas dan jangkauan (reach) yang luas. Sebaliknya, tubuh yang gagal atau menolak tunduk pada estetika ini akan secara perlahan “dihukum” melalui shadowbanning atau penurunan visibilitas secara sistemik.

Kondisi ini menciptakan bentuk panoptisisme gaya baru di mana pengawasan eksternal (male gaze atau tatapan laki-laki) telah sepenuhnya diinternalisasi oleh perempuan. Karena pendisiplinan ini dibingkai sebagai upaya “merawat diri” (self-care), individu tidak merasa sedang diawasi atau ditindas. Mereka bertransformasi menjadi sipir sekaligus narapidana bagi tubuh mereka sendiri, melakukan self-policing tanpa henti demi mengamankan tempat di hierarki visual digital.

Ilusi Agensi dan Komodifikasi dalam Neoliberalisme

Budaya baddie sangat lekat dengan post-feminisme neoliberal, sebuah paham yang menggeser perjuangan struktural perempuan menjadi sekadar pilihan individual dan konsumsi. Kepercayaan diri (confidence) tidak lagi dilihat sebagai kondisi psikologis, melainkan sesuatu yang harus “ditampilkan” dan “dibeli”. Untuk menjadi seorang baddie, dibutuhkan modal kapital yang tidak sedikit: akses terhadap produk kecantikan kelas atas, pakaian desainer, filter digital, hingga intervensi medis. Di sini, politik tubuh beroperasi secara ekonomi.

Dalam logika neoliberal, individu diperlakukan sebagai homo economicus manusia ekonomi yang memandang dirinya sendiri sebagai perusahaan atau proyek investasi. Melalui estetika baddie, perempuan didorong untuk mengumpulkan “kapital seksual” (sebuah konsep dari sosiolog Catherine Hakim), di mana daya tarik fisik dan erotisme diubah menjadi aset yang dapat dimonetisasi. Agensi perempuan direduksi sekadar menjadi kebebasan untuk mengkomodifikasi diri sendiri di pasar bebas digital.

Tragisnya, narasi pemberdayaan ini mengabaikan fakta bahwa nilai dari kapital seksual tersebut sepenuhnya ditentukan oleh struktur pasar yang eksploitatif. Tubuh menjadi sebuah proyek yang tidak pernah selesai (a never-ending project), membutuhkan pemeliharaan finansial dan emosional yang terus-menerus. Pemberdayaan yang dirasakan oleh seorang baddie sering kali bersifat ilusionis dan rapuh, karena ia sangat bergantung pada validasi eksternal dan tren konsumsi yang senantiasa berubah demi meraup keuntungan bagi industri kecantikan (fast fashion dan bedak kosmetik).

Apropriasi Budaya dan Hierarki Rasial

Dimensi lain dari politik tubuh dalam fenomena baddie adalah pergeseran standar kecantikan Eurosentris menuju apropriasi rasial (blackfishing). Estetika baddie kerap kali meminjam dan mengkapitalisasi fitur fisik yang secara historis melekat pada perempuan kulit hitam atau perempuan kulit berwarna (seperti bibir tebal, kulit yang digelapkan secara artifisial, dan lekuk tubuh tertentu).

Praktik ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “gentrifikasi tubuh”. Ketika fitur-fitur fisik tersebut tumbuh secara alamiah pada perempuan minoritas, mereka secara historis distigmatisasi, dihiperseksualisasi, atau dianggap menyimpang dari standar profesional.

Namun, ketika fitur yang sama “disewa” dan diapropriasi oleh perempuan kulit putih atau kelas menengah ke atas, fitur tersebut tiba-tiba dirayakan sebagai elemen eksotis yang bernilai tinggi dan trendi. Estetika ini dengan sengaja menghapus sejarah panjang trauma dan penindasan rasial demi estetika dangkal.

Hal ini membuktikan bahwa politik tubuh selalu beririsan kuat dengan politik ras dan kelas. Komodifikasi fitur rasial tertentu oleh estetika baddie menegaskan bahwa dalam kapitalisme digital, identitas minoritas dapat dipotong-potong dan dikonsumsi sepotong demi sepotong oleh kelompok dominan. Pada akhirnya, tren ini tidak meruntuhkan hierarki rasial, melainkan justru memperkuatnya dengan menentukan siapa yang memiliki “hak” istimewa untuk memakai dan menanggalkan identitas marjinal layaknya sebuah kostum.

Keluar dari Etalase Digital

Perlombaan individu untuk menjadi baddie di era digital bukanlah kemenangan mutlak atas otoritas tubuh perempuan. Sebaliknya, fenomena ini adalah manifestasi kontemporer dari politik tubuh, di mana hiper-femininitas dan objektifikasi diri (self-objectification) direngkuh di bawah jubah pemberdayaan. Tubuh tetap menjadi situs eksploitasi, namun kali ini, eksploitasi tersebut dilakukan dengan senyuman, filter kamera, dan legitimasi algoritma.

Untuk melampaui jebakan ini, diperlukan re-evaluasi kritis terhadap apa yang kita definisikan sebagai “pemberdayaan”. Pembebasan tubuh yang sejati tidak mungkin dicapai dengan sekadar meniru estetika visual yang didikte oleh algoritma dan kapitalisme rasial. Perlawanan terhadap kontrol politik tubuh hari ini menuntut kesadaran baru sebuah politik tubuh yang menolak homogenisasi visual, dan yang berani merayakan otonomi tubuh tanpa harus menjadikannya komoditas di etalase digital. [T]

Penulis: Surfian Rahmat AP
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalfeminismeTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Next Post

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Surfian Rahmat AP

Surfian Rahmat AP

Dosen Program Studi Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara ---Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co