25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
in Khas
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kegiatan FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali | Foto: I Nyoman Mariyana, 2026

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk merekonstruksi sejarah perkembangan pariwisata Bali melalui pendekatan historis, budaya, dan kebijakan. FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, kebudayaan, dan kepariwisataan Bali, yaitu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Sugi Lanus, dan Ida Bagus Ngurah Wijaya. Data hasil diskusi kemudian dikonfirmasi dengan berbagai sumber tertulis, antara lain arsip kolonial, karya Adrian Vickers (1989), Michel Picard (1996), Miguel Covarrubias (1937), dokumen SKETO, catatan perjalanan Rabindranath Tagore, serta dokumentasi mengenai Walter Spies dan perkembangan awal pariwisata Bali.

Triangulasi antara data lisan dan sumber tertulis menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang bertahap, dimulai dari terbentuknya jaringan promosi wisata kolonial pada awal abad ke-20, berkembang melalui diplomasi budaya pada tahun 1927, hingga dilembagakan sebagai Pariwisata Budaya pada dekade 1970-an.

1. Tahun 1927 sebagai Momentum Awal Internasionalisasi Kepariwisataan Budaya Bali

Dalam FGD, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan bahwa gagasan penyusunan kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) berangkat dari diskusi bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Gubernur Bali. Menurutnya, tahun 1927 merupakan titik balik yang layak dijadikan tonggak sejarah karena pada tahun tersebut Bali mulai dikenal secara luas sebagai destinasi budaya dunia melalui kedatangan tokoh-tokoh seni dan intelektual internasional.

Dalam FGD yang dilaksanakan di ISI BALI, Cok Ace menyebutkan: “Kami melihat bahwa tahun 1927 merupakan momentum penting karena sejak saat itu Bali mulai dikenal dunia melalui tokoh-tokoh seperti Walter Spies. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menandai 100 tahun perjalanan pariwisata Bali pada tahun 2027.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut memiliki dasar historis yang kuat. Adrian Vickers (1989) menjelaskan bahwa Walter Spies menetap di Ubud pada tahun 1927 dan menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan seni tradisional Bali dengan jaringan seni internasional. Melalui kedekatannya dengan keluarga Puri Ubud, terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies memperkenalkan pendekatan artistik baru tanpa menghilangkan karakter estetika Bali. Bersama Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, dan sejumlah pelukis lainnya, ia kemudian menjadi penggerak lahirnya organisasi Pita Maha pada tahun 1936.

Sebagaimana dinyatakan Adrian Vickers (1989, hlm. 108):

“Spies encouraged Balinese artists to explore new compositions and naturalistic representations while maintaining indigenous aesthetic principles.”

Petikan tersebut menunjukkan bahwa peran Walter Spies bukan sebagai pencipta seni Bali modern, melainkan sebagai fasilitator yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan seni internasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa tahun 1927 bukan sekadar menandai kedatangan seorang pelukis Eropa, tetapi merupakan awal terbentuknya jejaring budaya internasional yang mengangkat citra Bali sebagai destinasi seni dan budaya. Dengan demikian, perkembangan pariwisata Bali pada fase awal lebih tepat dipahami sebagai hasil dari diplomasi budaya daripada pembangunan industri pariwisata dalam pengertian modern.

2. Rabindranath Tagore dan Penguatan Citra Bali sebagai Pulau Kebudayaan

Perspektif tersebut diperkuat oleh paparan Sugi Lanus, yang menguraikan perjalanan Rabindranath Tagore ke Bali pada tahun 1927. Menurutnya, perjalanan tersebut berlangsung sejak 26 Agustus hingga awal September 1927, dimulai dari Bangli, Karangasem, Gianyar, Tampaksiring, Gunung Kawi, Badung, Ubud, Munduk, hingga Singaraja.

Petikan wawancara Sugi Lanus

“Tagore datang ke Bali bukan sebagai wisatawan biasa. Ia datang untuk belajar kebudayaan Bali. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi Puri Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung, hingga Ubud dan berdialog dengan para raja Bali.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Sugi Lanus juga menjelaskan bahwa pada tanggal 3–4 September 1927, Tagore diterima di Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Raka Sukawati. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan menuju Munduk dan Singaraja sebelum meninggalkan Bali.

Data tersebut sesuai dengan dokumentasi perjalanan Tagore yang dihimpun dalam arsip keluarga, dokumentasi SKETO, dan kajian sejarah perjalanan Tagore di Bali. Dalam catatan perjalanannya, Tagore menulis bahwa Bali merupakan masyarakat yang mampu memadukan kehidupan spiritual dengan ekspresi seni sehari-hari. Ia tidak hanya mengamati tari, gamelan, dan arsitektur pura, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam aktivitas masyarakat.

Salah satu catatan menarik yang disampaikan Sugi Lanus adalah kebiasaan tamu-tamu Belanda yang membawa kursi lipat sendiri karena belum terbiasa duduk bersila seperti masyarakat Bali. Detail tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi budaya antara masyarakat lokal dengan tamu-tamu asing pada masa kolonial.

Analisis terhadap perjalanan Tagore menunjukkan bahwa kunjungan tokoh dunia tersebut memberikan legitimasi intelektual terhadap citra Bali sebagai pulau kebudayaan (Island of Culture). Kehadiran seorang penerima Hadiah Nobel Sastra tidak hanya meningkatkan perhatian dunia terhadap Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai ruang dialog lintas budaya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan pariwisata budaya.

3. Dari Sanur Menuju Pariwisata Budaya Bali

Sementara itu, Ida Bagus Ngurah Wijaya memaparkan perkembangan kelembagaan pariwisata Bali setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, kawasan Sanur memiliki posisi penting sebagai salah satu destinasi wisata pertama yang berkembang secara terencana.

Ida Bagus Ngurah Wijaya menyampaikan : “Sanur menjadi embrio perkembangan pariwisata modern Bali. Setelah kemerdekaan, jalur kedatangan wisatawan mulai berkembang dari Singaraja menuju Sanur hingga akhirnya dibangun Hotel Bali Beach sebagai simbol pariwisata internasional Indonesia.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan kajian Michel Picard (1996), yang menjelaskan bahwa pembangunan Hotel Bali Beach pada dekade 1960-an merupakan tonggak penting dalam transformasi pariwisata Bali menuju industri modern. Hotel tersebut dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai simbol keterbukaan Indonesia terhadap wisatawan internasional.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa pada tahun 1970 Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pembatasan tinggi bangunan hotel agar tidak melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap lanskap budaya Bali.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1974, ketika Pemerintah Daerah Bali menetapkan paradigma Pariwisata Budaya, yaitu model pembangunan pariwisata yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai tiga pilar utama pembangunan. Konsep tersebut kemudian dilembagakan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah dan hingga kini menjadi identitas utama pariwisata Bali.

Apabila ketiga narasumber dikaji secara komparatif, tampak adanya kesinambungan sejarah perkembangan pariwisata Bali.

Tahap pertama merupakan fase embrional (1908–1927). Pada periode ini telah terbentuk biro perjalanan kolonial di Hindia Belanda, seperti Vereeniging Toeristenverkeer (1908), yang mulai mempromosikan Bali kepada wisatawan Eropa. Infrastruktur promosi tersebut menjadi fondasi awal bagi kunjungan ke Bali.

Tahap kedua adalah fase internasionalisasi budaya (1927–1939). Kedatangan Walter Spies, Rabindranath Tagore, Miguel Covarrubias, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan Rudolf Bonnet membentuk citra Bali sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Pada masa ini, promosi Bali tidak lagi bertumpu pada eksotisme alam semata, tetapi pada kekayaan budaya, seni pertunjukan, dan kehidupan masyarakatnya.

Tahap ketiga merupakan fase pembangunan nasional (1950–1974). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun infrastruktur kepariwisataan, terutama di kawasan Sanur, dengan dukungan Presiden Soekarno. Pembangunan Hotel Bali Beach menjadi simbol keterbukaan Bali terhadap wisatawan internasional.

Tahap keempat adalah fase institusionalisasi Pariwisata Budaya (1974–sekarang). Pemerintah Provinsi Bali menetapkan konsep Pariwisata Budaya sebagai paradigma pembangunan, yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Paradigma ini kemudian menjadi identitas khas Bali dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Secara keseluruhan, hasil FGD memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang berlangsung bertahap dan melibatkan interaksi antara masyarakat lokal, kerajaan-kerajaan Bali, intelektual internasional, serta kebijakan pemerintah. Tahun 1927 memiliki makna simbolik yang kuat karena menandai terbentuknya jaringan budaya global melalui kehadiran Walter Spies dan Rabindranath Tagore. Momentum inilah yang menjadi dasar argumentasi untuk menetapkan periode 1927–2027 sebagai satu abad perjalanan kepariwisataan Bali. [T]

Tags: Pariwisatapariwisata balipariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Next Post

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co