26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
in Khas
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kegiatan FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali | Foto: I Nyoman Mariyana, 2026

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk merekonstruksi sejarah perkembangan pariwisata Bali melalui pendekatan historis, budaya, dan kebijakan. FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, kebudayaan, dan kepariwisataan Bali, yaitu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Sugi Lanus, dan Ida Bagus Ngurah Wijaya. Data hasil diskusi kemudian dikonfirmasi dengan berbagai sumber tertulis, antara lain arsip kolonial, karya Adrian Vickers (1989), Michel Picard (1996), Miguel Covarrubias (1937), dokumen SKETO, catatan perjalanan Rabindranath Tagore, serta dokumentasi mengenai Walter Spies dan perkembangan awal pariwisata Bali.

Triangulasi antara data lisan dan sumber tertulis menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang bertahap, dimulai dari terbentuknya jaringan promosi wisata kolonial pada awal abad ke-20, berkembang melalui diplomasi budaya pada tahun 1927, hingga dilembagakan sebagai Pariwisata Budaya pada dekade 1970-an.

1. Tahun 1927 sebagai Momentum Awal Internasionalisasi Kepariwisataan Budaya Bali

Dalam FGD, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan bahwa gagasan penyusunan kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) berangkat dari diskusi bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Gubernur Bali. Menurutnya, tahun 1927 merupakan titik balik yang layak dijadikan tonggak sejarah karena pada tahun tersebut Bali mulai dikenal secara luas sebagai destinasi budaya dunia melalui kedatangan tokoh-tokoh seni dan intelektual internasional.

Dalam FGD yang dilaksanakan di ISI BALI, Cok Ace menyebutkan: “Kami melihat bahwa tahun 1927 merupakan momentum penting karena sejak saat itu Bali mulai dikenal dunia melalui tokoh-tokoh seperti Walter Spies. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menandai 100 tahun perjalanan pariwisata Bali pada tahun 2027.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut memiliki dasar historis yang kuat. Adrian Vickers (1989) menjelaskan bahwa Walter Spies menetap di Ubud pada tahun 1927 dan menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan seni tradisional Bali dengan jaringan seni internasional. Melalui kedekatannya dengan keluarga Puri Ubud, terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies memperkenalkan pendekatan artistik baru tanpa menghilangkan karakter estetika Bali. Bersama Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, dan sejumlah pelukis lainnya, ia kemudian menjadi penggerak lahirnya organisasi Pita Maha pada tahun 1936.

Sebagaimana dinyatakan Adrian Vickers (1989, hlm. 108):

“Spies encouraged Balinese artists to explore new compositions and naturalistic representations while maintaining indigenous aesthetic principles.”

Petikan tersebut menunjukkan bahwa peran Walter Spies bukan sebagai pencipta seni Bali modern, melainkan sebagai fasilitator yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan seni internasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa tahun 1927 bukan sekadar menandai kedatangan seorang pelukis Eropa, tetapi merupakan awal terbentuknya jejaring budaya internasional yang mengangkat citra Bali sebagai destinasi seni dan budaya. Dengan demikian, perkembangan pariwisata Bali pada fase awal lebih tepat dipahami sebagai hasil dari diplomasi budaya daripada pembangunan industri pariwisata dalam pengertian modern.

2. Rabindranath Tagore dan Penguatan Citra Bali sebagai Pulau Kebudayaan

Perspektif tersebut diperkuat oleh paparan Sugi Lanus, yang menguraikan perjalanan Rabindranath Tagore ke Bali pada tahun 1927. Menurutnya, perjalanan tersebut berlangsung sejak 26 Agustus hingga awal September 1927, dimulai dari Bangli, Karangasem, Gianyar, Tampaksiring, Gunung Kawi, Badung, Ubud, Munduk, hingga Singaraja.

Petikan wawancara Sugi Lanus

“Tagore datang ke Bali bukan sebagai wisatawan biasa. Ia datang untuk belajar kebudayaan Bali. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi Puri Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung, hingga Ubud dan berdialog dengan para raja Bali.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Sugi Lanus juga menjelaskan bahwa pada tanggal 3–4 September 1927, Tagore diterima di Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Raka Sukawati. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan menuju Munduk dan Singaraja sebelum meninggalkan Bali.

Data tersebut sesuai dengan dokumentasi perjalanan Tagore yang dihimpun dalam arsip keluarga, dokumentasi SKETO, dan kajian sejarah perjalanan Tagore di Bali. Dalam catatan perjalanannya, Tagore menulis bahwa Bali merupakan masyarakat yang mampu memadukan kehidupan spiritual dengan ekspresi seni sehari-hari. Ia tidak hanya mengamati tari, gamelan, dan arsitektur pura, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam aktivitas masyarakat.

Salah satu catatan menarik yang disampaikan Sugi Lanus adalah kebiasaan tamu-tamu Belanda yang membawa kursi lipat sendiri karena belum terbiasa duduk bersila seperti masyarakat Bali. Detail tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi budaya antara masyarakat lokal dengan tamu-tamu asing pada masa kolonial.

Analisis terhadap perjalanan Tagore menunjukkan bahwa kunjungan tokoh dunia tersebut memberikan legitimasi intelektual terhadap citra Bali sebagai pulau kebudayaan (Island of Culture). Kehadiran seorang penerima Hadiah Nobel Sastra tidak hanya meningkatkan perhatian dunia terhadap Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai ruang dialog lintas budaya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan pariwisata budaya.

3. Dari Sanur Menuju Pariwisata Budaya Bali

Sementara itu, Ida Bagus Ngurah Wijaya memaparkan perkembangan kelembagaan pariwisata Bali setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, kawasan Sanur memiliki posisi penting sebagai salah satu destinasi wisata pertama yang berkembang secara terencana.

Ida Bagus Ngurah Wijaya menyampaikan : “Sanur menjadi embrio perkembangan pariwisata modern Bali. Setelah kemerdekaan, jalur kedatangan wisatawan mulai berkembang dari Singaraja menuju Sanur hingga akhirnya dibangun Hotel Bali Beach sebagai simbol pariwisata internasional Indonesia.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan kajian Michel Picard (1996), yang menjelaskan bahwa pembangunan Hotel Bali Beach pada dekade 1960-an merupakan tonggak penting dalam transformasi pariwisata Bali menuju industri modern. Hotel tersebut dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai simbol keterbukaan Indonesia terhadap wisatawan internasional.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa pada tahun 1970 Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pembatasan tinggi bangunan hotel agar tidak melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap lanskap budaya Bali.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1974, ketika Pemerintah Daerah Bali menetapkan paradigma Pariwisata Budaya, yaitu model pembangunan pariwisata yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai tiga pilar utama pembangunan. Konsep tersebut kemudian dilembagakan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah dan hingga kini menjadi identitas utama pariwisata Bali.

Apabila ketiga narasumber dikaji secara komparatif, tampak adanya kesinambungan sejarah perkembangan pariwisata Bali.

Tahap pertama merupakan fase embrional (1908–1927). Pada periode ini telah terbentuk biro perjalanan kolonial di Hindia Belanda, seperti Vereeniging Toeristenverkeer (1908), yang mulai mempromosikan Bali kepada wisatawan Eropa. Infrastruktur promosi tersebut menjadi fondasi awal bagi kunjungan ke Bali.

Tahap kedua adalah fase internasionalisasi budaya (1927–1939). Kedatangan Walter Spies, Rabindranath Tagore, Miguel Covarrubias, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan Rudolf Bonnet membentuk citra Bali sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Pada masa ini, promosi Bali tidak lagi bertumpu pada eksotisme alam semata, tetapi pada kekayaan budaya, seni pertunjukan, dan kehidupan masyarakatnya.

Tahap ketiga merupakan fase pembangunan nasional (1950–1974). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun infrastruktur kepariwisataan, terutama di kawasan Sanur, dengan dukungan Presiden Soekarno. Pembangunan Hotel Bali Beach menjadi simbol keterbukaan Bali terhadap wisatawan internasional.

Tahap keempat adalah fase institusionalisasi Pariwisata Budaya (1974–sekarang). Pemerintah Provinsi Bali menetapkan konsep Pariwisata Budaya sebagai paradigma pembangunan, yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Paradigma ini kemudian menjadi identitas khas Bali dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Secara keseluruhan, hasil FGD memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang berlangsung bertahap dan melibatkan interaksi antara masyarakat lokal, kerajaan-kerajaan Bali, intelektual internasional, serta kebijakan pemerintah. Tahun 1927 memiliki makna simbolik yang kuat karena menandai terbentuknya jaringan budaya global melalui kehadiran Walter Spies dan Rabindranath Tagore. Momentum inilah yang menjadi dasar argumentasi untuk menetapkan periode 1927–2027 sebagai satu abad perjalanan kepariwisataan Bali. [T]

Tags: Pariwisatapariwisata balipariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Next Post

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails
Next Post
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co