5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
in Khas
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kegiatan FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali | Foto: I Nyoman Mariyana, 2026

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk merekonstruksi sejarah perkembangan pariwisata Bali melalui pendekatan historis, budaya, dan kebijakan. FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, kebudayaan, dan kepariwisataan Bali, yaitu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Sugi Lanus, dan Ida Bagus Ngurah Wijaya. Data hasil diskusi kemudian dikonfirmasi dengan berbagai sumber tertulis, antara lain arsip kolonial, karya Adrian Vickers (1989), Michel Picard (1996), Miguel Covarrubias (1937), dokumen SKETO, catatan perjalanan Rabindranath Tagore, serta dokumentasi mengenai Walter Spies dan perkembangan awal pariwisata Bali.

Triangulasi antara data lisan dan sumber tertulis menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang bertahap, dimulai dari terbentuknya jaringan promosi wisata kolonial pada awal abad ke-20, berkembang melalui diplomasi budaya pada tahun 1927, hingga dilembagakan sebagai Pariwisata Budaya pada dekade 1970-an.

1. Tahun 1927 sebagai Momentum Awal Internasionalisasi Kepariwisataan Budaya Bali

Dalam FGD, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan bahwa gagasan penyusunan kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) berangkat dari diskusi bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Gubernur Bali. Menurutnya, tahun 1927 merupakan titik balik yang layak dijadikan tonggak sejarah karena pada tahun tersebut Bali mulai dikenal secara luas sebagai destinasi budaya dunia melalui kedatangan tokoh-tokoh seni dan intelektual internasional.

Dalam FGD yang dilaksanakan di ISI BALI, Cok Ace menyebutkan: “Kami melihat bahwa tahun 1927 merupakan momentum penting karena sejak saat itu Bali mulai dikenal dunia melalui tokoh-tokoh seperti Walter Spies. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menandai 100 tahun perjalanan pariwisata Bali pada tahun 2027.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut memiliki dasar historis yang kuat. Adrian Vickers (1989) menjelaskan bahwa Walter Spies menetap di Ubud pada tahun 1927 dan menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan seni tradisional Bali dengan jaringan seni internasional. Melalui kedekatannya dengan keluarga Puri Ubud, terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies memperkenalkan pendekatan artistik baru tanpa menghilangkan karakter estetika Bali. Bersama Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, dan sejumlah pelukis lainnya, ia kemudian menjadi penggerak lahirnya organisasi Pita Maha pada tahun 1936.

Sebagaimana dinyatakan Adrian Vickers (1989, hlm. 108):

“Spies encouraged Balinese artists to explore new compositions and naturalistic representations while maintaining indigenous aesthetic principles.”

Petikan tersebut menunjukkan bahwa peran Walter Spies bukan sebagai pencipta seni Bali modern, melainkan sebagai fasilitator yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan seni internasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa tahun 1927 bukan sekadar menandai kedatangan seorang pelukis Eropa, tetapi merupakan awal terbentuknya jejaring budaya internasional yang mengangkat citra Bali sebagai destinasi seni dan budaya. Dengan demikian, perkembangan pariwisata Bali pada fase awal lebih tepat dipahami sebagai hasil dari diplomasi budaya daripada pembangunan industri pariwisata dalam pengertian modern.

2. Rabindranath Tagore dan Penguatan Citra Bali sebagai Pulau Kebudayaan

Perspektif tersebut diperkuat oleh paparan Sugi Lanus, yang menguraikan perjalanan Rabindranath Tagore ke Bali pada tahun 1927. Menurutnya, perjalanan tersebut berlangsung sejak 26 Agustus hingga awal September 1927, dimulai dari Bangli, Karangasem, Gianyar, Tampaksiring, Gunung Kawi, Badung, Ubud, Munduk, hingga Singaraja.

Petikan wawancara Sugi Lanus

“Tagore datang ke Bali bukan sebagai wisatawan biasa. Ia datang untuk belajar kebudayaan Bali. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi Puri Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung, hingga Ubud dan berdialog dengan para raja Bali.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Sugi Lanus juga menjelaskan bahwa pada tanggal 3–4 September 1927, Tagore diterima di Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Raka Sukawati. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan menuju Munduk dan Singaraja sebelum meninggalkan Bali.

Data tersebut sesuai dengan dokumentasi perjalanan Tagore yang dihimpun dalam arsip keluarga, dokumentasi SKETO, dan kajian sejarah perjalanan Tagore di Bali. Dalam catatan perjalanannya, Tagore menulis bahwa Bali merupakan masyarakat yang mampu memadukan kehidupan spiritual dengan ekspresi seni sehari-hari. Ia tidak hanya mengamati tari, gamelan, dan arsitektur pura, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam aktivitas masyarakat.

Salah satu catatan menarik yang disampaikan Sugi Lanus adalah kebiasaan tamu-tamu Belanda yang membawa kursi lipat sendiri karena belum terbiasa duduk bersila seperti masyarakat Bali. Detail tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi budaya antara masyarakat lokal dengan tamu-tamu asing pada masa kolonial.

Analisis terhadap perjalanan Tagore menunjukkan bahwa kunjungan tokoh dunia tersebut memberikan legitimasi intelektual terhadap citra Bali sebagai pulau kebudayaan (Island of Culture). Kehadiran seorang penerima Hadiah Nobel Sastra tidak hanya meningkatkan perhatian dunia terhadap Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai ruang dialog lintas budaya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan pariwisata budaya.

3. Dari Sanur Menuju Pariwisata Budaya Bali

Sementara itu, Ida Bagus Ngurah Wijaya memaparkan perkembangan kelembagaan pariwisata Bali setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, kawasan Sanur memiliki posisi penting sebagai salah satu destinasi wisata pertama yang berkembang secara terencana.

Ida Bagus Ngurah Wijaya menyampaikan : “Sanur menjadi embrio perkembangan pariwisata modern Bali. Setelah kemerdekaan, jalur kedatangan wisatawan mulai berkembang dari Singaraja menuju Sanur hingga akhirnya dibangun Hotel Bali Beach sebagai simbol pariwisata internasional Indonesia.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan kajian Michel Picard (1996), yang menjelaskan bahwa pembangunan Hotel Bali Beach pada dekade 1960-an merupakan tonggak penting dalam transformasi pariwisata Bali menuju industri modern. Hotel tersebut dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai simbol keterbukaan Indonesia terhadap wisatawan internasional.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa pada tahun 1970 Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pembatasan tinggi bangunan hotel agar tidak melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap lanskap budaya Bali.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1974, ketika Pemerintah Daerah Bali menetapkan paradigma Pariwisata Budaya, yaitu model pembangunan pariwisata yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai tiga pilar utama pembangunan. Konsep tersebut kemudian dilembagakan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah dan hingga kini menjadi identitas utama pariwisata Bali.

Apabila ketiga narasumber dikaji secara komparatif, tampak adanya kesinambungan sejarah perkembangan pariwisata Bali.

Tahap pertama merupakan fase embrional (1908–1927). Pada periode ini telah terbentuk biro perjalanan kolonial di Hindia Belanda, seperti Vereeniging Toeristenverkeer (1908), yang mulai mempromosikan Bali kepada wisatawan Eropa. Infrastruktur promosi tersebut menjadi fondasi awal bagi kunjungan ke Bali.

Tahap kedua adalah fase internasionalisasi budaya (1927–1939). Kedatangan Walter Spies, Rabindranath Tagore, Miguel Covarrubias, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan Rudolf Bonnet membentuk citra Bali sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Pada masa ini, promosi Bali tidak lagi bertumpu pada eksotisme alam semata, tetapi pada kekayaan budaya, seni pertunjukan, dan kehidupan masyarakatnya.

Tahap ketiga merupakan fase pembangunan nasional (1950–1974). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun infrastruktur kepariwisataan, terutama di kawasan Sanur, dengan dukungan Presiden Soekarno. Pembangunan Hotel Bali Beach menjadi simbol keterbukaan Bali terhadap wisatawan internasional.

Tahap keempat adalah fase institusionalisasi Pariwisata Budaya (1974–sekarang). Pemerintah Provinsi Bali menetapkan konsep Pariwisata Budaya sebagai paradigma pembangunan, yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Paradigma ini kemudian menjadi identitas khas Bali dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Secara keseluruhan, hasil FGD memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang berlangsung bertahap dan melibatkan interaksi antara masyarakat lokal, kerajaan-kerajaan Bali, intelektual internasional, serta kebijakan pemerintah. Tahun 1927 memiliki makna simbolik yang kuat karena menandai terbentuknya jaringan budaya global melalui kehadiran Walter Spies dan Rabindranath Tagore. Momentum inilah yang menjadi dasar argumentasi untuk menetapkan periode 1927–2027 sebagai satu abad perjalanan kepariwisataan Bali. [T]

Tags: Pariwisatapariwisata balipariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Next Post

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co