5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
in Khas
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kegiatan FGD 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali | Foto: I Nyoman Mariyana, 2026

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) diselenggarakan sebagai forum ilmiah untuk merekonstruksi sejarah perkembangan pariwisata Bali melalui pendekatan historis, budaya, dan kebijakan. FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, kebudayaan, dan kepariwisataan Bali, yaitu Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Sugi Lanus, dan Ida Bagus Ngurah Wijaya. Data hasil diskusi kemudian dikonfirmasi dengan berbagai sumber tertulis, antara lain arsip kolonial, karya Adrian Vickers (1989), Michel Picard (1996), Miguel Covarrubias (1937), dokumen SKETO, catatan perjalanan Rabindranath Tagore, serta dokumentasi mengenai Walter Spies dan perkembangan awal pariwisata Bali.

Triangulasi antara data lisan dan sumber tertulis menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang bertahap, dimulai dari terbentuknya jaringan promosi wisata kolonial pada awal abad ke-20, berkembang melalui diplomasi budaya pada tahun 1927, hingga dilembagakan sebagai Pariwisata Budaya pada dekade 1970-an.

1. Tahun 1927 sebagai Momentum Awal Internasionalisasi Kepariwisataan Budaya Bali

Dalam FGD, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan bahwa gagasan penyusunan kajian 100 Tahun Pariwisata Bali (1927–2027) berangkat dari diskusi bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Gubernur Bali. Menurutnya, tahun 1927 merupakan titik balik yang layak dijadikan tonggak sejarah karena pada tahun tersebut Bali mulai dikenal secara luas sebagai destinasi budaya dunia melalui kedatangan tokoh-tokoh seni dan intelektual internasional.

Dalam FGD yang dilaksanakan di ISI BALI, Cok Ace menyebutkan: “Kami melihat bahwa tahun 1927 merupakan momentum penting karena sejak saat itu Bali mulai dikenal dunia melalui tokoh-tokoh seperti Walter Spies. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menandai 100 tahun perjalanan pariwisata Bali pada tahun 2027.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut memiliki dasar historis yang kuat. Adrian Vickers (1989) menjelaskan bahwa Walter Spies menetap di Ubud pada tahun 1927 dan menjadi salah satu tokoh yang menghubungkan seni tradisional Bali dengan jaringan seni internasional. Melalui kedekatannya dengan keluarga Puri Ubud, terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati, Walter Spies memperkenalkan pendekatan artistik baru tanpa menghilangkan karakter estetika Bali. Bersama Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat, I Gusti Ketut Kobot, dan sejumlah pelukis lainnya, ia kemudian menjadi penggerak lahirnya organisasi Pita Maha pada tahun 1936.

Sebagaimana dinyatakan Adrian Vickers (1989, hlm. 108):

“Spies encouraged Balinese artists to explore new compositions and naturalistic representations while maintaining indigenous aesthetic principles.”

Petikan tersebut menunjukkan bahwa peran Walter Spies bukan sebagai pencipta seni Bali modern, melainkan sebagai fasilitator yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan seni internasional.

Analisis ini menunjukkan bahwa tahun 1927 bukan sekadar menandai kedatangan seorang pelukis Eropa, tetapi merupakan awal terbentuknya jejaring budaya internasional yang mengangkat citra Bali sebagai destinasi seni dan budaya. Dengan demikian, perkembangan pariwisata Bali pada fase awal lebih tepat dipahami sebagai hasil dari diplomasi budaya daripada pembangunan industri pariwisata dalam pengertian modern.

2. Rabindranath Tagore dan Penguatan Citra Bali sebagai Pulau Kebudayaan

Perspektif tersebut diperkuat oleh paparan Sugi Lanus, yang menguraikan perjalanan Rabindranath Tagore ke Bali pada tahun 1927. Menurutnya, perjalanan tersebut berlangsung sejak 26 Agustus hingga awal September 1927, dimulai dari Bangli, Karangasem, Gianyar, Tampaksiring, Gunung Kawi, Badung, Ubud, Munduk, hingga Singaraja.

Petikan wawancara Sugi Lanus

“Tagore datang ke Bali bukan sebagai wisatawan biasa. Ia datang untuk belajar kebudayaan Bali. Dalam perjalanan itu ia mengunjungi Puri Bangli, Karangasem, Gianyar, Badung, hingga Ubud dan berdialog dengan para raja Bali.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Sugi Lanus juga menjelaskan bahwa pada tanggal 3–4 September 1927, Tagore diterima di Puri Ubud oleh Tjokorda Gde Raka Sukawati. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan menuju Munduk dan Singaraja sebelum meninggalkan Bali.

Data tersebut sesuai dengan dokumentasi perjalanan Tagore yang dihimpun dalam arsip keluarga, dokumentasi SKETO, dan kajian sejarah perjalanan Tagore di Bali. Dalam catatan perjalanannya, Tagore menulis bahwa Bali merupakan masyarakat yang mampu memadukan kehidupan spiritual dengan ekspresi seni sehari-hari. Ia tidak hanya mengamati tari, gamelan, dan arsitektur pura, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam aktivitas masyarakat.

Salah satu catatan menarik yang disampaikan Sugi Lanus adalah kebiasaan tamu-tamu Belanda yang membawa kursi lipat sendiri karena belum terbiasa duduk bersila seperti masyarakat Bali. Detail tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi budaya antara masyarakat lokal dengan tamu-tamu asing pada masa kolonial.

Analisis terhadap perjalanan Tagore menunjukkan bahwa kunjungan tokoh dunia tersebut memberikan legitimasi intelektual terhadap citra Bali sebagai pulau kebudayaan (Island of Culture). Kehadiran seorang penerima Hadiah Nobel Sastra tidak hanya meningkatkan perhatian dunia terhadap Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai ruang dialog lintas budaya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perkembangan pariwisata budaya.

3. Dari Sanur Menuju Pariwisata Budaya Bali

Sementara itu, Ida Bagus Ngurah Wijaya memaparkan perkembangan kelembagaan pariwisata Bali setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, kawasan Sanur memiliki posisi penting sebagai salah satu destinasi wisata pertama yang berkembang secara terencana.

Ida Bagus Ngurah Wijaya menyampaikan : “Sanur menjadi embrio perkembangan pariwisata modern Bali. Setelah kemerdekaan, jalur kedatangan wisatawan mulai berkembang dari Singaraja menuju Sanur hingga akhirnya dibangun Hotel Bali Beach sebagai simbol pariwisata internasional Indonesia.” (FGD Kajian 100 Tahun Pariwisata Bali, 13 Juli 2026).

Pernyataan tersebut sejalan dengan kajian Michel Picard (1996), yang menjelaskan bahwa pembangunan Hotel Bali Beach pada dekade 1960-an merupakan tonggak penting dalam transformasi pariwisata Bali menuju industri modern. Hotel tersebut dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai simbol keterbukaan Indonesia terhadap wisatawan internasional.

Selanjutnya, Ida Bagus Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa pada tahun 1970 Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pembatasan tinggi bangunan hotel agar tidak melebihi tinggi pohon kelapa. Kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap lanskap budaya Bali.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1974, ketika Pemerintah Daerah Bali menetapkan paradigma Pariwisata Budaya, yaitu model pembangunan pariwisata yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai tiga pilar utama pembangunan. Konsep tersebut kemudian dilembagakan dalam berbagai kebijakan pembangunan daerah dan hingga kini menjadi identitas utama pariwisata Bali.

Apabila ketiga narasumber dikaji secara komparatif, tampak adanya kesinambungan sejarah perkembangan pariwisata Bali.

Tahap pertama merupakan fase embrional (1908–1927). Pada periode ini telah terbentuk biro perjalanan kolonial di Hindia Belanda, seperti Vereeniging Toeristenverkeer (1908), yang mulai mempromosikan Bali kepada wisatawan Eropa. Infrastruktur promosi tersebut menjadi fondasi awal bagi kunjungan ke Bali.

Tahap kedua adalah fase internasionalisasi budaya (1927–1939). Kedatangan Walter Spies, Rabindranath Tagore, Miguel Covarrubias, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan Rudolf Bonnet membentuk citra Bali sebagai pusat seni dan kebudayaan dunia. Pada masa ini, promosi Bali tidak lagi bertumpu pada eksotisme alam semata, tetapi pada kekayaan budaya, seni pertunjukan, dan kehidupan masyarakatnya.

Tahap ketiga merupakan fase pembangunan nasional (1950–1974). Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membangun infrastruktur kepariwisataan, terutama di kawasan Sanur, dengan dukungan Presiden Soekarno. Pembangunan Hotel Bali Beach menjadi simbol keterbukaan Bali terhadap wisatawan internasional.

Tahap keempat adalah fase institusionalisasi Pariwisata Budaya (1974–sekarang). Pemerintah Provinsi Bali menetapkan konsep Pariwisata Budaya sebagai paradigma pembangunan, yang menempatkan seni, budaya, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Paradigma ini kemudian menjadi identitas khas Bali dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Secara keseluruhan, hasil FGD memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali merupakan proses historis yang berlangsung bertahap dan melibatkan interaksi antara masyarakat lokal, kerajaan-kerajaan Bali, intelektual internasional, serta kebijakan pemerintah. Tahun 1927 memiliki makna simbolik yang kuat karena menandai terbentuknya jaringan budaya global melalui kehadiran Walter Spies dan Rabindranath Tagore. Momentum inilah yang menjadi dasar argumentasi untuk menetapkan periode 1927–2027 sebagai satu abad perjalanan kepariwisataan Bali. [T]

Tags: Pariwisatapariwisata balipariwisata budaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Next Post

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co