25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 15, 2026
in Ulas Rupa
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Karya The Sacred Text of Padma

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan kesabaran melalui pertumbuhannya yang perlahan. Sungai mengajarkan perjalanan tanpa pernah memberi khotbah. Gunung mengajarkan keteguhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pengetahuan lahir dari perjumpaan yang panjang dengan tanah, hujan, angin, dan musim. Alam menjadi guru pertama, jauh sebelum manusia mengenal sekolah, perpustakaan, atau universitas.

Kini hubungan itu perlahan berubah. Kita mengenal alam melalui data, peta digital, atau gambar di layar telepon genggam. Kita mengetahui nama ilmiah berbagai jenis pohon, tetapi tidak lagi akrab dengan tekstur kulit batangnya. Kita dapat mencari ribuan foto bunga padma dalam hitungan detik, tetapi belum tentu pernah menyaksikan bagaimana kelopaknya perlahan membuka ketika matahari pagi menyentuh permukaan air. Alam masih berbicara, tetapi manusia semakin jarang mendengarkannya.

Kegelisahan itulah yang terasa hidup dalam The Sacred Text of Padma (2026), karya kolaboratif Sumino dan Sarah Kasuhardi. Karya ini dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5-18 Juli 2026.

Menghadirkan puluhan seniman dari berbagai negara, pameran tersebut mempertemukan berbagai tafsir tentang hubungan antara alam, pengetahuan, dan spiritualitas melalui bahasa kriya kontemporer. Di tengah berbagai karya yang dipamerkan, The Sacred Text of Padma menawarkan perenungan yang tenang sekaligus mendalam. Melalui selembar kayu dan guratan kuningan, karya ini mengingatkan bahwa alam sesungguhnya masih terus menulis, sementara manusialah yang perlahan kehilangan kemampuan untuk membacanya.

Judul karya ini segera mengundang rasa ingin tahu. The Sacred Text of Padma. Sebuah “teks suci” tentang padma. Kata text menggeser cara kita memandang karya seni. Yang hadir di hadapan kita bukan sekadar objek untuk dinikmati secara visual, melainkan sesuatu yang hendak dibaca.

Namun bagaimana membaca sepotong kayu? Bagaimana membaca bunga? Bagaimana membaca guratan yang dibentuk oleh waktu? Pertanyaan-pertanyaan itu justru menjadi pintu masuk menuju karya ini.

Sumino dan Sarah Kasuhardi tidak menghadirkan teks dalam bentuk aksara. Mereka menjadikan kayu sebagai halaman, serat sebagai kalimat, dan kuningan sebagai tinta yang mengabadikan pengalaman spiritual. Membaca karya ini akhirnya bukan perkara mengeja huruf, melainkan melatih kembali kepekaan untuk memahami bahasa yang sejak lama ditulis oleh alam.

Judul pameran Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma pun bukan sekadar rangkaian tiga istilah Sanskerta yang terdengar puitis. Di dalamnya tersimpan sebuah perjalanan gagasan. Prakriti menunjuk pada alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka merujuk pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman manusia membaca alam. Sementara Padma menjadi lambang kesadaran yang tumbuh menuju kebijaksanaan. Ketiganya membentuk lintasan yang utuh; dari alam, menuju pengetahuan, lalu bermuara pada pencerahan. The Sacred Text of Padma seolah menjadi simpul yang mempertemukan ketiga gagasan tersebut dalam satu bidang karya.

Hal pertama yang menarik perhatian justru bukan bunga padma di bagian tengah, melainkan bentuk kayunya sendiri. Kayu itu tidak dipotong menjadi persegi sempurna sebagaimana lazimnya bidang lukis. Lekukan-lekukan alaminya tetap dipertahankan. Tepinya bergelombang. Bentuknya organik, menyerupai serpihan bumi yang terlepas dari bentang alam.

Keputusan artistik ini tampak sederhana, tetapi menyimpan sikap estetik yang penting. Dalam kehidupan modern, manusia terbiasa memaksa alam mengikuti logika geometri. Hutan dibagi menjadi petak-petak, sungai diluruskan, bukit diratakan. Alam harus tunduk pada ukuran manusia.

Sebaliknya, karya ini membiarkan kayu tetap menjadi dirinya sendiri. Pilihan itu mengingatkan bahwa kriya tidak selalu lahir dari keinginan menguasai material. Kadang-kadang, karya terbaik justru muncul ketika seniman bersedia mendengarkan karakter material yang sedang diolah. Kayu tidak dipaksa kehilangan ingatannya. Bekas pertumbuhan, lekuk alami, dan warna yang dibentuk usia tetap dipertahankan sebagai bagian dari bahasa visual karya.

Permukaan kayu yang gelap menyimpan jaringan serat yang bergerak ke berbagai arah. Garis-garis itu tidak dibuat oleh tangan seniman. Ia lahir dari perjalanan panjang pohon menghadapi musim demi musim. Hujan, kemarau, cahaya matahari, dan usia meninggalkan jejak yang tidak mungkin dipalsukan.

Dengan demikian, sebelum karya ini selesai dikerjakan pada 2026, sesungguhnya ia telah mulai ditulis jauh sebelumnya oleh alam sendiri. Di sinilah makna “teks suci” menemukan kedalamannya.Serat kayu bukan sekadar tekstur, ia adalah ingatan.

Karya The Sacred Text of Padma

Dari kejauhan, komposisi karya tampak sederhana. Namun ketika pandangan mendekat, detail-detail kecil mulai berbicara. Kilau kuningan mengikuti lekuk ukiran seperti urat-urat cahaya yang merambat di atas permukaan kayu tua. Padma di bagian tengah tidak tampak ditempelkan, melainkan seolah tumbuh dari tubuh kayu itu sendiri. Hubungan tersebut membuat bunga itu bukan sekadar hiasan, melainkan puncak dari perjalanan yang telah dimulai oleh alam.

Dalam antropologi, ada satu pemahaman yang terus berulang, bahwa kebudayaan lahir dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Cara sebuah masyarakat membangun rumah, mengolah sawah, menentukan arah mata angin, hingga menciptakan simbol-simbol keagamaan, tidak pernah berdiri sendiri. Semuanya tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam.

Bali menyimpan banyak jejak cara pandang semacam itu. Lontar memang menjadi media penting untuk menyimpan pengetahuan, tetapi sebelum pengetahuan dituliskan, ia terlebih dahulu hidup sebagai pengalaman. Seorang undagi mengenali karakter kayu bukan hanya karena membaca naskah, melainkan karena bertahun-tahun berhadapan dengan pohon. Petani membaca musim dari perubahan angin dan perilaku burung. Nelayan memahami laut melalui arus dan langit. Pengetahuan hadir sebagai hasil perjumpaan yang terus-menerus antara manusia dan alam.

Di tengah perubahan zaman, hubungan itu perlahan menjauh. Pengetahuan semakin banyak diperoleh melalui mesin pencari, sementara pengalaman langsung dengan alam semakin berkurang. Kita mengetahui nama ilmiah berbagai jenis pohon, tetapi tidak lagi mengenali tekstur kulit batangnya. Kita dapat melihat ribuan foto bunga padma di internet, tetapi mungkin tidak pernah menyaksikan bagaimana bunga itu perlahan membuka kelopaknya ketika matahari mulai naik.

Dalam situasi seperti itulah The Sacred Text of Padma memperoleh daya gugatnya. Karya ini mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi atau didokumentasikan. Alam adalah guru pertama yang diam-diam membentuk cara manusia memahami kehidupan.

Jika kayu menjadi halaman tempat alam menuliskan dirinya, maka padma adalah bagian yang paling terang untuk dibaca. Bunga itu ditempatkan tepat di pusat komposisi. Kelopak-kelopaknya tersusun radial, mengingatkan pada mandala dalam tradisi Hindu dan Buddha. Komposisi semacam ini tidak hanya menghadirkan keseimbangan visual, tetapi juga membangun pengalaman batin. Mata pembaca mula-mula tertarik pada padma, lalu perlahan bergerak mengikuti guratan kuningan, sebelum akhirnya berhenti pada serat-serat kayu yang memenuhi seluruh bidang karya.

Perjalanan mata itu seperti perjalanan memahami kehidupan. Manusia sering kali tertarik kepada sesuatu yang berkilau lebih dahulu. Namun ketika perhatian diperdalam, yang justru tampak penting adalah hal-hal yang selama ini luput diperhatikan. Serat kayu yang sederhana ternyata menyimpan kisah jauh lebih panjang daripada kilau logam yang langsung mencuri perhatian.

Padma dalam karya ini juga tidak berdiri sendiri. Ia tidak tampak sebagai simbol yang ditempelkan di atas kayu, melainkan seolah lahir dari tubuh kayu itu sendiri. Serat-serat alami mengalir menuju pusat komposisi, membuat bunga tersebut seperti tumbuh dari pengalaman panjang yang disimpan oleh pohon.

Pembacaan semacam ini membuat padma kehilangan sifatnya sebagai simbol yang beku. Ia menjadi hidup. Dalam berbagai tradisi Asia, padma memang menjadi lambang kesucian. Ia tumbuh dari lumpur tanpa membawa lumpur pada kelopaknya. Namun karya Sumino dan Sarah Kasuhardi tidak berhenti pada simbol yang sudah sangat dikenal itu. Mereka menghadirkan padma sebagai hasil dari sebuah proses.

Pencerahan, seolah ingin dikatakan karya ini, tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia bertumbuh, memerlukan waktu, da lahir dari pengalaman yang tidak selalu mudah.

Sebagaimana pohon membutuhkan puluhan tahun untuk membentuk batang yang kokoh, demikian pula manusia memerlukan perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan.

Pilihan menggunakan kuningan memperkuat pembacaan tersebut. Kilau keemasannya hadir secukupnya. Tidak mendominasi bidang, tetapi juga tidak tenggelam di antara warna gelap kayu. Pada beberapa bagian, garis-garis kuningan tampak seperti cahaya yang merambat mengikuti alur serat. Di bagian lain, ia menyerupai guratan tinta emas pada manuskrip kuno.

Kuningan menjadi semacam aksara. Bukan aksara yang dibaca melalui bunyi, melainkan melalui pengalaman visual. Pertemuan kayu dan logam menghadirkan kontras yang lembut. Kayu membawa kesan bumi, usia, dan pertumbuhan. Kuningan menghadirkan cahaya, harapan, dan kesadaran. Keduanya tidak saling mengalahkan. Justru saling melengkapi.

Dalam kebudayaan Bali terdapat pemahaman tentang keseimbangan yang hidup melalui berbagai konsep, salah satunya rwa bhineda. Terang dan gelap, gunung dan laut, hulu dan teben, bukan dipahami sebagai pertentangan yang harus dimenangkan salah satunya, melainkan sebagai pasangan yang membuat kehidupan tetap berlangsung.

Semangat itulah yang terasa hadir dalam karya ini. Gelap tidak disingkirkan agar cahaya dapat muncul. Sebaliknya, cahaya memperoleh maknanya justru karena ada gelap yang melatarinya.

Padma tidak akan berarti tanpa lumpur, cahaya tidak akan tampak tanpa bayangan. Begitu pula pengetahuan. Ia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman hidup yang sering kali penuh ketidakpastian.

Ada satu hal menarik yang jarang dibicarakan ketika membahas karya kriya, yakni hubungan antara tangan dan waktu. Dalam seni kriya, waktu tidak hanya hadir sebagai penanda kapan sebuah karya selesai dibuat. Waktu justru menjadi bagian dari material itu sendiri. Setiap ukiran membutuhkan kesabaran. Setiap guratan memerlukan pengulangan. Tidak ada proses yang dapat dipercepat tanpa mengorbankan kualitas.

Karena itu, kriya sesungguhnya mengandung nilai yang semakin langka di tengah kehidupan modern. Ia mengajarkan kelambatan. Di zaman ketika hampir semua hal diukur berdasarkan kecepatan, karya kriya mengingatkan bahwa ada pengalaman yang hanya dapat lahir melalui kesabaran. Sebatang kayu tidak berubah menjadi karya seni dalam semalam. Demikian pula manusia tidak menjadi bijaksana hanya karena mengumpulkan banyak informasi.

Kebijaksanaan memerlukan waktu sebagaimana kayu memerlukan waktu untuk menjadi pohon. Dan pohon memerlukan waktu untuk menjadi hutan.

Perubahan cara pandang terhadap kriya merupakan salah satu perkembangan menarik dalam seni rupa Indonesia beberapa dekade terakhir. Dahulu, kriya lebih sering dipahami sebagai seni yang bertumpu pada keterampilan mengolah material. Keindahan sebuah karya banyak diukur dari kerumitan teknik, ketelitian pengerjaan, atau fungsi benda yang dihasilkan.

Kini batas-batas itu semakin mencair. Kriya tidak lagi sekadar berbicara tentang keterampilan tangan. Ia telah berkembang menjadi ruang untuk mengolah gagasan, mengajukan pertanyaan, bahkan mengkritik cara manusia memandang dunia. Material tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai medium yang membawa sejarah, ingatan, dan pengalaman.

Sumino dan Sarah Kasuhardi | Dokumentasi Pribadi

The Sacred Text of Padma berada dalam arus perubahan tersebut. Kayu yang digunakan dalam karya ini tidak sekadar menjadi alas bagi ukiran. Ia tetap mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari alam. Serat-serat yang dibiarkan tampak jelas memperlihatkan bahwa material tidak kehilangan riwayatnya ketika memasuki ruang seni. Justru riwayat itulah yang menjadi bagian penting dari makna karya.

Demikian pula kuningan. Ia tidak dipakai untuk menunjukkan kemewahan, melainkan menjadi penanda perjalanan menuju kesadaran. Logam itu tidak menutupi kayu, tetapi berdialog dengannya. Pertemuan keduanya menghadirkan hubungan yang saling menghidupkan, bukan saling meniadakan.

Di sinilah kekuatan karya ini. Ia tidak mengandalkan simbol semata, tetapi membiarkan material ikut berbicara. Ada lapisan lain yang membuat karya ini layak dibaca lebih jauh, yakni proses kolaborasinya. The Sacred Text of Padma lahir dari kerja bersama Sumino, seorang dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sarah Kasuhardi, mahasiswanya.

Kolaborasi semacam ini menyimpan makna yang lebih besar daripada sekadar kerja bersama menghasilkan sebuah karya. Ia memperlihatkan bagaimana pengetahuan diwariskan.

Dalam tradisi Nusantara, seorang empu tidak hanya mengajarkan teknik kepada cantriknya. Ia juga mewariskan cara melihat dunia. Pengetahuan tidak dipindahkan seperti memindahkan isi sebuah wadah. Ia tumbuh melalui laku, melalui percakapan, melalui kerja bersama, dan melalui penghormatan terhadap material yang sedang diolah.

Hubungan seperti itu terasa hadir dalam karya ini. Sulit mengatakan di mana gagasan seorang dosen berakhir dan gagasan seorang mahasiswa dimulai. Yang tampak justru sebuah dialog yang saling memperkaya. Kolaborasi menjadi ruang belajar yang berlangsung dua arah.

Barangkali di situlah pendidikan seni menemukan bentuknya yang paling hidup. Bukan ketika ilmu selesai diajarkan, melainkan ketika proses belajar berubah menjadi proses berkarya.

Karya ini juga mengajak kita memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam pada masa sekarang. Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai lingkungan sering berhenti pada angka. Berapa hektare hutan yang hilang, berapa ton sampah yang dihasilkan, berapa persen tutupan lahan yang berkurang. Semua itu penting sebagai data, tetapi angka tidak selalu mampu menghadirkan kedekatan emosional. Seni bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak menyajikan statistik, tetapi ia menghidupkan empati.

Melalui sepotong kayu, karya ini mengingatkan bahwa setiap pohon memiliki riwayat yang jauh lebih panjang daripada masa hidup manusia. Sebatang pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh, tetapi dapat ditebang dalam hitungan menit. Ketika pohon hilang, yang lenyap bukan hanya kayunya, melainkan juga jejak musim yang tersimpan pada batangnya, tempat burung bersarang, bayangan yang menaungi tanah, serta hubungan panjang antara manusia dan alam.

Karena itu, karya ini tidak dapat dibaca semata-mata sebagai simbol spiritual. Ia juga merupakan refleksi ekologis. Bukan refleksi yang lantang, melainkan refleksi yang bekerja melalui keheningan.

Barangkali di situlah letak kekuatan seni. Ia tidak memaksa orang setuju, juga tidak memberikan jawaban yang selesai. Seni hanya membuka kemungkinan untuk melihat sesuatu dari cara yang berbeda.

Selembar kayu yang semula tampak biasa berubah menjadi manuskrip kehidupan. Guratan logam yang semula terlihat sebagai hiasan berubah menjadi aksara yang menghubungkan manusia dengan alam. Padma yang semula dipahami sebagai lambang keagamaan berubah menjadi metafora tentang perjalanan menjadi manusia.

Pada titik itu, karya tidak lagi berhenti sebagai benda. Ia menjadi pengalaman. Fi tengah kehidupan yang semakin dipenuhi layar dan informasi, manusia sesungguhnya tidak sedang kekurangan pengetahuan. Yang perlahan menghilang justru kemampuan untuk mengalami pengetahuan itu sendiri.

Kita membaca lebih banyak daripada generasi-generasi sebelumnya, tetapi semakin jarang membaca alam. Kita mengenali nama tumbuhan melalui mesin pencari, tetapi lupa menyentuh kulit batangnya. Kita menyimpan ribuan foto bunga di telepon genggam, tetapi kehilangan kesabaran untuk menyaksikan bagaimana bunga itu mekar perlahan pada pagi hari.

The Sacred Text of Padma mengingatkan bahwa ada jenis pengetahuan yang tidak dapat diperoleh melalui buku, internet, ataupun ruang kuliah. Pengetahuan itu lahir ketika manusia bersedia kembali menjadi bagian dari alam, bukan sekadar pengamatnya. Serat-serat kayu yang memenuhi permukaan karya mengajarkan bahwa waktu meninggalkan jejak. Padma mengingatkan bahwa pertumbuhan memerlukan kesabaran. Sementara kilau kuningan menghadirkan harapan bahwa dari pengalaman hidup yang paling sederhana pun, kebijaksanaan dapat bertumbuh.

Di situlah karya ini melampaui dirinya sebagai sebuah objek seni. Ia tidak berhenti sebagai hasil keterampilan mengolah kayu dan logam. Ia juga tidak berhenti sebagai simbol spiritual yang indah dipandang. Karya ini berubah menjadi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan asal-usulnya. Tentang bagaimana alam selama ini bukan sekadar menyediakan bahan bagi kehidupan, melainkan juga membentuk cara manusia berpikir, percaya, dan memahami dirinya.

Barangkali itulah sebabnya karya ini terasa begitu tenang. Ia tidak berteriak untuk menarik perhatian. Ia tidak menawarkan tafsir tunggal. Ia tidak menggurui. Ia hanya membuka sebuah kemungkinan, bahwa sepotong kayu dapat dibaca seperti sebuah kitab, dan bahwa setiap serat yang melintas di atasnya adalah kalimat yang ditulis oleh waktu.

Dalam masyarakat Bali, hubungan dengan alam tidak pernah sepenuhnya dipahami sebagai hubungan antara manusia dan benda. Gunung, laut, pohon, mata air, hingga batu-batu tertentu ditempatkan dalam jejaring makna yang menghubungkan dunia yang tampak dan yang tak kasatmata. Alam bukan sekadar lanskap, melainkan ruang tempat manusia belajar menjaga keseimbangan hidup. Karena itu, membaca alam sesungguhnya juga berarti membaca kebudayaan yang tumbuh bersamanya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, karya Sumino dan Sarah Kasuhardi justru mengajak kita melambat. Melambat untuk memperhatikan guratan kayu. Melambat untuk mengikuti arah cahaya pada permukaan kuningan. Melambat untuk memahami bahwa tidak semua hal penting dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Sebagaimana pohon memerlukan puluhan tahun untuk tumbuh, demikian pula manusia memerlukan waktu untuk bertumbuh menjadi pribadi yang arif.

Barangkali memang tidak semua kitab dibuat dari kertas. Sebagiannya ditulis hujan pada batang pohon, angin pada arah tumbuh ranting matahari pada warna kayu yang menua. Dan sebagian lainnya ditulis oleh waktu, perlahan, melalui lingkar-lingkar usia yang nyaris tak pernah kita perhatikan.

Mungkin itulah fungsi terdalam sebuah karya seni. Bukan menghadirkan jawaban yang selesai, melainkan mengembalikan manusia kepada pertanyaan-pertanyaan yang pernah begitu akrab: bagaimana pohon bertumbuh, mengapa bunga tetap mekar dari lumpur, dan sejak kapan kita berhenti menganggap alam sebagai guru.

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu hidup kembali, sebuah karya tidak lagi berhenti sebagai benda seni. Ia berubah menjadi pengalaman yang terus bekerja dalam ingatan, lama setelah kita selesai memandangnya. [T]

Keterangan karya:

The Sacred Text of Padma merupakan karya kolaboratif Sumino dan Sarah Kasuhardi yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5–18 Juli 2026. Karya dua dimensi berukuran 55 × 38 cm ini menggunakan media kayu dan kuningan, serta berangkat dari gagasan tentang alam sebagai pustaka pertama manusia, tempat pengetahuan dan kesadaran spiritual tumbuh melalui perjalanan waktu.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum Arma UbudSeni KriyaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Next Post

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails
Next Post
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co