25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 15, 2026
in Esai
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Made Budhiana

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya justru mengenal namanya dari sebuah puisi.

Itu terjadi sekitar tahun 2001, ketika saya masih duduk di bangku SMA di Negara, Jembrana. Usia belasan adalah masa ketika saya dipenuhi pertanyaan. Saya gemar membaca, tetapi merasa buku-buku pelajaran tidak cukup menjawab kegelisahan tentang hidup, manusia, dan dunia. Saya seperti sedang mencari sebuah pintu, tetapi belum tahu ke mana pintu itu akan membawa saya.

Pintu itu ternyata bernama sastra. Seorang teman, Ida Bagus Eka Darmadi yang dikenal dengan nama pena Ibed Surgana Yuga, mengajak saya berkenalan dengan Nanoq da Kansas. Kami memanggilnya Bli Noq. Tubuhnya kurus, rambutnya gondrong, tutur katanya lembut. Ia seorang penyair, wartawan, pelukis, pemain sekaligus sutradara teater. Di Negara, ia mendirikan Komunitas Kertas Budaya, sebuah ruang yang mempertemukan anak-anak muda yang mencintai buku, seni, dan percakapan.

Saya mulai rutin datang ke rumah kos tempat Bli Noq tinggal. Yang paling memikat saya bukan hanya sosoknya, melainkan rak-rak bukunya. Di sana saya menemukan nama-nama yang sama sekali asing bagi seorang siswa SMA di kota kecil, seperti Friedrich Nietzsche, Søren Kierkegaard, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, hingga para sastrawan Indonesia yang tidak pernah saya jumpai di ruang kelas.

Saya membacanya dengan lahap. Barangkali di sanalah pendidikan saya yang sesungguhnya dimulai. Saya mulai menulis puisi, dan mengirimkannya ke surat kabar lokal. Kebahagiaan saya saat itu sangat sederhana. Melihat nama sendiri tercetak di halaman budaya sudah cukup membuat saya merasa telah menemukan rumah. Hingga hari ini, kliping-kliping puisi itu masih saya simpan.

Di antara puisi-puisi karya Bli Noq, ada satu yang terus tinggal dalam ingatan saya. Judulnya Kolase Waktu. Di bawah judul itu tertulis sebuah persembahan: kepada pelukis Made Budhiana.

Saat itu saya tidak mengenal siapa Made Budhiana. Nama itu hanya lewat sebagai sebuah dedikasi dalam puisi. Saya tidak mencari tahu siapa dirinya. Saya hanya menganggapnya sebagai seseorang yang memiliki hubungan khusus dengan penyair.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui bahwa Made Budhiana adalah salah seorang perupa penting Bali. Ia dikenal sebagai pelukis yang tekun mengeksplorasi alam, spiritualitas, dan pengalaman batin melalui bahasa visual yang khas. Lebih dari itu, banyak orang mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka, dan murah hati berbagi pengetahuan kepada seniman yang lebih muda.

Ketika kabar wafatnya datang beberapa hari lalu, ingatan saya justru kembali kepada puisi itu. Saya membacanya lagi, dan saya menyadari bahwa sebuah puisi ternyata dapat berubah maknanya. Bukan karena kata-katanya berubah, melainkan karena kehidupan telah mengubah cara kita membacanya.

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Dalam kajian antropologi sastra, karya sastra tidak pernah lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari relasi antarmanusia, dari kebudayaan, dari pengalaman hidup, dan dari zaman yang melingkupinya. Karena itu, membaca puisi bukan sekadar mengurai metafora. Membaca puisi juga berarti membaca jaringan hubungan sosial yang melahirkannya.

Kolase Waktu menjadi menarik karena ia bukan puisi tentang Made Budhiana. Ia adalah puisi untuk Made Budhiana. Perbedaan kecil itu justru penting. Nanoq tidak sedang menulis biografi. Ia tidak menjelaskan riwayat hidup, teknik melukis, ataupun pameran yang pernah diikuti sahabatnya. Ia memilih berbicara melalui bahasa yang jauh lebih simbolik.

Larik pertama segera menghadirkan kegelisahan.

“kanvas yang dijahit anak-anak, akankah sempurna menyerap cahaya?”

Kanvas biasanya menjadi ruang bagi pelukis. Namun dalam puisi ini kanvas itu robek. Ia harus dijahit kembali. Yang menjahitnya justru anak-anak. Saya membaca anak-anak sebagai simbol harapan, kepolosan, bahkan masa depan. Dunia memang bisa diperbaiki.

 Tetapi penyair tidak pernah mengatakan bahwa jahitan itu berhasil mengembalikan keadaan seperti semula. Ia justru mengajukan pertanyaan, yakni, apakah kanvas yang pernah robek masih mampu menyerap cahaya? Pertanyaan itu terasa melampaui dunia seni rupa.

Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Kita terus-menerus menjahit hubungan yang retak, memperbaiki luka, menambal kegagalan, memulihkan kepercayaan. Namun tidak semua yang telah diperbaiki akan kembali utuh.

Puisi kemudian bergerak menuju citraan yang lebih getir.

“Sampah-sampah yang kutambalkan di dinding tak cukup menghentikan rembesan nanah.”

Saya membacanya sebagai kritik terhadap cara manusia menyelesaikan persoalan. Sampah dipakai untuk menambal. Solusi yang dipilih ternyata sama rapuhnya dengan masalah yang dihadapi. Nanah bukan sekadar luka, ia adalah tanda bahwa luka telah lama dibiarkan.

Lalu hadir larik yang sangat pendek, tetapi terasa menghantam.

“Ruang di mana-mana membusuk.”

Dalam antropologi, ruang tidak hanya berarti bangunan atau bentang alam. Ruang adalah tempat manusia membangun makna. Rumah, jalan, pantai, pasar, galeri seni, bahkan hubungan antarmanusia adalah ruang kebudayaan.

Ketika ruang dikatakan membusuk, penyair sesungguhnya sedang berbicara tentang kehidupan sosial yang kehilangan kehangatan.

Sesudahnya, puisi menyebut mawar, danau, pantai, gunung, dan trotoar. Alam dan kota hadir berdampingan. Seolah-olah penyair ingin mengatakan bahwa keretakan itu tidak hanya terjadi di pusat-pusat kehidupan modern. Bahkan alam yang selama ini dianggap suci pun ikut merasakannya.

Larik berikutnya membuat saya berhenti lebih lama.

“kirimi aku segaris kisah tanpa warna kelam!”

Permintaan itu terdengar sederhana. Namun saya membayangkannya sebagai percakapan seorang penyair kepada seorang pelukis. Penyair bekerja dengan kata, sedangkan pelukis bekerja dengan warna. Keduanya sama-sama sedang mencari kemungkinan agar dunia tidak seluruhnya tenggelam dalam kegelapan.

Namun harapan itu segera dipatahkan.

“parfum yasmin atau seonggok sesaji tak tercium aromanya.”

Bagi masyarakat Bali, sesaji bukan sekadar rangkaian bunga dan daun. Ia adalah bagian dari hubungan manusia dengan yang sakral. Ketika sesaji kehilangan aroma, mungkin bukan sesajinya yang berubah. Barangkali manusialah yang perlahan kehilangan kepekaan.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Di titik ini saya merasa Nanoq sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada seorang pelukis. Ia sedang berbicara tentang zaman.

Puisi itu kemudian kembali kepada kanvas.

“Angin memotong nafasku. Menyangkutkannya pada kanvas robek yang dijahit anak-anak.”

Larik ini seperti membawa kita kembali ke awal. Struktur puisi membentuk lingkaran. Persoalan belum selesai. Luka belum sembuh. Kanvas masih robek.

Lalu hadir penutup yang menurut saya menjadi inti seluruh puisi.

“O, waktu, betapa tambal sulamnya.”

Barangkali inilah kalimat yang paling saya ingat sejak pertama kali membaca puisi tersebut dua puluh lima tahun lalu.

Waktu ternyata bukan perjalanan yang lurus. Ia penuh jahitan, tambalan, penuh bekas luka.

Kini, setelah Made Budhiana berpulang, saya membaca puisi itu dengan perasaan yang berbeda. Dedikasi kepada seorang pelukis yang dahulu saya anggap sekadar catatan kecil kini terasa seperti penanda persahabatan yang melampaui usia.

Saya membayangkan hubungan penyair dan pelukis bukan hanya sebagai hubungan dua seniman, melainkan hubungan dua manusia yang sama-sama sedang berusaha memahami zaman melalui medium yang berbeda. Yang satu menggunakan kata, yang lain menggunakan warna.

Keduanya mungkin tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang menjaga pertanyaan agar tetap hidup. Saya bersyukur mengenal nama Made Budhiana melalui sebuah puisi. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seni tidak selalu memperkenalkan dirinya secara langsung. Kadang-kadang seorang pelukis datang kepada kita melalui larik-larik puisi. Kadang-kadang seorang penyair membuat kita ingin melihat lukisan. Seni saling membuka jalan bagi seni yang lain.

Saya juga bersyukur pernah menjadi bagian kecil dari Komunitas Kertas Budaya. Di ruang sederhana itulah saya belajar bahwa membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memperluas cara memandang manusia. Di sana saya belajar bahwa percakapan dapat mengubah hidup seseorang. Bahwa sebuah puisi dapat memperkenalkan seorang pelukis. Bahwa sebuah nama yang lewat sepintas dalam larik puisi dapat menetap puluhan tahun di dalam ingatan.

  • BACA JUGA:
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana telah berpulang. Namun saya kira seorang seniman tidak benar-benar pergi ketika percakapan tentang dirinya masih terus berlangsung. Lukisan-lukisannya tetap berbicara melalui warna. Puisi Nanoq da Kansas tetap berbicara melalui kata. Dan kita, para pembaca yang datang belakangan, melanjutkan percakapan itu dengan cara kita sendiri. Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah kolase waktu. Fragmen-fragmen kehidupan yang tampak terpisah akhirnya saling menemukan tempatnya. Seorang penyair, seorang pelukis, sebuah komunitas kecil di Negara, dan seorang remaja yang sedang mencari jalan pulang kepada sastra, ternyata dipertemukan oleh ingatan yang tak pernah selesai dijahit oleh waktu. [T]

Tags: Made BudhianaPuisiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Next Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam ---Membaca "The Sacred Text of Padma" karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co