5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 15, 2026
in Esai
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Made Budhiana

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya justru mengenal namanya dari sebuah puisi.

Itu terjadi sekitar tahun 2001, ketika saya masih duduk di bangku SMA di Negara, Jembrana. Usia belasan adalah masa ketika saya dipenuhi pertanyaan. Saya gemar membaca, tetapi merasa buku-buku pelajaran tidak cukup menjawab kegelisahan tentang hidup, manusia, dan dunia. Saya seperti sedang mencari sebuah pintu, tetapi belum tahu ke mana pintu itu akan membawa saya.

Pintu itu ternyata bernama sastra. Seorang teman, Ida Bagus Eka Darmadi yang dikenal dengan nama pena Ibed Surgana Yuga, mengajak saya berkenalan dengan Nanoq da Kansas. Kami memanggilnya Bli Noq. Tubuhnya kurus, rambutnya gondrong, tutur katanya lembut. Ia seorang penyair, wartawan, pelukis, pemain sekaligus sutradara teater. Di Negara, ia mendirikan Komunitas Kertas Budaya, sebuah ruang yang mempertemukan anak-anak muda yang mencintai buku, seni, dan percakapan.

Saya mulai rutin datang ke rumah kos tempat Bli Noq tinggal. Yang paling memikat saya bukan hanya sosoknya, melainkan rak-rak bukunya. Di sana saya menemukan nama-nama yang sama sekali asing bagi seorang siswa SMA di kota kecil, seperti Friedrich Nietzsche, Søren Kierkegaard, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, hingga para sastrawan Indonesia yang tidak pernah saya jumpai di ruang kelas.

Saya membacanya dengan lahap. Barangkali di sanalah pendidikan saya yang sesungguhnya dimulai. Saya mulai menulis puisi, dan mengirimkannya ke surat kabar lokal. Kebahagiaan saya saat itu sangat sederhana. Melihat nama sendiri tercetak di halaman budaya sudah cukup membuat saya merasa telah menemukan rumah. Hingga hari ini, kliping-kliping puisi itu masih saya simpan.

Di antara puisi-puisi karya Bli Noq, ada satu yang terus tinggal dalam ingatan saya. Judulnya Kolase Waktu. Di bawah judul itu tertulis sebuah persembahan: kepada pelukis Made Budhiana.

Saat itu saya tidak mengenal siapa Made Budhiana. Nama itu hanya lewat sebagai sebuah dedikasi dalam puisi. Saya tidak mencari tahu siapa dirinya. Saya hanya menganggapnya sebagai seseorang yang memiliki hubungan khusus dengan penyair.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui bahwa Made Budhiana adalah salah seorang perupa penting Bali. Ia dikenal sebagai pelukis yang tekun mengeksplorasi alam, spiritualitas, dan pengalaman batin melalui bahasa visual yang khas. Lebih dari itu, banyak orang mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka, dan murah hati berbagi pengetahuan kepada seniman yang lebih muda.

Ketika kabar wafatnya datang beberapa hari lalu, ingatan saya justru kembali kepada puisi itu. Saya membacanya lagi, dan saya menyadari bahwa sebuah puisi ternyata dapat berubah maknanya. Bukan karena kata-katanya berubah, melainkan karena kehidupan telah mengubah cara kita membacanya.

  • BACA JUGA:
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Dalam kajian antropologi sastra, karya sastra tidak pernah lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari relasi antarmanusia, dari kebudayaan, dari pengalaman hidup, dan dari zaman yang melingkupinya. Karena itu, membaca puisi bukan sekadar mengurai metafora. Membaca puisi juga berarti membaca jaringan hubungan sosial yang melahirkannya.

Kolase Waktu menjadi menarik karena ia bukan puisi tentang Made Budhiana. Ia adalah puisi untuk Made Budhiana. Perbedaan kecil itu justru penting. Nanoq tidak sedang menulis biografi. Ia tidak menjelaskan riwayat hidup, teknik melukis, ataupun pameran yang pernah diikuti sahabatnya. Ia memilih berbicara melalui bahasa yang jauh lebih simbolik.

Larik pertama segera menghadirkan kegelisahan.

“kanvas yang dijahit anak-anak, akankah sempurna menyerap cahaya?”

Kanvas biasanya menjadi ruang bagi pelukis. Namun dalam puisi ini kanvas itu robek. Ia harus dijahit kembali. Yang menjahitnya justru anak-anak. Saya membaca anak-anak sebagai simbol harapan, kepolosan, bahkan masa depan. Dunia memang bisa diperbaiki.

 Tetapi penyair tidak pernah mengatakan bahwa jahitan itu berhasil mengembalikan keadaan seperti semula. Ia justru mengajukan pertanyaan, yakni, apakah kanvas yang pernah robek masih mampu menyerap cahaya? Pertanyaan itu terasa melampaui dunia seni rupa.

Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Kita terus-menerus menjahit hubungan yang retak, memperbaiki luka, menambal kegagalan, memulihkan kepercayaan. Namun tidak semua yang telah diperbaiki akan kembali utuh.

Puisi kemudian bergerak menuju citraan yang lebih getir.

“Sampah-sampah yang kutambalkan di dinding tak cukup menghentikan rembesan nanah.”

Saya membacanya sebagai kritik terhadap cara manusia menyelesaikan persoalan. Sampah dipakai untuk menambal. Solusi yang dipilih ternyata sama rapuhnya dengan masalah yang dihadapi. Nanah bukan sekadar luka, ia adalah tanda bahwa luka telah lama dibiarkan.

Lalu hadir larik yang sangat pendek, tetapi terasa menghantam.

“Ruang di mana-mana membusuk.”

Dalam antropologi, ruang tidak hanya berarti bangunan atau bentang alam. Ruang adalah tempat manusia membangun makna. Rumah, jalan, pantai, pasar, galeri seni, bahkan hubungan antarmanusia adalah ruang kebudayaan.

Ketika ruang dikatakan membusuk, penyair sesungguhnya sedang berbicara tentang kehidupan sosial yang kehilangan kehangatan.

Sesudahnya, puisi menyebut mawar, danau, pantai, gunung, dan trotoar. Alam dan kota hadir berdampingan. Seolah-olah penyair ingin mengatakan bahwa keretakan itu tidak hanya terjadi di pusat-pusat kehidupan modern. Bahkan alam yang selama ini dianggap suci pun ikut merasakannya.

Larik berikutnya membuat saya berhenti lebih lama.

“kirimi aku segaris kisah tanpa warna kelam!”

Permintaan itu terdengar sederhana. Namun saya membayangkannya sebagai percakapan seorang penyair kepada seorang pelukis. Penyair bekerja dengan kata, sedangkan pelukis bekerja dengan warna. Keduanya sama-sama sedang mencari kemungkinan agar dunia tidak seluruhnya tenggelam dalam kegelapan.

Namun harapan itu segera dipatahkan.

“parfum yasmin atau seonggok sesaji tak tercium aromanya.”

Bagi masyarakat Bali, sesaji bukan sekadar rangkaian bunga dan daun. Ia adalah bagian dari hubungan manusia dengan yang sakral. Ketika sesaji kehilangan aroma, mungkin bukan sesajinya yang berubah. Barangkali manusialah yang perlahan kehilangan kepekaan.

  • BACA JUGA:
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

Di titik ini saya merasa Nanoq sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada seorang pelukis. Ia sedang berbicara tentang zaman.

Puisi itu kemudian kembali kepada kanvas.

“Angin memotong nafasku. Menyangkutkannya pada kanvas robek yang dijahit anak-anak.”

Larik ini seperti membawa kita kembali ke awal. Struktur puisi membentuk lingkaran. Persoalan belum selesai. Luka belum sembuh. Kanvas masih robek.

Lalu hadir penutup yang menurut saya menjadi inti seluruh puisi.

“O, waktu, betapa tambal sulamnya.”

Barangkali inilah kalimat yang paling saya ingat sejak pertama kali membaca puisi tersebut dua puluh lima tahun lalu.

Waktu ternyata bukan perjalanan yang lurus. Ia penuh jahitan, tambalan, penuh bekas luka.

Kini, setelah Made Budhiana berpulang, saya membaca puisi itu dengan perasaan yang berbeda. Dedikasi kepada seorang pelukis yang dahulu saya anggap sekadar catatan kecil kini terasa seperti penanda persahabatan yang melampaui usia.

Saya membayangkan hubungan penyair dan pelukis bukan hanya sebagai hubungan dua seniman, melainkan hubungan dua manusia yang sama-sama sedang berusaha memahami zaman melalui medium yang berbeda. Yang satu menggunakan kata, yang lain menggunakan warna.

Keduanya mungkin tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang menjaga pertanyaan agar tetap hidup. Saya bersyukur mengenal nama Made Budhiana melalui sebuah puisi. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seni tidak selalu memperkenalkan dirinya secara langsung. Kadang-kadang seorang pelukis datang kepada kita melalui larik-larik puisi. Kadang-kadang seorang penyair membuat kita ingin melihat lukisan. Seni saling membuka jalan bagi seni yang lain.

Saya juga bersyukur pernah menjadi bagian kecil dari Komunitas Kertas Budaya. Di ruang sederhana itulah saya belajar bahwa membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memperluas cara memandang manusia. Di sana saya belajar bahwa percakapan dapat mengubah hidup seseorang. Bahwa sebuah puisi dapat memperkenalkan seorang pelukis. Bahwa sebuah nama yang lewat sepintas dalam larik puisi dapat menetap puluhan tahun di dalam ingatan.

  • BACA JUGA:
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Made Budhiana telah berpulang. Namun saya kira seorang seniman tidak benar-benar pergi ketika percakapan tentang dirinya masih terus berlangsung. Lukisan-lukisannya tetap berbicara melalui warna. Puisi Nanoq da Kansas tetap berbicara melalui kata. Dan kita, para pembaca yang datang belakangan, melanjutkan percakapan itu dengan cara kita sendiri. Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah kolase waktu. Fragmen-fragmen kehidupan yang tampak terpisah akhirnya saling menemukan tempatnya. Seorang penyair, seorang pelukis, sebuah komunitas kecil di Negara, dan seorang remaja yang sedang mencari jalan pulang kepada sastra, ternyata dipertemukan oleh ingatan yang tak pernah selesai dijahit oleh waktu. [T]

Tags: Made BudhianaPuisiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Next Post

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam ---Membaca "The Sacred Text of Padma" karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co