26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Lailatus Sholihah by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
in Esai
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Lailatus Sholihah

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam erat tangan orang tuanya karena masih diliputi rasa cemas, dan ada pula yang sibuk memperhatikan lingkungan yang sama sekali asing.

Ruang kelas yang sebelumnya lengang kembali hidup oleh sapaan guru, tawa yang masih canggung, serta perkenalan dengan teman-teman baru. Bagi jutaan peserta didik di Indonesia, hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang bercampur. Ada semangat, penasaran, gugup, sekaligus harapan akan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Hari pertama sekolah sering kali dipahami sebagai penanda dimulainya proses pembelajaran. Sekolah disibukkan dengan pembagian kelas, penyusunan jadwal, pengenalan tata tertib, hingga pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Semua itu adalah hal penting. Namun, sebagai pendidik kita tidak boleh lupa bahwa saat itu adalah masa awal bagi kita untuk menanam budaya sekolah yang membuat setiap anak merasa aman, diterima, dan dihargai sejak pertama kali mereka melangkahkan kaki di lingkungan sekolah.

Hari itu merupakan awal terbentuknya kehidupan sosial peserta didik. Mereka mulai mengenal teman baru, membangun kelompok pertemanan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, sekaligus mencari tempat untuk diterima dalam komunitas yang baru. Pada saat yang sama, interaksi sosial tersebut juga berpotensi melahirkan pelabelan, pengucilan, ejekan, maupun perlakuan yang merendahkan, yang sering kali dianggap sebagai candaan atau bagian dari proses adaptasi.

Tidak jarang seorang siswa mulai dikenal melalui julukan yang merujuk pada kondisi fisiknya, cara berbicaranya, latar belakang keluarganya, prestasi akademiknya, bahkan asal daerahnya. Ketika julukan-julukan tersebut terus diulang dan ditertawakan bersama, batas antara humor dan penghinaan menjadi semakin kabur dan menjadi benih perundungan.

Tentu, melihat perundungan semata-mata sebagai perilaku individu merupakan cara pandang yang terlalu sederhana. Selama ini perhatian sering tertuju pada siapa pelaku dan siapa korban, kemudian diakhiri dengan pemberian sanksi atau pembinaan. Pendekatan tersebut memang diperlukan, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Perundungan tetap tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosial yang membiarkan ejekan, diskriminasi, pengucilan, dan penghinaan sebagai sesuatu yang dianggap lumrah dan akhirnya membudaya.

Dalam kajian pendidikan, budaya sekolah (school culture) merupakan sekumpulan nilai, norma, kebiasaan, dan praktik yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah. Budaya ini lahir melalui interaksi sehari-hari melalui kebiasaan bagaimana guru menyapa siswa, bagaimana teman menerima perbedaan, bagaimana kepala sekolah merespon konflik, dan bagaimana seluruh warga sekolah memperlakukan setiap individu dengan penuh penghormatan. Budaya sekolah inilah yang kemudian membentuk iklim sekolah (school climate), yaitu bagaimana peserta didik merasakan lingkungan belajarnya.

Ketika siswa merasa aman, dihargai, didengar, dan memperoleh perlakuan yang adil, mereka akan memiliki rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sekolahnya. Sebaliknya, apabila ejekan dianggap sebagai candaan, diskriminasi tidak ditegur, dan pengucilan dibiarkan terjadi, maka peserta didik belajar bahwa perilaku tersebut merupakan bagian yang dapat diterima dalam kehidupan sekolah.

Pada hari-hari awal masuk sekolah itulah norma sosial mulai terbentuk. Peserta didik sedang belajar beradaptasi, bagaimana cara berinteraksi, bagaimana memperlakukan teman, dan bagaimana guru merespons setiap dinamika yang terjadi di kelas. Apa yang mereka alami pada masa-masa awal tersebut akan menjadi acuan mengenai nilai-nilai apa yang dihargai di sekolah. Dengan kata lain, hari pertama sekolah merupakan momentum strategis untuk membangun budaya sekolah yang aman dan inklusif.

Meski demikian, pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), masih sering dipusatkan pada pengenalan fasilitas sekolah, organisasi siswa, tata tertib, maupun kegiatan seremonial lainnya. Padahal, orientasi yang tidak kalah penting adalah membantu peserta didik membangun hubungan sosial yang sehat. MPLS semestinya menjadi ruang pertama bagi siswa untuk belajar menghargai keberagaman, mengembangkan empati, menyelesaikan konflik secara damai, serta memahami bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk dihormati.

Pendekatan tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa langkah sederhana. Sekolah perlu menjadikan budaya antiperundungan sebagai komitmen bersama seluruh warga sekolah. Kegiatan hari pertama dapat diisi dengan aktivitas kolaboratif yang mendorong peserta didik saling mengenal dan bekerja sama, bukan sekadar mengikuti pengarahan satu arah. Guru juga perlu memfasilitasi pembelajaran sosial-emosional (Social-Emotional Learning/SEL) agar siswa belajar mengenali emosi, mengembangkan empati, berkomunikasi secara sehat, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Di sisi lain, mekanisme pelaporan yang aman harus diperkenalkan sejak awal sehingga setiap siswa mengetahui bahwa sekolah hadir untuk melindungi mereka dan tidak ada yang merasa takut untuk melaporkan kejadian perundungan yang dialami atau disaksikannya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan sehingga setiap peserta didik merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.

Dari sekolah yang inklusif itulah, lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, memiliki kepekaan dan empati, serta mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk. Semoga anak-anak kita adalah bagian di dalamnya. Selamat bersekolah! [T]

Tags: Pendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Next Post

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Lailatus Sholihah

Lailatus Sholihah

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jakarta

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co