5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
in Panggung
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Pementasan Lawak bertajuk "CEO yang Menyamar" di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab di layar kaca itu berubah menjadi tontonan penuh gelak tawa ketika diangkat ke atas panggung lawak Bali oleh Sanggar Taman Iswara (STI) Bali. Alih-alih membuat penonton larut dalam kisah cinta yang melodramatis, pertunjukan ini justru menghadirkan humor segar, kritik sosial, dan sentuhan budaya Bali yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pementasan yang menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 itu berlangsung di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (13/7/2026). Sejak menjelang pertunjukan dimulai, kawasan panggung telah dipenuhi penonton dari berbagai kalangan. Sebagian duduk tertib di kursi yang disediakan di depan panggung, sementara lainnya memilih bertengger di anak tangga menuju Panggung Terbuka Ardha Candra, di pagar beton taman, hingga lesehan bersama keluarga dan teman. Suasana yang cair menunjukkan bahwa lawak Bali masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Malam itu STI Bali menampilkan empat pemeran utama dan seorang pemeran pendukung. Tokoh Agung Asep diperankan Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, Kucita Dewi dimainkan Ni Ketut Karunia Dewi Nirmala, Pekak Gaul diperankan I Ketut Gede Narmada, sedangkan preman Mang Ulu dimainkan I Made Agus Santika Yase.

Yang paling mencuri perhatian justru pendekatan artistik yang mereka pilih. Berbeda dengan pertunjukan lawak Bali pada umumnya yang mengandalkan tapel atau rias wajah untuk membangun karakter, kali ini para pemain tampil tanpa topeng maupun riasan khusus. Mereka sepenuhnya mengandalkan ekspresi, gestur, improvisasi, dan kekuatan dialog untuk menghidupkan tokoh. Pilihan tersebut menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada gaya lawak Srimulat yang bertumpu pada permainan karakter dan kelincahan para pemain di atas panggung.

Pertunjukan ini turut disaksikan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, beserta jajaran Pemerintah Provinsi Bali. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap seniman Bali yang terus berupaya melahirkan inovasi dalam seni pertunjukan.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Adaptasi Drama Populer dengan Sentuhan Lokal

Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” berkisah tentang Agung Asep, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga terpandang. Meski hidup dalam keterbatasan, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, pekerja keras, dan rendah hati.

Di rumah itu pula ia bertemu Kucita Dewi, putri sang majikan. Pertemuan mereka tidak langsung menghadirkan kisah cinta. Sebaliknya, hubungan keduanya diawali dengan pertentangan akibat perbedaan status sosial. Kucita Dewi kerap memandang rendah Agung Asep dan memperlakukannya dengan sinis.

Namun seiring waktu, rasa benci perlahan berubah menjadi kasih sayang. Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka menyadari jurang sosial yang memisahkan. Konflik semakin memuncak ketika kakek Kucita Dewi berencana menjodohkan cucunya dengan pria kaya pilihan keluarga.

Di tengah konflik itulah STI Bali memainkan kejutan yang menjadi ciri khas drama Korea dan serial drama China masa kini. Agung Asep ternyata bukan pelayan biasa, melainkan seorang CEO yang sengaja menyamar untuk menguji ketulusan perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya. Plot yang sudah sangat populer di berbagai platform digital itu kemudian diparodikan dengan gaya lawak Bali yang penuh improvisasi dan sindiran.

Adaptasi tersebut terasa segar karena dibalut bahasa Bali, logat khas para pemain, musik pengiring, serta humor lokal yang mudah dipahami penonton. Cerita yang semula identik dengan drama romantis berubah menjadi satire mengenai cara masyarakat memandang kekayaan, jabatan, dan status sosial.

Di balik derai tawa yang terus mengiringi pertunjukan, tersimpan pesan yang sederhana tetapi kuat. STI Bali mengajak penonton merenungkan bahwa penghormatan terhadap seseorang semestinya tidak ditentukan oleh harta maupun kedudukan, melainkan oleh ketulusan, kejujuran, dan karakter yang dimilikinya.

Mengadopsi Gaya Srimulat

Ketua STI Bali, Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, mengatakan konsep yang dihadirkan pada Festival Seni Bali Jani kali ini merupakan upaya menghadirkan warna baru dalam perkembangan lawak Bali.

“Kami dari STI Bali berusaha membawakan lawakan seperti Srimulat. Kami tidak berias, natural saja. Biar modern tanpa ada topeng atau rias wajah,” ujarnya.

Menurut Indra, tampil tanpa tapel justru menjadi tantangan terbesar. Selama puluhan tahun para pemain terbiasa membangun karakter melalui topeng dan riasan, sedangkan kini mereka harus mengandalkan ekspresi wajah serta kualitas akting.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Karena tidak pakai tapel. Kemarin kita sudah terbiasa berpuluh-puluh tahun pakai tapel, sekarang dilepas untuk tampil. Itu sulit sekali,” katanya.

Ia mengungkapkan, keberanian tersebut berawal dari tantangan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, yang mendorong para seniman mengeksplorasi bentuk pertunjukan baru.

“Beliau menantang, ‘Kamu berani enggak? Enggak pakai riasan?’ Ya berani, harus berani. Nah, STI mencoba tampil di Festival Seni Bali Jani ini, semoga bisa menghibur,” tuturnya.

Meski meninggalkan riasan tradisional, identitas setiap tokoh tetap dipertahankan. Pekak Gaul tetap hadir dengan karakter khasnya, Mang Ulu tampil sebagai preman dengan kumis tebal, sedangkan Agung Asep mempertahankan blangkon dan logat Jawa sebagai penanda identitas tokohnya.

Persiapan pertunjukan pun dilakukan secara intensif. Selain mematangkan dialog dan improvisasi, para pemain juga menyesuaikan konsep musik agar selaras dengan semangat modern yang diusung.

“Kami lahir dari tradisi, tidak mudah untuk menjadi modern. Pasti tetap ada rasa tradisinya. Mudah-mudahan malam ini modernnya bisa 100 persen,” ujarnya.

Dalam aspek musikal, STI Bali memadukan gamelan Semarandana dengan instrumen modern seperti drum, keyboard, kendang elektrik, dan suling. Perpaduan tersebut memperkuat nuansa pertunjukan yang tetap berakar pada tradisi, tetapi terbuka terhadap perkembangan zaman.

Indra meyakini keberanian meninggalkan sebagian pakem lama dapat membuka peluang agar seni pertunjukan Bali lebih mudah diterima di tingkat nasional bahkan internasional.

“Ruang untuk berkreativitas secara modern. Mungkin dari Bunda juga supaya kita bisa internasional. Kalau masih pakai riasan, topeng, masih seputar Bali. Tapi kalau kuat tanpa make-up, dengan wajah asli, mungkin saja bisa go nasional,” ucapnya.

Ia menjelaskan, STI Bali yang berdiri sejak 2005 telah melalui berbagai fase perkembangan. Berawal dari pertunjukan tradisional, sanggar ini kemudian bereksperimen dengan pendekatan inovatif hingga kini memasuki fase eksplorasi yang lebih modern.

“Awalnya tradisi, terus berubah ke inovatif, melepas tradisi sedikit. Sekarang berubah lagi sementara, modern, betul-betul modern,” katanya.

Melalui Festival Seni Bali Jani, STI Bali berharap langkah tersebut menjadi awal lahirnya bentuk-bentuk baru lawak Bali yang tetap berpijak pada akar budaya, tetapi mampu menjangkau penonton yang lebih luas.

“Mudah-mudahan bisa berhasil dan berikutnya dikasih job lagi,” pungkasnya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Gubernur Bali Wayan KosterSanggar Taman Iswara (STI) Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Next Post

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co