15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
in Panggung
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Pementasan Lawak bertajuk "CEO yang Menyamar" di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab di layar kaca itu berubah menjadi tontonan penuh gelak tawa ketika diangkat ke atas panggung lawak Bali oleh Sanggar Taman Iswara (STI) Bali. Alih-alih membuat penonton larut dalam kisah cinta yang melodramatis, pertunjukan ini justru menghadirkan humor segar, kritik sosial, dan sentuhan budaya Bali yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pementasan yang menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 itu berlangsung di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (13/7/2026). Sejak menjelang pertunjukan dimulai, kawasan panggung telah dipenuhi penonton dari berbagai kalangan. Sebagian duduk tertib di kursi yang disediakan di depan panggung, sementara lainnya memilih bertengger di anak tangga menuju Panggung Terbuka Ardha Candra, di pagar beton taman, hingga lesehan bersama keluarga dan teman. Suasana yang cair menunjukkan bahwa lawak Bali masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Malam itu STI Bali menampilkan empat pemeran utama dan seorang pemeran pendukung. Tokoh Agung Asep diperankan Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, Kucita Dewi dimainkan Ni Ketut Karunia Dewi Nirmala, Pekak Gaul diperankan I Ketut Gede Narmada, sedangkan preman Mang Ulu dimainkan I Made Agus Santika Yase.

Yang paling mencuri perhatian justru pendekatan artistik yang mereka pilih. Berbeda dengan pertunjukan lawak Bali pada umumnya yang mengandalkan tapel atau rias wajah untuk membangun karakter, kali ini para pemain tampil tanpa topeng maupun riasan khusus. Mereka sepenuhnya mengandalkan ekspresi, gestur, improvisasi, dan kekuatan dialog untuk menghidupkan tokoh. Pilihan tersebut menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada gaya lawak Srimulat yang bertumpu pada permainan karakter dan kelincahan para pemain di atas panggung.

Pertunjukan ini turut disaksikan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, beserta jajaran Pemerintah Provinsi Bali. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap seniman Bali yang terus berupaya melahirkan inovasi dalam seni pertunjukan.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Adaptasi Drama Populer dengan Sentuhan Lokal

Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” berkisah tentang Agung Asep, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga terpandang. Meski hidup dalam keterbatasan, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, pekerja keras, dan rendah hati.

Di rumah itu pula ia bertemu Kucita Dewi, putri sang majikan. Pertemuan mereka tidak langsung menghadirkan kisah cinta. Sebaliknya, hubungan keduanya diawali dengan pertentangan akibat perbedaan status sosial. Kucita Dewi kerap memandang rendah Agung Asep dan memperlakukannya dengan sinis.

Namun seiring waktu, rasa benci perlahan berubah menjadi kasih sayang. Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka menyadari jurang sosial yang memisahkan. Konflik semakin memuncak ketika kakek Kucita Dewi berencana menjodohkan cucunya dengan pria kaya pilihan keluarga.

Di tengah konflik itulah STI Bali memainkan kejutan yang menjadi ciri khas drama Korea dan serial drama China masa kini. Agung Asep ternyata bukan pelayan biasa, melainkan seorang CEO yang sengaja menyamar untuk menguji ketulusan perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya. Plot yang sudah sangat populer di berbagai platform digital itu kemudian diparodikan dengan gaya lawak Bali yang penuh improvisasi dan sindiran.

Adaptasi tersebut terasa segar karena dibalut bahasa Bali, logat khas para pemain, musik pengiring, serta humor lokal yang mudah dipahami penonton. Cerita yang semula identik dengan drama romantis berubah menjadi satire mengenai cara masyarakat memandang kekayaan, jabatan, dan status sosial.

Di balik derai tawa yang terus mengiringi pertunjukan, tersimpan pesan yang sederhana tetapi kuat. STI Bali mengajak penonton merenungkan bahwa penghormatan terhadap seseorang semestinya tidak ditentukan oleh harta maupun kedudukan, melainkan oleh ketulusan, kejujuran, dan karakter yang dimilikinya.

Mengadopsi Gaya Srimulat

Ketua STI Bali, Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, mengatakan konsep yang dihadirkan pada Festival Seni Bali Jani kali ini merupakan upaya menghadirkan warna baru dalam perkembangan lawak Bali.

“Kami dari STI Bali berusaha membawakan lawakan seperti Srimulat. Kami tidak berias, natural saja. Biar modern tanpa ada topeng atau rias wajah,” ujarnya.

Menurut Indra, tampil tanpa tapel justru menjadi tantangan terbesar. Selama puluhan tahun para pemain terbiasa membangun karakter melalui topeng dan riasan, sedangkan kini mereka harus mengandalkan ekspresi wajah serta kualitas akting.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Karena tidak pakai tapel. Kemarin kita sudah terbiasa berpuluh-puluh tahun pakai tapel, sekarang dilepas untuk tampil. Itu sulit sekali,” katanya.

Ia mengungkapkan, keberanian tersebut berawal dari tantangan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, yang mendorong para seniman mengeksplorasi bentuk pertunjukan baru.

“Beliau menantang, ‘Kamu berani enggak? Enggak pakai riasan?’ Ya berani, harus berani. Nah, STI mencoba tampil di Festival Seni Bali Jani ini, semoga bisa menghibur,” tuturnya.

Meski meninggalkan riasan tradisional, identitas setiap tokoh tetap dipertahankan. Pekak Gaul tetap hadir dengan karakter khasnya, Mang Ulu tampil sebagai preman dengan kumis tebal, sedangkan Agung Asep mempertahankan blangkon dan logat Jawa sebagai penanda identitas tokohnya.

Persiapan pertunjukan pun dilakukan secara intensif. Selain mematangkan dialog dan improvisasi, para pemain juga menyesuaikan konsep musik agar selaras dengan semangat modern yang diusung.

“Kami lahir dari tradisi, tidak mudah untuk menjadi modern. Pasti tetap ada rasa tradisinya. Mudah-mudahan malam ini modernnya bisa 100 persen,” ujarnya.

Dalam aspek musikal, STI Bali memadukan gamelan Semarandana dengan instrumen modern seperti drum, keyboard, kendang elektrik, dan suling. Perpaduan tersebut memperkuat nuansa pertunjukan yang tetap berakar pada tradisi, tetapi terbuka terhadap perkembangan zaman.

Indra meyakini keberanian meninggalkan sebagian pakem lama dapat membuka peluang agar seni pertunjukan Bali lebih mudah diterima di tingkat nasional bahkan internasional.

“Ruang untuk berkreativitas secara modern. Mungkin dari Bunda juga supaya kita bisa internasional. Kalau masih pakai riasan, topeng, masih seputar Bali. Tapi kalau kuat tanpa make-up, dengan wajah asli, mungkin saja bisa go nasional,” ucapnya.

Ia menjelaskan, STI Bali yang berdiri sejak 2005 telah melalui berbagai fase perkembangan. Berawal dari pertunjukan tradisional, sanggar ini kemudian bereksperimen dengan pendekatan inovatif hingga kini memasuki fase eksplorasi yang lebih modern.

“Awalnya tradisi, terus berubah ke inovatif, melepas tradisi sedikit. Sekarang berubah lagi sementara, modern, betul-betul modern,” katanya.

Melalui Festival Seni Bali Jani, STI Bali berharap langkah tersebut menjadi awal lahirnya bentuk-bentuk baru lawak Bali yang tetap berpijak pada akar budaya, tetapi mampu menjangkau penonton yang lebih luas.

“Mudah-mudahan bisa berhasil dan berikutnya dikasih job lagi,” pungkasnya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Gubernur Bali Wayan KosterSanggar Taman Iswara (STI) Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co