14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
in Panggung
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

Pementasan Lawak bertajuk "CEO yang Menyamar" di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab di layar kaca itu berubah menjadi tontonan penuh gelak tawa ketika diangkat ke atas panggung lawak Bali oleh Sanggar Taman Iswara (STI) Bali. Alih-alih membuat penonton larut dalam kisah cinta yang melodramatis, pertunjukan ini justru menghadirkan humor segar, kritik sosial, dan sentuhan budaya Bali yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pementasan yang menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 itu berlangsung di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (13/7/2026). Sejak menjelang pertunjukan dimulai, kawasan panggung telah dipenuhi penonton dari berbagai kalangan. Sebagian duduk tertib di kursi yang disediakan di depan panggung, sementara lainnya memilih bertengger di anak tangga menuju Panggung Terbuka Ardha Candra, di pagar beton taman, hingga lesehan bersama keluarga dan teman. Suasana yang cair menunjukkan bahwa lawak Bali masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Malam itu STI Bali menampilkan empat pemeran utama dan seorang pemeran pendukung. Tokoh Agung Asep diperankan Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, Kucita Dewi dimainkan Ni Ketut Karunia Dewi Nirmala, Pekak Gaul diperankan I Ketut Gede Narmada, sedangkan preman Mang Ulu dimainkan I Made Agus Santika Yase.

Yang paling mencuri perhatian justru pendekatan artistik yang mereka pilih. Berbeda dengan pertunjukan lawak Bali pada umumnya yang mengandalkan tapel atau rias wajah untuk membangun karakter, kali ini para pemain tampil tanpa topeng maupun riasan khusus. Mereka sepenuhnya mengandalkan ekspresi, gestur, improvisasi, dan kekuatan dialog untuk menghidupkan tokoh. Pilihan tersebut menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada gaya lawak Srimulat yang bertumpu pada permainan karakter dan kelincahan para pemain di atas panggung.

Pertunjukan ini turut disaksikan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, beserta jajaran Pemerintah Provinsi Bali. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap seniman Bali yang terus berupaya melahirkan inovasi dalam seni pertunjukan.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Adaptasi Drama Populer dengan Sentuhan Lokal

Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” berkisah tentang Agung Asep, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga terpandang. Meski hidup dalam keterbatasan, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, pekerja keras, dan rendah hati.

Di rumah itu pula ia bertemu Kucita Dewi, putri sang majikan. Pertemuan mereka tidak langsung menghadirkan kisah cinta. Sebaliknya, hubungan keduanya diawali dengan pertentangan akibat perbedaan status sosial. Kucita Dewi kerap memandang rendah Agung Asep dan memperlakukannya dengan sinis.

Namun seiring waktu, rasa benci perlahan berubah menjadi kasih sayang. Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka menyadari jurang sosial yang memisahkan. Konflik semakin memuncak ketika kakek Kucita Dewi berencana menjodohkan cucunya dengan pria kaya pilihan keluarga.

Di tengah konflik itulah STI Bali memainkan kejutan yang menjadi ciri khas drama Korea dan serial drama China masa kini. Agung Asep ternyata bukan pelayan biasa, melainkan seorang CEO yang sengaja menyamar untuk menguji ketulusan perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya. Plot yang sudah sangat populer di berbagai platform digital itu kemudian diparodikan dengan gaya lawak Bali yang penuh improvisasi dan sindiran.

Adaptasi tersebut terasa segar karena dibalut bahasa Bali, logat khas para pemain, musik pengiring, serta humor lokal yang mudah dipahami penonton. Cerita yang semula identik dengan drama romantis berubah menjadi satire mengenai cara masyarakat memandang kekayaan, jabatan, dan status sosial.

Di balik derai tawa yang terus mengiringi pertunjukan, tersimpan pesan yang sederhana tetapi kuat. STI Bali mengajak penonton merenungkan bahwa penghormatan terhadap seseorang semestinya tidak ditentukan oleh harta maupun kedudukan, melainkan oleh ketulusan, kejujuran, dan karakter yang dimilikinya.

Mengadopsi Gaya Srimulat

Ketua STI Bali, Ida Bagus Ketut Indra Darmawan, mengatakan konsep yang dihadirkan pada Festival Seni Bali Jani kali ini merupakan upaya menghadirkan warna baru dalam perkembangan lawak Bali.

“Kami dari STI Bali berusaha membawakan lawakan seperti Srimulat. Kami tidak berias, natural saja. Biar modern tanpa ada topeng atau rias wajah,” ujarnya.

Menurut Indra, tampil tanpa tapel justru menjadi tantangan terbesar. Selama puluhan tahun para pemain terbiasa membangun karakter melalui topeng dan riasan, sedangkan kini mereka harus mengandalkan ekspresi wajah serta kualitas akting.

Pementasan Lawak bertajuk “CEO yang Menyamar” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Karena tidak pakai tapel. Kemarin kita sudah terbiasa berpuluh-puluh tahun pakai tapel, sekarang dilepas untuk tampil. Itu sulit sekali,” katanya.

Ia mengungkapkan, keberanian tersebut berawal dari tantangan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, yang mendorong para seniman mengeksplorasi bentuk pertunjukan baru.

“Beliau menantang, ‘Kamu berani enggak? Enggak pakai riasan?’ Ya berani, harus berani. Nah, STI mencoba tampil di Festival Seni Bali Jani ini, semoga bisa menghibur,” tuturnya.

Meski meninggalkan riasan tradisional, identitas setiap tokoh tetap dipertahankan. Pekak Gaul tetap hadir dengan karakter khasnya, Mang Ulu tampil sebagai preman dengan kumis tebal, sedangkan Agung Asep mempertahankan blangkon dan logat Jawa sebagai penanda identitas tokohnya.

Persiapan pertunjukan pun dilakukan secara intensif. Selain mematangkan dialog dan improvisasi, para pemain juga menyesuaikan konsep musik agar selaras dengan semangat modern yang diusung.

“Kami lahir dari tradisi, tidak mudah untuk menjadi modern. Pasti tetap ada rasa tradisinya. Mudah-mudahan malam ini modernnya bisa 100 persen,” ujarnya.

Dalam aspek musikal, STI Bali memadukan gamelan Semarandana dengan instrumen modern seperti drum, keyboard, kendang elektrik, dan suling. Perpaduan tersebut memperkuat nuansa pertunjukan yang tetap berakar pada tradisi, tetapi terbuka terhadap perkembangan zaman.

Indra meyakini keberanian meninggalkan sebagian pakem lama dapat membuka peluang agar seni pertunjukan Bali lebih mudah diterima di tingkat nasional bahkan internasional.

“Ruang untuk berkreativitas secara modern. Mungkin dari Bunda juga supaya kita bisa internasional. Kalau masih pakai riasan, topeng, masih seputar Bali. Tapi kalau kuat tanpa make-up, dengan wajah asli, mungkin saja bisa go nasional,” ucapnya.

Ia menjelaskan, STI Bali yang berdiri sejak 2005 telah melalui berbagai fase perkembangan. Berawal dari pertunjukan tradisional, sanggar ini kemudian bereksperimen dengan pendekatan inovatif hingga kini memasuki fase eksplorasi yang lebih modern.

“Awalnya tradisi, terus berubah ke inovatif, melepas tradisi sedikit. Sekarang berubah lagi sementara, modern, betul-betul modern,” katanya.

Melalui Festival Seni Bali Jani, STI Bali berharap langkah tersebut menjadi awal lahirnya bentuk-bentuk baru lawak Bali yang tetap berpijak pada akar budaya, tetapi mampu menjangkau penonton yang lebih luas.

“Mudah-mudahan bisa berhasil dan berikutnya dikasih job lagi,” pungkasnya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Gubernur Bali Wayan KosterSanggar Taman Iswara (STI) Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Next Post

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails
Next Post
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co