14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
June 24, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu menyebutkan orang kini hidup di era “25 Years of Autocratization”. Jumlah negara otoriter sekarang malah lebih banyak dari negara demokrasi.

Terjadi tarik-menarik antara otokratisasi dan demokrasi yang mengalami tren kemunduruan. Indikatornya, di tahun 2024-2025 jumlah penduduk yang hidup di rezim otoriter berjumlah 72% dari populasi dunia, tertinggi sejak 1978. Jumlah negara demokrasi 88, sedangkan yang otokrasi 91 negara. Negara yang semakin otoriter menjadi 45 negara, bahkan 27 negara yang dulunya demokrasi kini jatuh jadi otoriter.

Bukan tanpa sebab. Otokrasi yang cenderung otoriter ini menempatkan pemerintah dan para penguasa di tingkat pusat maupun daerah melakukan pengawasan yang ketat terhadap berbagai aspek kehidupan rakyatnya. Kebebasan berekspresi, baik di depan umum maupun melalui media, dibatasi dan sarat intimidasi.

Pemilihan umum (pemilu) yang semestinya menjadi indikator sehatnya demokrasi, acapkali sekadar menjadi legitimasi penguasa yang otoriter. Pelayahagunaan sumber daya negara kerap mewarnai setiap pemilu di negara-negara otoriter, entah itu fasilitas negara yang digunakan untuk sarana kampanye maupun mobilisasi aparatur negara.

Bahkan Amerika Serikat yang secara struktural merupakan negara demokrasi liberal kini mengalami krisis dan kemunduran demokrasi. Hal ini ditandai dengan polarisasi politik yang tajam, pengaruh uang dalam politik, keraguan terhadap hasil pemilu, dan kepercayaan publik yang rendah terhadap pemerintah.

Posisi Indonesia

Membaca demokrasi di Indonesia tak jauh dari hasil laporan V-Dem. Demokrasi Indonesia saat ini berada di posisi grey zone, antara maju dan mundur, antara demokrasi dan otokrasi. Indonesia di posisi abu-abu, tidak sepenuhnya demokrasi, namun juga belum otoriter tertutup. Pemimpin hasil pemilu cenderung otoriter dan sensitif terhadap kritik.

Kecenderungan kemunduran demokrasi di dunia turut pula mewarnai Indonesia. Ruang diskusi publik seolah menjadi ruang bisik-bisik yang penuh kehati-hatian. Kritik atas kebijakan rezim dianggap tak nasionalis; bukan hanya membuat rezim berang, tapi para pendukung rezim pun ikut beringas membubarkan diskusi kritis itu.

Bahkan perguruan tinggi yang mestinya berdiri paling depan untuk membangun demokrasi larut dalam ruang abu-abu. Sebuah acara nonton bareng (nobar) pemutaran film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono di kampus Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 7 Mei 2026 dibubarkan pihak rektorat dengan alasan kondusivitas. Hal serupa terjadi di kampus dan daerah lain yang dibubarkan pihak kampus maupun aparat keamanan. Bukankah kampus selayaknya diposisikan diri sebagai pengawal demokrasi dan kebebasan berekspresi?

Pemilu legislatif maupun eksekutif selalu diwarnai kontroversi dan isu kecurangan, politik uang, penggelembungan suara, dan isu lain. Transparansi hasil pemilu juga selalu dipertanyakan. Akhirnya, pemilu bukan lagi menjadi kompetisi yang sehat untuk menghasilkan pemimpin yang demokratis, tetapi instrumen politik untuk memproduksi rezim yang otoriter.

Namun di tengah demokrasi yang abu-abu itu, partisipasi politik secara digital rakyat Indonesia cukup besar. Apalagi Indonesia menjadi salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Demokrasi digital dilakukan rakyat secara langsung lewat dunia maya. Isu-isu seperti transparansi, politik dinasti, lingkungan, dan hak asasi manusia ramai dibicarakan di media sosial.

Generasi Z dan kelas menengah kritis sepertinya sangat meyakini bahwa demokrasi Indonesia memang abu-abu. Ada rutinitas pemilu lima tahunan, tapi kualitasnya diragukan. Pemerintahan bungkusnya demokrasi, tetapi isinya perilaku aparat yang otoriter.

Membaca dinamika politik kekinian, sebenarnya Indonesia masih mampu menjaga demokrasi yang baik. Itu tampak dari pemilu dan pergantian rezim yang damai tanpa pertumpahan darah. Sayangnya, demokrasi menjadi abu-abu ketika politik uang begitu mahal.

 Modal ekonomi untuk menjadi calon anggota legislatif maupun kepala daerah begitu tinggi, sehingga hanya elit dan oligarki yang dapat maju. Bantuan sosial (bansos) kerap menjadi cara untuk mobilisasi massa. Dinasti politik bukan hanya ada di pusat pemerintahan, tetapi juga di daerah. Demokrasi menjadi semacam sirkulasi keluarga, bukan kontestasi gagasan.

Salah satu ciri demokrasi adalah kebebasan rakyat untuk melakukan kritik tanpa rasa takut. Namun demokrasi itu dikunci pelan-pelan hingga menjadi abu-abu. Penguasa secara verbal memang menyatakan siap dikritik, tetapi Undang-Undang ITE memiliki pasal karet untuk membungkam kritik dengan tudingan pencemaran nama baik. Tidak sedikit pula aktivis, jurnalis, dan netizen yang dipolisikan lantaran kritik.

Lembaga yang diharapkan mampu sebagai penyeimbang demokrasi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Dewan Perwakilan Rakyat(DPR) sengaja dilemahkan untuk kepentingan kekuasaan. Kewenangan KPK membuat lembaga antirasuah itu jalan di tempat dengan indeks persepsi korupsi yang stagnan. Hakim MK cacat etik dan terafiliasi politik kekuasaan. Sedangkan kinerja DPR minim partisipasi publik, karena lebih loyal kepada partai ketimbang rakyat.

Menjaga Marwah Demokrasi

Demokrasi Indonesia tak boleh dibiarkan abu-abu. Perlu upaya untuk menjaga marwah demokrasi agar menjadi lebih sehat. Tidak kebablasan liberal, dan dijaga agar tidak terjerumus ke dalam otokrasi yang otoriter.

Elite politik memiliki andil besar dalam menjaga marwah demokrasi sekaligus mengembalikan marwah lembaga penyeimbang. Diperlukan penguatan lembaga-lembaga seperti KPK, MK, dan KY. Ketiga lembaga ini harus terbebas dari afiliasi partai politik. Begitu pula DPR, perlu mereformasi diri. Uji publik setiap produk perundangan wajib dilakukan, sehingga setiap undang-undang yang dihasilkan tidak lagi digugat ke MK setelah disahkan.

Pemilu yang murah, transparan, dan adil menjadi taruhan dalam menjaga marwah demokrasi. Biaya politik saat ini masih mahal bagi orang yang akan melaju ke kursi legislatif dan eksekutif. Netralitas ASN, TNI, dan Polri dalam pemilu perlu terus dipantau. Jika memang terjadi pelanggaran harus ada tindakan tegas. Bansos yang sering menjadi amunisi menjelang pemilu harus dilarang.

Rakyat pun perlu ikut menjaga dan mengawal marwah demokrasi. Media sosial yang akrab di genggaman rakyat perlu dimanfaatkan untuk mengkomunikasikan kedewasaan politik, melawan politisasi SARA, menolak politik uang, dan memilih kandidat yang tidak cacat moral. Rakyat harus naik derajatnya dari konsumen demokrasi ke produsen demokrasi. Jika tidak, maka oligarki akan bertepuk tangan.

Ke depan, demokrasi digital dapat berperan penting bagi generasi Z. Rakyat Indonesia yang diwakili generasi Z dan milenial dapat berperan sebagai “Bawaslu digital” maupun “KPK digital”. Mereka yang berkiprah dalam homeless media harus tetap bersikap kritis untuk menjaga marwah demokrasi. Mereka harus tetap independen tanpa terkooptasi oleh Indonesia New Media Forum (INMF) maupun Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah.

Semua berharap demokrasi di Indonesia tidak mati, meskipun barangkali kini sedang sekarat dan berada di ruang ICU dengan diagnosis otokrasi dan oligarki stadium dua. Namun demokrasi masih bisa diselamatkan bila seluruh rakyat sepakat memasang infus keadilan, oksigen kritik, dan operasi oligarki. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duri Akar dan “Sungga”

Next Post

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co