4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
June 24, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu menyebutkan orang kini hidup di era “25 Years of Autocratization”. Jumlah negara otoriter sekarang malah lebih banyak dari negara demokrasi.

Terjadi tarik-menarik antara otokratisasi dan demokrasi yang mengalami tren kemunduruan. Indikatornya, di tahun 2024-2025 jumlah penduduk yang hidup di rezim otoriter berjumlah 72% dari populasi dunia, tertinggi sejak 1978. Jumlah negara demokrasi 88, sedangkan yang otokrasi 91 negara. Negara yang semakin otoriter menjadi 45 negara, bahkan 27 negara yang dulunya demokrasi kini jatuh jadi otoriter.

Bukan tanpa sebab. Otokrasi yang cenderung otoriter ini menempatkan pemerintah dan para penguasa di tingkat pusat maupun daerah melakukan pengawasan yang ketat terhadap berbagai aspek kehidupan rakyatnya. Kebebasan berekspresi, baik di depan umum maupun melalui media, dibatasi dan sarat intimidasi.

Pemilihan umum (pemilu) yang semestinya menjadi indikator sehatnya demokrasi, acapkali sekadar menjadi legitimasi penguasa yang otoriter. Pelayahagunaan sumber daya negara kerap mewarnai setiap pemilu di negara-negara otoriter, entah itu fasilitas negara yang digunakan untuk sarana kampanye maupun mobilisasi aparatur negara.

Bahkan Amerika Serikat yang secara struktural merupakan negara demokrasi liberal kini mengalami krisis dan kemunduran demokrasi. Hal ini ditandai dengan polarisasi politik yang tajam, pengaruh uang dalam politik, keraguan terhadap hasil pemilu, dan kepercayaan publik yang rendah terhadap pemerintah.

Posisi Indonesia

Membaca demokrasi di Indonesia tak jauh dari hasil laporan V-Dem. Demokrasi Indonesia saat ini berada di posisi grey zone, antara maju dan mundur, antara demokrasi dan otokrasi. Indonesia di posisi abu-abu, tidak sepenuhnya demokrasi, namun juga belum otoriter tertutup. Pemimpin hasil pemilu cenderung otoriter dan sensitif terhadap kritik.

Kecenderungan kemunduran demokrasi di dunia turut pula mewarnai Indonesia. Ruang diskusi publik seolah menjadi ruang bisik-bisik yang penuh kehati-hatian. Kritik atas kebijakan rezim dianggap tak nasionalis; bukan hanya membuat rezim berang, tapi para pendukung rezim pun ikut beringas membubarkan diskusi kritis itu.

Bahkan perguruan tinggi yang mestinya berdiri paling depan untuk membangun demokrasi larut dalam ruang abu-abu. Sebuah acara nonton bareng (nobar) pemutaran film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono di kampus Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 7 Mei 2026 dibubarkan pihak rektorat dengan alasan kondusivitas. Hal serupa terjadi di kampus dan daerah lain yang dibubarkan pihak kampus maupun aparat keamanan. Bukankah kampus selayaknya diposisikan diri sebagai pengawal demokrasi dan kebebasan berekspresi?

Pemilu legislatif maupun eksekutif selalu diwarnai kontroversi dan isu kecurangan, politik uang, penggelembungan suara, dan isu lain. Transparansi hasil pemilu juga selalu dipertanyakan. Akhirnya, pemilu bukan lagi menjadi kompetisi yang sehat untuk menghasilkan pemimpin yang demokratis, tetapi instrumen politik untuk memproduksi rezim yang otoriter.

Namun di tengah demokrasi yang abu-abu itu, partisipasi politik secara digital rakyat Indonesia cukup besar. Apalagi Indonesia menjadi salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Demokrasi digital dilakukan rakyat secara langsung lewat dunia maya. Isu-isu seperti transparansi, politik dinasti, lingkungan, dan hak asasi manusia ramai dibicarakan di media sosial.

Generasi Z dan kelas menengah kritis sepertinya sangat meyakini bahwa demokrasi Indonesia memang abu-abu. Ada rutinitas pemilu lima tahunan, tapi kualitasnya diragukan. Pemerintahan bungkusnya demokrasi, tetapi isinya perilaku aparat yang otoriter.

Membaca dinamika politik kekinian, sebenarnya Indonesia masih mampu menjaga demokrasi yang baik. Itu tampak dari pemilu dan pergantian rezim yang damai tanpa pertumpahan darah. Sayangnya, demokrasi menjadi abu-abu ketika politik uang begitu mahal.

 Modal ekonomi untuk menjadi calon anggota legislatif maupun kepala daerah begitu tinggi, sehingga hanya elit dan oligarki yang dapat maju. Bantuan sosial (bansos) kerap menjadi cara untuk mobilisasi massa. Dinasti politik bukan hanya ada di pusat pemerintahan, tetapi juga di daerah. Demokrasi menjadi semacam sirkulasi keluarga, bukan kontestasi gagasan.

Salah satu ciri demokrasi adalah kebebasan rakyat untuk melakukan kritik tanpa rasa takut. Namun demokrasi itu dikunci pelan-pelan hingga menjadi abu-abu. Penguasa secara verbal memang menyatakan siap dikritik, tetapi Undang-Undang ITE memiliki pasal karet untuk membungkam kritik dengan tudingan pencemaran nama baik. Tidak sedikit pula aktivis, jurnalis, dan netizen yang dipolisikan lantaran kritik.

Lembaga yang diharapkan mampu sebagai penyeimbang demokrasi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Dewan Perwakilan Rakyat(DPR) sengaja dilemahkan untuk kepentingan kekuasaan. Kewenangan KPK membuat lembaga antirasuah itu jalan di tempat dengan indeks persepsi korupsi yang stagnan. Hakim MK cacat etik dan terafiliasi politik kekuasaan. Sedangkan kinerja DPR minim partisipasi publik, karena lebih loyal kepada partai ketimbang rakyat.

Menjaga Marwah Demokrasi

Demokrasi Indonesia tak boleh dibiarkan abu-abu. Perlu upaya untuk menjaga marwah demokrasi agar menjadi lebih sehat. Tidak kebablasan liberal, dan dijaga agar tidak terjerumus ke dalam otokrasi yang otoriter.

Elite politik memiliki andil besar dalam menjaga marwah demokrasi sekaligus mengembalikan marwah lembaga penyeimbang. Diperlukan penguatan lembaga-lembaga seperti KPK, MK, dan KY. Ketiga lembaga ini harus terbebas dari afiliasi partai politik. Begitu pula DPR, perlu mereformasi diri. Uji publik setiap produk perundangan wajib dilakukan, sehingga setiap undang-undang yang dihasilkan tidak lagi digugat ke MK setelah disahkan.

Pemilu yang murah, transparan, dan adil menjadi taruhan dalam menjaga marwah demokrasi. Biaya politik saat ini masih mahal bagi orang yang akan melaju ke kursi legislatif dan eksekutif. Netralitas ASN, TNI, dan Polri dalam pemilu perlu terus dipantau. Jika memang terjadi pelanggaran harus ada tindakan tegas. Bansos yang sering menjadi amunisi menjelang pemilu harus dilarang.

Rakyat pun perlu ikut menjaga dan mengawal marwah demokrasi. Media sosial yang akrab di genggaman rakyat perlu dimanfaatkan untuk mengkomunikasikan kedewasaan politik, melawan politisasi SARA, menolak politik uang, dan memilih kandidat yang tidak cacat moral. Rakyat harus naik derajatnya dari konsumen demokrasi ke produsen demokrasi. Jika tidak, maka oligarki akan bertepuk tangan.

Ke depan, demokrasi digital dapat berperan penting bagi generasi Z. Rakyat Indonesia yang diwakili generasi Z dan milenial dapat berperan sebagai “Bawaslu digital” maupun “KPK digital”. Mereka yang berkiprah dalam homeless media harus tetap bersikap kritis untuk menjaga marwah demokrasi. Mereka harus tetap independen tanpa terkooptasi oleh Indonesia New Media Forum (INMF) maupun Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah.

Semua berharap demokrasi di Indonesia tidak mati, meskipun barangkali kini sedang sekarat dan berada di ruang ICU dengan diagnosis otokrasi dan oligarki stadium dua. Namun demokrasi masih bisa diselamatkan bila seluruh rakyat sepakat memasang infus keadilan, oksigen kritik, dan operasi oligarki. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duri Akar dan “Sungga”

Next Post

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co