12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu isu yang terus muncul dalam praktik adalah mengenai kapan sesungguhnya hak atas harta warisan beralih kepada ahli waris, serta bagaimana hubungan antara peralihan hak secara materiil dengan kewajiban pendaftaran dalam sistem pertanahan nasional.

Di atas kertas, hukum waris perdata telah memberikan jawaban yang tegas. Asas le mort saisit le vif menegaskan bahwa hak waris berpindah secara otomatis sejak pewaris meninggal dunia. Tidak ada ruang kosong, tidak ada jeda, dan tidak ada syarat administratif tambahan untuk melahirkan peralihan tersebut.

Namun dalam praktik sehari-hari, jawaban normatif itu sering kali berhadapan dengan realitas administratif yang berbeda. Balik nama sertipikat di Kantor Pertanahan, yang semestinya hanya berfungsi sebagai pencatatan, kerap dipahami sebagai tahap yang menentukan “lengkap” atau “tidaknya” status kepemilikan ahli waris.

Di titik inilah muncul ketegangan yang tidak sederhana: antara hukum yang melahirkan hak dan administrasi yang mencatatnya, antara kepastian yang bersifat materiil dan kepastian yang dibangun melalui sistem administrasi negara.

Lalu muncul satu pertanyaan yang menggelitik: jika hukum sudah melahirkan hak sejak kematian, mengapa negara masih seolah-olah perlu “mengakui ulang” hak tersebut sebelum ia dapat diperlakukan sepenuhnya dalam praktik?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena ia membuka kembali cara kita membaca hubungan antara hukum waris dan administrasi pertanahan. Dalam hukum perdata, peralihan hak waris sesungguhnya tidak pernah menunggu pengakuan administratif. Hukum bekerja secara otomatis, bahkan sebelum negara sempat melakukan pencatatan.

 dalam hukum waris perdata menegaskan bahwa sejak detik kematian, seluruh hak dan kewajiban yang dapat diwariskan langsung berpindah kepada ahli waris. Negara tidak melahirkan hak itu, negara hanya mengadministrasikannya.

Pasal 833 KUHPerdata menegaskan bahwa ahli waris demi hukum menggantikan kedudukan pewaris atas seluruh harta peninggalan. Dengan demikian, hak tidak “menunggu” sertipikat, dan tidak pula “menunggu” balik nama untuk menjadi sah.

R. Soetojo Prawirohamidjojo menegaskan bahwa peralihan hak waris terjadi secara van rechtswege, tanpa diperlukan tindakan hukum tambahan dari siapa pun (R. Soetojo Prawirohamidjojo,  2000). Hazairin melihat hukum waris sebagai mekanisme yang menjaga kesinambungan struktur keluarga dan struktur hak, sehingga kematian tidak pernah menciptakan kekosongan hukum (Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral, Tinta Mas, 1982, hlm. 18–21). Secara doktrinal, tidak ada keraguan: hak waris lahir otomatis pada saat kematian.

Administrasi Pertanahan dan Praktik Perbankan: Ketika Pencatatan Menjadi Gerbang Hak

Undang-Undang Pokok Agraria dan PP No. 24 Tahun 1997 menempatkan pendaftaran tanah sebagai instrumen kepastian hukum. Sertipikat tidak menciptakan hak, melainkan menjadi alat bukti kuat atas hak yang sudah ada.

Rosnidar Sembiring menegaskan bahwa sistem pendaftaran tanah Indonesia bersifat deklaratif, bukan konstitutif (Rosnidar Sembiring, 2012). Namun dalam praktik, terjadi pergeseran halus. Balik nama waris tidak lagi sekadar pencatatan, tetapi sering diperlakukan sebagai “penyempurnaan status” kepemilikan.

Lebih jauh lagi, dalam praktik perbankan, sertipikat yang belum dibalik nama kerap menjadi hambatan dalam pengakuan kewenangan ahli waris. Dalam banyak kasus, bank menempatkan pembaruan administrasi sebagai syarat utama untuk mengakses tindakan hukum atas aset warisan. Di titik ini, lahir rantai persepsi yang berbahaya secara konseptual: hak dianggap belum sepenuhnya aktif sebelum selesai diverifikasi administrasi.

Secara teori, pendaftaran adalah publikasi, bukan konstitusi hak. Namun dalam praktik, batas ini semakin kabur.Di Kantor Pertanahan, balik nama waris dipahami sebagai “penyempurnaan status”. Di perbankan, sertipikat menjadi gerbang utama legitimasi transaksi. Dua institusi ini tanpa disadari membentuk satu ekosistem yang sama: hak baru dianggap operasional setelah lolos verifikasi administratif berlapis.

Padahal tidak ada norma yang menyatakan bahwa hak waris baru lahir setelah pendaftaran. Yang terjadi justru sebaliknya: administrasi mulai menggeser cara hukum dibaca dalam praktik.

Dari perspektif kenotariatan penulis ikut mengkritisi bahwa, gejala ini menunjukkan satu hal penting: administrasi tidak lagi hanya mencatat hukum, tetapi ikut menentukan standar keabsahan sosial atas hak. Notaris bekerja dalam ruang yang unik. Di satu sisi, hukum waris telah selesai bekerja sejak kematian. Di sisi lain, dalam praktik transaksi, dokumen hukum baru dianggap “lengkap” jika selaras dengan administrasi pertanahan dan standar perbankan.

Terjadi apa yang dapat disebut sebagai pergeseran dari legal finality ke administrative validation. Hukum bersifat final dalam melahirkan hak, tetapi administrasi bersifat berlapis dalam mengakui hak tersebut.

Jika tidak disadari, pergeseran ini berisiko menciptakan ilusi hukum: seolah-olah hak baru ada setelah dicatat. Untuk itu, penulis melalui artikel ini juga merekomendasi beberapa hal penting antara lain : pertama, perlu penegasan kembali bahwa pendaftaran tanah dalam pewarisan bersifat deklaratif, bukan konstitutif. Balik nama tidak boleh bergeser menjadi penentu sah tidaknya hak.

Kedua, BPN perlu menjaga konsistensi fungsi pendaftaran sebagai publikasi, bukan validasi substantif atas status keperdataan ahli waris.

Ketiga, perbankan perlu menyeimbangkan prinsip kehati-hatian dengan pengakuan terhadap status hukum waris yang sudah sah secara materiil. Keempat, notaris dan PPAT perlu terus menegaskan batas antara pembuktian hukum dan pembentukan hak agar tidak terjadi pergeseran fungsi dalam praktik.

Kelima, Balai Harta Peninggalan perlu diperkuat kembali dalam sistem perlindungan harta waris, terutama pada kasus yang tidak segera terselesaikan.

Diakhir tulisan penulis bisa berpendapat bahwa peralihan hak waris pada dasarnya bukan soal administrasi, melainkan soal kontinuitas hukum. Hukum waris bekerja sejak kematian terjadi. Administrasi pertanahan mencatatnya. Perbankan mengelola risikonya. Notaris membuktikannya. Negara seharusnya memastikan bahwa tidak satu pun dari mekanisme itu menggeser logika dasar tersebut.

Ketika batas itu kabur, persoalannya bukan lagi teknis, melainkan konseptual: bagaimana kita memahami kerja hukum itu sendiri. Pada di titik itu, pertanyaan awal kembali relevan: jika hukum sudah melahirkan hak sejak kematian, mengapa dalam praktiknya hak itu masih harus “diakui ulang” sebelum dianggap benar-benar ada? [T]

Tags: ahli warishukum agraria
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

Next Post

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails
Next Post
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  ---Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co