KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026) malam. Dalam agenda Beranda Pustaka yang menjadi bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, sastrawan Oka Rusmini membedah antologi puisi terbarunya berjudul Kembang.
Malam itu, perbincangan tidak hanya mengulas puisi sebagai karya sastra, tetapi juga mengangkat kembali ingatan sejarah yang selama ini kerap terpinggirkan. Diskusi yang dimoderatori Wayan Esa Bhaskara membahas berbagai sisi Kembang, mulai dari pilihan diksi arkais yang magis, penggunaan peribahasa lama, hingga kekuatan rima berakhiran digraf /ng/ yang menjadi ciri khas sejumlah puisinya.
Lebih dari sekadar antologi puisi, Kembang merupakan upaya Oka Rusmini membuka kembali lembar sejarah yang retak, terutama kisah perempuan penyintas tragedi 1965 yang selama puluhan tahun hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan dari narasi sejarah. Melalui karya ini, ia menempatkan pengalaman perempuan sebagai pusat cerita, bukan sekadar pelengkap dalam sejarah yang selama ini lebih banyak dituturkan dari perspektif maskulin.
“Jadi saya katakan, saya tidak lagi lantang atau berteriak-teriak. Saat mewawancarai para penyintas perempuan tragedi 1965, mereka tidak ingin lagi mendengar atau terus dilibatkan dalam isu itu. Mereka hanya ingin hidup tenang,” ujar Oka Rusmini.
Proses penulisan Kembang memakan waktu enam tahun. Selama itu, Oka melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber sekaligus membangun kedekatan emosional dengan kisah para penyintas yang menjadi inspirasi puisinya.

Suasana diskusi berlangsung hangat. Sejumlah penyair senior Bali, seperti Tan Lioe Ie, Wayan Jengki, dan Made Sujaya, turut hadir memperkaya percakapan melalui pertanyaan dan pandangan mereka.
Dalam Kembang, Oka memilih pendekatan yang berbeda dibandingkan karya-karyanya terdahulu. Jika sebelumnya kritik sosial kerap disampaikan secara lantang, kali ini ia memilih “berbisik” melalui puisi. Ia menyusuri dapur, lorong, dan ruang-ruang sunyi sejarah untuk menggali kembali ingatan perempuan yang terkubur oleh kuasa politik, tradisi, dan agama.
Menurutnya, kemarahan dalam Kembang justru hadir dalam bentuk yang lebih sublim dan tenang. Puisi-puisinya merekam bagaimana stigma membuat banyak perempuan penyintas memilih diam karena trauma yang tak pernah benar-benar selesai.
“Melihat ke Bali adalah melihat kesedihan. Luka-luka itu menjadi potret luar biasa yang memperlihatkan bagian sejarah yang hilang,” katanya.
Pendekatan mikrosejarah menjadi salah satu fondasi utama dalam penyusunan Kembang. Oka merangkai fragmen kehidupan sehari-hari dua penyintas, Kaminah dan Kusdalini, menjadi narasi puitis yang intim sekaligus menggugah.
Inspirasi tersebut berawal dari perjumpaannya dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah yang merekam kehidupan Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018), dua perempuan penyintas tragedi 1965 yang menua bersama dalam kesederhanaan di Solo. Dokumenter A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta berbagai literatur akademik turut memperkaya proses kreatifnya.

Oka mengakui, penulisan Kembang menjadi ziarah intelektual sekaligus perjalanan batin yang menguras emosi. Menurutnya, perempuan penyintas mengalami trauma yang berbeda dengan laki-laki. Selain mengalami represi politik, mereka juga menghadapi kekerasan seksual dan penghancuran martabat. Trauma berlapis itu membuat banyak perempuan memilih diam demi melindungi keluarga dan memastikan anak-anak mereka dapat tumbuh tanpa mewarisi stigma sosial.
“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param, soto, tato arit, hingga jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” ungkap sastrawan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967 itu.
Oka Rusmini dikenal sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang konsisten mengangkat isu perempuan, identitas, dan budaya Bali dalam karya-karyanya. Sejumlah bukunya antara lain Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), Jerum (2020), dan Kembang.
Novel Tempurung meraih tiga penghargaan pada 2012, yakni Anugerah Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Anugerah Sastra Tantular dari Balai Bahasa Provinsi Bali, serta The S.E.A. Write Award dari Kerajaan Thailand.
Selain itu, Oka juga menerima berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Kusala Sastra Khatulistiwa (2014), Ikon Berprestasi Indonesia kategori Seni dan Budaya (2017), CSR Indonesia Awards kategori Karsa Budaya Prima (2019), Bali Jani Nugraha (2019), Wikan Award (2023), serta Penghargaan 40 Tahun Berkarya Bidang Kebahasaan dan Kesastraan dari Pemerintah Indonesia (2024). Sementara itu, novel Tarian Bumi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Swedia, Jerman, Korea, dan Italia.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto





















![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-350x250.jpg)









