12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 23, 2026
in Ulas Rupa
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, bersama karyanya Sundari Rajata dalam pameran seni kriya internasional BECOMING, di ARMA Ubud, baru-baru ini.

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang sehari-hari begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Bali dipindahkan ke ruang pamer, lalu diberi kesempatan untuk berbicara dengan bahasa yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar dikenakan, tetapi direnungkan.

Di titik inilah karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi melampaui pengertian busana sebagai produk mode. Ia bergerak ke wilayah yang lebih luas, yakni, kebudayaan.

Dalam kajian antropologi, pakaian tidak pernah dipahami hanya sebagai penutup tubuh. Pakaian merupakan bagian dari sistem sosial yang mengatur bagaimana seseorang hadir di hadapan orang lain. Melalui pakaian, masyarakat membangun berbagai kesepakatan mengenai kepantasan, identitas, bahkan penghormatan terhadap ruang-ruang tertentu.

Karena itu, ketika berbicara mengenai kebaya Bali, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara mengenai tekstil, warna, atau model, tetapi juga mengenai cara masyarakat Bali memahami tubuhnya sendiri.

Tubuh dalam kebudayaan Bali bukanlah tubuh yang berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama nilai-nilai yang mengiringinya. Cara mengenakan kamen, melipat selendang, atau memilih kebaya bukan sekadar soal penampilan. Semua itu merupakan bagian dari proses belajar kebudayaan yang berlangsung sejak seseorang masih kanak-kanak.

Seorang anak perempuan Bali mungkin pertama-tama belajar mengenakan kebaya dari ibunya atau neneknya. Ia belajar bagaimana menyematkan bros, membenarkan lipatan kain, atau merapikan rambut sebelum berangkat ke pura. Pengetahuan itu tidak diperoleh melalui buku pelajaran. Ia diwariskan melalui kebiasaan yang diulang terus-menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di situlah pakaian menjadi lebih dari sekadar benda. Ia berubah menjadi ingatan. Mungkin karena itulah Sundari Rajata terasa akrab sekaligus baru. Sukmadewi tidak menciptakan bentuk yang sepenuhnya asing. Ia tetap mempertahankan kebaya sebagai titik berangkat. Songket tetap menjadi bagian penting dari komposisi. Ornamen Bali masih dapat dikenali. Akan tetapi, semuanya disusun kembali dalam bahasa visual yang berbeda.

Pilihan warna fuchsia menjadi salah satu penanda perubahan itu. Fuchsia bukan warna yang selama ini identik dengan kebaya Bali klasik. Namun, di tangan Sukmadewi, warna tersebut tidak terasa bertentangan dengan tradisi. Sebaliknya, ia menghadirkan energi yang segar. Warna itu memberi kesan tegas, hidup, dan percaya diri. Ia berbicara mengenai perempuan yang tidak lagi hanya dipahami sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai subjek yang aktif membentuk masa depannya.

Pilihan tersebut kemudian dipertemukan dengan kilau perak yang menjadi ruh dari karya ini. Judul Sundari Rajata sendiri menyimpan petunjuk yang menarik. Kata rajata berarti perak. Berbeda dengan emas yang sering diasosiasikan dengan kemegahan, perak menghadirkan kilau yang lebih tenang. Ia tidak menyilaukan, tetapi tetap memantulkan cahaya dengan anggun.

Karakter itulah yang tampaknya diterjemahkan Sukmadewi ke dalam bahasa busana. Detail payet dan prada perak tidak bekerja sebagai hiasan yang mencolok, melainkan sebagai aksen yang menghidupkan seluruh permukaan karya.

Sementara itu, penggunaan organza silk berwarna hitam menghadirkan dimensi yang berbeda lagi. Ekor panjang yang menjulur hingga menyentuh lantai membuat busana ini seolah melampaui ukuran tubuh manusia.

Ketika diperhatikan, perhatian mata tidak berhenti pada kebaya atau songket, tetapi terus mengikuti alur organza hingga ke ujungnya. Komposisi seperti ini menciptakan kesan bahwa tubuh tidak lagi menjadi pusat. Justru ruang di sekeliling tubuh ikut menjadi bagian dari karya.

Di sinilah Sundari Rajata mulai bersinggungan dengan seni instalasi. Busana ini memang masih dapat dikenakan. Namun, ketika ditempatkan di ruang pamer, ia menghadirkan pengalaman visual yang tidak lagi bergantung pada fungsi praktisnya. Penonton diajak menikmati bagaimana cahaya jatuh di atas prada perak, bagaimana organza membentuk gelombang yang ringan, dan bagaimana songket menjadi penyeimbang di tengah komposisi yang kaya akan tekstur.

Sebagai dosen Desain Mode Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi tampaknya memahami bahwa sebuah busana tidak pernah dibangun hanya oleh keterampilan menjahit. Di balik setiap keputusan mengenai warna, bahan, maupun siluet, terdapat cara berpikir yang berangkat dari pembacaan terhadap kebudayaan. Busana menjadi hasil dialog antara pengetahuan akademik, pengalaman artistik, dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.

Membaca Sundari Rajata akhirnya membawa kita pada kesadaran bahwa pakaian bukan hanya sesuatu yang dikenakan tubuh. Pakaian juga mengenakan kebudayaan. Ia menyimpan ingatan, menyampaikan nilai, dan memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat terus membentuk dirinya dari waktu ke waktu. Dari sinilah karya Sukmadewi tidak lagi berbicara semata tentang mode, melainkan tentang perjalanan panjang sebuah kebudayaan yang terus belajar menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Sundari Rajata mengingatkan bahwa sebuah karya seni tidak selalu lahir untuk memberikan jawaban. Ada kalanya ia justru membuka ruang bagi pertanyaan-pertanyaan baru. Bagaimana tradisi sebaiknya dipahami di tengah masyarakat yang terus berubah? Sejauh mana warisan budaya dapat ditafsirkan kembali tanpa kehilangan ruhnya? Dan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara masa lalu dengan masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan bagi Bali hari ini. Pulau ini hidup dari kemampuannya menjaga keseimbangan. Di satu sisi, masyarakat Bali memelihara berbagai tradisi yang diwariskan selama berabad-abad. Di sisi lain, Bali terus berhadapan dengan perubahan yang dibawa oleh pariwisata, teknologi, pendidikan, dan pergaulan global. Perubahan itu tidak mungkin dihindari. Yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa perubahan tersebut tetap bertumpu pada kesadaran budaya yang kuat.

Dalam konteks itulah karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi menemukan tempatnya. Sebagai dosen Desain Mode ISI Bali, Sukmadewi tidak hanya menghasilkan sebuah rancangan busana. Ia memperlihatkan bagaimana proses akademik dapat melahirkan penciptaan artistik yang berpijak pada riset, penguasaan teknik, dan pembacaan terhadap kebudayaan.

Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, bersama karyanya Sundari Rajata dalam pameran seni kriya internasional BECOMING, di ARMA Ubud, baru-baru ini

Sundari Rajata memperlihatkan bahwa desain mode bukan sekadar mengikuti perkembangan selera pasar. Desain juga merupakan cara berpikir, cara membaca tradisi, sekaligus cara menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan.

Hal tersebut tampak dalam keberanian karya ini mempertemukan berbagai material yang berasal dari pengalaman budaya yang berbeda. Tulle, brokat, organza silk, songket, dan prada tidak diperlakukan sebagai elemen yang saling bersaing. Semuanya dirangkai menjadi sebuah komposisi yang memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi tidak harus ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan.

Karya ini juga mengingatkan bahwa kriya memiliki posisi yang semakin penting dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia. Selama ini kriya kerap dipahami sebagai praktik keterampilan tangan. Padahal, di balik setiap teknik selalu terdapat pengetahuan. Di balik setiap material terdapat sejarah. Dan di balik setiap bentuk terdapat cara pandang mengenai dunia.

Sundari Rajata menunjukkan bahwa kriya mampu berbicara mengenai persoalan-persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: tubuh, identitas, perempuan, dan kebudayaan. Ia tidak kehilangan kualitas estetiknya sebagai busana, tetapi pada saat yang sama mampu menghadirkan refleksi mengenai perubahan sosial yang sedang berlangsung di Bali.

Barangkali, di situlah hubungan karya ini dengan tema besar pameran kriya internasional BECOMING: Prakriti-Pustaka-Padma di ARMA Ubud, baru-baru ini, menjadi semakin jelas. Pameran tersebut tidak berbicara mengenai kriya sebagai hasil akhir yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus bergerak. Kata becoming mengandung kesadaran bahwa penciptaan selalu berlangsung dalam perjalanan. Setiap karya adalah bagian dari dialog yang tidak pernah benar-benar berakhir. Demikian pula kebudayaan. Ia tidak pernah selesai dibentuk. Ia terus menjadi.

Sundari Rajata hadir sebagai bagian dari proses itu. Ia tidak berusaha membekukan kebaya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga tidak mencabutnya dari akar budaya Bali. Karya ini memilih jalan yang lebih arif: merawat tradisi dengan cara memberinya ruang untuk tumbuh. Di tangan Sukmadewi, kebaya menjadi medium yang memperlihatkan bahwa kebudayaan hanya akan tetap hidup apabila terus dibaca, dipertanyakan, dan diciptakan kembali oleh setiap generasi.

Pada akhirnya, yang diwariskan oleh sebuah kebaya bukan hanya potongan kain, sulaman brokat, atau kilau payet yang menghiasinya. Yang diwariskan adalah cara memandang dunia. Cara menghormati kerja tangan. Cara memahami hubungan antara manusia dan kebudayaannya. Dan mungkin, yang paling penting, keberanian untuk terus menjahit makna-makna baru tanpa memutus benang yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Di sanalah Sundari Rajata menemukan kekuatannya. Ia tidak hanya menjadi busana yang dipamerkan di sebuah galeri seni. Ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak pernah hidup karena disimpan di dalam lemari atau dipajang di museum. Kebudayaan hidup karena selalu ada tangan-tangan yang bersedia menjahitnya kembali, sehelai demi sehelai, agar tetap bermakna bagi zaman yang terus berubah.

Tidak mengherankan apabila Sundari Rajata dipresentasikan di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Selama ini ARMA tidak hanya dikenal sebagai museum yang menyimpan koleksi seni rupa Bali dan Indonesia, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan berbagai praktik artistik dengan kehidupan masyarakat. Di tempat seperti ini, karya seni tidak berhenti sebagai objek pajangan. Ia menjadi bagian dari percakapan yang terus berlangsung mengenai kebudayaan, identitas, dan perubahan.

Dalam konteks itu, kehadiran BECOMING: Prakriti-Pustaka-Padma terasa penting. Pameran ini memperlihatkan bahwa kriya telah bergerak jauh dari anggapan lama yang menempatkannya hanya sebagai seni kerajinan. Kriya hadir sebagai medium yang mampu mengolah material menjadi gagasan, menghubungkan pengetahuan tradisional dengan praktik artistik kontemporer, sekaligus membuka ruang dialog antarseniman dari berbagai latar budaya.

Kehadiran karya Sundari Rajata di dalam pameran tersebut memperlihatkan bagaimana busana dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas. Ia tidak berdiri sendiri sebagai rancangan mode, melainkan berinteraksi dengan karya-karya kriya lain yang sama-sama berbicara mengenai proses “menjadi”. Di tengah keragaman material dan pendekatan artistik yang ditampilkan dalam pameran, karya Sukmadewi menghadirkan perspektif bahwa tubuh manusia sendiri dapat menjadi ruang tempat kebudayaan terus ditulis ulang.

Barangkali, inilah salah satu kekuatan pameran BECOMING. Ia tidak mengajak pengunjung mencari batas yang tegas antara seni rupa, kriya, dan desain. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa batas-batas tersebut semakin cair. Yang menjadi penting bukan lagi medium yang digunakan, melainkan bagaimana sebuah karya mampu menghadirkan pengalaman estetik sekaligus mengajak publik memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam, pengetahuan, dan kebudayaannya. Di tengah percakapan itu, Sundari Rajata berbicara dengan bahasa yang tenang. Ia tidak menghadirkan bentuk yang spektakuler atau mengejutkan. Kekuatan karya ini justru terletak pada keberhasilannya mengangkat sesuatu yang sangat akrab—kebaya Bali—menjadi medium refleksi mengenai perempuan, identitas, dan masa depan tradisi. Dalam dunia yang semakin dipenuhi citra-citra yang datang dan pergi dengan cepat, karya seperti ini mengingatkan bahwa kedalaman sering lahir dari keberanian melihat kembali hal-hal yang selama ini berada paling dekat dengan kehidupan kita. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: fashionPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Next Post

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails
Next Post
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

Oka Rusmini Bedah "Kembang", Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co