JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang sehari-hari begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Bali dipindahkan ke ruang pamer, lalu diberi kesempatan untuk berbicara dengan bahasa yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar dikenakan, tetapi direnungkan.
Di titik inilah karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi melampaui pengertian busana sebagai produk mode. Ia bergerak ke wilayah yang lebih luas, yakni, kebudayaan.
Dalam kajian antropologi, pakaian tidak pernah dipahami hanya sebagai penutup tubuh. Pakaian merupakan bagian dari sistem sosial yang mengatur bagaimana seseorang hadir di hadapan orang lain. Melalui pakaian, masyarakat membangun berbagai kesepakatan mengenai kepantasan, identitas, bahkan penghormatan terhadap ruang-ruang tertentu.
Karena itu, ketika berbicara mengenai kebaya Bali, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara mengenai tekstil, warna, atau model, tetapi juga mengenai cara masyarakat Bali memahami tubuhnya sendiri.
Tubuh dalam kebudayaan Bali bukanlah tubuh yang berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama nilai-nilai yang mengiringinya. Cara mengenakan kamen, melipat selendang, atau memilih kebaya bukan sekadar soal penampilan. Semua itu merupakan bagian dari proses belajar kebudayaan yang berlangsung sejak seseorang masih kanak-kanak.
Seorang anak perempuan Bali mungkin pertama-tama belajar mengenakan kebaya dari ibunya atau neneknya. Ia belajar bagaimana menyematkan bros, membenarkan lipatan kain, atau merapikan rambut sebelum berangkat ke pura. Pengetahuan itu tidak diperoleh melalui buku pelajaran. Ia diwariskan melalui kebiasaan yang diulang terus-menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di situlah pakaian menjadi lebih dari sekadar benda. Ia berubah menjadi ingatan. Mungkin karena itulah Sundari Rajata terasa akrab sekaligus baru. Sukmadewi tidak menciptakan bentuk yang sepenuhnya asing. Ia tetap mempertahankan kebaya sebagai titik berangkat. Songket tetap menjadi bagian penting dari komposisi. Ornamen Bali masih dapat dikenali. Akan tetapi, semuanya disusun kembali dalam bahasa visual yang berbeda.
Pilihan warna fuchsia menjadi salah satu penanda perubahan itu. Fuchsia bukan warna yang selama ini identik dengan kebaya Bali klasik. Namun, di tangan Sukmadewi, warna tersebut tidak terasa bertentangan dengan tradisi. Sebaliknya, ia menghadirkan energi yang segar. Warna itu memberi kesan tegas, hidup, dan percaya diri. Ia berbicara mengenai perempuan yang tidak lagi hanya dipahami sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai subjek yang aktif membentuk masa depannya.
Pilihan tersebut kemudian dipertemukan dengan kilau perak yang menjadi ruh dari karya ini. Judul Sundari Rajata sendiri menyimpan petunjuk yang menarik. Kata rajata berarti perak. Berbeda dengan emas yang sering diasosiasikan dengan kemegahan, perak menghadirkan kilau yang lebih tenang. Ia tidak menyilaukan, tetapi tetap memantulkan cahaya dengan anggun.
Karakter itulah yang tampaknya diterjemahkan Sukmadewi ke dalam bahasa busana. Detail payet dan prada perak tidak bekerja sebagai hiasan yang mencolok, melainkan sebagai aksen yang menghidupkan seluruh permukaan karya.
Sementara itu, penggunaan organza silk berwarna hitam menghadirkan dimensi yang berbeda lagi. Ekor panjang yang menjulur hingga menyentuh lantai membuat busana ini seolah melampaui ukuran tubuh manusia.
Ketika diperhatikan, perhatian mata tidak berhenti pada kebaya atau songket, tetapi terus mengikuti alur organza hingga ke ujungnya. Komposisi seperti ini menciptakan kesan bahwa tubuh tidak lagi menjadi pusat. Justru ruang di sekeliling tubuh ikut menjadi bagian dari karya.
Di sinilah Sundari Rajata mulai bersinggungan dengan seni instalasi. Busana ini memang masih dapat dikenakan. Namun, ketika ditempatkan di ruang pamer, ia menghadirkan pengalaman visual yang tidak lagi bergantung pada fungsi praktisnya. Penonton diajak menikmati bagaimana cahaya jatuh di atas prada perak, bagaimana organza membentuk gelombang yang ringan, dan bagaimana songket menjadi penyeimbang di tengah komposisi yang kaya akan tekstur.
Sebagai dosen Desain Mode Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi tampaknya memahami bahwa sebuah busana tidak pernah dibangun hanya oleh keterampilan menjahit. Di balik setiap keputusan mengenai warna, bahan, maupun siluet, terdapat cara berpikir yang berangkat dari pembacaan terhadap kebudayaan. Busana menjadi hasil dialog antara pengetahuan akademik, pengalaman artistik, dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.
Membaca Sundari Rajata akhirnya membawa kita pada kesadaran bahwa pakaian bukan hanya sesuatu yang dikenakan tubuh. Pakaian juga mengenakan kebudayaan. Ia menyimpan ingatan, menyampaikan nilai, dan memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat terus membentuk dirinya dari waktu ke waktu. Dari sinilah karya Sukmadewi tidak lagi berbicara semata tentang mode, melainkan tentang perjalanan panjang sebuah kebudayaan yang terus belajar menjadi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Sundari Rajata mengingatkan bahwa sebuah karya seni tidak selalu lahir untuk memberikan jawaban. Ada kalanya ia justru membuka ruang bagi pertanyaan-pertanyaan baru. Bagaimana tradisi sebaiknya dipahami di tengah masyarakat yang terus berubah? Sejauh mana warisan budaya dapat ditafsirkan kembali tanpa kehilangan ruhnya? Dan bagaimana seni dapat menjadi jembatan antara masa lalu dengan masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan bagi Bali hari ini. Pulau ini hidup dari kemampuannya menjaga keseimbangan. Di satu sisi, masyarakat Bali memelihara berbagai tradisi yang diwariskan selama berabad-abad. Di sisi lain, Bali terus berhadapan dengan perubahan yang dibawa oleh pariwisata, teknologi, pendidikan, dan pergaulan global. Perubahan itu tidak mungkin dihindari. Yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa perubahan tersebut tetap bertumpu pada kesadaran budaya yang kuat.
Dalam konteks itulah karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi menemukan tempatnya. Sebagai dosen Desain Mode ISI Bali, Sukmadewi tidak hanya menghasilkan sebuah rancangan busana. Ia memperlihatkan bagaimana proses akademik dapat melahirkan penciptaan artistik yang berpijak pada riset, penguasaan teknik, dan pembacaan terhadap kebudayaan.

Sundari Rajata memperlihatkan bahwa desain mode bukan sekadar mengikuti perkembangan selera pasar. Desain juga merupakan cara berpikir, cara membaca tradisi, sekaligus cara menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan.
Hal tersebut tampak dalam keberanian karya ini mempertemukan berbagai material yang berasal dari pengalaman budaya yang berbeda. Tulle, brokat, organza silk, songket, dan prada tidak diperlakukan sebagai elemen yang saling bersaing. Semuanya dirangkai menjadi sebuah komposisi yang memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi tidak harus ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan.
Karya ini juga mengingatkan bahwa kriya memiliki posisi yang semakin penting dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia. Selama ini kriya kerap dipahami sebagai praktik keterampilan tangan. Padahal, di balik setiap teknik selalu terdapat pengetahuan. Di balik setiap material terdapat sejarah. Dan di balik setiap bentuk terdapat cara pandang mengenai dunia.
Sundari Rajata menunjukkan bahwa kriya mampu berbicara mengenai persoalan-persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: tubuh, identitas, perempuan, dan kebudayaan. Ia tidak kehilangan kualitas estetiknya sebagai busana, tetapi pada saat yang sama mampu menghadirkan refleksi mengenai perubahan sosial yang sedang berlangsung di Bali.
Barangkali, di situlah hubungan karya ini dengan tema besar pameran kriya internasional BECOMING: Prakriti-Pustaka-Padma di ARMA Ubud, baru-baru ini, menjadi semakin jelas. Pameran tersebut tidak berbicara mengenai kriya sebagai hasil akhir yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus bergerak. Kata becoming mengandung kesadaran bahwa penciptaan selalu berlangsung dalam perjalanan. Setiap karya adalah bagian dari dialog yang tidak pernah benar-benar berakhir. Demikian pula kebudayaan. Ia tidak pernah selesai dibentuk. Ia terus menjadi.
Sundari Rajata hadir sebagai bagian dari proses itu. Ia tidak berusaha membekukan kebaya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga tidak mencabutnya dari akar budaya Bali. Karya ini memilih jalan yang lebih arif: merawat tradisi dengan cara memberinya ruang untuk tumbuh. Di tangan Sukmadewi, kebaya menjadi medium yang memperlihatkan bahwa kebudayaan hanya akan tetap hidup apabila terus dibaca, dipertanyakan, dan diciptakan kembali oleh setiap generasi.
Pada akhirnya, yang diwariskan oleh sebuah kebaya bukan hanya potongan kain, sulaman brokat, atau kilau payet yang menghiasinya. Yang diwariskan adalah cara memandang dunia. Cara menghormati kerja tangan. Cara memahami hubungan antara manusia dan kebudayaannya. Dan mungkin, yang paling penting, keberanian untuk terus menjahit makna-makna baru tanpa memutus benang yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Di sanalah Sundari Rajata menemukan kekuatannya. Ia tidak hanya menjadi busana yang dipamerkan di sebuah galeri seni. Ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak pernah hidup karena disimpan di dalam lemari atau dipajang di museum. Kebudayaan hidup karena selalu ada tangan-tangan yang bersedia menjahitnya kembali, sehelai demi sehelai, agar tetap bermakna bagi zaman yang terus berubah.
Tidak mengherankan apabila Sundari Rajata dipresentasikan di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud. Selama ini ARMA tidak hanya dikenal sebagai museum yang menyimpan koleksi seni rupa Bali dan Indonesia, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan berbagai praktik artistik dengan kehidupan masyarakat. Di tempat seperti ini, karya seni tidak berhenti sebagai objek pajangan. Ia menjadi bagian dari percakapan yang terus berlangsung mengenai kebudayaan, identitas, dan perubahan.
Dalam konteks itu, kehadiran BECOMING: Prakriti-Pustaka-Padma terasa penting. Pameran ini memperlihatkan bahwa kriya telah bergerak jauh dari anggapan lama yang menempatkannya hanya sebagai seni kerajinan. Kriya hadir sebagai medium yang mampu mengolah material menjadi gagasan, menghubungkan pengetahuan tradisional dengan praktik artistik kontemporer, sekaligus membuka ruang dialog antarseniman dari berbagai latar budaya.
Kehadiran karya Sundari Rajata di dalam pameran tersebut memperlihatkan bagaimana busana dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas. Ia tidak berdiri sendiri sebagai rancangan mode, melainkan berinteraksi dengan karya-karya kriya lain yang sama-sama berbicara mengenai proses “menjadi”. Di tengah keragaman material dan pendekatan artistik yang ditampilkan dalam pameran, karya Sukmadewi menghadirkan perspektif bahwa tubuh manusia sendiri dapat menjadi ruang tempat kebudayaan terus ditulis ulang.
Barangkali, inilah salah satu kekuatan pameran BECOMING. Ia tidak mengajak pengunjung mencari batas yang tegas antara seni rupa, kriya, dan desain. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa batas-batas tersebut semakin cair. Yang menjadi penting bukan lagi medium yang digunakan, melainkan bagaimana sebuah karya mampu menghadirkan pengalaman estetik sekaligus mengajak publik memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam, pengetahuan, dan kebudayaannya. Di tengah percakapan itu, Sundari Rajata berbicara dengan bahasa yang tenang. Ia tidak menghadirkan bentuk yang spektakuler atau mengejutkan. Kekuatan karya ini justru terletak pada keberhasilannya mengangkat sesuatu yang sangat akrab—kebaya Bali—menjadi medium refleksi mengenai perempuan, identitas, dan masa depan tradisi. Dalam dunia yang semakin dipenuhi citra-citra yang datang dan pergi dengan cepat, karya seperti ini mengingatkan bahwa kedalaman sering lahir dari keberanian melihat kembali hal-hal yang selama ini berada paling dekat dengan kehidupan kita. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-750x375.jpg)
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-360x180.png)



















![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-350x250.jpg)









