DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak sibuk sejak pukul sepuluh pagi. Siswa SMP Bali Public School itu sudah lebih dulu hadir, memastikan setiap detail karyanya tertata sempurna.
Di hadapannya, sebuah tapel ogoh-ogoh bertajuk “Saru Muha” terpajang sebagai representasi imajinasi dan kerja kerasnya. Karya itu bukan sekadar hasil kreativitas sesaat. Ia adalah tapel kelima yang pernah dibuat Bagus ─ sebuah pencapaian yang menunjukkan konsistensi dan ketekunan di usianya yang masih sangat muda.
Hari itu, Minggu, 3 Mei 2026, ia menjadi salah satu dari 49 peserta yang mengikuti Lomba Tapel Ogoh-ogoh se-Bali di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian program tahunan Tabula Rasa yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa berkolaborasi dengan UKM Undagi, UPMI Bali. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga wadah eksplorasi bagi para kreator muda dalam mengembangkan ide dan teknik berkarya.


Sejak pagi, suasana lomba sudah dipenuhi aktivitas para peserta. Mereka sibuk menata tapel masing-masing mulai dari ornamen, rambut, hingga penyusunan sinopsis karya. Penjurian sendiri dijadwalkan berlangsung pada pukul 13.00 WITA, memberi waktu bagi peserta untuk memastikan setiap detail tampil maksimal.
Di tengah dinamika itulah Bagus mengambil bagiannya. Ia mengaku, untuk menyelesaikan satu tapel hingga benar-benar siap dipamerkan, membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Waktu yang mungkin terasa singkat, tetapi di baliknya terdapat proses Panjang, mulai dari mencari ide, mengolah bentuk, hingga merangkai detail yang membentuk karakter.
Sumber inspirasinya pun kebanyakan datang dari internet. Ia kerap menjelajah berbagai referensi visual di media sosial seperti TikTok. Dari sana, ia mengumpulkan ide, lalu mengolahnya menjadi bentuk baru sesuai imajinasinya sendiri.
“Saya biasanya cari ide di internet, dari gambar-gambar atau video. Kadang juga lihat di TikTok atau media sosial lain, lalu saya coba buat versi saya sendiri,” ujarnya.


Menariknya, semua itu ia pelajari secara otodidak. Tanpa bimbingan formal khusus, Bagus membangun kemampuannya dari rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba. Ia juga mendapat dukungan penuh dari orang tuanya, yang memberinya ruang untuk bereksplorasi dan berkembang. Bahkan untuk mengikuti lomba di UPMI Bali, ia datang sendiri menggunakan ojek online. Menandakan betapa mandirinya ia sebagai kreator muda.
Namun, bagi Bagus, lomba bukan sekadar ajang unjuk kemampuan. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang belajar.
Ia mengakui bahwa belum semua lomba yang diikutinya berbuah hasil maksimal. Tetapi justru dari situlah ia merasa mendapatkan banyak hal. Kritik, saran, dan penilaian dari juri menjadi bahan refleksi yang berharga untuk memperbaiki karya-karya berikutnya.
Kala itu, karyanya banyak menerima kritik dan saran dari juri. mulai dari anatomi, detail organ seperti telinga dan mata, serta hiasan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya untuk lebih teliti dan peka terhadap detail dalam setiap karya yang ia buat.


Di tengah suasana lomba yang kompetitif, Bagus tetap menunjukkan antusiasme yang tulus. Ini adalah kali kelimanya mengikuti lomba tapel ogoh-ogoh, dan setiap pengalaman selalu ia maknai sebagai proses bertumbuh.
“Saya senang bisa ikut lomba ini. Setiap mengikuti lomba, selalu ada masukan dari juri yang sangat berarti. Dari situ saya belajar banyak dan bisa terus memperbaiki karya saya ke depannya,” tuturnya.
Di sisi lain, kehadiran Bagus juga menunjukkan bagaimana generasi muda kini menemukan jalannya sendiri dalam berkarya. Mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada metode belajar konvensional. Internet menjadi ruang kelas terbuka, tempat ide dan teknik bisa dipelajari secara bebas.
Namun, yang membedakan adalah bagaimana ide-ide itu kemudian diolah menjadi karya personal. Dalam tapel “Saru Muha” miliknya, terlihat bagaimana referensi yang ia temukan tidak sekadar ditiru, melainkan diinterpretasikan ulang dengan sentuhan khasnya.
Di tengah geliat Lomba Tapel Ogoh-ogoh “Baksya Ing Aruna” di UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra menjadi potret kecil dari semangat besar yang sedang tumbuh. Bahwa kreativitas bisa lahir dari mana saja, berkembang melalui proses, dan menemukan bentuknya melalui keberanian untuk mencoba. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























