22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 11, 2026
in Esai
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angin bergerak perlahan. Tidak ada klakson, rapat kantor, atau tenggat pekerjaan yang mengejar. Di akun Instagramnya, ia menulis satu kalimat pendek;“Bali heals me.” Bali menyembuhkanku.

Kalimat seperti itu sudah sangat sering kita baca. Bahkan mungkin terlalu sering. Bali telah lama dipromosikan sebagai tempat untuk menemukan kembali diri sendiri. Sebuah pulau yang menawarkan ketenangan di tengah dunia yang bising. Tempat orang-orang datang untuk beristirahat dari kehidupan yang terasa terlalu cepat. Dalam imajinasi global, Bali adalah ruang jeda. Di sini orang belajar bernapas kembali. Belajar menerima hidup, mencintai diri sendiri, dan memperlambat langkah.

Industri pariwisata menyebutnya healing. Kata itu kini ada di mana-mana. Di baliho, brosur perjalanan, video promosi, hingga unggahan media sosial. Retreat dijual. Meditasi dipasarkan. Yoga menjadi industri bernilai miliaran rupiah. Bahkan ketenangan pun kini memiliki harga. Namun setiap kali membaca kalimat “Bali heals me”, saya selalu teringat pada orang-orang yang hidup di balik kalimat itu.

Mereka bukan wisatawan. Mereka adalah pelayan hotel yang berdiri berjam-jam dengan senyum yang harus selalu terpasang. Sopir yang mengantar tamu dari bandara hingga larut malam. Pekerja restoran yang tetap ramah meski tubuhnya sudah lelah. Atau petugas kebersihan yang memastikan vila-vila mewah tetap tampak sempurna di mata para tamu.

Mereka adalah orang-orang yang membuat pengalaman healing itu mungkin terjadi. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang justru kesulitan menemukan ruang untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Di sinilah paradoks Bali mulai terlihat. Pulau yang dijual sebagai tempat untuk beristirahat ternyata bisa menjadi tempat yang melelahkan bagi sebagian orang yang tinggal di dalamnya. Ketika pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, Bali mengalami guncangan yang luar biasa. Hotel-hotel kosong. Bandara sepi. Restoran tutup. Vila-vila kehilangan tamu. Saat itu banyak orang mulai menyadari betapa rapuhnya struktur ekonomi Bali.

Terlalu banyak telur disimpan dalam satu keranjang bernama pariwisata. Ketika keranjang itu jatuh, hampir semua orang ikut merasakan dampaknya. Namun setelah pandemi berlalu, Bali kembali bangkit. Wisatawan datang lagi. Hotel kembali penuh. Jalan-jalan kembali macet. Ekonomi bergerak. Uang berputar.

Sepintas semuanya terlihat baik-baik saja. Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan, yakni, apakah kebangkitan pariwisata juga berarti kebangkitan kualitas hidup masyarakatnya? Belum tentu. Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan psikologis. Banyak orang memiliki pekerjaan, tetapi tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Banyak orang memperoleh penghasilan, tetapi tetap hidup dalam kecemasan karena masa depan terasa tidak pasti.

Mereka bekerja di sektor yang sangat bergantung pada kondisi global. Krisis ekonomi dunia bisa berdampak langsung pada jumlah wisatawan yang datang. Konflik internasional bisa memengaruhi tingkat hunian hotel. Bahkan sebuah unggahan viral di media sosial bisa mengubah arus kunjungan dalam hitungan hari.

Ketidakpastian seperti itu menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat. Kita mungkin melihat senyum para pekerja pariwisata. Namun kita tidak selalu melihat kecemasan yang mereka bawa pulang ke rumah.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater dari Bali Mental Health Clinic. Dalam percakapan itu, ia mengingatkan bahwa burnout pada pekerja pariwisata tidak selalu berasal dari pekerjaan fisik yang berat.

Sering kali sumber masalahnya justru lebih halus, lebih senyap, dan sulit dikenali. Musim ramai wisatawan berarti tuntutan yang lebih tinggi. Jam kerja yang lebih panjang. Target yang lebih banyak. Harapan pelanggan yang semakin besar.

Di saat yang sama, pekerja dituntut untuk tetap ramah, tetap tersenyum, dan tetap terlihat baik-baik saja. Padahal manusia bukan mesin. Tubuh mungkin bisa beradaptasi terhadap ritme kerja yang berat. Namun pikiran memiliki batas yang berbeda.

Ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan yang memadai, kelelahan mental perlahan mulai tumbuh. Awalnya hanya merasa letih, kemudian sulit tidur, lalu mudah marah. Setelah itu kehilangan semangat. Dan pada titik tertentu, seseorang bisa merasa kosong meski hidupnya tampak berjalan normal.

Masalahnya, kelelahan mental sering kali tidak terlihat. Tidak seperti luka fisik. Tidak ada perban, darah, atau tulang yang patah. Karena itu banyak orang mengabaikannya. adahal dampaknya bisa sangat nyata. Ada ironi lain yang muncul di Bali modern. Ironi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya, yakni media sosial. Setiap hari masyarakat Bali tidak hanya bekerja melayani wisatawan. Mereka juga menyaksikan kehidupan para wisatawan itu melalui layar ponsel.

Mereka melihat foto-foto makan malam romantis di tepi pantai,  pasangan yang berbulan madu, orang-orang yang tampak bebas dari segala masalah, dan kebahagiaan yang dikurasi dengan sangat rapi. Dan seperti yang kita tahu, media sosial tidak pernah menampilkan kehidupan secara utuh. Ia hanya menampilkan bagian terbaik, etalase, dan bukan gudang. BIa adalah panggung, bukan ruang belakang.

Namun otak manusia sering lupa akan hal itu. Ketika terus-menerus melihat orang lain tampak lebih bahagia, lebih kaya, lebih santai, atau lebih berhasil, muncul kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri.

Perbandingan sosial semacam ini dapat menciptakan tekanan psikologis yang tidak kecil. Dr. Rai menyebutnya sebagai salah satu faktor yang semakin sering muncul dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Orang yang sebenarnya sudah bekerja keras bisa merasa dirinya tidak cukup. Atau, orang telah berjuang luar biasa bisa merasa tertinggal. Bukan karena hidupnya buruk, melainkan karena ia terus membandingkan dirinya dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.

Di sinilah media sosial menjadi semacam cermin yang menipu. Ia tidak memantulkan kenyataan, melainkan ilusi. Saya teringat pada satu pengamatan yang pernah ditulis oleh banyak pengamat budaya Bali.

Pulau ini sejak lama memiliki konsep keseimbangan. Dalam berbagai ajaran dan praktik kehidupan masyarakat Bali, keseimbangan selalu menjadi kata kunci. Filsosofi ini dikenal dengan Tri Hita Karana; hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam.

Semuanya harus dijaga agar tetap harmonis. Namun modernitas membawa ritme yang berbeda. Pariwisata mendorong percepatan, investasi mendorong pertumbuhan, dan persaingan mendorong produktivitas.

Sementara manusia tetap manusia. Ia masih membutuhkan waktu untuk beristirahat. Masih membutuhkan ruang untuk berkumpul dengan keluarga, dan masih membutuhkan kesempatan untuk menikmati hidup tanpa harus terus menghasilkan sesuatu.

Sayangnya, logika pertumbuhan ekonomi sering kali tidak memberi banyak ruang bagi kebutuhan-kebutuhan semacam itu. Yang dihitung biasanya adalah jumlah kunjungan wisatawa, jumlah kamar hotel yang terisi, jumlah nvestasi yang masuk, dan jumlah transaksi yang terjadi.

Semua itu memang penting. Tetapi ada hal lain yang juga perlu dihitung, seperti kualitas tidur pekerja, kesehatan mental masyarakat, dan waktu yang dimiliki orang tua untuk anak-anaknya. Juga, tingkat stres yang dialami generasi muda, dan perasaan aman terhadap masa depan.

Hal-hal seperti ini memang sulit dimasukkan ke dalam tabel statistik. Namun justru di situlah letak kualitas hidup yang sesungguhnya. Kita sering mendengar slogan tentang pariwisata berkelanjutan. Istilah itu terdengar bagus, bahkan sangat bagus.

Namun sering kali pembahasannya hanya berhenti pada lingkungan; tentang sampah, air, emisi karbon, atau konservasi alam. Semua itu tentu penting. Tetapi keberlanjutan tidak hanya soal alam, tetapi juga soal manusia.

Tidak ada pariwisata yang benar-benar berkelanjutan jika orang-orang yang menjalankannya terus hidup dalam kelelahan. Dan, tidak ada destinasi yang sehat jika masyarakat lokalnya mengalami tekanan yang berkepanjangan. Karena pada akhirnya yang menjaga Bali bukanlah pantai, sawah, atau gunung.

Yang menjaga Bali adalah manusia; mereka yang bangun pagi untuk bekerja, membersihkan kamar hotel, memasak makanan, mengantar wisatawan. Mereka yang menjaga pura, merawat tradisi, dan mereka yang memastikan pulau ini tetap hidup.

Jika manusia-manusia itu kelelahan, maka Bali juga sedang kelelahan. Karena itu mungkin sudah waktunya kita memikirkan ulang arti healing yang selama ini kita rayakan. Healing sering dipahami sebagai aktivitas individual, seperti pergi berlibur, menginap di vila, mengikuti retret, atau melalukan meditasi.

Semua itu tidak salah. Tetapi healing juga memiliki dimensi sosial. Seseorang sulit merasa pulih jika hidup dalam sistem yang terus-menerus menguras energinya. Seseorang sulit merasa tenang jika masa depannya selalu diliputi ketidakpastian. Atau, sulit merasa damai jika setiap hari harus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Maka pembicaraan tentang healing seharusnya tidak berhenti pada individu. Ia juga harus menyentuh kebijakan publik, perlindungan tenaga kerja, akses terhadap layanan kesehatan mental. Menyentuh diversifikasi ekonomi agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu sektor, selain upaya menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi.

Karena pada akhirnya kesehatan mental bukan semata urusan pribadi. Ia juga merupakan persoalan sosial. Bali akan tetap indah. Matahari akan tetap terbenam di ufuk barat. Ombak akan tetap datang ke pantai. Dawah-sawah akan tetap menghijau ketika musim tiba. Wisatawan akan terus berdatangan untuk mencari ketenangan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun keindahan sering kali membuat kita lupa melihat apa yang tersembunyi di belakangnya. Kita terpukau oleh pemandangan, tetapi lupa pada manusia yang menjaga pemandangan itu tetap ada. Kita memuji ketenangan Bali, tetapi jarang bertanya apakah masyarakatnya juga merasakan ketenangan yang sama.

Barangkali inilah pertanyaan yang paling penting; siapa sebenarnya yang berhak mendapatkan healing? Apakah hanya mereka yang datang sementara? Ataukah juga mereka yang setiap hari menjaga pulau ini tetap hidup?

Saya kira jawabannya jelas. Healing tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh wisatawan, ia juga harus menjadi hak warga lokal. Hak pekerja hotel yang pulang larut malam, pelayan restoran yang berdiri sepanjang hari, sopir yang menempuh perjalanan berjam-jam. Hak masyarakat Bali yang selama ini menjadi tulang punggung industri pariwisata. Sebab jika Bali ingin benar-benar menjadi pulau yang menyembuhkan, maka yang pertama-tama harus disembuhkan bukan hanya para tamunya, melainkan juga dirinya sendiri. Dan mungkin, justru dari situlah masa depan Bali yang lebih sehat bisa dimulai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealing
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

Next Post

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co