21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 11, 2026
in Esai
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angin bergerak perlahan. Tidak ada klakson, rapat kantor, atau tenggat pekerjaan yang mengejar. Di akun Instagramnya, ia menulis satu kalimat pendek;“Bali heals me.” Bali menyembuhkanku.

Kalimat seperti itu sudah sangat sering kita baca. Bahkan mungkin terlalu sering. Bali telah lama dipromosikan sebagai tempat untuk menemukan kembali diri sendiri. Sebuah pulau yang menawarkan ketenangan di tengah dunia yang bising. Tempat orang-orang datang untuk beristirahat dari kehidupan yang terasa terlalu cepat. Dalam imajinasi global, Bali adalah ruang jeda. Di sini orang belajar bernapas kembali. Belajar menerima hidup, mencintai diri sendiri, dan memperlambat langkah.

Industri pariwisata menyebutnya healing. Kata itu kini ada di mana-mana. Di baliho, brosur perjalanan, video promosi, hingga unggahan media sosial. Retreat dijual. Meditasi dipasarkan. Yoga menjadi industri bernilai miliaran rupiah. Bahkan ketenangan pun kini memiliki harga. Namun setiap kali membaca kalimat “Bali heals me”, saya selalu teringat pada orang-orang yang hidup di balik kalimat itu.

Mereka bukan wisatawan. Mereka adalah pelayan hotel yang berdiri berjam-jam dengan senyum yang harus selalu terpasang. Sopir yang mengantar tamu dari bandara hingga larut malam. Pekerja restoran yang tetap ramah meski tubuhnya sudah lelah. Atau petugas kebersihan yang memastikan vila-vila mewah tetap tampak sempurna di mata para tamu.

Mereka adalah orang-orang yang membuat pengalaman healing itu mungkin terjadi. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang justru kesulitan menemukan ruang untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Di sinilah paradoks Bali mulai terlihat. Pulau yang dijual sebagai tempat untuk beristirahat ternyata bisa menjadi tempat yang melelahkan bagi sebagian orang yang tinggal di dalamnya. Ketika pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, Bali mengalami guncangan yang luar biasa. Hotel-hotel kosong. Bandara sepi. Restoran tutup. Vila-vila kehilangan tamu. Saat itu banyak orang mulai menyadari betapa rapuhnya struktur ekonomi Bali.

Terlalu banyak telur disimpan dalam satu keranjang bernama pariwisata. Ketika keranjang itu jatuh, hampir semua orang ikut merasakan dampaknya. Namun setelah pandemi berlalu, Bali kembali bangkit. Wisatawan datang lagi. Hotel kembali penuh. Jalan-jalan kembali macet. Ekonomi bergerak. Uang berputar.

Sepintas semuanya terlihat baik-baik saja. Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan, yakni, apakah kebangkitan pariwisata juga berarti kebangkitan kualitas hidup masyarakatnya? Belum tentu. Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan psikologis. Banyak orang memiliki pekerjaan, tetapi tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Banyak orang memperoleh penghasilan, tetapi tetap hidup dalam kecemasan karena masa depan terasa tidak pasti.

Mereka bekerja di sektor yang sangat bergantung pada kondisi global. Krisis ekonomi dunia bisa berdampak langsung pada jumlah wisatawan yang datang. Konflik internasional bisa memengaruhi tingkat hunian hotel. Bahkan sebuah unggahan viral di media sosial bisa mengubah arus kunjungan dalam hitungan hari.

Ketidakpastian seperti itu menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat. Kita mungkin melihat senyum para pekerja pariwisata. Namun kita tidak selalu melihat kecemasan yang mereka bawa pulang ke rumah.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater dari Bali Mental Health Clinic. Dalam percakapan itu, ia mengingatkan bahwa burnout pada pekerja pariwisata tidak selalu berasal dari pekerjaan fisik yang berat.

Sering kali sumber masalahnya justru lebih halus, lebih senyap, dan sulit dikenali. Musim ramai wisatawan berarti tuntutan yang lebih tinggi. Jam kerja yang lebih panjang. Target yang lebih banyak. Harapan pelanggan yang semakin besar.

Di saat yang sama, pekerja dituntut untuk tetap ramah, tetap tersenyum, dan tetap terlihat baik-baik saja. Padahal manusia bukan mesin. Tubuh mungkin bisa beradaptasi terhadap ritme kerja yang berat. Namun pikiran memiliki batas yang berbeda.

Ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan yang memadai, kelelahan mental perlahan mulai tumbuh. Awalnya hanya merasa letih, kemudian sulit tidur, lalu mudah marah. Setelah itu kehilangan semangat. Dan pada titik tertentu, seseorang bisa merasa kosong meski hidupnya tampak berjalan normal.

Masalahnya, kelelahan mental sering kali tidak terlihat. Tidak seperti luka fisik. Tidak ada perban, darah, atau tulang yang patah. Karena itu banyak orang mengabaikannya. adahal dampaknya bisa sangat nyata. Ada ironi lain yang muncul di Bali modern. Ironi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya, yakni media sosial. Setiap hari masyarakat Bali tidak hanya bekerja melayani wisatawan. Mereka juga menyaksikan kehidupan para wisatawan itu melalui layar ponsel.

Mereka melihat foto-foto makan malam romantis di tepi pantai,  pasangan yang berbulan madu, orang-orang yang tampak bebas dari segala masalah, dan kebahagiaan yang dikurasi dengan sangat rapi. Dan seperti yang kita tahu, media sosial tidak pernah menampilkan kehidupan secara utuh. Ia hanya menampilkan bagian terbaik, etalase, dan bukan gudang. BIa adalah panggung, bukan ruang belakang.

Namun otak manusia sering lupa akan hal itu. Ketika terus-menerus melihat orang lain tampak lebih bahagia, lebih kaya, lebih santai, atau lebih berhasil, muncul kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri.

Perbandingan sosial semacam ini dapat menciptakan tekanan psikologis yang tidak kecil. Dr. Rai menyebutnya sebagai salah satu faktor yang semakin sering muncul dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Orang yang sebenarnya sudah bekerja keras bisa merasa dirinya tidak cukup. Atau, orang telah berjuang luar biasa bisa merasa tertinggal. Bukan karena hidupnya buruk, melainkan karena ia terus membandingkan dirinya dengan potongan-potongan kehidupan orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.

Di sinilah media sosial menjadi semacam cermin yang menipu. Ia tidak memantulkan kenyataan, melainkan ilusi. Saya teringat pada satu pengamatan yang pernah ditulis oleh banyak pengamat budaya Bali.

Pulau ini sejak lama memiliki konsep keseimbangan. Dalam berbagai ajaran dan praktik kehidupan masyarakat Bali, keseimbangan selalu menjadi kata kunci. Filsosofi ini dikenal dengan Tri Hita Karana; hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam.

Semuanya harus dijaga agar tetap harmonis. Namun modernitas membawa ritme yang berbeda. Pariwisata mendorong percepatan, investasi mendorong pertumbuhan, dan persaingan mendorong produktivitas.

Sementara manusia tetap manusia. Ia masih membutuhkan waktu untuk beristirahat. Masih membutuhkan ruang untuk berkumpul dengan keluarga, dan masih membutuhkan kesempatan untuk menikmati hidup tanpa harus terus menghasilkan sesuatu.

Sayangnya, logika pertumbuhan ekonomi sering kali tidak memberi banyak ruang bagi kebutuhan-kebutuhan semacam itu. Yang dihitung biasanya adalah jumlah kunjungan wisatawa, jumlah kamar hotel yang terisi, jumlah nvestasi yang masuk, dan jumlah transaksi yang terjadi.

Semua itu memang penting. Tetapi ada hal lain yang juga perlu dihitung, seperti kualitas tidur pekerja, kesehatan mental masyarakat, dan waktu yang dimiliki orang tua untuk anak-anaknya. Juga, tingkat stres yang dialami generasi muda, dan perasaan aman terhadap masa depan.

Hal-hal seperti ini memang sulit dimasukkan ke dalam tabel statistik. Namun justru di situlah letak kualitas hidup yang sesungguhnya. Kita sering mendengar slogan tentang pariwisata berkelanjutan. Istilah itu terdengar bagus, bahkan sangat bagus.

Namun sering kali pembahasannya hanya berhenti pada lingkungan; tentang sampah, air, emisi karbon, atau konservasi alam. Semua itu tentu penting. Tetapi keberlanjutan tidak hanya soal alam, tetapi juga soal manusia.

Tidak ada pariwisata yang benar-benar berkelanjutan jika orang-orang yang menjalankannya terus hidup dalam kelelahan. Dan, tidak ada destinasi yang sehat jika masyarakat lokalnya mengalami tekanan yang berkepanjangan. Karena pada akhirnya yang menjaga Bali bukanlah pantai, sawah, atau gunung.

Yang menjaga Bali adalah manusia; mereka yang bangun pagi untuk bekerja, membersihkan kamar hotel, memasak makanan, mengantar wisatawan. Mereka yang menjaga pura, merawat tradisi, dan mereka yang memastikan pulau ini tetap hidup.

Jika manusia-manusia itu kelelahan, maka Bali juga sedang kelelahan. Karena itu mungkin sudah waktunya kita memikirkan ulang arti healing yang selama ini kita rayakan. Healing sering dipahami sebagai aktivitas individual, seperti pergi berlibur, menginap di vila, mengikuti retret, atau melalukan meditasi.

Semua itu tidak salah. Tetapi healing juga memiliki dimensi sosial. Seseorang sulit merasa pulih jika hidup dalam sistem yang terus-menerus menguras energinya. Seseorang sulit merasa tenang jika masa depannya selalu diliputi ketidakpastian. Atau, sulit merasa damai jika setiap hari harus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Maka pembicaraan tentang healing seharusnya tidak berhenti pada individu. Ia juga harus menyentuh kebijakan publik, perlindungan tenaga kerja, akses terhadap layanan kesehatan mental. Menyentuh diversifikasi ekonomi agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu sektor, selain upaya menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi.

Karena pada akhirnya kesehatan mental bukan semata urusan pribadi. Ia juga merupakan persoalan sosial. Bali akan tetap indah. Matahari akan tetap terbenam di ufuk barat. Ombak akan tetap datang ke pantai. Dawah-sawah akan tetap menghijau ketika musim tiba. Wisatawan akan terus berdatangan untuk mencari ketenangan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun keindahan sering kali membuat kita lupa melihat apa yang tersembunyi di belakangnya. Kita terpukau oleh pemandangan, tetapi lupa pada manusia yang menjaga pemandangan itu tetap ada. Kita memuji ketenangan Bali, tetapi jarang bertanya apakah masyarakatnya juga merasakan ketenangan yang sama.

Barangkali inilah pertanyaan yang paling penting; siapa sebenarnya yang berhak mendapatkan healing? Apakah hanya mereka yang datang sementara? Ataukah juga mereka yang setiap hari menjaga pulau ini tetap hidup?

Saya kira jawabannya jelas. Healing tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh wisatawan, ia juga harus menjadi hak warga lokal. Hak pekerja hotel yang pulang larut malam, pelayan restoran yang berdiri sepanjang hari, sopir yang menempuh perjalanan berjam-jam. Hak masyarakat Bali yang selama ini menjadi tulang punggung industri pariwisata. Sebab jika Bali ingin benar-benar menjadi pulau yang menyembuhkan, maka yang pertama-tama harus disembuhkan bukan hanya para tamunya, melainkan juga dirinya sendiri. Dan mungkin, justru dari situlah masa depan Bali yang lebih sehat bisa dimulai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealing
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

Next Post

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co