20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
in Persona
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Citra Sasmita | Foto: Istimewa

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni rupa tahunan  Sovereign Art Prize 2026 yang diselenggarakan oleh Sovereign Art Foundation di Hong  Kong. Ini tentu menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional.

Kompetisi ini merupakan ajang tahunan yang mempertemukan seniman-seniman  terbaik dari kawasan Asia Pasifik, yang dipilih melalui serangkaian proses seleksi yang  ketat dan melibatkan tokoh-tokoh dari institusi berpengaruh di kawasan tersebut. 

Pada ajang itu Citra Sasmita menampilkan karya rupa berjudul “Poetry of The Fountain” dan karya ituberhasil menarik perhatian juri di antara 30 seniman lain yang  masuk dalam daftar finalis.

 “Poetry of The Fountain”, sebuah lukisan dengan teknik tradisional Kamasan yang dipadukan dengan ragam tekstil  dari budaya Bali. Karya ini memperlihatkan bahwa kekayaan tradisi yang kita warisi dari  leluhur bukanlah objek mati yang berhenti di masa lalu dan hanya dirayakan semata mata sebagai nostalgia, melainkan menjadi semangat dan ideologi yang dapat terus  berkembang dan kontekstual seiring zaman.

Dalam karya ini, Citra memberi sorotan  pada seni lukis tradisi yang selama ini dianggap tertinggal, yang justru menjadi sarana  yang kuat untuk menyampaikan sikap kritisnya terhadap warisan budaya poskolonial yang feodalistik dan patriarkis.

Citra Sasmita, “Poetry of The Fountain”, acrylic on kamasan canvas, textile, beads, 110x70cm, 2025

Karya Citra ini menunjukkan bahwa feminisme tidak hadir sebagai perlawanan kaum perempuan semata mata terhadap eksistensi kaum laki-laki, melainkan sebuah kritik terhadap sistem sosial  yang melanggengkan relasi kuasa antargender tersebut. Bagi Citra, tradisi seni lukis  kamasan menjadi contoh konkret bagaimana akses pengetahuan selama ini memiliki  batasan gender. Tidak mudah bagi perempuan dari Desa Kamasan untuk memperoleh  akses pengetahuan tentang seni lukis Kamasan secara utuh. Mereka cenderung terbatas  hanya menguasai aspek teknis tanpa basis pengetahuan naratif yang kompleks.  Meskipun dalam sejarahnya muncul beberapa tokoh revolusioner yang menerabas  batasan ini, seperti Made Suciarmi dan Mangku Muriati, yang berhasil secara utuh  menjadi pelukis Kamasan. 

Bagi Citra, seni lukis tradisi memiliki relevansi dalam linimasa zaman. Di Bali, seni  menjadi bagian dari ritual dan praktik spiritual yang berjalan selama ratusan bahkan  ribuan tahun. Seni tidak berhenti pada keterampilan teknis maupun dekorasi ruangan  semata, tetapi menjadi sarana untuk mewariskan pengetahuan turun-temurun sekaligus  sebagai laku spiritual bagi para penekunnya.

Dalam konteks inilah, seni menjadi titik  tumpu dari laju kebudayaan dan peradaban secara esensial, bukan hanya menjadi  identitas tempelan yang dirayakan secara semu.

Sejak kisaran tahun 2016, nama-nama seniman Indonesia hampir selalu ada dalam  deretan finalis. Termasuk tahun ini, Citra Sasmita tidak sendirian mengisi daftar panjang  itu. Ia berbagi tempat bersama Sinta Tantra dan Filippo Sciascia, dua seniman lain yang  juga berbasis di Bali.

Pada beberapa gelaran sebelumnya, dua seniman Indonesia  pernah mendapat penghargaan untuk kategori “pilihan pengunjung” (Public vote),  namun untuk Penghargaan Utama baru bisa diraih tahun ini oleh Citra Sasmita setelah  melalui proses penjurian yang panjang oleh para juri yang terdiri dari Ozge Ersoy  (executive director Asia Art Archive), Man Ray Hsu (kurator independent dan kritikus  seni), David Elliot (penulis, kurator dan direktur museum), dan Arpita Akhanda (seniman  pemenang Sovereign Art Prize 2025). 

Proses penjurian dimulai dari penjaringan nama-nama seniman yang diajukan oleh para  nominator yang terdiri dari tokoh-tokoh seni dan institusi berpengaruh di Kawasan Asia Pasifik. Tahun ini Citra berhasil masuk daftar panjang atas rekomendasi dari Yvone Wang,  Sakda Chantanavanich, Lisa Botos, Tanya Michele Amador dan Sofia Coombe. Di antara  finalis lainnya, ia menjadi salah satu seniman dengan nominator terbanyak.

Tahap  penjurian selanjutnya dilakukan secara langsung di Hong Kong, setelah terpilih nama nama para finalis dan karyanya dipamerkan untuk publik di sana. Terdapat tiga kategori  pemenang yang dipilih oleh juri dan penyelenggara, yaitu Pemenang Utama (Grand Prize) yang diraih oleh Citra Sasmita, Vogue Hong Kong Women’s Art Prize yang diraih oleh  Nomin Zeezegma dari Mongolia, dan Public Vote Prize yang diraih oleh Joey Cobcobo dari  Filipina.

Karya Citra Sasmita (kiri) dalam ajang Sovereign Art Prize 2026

Sovereign Art Prize tidak hanya berhenti sebagai ajang kompetisi seni rupa, tetapi juga  menjadi gerakan kemanusiaan dan filantropi melalui seni. Sejak didirikan tahun 2003  oleh Howard Bilton, Sovereign Art Foundation telah menggalang dana yang disalurkan  untuk bantuan kemanusiaan bagi masyarakat marhaen melalui mekanisme lelang karya karya para finalis yang terpilih.

Penyaluran dana kemanusiaan ini dilakukan melalui  beberapa program seperti Make It Better Programme yang berfokus pada pendampingan  dan pelatihan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Hong Kong dan  international community arts programmes yang bekerja sama dengan berbagai  organisasi non-profit di berbagai negara Asia untuk proyek perlindungan hak anak,  pencegahan perdagangan anak, serta penyediaan fasilitas pendidikan bagi perempuan dan anak jalanan. Beberapa program yang telah berjalan antara lain di Hong Kong, Nepal  dan Kamboja.

Bagi Citra, penghargaan yang diraihnya saat ini bukan hanya sebuah pencapaian atas  kerja kerasnya selama ini, tetapi lebih dari itu, ini menjadi kesempatan untuk semakin  menyebarluaskan gagasan dan ideologi yang dibawa melalui praktik dan kekaryaannya  selama ini. Ia berharap semakin banyak ruang bagi para perupa perempuan di kancah  seni rupa dunia. Saat ini seni rupa Indonesia tengah memasuki masa gemilang. Tidak sedikit seniman Indonesia yang memperoleh pengakuan di tingkat global, menjadi penanda bahwa kebudayaan Indonesia memiliki relevansi di tengah situasi dunia yang  terus berubah. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana/Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupaseni rupa BaliSovereign Art Prize
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

Next Post

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co