1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
in Persona
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Citra Sasmita | Foto: Istimewa

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni rupa tahunan  Sovereign Art Prize 2026 yang diselenggarakan oleh Sovereign Art Foundation di Hong  Kong. Ini tentu menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional.

Kompetisi ini merupakan ajang tahunan yang mempertemukan seniman-seniman  terbaik dari kawasan Asia Pasifik, yang dipilih melalui serangkaian proses seleksi yang  ketat dan melibatkan tokoh-tokoh dari institusi berpengaruh di kawasan tersebut. 

Pada ajang itu Citra Sasmita menampilkan karya rupa berjudul “Poetry of The Fountain” dan karya ituberhasil menarik perhatian juri di antara 30 seniman lain yang  masuk dalam daftar finalis.

 “Poetry of The Fountain”, sebuah lukisan dengan teknik tradisional Kamasan yang dipadukan dengan ragam tekstil  dari budaya Bali. Karya ini memperlihatkan bahwa kekayaan tradisi yang kita warisi dari  leluhur bukanlah objek mati yang berhenti di masa lalu dan hanya dirayakan semata mata sebagai nostalgia, melainkan menjadi semangat dan ideologi yang dapat terus  berkembang dan kontekstual seiring zaman.

Dalam karya ini, Citra memberi sorotan  pada seni lukis tradisi yang selama ini dianggap tertinggal, yang justru menjadi sarana  yang kuat untuk menyampaikan sikap kritisnya terhadap warisan budaya poskolonial yang feodalistik dan patriarkis.

Citra Sasmita, “Poetry of The Fountain”, acrylic on kamasan canvas, textile, beads, 110x70cm, 2025

Karya Citra ini menunjukkan bahwa feminisme tidak hadir sebagai perlawanan kaum perempuan semata mata terhadap eksistensi kaum laki-laki, melainkan sebuah kritik terhadap sistem sosial  yang melanggengkan relasi kuasa antargender tersebut. Bagi Citra, tradisi seni lukis  kamasan menjadi contoh konkret bagaimana akses pengetahuan selama ini memiliki  batasan gender. Tidak mudah bagi perempuan dari Desa Kamasan untuk memperoleh  akses pengetahuan tentang seni lukis Kamasan secara utuh. Mereka cenderung terbatas  hanya menguasai aspek teknis tanpa basis pengetahuan naratif yang kompleks.  Meskipun dalam sejarahnya muncul beberapa tokoh revolusioner yang menerabas  batasan ini, seperti Made Suciarmi dan Mangku Muriati, yang berhasil secara utuh  menjadi pelukis Kamasan. 

Bagi Citra, seni lukis tradisi memiliki relevansi dalam linimasa zaman. Di Bali, seni  menjadi bagian dari ritual dan praktik spiritual yang berjalan selama ratusan bahkan  ribuan tahun. Seni tidak berhenti pada keterampilan teknis maupun dekorasi ruangan  semata, tetapi menjadi sarana untuk mewariskan pengetahuan turun-temurun sekaligus  sebagai laku spiritual bagi para penekunnya.

Dalam konteks inilah, seni menjadi titik  tumpu dari laju kebudayaan dan peradaban secara esensial, bukan hanya menjadi  identitas tempelan yang dirayakan secara semu.

Sejak kisaran tahun 2016, nama-nama seniman Indonesia hampir selalu ada dalam  deretan finalis. Termasuk tahun ini, Citra Sasmita tidak sendirian mengisi daftar panjang  itu. Ia berbagi tempat bersama Sinta Tantra dan Filippo Sciascia, dua seniman lain yang  juga berbasis di Bali.

Pada beberapa gelaran sebelumnya, dua seniman Indonesia  pernah mendapat penghargaan untuk kategori “pilihan pengunjung” (Public vote),  namun untuk Penghargaan Utama baru bisa diraih tahun ini oleh Citra Sasmita setelah  melalui proses penjurian yang panjang oleh para juri yang terdiri dari Ozge Ersoy  (executive director Asia Art Archive), Man Ray Hsu (kurator independent dan kritikus  seni), David Elliot (penulis, kurator dan direktur museum), dan Arpita Akhanda (seniman  pemenang Sovereign Art Prize 2025). 

Proses penjurian dimulai dari penjaringan nama-nama seniman yang diajukan oleh para  nominator yang terdiri dari tokoh-tokoh seni dan institusi berpengaruh di Kawasan Asia Pasifik. Tahun ini Citra berhasil masuk daftar panjang atas rekomendasi dari Yvone Wang,  Sakda Chantanavanich, Lisa Botos, Tanya Michele Amador dan Sofia Coombe. Di antara  finalis lainnya, ia menjadi salah satu seniman dengan nominator terbanyak.

Tahap  penjurian selanjutnya dilakukan secara langsung di Hong Kong, setelah terpilih nama nama para finalis dan karyanya dipamerkan untuk publik di sana. Terdapat tiga kategori  pemenang yang dipilih oleh juri dan penyelenggara, yaitu Pemenang Utama (Grand Prize) yang diraih oleh Citra Sasmita, Vogue Hong Kong Women’s Art Prize yang diraih oleh  Nomin Zeezegma dari Mongolia, dan Public Vote Prize yang diraih oleh Joey Cobcobo dari  Filipina.

Karya Citra Sasmita (kiri) dalam ajang Sovereign Art Prize 2026

Sovereign Art Prize tidak hanya berhenti sebagai ajang kompetisi seni rupa, tetapi juga  menjadi gerakan kemanusiaan dan filantropi melalui seni. Sejak didirikan tahun 2003  oleh Howard Bilton, Sovereign Art Foundation telah menggalang dana yang disalurkan  untuk bantuan kemanusiaan bagi masyarakat marhaen melalui mekanisme lelang karya karya para finalis yang terpilih.

Penyaluran dana kemanusiaan ini dilakukan melalui  beberapa program seperti Make It Better Programme yang berfokus pada pendampingan  dan pelatihan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Hong Kong dan  international community arts programmes yang bekerja sama dengan berbagai  organisasi non-profit di berbagai negara Asia untuk proyek perlindungan hak anak,  pencegahan perdagangan anak, serta penyediaan fasilitas pendidikan bagi perempuan dan anak jalanan. Beberapa program yang telah berjalan antara lain di Hong Kong, Nepal  dan Kamboja.

Bagi Citra, penghargaan yang diraihnya saat ini bukan hanya sebuah pencapaian atas  kerja kerasnya selama ini, tetapi lebih dari itu, ini menjadi kesempatan untuk semakin  menyebarluaskan gagasan dan ideologi yang dibawa melalui praktik dan kekaryaannya  selama ini. Ia berharap semakin banyak ruang bagi para perupa perempuan di kancah  seni rupa dunia. Saat ini seni rupa Indonesia tengah memasuki masa gemilang. Tidak sedikit seniman Indonesia yang memperoleh pengakuan di tingkat global, menjadi penanda bahwa kebudayaan Indonesia memiliki relevansi di tengah situasi dunia yang  terus berubah. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana/Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupaseni rupa BaliSovereign Art Prize
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

Next Post

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co