2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
in Khas
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam arti plesir yang dalam Bahasa Bali disebut malali bukanlah akar budaya orang Bali. Kalau toh mereka berwisata belakangan ini berkat taraf hidup mulai meningkat maka pertama-tama yang dituju adalah Pura. Begitu pula Paket Wisata  para pelajar, travel agence yang memfasilitasi sudah dipastikan ada sesi sembahyang bersama. Bila paketnya Jawa Timur misalnya, Pura yang dituju Alas Purwo, Pura Arjono, Semeru bergantung pada rute perjalanan. Plesiran orang Bali berbasis religius. Itu pula sebabnya mereka selalu membawa busana adat ke Pura dan banten sesajen ketika mereka berwisata. Sebutan paling tepat untuk wisata orang Bali adalah wisata religius.

Begitu pula halnya, ketika rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan studi Tiru ke Suku Baduy Luar yang berlangsung selama 3 hari, Kamis Umanis Gumbreg hingga Sabtu Pon Gumbreg 14–16 Mei 2026, pertama yang dituju adalah Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Ketika rombongan sampai di tempat parkir Jaba Pura, mereka bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan sarana persembahyangan. Yang agak ribet adalah ibu-ibu yang perlu mapayas agar lebih jegeg dan glowing. Apalagi ibu-ibu zaman now, yang sedikit-sedikit mapayas ke salon. Namun, tidak demikian dengan Ibu-ibu yang ikut rombongan ini. Mereka terbiasa  ngayah di desa adat masing-masing. Umumnya mereka memiliki keterampilan budaya Bali yang memadai : Majejahitan, matetuasan, mareringgitan mengunakan janur atau daun rontal.

Para panglingsir desa adat terutama kaum Ibu yang tergabung dalam Paiketan Krama Istri (PAKIS)  merasa surprise tampak dari wajah-wajahnya yang sumringah. Melepaskan diri sesaat dari rutinitas makrama dengan ritual ikutannya yang nyaris tiada henti. Maka selama perjalanan pun curhatan, pengalaman, dan tradisi terkuak dalam obrolan dengan segala suka dukanya. Lebih-lebih Travel Agence dengan tour leader-nya lihai menghibur dan begitu masuk bus pertama-tama memohon maaf karena Bus tidak tepat waktu. Tempat duduk pun kurang.  Akibatnya, peserta yang rerata lansia awal pun pakrimik. Namun, pakrimik-nya segera terobati dengan kata pertama ; Maaf oleh Edo Narayana yang menjadi tour leader.

Dalam perjalanan dari Bandara Soekarno – Hatta menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun sekitar 1 jam, Edo mampu mencairkan suasana menjadi penuh kehangatan dan persaudaraan. Ia pun mengedukasi rombongan dengan memperkenalkan nama-nama tempat di Jakarta. Secara toponomi, setidaknya 144 nama tempat di Jakarta  berasal dari nama tanaman seperti Kebon Jerok, Kebon Sirih, Duren Sawit, Kelapa Gading, Menteng, Gandaria, dan lain-lain. Nama-nama tempat itu setara dengan nama-nama tempat di Bali. Di Bali ada Abian Base, Abian Kapas, Abian Semal, Abian Tuung.

Begitulah orang (Bali) berwisata, di bus pun belajar bila punya kesadaran untuk belajar dengan siapa saja. Apalagi sampai di Pura, belajarnya lebih banyak dan seharusnya lebih mendalam dengan kesadaran dan kesabaran. Sampai di Pura menjelang sandikala, membuat persembahyangan terasa khusuk dengan kidung Warga Sari sebagai pengiring. Walaupun deru kendaraan ngeriung, persembahyangan berlangsung khusuk dipimpin pinandita istri. Denting gentanya merasuk sukma dan ucapan mantranya pun dengan artikulasi bergema jelas. Tidak terkontaminasi oleh deru deras suara kendaraan lalu lalang yang meraung-raung di sekitarnya.  Mirip suasana Melasti di Bali, walaupun turis lalu lalang berbikini di sekitarnya, Melasti tetap lancar dan khusuk saat persembahyangan.

Para panglingsir Desa Adat yang nunas ica di Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur selesai sembahyang juga mendapatkan wawasan baru tentang keberadaan Pura dan Umat Hindu di Jakarta. I Made Sudarta Ketua Umum Suka Duka Hindhu Dharma (SDHK) Jakarta Raya mengatakan ada 15 Pura yang umum digunakan tempat persembahyangan Umat Hindu di Jakarta. “Namun, umumnya yang terkenal adalah Pura Aditya Jaya Rawamangun. Setiap umat Hindu Bali yang datang ke Jakarta belum lengkap tanpa nangkil ngaturang sembah bakti di Pura ini”, kata I Made Sudarta seorang pensiunan berasal dari Mengwi Badung sudah lama menetap di Jakarta.

Masuk akal pernyataan I Made Sudarta jika mencermati sejarah berdirinya Pura Aditya Jaya Rawamangun di Jalan Daksinapati Raya Nomor 10 Rawamangun Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pura ini adalah Pura tertua di Jakarta diresmikan pada 1972 melalui perjuangan panjang komunitas Hindu Jakarta sejak 1955. Jadi, perlu waktu 17 tahun perjuangan tokoh Umat Hindu Jakarta untuk mewujudkan tempat suci yang representatif. Menariknya, di Pura ini terdapat fasilitas yang cukup memadai antara lain seperangkat gamelan, balai pertemuan, wantilan pura, dan kantin pura yang tertata bersih dan rapi dengan aneka makanan Bali termasuk babi guling. Tidak salah bila rombongan Panglingsir Desa Adat se- Badung makan malamnya di wantilan Pura di Madya Mandala Pura.

Makanannya memenuhi cita rasa lidah orang Bali pada umumnya. Selain itu, pilihan makan di Jaba Pura juga memberdayakan krama pangemong secara ekonomi. Memutar cakra yadnya berdampak ekonomi sejalan dengan Gerakan Swadesi dari Mahatma Gandhi yang diartikulasikan oleh Bung Karno dengan semangat berdikari.

Daya tarik lain, Pura Aditya Jaya Rawamangun juga termasuk Pura Ramah Anak. Di sini juga ada Sekolah Minggu untuk memfasilitasi anak-anak Hindu Jakarta yang tidak mendapatkan Pelajaran Agama bila ia sekolah di Yayasan Sekolah berbasis Agama. Pernyataan itu saya peroleh di ruang makan ketika bertemu orang tua siswa yang anaknya perempuan duduk di Kelas I SD. Ia diikutkan dalam Sekolah Minggu sekaligus belajar Menari Bali.

Sebagaimana diakui Bandesa Madya Majelis Desa Adat  (MDA) Kabupaten Badung, Ida Bagus Gde Widnyana “Membayangkan saja sulit. Apalagi melaksanakan tugas besar dengan tingkat kompleksitas persoalan Jakarta, mengempon 15 Pura pastilah tidak mudah”. Sehubungan dengan hal itu, mewakili rombongan Ketua MDA Kabupaten Badung menyerahkan dana punia kepada Ketua Umum SDHD, I Made Sudarta.

Menurut I Made Sudarta, Pujawali di Aditya Jaya Rawamangun jatuh pada Saraswati, Saniscara Umanis Watugunung. Pembiayaan berasal dari urunan krama dan sponsor umumnya dari BUMN. Umumnya umat Hindu yang asal-muasalnya dari Bali membawa budayanya di tempat tinggalnya yang baru. Begitu juga orang Bali di Jakarta. Seni budaya Bali hidup di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Kearifan lokal Bali, desa, kala, patra  membuat orang Hindu Bali lentur di mana saja. Mengunjungi komunitas Hindu di luar Bali adalah cara orang Bali berwisata, from healing to eling. [T]

Tags: desa adatHindu Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Next Post

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co