22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Emi Suy by Emi Suy
June 1, 2026
in Khas
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

  • Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri.

KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar pada manusia hari ini bukan terletak pada cara berpikirnya, melainkan pada cara manusia merasakan hidup. Pada masa lalu, orang rela menunggu surat datang selama berhari-hari dengan penuh kesabaran. Pada masa sekarang, pesan yang tidak dibalas dalam beberapa menit saja dapat membuat seseorang merasa diabaikan. Dahulu orang dapat duduk di teras rumah sambil menikmati hujan turun hingga sore hari. Kini hujan sering kali hanya menjadi latar bagi video pendek di media sosial. Kehidupan bergerak begitu cepat, bahkan terlalu cepat, hingga manusia hampir tidak memiliki ruang untuk benar-benar diam bersama dirinya sendiri.

Kehidupan modern membuat manusia sulit berjarak dari keramaian. Sedikit merasa sepi, tangan segera meraih telepon genggam. Sedikit merasa bosan, layar ponsel langsung dipenuhi aktivitas menggulir media sosial. Sedikit merasa sedih, hiburan instan segera dicari melalui berbagai aplikasi digital. Padahal banyak hal dalam hidup yang justru membutuhkan keheningan. Kesedihan memerlukan ruang untuk dipahami. Kegelisahan membutuhkan waktu untuk direnungkan. Kehidupan batin manusia tidak selalu dapat diselesaikan melalui layar yang menyala sepanjang hari.

Tulisan panjang tentang deepfake AI membuat saya berpikir panjang, bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang semakin sulit membedakan antara kenyataan dan penampilan. Hari ini seseorang dapat terlihat bahagia setiap saat di media sosial, padahal hidupnya sedang berantakan. Seseorang dapat tampak romantis melalui unggahan kata-kata indah, tetapi lupa mendengarkan orang yang dicintainya. Banyak orang terlihat peduli pada berbagai isu kemanusiaan, tetapi bersikap kasar kepada keluarganya sendiri. Kepalsuan pada masa kini tidak hanya hadir dalam video atau suara hasil rekayasa AI, melainkan juga dalam cara manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain.

Pemikiran itu semakin menguat setelah saya mengikuti kuliah umum yang disampaikan Bang Riri Satria bertajuk “16 Dampak Deepfake AI serta 12 Agenda Strategis pada Kesenian, Sosial, Budaya, dan Kemanusiaan.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kini mampu meniru wajah, suara, tulisan, bahkan gaya berpikir manusia dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Teknologi yang semula diciptakan untuk membantu kehidupan manusia perlahan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang keaslian, identitas, dan kepercayaan.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Saya memiliki keyakinan bahwa Bang Riri, sebagai pakar dan praktisi di bidang teknologi digital sekaligus penggiat sastra, terutama puisi, memahami bahwa perkembangan deepfake AI bukan sekadar persoalan teknologi. Dampaknya mulai menyentuh wilayah yang selama ini dianggap sangat manusiawi, yakni kreativitas dan pengalaman batin. Perkembangan tersebut membuat manusia semakin sulit membedakan mana puisi yang lahir dari pengalaman hidup dan mana yang dihasilkan mesin. Hal yang sama dapat terjadi pada cerpen, novel, bahkan esai. Batas antara karya manusia dan karya mesin perlahan menjadi kabur.

Pertanyaan besar pun muncul. Apakah dunia sastra membutuhkan landasan baru untuk menghadapi perubahan ini? Apakah definisi kreativitas akan ikut berubah? Ataukah manusia memang sedang berada pada sebuah masa peralihan yang kelak melahirkan cara pandang baru terhadap seni dan penciptaan?

Media sosial perlahan mengubah kehidupan menjadi panggung panjang yang tidak pernah selesai. Semua orang ingin tampil menarik, ingin diperhatikan, dan ingin dianggap berarti. Keinginan tersebut sering kali membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi sederhana. Banyak orang sibuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang lelah menghadapi hidup. Keramaian digital akhirnya melahirkan kesepian yang tidak selalu tampak dari luar.

Di tengah situasi seperti itu, kecerdasan buatan hadir dengan kemampuan yang luar biasa. Mesin dapat membuat gambar, menulis puisi, menciptakan musik, bahkan meniru suara manusia dengan sangat meyakinkan. Perkembangan teknologi tersebut justru membuat saya semakin sadar bahwa hal terpenting dari manusia bukanlah kecerdasannya, melainkan hatinya. Kehidupan manusia tidak hanya dibangun oleh logika, tetapi juga oleh pengalaman batin yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Ada seorang ibu yang tetap memasak meskipun dirinya sedang sedih. Ada seorang ayah yang diam-diam menahan lelah demi memastikan anaknya tetap dapat bersekolah. Ada seseorang yang tertawa bersama teman-temannya, tetapi menangis sendirian pada malam hari. Pengalaman-pengalaman seperti itu tidak hidup di dalam mesin. AI mungkin mampu menulis kalimat yang terdengar menyedihkan, tetapi ia tidak pernah benar-benar kehilangan seseorang yang dicintainya. AI dapat membuat puisi tentang kerinduan, tetapi ia tidak pernah menunggu kabar hingga dini hari dengan hati yang gelisah. AI bisa menulis tentang hujan, tetapi ia tidak pernah berjalan di bawah hujan sambil menahan tangis dalam perjalanan pulang.

Perbedaan itulah yang membuat manusia tetap istimewa. Keunggulan manusia bukan semata-mata karena manusia lebih pintar daripada teknologi, melainkan karena manusia memiliki pengalaman hidup, kenangan, luka, harapan, dan pergulatan batin.

Permasalahan sebenarnya bukan terletak pada teknologi. Sebagaimana perjalanan manusia dari kentongan menuju telegram, dari wartel menuju telepon genggam, hingga dari mesin ketik menuju AI, teknologi selalu hadir sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Persoalan muncul ketika manusia mulai kehilangan dirinya sendiri di tengah berbagai kemudahan tersebut.

Banyak orang hari ini terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu. Perbedaan pendapat sedikit saja dapat memicu kemarahan. Potongan video berdurasi beberapa detik sering kali dianggap cukup untuk menilai keseluruhan persoalan. Padahal video dapat dipotong, suara dapat ditiru, dan foto dapat dimanipulasi. Kemarahan publik bahkan sering kali digerakkan oleh algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar media sosial.

Dunia hari ini terasa terlalu ramai. Suara, pendapat, dan kegaduhan datang tanpa henti dari berbagai arah. Keadaan tersebut membuat manusia semakin jarang berpikir secara tenang dan mendalam. Padahal hidup kadang membutuhkan jeda. Manusia memerlukan waktu untuk duduk tanpa layar, mendengar napasnya sendiri, dan berbicara tanpa keinginan untuk segera merekam lalu mengunggahnya menjadi konten.

Kadang-kadang saya merindukan masa ketika orang benar-benar hadir dalam sebuah percakapan. Orang dapat duduk lama di warung kopi sambil mendengarkan cerita hingga selesai. Makanan disantap tanpa harus dipotret terlebih dahulu. Matahari terbenam dinikmati dengan mata dan hati, bukan hanya direkam melalui kamera telepon genggam. Banyak orang hari ini lebih sibuk mengabadikan momen daripada sungguh-sungguh menjalaninya.

Barangkali itulah sebabnya puisi tetap dibutuhkan. Puisi membuat manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Puisi mengajak manusia kembali mendengar isi hatinya sendiri. Secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan percakapan yang tulus, pelukan yang hangat, waktu tanpa layar, dan seseorang yang benar-benar bersedia mendengarkan.

Saya percaya bahwa AI tidak akan membunuh sastra. Yang dapat membunuh sastra justru ketika manusia kehilangan kejujuran dalam merasakan hidup. Puisi bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Puisi lahir dari kehidupan yang benar-benar dijalani, dari kehilangan, dari cinta, dan dari luka kecil yang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun.

Barangkali kegelisahan yang disampaikan Bang Riri melalui berbagai tulisan, kuliah umum, dan buku-bukunya tentang deepfake AI berangkat dari pertanyaan yang sama: bagaimana manusia menjaga keaslian dirinya di tengah dunia yang semakin artifisial? Pertanyaan itu tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan kebudayaan, sastra, dan kemanusiaan itu sendiri.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Sebab pada akhirnya sastra bukan sekadar soal kemampuan merangkai kata-kata. Sastra adalah upaya manusia menjaga nurani, kepekaan, dan makna hidupnya di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Teknologi boleh menjadi semakin pintar. Manusia jangan sampai kehilangan hati. [T]

 Cengkareng, 31 Mei 2026

Tags: AIkecerdasan buatanPuisiRiri Satria
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Next Post

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails
Next Post
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co