12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Emi Suy by Emi Suy
June 1, 2026
in Khas
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

  • Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri.

KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar pada manusia hari ini bukan terletak pada cara berpikirnya, melainkan pada cara manusia merasakan hidup. Pada masa lalu, orang rela menunggu surat datang selama berhari-hari dengan penuh kesabaran. Pada masa sekarang, pesan yang tidak dibalas dalam beberapa menit saja dapat membuat seseorang merasa diabaikan. Dahulu orang dapat duduk di teras rumah sambil menikmati hujan turun hingga sore hari. Kini hujan sering kali hanya menjadi latar bagi video pendek di media sosial. Kehidupan bergerak begitu cepat, bahkan terlalu cepat, hingga manusia hampir tidak memiliki ruang untuk benar-benar diam bersama dirinya sendiri.

Kehidupan modern membuat manusia sulit berjarak dari keramaian. Sedikit merasa sepi, tangan segera meraih telepon genggam. Sedikit merasa bosan, layar ponsel langsung dipenuhi aktivitas menggulir media sosial. Sedikit merasa sedih, hiburan instan segera dicari melalui berbagai aplikasi digital. Padahal banyak hal dalam hidup yang justru membutuhkan keheningan. Kesedihan memerlukan ruang untuk dipahami. Kegelisahan membutuhkan waktu untuk direnungkan. Kehidupan batin manusia tidak selalu dapat diselesaikan melalui layar yang menyala sepanjang hari.

Tulisan panjang tentang deepfake AI membuat saya berpikir panjang, bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang semakin sulit membedakan antara kenyataan dan penampilan. Hari ini seseorang dapat terlihat bahagia setiap saat di media sosial, padahal hidupnya sedang berantakan. Seseorang dapat tampak romantis melalui unggahan kata-kata indah, tetapi lupa mendengarkan orang yang dicintainya. Banyak orang terlihat peduli pada berbagai isu kemanusiaan, tetapi bersikap kasar kepada keluarganya sendiri. Kepalsuan pada masa kini tidak hanya hadir dalam video atau suara hasil rekayasa AI, melainkan juga dalam cara manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain.

Pemikiran itu semakin menguat setelah saya mengikuti kuliah umum yang disampaikan Bang Riri Satria bertajuk “16 Dampak Deepfake AI serta 12 Agenda Strategis pada Kesenian, Sosial, Budaya, dan Kemanusiaan.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kini mampu meniru wajah, suara, tulisan, bahkan gaya berpikir manusia dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Teknologi yang semula diciptakan untuk membantu kehidupan manusia perlahan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang keaslian, identitas, dan kepercayaan.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Saya memiliki keyakinan bahwa Bang Riri, sebagai pakar dan praktisi di bidang teknologi digital sekaligus penggiat sastra, terutama puisi, memahami bahwa perkembangan deepfake AI bukan sekadar persoalan teknologi. Dampaknya mulai menyentuh wilayah yang selama ini dianggap sangat manusiawi, yakni kreativitas dan pengalaman batin. Perkembangan tersebut membuat manusia semakin sulit membedakan mana puisi yang lahir dari pengalaman hidup dan mana yang dihasilkan mesin. Hal yang sama dapat terjadi pada cerpen, novel, bahkan esai. Batas antara karya manusia dan karya mesin perlahan menjadi kabur.

Pertanyaan besar pun muncul. Apakah dunia sastra membutuhkan landasan baru untuk menghadapi perubahan ini? Apakah definisi kreativitas akan ikut berubah? Ataukah manusia memang sedang berada pada sebuah masa peralihan yang kelak melahirkan cara pandang baru terhadap seni dan penciptaan?

Media sosial perlahan mengubah kehidupan menjadi panggung panjang yang tidak pernah selesai. Semua orang ingin tampil menarik, ingin diperhatikan, dan ingin dianggap berarti. Keinginan tersebut sering kali membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi sederhana. Banyak orang sibuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang lelah menghadapi hidup. Keramaian digital akhirnya melahirkan kesepian yang tidak selalu tampak dari luar.

Di tengah situasi seperti itu, kecerdasan buatan hadir dengan kemampuan yang luar biasa. Mesin dapat membuat gambar, menulis puisi, menciptakan musik, bahkan meniru suara manusia dengan sangat meyakinkan. Perkembangan teknologi tersebut justru membuat saya semakin sadar bahwa hal terpenting dari manusia bukanlah kecerdasannya, melainkan hatinya. Kehidupan manusia tidak hanya dibangun oleh logika, tetapi juga oleh pengalaman batin yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Ada seorang ibu yang tetap memasak meskipun dirinya sedang sedih. Ada seorang ayah yang diam-diam menahan lelah demi memastikan anaknya tetap dapat bersekolah. Ada seseorang yang tertawa bersama teman-temannya, tetapi menangis sendirian pada malam hari. Pengalaman-pengalaman seperti itu tidak hidup di dalam mesin. AI mungkin mampu menulis kalimat yang terdengar menyedihkan, tetapi ia tidak pernah benar-benar kehilangan seseorang yang dicintainya. AI dapat membuat puisi tentang kerinduan, tetapi ia tidak pernah menunggu kabar hingga dini hari dengan hati yang gelisah. AI bisa menulis tentang hujan, tetapi ia tidak pernah berjalan di bawah hujan sambil menahan tangis dalam perjalanan pulang.

Perbedaan itulah yang membuat manusia tetap istimewa. Keunggulan manusia bukan semata-mata karena manusia lebih pintar daripada teknologi, melainkan karena manusia memiliki pengalaman hidup, kenangan, luka, harapan, dan pergulatan batin.

Permasalahan sebenarnya bukan terletak pada teknologi. Sebagaimana perjalanan manusia dari kentongan menuju telegram, dari wartel menuju telepon genggam, hingga dari mesin ketik menuju AI, teknologi selalu hadir sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Persoalan muncul ketika manusia mulai kehilangan dirinya sendiri di tengah berbagai kemudahan tersebut.

Banyak orang hari ini terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu. Perbedaan pendapat sedikit saja dapat memicu kemarahan. Potongan video berdurasi beberapa detik sering kali dianggap cukup untuk menilai keseluruhan persoalan. Padahal video dapat dipotong, suara dapat ditiru, dan foto dapat dimanipulasi. Kemarahan publik bahkan sering kali digerakkan oleh algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar media sosial.

Dunia hari ini terasa terlalu ramai. Suara, pendapat, dan kegaduhan datang tanpa henti dari berbagai arah. Keadaan tersebut membuat manusia semakin jarang berpikir secara tenang dan mendalam. Padahal hidup kadang membutuhkan jeda. Manusia memerlukan waktu untuk duduk tanpa layar, mendengar napasnya sendiri, dan berbicara tanpa keinginan untuk segera merekam lalu mengunggahnya menjadi konten.

Kadang-kadang saya merindukan masa ketika orang benar-benar hadir dalam sebuah percakapan. Orang dapat duduk lama di warung kopi sambil mendengarkan cerita hingga selesai. Makanan disantap tanpa harus dipotret terlebih dahulu. Matahari terbenam dinikmati dengan mata dan hati, bukan hanya direkam melalui kamera telepon genggam. Banyak orang hari ini lebih sibuk mengabadikan momen daripada sungguh-sungguh menjalaninya.

Barangkali itulah sebabnya puisi tetap dibutuhkan. Puisi membuat manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Puisi mengajak manusia kembali mendengar isi hatinya sendiri. Secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan percakapan yang tulus, pelukan yang hangat, waktu tanpa layar, dan seseorang yang benar-benar bersedia mendengarkan.

Saya percaya bahwa AI tidak akan membunuh sastra. Yang dapat membunuh sastra justru ketika manusia kehilangan kejujuran dalam merasakan hidup. Puisi bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Puisi lahir dari kehidupan yang benar-benar dijalani, dari kehilangan, dari cinta, dan dari luka kecil yang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun.

Barangkali kegelisahan yang disampaikan Bang Riri melalui berbagai tulisan, kuliah umum, dan buku-bukunya tentang deepfake AI berangkat dari pertanyaan yang sama: bagaimana manusia menjaga keaslian dirinya di tengah dunia yang semakin artifisial? Pertanyaan itu tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan kebudayaan, sastra, dan kemanusiaan itu sendiri.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Sebab pada akhirnya sastra bukan sekadar soal kemampuan merangkai kata-kata. Sastra adalah upaya manusia menjaga nurani, kepekaan, dan makna hidupnya di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Teknologi boleh menjadi semakin pintar. Manusia jangan sampai kehilangan hati. [T]

 Cengkareng, 31 Mei 2026

Tags: AIkecerdasan buatanPuisiRiri Satria
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Next Post

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co