1 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Emi Suy by Emi Suy
June 1, 2026
in Khas
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

  • Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri.

KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar pada manusia hari ini bukan terletak pada cara berpikirnya, melainkan pada cara manusia merasakan hidup. Pada masa lalu, orang rela menunggu surat datang selama berhari-hari dengan penuh kesabaran. Pada masa sekarang, pesan yang tidak dibalas dalam beberapa menit saja dapat membuat seseorang merasa diabaikan. Dahulu orang dapat duduk di teras rumah sambil menikmati hujan turun hingga sore hari. Kini hujan sering kali hanya menjadi latar bagi video pendek di media sosial. Kehidupan bergerak begitu cepat, bahkan terlalu cepat, hingga manusia hampir tidak memiliki ruang untuk benar-benar diam bersama dirinya sendiri.

Kehidupan modern membuat manusia sulit berjarak dari keramaian. Sedikit merasa sepi, tangan segera meraih telepon genggam. Sedikit merasa bosan, layar ponsel langsung dipenuhi aktivitas menggulir media sosial. Sedikit merasa sedih, hiburan instan segera dicari melalui berbagai aplikasi digital. Padahal banyak hal dalam hidup yang justru membutuhkan keheningan. Kesedihan memerlukan ruang untuk dipahami. Kegelisahan membutuhkan waktu untuk direnungkan. Kehidupan batin manusia tidak selalu dapat diselesaikan melalui layar yang menyala sepanjang hari.

Tulisan panjang tentang deepfake AI membuat saya berpikir panjang, bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang semakin sulit membedakan antara kenyataan dan penampilan. Hari ini seseorang dapat terlihat bahagia setiap saat di media sosial, padahal hidupnya sedang berantakan. Seseorang dapat tampak romantis melalui unggahan kata-kata indah, tetapi lupa mendengarkan orang yang dicintainya. Banyak orang terlihat peduli pada berbagai isu kemanusiaan, tetapi bersikap kasar kepada keluarganya sendiri. Kepalsuan pada masa kini tidak hanya hadir dalam video atau suara hasil rekayasa AI, melainkan juga dalam cara manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain.

Pemikiran itu semakin menguat setelah saya mengikuti kuliah umum yang disampaikan Bang Riri Satria bertajuk “16 Dampak Deepfake AI serta 12 Agenda Strategis pada Kesenian, Sosial, Budaya, dan Kemanusiaan.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kini mampu meniru wajah, suara, tulisan, bahkan gaya berpikir manusia dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Teknologi yang semula diciptakan untuk membantu kehidupan manusia perlahan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang keaslian, identitas, dan kepercayaan.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Saya memiliki keyakinan bahwa Bang Riri, sebagai pakar dan praktisi di bidang teknologi digital sekaligus penggiat sastra, terutama puisi, memahami bahwa perkembangan deepfake AI bukan sekadar persoalan teknologi. Dampaknya mulai menyentuh wilayah yang selama ini dianggap sangat manusiawi, yakni kreativitas dan pengalaman batin. Perkembangan tersebut membuat manusia semakin sulit membedakan mana puisi yang lahir dari pengalaman hidup dan mana yang dihasilkan mesin. Hal yang sama dapat terjadi pada cerpen, novel, bahkan esai. Batas antara karya manusia dan karya mesin perlahan menjadi kabur.

Pertanyaan besar pun muncul. Apakah dunia sastra membutuhkan landasan baru untuk menghadapi perubahan ini? Apakah definisi kreativitas akan ikut berubah? Ataukah manusia memang sedang berada pada sebuah masa peralihan yang kelak melahirkan cara pandang baru terhadap seni dan penciptaan?

Media sosial perlahan mengubah kehidupan menjadi panggung panjang yang tidak pernah selesai. Semua orang ingin tampil menarik, ingin diperhatikan, dan ingin dianggap berarti. Keinginan tersebut sering kali membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi sederhana. Banyak orang sibuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang lelah menghadapi hidup. Keramaian digital akhirnya melahirkan kesepian yang tidak selalu tampak dari luar.

Di tengah situasi seperti itu, kecerdasan buatan hadir dengan kemampuan yang luar biasa. Mesin dapat membuat gambar, menulis puisi, menciptakan musik, bahkan meniru suara manusia dengan sangat meyakinkan. Perkembangan teknologi tersebut justru membuat saya semakin sadar bahwa hal terpenting dari manusia bukanlah kecerdasannya, melainkan hatinya. Kehidupan manusia tidak hanya dibangun oleh logika, tetapi juga oleh pengalaman batin yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Ada seorang ibu yang tetap memasak meskipun dirinya sedang sedih. Ada seorang ayah yang diam-diam menahan lelah demi memastikan anaknya tetap dapat bersekolah. Ada seseorang yang tertawa bersama teman-temannya, tetapi menangis sendirian pada malam hari. Pengalaman-pengalaman seperti itu tidak hidup di dalam mesin. AI mungkin mampu menulis kalimat yang terdengar menyedihkan, tetapi ia tidak pernah benar-benar kehilangan seseorang yang dicintainya. AI dapat membuat puisi tentang kerinduan, tetapi ia tidak pernah menunggu kabar hingga dini hari dengan hati yang gelisah. AI bisa menulis tentang hujan, tetapi ia tidak pernah berjalan di bawah hujan sambil menahan tangis dalam perjalanan pulang.

Perbedaan itulah yang membuat manusia tetap istimewa. Keunggulan manusia bukan semata-mata karena manusia lebih pintar daripada teknologi, melainkan karena manusia memiliki pengalaman hidup, kenangan, luka, harapan, dan pergulatan batin.

Permasalahan sebenarnya bukan terletak pada teknologi. Sebagaimana perjalanan manusia dari kentongan menuju telegram, dari wartel menuju telepon genggam, hingga dari mesin ketik menuju AI, teknologi selalu hadir sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Persoalan muncul ketika manusia mulai kehilangan dirinya sendiri di tengah berbagai kemudahan tersebut.

Banyak orang hari ini terlalu cepat bereaksi terhadap sesuatu. Perbedaan pendapat sedikit saja dapat memicu kemarahan. Potongan video berdurasi beberapa detik sering kali dianggap cukup untuk menilai keseluruhan persoalan. Padahal video dapat dipotong, suara dapat ditiru, dan foto dapat dimanipulasi. Kemarahan publik bahkan sering kali digerakkan oleh algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar media sosial.

Dunia hari ini terasa terlalu ramai. Suara, pendapat, dan kegaduhan datang tanpa henti dari berbagai arah. Keadaan tersebut membuat manusia semakin jarang berpikir secara tenang dan mendalam. Padahal hidup kadang membutuhkan jeda. Manusia memerlukan waktu untuk duduk tanpa layar, mendengar napasnya sendiri, dan berbicara tanpa keinginan untuk segera merekam lalu mengunggahnya menjadi konten.

Kadang-kadang saya merindukan masa ketika orang benar-benar hadir dalam sebuah percakapan. Orang dapat duduk lama di warung kopi sambil mendengarkan cerita hingga selesai. Makanan disantap tanpa harus dipotret terlebih dahulu. Matahari terbenam dinikmati dengan mata dan hati, bukan hanya direkam melalui kamera telepon genggam. Banyak orang hari ini lebih sibuk mengabadikan momen daripada sungguh-sungguh menjalaninya.

Barangkali itulah sebabnya puisi tetap dibutuhkan. Puisi membuat manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Puisi mengajak manusia kembali mendengar isi hatinya sendiri. Secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan percakapan yang tulus, pelukan yang hangat, waktu tanpa layar, dan seseorang yang benar-benar bersedia mendengarkan.

Saya percaya bahwa AI tidak akan membunuh sastra. Yang dapat membunuh sastra justru ketika manusia kehilangan kejujuran dalam merasakan hidup. Puisi bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Puisi lahir dari kehidupan yang benar-benar dijalani, dari kehilangan, dari cinta, dan dari luka kecil yang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun.

Barangkali kegelisahan yang disampaikan Bang Riri melalui berbagai tulisan, kuliah umum, dan buku-bukunya tentang deepfake AI berangkat dari pertanyaan yang sama: bagaimana manusia menjaga keaslian dirinya di tengah dunia yang semakin artifisial? Pertanyaan itu tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga menyangkut masa depan kebudayaan, sastra, dan kemanusiaan itu sendiri.

Riri Satria saat memberikan kuliah umum | Foto Emi Suy

Sebab pada akhirnya sastra bukan sekadar soal kemampuan merangkai kata-kata. Sastra adalah upaya manusia menjaga nurani, kepekaan, dan makna hidupnya di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Teknologi boleh menjadi semakin pintar. Manusia jangan sampai kehilangan hati. [T]

 Cengkareng, 31 Mei 2026

Tags: AIkecerdasan buatanPuisiRiri Satria
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co