23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 1, 2026
in Esai
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Ilustrasi tatkala.co

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya negara Indonesia modern. Namun, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya adalah peringatan atas lahirnya sebuah kesadaran kebangsaan: bagaimana ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Tujuh puluh tahun lebih setelah kemerdekaan, tantangan bangsa tentu berbeda dengan masa para pendiri negara. Jika dahulu ancaman datang dari kolonialisme dan penjajahan fisik, kini tantangan muncul dalam bentuk polarisasi sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta derasnya arus informasi yang sering kali mengaburkan kebenaran.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku kita sehari-hari, atau hanya tersimpan dalam teks yang dibaca setiap upacara?

Ketuhanan yang Memanusiakan

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering dipahami sebatas pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Padahal sila ini juga mengandung konsekuensi etis yang sangat mendalam: jika semua manusia berasal dari sumber ilahi yang sama, maka setiap manusia layak dihormati.

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal ungkapan:

“Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”.

Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Ajaran ini tidak mengajak manusia menyeragamkan keyakinan, melainkan mengembangkan kerendahan hati. Bahwa keterbatasan manusia membuat setiap tradisi menggunakan bahasa, simbol, dan pendekatan yang berbeda untuk memahami Yang Tak Terbatas.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini sangat relevan. Pancasila tidak dibangun untuk memaksakan satu tafsir keagamaan tertentu. Sebaliknya, ia menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.

Karena itu, ketika perbedaan keyakinan melahirkan kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain untuk beribadah, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga semangat Pancasila itu sendiri.

Pancasila dan Pancakosha: Membangun Manusia Seutuhnya

Di tengah dominasi ukuran-ukuran material, konsep Pancakosha dalam filsafat Hindu menawarkan perspektif yang menarik. Manusia dipahami memiliki lima lapisan keberadaan: Annamaya Kosha (fisik), Pranamaya Kosha (energi kehidupan), Manomaya Kosha (pikiran dan emosi), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Pembangunan bangsa sering kali terfokus pada lapisan pertama: ekonomi, infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan. Semua itu penting. Namun manusia tidak hidup dari pembangunan fisik semata.

Kesehatan mental, kualitas pendidikan, kematangan emosional, integritas moral, dan kedalaman spiritual juga merupakan bagian dari pembangunan manusia. Dalam perspektif ini, Pancasila dapat dipahami sebagai kerangka pembangunan manusia seutuhnya.

Sila pertama menyentuh dimensi spiritual. Sila kedua mengembangkan kemanusiaan. Sila ketiga membangun kesadaran kolektif. Sila keempat melatih kebijaksanaan dalam musyawarah. Sila kelima mengarahkan seluruh proses menuju keadilan sosial.

Dengan kata lain, Pancasila bukan hanya ideologi politik, melainkan juga jalan pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berimbang. Dia juga nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam hati manusia Indonesia.

Tantangan Pancasila di Era Digital

Zaman now menghadirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat. Media sosial memungkinkan komunikasi tanpa batas, namun juga membuka ruang bagi penyebaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Kita menyaksikan bagaimana identitas agama, etnis, maupun pilihan politik sering digunakan untuk membangun tembok pemisah. Seseorang dapat dibenci bukan karena perilakunya, melainkan karena identitas yang melekat padanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya kembali. Nilai persatuan, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial justru menjadi semakin penting dalam dunia yang penuh fragmentasi.

Hari Lahir Pancasila pada era digital seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan teknologi harus disertai kecerdasan nurani. Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat konflik dan memperbesar ketimpangan.

Merayakan Pancasila dengan Tindakan

Pada akhirnya, perayaan Hari Lahir Pancasila tidak diukur dari jumlah spanduk, baliho, seminar, atau upacara yang diselenggarakan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila hidup ketika pejabat menjalankan amanah dengan jujur. Pancasila hidup ketika guru mendidik dengan keteladanan. Pancasila hidup ketika pengusaha memperoleh keuntungan tanpa mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan. Pancasila hidup ketika warga mampu menghormati tetangganya yang berbeda agama, suku, maupun pandangan politik.

Di Bali, yang selama berabad-abad dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan, semangat ini menjadi semakin penting. Pulau ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial, kelestarian alam, dan kesehatan batin masyarakatnya.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang beradab. Sebuah bangsa yang mampu memadukan kemajuan dengan kebijaksanaan, keberagaman dengan persatuan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.

Karena itu, perayaan Hari Lahir Pancasila zaman now seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Perayaan yang sesungguhnya terjadi ketika setiap warga negara menjadikan Pancasila sebagai laku hidup. Sebab Pancasila tidak lahir untuk disimpan dalam arsip sejarah, melainkan untuk terus dilahirkan kembali setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.

Jayalah Indonesia! [T]

Tags: Bung KarnopancasilaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Next Post

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co