1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 1, 2026
in Esai
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Ilustrasi tatkala.co

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya negara Indonesia modern. Namun, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya adalah peringatan atas lahirnya sebuah kesadaran kebangsaan: bagaimana ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Tujuh puluh tahun lebih setelah kemerdekaan, tantangan bangsa tentu berbeda dengan masa para pendiri negara. Jika dahulu ancaman datang dari kolonialisme dan penjajahan fisik, kini tantangan muncul dalam bentuk polarisasi sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta derasnya arus informasi yang sering kali mengaburkan kebenaran.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku kita sehari-hari, atau hanya tersimpan dalam teks yang dibaca setiap upacara?

Ketuhanan yang Memanusiakan

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering dipahami sebatas pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Padahal sila ini juga mengandung konsekuensi etis yang sangat mendalam: jika semua manusia berasal dari sumber ilahi yang sama, maka setiap manusia layak dihormati.

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal ungkapan:

“Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”.

Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Ajaran ini tidak mengajak manusia menyeragamkan keyakinan, melainkan mengembangkan kerendahan hati. Bahwa keterbatasan manusia membuat setiap tradisi menggunakan bahasa, simbol, dan pendekatan yang berbeda untuk memahami Yang Tak Terbatas.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini sangat relevan. Pancasila tidak dibangun untuk memaksakan satu tafsir keagamaan tertentu. Sebaliknya, ia menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.

Karena itu, ketika perbedaan keyakinan melahirkan kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain untuk beribadah, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga semangat Pancasila itu sendiri.

Pancasila dan Pancakosha: Membangun Manusia Seutuhnya

Di tengah dominasi ukuran-ukuran material, konsep Pancakosha dalam filsafat Hindu menawarkan perspektif yang menarik. Manusia dipahami memiliki lima lapisan keberadaan: Annamaya Kosha (fisik), Pranamaya Kosha (energi kehidupan), Manomaya Kosha (pikiran dan emosi), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Pembangunan bangsa sering kali terfokus pada lapisan pertama: ekonomi, infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan. Semua itu penting. Namun manusia tidak hidup dari pembangunan fisik semata.

Kesehatan mental, kualitas pendidikan, kematangan emosional, integritas moral, dan kedalaman spiritual juga merupakan bagian dari pembangunan manusia. Dalam perspektif ini, Pancasila dapat dipahami sebagai kerangka pembangunan manusia seutuhnya.

Sila pertama menyentuh dimensi spiritual. Sila kedua mengembangkan kemanusiaan. Sila ketiga membangun kesadaran kolektif. Sila keempat melatih kebijaksanaan dalam musyawarah. Sila kelima mengarahkan seluruh proses menuju keadilan sosial.

Dengan kata lain, Pancasila bukan hanya ideologi politik, melainkan juga jalan pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berimbang. Dia juga nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam hati manusia Indonesia.

Tantangan Pancasila di Era Digital

Zaman now menghadirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat. Media sosial memungkinkan komunikasi tanpa batas, namun juga membuka ruang bagi penyebaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Kita menyaksikan bagaimana identitas agama, etnis, maupun pilihan politik sering digunakan untuk membangun tembok pemisah. Seseorang dapat dibenci bukan karena perilakunya, melainkan karena identitas yang melekat padanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya kembali. Nilai persatuan, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial justru menjadi semakin penting dalam dunia yang penuh fragmentasi.

Hari Lahir Pancasila pada era digital seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan teknologi harus disertai kecerdasan nurani. Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat konflik dan memperbesar ketimpangan.

Merayakan Pancasila dengan Tindakan

Pada akhirnya, perayaan Hari Lahir Pancasila tidak diukur dari jumlah spanduk, baliho, seminar, atau upacara yang diselenggarakan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila hidup ketika pejabat menjalankan amanah dengan jujur. Pancasila hidup ketika guru mendidik dengan keteladanan. Pancasila hidup ketika pengusaha memperoleh keuntungan tanpa mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan. Pancasila hidup ketika warga mampu menghormati tetangganya yang berbeda agama, suku, maupun pandangan politik.

Di Bali, yang selama berabad-abad dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan, semangat ini menjadi semakin penting. Pulau ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial, kelestarian alam, dan kesehatan batin masyarakatnya.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang beradab. Sebuah bangsa yang mampu memadukan kemajuan dengan kebijaksanaan, keberagaman dengan persatuan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.

Karena itu, perayaan Hari Lahir Pancasila zaman now seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Perayaan yang sesungguhnya terjadi ketika setiap warga negara menjadikan Pancasila sebagai laku hidup. Sebab Pancasila tidak lahir untuk disimpan dalam arsip sejarah, melainkan untuk terus dilahirkan kembali setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.

Jayalah Indonesia! [T]

Tags: Bung KarnopancasilaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Next Post

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co