21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 1, 2026
in Esai
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Ilustrasi tatkala.co

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya negara Indonesia modern. Namun, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya adalah peringatan atas lahirnya sebuah kesadaran kebangsaan: bagaimana ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Tujuh puluh tahun lebih setelah kemerdekaan, tantangan bangsa tentu berbeda dengan masa para pendiri negara. Jika dahulu ancaman datang dari kolonialisme dan penjajahan fisik, kini tantangan muncul dalam bentuk polarisasi sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta derasnya arus informasi yang sering kali mengaburkan kebenaran.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku kita sehari-hari, atau hanya tersimpan dalam teks yang dibaca setiap upacara?

Ketuhanan yang Memanusiakan

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering dipahami sebatas pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Padahal sila ini juga mengandung konsekuensi etis yang sangat mendalam: jika semua manusia berasal dari sumber ilahi yang sama, maka setiap manusia layak dihormati.

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal ungkapan:

“Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”.

Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Ajaran ini tidak mengajak manusia menyeragamkan keyakinan, melainkan mengembangkan kerendahan hati. Bahwa keterbatasan manusia membuat setiap tradisi menggunakan bahasa, simbol, dan pendekatan yang berbeda untuk memahami Yang Tak Terbatas.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini sangat relevan. Pancasila tidak dibangun untuk memaksakan satu tafsir keagamaan tertentu. Sebaliknya, ia menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.

Karena itu, ketika perbedaan keyakinan melahirkan kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain untuk beribadah, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga semangat Pancasila itu sendiri.

Pancasila dan Pancakosha: Membangun Manusia Seutuhnya

Di tengah dominasi ukuran-ukuran material, konsep Pancakosha dalam filsafat Hindu menawarkan perspektif yang menarik. Manusia dipahami memiliki lima lapisan keberadaan: Annamaya Kosha (fisik), Pranamaya Kosha (energi kehidupan), Manomaya Kosha (pikiran dan emosi), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Pembangunan bangsa sering kali terfokus pada lapisan pertama: ekonomi, infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan. Semua itu penting. Namun manusia tidak hidup dari pembangunan fisik semata.

Kesehatan mental, kualitas pendidikan, kematangan emosional, integritas moral, dan kedalaman spiritual juga merupakan bagian dari pembangunan manusia. Dalam perspektif ini, Pancasila dapat dipahami sebagai kerangka pembangunan manusia seutuhnya.

Sila pertama menyentuh dimensi spiritual. Sila kedua mengembangkan kemanusiaan. Sila ketiga membangun kesadaran kolektif. Sila keempat melatih kebijaksanaan dalam musyawarah. Sila kelima mengarahkan seluruh proses menuju keadilan sosial.

Dengan kata lain, Pancasila bukan hanya ideologi politik, melainkan juga jalan pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berimbang. Dia juga nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam hati manusia Indonesia.

Tantangan Pancasila di Era Digital

Zaman now menghadirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat. Media sosial memungkinkan komunikasi tanpa batas, namun juga membuka ruang bagi penyebaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Kita menyaksikan bagaimana identitas agama, etnis, maupun pilihan politik sering digunakan untuk membangun tembok pemisah. Seseorang dapat dibenci bukan karena perilakunya, melainkan karena identitas yang melekat padanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya kembali. Nilai persatuan, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial justru menjadi semakin penting dalam dunia yang penuh fragmentasi.

Hari Lahir Pancasila pada era digital seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan teknologi harus disertai kecerdasan nurani. Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat konflik dan memperbesar ketimpangan.

Merayakan Pancasila dengan Tindakan

Pada akhirnya, perayaan Hari Lahir Pancasila tidak diukur dari jumlah spanduk, baliho, seminar, atau upacara yang diselenggarakan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila hidup ketika pejabat menjalankan amanah dengan jujur. Pancasila hidup ketika guru mendidik dengan keteladanan. Pancasila hidup ketika pengusaha memperoleh keuntungan tanpa mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan. Pancasila hidup ketika warga mampu menghormati tetangganya yang berbeda agama, suku, maupun pandangan politik.

Di Bali, yang selama berabad-abad dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan, semangat ini menjadi semakin penting. Pulau ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial, kelestarian alam, dan kesehatan batin masyarakatnya.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang beradab. Sebuah bangsa yang mampu memadukan kemajuan dengan kebijaksanaan, keberagaman dengan persatuan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.

Karena itu, perayaan Hari Lahir Pancasila zaman now seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Perayaan yang sesungguhnya terjadi ketika setiap warga negara menjadikan Pancasila sebagai laku hidup. Sebab Pancasila tidak lahir untuk disimpan dalam arsip sejarah, melainkan untuk terus dilahirkan kembali setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.

Jayalah Indonesia! [T]

Tags: Bung KarnopancasilaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Next Post

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co